CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Ayahmu Adalah Lelaki Yang Pernah Menikahi Ibuku
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c84e91d82d4952c437d561f/ayahmu-adalah-lelaki-yang-pernah-menikahi-ibuku

Ayahmu Adalah Lelaki Yang Pernah Menikahi Ibuku

Tampilkan isi Thread
Halaman 67 dari 67
Abis dibeliin mobil Fajar langsung ngilang nih...
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Quote:


Oke lah kalo begitu, ditunggu mood nya ngumpul
emoticon-2 Jempol
Diubah oleh actandprove
Quote:


Fajar keasikan jalan-jalan bro, jadi kagak nongol-nongol
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
Fajar lagi touring ya kok ngga nongol nongol
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Quote:


Bisa jadi om, mungkin lagi jajal mobil baru pemberian ayahnya emoticon-Big Grin
blm ada update ternyataemoticon-Nohope
mungkin mobil barunya lupa blm pasang GPS, jadinya nyasaremoticon-Leh Uga
profile-picture
actandprove memberi reputasi
akhirnya terjawab kenapa fajar gak pacaran sama fani... hiks
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Complicated juga Yak kisah nya hehe
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Beneran ngga ada sambungannya ini?
profile-picture
actandprove memberi reputasi

Part 37. Fani Oh Fani

Ayahmu Adalah Lelaki Yang Pernah Menikahi Ibuku

Episode Sebelumnya


emoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-flower


Setelah hari itu Ana mulai disibukkan dengan kegiatannya sendiri, gadis itu mulai tidak mengganggu aktifitasku yang sedikit banyaknya menyita waktu dengan pulang balik kampus, karena sibuk mengurus ujian proposal. 

Walau demikian, kadang aku menyempatkan diri menjemputnya dari rumah dan mengantarnya ke sekolah. Ayah Haris masih tetap mengkontrol kesibukanku, beliau memang sosok ayah yang penuh tanggung jawab. Oh iya, siang ini ibu datang, aku sedang menuju terminal bus untuk menjemputnya. Ibu sudah tidak sabar datang mengunjungiku setelah kuberitahu kalau ayah sudah membelikan kendaraan dan juga sudah memindahkan tempat tinggalku dari kost yang lama ke sebuah perumahan biasa.

Ibu sangat bahagia melihatku menjemputnya dengan kendaraan yang kusetir sendiri. "Kau sudah bisa membawa mobilmu sendiri?" Aku hanya tersenyum dan dengan sigap membukakan pintu mobil. Tidak lupa tas bawaan ibu kuletakkan di kursi tengah.

"Kita langsung pulang atau gimana, Bu?" tanyaku setelah berada di belakang setir.

"Langsung pulang saja, Nak. Ibu ingin segera melihat rumah barumu biar bisa segera beristirahat," balas ibu sambil merebahkan badannya ke sandaran kursi.

Aku mengangguk dan langsung melajukan kendaraan ke luar dari terminal bus. Tidak berselang lama setelah ayah membelikan mobil, beliau juga langsung mencarikan rumah yang mempunyai garasi. Pada saat pindahan, Fani juga ikut membantu membereskan seluruh perlengkapan dan membantuku merapikannya di rumah yang baru.

Barang-barang dan perabotan rumahku memang tidak seberapa, ayah menjanjikan akan melengkapinya nanti. Kali ini kedatangan ibu juga sudah diketahui oleh ayah, karena jauh hari sebelumnya aku telah memberitahu beliau soal keinginan ibu untuk datang menjenguk. 

Kulirik ibu yang tengah tertidur, AC kusetel tidak terlalu dingin agar supaya ibu tidak kedinginan nantinya. Rencananya aku akan singgah ke kampus Fani dan menjemputnya untuk menemani ibu di rumah. Gadis bermata sipit itu juga sudah setuju saat kuhubungi lewat pesan WA.

emoticon-Shakehand2


Mobil berhenti pelan di halte dekat kampus, Fani setengah berlari menghampiri kendaraan yang sudah kuparkir dan gadis itu langsung membuka pintu tengah.
"Kak, ibu sudah …."

"Ssstttt! Jangan berisik, ibu sedang tertidur," bisikku sambil menunjuk ibu yang masih belum sadar akan kehadiran Fani.

"Ooww …."

Fani mengangguk paham. Mobil kembali melaju, demi menjaga tidur ibu dalam perjalanan tidak ada perbincangan antara aku dan Fani. Kami sepakat untuk diam.

Ibu tiba-tiba terbangun ketika suara klakson berbunyi pas lampu hijau menyala. "Eh, ada Nak Fani? Aduh, tadi Ibu ketiduran, ya?" tanyanya sambil menoleh ke arah Fani.

"Sepertinya Ibu tadi kecapean, saking enaknya tidur sampai enggak sadar Fani ada. Oh iya, Fani tadi sengaja minta ikut sama Kak Fajar, Fani kangen juga sama ibu. Ibu, apa kabar?"

"Alhamdulillah, baik-baik saja. Kamu gimana kabarnya, Fani?"

"Baik dan sehat juga, Bu."

"Rumahmu masih jauh, Nak?" Ibu mengalihkan pertanyaan.

"Sudah dekat, Bu. Rumah Fajar deketan dengan kampus, jadi tidak perlu terlibat macet lagi."

Ibu mengangguk mengerti dan langsung mengajak Fani berbincang, sementara aku fokus menyetir sambil sesekali ikut nimbrung perbincangan mereka.

emoticon-Om Telolet Om!


Memasuki kawasan perumahan Griya Permai, aku menghentikan mobil sejenak di pos satpam. Setelah mengidentifikasi penumpang mobil sama satpam kompleks, portal pun diangkat dan kendaraan kembali melaju menuju rumah. 

"Kompleks perumahan di sini aman dan terjaga, Bu." Ibu mengangguk  saja mendengar Fani menjelaskan situasi perumahanku. Dia banyak tahu karena sudah sering mengunjungiku.

"Nah, itu rumah Kak Fajar, Bu." Tunjuk Fani. Ibu mengikuti arah telunjuknya seiring mobil yang langsung kumasukkan ke halaman yang merangkap garasi. Gadis bermata sipit itu dengan sigap turun dan membukakan pintu agar ibu ke luar. Setelah mengambil tas bawaan ibu, aku segera mengunci mobil dan melangkah membuka pintu rumah. 

"Silakan masuk, di rumah Fajar, Bu." Ibu melangkah masuk diiringi oleh Fani.

"Alhamdulillah, rumahmu besar juga, Nak." 

Aku langsung membukakan pintu ruang tamu dan menyimpan tas ibu di salah satu kursi di dalam kamar. "Ibu nanti tidurnya di sini, ya?"

Ibu masuk melihat kondisi kamar, Fani yang tanpa canggung langsung menuju dapur dan menjerang air untuk membuatkan ibu minuman hangat. Membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan yang bisa dimasak. Gadis itu terbiasa melakukannya pada saat membantuku merapikan beberapa peralatan dan perabotan dapur. 

Aku pernah melarangnya karena merasa tidak enak juga dmasakkan oleh seorang gadis yang tidak ada hubungannya denganku, tetapi Fani menolak dan tetap mengerjakan semuanya jika berkunjung. Alasannya sangat simpel, "Fani sudah tidak bisa menyiapkan sarapan untuk Kak Fajar, jadi biarkan Fani memasak untuk Kak Fajar." Sesimpel itu, sih.

emoticon-Malu


"Kamu lagi ngapain. Fani?" tegur ibu melihat Fani yang sibuk di dapur.

"Lagi buatin teh hangat buat Ibu, Ibu 'kan capek … enaknya ngeteh biar lebih enakan badannya, Bu."

"Kak Fajar mau dibuatin teh apa kopi?" Fani meletakkan cangkir teh ibu di meja makan. Lalu bertanya kepadaku yang sedang mengambil handuk di jemuran samping.

"Kopi saja, seperti biasa," jawabku lalu masuk ke kamar mandi. Rasanya gerah jika dari ke luar rumah tidak segera mandi, itu sudah jadi kebiasaanku sejak lama.

Setelah puas membersihkan diri, aku ke luar kamar mandi dan mendapati ibu dan Fani sama-sama memasak di dapur. Sekilas  aku melirik kekompakan mereka sebelum akhirnya masuk kamar untuk berpakaian.

"Kak Fajar, ayo keluar. Kita makan siang bareng-bareng …." Suara Fani terdengar di depan pintu kamar.

Aku segera ke luar dan bergabung dengan ibu dan Fani di meja makan, gadis itu memang pintar masak … makanannya tidak pernah tidak enak untuk disantap.

"Fani ternyata pintar memasak lho, Nak! Ibu hanya membantu dan dia yang menyelesaikan semuanya. Gimana, enak?"

"Enak, Bu! Rasa nambah lagi." jawabku sambil memasukkan potongan ayam goreng di mulutku.

"Ah, Ibu bisa saja, Kak. Ibu lho yang tadi ngajarin Fani masak."

Kukunyah makananku sambil melirik ke arah ibu yang mulai senang meledek Fani.

"Jadi cewek itu harus bisa masak, biar nanti disayang suami, disayang mertua juga. Gimana, Fajar? Omongan Ibu benar 'kan?"

Aku mengangguk saja, Fani terlihat salah tingkah dipuji oleh ibu. Gadis itu makan sambil tertunduk terus. Ibu semakin gencar melancarkan serangan.

"Kalau begitu, Fani sudah siap jadi menantu Ibu dong, ya?"

Uhhukk, uhhuukk ….

Fani tiba-tiba kesedak makanannya sendiri, aku yang juga ikutan kaget mendengar kata-kata ibu segera berdiri menepuk punggung gadis itu dan langsung menyodorkan segelas air minum buat Fani.

"Nih, minum dulu Fan."

"Bu, berhenti ledekin Fani ya ... kasiaan dia jadi salah tingkah tuh. Entar anak orang kagak makan-makan diledekin ibu terus," kataku ke ibu sambil melirik Fani yang sudah berhenti batuk.

Ibu hanya tersenyum, "Maafkan Ibu, Nak Fani. Ibu hanya bercanda saja, ayo lanjutin makannya, Nak."

Fani menatapku lalu menundukkan wajahnya, entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Kata-kata ibu semoga tidak membuatnya tersinggung. Akhirnya kami menyelesaikan acara makan siang dengan perasaan kikuk dan canggung dari sikap Fani. Entahlah, aku tidak bisa mengira-ngira lebih jauh apa yang gadis itu rasakan.

emoticon-gagalpaham




profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
@jiyanq pembahasan soal itu nanti di episode selanjutnya, Ganemoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
actandprove dan jiyanq memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 9 balasan

Part 38. Kejujuran Itu Pahit Ternyata

Ayahmu Adalah Lelaki Yang Pernah Menikahi Ibuku

Episode Sebelumnya


emoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-flower

Setelah selesai membantu ibu mencuci piring dan membereskan dapur, aku pamit ke ibu untuk mengantar Fani pulang ke kost-nya. Ibu tidak keberatan ditinggal sendiri karena beliau sudah tenang jikalau komplek perumahan itu aman.

Dalam perjalanan pulang, Fani terlihat lebih banyak diam. Namun, sesekali aku melirik , tetapi dia hanya fokus menatap ke luar jendela. Apakah dia masih memikirkan kata-kata ibu? Kucoba memancing perhatian  dengan mengajak gadis bermata sipit berbincang, tetapi Fani masih tidak berselera untuk bercakap-cakap denganku.
Akhirnya aku mengikuti saja tingkahnya, kembali konsen mengendarai mobil hingga sampai ke kost Fani. 

Begitu Fani hendak turun, lengan gadis itu kupegang. "Maafkan kata-kata ibuku tadi jika membuatmu tersinggung."

Fani mengangguk, "Iya, Kak. Tidak apa-apa, hati-hati di jalan, Kak." 

"Kita bisa ketemu besok? Kalau kau ada waktu, kabari saja, okey?"

Fani kembali mengangguk, "Okey, Kak."

emoticon-Shakehand2


Keesokan harinya, saat sedang bersiap ke kampus, di meja makan ibu menghampiriku yang lagi menyantap sarapan. "Nak, kemarin Fani baik-baik saja pas kau antar pulang, 'kan?"

Eh, tumben ibu tiba-tiba ingin membahas tentang Fani. Kuselesaikan makanku lalu menenggak segelas air putih. Ibu menggeser salah satu kursi kemudian duduk memperhatikanku.

"Dia baik-baik saja, Bu. Kenapa? Ibu kepikiran apa lagi?"

"Tolong sampaikan permintaan maaf Ibu tentang perkataan Ibu kemarin, mungkin dia tersinggung atau merasa tidak nyaman mendengarnya, Nak."

"Ibu juga, sih … kenapa menyudutkan Fani kemarin? Dia pernah bilang kalau dia belum pacar, tapi …."

"Seharusnya dia senang kalau begitu? Tembak saja, kalian sudah serasi jadi pasangan, lho?" Ibu langsung memotong kalimat yang belum kuselesaikan.

"Bu … tidak sesimpel itu, Bu," sergahku.

"Maksudmu apa? Kamu tidak suka sama Fani?" Apalagi yang tidak kau sukakan darinya? Dia anak yang patuh, pintar masak pula. Selama ini dia selalu memperhatikanmu, menjaga makananmu, dan juga dia baik sama Ibu. Apa lagi yang membuatmu menganggapnya rumit?"

Suara ibu tiba-tiba meninggi, aduh … suasana pagi ini mendadak tegang! Ibu masih menatap dengan pandangan kesal, sementara aku sedang berusaha menenangkan diri. Mengatur kata-kata yang akan keluar.

"Bu, semua yang Ibu katakan itu tidak ada celanya, Fani adalah gadis yang baik. Hanya Fajar tidak bisa memberinya harapan terlalu dalam karena kita dan Fani itu berbeda keyakinan, Bu!"

"Ehh … apa? Maksudmu apa, Nak? Berbeda keyakinan?"

"Iya, Bu. Fani itu gadis Tionghoa, keyakinan yang dianutnya berbeda dengan kita yang muslim. Jujur Fajar pernah ingin menjadikannya pacar, tetapi sepertinya itu akan sulit jika pada akhirnya keyakinan kami yang akan jadi taruhannya. Ibu paham nggak?"

Ibu terdiam dan mengangguk paham. Kuraih tangannya dan menciumnya takzim. "Fajar ke kampus dulu, Bu. Kebetulan sebentar ada janji mau ketemu Fani juga."

Ibu tersenyum memaklumi, "Hati-hati di jalan, Nak. Sampaikan permintaan maaf Ibu pada Fani, ya?"


emoticon-Angel


Setelah menyelesaikan urusanku bertemu dosen pembimbing dan ketua jurusan, aku sempat mengikuti kuliah dulu. Fani sudah sepakat bertemu setelah kuliahku selesai. Sekalian janjian untuk makan siang bareng.

Oh iya, karena Ayah sudah mengetahui kedatangan ibu, maka siang ini ibu akan sedikit sibuk mencarikan beberapa perabotan yang belum dibelikan ayah untukku. Ayah sudah berjanji tadi siap menemani ibu, semoga saja pertemuan mereka bisa berjalan lancar.

Semua komunikasi berjalan lewat chat saja, untunglah di jaman sekarang komunikasi online bisa mempermudah semuanya.

Setelah perkuliahan kelar, aku segera menuju kampus Fani, hendak menjemput gadis bermata sipit itu. Ada hal pelik yang ingin kubahas serius berdua saja dengannya.

"Kamu di mana? Aku sudah di luar," tanyaku setelah sambungan telepon diterima oleh seseorang.

Mobil kuparkir di depan kampus, aku malas turun dari mobil, jadi kuhubungi saja orangnya biar dia segera datang.

"Oke, Aku segera ke situ, tunggu ya, Kak." Begitu suaranya berhenti terdengar, aku segera mematikan jalur komunikasi.

Sambil menunggu Fani datang, iseng-iseng aku mengirim chat pada gadis manis yang sudah dua minggu ini tidak kutemui. Sesekali ngobrol lewat chat hanya sekadar ingin tahu dia lagi ngapain dan di mana, walau tidak bertemu empat mata, tetapi ya itu tadi bahwa komunikasi tetap lancar lewat chat.

[Lagi ngapain, Na?]

Kutekan tombol kirim, tercentang dua, tetapi belum bertanda biru. Berarti belum dibaca, mungkin Ana sedang sibuk sampai tidak mendengar notifikasi chat-nya berbunyi.

[Sibuk?]

Kukirim lagi dan di layar masih tercentang dua. Sepertinya gadis itu tidak dalam kondisi memegang gawainya.

Kulihat di luar tampaknya belum ada tanda-tanda Fani akan datang, kuputar musik lewat jalur radio di tape mobil sambil merebahkan diri dan menutup mata. Berbaring sejenak. Mungkin gadis itu masih kerepotan sampai-sampai belum datang sejak tadi.


emoticon-Kaskus Radio


Suara ketokan di pintu membangunkanku. Kubuka mata dan melihat Fani sedang berdiri dekat pintu mobil. Kubuka kunci otomatisnya dan masuklah dia dengan bulir-bulir keringat di dahi. Kotak tisu diraihnya lalu dengan tangkas mengusap keringat di wajahnya.

"Maaf, Kak. Lama menunggunya."

"Tidak apa-apa, sudah selesai kuliahnya?"

Fani mengangguk, tangannya masih saja sibuk menyeka keringat di leher.

"Kamu mau makan di mana?" tanyaku.

"Terserah Kak Fajar di mana makannya, Fani ngikut saja."

"Kita makan di mall saja, gimana?"

Mata gadis itu seketika berbinar melihatku  "Oke, Kak. Sudah lama Fani tidak jalan-jalan di mall."

"Hmm … oke, kita ke mall sekarang. Pasang sabuk pengamanmu."


emoticon-Cool


Sesampainya di mall, setelah memarkir mobil di tempat parkir. Aku dan Fani segera memilih tempat makan yang enak, gadis itu ingin memakan es krim untuk menghilangkan rasa gerahnya. Jadi, masuk KFC adalah pilihan akhir kami.

Setelah memesan makanan dan es krim, Fani mencari tempat duduk yang diinginkannya sementara aku menyelesaikan tagihan pembayaran dulu, sambil menunggu nampan makanan datang.

Aku makan dengan lahapnya, kebetulan perutku memang sudah memintah jatah sejak tadi, Fani pun demikian setelah sempat mencicipi es krim pilihannya.

Sementara asyik makan, aku seperti melihat sekelebat bayangan Ana berlari di antara kerumunan orang! Sontak aku berdiri dan memperjelas pandanganku ke arah orang-orang yang sedang hilir mudik berjalan. Fani yang melihat tingkahku, langsung menegur.

"Ada apa, Kak? Kak Fajar melihat siapa?" Dia ikut melihat ke arah pandang mataku.

"Oh tidak apa-apa. Lanjutkan saja makanmu, tadi aku seperti melihat orang yang kukenal, mungkin hanya halusinasiku saja."

"Oh, habiskan juga makanan Kakak, tidak baik menyisakan makanan, Kakak mau tambah sambal?"

Aku menggeleng menolak, "Tidak usah, ini sudah cukup."

Setelah makan, Fani masih mencecap sisa es krim yang masih tersisa setengah cup. Aku bangkit, pergi mencuci tangan. 

Setelah kembali dari mencuci tangan, kulihat Fani masih asyik dengan cup es krimnya. "Cuci tanganmu dulu, masih kotor begitu sudah dipake makan es krim"

Fani tertawa, "Es krimku jangan dimakan, Kak!" Dia bangkit, pergi mencuci tangannya juga.

"Iya …."

Begitu Fani berlalu, aku segera mengecek gawaiku, ternyata chatku ke Ana masih belum terbaca juga oleh gadis itu. Ana … kamu sedang sibuk apa, sih? Aku jadi kepikiran 'kan sekarang?


emoticon-Cape d...


"Ihh … Kak Fajar melamun, yaa?"

Tepukan pada bahu mengagetkanku, Fani sudah kembali dari mencuci tangannya.

"Nunggu kamu kelamaan!" Mimik mukaku pura-pura menampakkan kekesalan.

"Tadi Fani ngantri, Kak. Mau numpang ke toilet juga," jawabnya begitu kembali duduk di kursi.

"Fani, tadi Ibu titip pesan. Ibu meminta maaf atas ujarannya kemarin, jangan dimasukin ke hati, ya?" kataku dengan penuh hati-hati.

Fani mengangguk, "Apa Kak Fajar benar-benar suka padaku?"

Aku tidak kaget mendengar pertanyaan itu, sebelumnya sudah kusiapkan mental menghadapi pertanyaan-pertanyaan gadis itu. Kutatap Fani dengan tatapan serius.

 "Iya, aku menyukaimu, Fani, dengan segala kebaikan yang ada pada dirimu. Aku juga tau, kau pun menyukaiku bukan?"

Gadis itu mengangguk.

Lanjutku lagi. "Tapi kita hanya bisa saling menyukai, Fani. Jika melangkah lebih dari rasa itu, maka kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Kau paham maksudku?"

" Iya … aku menyukaimu, Kak. Sangat menyukaimu malah! Apa Kak Fajar tidak ingin berkorban demi aku?"

Kuhela napas panjang, "Apa kau juga mau berkorban demi aku? Keyakinan kita berbeda, Fani. Aku tidak mungkin berpindah keyakinan hanya karena cinta yang ingin membutakan mata, begitu pun dirimu. Aku ingin sebuah hubungan yang berlandaskan pada realita, bukan sekadar membangun imajinasi."

Mata Fani sontak berembun, oh … Tuhan! Apa kata-kataku tadi terlalu pedas? Gadis itu spontan tertunduk dan diam.

"Maafkan aku, jika kata-kataku terlalu menyakitkan untuk kaudengar." Kuraih jemari Fani dan menggenggamnya lagi.

"Apakah perbedaan keyakinan tidak bisa menyatukan kita, Kak?" gumamnya lirih, suara Fani seperti tercekat di tenggorokan.

"Jika bersatu dalam sebuah persahabatan itu bisa saja terjadi, tetapi jika dalam sebuah ikatan yang akhirnya kita tau akan menuju ke mana … kurasa itu mustahil, Fani."

"Jadi … apakah kita akan berakhir menjadi sepasang sahabat saja? Tidak adakah jalan lain yang bisa menjadi solusi buat kita, Kak?"


emoticon-pencet


Fani masih ngotot meminta penjelasan dan sepertinya belum paham dengan maksud kata-kataku. Baiklah … akan kujelaskan sampai kau paham, Fani.

"Fani, jawab dengan jujur. Jika kita melanjutkan hubungan ini ke tahap lebih serius, misalnya setelah kuliahku selesai aku melamarmu, apakah kau mau menukar akidahmu dengan dengan berpindah keyakinan yang sama denganku? Sudah siapkah kau dengan perdebatan panjang keluarga besarmu?"

Fani kembali tertunduk, entah apa yang dipikirkan gadis cantik itu. Sungguh berat harus menjelaskan hal detail seperti ini, tetapi semua harus dipikirkan matang-matang agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Sebuah komitmen harus dipegang, sebuah hubungan dibangun bukan hanya untuk jadi bahan mainan belaka, tetapi untuk kelangsungan hidup di masa depan, dan aku tidak mau mengulang kesalahan ayahku yang seperti hanya memainkan sandiwara hidup bersama ibuku.

"Fani, ayo kita pulang. Kasian ibu sendirian di rumah. Soal ini perlu kau pikirkan kembali, tidak usah kaujawab sekarang. Waktu kita masih panjang. Ayo pulang …."

Aku bangkit dan meraih tangan gadis itu agar ikut bangkit juga. Tanpa banyak bicara Fani mengikuti langkahku, tangannya masih saja kugenggam hingga akhirnya kulepas saat mendengar suara teriakan dari belakang.

"Kak Fajaar …!"


emoticon-Belum Tidur


Bersambung.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
ahhh ana mengganggu saja emoticon-Ngakak (S)...

please fani atau fajar pindah keyakinan biar bisa bersatu.... emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
actandprove dan evywahyuni memberi reputasi
Quote:

Ana datang tiba-tiba😅

Kira-kira harus seperti itu ya ceritanya, Gan?🤔
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Akhirnya setelah sekian lama

Tetapi ada apakah Ana.
profile-picture
profile-picture
actandprove dan evywahyuni memberi reputasi
Diubah oleh Arikempling78
Quote:

Kok post-nya di-edit? Jadinya kebaca tidak utuh komennya, Ganemoticon-Smilie
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Belum update ya emoticon-Sorry
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Nah lho kepergok deh sama Ana..
Neng kenapa abang kagak di mention kalo ada apdet emoticon-Belo
Halaman 67 dari 67


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di