CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f375b768d9b175af43ae2d3/angus-poloso-legenda-ki-ageng-selo

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 6
Moga2 nanti sudah selesai, jadi bisa upload hari ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Laskar278 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Minyak gan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 16 – Dimulainya Test of Faith.

Wartasuro langsung melesat ke tempat di mana Roni berada. Dalam sekejap suasana tegang di sana berubah menjadi suasana yang mencekik dan menakutkan. Suara tawa yang tak dikenal dan mengerikan muncul dari segala arah, seperti omen akan suatu yang teramat buruk.

Tak disangka-sangka, tiba-tiba Roni memuntahkan darah yang teramat banyak, keluar dari mulutnya. Membuatnya juga teman-temannya terkejut bukan main. Tak sampai di situ, mulut, kedua belah matanya, kupingnya, dan setiap pori-porinya mengeluarkan asap hitam yang teramat panas yang bisa dirasakan oleh teman-temannya.

Roni saat itu seperti ingin mengatakan sesuatu kepada teman-temannya. Yang dipastikan ialah dia sudah menyesal dan ingin kembali ke pelukan teman-temannya, namun sangat disayangkan. Tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan organ-organ dalam yang sudah tercabik-cabik menjadi beberapa potongan kecil. Dan di saat itulah, diapun tewas.

Semua teman-temannya tak ada yang bisa berbuat apapun untuk menolongnya, mereka semua cuman terdiam, menyaksikan Roni kesakitan saat itu, sampai dia tewaspun mereka masih belum bergeming untuk keluar dari pelindung.

“Dasar anak-anak manusia! Tidak memiliki rasa kesetiaan dan rasa belas kasihan. Kalian banyak berujar untuk menyelamatkan teman kalian, namun di saat seperti ini, kalian tak ada yang mau menyelamatkannya.” Kata Wartasuro yang barusan keluar dari tubuh Roni. “Aku heran pada Tuhan kalian, bagaimana kalian bisa menjadi Raja di muka bumi, sementara kalian selalu berbuat kerusakan, dan selalu berharap kalian sebagai pahlawan saja.”

Mereka masih terdiam, terpaku tak berdaya.

“Ah, sudahlah! Tugasku bukan untuk menceramahi maupun memakan kalian. Katakan kepada teman kalian yang sedang merogo sukmo di sebelah kalian kalau Dark Mistress akan datang pada keluarganya sebentar lagi.”

Setelah itu, Wartasuro mengambil kitab Septo Tapo ‘Sin of Madness’ itu dari tangan Roni dan langsung berlalu tanpa peringatan lebih lanjut.

Setelah Wartasuro pergi dari hadapan mereka, akhirnya merekapun dapat bergerak lagi. Ada sebuah penyesalan mendalam pada diri mereka yang tak bisa bergeming untuk menyelamatkan temannya. Walaupun Roni adalah seorang yang jahat dan sudah jadi gila karena kitab iblis itu, namun dia tetaplah teman sekaligus adik kelasnya.

Tak lama setelah itu, bu Ike dan anak-anak kelas satu yang lain berdatangan ke tempat itu dan menemukan kalau Roni telah bersimbah penuh dengan darah, sementara Amelia sedang dibopong oleh Intan dan Siwi.

“Intan, Siwi, apa yang terjadi?” tanya Bu Ike penuh tanya. “Mengapa Amelia tak sadarkan diri seperti itu ... dan mengapa Roni bersimbah penuh darah?”

“Anu, bu ... Roni, dia sudah meninggal,” jawab Intan menahan deru tangisnya. “Amelia selamat kok, namun ... jiwanya masih tergadai dengan keempat penunggu BPM sini, dan saat ini, kak Umam lagi menyelamatkannya!” tambahnya.

“Astagfirullah, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ...” Bu Ike langsung pingsan seketika mendengar jawaban dari Intan. Sementara itu, Alex berkeinginan untuk menggendong pacarnya itu, dan hal itu disetujui oleh Intan dan Siwi.

Mereka semua dalam keadaan kacau. Syaiful dan Bagos meminta beberapa siswa kelas satu untuk ikut membantu membawa jenazah Roni kembali ke perkemahan. Dan mengetahui apa yang telah diperbuat Roni pada sahabat-sahabatnya, tidak ada yang mau maupun sudi membantu Syaiful dan Bagos membawa jenazahnya.

Miris sekali.

...

Keadaan semakin mencekam di dunia gaib sana. Pertarungan manusia melawan bangsa lelembut kelas atas terjadi.

Mereka berpikir harus segera menyelesaikan pertarungan keras ini sebelum terjadi peristiwa yang jauh lebih buruk ke depannya. Namun, kekuatan dari para demit-demit itu ditambah dengan keempat Gawur tak bisa dianggap remeh, karena kekuatan keenam demit itu jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Sementara Pak Khoirul tak bisa bertarung karena dia lagi terfokus untuk menyembuhkanku.

“Khoirul, apa sudah selesai?” tanya Mbah Jayos.

“Belum, mbah! Luka yang didapat Umam sangatlah parah. Mungkin jikalau dia tak segera disembuhkan, dia bisa mati.” Jawab Pak Khoirul resah, karena aku sudah dianggap sebagai putra angkatnya sendiri. “Sebaiknya kita melarikan diri saja, mbah!”

“Tidak bisa, pak! Mereka pasti takkan pernah membiarkan kita untuk melarikan diri dari sini. Sebaiknya bapak konsentrasi terus untuk menyembuhkan Umam, biar demit-demit itu kami yang tangani!” sahut Mas Nanang terlihat percaya diri mampu mengalahkan mereka berenam.

“Hahaha ... bagaimana, pak tua? Sekarang kau takkan mampu mengalahkan kami semua, ‘kan?” kata Banaspati yang terlihat antusias dan sumringah melihat Mbah Jayos dan Mas Nanang terpojok dan tak mampu berbuat apapun itu. “Sebaiknya kau menyerah sekarang dan jadilah budak kami di neraka!”

Mendengar ucapan kurang ajar yang keluar dari mulut si Banaspati, tiba-tiba Mbah Jayos dan Mas Nanang tertawa. Sepertinya mereka merasa ancaman dari Banaspati itu sebuah lelucon buat mereka.

“Banaspati, Banaspati. Ternyata kau masih suka meremehkan kemampuan orang tapi bodoh, ya? Sedari tadi kalian semua sudah masuk ke dalam perangkap kami, namun tidak ada di antara kalian yang menyadarinya.” Kata Mbah Jayos tertawa.

Tak terduga, dari segala penjuru muncul tombak-tombak api yang sudah mengarah ke arah para demit-demit itu. Dalam sekejap, tombak-tombak api itu langsung menghujam tubuh para Gawur yang langsung membuat mereka tewas tak bersisa.

Menyisakan Banaspati dan Pocong Hitam itu kembali.

“Sialan, kau anak-cucu Adam!” Banaspati mengumpat ke arah Mbah Jayos. “Kau sudah benar-benar berani menentang kami,” tambahnya.

“Lalu kenapa, Banaspati? Apa kau sudah lupa siapa diriku dan apa julukan yang diberikan padaku, hm?” tanya Mbah Jayos sedikit tertawa licik.

“Mentor Utama (Grand Mentor) keluarga Marwan. Atau dikenal sebagai mahaguru yang mengajarkan ilmu kanuragan sakti kepada anak-cucunya,” jawab Banaspati tertatih-tatih. “Itu kau, Jayos?!”

Sebelum Mbah Jayos melanjutkan perkataannya, tiba-tiba di langit muncul sebuah mata raksasa yang tengah mengawasi mereka. Bersamaan dengan munculnya mata itu, dari segala penjuru muncul suara-suara tawa yang mencekik bagi siapapun yang mendengarnya.

“Hahaha, Jayos, Jayos. Kau sama sekali tak berubah, ya?” ujar suara misterius itu yang kiranya muncul dari langit, atau tepatnya keluar dari mata raksasa itu. Suara bergema itu langsung membuat manusia dan demit itu langsung tersungkur tak berdaya, seolah energi spiritualnya terhisap habis.

“Siapa itu?” tanya Mbah Jayos merasakan sesak di dadanya.

Dalam sekejap seseorang gadis dengan jubah hitam muncul di belakang si Banaspati dan Pocong Hitam itu. Tiba-tiba mereka semua mendapati sebuah ilusi mengerikan mengenai kematian mereka. Pak Khoirul dan Mas Nanang mendapati tubuhnya dipenggal oleh kapak merah, membuatnya pingsan seketika. Sementara Mbah Jayos yang kekuatan spiritualnya sudah tinggi, hanya mundur beberapa langkah.

“Ilusi itu ... Ilusi Titihan Kembang Bulan Merah,” kata Mbah Jayos yang terkejut melihat ilusi yang pernah ia alami sewaktu ia masih muda. “Ada satu orang saja yang menguasai ilusi itu. Nyi Imas!”

Dark Mistress kala itu hanya tersenyum melihat ucapan Mbah Jayos, sepertinya ia memang ingin bertemu dengan orang-orang keturunan dari kyai yang sempat mengalahkannya. Mungkin dia ingin memberitahu kalau dia sudah kembali, dan tak ada yang bisa menghalangi rencananya sekarang ini.

Tak terduga, Dark Mistress mengeluarkan auranya yang tambah mencekik suasana di sana, auranya itu kemudian berubah menjadi tangan-tangan transparan yang langsung menghujam tubuh Banaspati dan Pocong Hitam tanpa mampu mereka tangkis.

“Grr, apa yang kau lakukan?” tanya Banaspati itu geram. “Kalau kau berani, hadapi aku dengan adil, pengecut!” tambahnya mengumpat.

“Maaf Banaspati, tapi aku butuh dirimu saat ini. Izinkan aku untuk memakanmu dan teman pocongmu di sana!”

Tiba-tiba Banaspati dan Pocong Hitam itu langsung berubah menjadi orb warna hitam yang kemudian diraihnya dengan tangan-tangan transparannya, kemudian Dark Mistress itupun menelan kedua orbs itu.

“Ah, yummy. Ternyata kedua demit itu punya rasa yang lumayan juga. Makasih atas hidangannya, ya!” kata Dark Mistress itu.

“Apa yang kau lakukan di sini, Nyi Imas?”

“Aku hanya ingin mencari santapan yang lezat hari ini. Mungkin keturunan ayahmu di sana rasanya bakal nikmat sekali bila kumakan,” jawab Dark Mistress sembari menunjuk ke arahku yang tengah pingsan.

“Takkan kubiarkan! Ajian Ronggolawe!”

Mbah Jayos langsung menyerang Dark Mistress. Ajian Ronggolawe itu mampu menekan ilusi Titihan Kembang Bulan Merah. Namun tekanan dari ilusi itu masih terus menekan fisik dan mental Mbah Jayos, sehingga sebelum dia berhasil menyerang, dia sudah terduduk lemas.

Ajian Ronggolawe yang merupakan ilmu tarian Naga yang bertumpu pada tongkat Cokropati. Setelah menari tarian naga, tongkat itu langsung berubah menjadi pedang api, yang sering disebut sebagai pusaka Pedang Naga Api. Sebenarnya ada nama yang cukup bagus, namun aku tak ingin memberitahunya.

Dark Mistress yang kala itu melihat Mbah Jayos mengambil ancang-ancang untuk menyerangnya, namun dalam sekejap tangan-tangan transparan itu langsung menangkap kaki Mbah Jayos sehingga dia tak bisa bergerak.

“Asal kau tahu, Jayos. Aku tidak datang ke mari untuk bertarung maupun mencari masalah denganmu,” kata Dark Mistress melaju, mendekati Mbah Jayos sembari membelai pipi keriputnya. “Tak kusangka sudah delapan puluh lima tahun sejak terakhir kita ketemu. Dan sudah selama itu pula kau menjadi setua ini, Jayos, putraku.”

“Tak sudi aku menganggapmu sebagai ibuku! Meski aku lahir dari rahimmu, namun jiwa dan hatimu telah ditelan oleh iblis! Mana mungkin aku bisa menerima seorang ibu kejam sepertimu!” jawab Jayos yang mencoba memberontak dari kekangan ibunya. “Kau cemburu dan iri kepada ketiga istri lain Marwan bin Muhammad, karena ayahku lebih menyayangi mereka ketimbang dirimu, kan?"

“Ah, andaikata kau mau ikut denganku malam itu, pastinya kau takkan menjadi seperti ini, Jayos. Aku bisa memberimu keabadian dengan ajian Ramuraga itu!” kata Dark Mistress itu menggoda. “Sekarang yang tersisa dari tetua, Cuma kau, Mbah Carik, dan Mbah Ibu. Aku akan sangat senang sekali jikalau ada yang sukarela membantuku untuk menyingkirkan mereka,”

Dan sekejap, Mbah Jayos berhasil keluar dari kekangan Dark Mistress. Tanpa ragu sedikitpun, dia langsung menebas tubuh gadis berusia kira-kira tujuh belas tahun itu sampai menjadi dua bagian.

Anehnya, tubuh yang ditebas Mbah Jayos itu tiba-tiba tersenyum licik, dan kemudian berubah menjadi boneka kayu yang langsung mengeluarkan asap-asap beracun yang sempat melukai Mbah Jayos.

“Dasar iblis licik! Beraninya dia hanya menggunakan boneka dirinya untuk melawanku!?” umpat Mbah Jayos sembari menutupi hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya. Namun, di sana masih ada cucu dan kedua cicitnya, dia tak tega membiarkan mereka mati konyol akibat racun mematikan itu. “Aku tak bisa membiarkan mereka mati konyol di sini. Pertama-tama aku harus mengirim Umam untuk kembali ke jasad kasarnya. Semoga saja dia bisa siuman di sana!”

Dengan cepat, Mbah Jayos merapalkan sebuah doa yang bahkan penulis tak tahu doa apa itu, yang langsung mengirim jiwa Umam kembali ke jasad kasarnya.

Tak berlangsung lama, sampai jiwa Mbah Jayos terduduk sembari memuntahkan darah. Ini pasti diakibatkan racun yang keluar dari fudu boneka kayu tersebut yang racunnya sangat menyengat dan berbahaya.

Remang-remang tapi pasti, dalam keadaan yang tengah sekarat, Mbah Jayos melihat seorang nenek yang usianya jauh dibawahnya, sekitar 90 tahun sedang berjalan pelan menuju ke arahnya.

“Kak, sepertinya ujian Test of Faith harus kita percepat, mendapati Nyi Imas telah berhasil menitis ke dalam jiwa dan raga keturunan-keturunannya!” usul nenek tua itu. “Aku merasa akan terjadi malapetaka yang teramat besar, dan peperangan besar-besaran akan segera terjadi. Antara keluarga Marwan melawan keluarga Immas,” lanjutnya.

Dia sudah pasti adalah Mbah Ibu, adiknya sekaligus mentor penyembuhan terhandal di keluarga Marwan.

-BERSAMBUNG-

Quote:


Itu aja guys untuk chapter kali ini. Maaf dah lama updatenya. Sering kena writing block dan ke distract sama urusan2 RL. So stay tune guys. di Chapter2 berikutnya mimin kasih spoiler dikit. Test of Faith akan di adakan dan para pesertanya akan ditugaskan untuk berburu hantu2 di seluruh penjuru dan belajar akan kebijakan dan ketenangan batin. Waktu yang ditentukan dalam test itu adalah 100 hari, dan dalam 100 hari itu, Umam akan berkelana menyusuri setiap tempat dan belajar pelajaran hidup dari sana. Oh iya, btw, dalam Test of Faith ini, akan sering ganti POV.

So stay tune, and see you guys ... emoticon-Smilie emoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Laskar278 dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Pre-Horror 17 – Keselamatan yang Berarti.

Setelah tersadar, aku sudah berada di tempat semula. Tepat di samping telaga angker BPM angker itu. Kulihat ke sana dan kemari tak kutemukan teman-teman, bahkan Amelia pun sudah tidak berada di sana.

Dalam benakku, aku merasa gundah, sedih, dan menyesal tak mampu menyelamatkan Amelia dari para Gawur itu. Tak mau berlama-lama berada di tempat itu, aku pun bergegas memaksa kedua kakiku yang terasa berat untuk melangkah untuk kembali ke tempat perkemahan itu.

Sesampainya di sana, aku dikejutkan oleh semua siswa dan para guru sudah berkumpul di sana dengan penuh suka tawa. Aku melangkah ke arah mereka sambil menahan rasa sakitku.

“Ada apa ini?” tanyaku yang seperti dongkol mengenai apa yang terjadi kala itu. “Bagaimana kalian bisa setenang ini padahal kita sedang terjebak di tempat angker ini?” lanjutnya.

Bagos hanya nyengir melihatku, “Lihatlah, Mam! Kabut yang mengurung kita di tempat ini telah musnah. Pak Bus, dan Aan akan segera sampai ke tempat ini untuk menjemput kita.”

Kulihat sekeliling tempat itu, namun aku sudah tidak menemui kabut-kabut yang menyelimuti tempat ini. Pak supir dan bu Ike datang menemuiku sembari mengucapkan rasa terima kasih, karena telah menolong Amelia dan siswa-siswi kelas satu lainnya.

“Nggak papa, bu, pak! Lagian ini semua sudah merupakan tugasku untuk menolong sesamanya.” Jawabku sekenanya. “Lalu, bagaimana soal Roni, bu?” tanyaku balik.

Bu Ike langsung meneteskan air mata mendengar pertanyaanku itu. Dia pun enggan menjawab pertanyaanku dan segera berlalu. Melihatku yang lagi bingung itu, pak Suryo yang merupakan supir sekolah itu langsung mengatakannya.

“Roni, ... dia sudah meninggal, nak!” kata Pak Suryo yang terasa berat menceritakannya. “Kata dek Intan dan Siwi, ada sebuah kabut hitam yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuh Roni. Dalam sekejap, dia langsung memuntahkan darah beserta organ-organ dalam. Anehnya organ-organ dan darah Roni serasa panas mendidih!” lanjutnya. Kemudian Pak Suryo itupun berlalu, meninggalkanku sendirian dengan perasaan gundah.

Aku yang terkejut dan sempoyongan segera menuju ke dalam tenda, merenung, mencoba menyikapi kegagalanku kali ini.

“Sial! Lagi-lagi aku harus kehilangan seseorang yang seharusnya menjadi tanggung jawabku. Ya Allah, Roni ...” kataku seraya mengumpat pada nasib dan kegagalanku. “Meskipun dia jahat, tapi tetap saja dia merupakan tanggung jawabku. Aku ... aku,”

Setelah perasaanku sudah agak tenang, aku pun kembali ke rombongan adek-adek kelas yang lagi berkumpul di samping api unggun itu. Kulihat ke sana ke mari, aku tak kunjung menemukan keberadaan Amelia, maupun kedua teman-temannya, Intan dan Siwi.

Aku pun segera bertanya kepada Bagos dan Syaiful mengenai keberadaan mereka bertiga, dan mereka berdua hanya menjawab kalau bu Ike meminta kehadirannya di samping semak-semak itu.

Merasa ada yang janggal, aku meminta mereka berdua untuk mengantarku menemui mereka, dan tanpa menolak sedikitpun mereka pun menuruti keinginanku.

“Oke lah, kau pasti sudah begitu senang ya, menjadi sesosok hero yang menyelamatkan adik-adik kelasmu?” tanya Syaiful dalam perjalanan. “Aku jadi iri padamu, Mam. Semua orang pada memujimu, sedangkan kami sama sekali tak dilihat oleh mereka,” tambahnya.

“Sudahlah, tak perlu memikirkan hal itu. Lagipula kita adalah teman, jadi tak perlu menyimpan rasa benci maupun iri itu.” Jawabku bijak.

Kami bertiga pun bergegas menuju ke tempat di mana Amelia dan kedua temannya berada. Di sana aku melihat Intan dan Siwi yang terlihat masih terpukul atas kematian Roni, selain itu, mereka masih mampu tersenyum melihat kedatangan kami bertiga.

“Kalian baik-baik saja?” tanyaku segera.

“Baik-baik saja kok kak. Terima kasih atas semua bantuannya, kak!” jawab Intan sembari mengarahkan senyum. Aku terlihat biasa melihat senyuman manis gadis cantik itu, namun Bagos, duh, sudah terlihat klepek-klepek dah.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah aura kecil jahat yang muncul dari sekitar sana. Dengan sedikit membaca Al-Falaq dan An-Naas, aura jahat itu akhirnya membentuk sebuah titik di mana terlihat jelas.

“Oh ya, Amelia di mana?” tanyaku.

“Lho? Tadi dia ada di sampingku, lalu kemana dia?” jawab Siwi bengong. “Kenapa kak Umam?”

“Ah, tidak apa-apa. Syaiful, Bagos. Kalian tetap di sini ya! Ada urusan kecil yang perlu kuselesaikan,” suruhku.

Mereka berdua Cuma mengangguk pertanda mengerti. Walaupun kulihat dari tatapan mereka, aku menyaksikan pandangan yang begitu penasaran akan sikapku barusan. Kuacuhkan mereka dan bergegas mencari di mana Amelia berada.

Tak butuh waktu lama sampai aku bertemu Amelia yang saat itu sedang digandeng oleh bu Ike. Kulihat kondisi Amelia dengan mata biasa, tidak muncul hal-hal yang aneh, namun setelah kulihat pakai mata batin,

“Astagfirullah, “

“Ada apa, nak?” tanya bu Ike. Dia terlihat terkejut melihatku mencoba melepaskan genggaman bu Ike ke Amelia.

“Lepaskan, bu. Dia bukan Amelia!” tegasku, namun tiba-tiba Amelia langsung mencakar kedua tangan bu Ike. Bu Ike langsung menjerit saat itu, membuat Amelia tertawa terkekeh.

“Dasar! Setelah penguasamu mati, muncul satu demit yang mengambil alih kuasanya.” Ucapku menggeleng. Bu Ike hanya melongo melihatku berbicara aneh dengan Amelia.

“Kamu ngomong apa, nak?”

“Aku ngobrol sama sosok demit yang nempel ke Amelia. Sepertinya dia ketempelan sesosok demit saat dia di bawa kembali ke perkemahan, bu!” jawabku menjelaskan.

Bu Ike segera menyisih, sementara aku mencoba menghindari setiap cakaran Amelia yang di arahkan padaku. Meskipun gerak gerak tubuhku sudah mampu menghindari setiap cakaran yang dilayangkan oleh Amelia, namun beberapa cakaran itu ada juga yang mendarat ke tangan dan tubuhku, membuatku mengerang kesakitan.

“Ahgg ... Amelia, sadarlah!” aku mencoba memanggilnya supaya dia tersadar. “Jangan biarkan demit itu menguasaimu. Aku yakin kalau kau bisa mengeluarkannya sendiri!”

Tiba-tiba Amelia menggerang-gerang kesakitan. Aku suruh dia untuk membacakan ayat kursi supaya demit yang menempel padanya terbakar. Namun, kulihat bibir Amelia terasa kaku, ngilu, sehingga ayat-ayat itu tak bisa keluar dari mulutnya.

Reflek, dia kembali menyerangku, mengenai kakiku kali ini, sehingga aku langsung terjatuh sembari menahan rasa ngeri. Tak berhenti sampai di situ, Amelia langsung menaikiku dan mencekikku kuat-kuat.

“Hahaha, kau memang manusia lemah. Tak kusangka kalau keempat pemimpin kami bisa terbunuh oleh makhluk lemah macam kalian,” Amelia tertawa sembari menunjukkan muka yang begitu mengerikan, kornea matanya tak terlihat, dan kulitnya berubah keriput, seperti wajah orang tua.

Bu Ike yang melihatku, merasa tak tega, dan bergegas menolongku dengan menarik tangan Amelia, namun sialnya, dengan sekali hentakkan tangan, bu Ike langsung terpental sejauh dua meter.

Disaat kami sudah mulai terdesak, dari belakang sana, kakakku, Vita, langsung bergegas menuju ke arahku dan merapalkan mantra. Entah apa yang dia baca, namun seketika Amelia pun jatuh pingsan.

“Alhamdulillah,” ucap Vita lega. Dia pun segera menolongku untuk bangkit. Di saat yang bersamaan, Syaiful dan Bagus sudah tiba di tempatku saat ini. “Syukurlah, aku datang tepat pada waktunya. Kalau tidak, kau pasti sudah mati, dek!”

Aku langsung menolak uluran tangan Vita yang diulurkan untukku. Jujur saja, aku masih benci setengah mati padanya. Peristiwa kelam masa lalu, tewasnya Astrid, dan penghianatan yang dilakukannya, membuatku belum sanggup untuk memaafkannya.

Dengan tubuh lemas dan tergopong-gopong, aku bergegas meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Syaiful dan Bagos. Sementara Vita hanya tersenyum pahit menatapku dan bergegas menolong Amelia diikuti oleh bu Ike.

Pada malam harinya, Aan, Misbah, dan Amidanal menyalakan api unggun di tengah perkemahan. Semua tampak ceria kala itu, sebagai penghibur atas lara dan kengerian yang kami alami beberapa hari ini.

Oh ya, yang belum kalian tahu, jenazah Roni sudah dibawa ke rumah duka tadi siang di dampingi oleh Pak Mujab dan Pak Idris.

Saat itu aku menatap api unggun dengan perasaan sendu dan gusar. Aku tak menyangka kalau aku gagal lagi menyelamatkan seseorang yang menjadi tanggung jawabku. Dalam lamunanku, tiba-tiba kak Vita datang dan menepuk pundakku.

“Apa yang sedang kau pikirkan, hm?” tanyanya dengan wajah sok manis. “Kalau kau melamun begitu, nanti kesambet loh!”

“Bukan urusanmu, kak! Kenapa kakak membantuku tadi? Padahal aku sendiri sudah cukup untuk menolong Amelia,” jawabku ketus, sembari balik bertanya akan sikapnya tadi.

“Beneran, nih? Kakak lihat kalau kau tidak bisa mengatasinya seorang diri.” Vita menyikut lenganku bermaksud mengejek. “Aku datang ke sini karena mendapat firasat buruk dari Nana. Dia meramal kalau dirimu sedang berada dalam bahaya yang bahkan dirimu tak bisa mengatasinya. Jadi, kakak ingin jadi orang pertama yang menolongmu!” tambahnya.

Tak beberapa lama kemudian, Amelia, Intan, dan Siwi datang menemui kami berdua. Dia ingin mengucapkan rasa terima kasihnya padaku karena telah menolongku beberapa kali.

“Kak, terima kasih kakak sudah menolongku tadi dan kemaren. Saya selaku putri bungsu dari keluarga bangsawan Prida mengucapkan rasa terima kasih yang begitu besar buat kakak!” Amelia memberikan rasa hormatnya padaku layaknya seorang putri dari keluarga bangsawan.

Wait! Dia berasal dari keluarga Prida!?

“Tunggu dulu! Sepertinya aku tahu nama keluarga itu. Apa hubunganmu dengan Niken?” tanyaku terkejut, mencoba memastikan hubungan apa yang ia miliki dengan Niken.

Amelia, Intan, dan Siwi hanya tersenyum lucu, seolah mengejekku. “Kak Niken adalah putri utama keluarga Prida, dan dia adalah kakakku.”

“Kakak benar-benar lucu. Tak kusangka kalau kakak juga teman dari kak Niken.” Ucap Siwi yang terlihat masih tertawa, walaupun masih dia tahan dengan tangannya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Semua teman-temanku sudah pada tidur dengan nyenyaknya, menanti hari esok yang cerah. Sementara diriku harus terus menatap bulan yang kala itu terasa sunyi.

Lamunanku terpecah setelah melihat kak Vita dan kak Nana datang menghampiriku dan bermaksud untuk berbicara serius mengenai sesuatu.

“Mam, Pak Khoirul bilang padaku kalau Test of Faith akan segera dilaksanakan. Mbah Jayos dan Mbah Ibu sudah sepakat kalau dirimu akan diikutkan dalam ujian itu,” kata Vita membuka pembicaraan. Terlihat dari mukanya kalau dia memancarkan aura ketakutan dan keprihatinan padaku. “Ujian itu akan dimulai minggu depan, dan setelah melihat kemampuanmu sampai saat ini, aku ingin kau untuk mengundurkan diri dari ujian itu!”

“Iya, dek Umam! Dalam ujian kali ini aku merasakan sebuah hawa-hawa yang begitu mengerikan. Jikalau kau masih memaksa ikut ujian itu, maka kau tak akan selamat!” tambah Nana yang sepertinya dia mengetahui akan nasibku dari Clairvoyance-nya.

“Hmph, apa urusan kalian berdua, hm? Jikalau kakak dan adikku sudah bisa lulus dari ujian itu, mengapa aku tak bisa?” jawabku yang sama sekali tak peduli dengan kekhawatiran mereka. “Aku akan lulus dari tes itu, supaya keluarga kita tahu akan kemampuanku! Tidak harus selalu terbayang-bayang oleh pujian-pujian yang selalu diucapkan keluarga kita pada kak Vita dan juga Danang.”

Plakk ...!

Suara tamparan keras kak Vita mendarat tepat ke pipi kananku. Pipiku terasa terbakar kala itu. Aku pun berbalik ke arah kakakku. Dia terlihat sudah meneteskan air mata kekhawatiran. Aku merasa bersalah kala itu, namun aku tak bisa melakukan apapun untuk menghapus tetesan air matanya yang sudah berjatuhan ke tanah.

“Bodoh kau, Mam! Test of Faith adalah sebuah test yang mengharuskan kita mempunyai rasa ketenangan batin dan kebijaksanaan. Bagaimana kami tidak khawatir padaku ketika di dalam hatimu masih menyimpan rasa kebencian dan kedengkian seperti itu!?” ujar kak Vita memarahiku. “Test itu sangatlah berbahaya dan aku tak mau kehilanganmu! Tak mau!”

Setelah itu, kak Vita segera pergi dari sana, diikuti oleh Nana, pelayan setianya. Namun sebelum beranjak pergi, Nana memberiku satu nasehat penting.

“Jikalau kau pikir kebencianmu yang sudah kau tabung selama tiga tahun ini mampu menyelamatkanmu dari test itu, maka lakukanlah! Selamanya kau takkan bisa melewati test berbahaya itu hanya bermodal rasa bencimu pada kakakmu dan juga demit-demit itu!” kata Nana mencoba menasehatiku dengan kata-kata bijaknya. “Setelah kau mampu melewati test itu, atau bahkan jikalau kau mampu melewati test itu, ayahmu tak akan pernah berharap banyak darimu, Mam! Kau sudah seperti anak terbuang dari keluarga Marwan, dan Cuma sebagai pengganti dari kakakmu seorang!”

Dan Nana pun berlalu. Meninggalkanku yang lagi termenung di depan api unggun sembari menatap bulan yang begitu terang malam itu.
“Aku tak peduli jikalau aku adalah sesosok pengganti maupun bayangan akan kehebatan kakakku! Yang kuperlu saat ini adalah menjadi diriku sendiri dan membuktikan pada ayah maupun keluarga besarku kalau aku bisa melewati ujian bodoh itu!” gumamku mantap. “Astrid ... akan kubuktikan padamu kalau diriku bisa menyamaimu juga!”

-BERSAMBUNG-

So that's it guys. Maaf karena dah lama gak update. Karena aku lagi coba cari referensi buat kisah yang ada dalam Test of Faith nanti. Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya kalau test of faith ini akan diuji mental, fisik untuk mengukur ketabahan dan ketenangan hati. Dalam seratus hari, para kontestan akan pergi mencari kebijaksanaan sembari menolong sesama dari kesusahan maupun gangguan makhluk-makhluk astral. Ya, itu memang test berbahaya sih, karena kita akan berhadapan dengan para demit-demit yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, dan seberapa kuat mereka nanti.

Oke, see you next time.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 12 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 12 balasan
Lanjutt bre....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan

Horror 18 – Pesan Mbah Jayos.

Keesokan harinya, kami bangun pagi-pagi dan menggelar tikar. Pak Bus akan mengimami kita sholat Subuh hari itu. Setelah selesai, kami segera membereskan barang-barang bawaan kami, karena nanti jam setengah tujuh, kami harus segera meninggalkan tempat menyeramkan ini, dan persiapan besok untuk mulai mengikuti pelajaran kembali.

Di saat itu, aku mencari-cari keberadaan kak Vita dan juga Nana, berharap mereka berdua mau membawakan sebagian barang-barangku, namun setelah kucari di tenda mereka, tidak ada siapapun di sana, melainkan secarik surat yang diletakkan di atas rerumputan.Di saat itu, aku mencari-cari keberadaan kak Vita dan juga Nana, berharap mereka berdua mau membawakan sebagian barang-barangku, namun setelah kucari di tenda mereka, tidak ada siapapun di sana, melainkan secarik surat yang diletakkan di atas rerumputan.

Quote:


Aku langsung meremas-remas surat itu sampai jadi bola kertas dan langsung kubuang ke tempat sampah yang tersedia. Aku tahu kalau di tempat begini, pamali untuk membuang sesuatu (sampah) ke tempat sembarangan, ya hitung-hitung sebuah pembelajaran supaya tak berperilaku dzolim.

Tak mau berlama-lama, aku bergegas merapihkan tenda yang dipakai kak Vita kemaren. Duh, dasar kakak aneh, pikirku. Samar-samar aku melihat sesosok bayangan putih dari kejauhan. Sosok samar-samar itu kemudian menampakkan dirinya sebagai Roni. Wajahnya menunjukkan rasa penyesalan dan keputusasaan. Dan tak lama kemudian, sosok itupun menghilang di dalam gelapnya malam.

“Semoga Allah mengampunimu, Roni! Kami semua di sini sudah memaafkan segala dosa-dosamu,” gumamku lirih.

Beberapa jam kemudian, akhirnya fajar pun muncul dari ufuk timur. Dia membawa kehangatan dan harapan akan hari ini jauh lebih baik dari hari kemaren. Setelah semua beres, kami semua segera masuk ke dalam bus kami masing-masing dan bergegas meninggalkan BPM angker yang telah merenggut salah seorang di antara kami.

Dalam perjalanan, aku, Bagos, dan Syaiful saling mengobrol perihal pengalaman-pengalaman apa saja yang terjadi di BPM angker tadi. Seolah-olah pengalaman itu layak untuk diperbincangkan dan dimasukkan ke dalam memori kenangan, atau malah dituliskan gitu.

“Heh, Mam, apa kau tahu kalau kemaren lusa kami ada yang menolong?” Bagos memulai obrolan sembari menepuk pundakku.

“Lo serius?”

“Iya, dia lah yang telah mengusir Pocong Hitam, Banaspati, dan Kuntilanak Merah itu, sehingga kita semua berhasil selamat malam itu!” jawab Syaiful menjelaskan.

“Lalu, kok kalian bisa selamat dari Roni?” tanyaku yang mulai penasaran mendengar cerita mereka berdua.

“Nggak tahu, Mam. Tapi kemaren lusa ada sesosok demit yang berwujud asap transparan berwarna hitam yang tiba-tiba masuk ke tubuh Roni. Tak berselang lama, Roni pun langsung memuntahkan organ-organ tubuhnya gitu!” jawab Bagos. “Dan yang anehnya, organ-organ Roni terasa terbakar, bahkan kami mampu merasakan panasnya dari jarak lima meter. Lalu ...”

“Lalu apa, Gos?”

“Dah lah, Mam. Aku ngeri nyeritain kejadian selanjutnya,” sahut Bagos yang terlihat bulu kuduknya sudah mulai berdiri semua.

“Demit itu menitipkan pesan padamu, Mam. Katanya Dark Mistress akan segera datang menemui keluargamu!” jawab Syaiful.

Aku pun terdiam mendengar ucapan mereka. Sepertinya kejadian beberapa hari lalu sudah dirancang oleh seseorang, namun yang tidak kutahu ialah siapa dalang di balik semua ini.

Aku terdiam cukup lama, mencoba memikirkan apa yang dimaksud dari perkataan demit kalau sebentar lagi Dark Mistress akan mendatangi keluargaku?

Ternyata rasa diamku, menimbulkan kecurigaan dan rasa penasaran mereka berdua. Tanpa ragu sedikitpun, mereka mencoba menanyakan perihal hal ini kepadaku.

“Mam, kelihatannya kau tahu sesuatu mengenai ucapan dari demit itu? Kalau mau, kau bisa berbagi cerita pada kami. Iyakan, Gos?” tanya Syaiful sembari mengarahkan tatapan matanya ke arah Bagos di sampingnya.

“Iya, walaupun kami tak bisa membantu banyak. Kalau kau punya masalah, kita siap untuk bantu kamu kok!” tambah Bagos.

“Ah, iya. Demit yang kalian temui kemaren lusa adalah Wartasuro. Dia adalah demit yang pernah bertarung dengan Mbah Buyutku, Mbah Jayos saat dia masih muda. Katanya sih, Wartasuro adalah demit yang paling kuat yang pernah dilawan oleh Mbah buyutku itu!” jawabku menerangkan. Aku kembali diam untuk sesaat. “Sedangkan Dark Mistress ... aku tak tahu persis, namun katanya dia adalah keturunan keluarga Immas yang berhianat gitu,”

Mereka terdiam untuk sesaat, mengetahui kalau diriku masih menyembunyikan sesuatu dari mereka. Namun, syukurlah mereka mau menghargai rahasiaku sehingga mereka tak bertanya lagi.

Sesampainya di sekolah, kami putuskan untuk segera pulang. Namun, tidak untukku. Karena waktu itu aku dipanggil oleh Abah Nadjib dan para anggota OSIS lainnya.

Mereka terlihat ingin mengintrogasiku.

“Mam, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Abah Nadjib membuka pembicaraan kala itu.

“Hm ... bukankah Abah sudah diberitahu oleh bu Ike tadi?” jawabku yang balik bertanya. “Teman-temanku sudah menceritakan segalanya yang terjadi di BPM itu kepada bu Ike, Abah,” tambahku.

Abah menggeleng. “Nggak, nak! Bu Ike tak cerita apa-apa mengenai peristiwa yang terjadi di BPM itu. Sepertinya dia enggan untuk membuka kembali peristiwa yang meyayat hatinya itu!”

“Lalu, apa yang terjadi pada Amelia?” tanya Aan yang langsung nimbrung dalam percakapan kami berdua.

“Ceritanya panjang, An! Tapi yang bisa kukatakan hanya ini. Amelia kemaren lusa dijadikan tumbal oleh Roni, teman Alex. Dan sepertinya, Roni mempunyai buku terlarang, Kitab Septo Tapo yang harusnya tidak boleh disentuh oleh manusia,” jawabku serius. Karena tak ada yang bisa diperbincangkan kembali, aku mohon pamit.

...

Sesampainya di rumah, aku segera merebahkan tubuhku di atas kasur. Lelah, penat, dan pahit. Kubayang-bayangkan hidup indahku di sekolah baru, bisa terlepas dari semua hal-hal gaib ini, dan hidup biasa layaknya seorang murid biasa, namun semua itu percuma. Takdir yang berusaha kulawan, malah semakin menghantuiku di sekolah baru, dan untuk sekali lagi aku diamanatkan tanggung jawab yang besar sebagai Ghost Hunter.

Kulihat rumah lagi sepi, sehingga aku bisa beristirahat dengan tenang untuk beberapa jam, sampai waktu menunjukkan waktu Ashar. Aku segera mandi, berwudhu, dan kemudian sholat Ashar di Mushola dekat dengan rumahku. Di sana ada seorang teman yang bisa mendengar keluh kesahku mengenai hal-hal gaib, dan dia adalah Asabiq al-Haris, kupanggil Aris lebih mudahnya. Dia adalah putra sulung dari Imam Mushola itu, yang bernama Pak Makros.

“Gimana, Mam? Pengalamanmu berhubungan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata itu? Enak?” tanya Aris yang seolah mengerti kalau diriku sama sekali tak menikmatinya.

“Enak apa!? Setiap hari aku harus berurusan sama makhluk-makhluk gitu. Ribet deh pokoknya!” jawabku ketus. “Jikalau tidak karena keluargaku mempunyai tanggung jawab untuk menjaga Angus Poloso, pastinya aku dah buang kemampuan ini. Pengen jadi siswa yang normal dan bisa belajar layaknya siswa-siswi lain,”

Aris langsung tertawa mendengarnya. “Keluargamu dengan keluargaku sudah jadi sahabat semenjak nenek moyang kita. Jadi, kalau kau ada masalah, cerita ke sini aja! Aku pasti bantu kok untuk nyelesaiin masalah soal demit-demit itu!”

Sebenarnya aku sedikit takut untuk menceritakan peristiwa beberapa hari lalu, namun aku membuang rasa raguku dan kemudian menceritakan segalanya yang kualami di BPM angker itu dan soal Test of Faith.

“Jadi kau diikutsertakan dalam test itu lagi, ya? Hm ... aku tak tahu banyak hal untuk memberitahumu soal itu, karena itu dilarang, namun ayahku akan jadi salah satu pembimbing di sana nanti!” ujar Aris memberitahuku kalau ayahnya akan ikut jadi juri dalam test itu. “Soal Dark Mistress, ya? Aku mendapat ilham dari sesosok jin muslim yang mengatakan kalau Dark Mistress itu adalah Nyi Imas itu sendiri, atau malah titisan dari keturunan Nyi Imas yang memang cocok jadi wadahnya. Saranku, kau harus selidiki hal ini lebih lanjut, Mam. Aku merasakan sesuatu yang teramat buruk bakal terjadi ketika dia menemuimu!”

Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Aris, aku pun segera pulang. Dan sesampainya di sana, keluargaku belum ada yang pulang, bahkan para pelayan pun tak terlihat sejak tadi.

Kupikir-pikir ada sesuatu yang terjadi kepada mereka, namun rasa resahku terbayarkan ketika mendapati sms dari ibuku yang bertanya apa aku sudah pulang dan kapan akan menyusul mereka ke kediaman Mbah Jayos.

“Astagfirulloh, aku lupa. Pantesan saja rumah ini sepi banget. Sebaiknya aku bergegas ke sana sebelum ibu makin marah padaku,” gumamku teringat akan pesan ibuku sebelum pergi berkemah.

Aku beranjak bangun dari kasur dan bergegas mandi. Setelah selesai, aku pakai pakaian favoritku dan segera mengeluarkan motor matic dari garasi. Dan kutancap gas motor itu dan bergegas pergi menuju rumah Mbah Jayos.

...

Empat puluh menit kemudian, tibalah diriku di tempat mbah buyutku itu. Segera kuparkir motorku di bawah pohon rambutan yang lebat, dan diriku berlari masuk ke rumah Mbah Jayos.

Di sana aku melihat seluruh keluarga besarku sudah berkumpul. Terlihat mbah Jayos sudah terduduk ditemani oleh kursi goyang dan juga tongkat kayu kesayangannya. Dia menatapku dengan senyuman khasnya yang sudah rentan itu. Tak butuh lama dia pun segera memanggilku untuk mendekat.

“Le, mbah ingin bicara denganmu,”

“Nggeh, mbah. Ada apa?” tanyaku sembari memberi sebuah penghormatan kepada mbah buyutku itu. Mbah Jayos pun menyuruh yang lainnya untuk keluar dari kamarnya, karena dia ingin berbicara empat mata denganku.

Setelah semua keluar, dia melambai-lambaikan tangannya seolah ingin mengajakku untuk duduk di sampingnya. Sesaat aku duduk di sampingnya, tiba-tiba Mbah Jayos menghantamkan ujung tongkatnya ke arah perutku sampai aku mengaduh. Tak cukup sampai disitu, dia pun segera menyentuh leherku bagian belakang, dan menekannya kuat-kuat, sampai aku mengerang kesakitan.

Ya, dia mencoba menghapus ilmu kanuraganku. Tak lama setelah ilmuku dicabut oleh mbah buyutku itu, aku langsung terkapar, pingsan.

...

Aku terbangun keesokan harinya, beberapa menit sebelum kumandang adzan Shubuh. Aku merasa begitu lemas dan gemetar kala itu, tak kusangka tanpa alasan apapun, ilmu kanuraganku dicabut oleh mbah buyutku sendiri.

“Ada apa ini? Kenapa mbah buyut mencabut ilmuku?” gumamku yang bertanya-tanya apa yang direncanakan oleh mbah buyutku itu.

Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke kamarku, “Halo, Umam. Kau sudah sadar sekarang?”

Iya, dia adalah anak dari Mbah Jayos, sekaligus adik dari ibu ayahku. Sebut saja dia itu Mbah Gel. Mbah Gel ini usianya jauh dibawah ayahku, namun karena dia adalah anak dari mbah Jayos langsung, dia disebut mbah oleh ayahku.

“Oh, mbah Gel to. Sudah kok!” jawabku singkat. “Lalu apa yang mbah lakukan di sini?”

“Aku hanya menjaga tubuhmu tadi, Mam. Tadi saat kau pingsan, ada segerombolan demit Cakranagala yang menyerang kami di sini. Untunglah, ada ayahmu, Pak Son, aku, dan Mbah Adi yang turun tangan menghadapi demit kelas atas itu!” jawabnya menjelaskan.

Demit Cakranagala adalah demit pengelana yang berbentuk layaknya iblis, dalam istilah islam. Dan dalam buku penjelasan yang dimiliki oleh keluarga Marwan, demit itu jauh lebih kuat ketimbang seratus demit tingkat atas dan biasanya demit itu digunakan sebagai penjaga buat dukun, bukan orang biasa.

Mbah Gel yakin kalau demit itu diutus oleh seorang dukun mahasakti, karena mengendalikan makhluk itu supaya tunduk bukanlah perkara mudah, apalagi sajen yang harus diberikan itu tak main-main. Hanya ada satu dukun mahasakti yang mampu melakukannya.

Ya, dia adalah Ki Sugeng.

“Lalu, apa urusannya denganku? Kenapa tadi Mbah Jayos menyegel kekuatanku, mbah Gel?” tanyaku pada point utama.

“Hm ... kata Mbah Jayos, kau harus mengikuti Test of Faith itu tanpa menggunakan kekuatanmu, Mam. Dengan begitu, kau akan mengerti betapa susahnya mereka yang diganggu oleh para makhluk astral itu.” Jawab Mbah Gel kalem dan tenang. “Mungkin saat inilah yang tepat untuk memberitahumu sesuatu,” tambahnya.

Aku terkejut mendengarnya. “Memberitahuku? Memberitahuku apa?”

“Mbah Jayos mengatakan padaku kalau dirimu saat ini menjadi incaran dari sekte Immas. Untuk menyembunyikan keberadaanmu, dengan berat hati, Mbah Jayos menyegel kemampuanmu untuk sementara, sampai ...”

“Sampai kapan, mbah?”

“Sampai kau tiba di kerajaan Mangkupati seratus lima hari dari sekarang. Kita akan menyerang kerajaan jin itu untuk menyegel ketujuh raja jin yang ada di sana ke dalam Angus Poloso!” jawab Mbah Gel dengan nada serius.

Aku melongo cukup lama mendengar jawaban Mbah Gel kala itu. Kerajaan Mangkupati adalah kerajaan jin yang dihuni oleh jin-jin dari timur. Menurut sejarah yang ada, dulunya kerajaan ini adalah kerajaan manusia yang terletak di antara kerajaan Malang dan Kediri, namun karena suatu alasan, kerajaan ini lenyap di telan bumi.

Kerajaan ini meskipun tak sebesar kerajaan jin Wentira ataupun kerajaan-kerajaan jin yang lain, namun kerajaan jin Mangkupati ini jauh lebih misterius dan kelam ketimbang kerajaan-kerajaan jin lain di Indonesia.

Tak berapa lama kemudian, Ulum, selaku anak pertama dari Mbah Gel datang menemuiku. Katanya kalau diriku dipanggil oleh Mbah Jayos untuk menemuinya di ranjang tidurnya sekarang.

Tanpa menunda-nunda lagi, aku bergegas pergi ke kamar Mbah Jayos yang ada di belakang. Sesampainya di sana kudapati kalau Mbah Jayos sudah terduduk dengan bersandar kepada tongkat Cokropati miliknya.

“Le, gimana? Mbah Gel sudah cerita?” tanya Mbah Jayos lemah.

“Nggeh, mbah! Mbah Gel sudah cerita semuanya tentang maksud penyegelan itu dan kerajaan Mangkupati. Apa hanya itu, mbah?” jawabku sambil bertanya. Mbah Jayos lalu tersenyum ke arahku.

“Iya, tapi ada sebuah pesan penting yang akan kusampaikan padamu mengenai keikutsertaan dirimu dalam test itu, nak!” kata Mbah Jayos lemah.

“Hm ... apa itu, mbah?” tanyaku.

“Kau harus mengajak dan menjadikan Mela sebagai partnermu dalam mengikuti test tersebut!”

“Apa! Mela?” aku terkejut seketika, tak percaya atas apa yang kudengar barusan. “Maksudmu gadis sok centil dan lengket itu, mbah??”

Mbah Jayos pun mengangguk. Aku langsung merinding seketika ketika mengetahui kalau Mela akan menjadi partnerku. Bukan karena Mela itu menyeramkan atau semacamnya, namun karena dia adalah gadis yang suka sekali mengekorku dan kemanapun kami bertemu, dia selalu bertingkah layaknya gadis kecil manja yang selalu menyebutku dengan sebutan ‘Darling, darling’ mulu.

Iya sih, bukan berarti dia tidaklah cantik atau semacamnya, malah dia adalah gadis tercantik yang pernah kutemui, bahkan keluargaku pun sepakat menjodohkan diriku dengan gadis yang merupakan putri sulung dari keluarga Immas itu. Keluarga yang merupakan keturunan dari Nyi Imas.

Walaupun sudah kutolak beberapa kali, karena waktu itu, aku sudah mencintai seseorang, yaitu Astrid. Tapi dia tak pernah berhenti menguntitku, hingga aku pindah sekolah. Sejak saat itulah, aku tak pernah mendengar kabar lagi darinya.

Duh, dasar gadis yang merepotkan!

-BERSAMBUNG-

So, that's it, guys. Horror 19 nanti akan menceritakan mengenai Misi Pertama Umam dan Mela dalam mengikuti ujian Test of Faith yang akan diselenggarakan di pesantren sebelah SMA Indratama. Don't want to put a lot more spoilers, disana Umam akan kewalahan menghadapi tingkah manjanya si Mela. Just wait!~

Dan maaf karena sudah dua minggu gak upload, karena aku harus mengurusi channel bapak yang barusan di monetize oleh YouTube. Semoga horror 19 bisa cepat saya post nih karena aku merasa bakal sibuk terus kedepannya. Thanks, and see you soon!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Walaupun baca siang, ttp merinding🤦‍♀️
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
ceritanya bagus gan, lanjutkan..
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Moga2 nanti sudah selesai, jadi bisa upload hari ini.

Dan buat agan-agan yang belum tahu, genre ini adalah genre horror cersil, yang dibawakan dengan gaya genre fantasy-horror jepang. Jadi, jangan ngejudge kalau cerita ini nggak horror atau gimana.

Thanks!

Horror 19 – Kediaman Keluarga Immas yang Mengerikan Part.01

Setelah pulang dari rumah Mbah Jayos aku seperti orang linglung saja. Karena dalam ujian kali ini, aku harus mengajak gadis yang begitu merepotkan itu, dan bahkan gadis payah yang tak bisa apa-apa, selain bermain dengan makhluk kecil piaraannya itu.

Sesampainya di rumah, untuk meredakan penatku, aku bermain sebentar dengan Leina dan Tiara, ya bermain PS2 yang dua tahun lalu aku belikan untuk mereka sebagai hari ulang tahun keenam mereka, walaupun harus menguras sedikit uang simpananku. Duuh!

Saat itu, belum ada game PS2 yang benar-benar dikhususkan untuk para gadis, jadi kami bermain Dynasty Warrior dan juga Harvestmoon bersama-sama. Di saat itulah, aku baru menyadari betapa menyenangkannya bermain bersama. Rasa gundah, takut, dan bimbang pun langsung sirna melihat tingkah konyol dan kepolosan mereka berdua.

Setelah bermain permainan yang seru, datanglah Danang yang menyuruhku untuk mengikutinya. Dengan segera kuletakkan stick PS2 nya di lantai, yang langsung disambar oleh Leina, dan aku bergegas mengikuti Danang.

“Ada apa, Nang?” tanyaku penasaran.

“Ayah memanggilmu, kak. Katanya dia ada perlu denganmu mengenai keluarga Immas,” jawabnya yang terdengar kaku, tegang, dsb.

Kami berdua tiba di aula utama, dan segera bersimpuh, memberi penghormatan kepada Pak Zaenal Abidin, selaku ayahku sendiri itu. Di sana sudah berkumpul ayah, ibu, kak Vita, Pak Son, Pak Khoirul, Mbah Gel, Pak Khubinada, Pak Helim, Eyang Mudah, Mas Nanang, Mas Toni, dan Mbah Adi.

Mereka memanggilku demi satu tujuan.

Keluarga Immas.

Mereka semua sudah tahu kalau diriku ditugaskan oleh Mbah Jayos untuk berpartner dengan Mela yang berasal dari keluarga Immas yang aneh, misterius, dan juga mengerikan itu.

“Kalau itu semua sudah merupakan keputusan dari Mbah Jayos, aku akan menerimanya,” kataku waktu itu sudah pasrah dengan semua yang akan terjadi kedepannya. “Lagian, kami berdua juga sudah dijodohkan, ‘kan?”

Ibuku dan kak Vita menatapku dengan sendu. Seolah mereka tidak mau diriku harus berpasangan dengan putri keluarga Immas itu.

“Umam, apa kau tahu konsenkuensinya atas kata-katamu barusan!?” ayahku geram dan langsung menamparku. “Kau akan membahayakan dirimu sendiri dengan menginjak ke tanah di keluarga itu. Paham!?”

Eyang Mudah, selaku eyangku sendiri menatapku, “Le, memang benar kami telah menjodokan kalian berdua. Kami yang selaku eyang-kakungmu merasa bersalah karena itu. Namun keadaan sekarang sudah berbeda. Keluarga Immas sudah berniat mengajak kita untuk perang penghabisan, nak!”

“Tapi setidaknya, di sana ada Mela dan Vira, kan? Mereka berdua adalah gadis-gadis baik yang tak menginginkan perang di antara kita,” jawabku membela diri.

“Vira?” mereka saling menoleh, menatap satu sama lain dengan penuh heran. “Bukankah dia sudah meninggal tiga tahun lalu, tiga bulan sebelum Astrid meninggal. Apa kau tak mengingatnya?”

Deg!

Perasaanku campur aduk kala itu. Masa sih aku bisa melupakan peristiwa itu. Sebuah peristiwa ironi yang telah memancing kemarahan dan kesedihan Mela. Sebuah peristiwa yang membuat Mela keluar dari sekolah, yang mana setelah peristiwa itu, aku sama sekali tak mendengar kabar apapun darinya.

Apakah ada yang telah menghapus ingatanku??

Ya sepertinya memang begitu. Pasalnya aku juga merasa kalau diriku tidak mengingat apapun mengenai kematian Astrid dan bagaimana kondisinya saat ia meninggal. Yang kuingat hanyalah ada Jin Watsin dan Jin Ifrit di sana, namun aku tak tahu apakah memang benar kedua jin itu yang telah membunuhnya.

“Pokoknya, sebaiknya kau urungkan permintaan dari Mbah Jayos itu, Mam. Karena kita tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh keluarga Immas dalam ujian itu,” ujar Pak Son menasehatiku. Meski dia hanyalah teman ayah, namun keluarga kami sudah menganggapnya sebagai bagian dari inti keluarga Marwan. “Apalagi seperti yang sudah kudengar dari Mbah Gel kalau ilmu kanuraganmu telah disegel oleh Mbah Jayos,”

“Kami sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Pak Son,” sahut Pak Ubin dan Pak Helim antusias.

“Iya, nak! Kami takut terjadi apa-apa padamu saat kau menginjakkan kakimu di sana.” Pak Khoirul yang sedari tadi diam pun akhirnya menambahkan.

Aku terdiam, tertunduk, menatap kedua kakiku sembari berpikir matang-matang apa yang akan kulakukan. Menyanggupi permintaan Mbah Jayos untuk mengajak Mela atau menolaknya dan aku akan dicarikan pasangan baru untuk mengikuti test itu.

Danang yang ada di sampingku langsung mencubit lenganku dan menyuruhku untuk segera memutuskan.

“Aku sudah memutuskan! Aku akan tetap mengajak Mela dalam ujian kali ini, tidak atau dengan restu kalian semua,” jawabku yang sudah mantap memutuskan. “Aku mengerti kekhawatiran kalian semua, namun aku sudah menyanggupi permintaan Mbah Jayos itu, dan aku bukanlah orang yang akan menarik omonganku sendiri!”

Tentu saja semua orang di sana yang mendengar jawabanku langsung terkejut bukan main, bahkan ayahku yang punya tempramental tinggi pun ikut terkejut sampai hampir membuat jantungnya copot.

“Itu baru cucuku,” kata Mbah Adi dan Eyang Mudah bersamaan yang dibarengi oleh senyuman lega.

“Ya, kalau itu berjalan lancar,” sambung Pak Toni yang sepertinya ragu mendengar ucapanku barusan, ya walaupun aku tak peduli sih.

“Hah, aku lupa kalau kau mewarisi sifat keras kepalaku dan juga kakungmu, Satori.” Ayahku yang masih memegangi dadanya itu menggeleng-geleng. “Pokoknya jangan sampai kau memicu peperangan di antara kedua keluarga di sana! Kalau bisa, kau harus segera menikahinya supaya tercipta kedamaian di antara kedua keluarga, Mam!”

“Le, berhubung ada sesuatu yang ingin dibicarakan, sebaiknya kau, Danang, dan Vita segera keluar dulu.” Suruh Eyang Mudah kalem. Dia adalah nenek sekaligus istri dari alm. Satori, kakekku. “Kami tidak ingin ada anak-anak kecil macam kalian ikut mendengar pembicaraan kami ini,”

Tak mau begitu memikirkan apa yang hendak mereka perbincangkan, aku, Danang, dan juga kak Vita segera keluar dari aula utama.

Aku segera bergegas menuju kamarku untuk merapihkan kamarku dari debu dan semacamnya. Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarku. Di sana aku mendapati kalau kak Vita dan juga Danang sedang mematung, dan berkeinginan untuk masuk ke dalam kamarku.

Mereka ingin berbicara enam mata denganku.

Tak mau berlama-lama, kupersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam kamarku yang sudah bersih karena barusan kubersihkan.

“Umam, ada yang ingin kami berdua bicarakan denganmu,” kata kak Vita yang begitu datar namun serius itu. “Ini semua menyangkut dengan keinginanmu yang keras kepala itu untuk mengajak Mela jadi pasanganmu dalam ujian nanti,” tambahnya.

Aku hanya menghela napas panjang, “Ini lagi kak? Bukankah sudah kukatakan tadi di ruang aula?”

“Iya benar, namun apa kau mengerti kalau─” kak Vita langsung menghentikan ucapan Danang tadi. Sepertinya ia ingin terlebih dulu yang berbicara denganku.

“Kalau apa?’ tanyaku penuh curiga.

“Kalau ada pergerakan mencurigakan dari keluarga itu belakangan ini. Sepertinya keluarga itu sudah mulai bergerak untuk mengumpulkan kembali kitab Septo Tapo itu dari berbagai tempat,” jawab kak Vita serius. Matanya tak berkedip sedetikpun, menunjukkan betapa seriusnya ucapannya. Dan inilah gaya darinya. “Nana sudah membaca setiap pergerakan keluarga itu dari kartu tarotnya. Pokoknya kau harus berhati-hati dengan mereka, terlebih kepada Mela!”

“Lho, itukan cuman orang-orang dari keluarganya, bukan Mela. Mengapa aku harus waspada padanya?”

“Karena dia adalah yang memimpin keluarga itu sekarang. Semenjak dia kehilangan adiknya, semuanya tidak berjalan baik baginya maupun keluarga kita. Mereka dengan tanpa pemberitahuan apapun memutus hubungan yang sudah terjalin lama, dan mereka ... menghilang!”

“Apa? Menghilang katamu!?”

Mereka berdua mengangguk. Aku terpikir-pikir apakah mereka hanya ingin mengatakan hal itu supaya diriku mengurungkan niatku untuk menemuinya esok hari? Tapi mana mungkin mereka melakukannya, karena mereka adalah saudara-saudari kandungku.

Aku kemudian menepuk pundak mereka. “Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Doakan saja diriku dilindungi oleh Allah SWT dan semua kecurigaan dan keresahan kalian mengenai keluarga itu tak terbukti!”

Mereka berdua saling tatap-menatap satu sama lain. Aku heran melihat kelakuan keduanya, namun keherananku terjawab begitu melihat kedua saudaraku itu menyerahkan sepasang gelang yang mirip dengan gelang yang biasa digunakan untuk memperhias handphone.

Mereka menyuruhku untuk menerima dan memakainya. Aku menerimanya dengan senang hati tentunya. Mereka mewanti-wanti untuk tidak melepaskan kedua gelang itu selama berada di kediaman keluarga Immas.

“Pokoknya jangan sampai kau melepasnya ya, kak,” pinta Danang dengan penuh permohonan kali ini aku mau menuruti keinginannya. “Sekarang ilmu kanuragan kakak sudah disegel oleh Mbah Jayos, jadi kami hanya bisa memberikan ini sebagai perantara Allah SWT untuk melindungi kakak.”

Aku tersenyum mendengarnya. “Makasih ya, dek!”

Aku menoleh ke arah kak Vita yang masih terngiang-ngiang akan sesuatu yang masih meresahkan pikirannya. Kutanya apa itu, namun dia cuman menggeleng, seolah tak terjadi apa-apa. Tapi melihat tingkahnya, sudah membuatku yakin ada yang disembunyikan olehnya.

Kucoba tanya lagi dia. “Ada apa, kak?”

“Pokoknya kau harus hati-hati sama Mela. Dia bukan seorang gadis yang kau kenal dulu. Dan ... coba cari tahu keberadaan Pak Rudi!” jawabnya yang sepertinya tak ingin bicara banyak.

“Ayahnya Mela? Kenapa?”

“Sudah gak usah banyak tanya. Hanya itu permintaan kakak,” jawabnya sinis. Kak Vita pun tanpa tegur sapa lagi langsung meninggalkan kamarku diikuti oleh Danang.

Aku hanya terbengong melihat tingkah kakakku yang biasanya penuh canda tawa, berubah menjadi seperti itu. Kutepuk kedua pipiku guna menyadarkanku dari lamunan itu.

...

To make the whole story short, let’s begin with our main story.

Keesokan paginya, setelah ikut sholat Subuh berjamaah di Mushola Pak Makros, aku segera bersiap-siap, menyiapkan bekalku untuk menemui Mela di rumahnya di perbatasan kota Malang-Blitar. Dan setelah semua siap, aku bergegas memasukkannya ke dalam tas sekolahku. Tak lupa aku juga membawa oleh-oleh berupa jajan pasar dan sebuah semangka merah favoritnya.

Aku keluar dengan tergesa-gesa karena tak mau membuat Aris menunggu lama. Oh ya, kali ini aku mengajaknya untuk ikut menemaniku pergi ke kediaman Mela, ya walaupun dia hanya mau mengantarku saja sih.

Ketika keluar dari kamar, tiba-tiba tak disengaja aku menabrak Tiara sampai terjatuh dan menangis. Leina yang melihatku langsung memanggil ibuku, ibuku datang dan langsung menjewer kupingku sampai terasa panas dan sakit.

“Kalau jalan itu hati-hati dong! Lihat itu adikmu jadi menangis, ‘kan?” kata ibu memarahiku. Tangannya sudah dilipat layaknya seorang wayang deh. “Lagian kamu nggak perlu terburu-buru seperti itu. Memangnya kenapa sih kamu terburu-buru gitu?”

“Nggak kenapa-napa, bu! Cuman aku sudah ditunggu oleh Aris sedari tadi. Jadi, aku tak ingin membuatnya menunggu lebih lama lagi, dan semuanya terjadi begitu cepat ...” jawabku membela diri atas framing ibuku. Kutolehkan kepalaku ke arah Tiara, “Maafkan kakak ya, Tiara. Sungguh kakak tidak sengaja tadi!”

Tiara pun langsung mengusap sisa-sisa air matanya yang masih membasahi wajah imut dan polosnya. “Iya, nggak apa-apa kok! Sebagai permintaan maaf, kakak harus membawakan oleh-oleh makanan yang enak begitu kakak pulang. Harus ya, kak!”

Duh kedua adik perempuanku ini. Selalu saja berulah untuk mendapatkan perhatianku. Dan pasti ujung-ujungnya harus membelikan sesuatu untuk mendapatkan maaf dari mereka.

“Eh, iya. Kakak pasti akan membawakan oleh-oleh jajan kok, tenang saja!” jawabku yang tak kuasa menolak karena ada ibu di samping mereka, menatapku dengan amarah dan ancaman apabila tidak kuturuti kemauan dari kedua adik perempuanku itu. Duh!

Setelah percakapan yang sedikit menegangkan itu, aku bergegas menuju gerbang depan rumah, di sana sudah menunggu Aris dengan motor satriya-nya yang sudah siap mengantarku ke kediaman keluarga Immas.

“Lama banget kamu keluarnya, Mam! Aku hampir pulang tau!” kalimat pertama yang keluar dari mulut Aris hanya keluhan dan keluhan. “Kalau kau tak jadi ke sana, ngomong dong, jangan buat aku nunggu lama gini!”

Aku langsung buru-buru menghentikan langkahnya yang sudah siap memutar motor satriya-nya. “Eh ... iya, jadi-jadi!”

“Oke, ayo!” ajaknya.

Kami pun akhirnya berangkat menuju kediaman Immas. Dalam perjalanan, Aris tak henti-hentinya mengajakku untuk ngobrol, namun hanya sedikit yang membuatku tertarik untuk mengeluarkan suara. Di antaranya ialah mengapa di pinggir jalan kami seperti di sambut oleh ratusan, bahkan ribuan gadis-gadis cantik yang menyanyikan lagu jawa.

Aku dengan sigap memberitahunya untuk tidak mempedulikan semua itu, karena seperti yang Aris tahu juga mereka adalah orang-orang bangsa jin yang sedari dulu mengabdi pada keluarga Immas. Selain itu, itu adalah sebuah bukti kalau si tamu telah disambut oleh si tuan rumah, yang berarti si tuan rumah sudah tahu kalau kami berdua ingin bertemu dengannya.

“Gile! Mereka semua apaan, cok!” kata Aris mengumpat menyaksikan apa yang ada di pinggir jalan terasa tak begitu bersahabat.

“Lo itu anak seorang kyai! Jangan kebanyakan cok, cok gitu! Nggak malu apa? Bukankah kau sudah tahu kalau mereka adalah makhluk bangsa jin. Mereka datang untuk menyambut kita,” jawabku yang sedikit eneg mendengar umpatan Aris tadi. Anak kyai kok gitu. “Udah ayo kita percepat laju motornya. Kita sudah ditunggu oleh si tuan rumah!”

“Enak aja! Yang kyai itu ayahku, bukan aku. Jadi fine-fine aja kalau aku begini. Lagian ilmuku itu jauh di atasmu tau!”

Kemudian, dengan perasaan emosi karena habis kuledek, dia pun mempercepat laju motornya, kenceng banget sampai membuatku sedikit takut.

Dua jam kemudian, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kediaman keluarga Immas. Kediaman yang berisi orang-orang yang menjadi musuh keluarga Marwan selama dua abad lebih. Sebuah keluarga yang mengabdi dan menyembah Nyi Imas, pendahulu mereka, tanpa mau diajak untuk menyembah Tuhan, Allah SWT.

-BERSAMBUNG-

Maaf ya gan, sampai di sini dulu. Sebenarnya horror 19 ini mau aku satukan jadi satu part penuh, namun kiranya gak muat, jadi aku bagi jadi beberapa bagian. Tapi jangan khawatir, hari ini aku upload dua chapter sekaligus.

Thanks!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 19 – Kediaman Keluarga Immas yang Mengerikan Part.02

Aku turun dari motor Aris, mengamati sekitar rumah itu. Tak ada siapapun dan apapun yang berlalu-lalang di sana seperti saat kukunjungi dulu. Semua terasa sunyi dan sepi. Yang ada suasana di sekeliling rumah itu terasa gelap, bahkan tak kulihat cahaya sinar matahari menembus rerimbutan pohon yang mengelilingi luar rumah itu.

Rumah kediaman keluarga Immas benar-benar terisolasi dengan rumah-rumah tetangga yang lainnya. Paling dekat berjarak tiga ratus meter, dan itupun harus menyebrangi sungai.

Sungguh! Kalau orang-orang lain melihat pemandangan ini, pasti kalian akan lari ketakutan.

Ku segera menekan bel yang ada di samping gerbang depan rumah, namun tak ada siapapun yang menjawab ataupun datang mendapati suara bel yang telah kubunyikan. Kutekan untuk kedua hingga kelima kali, namun tiada seorangpun yang muncul.

Sampai bel kutekan sebanyak tujuh kali, yang seperti angka yang disukai Mela, baru ada seseorang pelayan wanita ala eropa abad pertengahan datang dan membukakan pintu buatku.

“Selamat datang, tuan muda. Nona Mela telah menunggu kedatangan tuan dari tadi. Kalau berkenan silahkan tuan ikut masuk ke dalam bersama hamba,” kata pelayan wanita itu ramah. Bahkan dia sampai meletakkan tangan kanan di dada kiri sembari membungkukan badan memberi hormat.

Keluarga Immas memang mengajarkan pelayan-pelayan mereka untuk bertata krama seperti itu.

Tak mau menunggu si pelayan yang sudah berjalan sepuluh langkah, aku bergegas mengikutinya dari belakang. Merasakan perasaan yang tak enak atau takut terjadi apa-apa padaku, Aris membatalkan niatnya untuk pulang dan bergegas menyusulku.

Ketika kami berdua masuk ke rumah itu, tak terasa hawa-hawa gaib yang pekat sama seperti saat di luar. Kami berdua pun dipersilahkan duduk di atas sofa di ruang tamu, sementara pelayan wanita yang tak kuketahui namanya itu segera masuk ke salah satu kamar belakang paling jauh guna memanggil Mela.

Sementara pelayan itu tak ada, kami berdua pun mengobrol.

“Mam, sebenarnya aku tadi tak ingin mengikutimu untuk masuk ke dalam rumah ini. Namun ketika aku merasakan aura negatif yang besar dan samar-samar, aku putuskan untuk mengikutimu. Aku khawatir dengan keputusanmu untuk masuk ke dalam rumah ini,” kata Aris yang sepertinya sudah terlihat gemetar itu.

“Iya, aku tahu. Aku juga merasakan sebuah perasaan yang sama. Aura di sini sangat pekat dan jauh berbeda dari saat aku berkunjung ke mari tiga tahun lalu,” jawabku yang juga merasakan apa yang dirasakan Aris. Jujur waktu itu aku sudah merinding ketakutan, apalagi saat ini ilmu kanuraganku disegel oleh mbah buyutku.

“Pokoknya kalau sudah selesai dengan urusanmu di sini, kita harus cepat keluar dari sini. Paham?”

“Iya deh, aku setuju.”

Tak berapa lama kemudian, Mela keluar dengan masih mengenakan pajamasnya, yang terlihat masih terbuka di bagian lengan atasnya, sedikit menunjukkan belahan dadanya yang sudah tumbuh indah itu.

Kami berdua segera berpaling melihatnya. “Astagfirullah ...!”

Tanpa mengindahkan ucapan istigfar kami, dia pun bergegas berlari dan melompat ke arahku, sampai sofa yang kududuki pun jatuh. Bahkan belahan dadanya itu menyentuh sebagian tubuhku.

Duh, untung saja aku sudah siap mental lahir-batin, kalau tidak, pasti aku bakal tergoda.

“Darling, akhirnya kita berdua bertemu lagi!” kata Mela yang sepertinya sudah teramat rindu padaku itu. “Aku senang bisa melihatmu lagi, darling, darling!” tambahnya.

Setelah dia melepas pelukannya dariku, aku pun berdiri dan membenarkan sofa tempat dudukku. Mela yang tak mau terpisah dariku, mengajakku untuk duduk di sofa yang lebih panjang di dekat sofa yang Aris duduki, dengan tanpa melepaskan pelukannya ke lengan kananku.

“Ehm, sepertinya aku diacuhkan ya di sini.” Kata Aris berdehem melihat tingkah konyol Mela padaku. Duh, dasar gadis aneh ini memang tak pernah berubah.

Tak mempedulikan ucapan Aris barusan, Mela masih melengket padaku. “Darling, kau membawakanku oleh-oleh, ‘kan?”

“Eh, iya. Ini ada jajan titipan dari ibuku. Dan ini ada juga jajan favoritmu dariku. Semangka merah. Diterima yah!” kataku sembari menyerahkan tas kresek dan wadah plastik itu ke Mela. Dengan senang hati dia pun mau menerimanya.

Ketika aku hendak mengatakan maksud kedatangan kami, seperti dia sudah tahu akan maksudku, dia bilang. “Ya aku tahu. Soal Test of Faith itu, kan? Kalau kau yang mengajakku, pastinya aku akan menyetujuinya.”

Ketika kami berdua lagi asyik ngobrol dan Aris lagi sibuk dengan smartphone-nya, datanglah kedua pelayan Mela yang langsung meletakkan suguhan jajan yang terlihat mewah dan lezat dan minuman teh yang terlihat kental itu.

“Oh ya, Mela. Di mana ayahmu? Kok kelihatannya kau tinggal di rumah ini seorang diri cuman ditemani oleh pelayan-pelayanmu itu?” tanyaku mencoba memecahkan kecurigaanku atas rumah ini. Terlebih lagi aku ingin mencari tahu apa yang dikatakan kak Vita kemaren soal menyuruhku untuk mencari keberadaan Pak Rudi, ayahnya Mela.

Mela sepertinya mencoba menghindar dari pertanyaanku itu. Dia bahkan melepaskan pelukan eratnya dari lenganku dan berpindah ke sofa yang lain. Aku yang tak curiga apapun, langsung kuraih gelas berisikan teh hangat yang terlihat kental itu diikuti oleh Aris yang sudah sedikit meminum teh itu.

Tak kutemukan kecurigaan apapun mengenai teh itu, dan kami berdua pun meminum sedikit teh manis yang enak itu.

Sampai ...

“Tolong, tolong ...!” terdengar suara jeritan minta tolong dari seseorang. Namun aku kenal suara siapa ini. Ya, itu adalah suara Pak Rudi, ayahnya Mela. “Tolong selamatkan aku, aku tak mau mati dengan cara seperti ini!”

Kami berdua saling tatap-menatap, mencoba memastikan apakah kami benar-benar mendengar suara minta tolong itu. Namun tidak ada di antara kami yang tahu darimana datangnya arah suara jeritan itu.

“Mela, aku mohon, keluarkan ayahmu, keluarkan aku dari sini. Aku akan memperlakukanmu layaknya putriku, dan semua keinginanmu pasti akan aku penuhi!” suara Pak Rudi memohon.

Suara itu terdengar lagi, namun lagi-lagi kami tak tahu darimana suara itu berasal, bahkan saat Aris mengeluarkan ilmu kanuragan dan mata batinnya untuk melacak keberadaan Pak Rudi. Di samping itu, kutolehkan kepalaku ke arah Mela, dan kucoba paksa dia mengatakan di mana ayahnya.

Namun sebelum itu, ada sebuah perasaan di mana suara itu berasal dari sebuah kalung giok merah yang dikenakan Mela. Saat suara itu terdengar, terlihat giok merah itu sedikit memancarkan cahaya kemerahan yang indah, walaupun dalam skala kecil.

“Mela, boleh kutanya sesuatu padamu?” tanyaku yang memberanikan diriku untuk bertanya sesuatu padanya. “Dimana Pak Rudi, ayahmu itu berada?”

Mela langsung menghela napas panjang dan semua tingkahnya berubah seketika. Aura kegelapan pekat yang samar-samar itu tiba-tiba bisa kami rasakan dengan begitu kuat keluar dari tubuh Mela. Membuat tubuh kami sesak dan panas.

Tak berhenti sampai di situ, teh pekat yang manis tadi langsung berubah menjadi darah kental yang baunya anyir dan mengerikan. Padahal sedari tadi kami menggunakan mata batin kami, namun minuman darah itu benar-benar tak bisa dilihat oleh kami berdua.

“Ah, sepertinya orang tua itu sama sekali tak mengenal akan kondisi ya? Padahal aku lagi asyik bermesraan dengan calon tunanganku,” kata Mela menyeringai, memberikan senyuman jahat pada kami berdua.

“Kau bukan Mela! Siapa kau!?” bentakku sambil menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku.

Tiba-tiba Aris memuntahkan banyak darah, baik dari mulut, hidung, telinga, maupun kedua matanya. Aku langsung panik saat itu, tak tahu apa yang harus kulakukan untuk bisa keluar dari sini, karena kuyakin kalau Mela tak mungkin membiarkan kami keluar dari rumahnya.

Mela menjentikkan jarinya, dan waktu Aris pun terasa terhenti.

“Aku Mela, namun aku bukan Mela seperti yang dulu, Mam. Dan kalau kau ingin tahu di mana ayahku, akan kutunjukkan sesuatu padamu.” Jawabnya yang terdengar datar dan tak terasa hidup itu. “Risa, kemarilah ...!”

Kemudian datanglah pelayan wanita yang tadi membukakan pintu gerbang buat kami. Diapun memberikan penghormatan buatku dan juga Mela.

“Risa, tunjukkan dirimu yang sebenarnya pada anak yang tak tahu kalau dia telah terjun ke dalam lubang neraka hitam!” suruh Mela. Dengan sigap Risa melepaskan kaca matanya, melepas jepit rambutnya, dan terlihatlah seperti seorang gadis yang sangat cantik.

Namun, setelah kulihat wajahnya dan raut matanya yang begitu menderita dan kosong, aku menyadari kalau dia bukanlah Risa, namun Pak Rudi. Apa yang sebenarnya Mela lakukan kepada Pak Rudi??

“Pak Rudi? Apa yang sudah kau lakukan padanya, Mela?!” tanyaku membentak. Mela waktu itu terus tersenyum saja mendapati sikap keterkejutanku atas semua yang terjadi.

“Aku membunuhnya, itu saja!” jawabnya terlihat antusias sekali. “Raganya aku rubah menjadi seorang wanita, untuk melayaniku setiap saat, sedangkan rohnya, seperti yang sudah kau sadari, aku memasukkannya ke dalam kalung liontin merah ini!”

“Kenapa, Mela? Kenapa kau lakukan semua ini?? Kau adalah satu di antara tiga orang dari keluarga Immas yang tak menginginkan peperangan dan berkeinginan untuk hidup damai layaknya manusia pada umumnya,”

“Ah, maksudmu kakek dan juga Vira, ya? Apa kau tahu kalau mereka mati terbunuh, Mam?” tanyanya balik, “Mereka berdua dibunuh oleh Pak Rudi, selaku ayahku sendiri, dan itu semua atas perintah beberapa petinggi di keluarga Marwan,”

Aku menatap Mela dengan tatapan geram dan amarah yang sudah tak terbendung lagi. Ku keluarkan sebilah pisau yang sudah didoai dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an oleh Pak Makros dari pinggang Aris, dan langsung kugunakan untuk menyerang Mela.

Tanpa bergeming sedikitpun, Mela dengan senang hati menerima tusukan pisau itu. Meski tusukan itu mengenai perutnya, namun tiada setetes darahpun yang keluar, malah diriku sendiri yang terkapar, bersimbah penuh darah yang keluar dari perutku.

“Risa, antarkan mereka berdua untuk pulang ke kediaman keluarga Marwan sekarang, dan kembalilah sebelum ada siapapun yang melihatmu!” suruh Mela yang membalikkan badan, membelakangiku.

Kulihat saat itu, dia meneteskan air mata, entah air mata penyesalan atau air mata kebahagiaan. Setelah itu, aku jatuh pingsan.


-BERSAMBUNG-

Akhirnya horror 19 selesai juga guys. Maaf karena ceritanya agak melenceng atau gimana gitu. Tapi memang seperti itulah keadaan Mela saat ini. Dia mampu merubah seseorang menjadi apa yang ia kehendaki, ya walaupun dia tak melakukan apapun kepada Umam, yang menjadi tunangannya itu.

Mulai dari situ, pikiran Umam jadi kacau. Dia pun kembali memikirkan apakah dia akan membawa Mela sebagai pasangannya di dalam Test of Faith itu atau tidak, mengetahui kalau Mela benar-benar sudah bukan Mela yang ia kenal dulu, dan dia begitu berbahaya.

Mari kita nantikan di horror 20 nanti.

Thanks, and see you guys! emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umanghorror
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
update mantap
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh madwes1
Benar2 penuh misteri emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Kirain dah update d tunggu2 dr kemaren
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Horror 20 – Test of Faith.

Tanpa bergeming sedikitpun, Mela dengan senang hati menerima tusukan pisau itu. Meski tusukan itu mengenai perutnya, namun tiada setetes darahpun yang keluar, malah diriku sendiri yang terkapar, bersimbah penuh darah yang keluar dari perutku.

“Risa, antarkan mereka berdua untuk pulang ke kediaman keluarga Marwan sekarang, dan kembalilah sebelum ada siapapun yang melihatmu!” suruh Mela kemudian membalikkan badan, membelakangiku.

Kulihat saat itu, dia meneteskan air mata, entah air mata penyesalan atau air mata kebahagiaan. Setelah itu, aku jatuh pingsan.

“Baik, nona!”

Risa pun bersiul, dan muncul sebuah lubang dimensi di depannya. Banyak yang menyebut ini adalah ajian gaib Lara Welut. Kemudian dia masuk ke dalam ruang itu dengan membawa kami berdua yang masih pingsan itu memasukinya.

Ruang dimensi ini berbeda dari ruang yang ada di alam gaib atau semacamnya, ruang dimensi dari Lara Welut ini kita berjalan di luar angkasa yang tak berujung. Namun dalam hal ini, kita hanya bisa berjalan lurus, dan tak bisa bergerak ke kiri dan ke kanan, karena ada sebuah jurang curam yang berwarna hitam pekat siap menyantap apapun yang memasukinya.

“Kau beruntung, Umam. Kau datang di saat Nyi Imas sedang tidak mengambil alih tubuh nona Mela. Kalau tidak, mungkin kau sudah mati saat itu,” gumam Risa datar, tanpa emosi sedikitpun (Kuudere dalam anime jepang). “Tapi, jangan harap nona Mela akan murah hati seperti tadi, karena seratus hari dari sekarang, tepat bulan purnama merah, Nyi Imas akan mengambil alih total atas jiwa dan tubuh nona Mela,”

“Apa maksudmu itu?” tanya Aris yang tanpa disadari sudah bisa berdiri dan luka-lukanya sembuh. “Apa yang terjadi dengan putri keluarga Immas itu?”

“Kau? Oh, ternyata keturunan Mbok Inah hebat juga ya? Padahal racun yang kami masukkan ke teh darah itu sangatlah kuat dan bahkan ahli kanuragan maupun indigo sekalipun takkan mampu mengetahui akan racun itu!”

“Hm ... kau terkejut? Sepertinya sikapmu biasa-biasa tuh!” kata Aris yang mencoba pengobrolan sedap dengan Risa. “Iya memang benar, aku pun takkan mampu mengetahui kalau di dalam teh manis itu ada racun darah, bahkan aku sempat terluka parah karenanya, namun tidak mustahil buatku meregenerasi bagian-bagian tubuhku yang sudah hancur,”

“Apa maumu?” tanya Risa sinis.

“Aku tak mau apa-apa darimu. Aku hanya menginginkan ceritamu itu, dan apa hubungannya hal itu dengan teman baikku,” jawab Aris yang mencoba merayu Risa untuk menceritakan sebuah petaka yang pernah dan akan terjadi dalam keluarga Immas. “Kau pastinya tahu sesuatu mengenai putri itu, ‘kan? Atau mau kuucapkan sebuah kata yang bakal membuatmu tertarik, hm?”

Risa masih menatap sinis ke Aris kala itu. “Nona Mela bagaikan sesosok peri emas kecil yang masih tumbuh berkembang menjadi sesosok nona yang cantik dan anggun,”

“Apa maksudmu?”

“Dia bisa mengabulkan setiap permohonan yang selalu tersirat dalam hati manusia. Dia tak tahu dengan kemampuannya itu, namun karenanya dia dikutuk,” jawab Risa menjelaskan. “Terlebih lagi di hari kematian adiknya, nona Vira. Hari itu ada jutaan kekuatan jahat yang menanggapi panggilan kesedihan dari Nona Mela.”

“Terlebih Nyi Imas, ‘kan?” sahut Aris mengerti. Risa pun hanya mengangguk, menyetujui apa yang barusan dikatakan oleh Aris.

...

Aris keluar dari lubang dimensi itu dengan menggendongku yang masih tak sadarkan diri. Ternyata lubang dimensi itu tepat mengarah ke depan pintu kediaman Marwan.

Ternyata di sana sudah menunggu kak Vita dan Danang. Sepertinya mereka tahu kalau semuanya tak berjalan sebagaimana yang aku kehendaki. Dengan cepat, kak Vita menyuruh Aris untuk membawaku ke kamarnya, sementara Danang memanggil Pak Sutrisno, dokter pribadi keluarga Marwan.

“Bagaimana keadaannya, dok?” tanya ibuku cemas.

“Ibu tak perlu khawatir, dek Umam sudah saya obati, dan luka-luka dalamnya sudah saya jahit,” jawab dokter Sutrisno mencoba menenangkan ibuku. “Kalau boleh tahu, ada apa ini sebenarnya? Mengapa dek Umam bisa terluka seperti ini?” tanya balik dokter Sutrisno.

“Ah, ini cuman family matter saja, dok!” kata ibuku yang mencoba menutupi rahasia tentangku kepada dokter Sutrisno. “Lagian dokter pasti takkan percaya dengan hal-hal gaib bukan?”

“Maaf, nyonya Erna. Saya tak bermaksud lancang atau semacamnya, namun aku juga percaya akan hal-hal gituan, bu. Sudah banyak kejadian gaib-gaib yang tak bisa dinalar terjadi terhadap pasien-pasien saya, apalagi saya sudah jadi dokter pribadi untuk keluarga Marwan ini selama lima belas tahun,” jawab dokter Sutrisno mencoba mencari jalan tengah atas tuduhan ibuku. “Kalian semua tahukan kalau almh. Mbok Ruqayah, istri dari Mbah Jayos pernah menyembuhkan istri dan anak laki-lakiku yang di santet mantan rekan kerjaku. Mulai dari situlah aku mempercayai akan hal-hal gaib dan berhutang budi pada keluarga kalian,”

Malam harinya, banyak sanak saudara dan tetangga juga teman-temanku yang menjengukku di rumah. Mereka mendapat kabar burukku dari adikku lewat whatsapp, dan berita itu langsung diterima oleh Niken, yang merupakan teman dari Danang, dan dari situ, menyebar ke seluruh sekolah.

Mereka semua datang membawa oleh-oleh jajan yang teramat banyak, bahkan takkan habis untuk seminggu kedepan. Dan pastinya orang yang merebut jajan-jajan itu adalah kedua adik perempuanku, Leina dan Tiara. Soalnya mereka terlalu Greedy sama yang namanya oleh-oleh.

“Ini punyaku!” kata Tiara.

“Tidak! Ini punyaku!” sahut Leina.

Mereka berdua saling berebutan jajan yang diberikan Niken. Keluarga Niken, yaitu keluarga Prida adalah salah satu keluarga darah biru yang disegani di Jawa, jadi tidak heran jikalau dia membawa jajan yang begitu mewah, sampai membuat kedua adik perempuan serakahku itu rebutan.

Keduanya masih saja berantem sampai datang Danang yang langsung menjitak kepala mereka berdua.

“Berisik! Di ruang tamu ada banyak orang dan kak Umam sedang beristirahat. Jadi mengertilah sedikit!” kata Danang memberi nasehat kepada keduanya.

“Dasar, ah! Kak Danang jahat!” mereka berdua ngambek. “Kak Danang pemarah, tak seperti kak Umam yang baik hati,” tambahnya.

“Maaf saja ya kalau kakak tak sebaik kak Umam. Namun, lihat hasil didikannya pada kalian berdua? Dia begitu memanjakan kalian, sampai di usia kalian yang hampir menginjak sembilan tahun, kalian masih tak tahu akan tata krama!” Danang balas meledek. Kali ini dia dengan telak mengalahkan kedua gadis kecil itu dengan sepotong kalimat menohok.

Malam itu rumah kami terasa begitu hidup dengan suara obrolan-obrolan dari orang-orang yang menjengukku hari ini. Aku benar-benar bersyukur jikalau ada orang yang memperhatikanku setelah sebelumnya, aku sama sekali hampa.

...

Dua hari berlalu semenjak aku tertidur terus di atas ranjang. Semua sanak saudaraku bergantian untuk saling menjagaku, menunggu aku siuman. Namun sampai saat ini, aku masih tetap tertidur.

Padahal, sebenarnya aku tak merasa kalau aku sedang tertidur, namun malah aku sedang berada di alam mimpi. Di sana aku bertemu dengan tiga orang yang sangat aku sayangi, Kakung (Kakek) Satori, Kyai Marwan, dan Astrid.

Mereka saling bertukar senyuman indah padaku. Mereka menyemangatiku dan memasrahkan apa yang akan kulakukan tentang keluarga Immas padaku. Entah aku mau mendamaikan kedua keluarga kami, atau menghapus eksistensi keluarga itu dengan membunuh Mela dan menciptakan perdamaian di dunia.

“Yang dikatakan oleh Jayos itu benar, Umam! Kau harus tetap mengajaknya menjadi pasanganmu di test itu,” kata Kyai Marwan memberikan saran. “Jayos adalah putraku yang takkan membuat orang lain melakukan sesuatu yang tak ia rencanakan dan tahu sebelumnya. Mungkin ada sebuah alasan kuat mengapa dia menyuruhmu!”

“Tapi, dia sudah bukan Mela yang kukenal dulu. Bahkan aku sudah tak melihat sosok Mela yang manja dan ceria seperti dulu.” Jawabku murung, mengepal tangan menahan amarahku yang mulai muncul. “Bahkan dia sudah melukai sahabat baikku!”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan, cucuku?” tanya kakung Satori serius. Aku tak bisa menjawab pertanyaan kakungku itu. Entah apa yang harus kulakukan atas Mela nantinya.

Astrid yang berada di sampingku tersenyum teramat manis dan hangat, membuatku menyadari kalau selama ini dia memang benar-benar cantik, walaupun kutahu kalau dia telah tiada.

“Kalau begitu, bukankah sudah jelas, Mam? Hatimu sudah move on dariku, dan sepertinya kau sudah menganggap Mela lebih dari seorang sahabat sama seperti saat kau masih bersamaku. Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan. Aku percaya itu!” kata Astid yang benar-benar tahu akan perasaanku.

“Astrid, aku ...”

Dia hanya menggeleng. “Tak perlu bicara apapun lagi, Mam. Kamu memang seseorang yang terlalu baik sama orang lain. Bahkan kebaikanmu itu sering membuat seorang gadis yang berada di sampingmu itu terluka, kau tahu itu?”

Astrid kemudian langsung menciumku sembari menangis, mengungkapkan kerinduannya padaku. Saat Astrid menciumku, aku dapat merasakan kehangatan luar biasa, sama seperti saat dia masih hidup dulu.

Kehangatan itu secara tiba-tiba menghapuskan luka (seperti besi berkarat yang terus menyebar) dan membuatku sembuh.

“Le, cucuku. Ada sebuah alasan kuat mengapa kau kami bawa kemari. Dan itu adalah ....” ujar kakung Satori tegang. Aku mendengar setiap kata-katanya yang mau dikatakan, dan setiap kata yang ia lontarkan, mampu membuatku menelan ludah dan bergidik ngeri akan apa yang dikatakannya.

Namun sebelum aku sempat bertanya masalah itu, aku akhirnya terbangun juga.

Setelah tersadar, aku lihat kakak dan ketiga adikku sedang tertidur lelap di sampingku. Melihat saudara-saudariku itu membuat hatiku terharu. Tak kusangka di balik sikap manja, egois, dan sinis mereka, mereka masih peduli terhadap saudaranya.

Tak mau membangunkan mereka, karena tahu kalau mereka baru saja tidur, aku segera sisihkan tangan-tangan mereka dari kaki dan juga pundakku. Setelah itu, aku bangun dan segera pergi ke kamar mandi.

Selesai mandi, aku masih memperhatikan mereka yang masih tidur pulas, kubiarkan mereka dan bergegas keluar dari kamar. Sesaat aku keluar, dari balik pintu sudah menunggu Nana yang hendak membangunkan kak Vita. Aku segera mencegahnya dan kutarik dia untuk menuruni tangga atas dan kuajak ia bicara di ruang tamu bawah.

“Nana, biarkan kakakku untuk tidur nyenyak hari ini,” ujarku ke Nana, dia hanya menatapku kosong dan sinis, tanpa emosi apapun. Mungkin ini ya yang disebut sebagai cewek kuudere. “Kakakku sudah kelelahan karena kemaren menjagaku terus bersama adik-adikku. Jadi sebaiknya kau biarkan ia beristirahat!”

Nana pun mengangguk, “Baik, tuan Umam! Tapi kedatanganku di depan kamarmu bukan karena itu, namun aku ada perlu dengan tuan muda,”

“He, aku? Ada apa?”

“Sebelum itu, bukankah seharusnya tuan segera berangkat ke padepokan Abdurrahman, tuan?” tanya Nana yang malah balik bertanya, seolah mengalihkan pertanyaanku tadi. “Hari ini bukankah hari di mana Test of Faith itu digelar, kenapa tuan muda masih malas-malasan saja?”

Aku tersentak kaget mendengarnya. “Apa!? Hari ini?!”

Nana mengangguk dan aku bergegas untuk kembali ke kamar untuk menyiapkan segala keperluanku untuk mengikuti test itu. Namun tak kusangka semua keperluanku sudah siap, lebih tepatnya adalah sudah ada yang menyiapkannya.

Kak Vita.

Ya, kakak manja dan anehku itu sudah menyiapkan segala keperluanku. Dari mulai bekal makan-minum, uang jajan, buku-buku, dan sebagainya.

“Kak, Vita, kau yang menyiapkan semua ini?” tanyaku.

Dia menggeleng. “Tidak, kemaren malam kami berempat gotong royong membantumu menyiapkan persiapan untuk test itu karena kami yakin kau akan tergesa-gesa menyiapkan bekal mengetahui kalau ujiannya akan dimulai di saat kau bangun. Pagi ini, aku hanya memasukkan segala keperluan yang sudah kami siapkan kemaren ke dalam tas ranselmu, Mam!”

“Terima kasih, kak!”

“Jangan berterima kasih padaku saja, tapi kepada adik-adik kita nantinya. Selain itu juga kau terlalu cepat mengucapkan terima kasihmu itu, Mam!” jawab kak Vita sambil tersenyum kecut. “Berterima kasihlah ketika kau mampu melewati ujian ini. Mungkin dari seratus peserta kali ini yang akan lolos hanya segelintir saja, dan yang lainnya akan menghilang ataupun mati.”

“Cih! Mereka mengadakan ujian ini cuman menginginkan pengorbanan darah-darah pemuda-pemudi yang tak tahu apa-apa mengenai apa yang akan mereka hadapi dalam ujian ini. Itu membuatku muak!”

“Jangan terburu-buru berkata demikian, Mam. Mereka semua adalah putra-putri dari keluarga jawara maupun dukun seantero nusantara yang dulu sempat membantu pendahulu kita, Kyai Marwan dalam menghadapi Nyi Imas. Jadi, meskipun mereka nanti mati, namun kuyakin mereka akan hidup kembali karena ajian Pancasona mereka,” jawab kak Vita yang sama sekali tak mengkhawatirkan mereka.

“Syukurlah kalau begitu,” aku lega mendengarnya.

“Namun ada juga di antara mereka yang akan benar-benar mati dan menghilang, Mam, tanpa ada seseorang yang mengingat dan juga mengkhawatirkan mereka. Apa kau tahu kalau ada sebagian kecil dari keluarga mereka yang tak mau menganut ilmu-ilmu kanuragan?” kata kak Vita mulai kecut. “Jikalau mereka mendapati ajal mereka di dalam ujian itu, mereka akan benar-benar mati!”

Aku geram mendengarnya. “Lalu buat apa mereka diizinkan untuk mengikuti ujian berbahaya itu!?”

“Ini semua karena adat. Adat yang ada dan disepakati antara Kyai Marwan dengan ketujuh puluh dua kyai, pemuka agama lain, dukun, dan para jawara, Mam!” jawab kak Vita sendu. “Karena adat inilah kakak harus kehilangan banyak teman empat tahun lalu, dan karena inilah dirimu harus gagal lolos dalam ujian itu dan harus merelakan Astrid,”

“Aku takkan membiarkan siapapun yang kusayangi meregang nyawa untuk kedua kalinya, kak! Aku percaya akan hal itu!”

Setelah bicara cukup lama dengan kakakku, aku segera diantar ke ponpes Abdurrahman oleh Pak Joko. Sampai di tengah jalan, aku melihat Mela sedang melambai-lambai ke arah mobilku dari halte bus di pinggir jalan. Dengan segera kusuruh Pak Joko untuk menghampiri Mela dan seolah tak pernah terjadi sesuatu beberapa hari lalu, kupersilahkan Mela untuk masuk ke mobil.

Hari ini, dia akan menjadi partnerku dalam ujian Test of Faith kali ini. Setelah mendapat amanah dari mimpiku, aku tak berani membatalkan keinginanku untuk menjadikannya pasanganku kali ini, apalagi setelah kejadian beberapa waktu lalu. Namun, hari ini dia terlihat seperti Mela yang kukenal dulu, jadi aku memutuskan untuk tetap mengajaknya, walaupun agak risih sebenarnya di mana dia terlalu lengket denganku.

“Mela, apa kabarmu?”

“Baik-baik saja, darling. Kemaren aku ingin menjengukmu di rumah, namun Risa melarangku, jadi ... maaf!” jawab Mela sembari tertunduk penuh dengan penyesalan. “Kata Risa aku ya yang melukaimu? Apa itu benar, darling?” tambahnya yang balik bertanya padaku.

“Eh, nggak kok!” jawabku mengelak, menutupi semua kejadian itu dari Mela. Kata Aris yang mendengar dari Risa sendiri, Mela mempunyai ketidakstabilan mental yang mana membuatnya tidak mengingat akan apa yang telah ia lakukan sebelumnya.

“Oh ya, darling. Kenapa sms dan teleponku kemaren gak kau jawab? Kemaren aku benar-benar khawatir tau!”

“Ah, nggak apa-apa kok. Kemaren aku sudah tidur lebih awal jadi ...” jawabku yang tak ingin menjawab pertanyaannya tadi. Tadi pagi kulihat smartphoneku sudah ada lebih dari rua ratus sms dan seratus panggilan masuk dari nomer si Mela ini. Duuh, dasar gadis aneh!

Sesampainya di ponpes Abdurrahman, kami berdua turun dari mobil. Tak lupa juga kami berpamitan dengan Pak Joko dan setelah itu, pak Joko pun berlalu.

Kami berdua berkumpul di halaman ponpes dan melakukan upacara bendera dan upacara adat budaya dari seluruh nusantara. Eits sebelum kalian berpikir aneh-aneh, upacara adat ini bukanlah upacara yang musyrik kok, cuman memamerkan adat-adat yang ada di seluruh penjuru nusantara.

Setelah itu, kami semua dikumpulkan di sebuah aula ponpes di mana kami diberi instruksi mengenai ujian tahun ini. Di sana dari kesekian banyak peserta, ada seorang pemuda yang menatap gairah kepada Mela, namun menatap apatis padaku. Aku sih tak mempedulikan itu, namun lain hanya dengan Mela. Dia sudah terlihat ketakutan dan mengencangkan pegangan tangannya ke lenganku membuatku risih.

Duh! Padahal kamu bisa melukaiku dan juga temanku, lalu kenapa kau bisa takut melihat tatapan gairah pemuda itu? Pikirku.

Setelah pembicaraan yang panjang dan tak ada artinya, akhirnya kini Mbah Jayos, selaku mentor utama segera naik ke panggung untuk memberikan sepatah dua patah kalimat yang akan dia sampaikan pada para peserta.

“Ehm, oke anak-anak. Saya ke sini akan memberikan sepatah dua patah kata bagi peserta yang akan mengikuti ujian Test of Faith ini,” kata Mbah Jayos membuka pidato. “Seperti yang kalian ketahui kalau dalam ujian ini, kalian harus mengerahkan segala kemampuan yang kalian punya untuk kembali menyegel para demit-demit ke dalam Angus Poloso. Oleh karena itu, kalian harus mencurahkan segalanya dalam ujian ini, baik harta, semangat, kemampuan, bahkan nyawa kalian. Dari seratus peserta, saya memastikan hanya tiga puluh orang saja yang akan bisa keluar dengan selamat dari ujian ini dan yang lainnya akan meregang nyawa maupun hilang!”

-BERSAMBUNG-

So that's it, guys. Horror 20 ini yang paling panjang deh. Fyuuh! Horror 21 dan seterusnya sampai arc ini berakhir adalah horror di mana para peserta akan berkelana kesetiap penjuru nusantara untuk mencari demit-demit kuat yang berasal dari Angus Poloso dan disuruh untuk menyegelnya kembali.

Setiap tim akan dikasih lima anggota, itu berarti ada sekitar dua puluh tim yang mengikuti ujian Test of Faith itu. Daripada terlalu banyak spoilers, mending nantikan saja Horror 21 nya.

Thank you, and see you again. Hope sooner than you realized.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Laskar278 dan 7 lainnya memberi reputasi
Mela oh Mela
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Halo mau nanya gan. Kok sekarang nggk ada fitur untuk masukin gambar ke thread sih?? Kalau ada kasih tahu caranya.
profile-picture
Laskar278 memberi reputasi
Fiksi dan nyata di jadikan satu seru ga ya...
Lg mode menghayal emoticon-Ngakak

Lanjutkaan gaan... satu2 akn aku baca, bs jd referensi jg emoticon-2 Jempol
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Monggo di lanjut gan.....emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Sebenarnya ingin segera dengar cerita Umam dan Mela.
Mo minta TS tuk segera updet rasanya nggak enak.
Tapi kok penasaran.
Gimana nich ya enaknya?

Mending ngopi ajalah.
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Halaman 4 dari 6


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di