CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Citizen Journalism /
Fenomena Rizieq Shihab dan Antrean Menuju Kekuasaan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5fcacfc60577a91f6852538c/fenomena-rizieq-shihab-dan-antrean-menuju-kekuasaan

Fenomena Rizieq Shihab dan Antrean Menuju Kekuasaan

Dua bulan terakhir tahun ini menjadi saksi tentang antrean panjang menuju kekuasaan. Pertama adalah bulan November, yang ditandai dengan kembalinya Habib Rizieq Shihab (HRS), yang disambut gegap gempita segenap pendukungnya. Mirip sambutan bagi Presiden Soekarno saat menginjakkan kaki kembali di Jakarta pada Januari 1950, setelah sekitar empat tahun tinggal di Yogya.

Kedua adalah bulan Desember, terkait diselenggarakannya pilkada serentak di sejumlah kota. Metafora yang paling pas untuk menggambarkan Indonesia hari ini adalah suasana Stasiun Gambir saat menjelang lebaran,ketika belum dikenal transaksi tiket secara online, antrean calon pemudik sampai mengular di halaman stasiun.

Figur HRS sebenarnya hanya bergema di sekitaran Jabodetabek, dan sebagian Jabar, itu sebabnya kita belum melihat, apakah kehadirannya berdampak signifikan bagi sejumlah kontestan dalam pilkada serentak awal Desember ini. Selintas memang tidak ada hubungan kasualitas, antara HRS dengan para calon pimpinan daerah itu, namun mereka sedang mendayung pada muara yang sama, yakni mahligai kekuasaan.

Berjarak dengan kekuasaan
Bagi orang yang belum pernah berkuasa, bisa jadi memang kurang bisa memahami, mengapa ada tipe manusia yang begitu bernafsu pada kekuasaan. Ada beberapa komunitas yang sejak awal memiliki keberanian mengambil jarak dengan kekuasaan, seperti komunitas seniman Malioboro (Yogyakarta) pada dekade 1970-an, dan untuk masa sekarang bisa disebut Komunitas Lima Gunung (Jateng), atau generasi milenial yang rutinmengikuti aksi Kamisan di sejumlah kota.

Dalam konteks masyarakat sekarang, komunitas seperti itu bisa jadi tekesan anomali, namun setidaknya telah memberi pelajaran, bahwa kekuasaan (dan harta) bukanlah segalanya, menjadi rakyat biasa adalah keniscayaan. Mengapa harus malu menjadi rakyat biasa, ketika banyak penguasa di negeri ini, termasuk anggota parlemen, hanya menjadi sasaran bullying publik di media sosial.

Begitu juga sebaliknya, bagi yang pernah merasakan (kekuasaan) tentu ingin merasakannya kembali. Benar, kekuasaan ibarat candu, yang menimbulkan ketergantungan. Kita menjadi paham sekarang, mengapa elemen Orde Baru masih berupaya untuk kembali berkuasa, terutama anak-anak mantan Presiden Soeharto. Resistensi publik bukanlah halangan bagi mereka untuk terus berikhtiar (berkuasa) kembali.

Bagi kawasan dengan potensi pertambangan besar, seperti di Morowali (Sulteng), Konawe (Sultra), Halmahera (Malut), dan seterusnya, menjadi kepala daerah (bupati) memang sangat menggiurkan dalam aspek kesejahteraan. Sementara menjadi bupati atau wali kota di Jawa, daya tariknya lebih pada aspek seremonial dan gaya hidup, karena para calon yang maju (termasuk petahana), umumnya hidupnya sudah mapan secara ekonomi.

Itu sebabnya bagi mereka yang bertarung di pilkada (khususnya) di Jawa, motivasi untuk maju kadang terkesan agak unik, yaitu agar bisa menikmati perjalanan dengan pengawalan voorijder, disertai raungan sirene yang bikin kaget ibu-ibu bakul di pasar. Bagi yang sering pergi ke daerah pasti sempat melihat, di tengah jalanan yang sepi, para penguasa daerah itu tetapminta dikawal, bahkan tetap menerobos saat lampu merah menyala. Tindakan “aneh” seperti itu dilakukan dengan sadar, karena privelese seperti itulah, yang mendorong untuk terus berkuasa selama mungkin.

Mungkin inilah yang disebut anakronisme sejarah, ketika ada pertemuan dua nilai dari dua rezim yang berbeda, yaitu nilai otoritarian rezim Orde Baru, bertemu dengan mental orang bawahan (inferior) warisan rezim kolonial. Rezim Orde Baru mewarisi megalomania bagi para pemimpin kiwari, sementara bawahan mengadopsi mental inferior dari rezim kolonial. Menjadi hal biasa, bila para pemimpin senang disanjung-sanjung secara berlebihan, sementara bawahan tetap terpaku dalam mentalitas bersimpuh di hadapan atasan. Kira-kira dua nilai inilah yang menjadi titik persinggungan antara figur HRS dan para kontestan yang maju pilkada.

Figur HRS sendiri bisa diperiksa melalui respons Kapolri dan Pangdam Jaya ( representasi TNI). Pengorbanan Polri terlalu mahal ketika harus memecat dua kapolda-nya. Salah satu kapolda (Kapolda Jabar), adalah mantan Kepala Korps Brimob, berarti adalah jenderal pilihan. Bagaimana mungkin seorang mantan komandan satuan legendaris, harus dikorbankan hanya untuk seorang HRS, yang rekam jejaknya sendiri sebagai pimpinan ormas masih “abu-abu”.Menilik fakta sejarah, ormas FPI(Front Pembela Islam) dulu berdiri juga atas prakarsa elite militer dan polisi, di masa transisi pergantian rezim tahun 1999.

Sementara tindakan Pangdam Jaya, dengan cara menurunkan poster, dan memberi peringatan keras pada FPI, lebih bisa diterima nalar, terlepas perdebatan soal regulasinya. Melalui tindakan Pangdam Jaya, publik sedikit dibantu dalam cara memandang HRS. Sejatinya HRS sama saja dengan tokoh spiritual yang lain, seperti Rhoma Irama atau Aa Gym, namun masalahnya HRS sudah terlalu jauh masuk ke ranah politik.

Belajar dari Harmoko
Para pemburu kekuasaan hari ini, ada baiknya belajar dari Harmoko, terutama dalam hal kesabaran. Politisi sekarang umumnya ingin segera cepat-cepat meraih kekuasaan.Tidak masalah pula bila prosesnya berjalan secara instan, serta mengabaikan segala etika dalam berpolitik. Soal bagaimana performa mereka nanti, sungguh di luar imajinasi, yang penting berkuasa dulu. Kekuasaan benar-benar menjadi obsesi.

Salah satu tokoh nasional yang bisa diteladani dalam hal kesabaran berpolitik adalah Harmoko, mantan Menteri Penerangan (1983-1998). Dari Harmoko kita bisa belajar, bagaimana kekuasaan atau jabatan adalah soal garis tangan, sehingga tidak perlu diburu dengan tergopoh-gopoh.

Di masa Orde Baru dulu, Harmoko acapkali dipandang rendah (underestimate) oleh para intelektual oposan Orde Baru, termasuk para jurnalis terkemuka saat itu. Walau begitu, kiranya tetap ada yang bisa kita pelajari dari Harmoko. Tentu ada yang spesial dari dirinya, kalau tidak mana mungkin bisa menjadi Menpen tiga periode, kemudian dilanjutkan sebagai Ketum Golkar dan Ketua MPR.

Sekadar perbandingan, bisa kita sebut nama seperti Adi Sasono (almarhum) atau Rizal Ramli, tokoh oposan Orde Baru, dan jelas lebih kokoh secara intelektual, namun ketika tiba saatnya menjadi menteri, durasinya hanya seumur jagung. Dalam hal ini termasuk juga Letjen Soejono (Akmil 1965), yang tinggal selangkah lagi menuju KSAD, masih bisa meleset juga pada menit-menit terakhir, sementara Harmoko berhasil “lolos” terus.

Kita boleh saja menganggap, figur semacam Harmoko ada kekurangan secara intelektual, namun kesabaran dan kematangannya sebagai politisi patut diacungi jempol. Kesabaran dan kematangan seperti itulah yang tidak dimiliki politisi kiwari, terutama dari generasi yang lebih baru. Politisi generasi baru seperti Puan Maharani, apakah sudah cukup siap memimpin negeri, ketika publik melihat saat menjadi Ketua DPR saja, masih sempat-sempatnya sibuk mengurus mike.

Saya pribadi khawatir, Puan akan mengulangi pengalaman Mbak Tutut di masa rezim Soeharto dulu, yang terlalu dipaksakan untuk berkuasa, sementara kompetensi yang bersangkutan belum tentu memadai. Puan hanyalah salah satu contoh, masih banyak figur politisi muda lain yang karier politiknya dipacu secara instan, karena faktor status orang tua.

Untuk memburu kematangan dan berlatih kesabaran, para politisi muda yang digadang-gadang orang tuanya tersebut, bisa menepi sejenak (sabbatical) dari keramaian politik negeri ini. Salah satu cara yang bisa dipilih adalah dengan menjadi fellow atau studi lanjut pada universitas ternama di luar negeri. Lebih bagus lagi bila mengambil kajian humaniora. Saya kira biaya tidak jadi masalah. Dengan cara seperti itu, rasanya mereka akan lebih siap secara mental dan lebih matang dalam kepribadian, ketika tiba saatnya untuk menerima estafet kekuasaan dari orang tua masing-masing.


https://www.tempo.co/dw/3869/fenomen...nuju-kekuasaan

Fenomena yang membudaya
profile-picture
profile-picture
celupers dan nomorelies memberi reputasi
Antrean menuju neraka jahanam ya akhi emoticon-Takut


Fenomena Rizieq Shihab dan Antrean Menuju Kekuasaan



?s=08


Fenomena Rizieq Shihab dan Antrean Menuju Kekuasaan
profile-picture
reep1000 memberi reputasi
Posisi rizieq dalam peta politik Indonesia adalah sama seperti sebelumnya, yakni berseberangan dengan rezim yang berkuasa.

Dalam Pilpres 2019 kemarin misalnya Prabowo bukan patron dari FPI, tapi Prabowo menjadi salah satu proxy untuk perjuangan mereka memperjuangkan syariat Islam dalam politik. Jubir mereka sendiri, Munarman mengakui bahwa FPI berpolitik, sudah masuk arena politik.

Signifikansi Rizieq dan kendaraan ormasnya yang bernama FPI akan terlihat ketika dalam situasi politik tertentu, dimana akan ada orang atau pihak yang akan menggunakan jasa mereka.

Kalau nanti ada orang semacam Prabowo di 2014 dan 2019 yang tersihir oleh ketokohan rizieq karena bisa mengadirkan 7 juta umat di Monas pada gelaran Pilkada 2017, maka mereka akan menunjukkan eksistensinya. Mereka akan menemukan lapangannya.

Quote:


Kalau diliat DNA nya FPI jelas, campuran dari militer dan polri.

Fenomena Rizieq Shihab dan Antrean Menuju Kekuasaan
profile-picture
37sanchi memberi reputasi
Emang kalo ga ada ente ga rame bib...

emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
snoopze dan lupis.manis memberi reputasi
rizieq kerja magabut jadi dirut FPI
Diubah oleh zinaitudosa
Quote:
bibib rijik hate'i dkk ada baiknya juga. kalau khilafuck berdiri kan bisa menyelamatkan wilayah indonesia timur sekarang dari jamahan oligarki korup republik indo. karena khilafuck berarti wilayah timur banyak yang merdeka.emoticon-Ngakak
sayangnya pasti berdarah-darah oleh perang antara kadal republik dan kadal khilafuck.
coba tuh yang seimin, baik-baik sajalah rembuk maunya gimana, biar yang kafir bisa pisah baik-baik juga dan nggak terseret dalam kesengsaraan oleh konflik perebutan kekuasaan antar kadal.
tidak usah fitnah pengusaha melulu, pengusaha mah punya koneksi mau bisnis di republik atau khilafuck ya sama aja, yang penting ada kejelasan usaha.emoticon-Blue Guy Smile (S)
Fenomena kegoblokan..
emoticon-Wkwkwk
Bibib naik statusnya, dari jualan parfum berubah jadi pemimpin sekte.
Quote:


emoticon-Leh Uga
mrk pikir urusan kelola negara & urusan kekuasaan itu urusan main2,
yg bisa dimain2in ama bacot emoticon-Big Grin

ane sih yakin, meski jokowi sediam itu,
pasti ahli2 bacot macem rijik ini suatu ketika pasti diabisin juga kalo udah kelewatan.

emoticon-Traveller
mendingan anggota FPI nyembah outpost dari pada nyembah baliho
Kang obat mau jadi presiden??emoticon-Kagets


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di