CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SK2H Reborn: The Untold Story
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f760b21af7e9378b74abde5/sk2h-reborn-the-untold-story

SK2H Reborn: The Untold Story

Tampilkan isi Thread
Halaman 9 dari 15
Setia menunggu update nya Om Ari.

20

Keesokan harinya. Karena takut terlambat kayak kemarin, gue bangun dan berangkat lebih pagi bahkan sebelum Indra sempat manasin motor. Kalau kebetulan lagi dapet jatah sif yang sama, kami memang sering berangkat bareng. Gue hafal kebiasaan Indra. Setelah manasin mesin motor selama 10 menit, dia akan lebih dulu sarapan di lapak nasi uduk deket kosan, habis itu baru berangkat kerja. Berarti masih butuh sekitar setengah jam lagi.

“Kok, udah mau berangkat aja?” tanya Indra waktu ketemu gue di tangga.

“Iya, Dul. Gue duluan ya. Besok aja kita bareng lagi.”

“Ya udah. Ati-ati. Jangan salah naik angkot, nanti nyasar lagi kayak waktu itu.”

Gue memang belum punya motor. Karena itu gue bolak-balik kerja naik angkot atau ojek. Indra yang merasa kasihan begitu tahu gue tekor di ongkos, ngajak berangkat bareng tiap dia sif pagi. Tempat kerja kami sama-sama di kawasan industri, dan karena kantor gue nggak jauh dari gerbang utama kawasan, dengan atau tanpa gue pun Indra pasti lewat jalur itu. Jadi sama sekali nggak mengganggu rute si Gundul.

Gue sampe kantor jam setengah 7 pagi, kemudian buru-buru ke pantry buat sarapan dan ngeteh. Masih cukup lama sampe mulai jam kerja. Di pantry gue ditemani beberapa OB yang baru aja mau pulang karena jam kerja malam sudah selesai. Setelah mereka pulang, gue sendirian.

“Eh, ada Ari.” Lisa masuk ke pantry sambil membawa sekotak teh celup. “Kemarin nggak masuk, sekarang udah dateng aja pagi-pagi.”

“Pagi, Lisa.”

Lisa tersenyum lebar. “Lu sakit apa kemarin?” tanyanya sambil menyeduh teh.

“Hmm,” gue berusaha mengingat apa yang ditulis dokter di surat sakit. “Kayaknya demam.”

“Lho, kok, kayaknya? Emang lu nggak tau sakit apa?”

Gue ketawa malu.

“Ah, gue paham. Lu pasti bolos, kan? Sebenernya lu nggak sakit. Lagi males aja buat ngantor, jadinya izin sakit. Iya, kan?”

Gue bermaksud mengelak, tapi karena merasa Lisa nggak mungkin jadi masalah, gue cuma cengengesan.

“Santai aja, Ri. Yang lain juga sama, kok. Namanya kerja di kantor pabrik, emang banyak tekanannya. Nggak sefleksibel kantoran di luar.”

Gue ketawa lagi.

“Eh, kalau gue sarapan di sini, boleh?”

“Boleh, dong, Lis. Emangnya pantry ini punya satu orang doang?”

“Hehehe. Nggak gitu. Tapi kalau dipikir-pikir, pantry ini kayak punyanya anak QC. Iya nggak, sih?”

“Iya juga. Mungkin karena divisi kita yang paling deket ke pantry, jadinya emang lebih sering anak QC yang nongkrong di sini. Apalagi kalau udah full team di sini, yang lain jadi pada segan.”

“Bener banget. Gue masih inget waktu gue di divisi produksi. Ngeliat gerombolan kalian pada di sini, gue jadi nggak enak sendiri mau gabung.”

Kami berdua tertawa.

“Bentar ya, Ri. Gue ambil bekal dulu.” Dia pergi dan kembali dua menit kemudian dengan membawa kotak nasi berisi roti lapis. “Mau?”

“Wah, makasih banyak, deh. Lu liat sendiri, nih. Bungkusan nasi uduk aja belum sempet gue buang. Masih kenyang ini perut.”

Lisa tertawa kecil, lalu mulai melahap roti lapisnya. Gue baru kenal Lisa selama kurang dari dua bulan sejak mutasinya ke divisi kami, tapi semua bayangan tentang dirinya yang dulu ada di benak gue dan mayoritas tim QC langsung buyar. Lisa ternyata sangat bersahabat. Kepribadiannya tampak matang. Yang paling menyenangkan, dia enak diajak ngobrol. Saat itulah gue tahu semua kengototannya melawan QC dulu adalah bentuk profesionalitas semata.

Lisa memiliki aura positif yang bisa menular ke orang-orang di sekitarnya. Dia juga sering tersenyum sekalipun lagi di bawah tekanan. Nggak heran kalau dalam sekejap, dia jadi ‘pemain utama’ di divisi kami.

Kalau dilihat dari penampilan luarnya, bisa dengan mudah disimpulkan bahwa Lisa terlahir dari keluarga berada. Dia bahkan satu-satunya staf QC yang ke kantor pake mobil pribadi. Tapi sama sekali nggak kelihatan ada sifat sombong dalam dirinya. Satu-satunya sifat Lisa yang kadang mengganggu adalah perfeksionismenya terhadap hampir segala hal.

Lisa selalu menata alat tulis di meja dengan mengurutkannya dari yang terkecil ke yang terbesar, atau sebaliknya. Dia nggak bisa membiarkan posisi papan kibor sembarangan, selalu dalam posisi simetris dengan sisi meja. Dia selalu menaruh alas di bawah gelas minumnya karena nggak mau ada bekas basah di meja. Dia sangat mencintai kebersihan dan kerapian. Kalau ada meja rekan kerja yang berantakan, dia nggak segan menegur.

Tiba-tiba aja gue membandingkan Lisa sama Meva yang serba-berantakan. Gue jadi berpikir kira-kira gimana reaksi Lisa kalau tahu kondisi kamar Meva yang amburadul itu.

“Lis, lu bisa bantu gue nggak?”

Lisa langsung menghentikan makannya. “Bantuan apa, Ri?”

“Lu tahu psikiater yang bisa dikunjungi di deket-deket sini nggak?”

Lisa kernyitkan dahi. Dia menatap gue penuh tanya. “Lu baik-baik aja, kan, Ri? Ini ada hubungannya sama kemarin?”

Gue langsung menggelengkan kepala. “Nggak, kok. Nggak ada hubungannya sama gue. Gue mau tahu, ‘kali aja lu punya rekomendasi psikiater di Karawang.”

Lisa masih menatap gue heran. “Kayaknya nyokap gue punya temen psikiater. Gue tanya dulu ya.” Dia lalu mengetikkan SMS di ponselnya. “Udah gue tanyain. Kalau dapet jawaban, gue kabarin lu.”

“Makasih ya.”

Lisa mengangguk. “Lu yakin nggak ada apa-apa, Ri? Sebelum ini nggak pernah ada obrolan soal psikiater, sekarang tiba-tiba lu nanya itu. Gue jadi bertanya-tanya.”

“Gue emang pengin ketemu psikiater, tapi bukan buat gue. Maksud gue, tujuan nemuin psikiater itu karena mau konsultasi gimana caranya ngadepin orang dengan gangguan mental.”

“Wah, kayaknya masalah serius, nih.”

“Lumayan serius, Lis. Jadi ada temen gue yang ternyata menderita depresi berat. Kalau lagi kalut dia kadang suka ngelukain diri sendiri sampe berdarah-darah tangan dan kakinya, tapi nggak bermaksud bunuh diri.”

Lisa melongo.

“Gue pengin bantu temen gue ini. Karena gue sama sekali nggak ngerti apa-apa soal gangguan mental, makanya gue pengin konsultasi dulu ke psikiater biar tahu gimana baiknya.”

Lisa menganggukkan kepala beberapa kali. “Kenapa nggak lu ajak langsung aja temen lu ke psikiater?”

“Gue takut dianggep nggak sopan. Takut orangnya marah.”

“Iya juga, sih. Tapi konseling sama psikiater itu mahal, lho. Nggak kayak berobat ke klinik dokter umum.”

“Oh ya? Seberapa mahal?”

“Gue nggak tahu tepatnya berapa. Mungkin bisa sampe ratusan ribu buat sekali konsultasi.”

“Waduh. Mahal juga ya.”

“Tapi pasti sebanding sama hasilnya.”

Gue menghela napas panjang. Kalau sampe harus mengeluarkan uang sebanyak itu, gue jadi ragu.

“Lu tenang aja, Ri. Kalau emang nyokap gue punya kenalan psikiater, gue bakal minta dia kasih harga di bawah standard. Biar nggak tekor-tekor amat.”

“Emang bisa?”

“Serahin aja ke gue. Yang paling penting, namanya niat baik itu harus terlaksana.”

“Sekali lagi makasih ya, Lis.”

“No problem, Ri.”

Saat itulah dua rekan divisi kami, Janu dan Nina, datang.

“Udah ketebak, kalian pasti di sini.”

Pantry langsung berubah ramai dengan kedatangan mereka berdua. Ditambah lagi mendekati jam kerja, beberapa karyawan pun keluar masuk ruangan. Lima belas menit sebelum bel berbunyi, kami kembali ke ruangan QC. Sudah jadi aturan perusahaan, sepuluh menit sebelum jam kerja kami harus melakukan senam pagi di titik kumpul evakuasi yang letaknya di dekat parkiran. Ke sanalah kemudian kami menuju.

Di perjalanan menuju titik kumpul, Janu menarik gue dan berbisik. “Malem minggu ini lu ada acara nggak?” tanyanya.

“Nggak ada. Kenapa?”

“Gue mau ngajak lu nge-date.”

“Anjir. Gini-gini gue masih demen cewek, Nu! Istigfar, hei! Nge-date, kok, sama gue.”

“Berisik lu, ah! Maksud gue bukan kita berdua nge-date. Kopdar, cuy. Kopdar! Jadi, gue kenalan sama cewek lewat chatting di mIRC. Nah, malem Minggu ini kita janjian mau ketemuan.”

“mIRC?”

“Iya. Internet Relay Chat, yang lagi ngehits itu. Jadi kita bisa ngobrol sama orang lain pake komputer yang nyambung ke internet. Masa lu nggak tahu sih? Nggak pernah nongkrong di warnet ya?”

Gue gelengkan kepala.

“Pantes. Pokoknya lu temenin gue ketemuan sama cewek ini. Dia bilang, dia juga mau ngajak temennya. Jadi nanti kita ketemu berempat. Gimana?”

“Gue pikir-pikir dulu ya.”

“Halah, kelamaan! Udah, deh. Pokoknya malem Minggu gue jemput ke kosan. Lu belum pernah blind date kayak gini, kan? Dandan yang rapi, pake minyak wangi, tapi jangan sampe lebih ganteng dari gue. Nanti dia malah naksir sama lu. Guenya nggak dilirik! Oke?”

Karena gue memang nggak punya rencana apa-apa di akhir pekan nanti, gue pun mengiyakan. Hari itu berlangsung biasa saja seperti hari-hari lainnya. Kalaupun ada sedikit drama, itu ketika bos kami Pak Agus menanyakan alasan kemarin nggak masuk. Gue perlu sedikit akting supaya lebih meyakinkan, tapi Lisa yang tahu fakta sebenernya cuma senyum-senyum kecil dari mejanya.

“Si Melon gampang banget diboongin,” kata Lisa menghampiri meja gue setelah Pak Agus pergi.

‘Melon’ adalah julukan yang kami berikan untuk atasan kami tersebut, merujuk pada potongan rambut Pak Agus yang botak plontos mirip Indra. Hanya saja bentuk kepala Pak Agus cenderung lebih bulat.

“Akting gue emang meyakinkan, Lis. Kayaknya gue berbakat jadi aktor.”

“Pede banget,” Lisa mencemooh dengan seringai anehnya. “Ngomong-ngomong, gue udah dapet jawaban dari nyokap. Ada kenalan psikiater yang nggak begitu jauh dari alun-alun. Lu mau kapan ke sana?”

“Kalau sore ini sepulang kerja, bisa nggak?”

“Gue perlu tanya lagi. Lu ke sana sama siapa?”

“Sendirian.”

“Naik apa?”

“Ojek. Atau angkot. Apa lagi selain dua itu?”

Lisa berpikir sejenak. “Gue anter aja, deh. Kebetulan hari ini lagi bawa mobil.”

“Wah, nggak usah, Lis. Tambah ngerepotin lu.”

Lisa mengibaskan tangan kanannya. “Kalem aja,” tukasnya sambil berlalu pergi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adinea06 dan 8 lainnya memberi reputasi

21

Sore harinya, sesuai rencana Lisa mengantar gue ke tempat psikiater kenalan orang tuanya. Dengan Mitsubishi Lancer keluaran tahun 1990 miliknya kami melaju menuju pusat kota Karawang.

“Mobil lu keren banget, Lis.”

“Ini bukan punya gue, Ri. Ini kesayangannya bokap.”

Gue menganggukkan kepala beberapa kali. Lisa melirik gue dengan tatapan aneh. Kedua tangannya tetap di kemudi.

“Kenapa?” tanya gue.

“Lu pasti mikir gue anak manja yang lahir dari keluarga kaya. Apa-apa tinggal minta orang tua. Iya, kan?”

Gue tertawa kecil. “Nggak sepenuhnya gitu.”

“Nggak sepenuhnya? Berarti sebagian besar iya?”

Kali ini kami berdua tertawa.

“Nggak ada salahnya jadi anak orang kaya,” gue mencoba terlihat diplomatis.

“Emang bener,” Lisa menimpali. “Kita nggak bisa milih, kan, mau terlahir dari orang tua yang kayak gimana? Kebetulan aja gue lahir dari keluarga yang berada. Bokap gue pejabat daerah. Nyokap ketua PKK yang aktif dan punya cukup banyak relasi. Tapi gue nggak setuju kalau itu semua bikin gue layak dicap sebagai anak manja.”

“Gue nggak nyebut lu kayak gitu, kok.”

“Tapi sebagian besar orang yang gue kenal beranggapan begitu, Ri. Padahal buat sampe di titik sekarang, ada banyak perjuangan yang gue lakuin. Lulus kuliah dengan masuk peringkat tiga terbaik, misalnya. Kaya nggak menjamin kita pinter, kan?”

Gue mengangguk setuju.

“Tapi orang-orang pada nggak liat itu. Mereka taunya gue enak banget, dapet ini itu dari orang tua. Seolah gue nggak ada usahanya sama sekali. Makanya gue pilih kerja di kawasan industri, padahal bokap penginnya gue ikutan masuk ke jalur politik.”

“Kenapa lu nggak mau? Kan, lu bisa jadi pejabat juga nantinya.”

Lisa tertawa lebar. “Itu bukan dunia gue. Sama sekali nggak berminat ke sana. Gue pengin ngelakuin apa yang memang jadi minat gue.”

“Dan minat lu adalah berkarier di pabrik?”

“Bukan,” tegas Lisa. “Gue sebenernya ngincer beasiswa S2 di luar negeri. Tapi buat bisa dapetin itu butuh banyak duit. Di antaranya, kursus bahasa Inggris. Karena kalau kita mau beasiswa, kita harus lulus tes bahasa yang minimum skornya tinggi. Belum lagi buat biaya kebutuhan di sana. Gue nggak pengin pake duit orang tua sepeser pun. Jadi, gue kerja dulu buat ngumpulin amunisi.”

“Hebat juga cita-cita lu. Gue doain tercapai secepetnya.”

Lisa menganggukkan kepala beberapa kali. Selanjutnya perjalanan lebih banyak diisi alunan musik dari radio. Kami sampai di tempat praktik psikiater sekitar dua puluh menit kemudian. Konsultasi hari itu berlangsung cukup lama, dengan sang psikiater mendesak gue segera membawa pasien ke sana. Beliau juga menjelaskan secara rinci langkah medis yang bisa diambil sebagai tindakan pemulihan, di antaranya pemberian obat antidepresan.

Setelah mendengar semua penjelasan tersebut, gue makin khawatir sama Meva. Ternyata depresi bukanlah perkara enteng. Banyak orang cenderung salah persepsi terhadap gangguan mental. Mungkin karena mereka menganggap ini adalah hal tabu dan sebaiknya dihindari. Bisa juga karena minimnya edukasi, karena banyak yang mengaitkan gangguan mental dengan hal gaib sehingga nggak sedikit yang mencari jalan keluarnya dengan berobat ke dukun.

“Kita juga sering mendengar orang mencemooh penderita gangguan mental dengan menyebut mereka jauh dari Tuhan, kurang bersyukur, atau bahkan kurang beriman. Padahal depresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan menurunnya kondisi emosi, fisik, dan pikiran akibat perasaan sedih, hampa, atau ketidakberdayaan yang berkepanjangan. Komentar negatif dari orang lain cuma akan membuat mereka makin tenggelam dalam fase depresinya.

“Depresi bukan perkara kurang bersyukur atau kurang ibadah. Mereka rajin ke tempat ibadah, tapi tetap depresi. Jadi, depresi bukan semata-mata tentang tingkat keimanan, ketakwaan, atau relasi seseorang dengan Tuhannya. Depresi adalah penyakit. Orang yang sakit butuh penanganan khusus dari ahlinya.”

Gue pun pulang dengan membawa banyak pertanyaan dan bayangan yang berputar-putar di dalam benak gue.

“Lu keliatan syok, Ri. Ini bukan karena biayanya yang lumayan mahal, kan?” canda Lisa saat kami dalam perjalanan pulang. Kami berdua tertawa.

Saking banyaknya pikiran, gue bahkan nggak sempat berbasa-basi mengajak Lisa singgah di kosan. Gue langsung menuju lantai atas. Hari sudah malam dan perut belum diisi. Gue pengin buru-buru mandi lalu beristirahat.

Ketika sampai di lantai atas, gue terdiam melihat Meva berdiri di depan pintu kamarnya. Dia melempar senyum. Dari gerak tubuhnya dia kelihatan kikuk. Gue balas senyumnya, lalu bergegas menuju pintu kamar gue.

“Ari,” Meva memanggil.

Gue nggak menduga dia ingat nama gue. Seketika gue terdiam. “Ya?”

“Makasih ya buat kemarin.”

“Oh. Sama-sama.”

Gue cuma bisa menjawab singkat karena gue sendiri kikuk. Setelah menjawab seperlunya, gue langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ujuk.aji dan 11 lainnya memberi reputasi
Mana PS nya?? Biasanya dikasih...
Sip ... dah update om ari. Lagi dong. Wkwkwk
profile-picture
slametfirmansy4 memberi reputasi
Asiiik ada update

22

Keesokan paginya, ketika sarapan bareng Indra, gue ceritakan perihal kunjungan ke psikiater.

“Wah, gue nggak nyangka lu sampe nemuin psikiater.”

“Gue khawatir terjadi yang lebih buruk sama dia, Dul.”

“Bener juga, sih. Terus tindakan lu selanjutnya apa?”

“Gue mau ngajak Meva ke sana, tapi gue ragu dia mau. Gue takut dia salah paham dan beranggapan gue terlalu mencampuri urusan pribadinya.”

“Kemungkinannya gede ke arah sana.”

“Jadi, gue harus gimana?”

“Entahlah. Saran gue, buat sekarang coba lu deketin dulu aja. Kenal dia lebih jauh. Setelah dirasa cukup deket, barulah ajak dia konsultasi ke psikiater. Mungkin nggak akan terlalu menyinggung kalau kaliannya udah deket.”

“Bener juga. Gue jadi inget saran dari Dokter Yusuf. Yang harus kita lakuin sekarang adalah bikin Meva berpikir kalau dia nggak sendirian. Iya nggak, Dul?”

Indra menganggukkan kepala dengan cepat. “Lagi pula, lu ngerasa ini sebagai sebuah takdir nggak, sih?”

“Takdir gimana?”

“Antara lu sama Meva.”

“Maksudnya gimana, sih? Jelasin yang bener coba.”

“Gini, lho. Kalian berdua ini kayak dipertemukan dalam timing yang tepat sama Tuhan. Udah berbulan-bulan lu penasaran sama Meva, tapi baru ketemu sekarang.”

Gue diam, menunggu Indra menjelaskan lebih lanjut.

“Masih belum ngerti juga? Sorry, nih, kalau to the point banget. Lu, kan, masih dalam kondisi berkabung karena kepergian Eci. Nah, dipertemukanlah sama Meva yang juga—gimana ngomongnya ya—pokoknya dalam situasi yang mungkin sama kayak lu. Sama-sama ada beban pikiran. Sama-sama berjuang buat sembuh. Iya nggak?”

Gue berpikir sejenak dan merasa kebenaran dalam ucapan si Gundul. “Terus?”

“Mungkin kalian ditakdirkan ketemu buat saling menyembuhkan. Ngerti maksud gue?”

Gue mengangkat kedua bahu. “Kalau denger lu ngomong begitu, jadi kayak sesuatu yang luar biasa.”

Indra tertawa lebar. “Coba aja deketin Meva. Jadi temennya. Gue yakin lu bakal ngerasa lebih baik.”

Gue jawab dengan anggukan kepala.

“Udah jam setengah tujuh, nih. Beres belum makannya? Ayo, kita berangkat kerja.”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adinea06 dan 10 lainnya memberi reputasi
Kok cuman 1 bang??
Kurang atuh bang...😀 😀 😀
Kagak ada PSnya lagi......
profile-picture
lem.beurit memberi reputasi
Diubah oleh slametfirmansy4
Makasih om Ari untuk update nya. Tapi kurang panjang nih. Ha ha ha, becanda om.
bikin akun kaskus gegara trit lejen..mantap om..
tumben blm update
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Ndak sabar nunggu updet
Akhirnya buka reborn agan @haha.hehe
Baca ampe selesai.

Tp tetep balik kesini lagi
😀😀😀
Diubah oleh Arikempling78
We want more! we want more!
Tambahin dah biar ganti halaman emoticon-Betty
wokay
Berkali kali baca reborn agan @haha.hehe ada rasa yang belum terjawab.
Sebenarnya siapa ya istrinya bang Ari?
Lisakah, atoooo ada tokoh yang lain yang jadi pendamping bang ari.
Diubah oleh Arikempling78
Hari senin jadwal update ya?
Hehehehe 🙏🙏🙏
Ditunggu ya bang updatenya. Mau ente reborn sampai 7 kali juga gw baca...
masih menunggu difilm kan emoticon-Cool
nostalgia nunggu update part 23
Halaman 9 dari 15


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di