CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5fab439688b3cb758d36fb4f/bidadari-yang-ternoda

Bidadari yang Ternoda


Bidadari yang Ternoda
Blurb
Oleh: Gita Lubis

Jangan meminta agar ujian yang diberikan berhenti, tapi pintalah agar sabarmu dipertebal. Ujian hidup tak akan pernah berhenti selama engkau masih berpijak di bumi Allah. Laksana sekolah, semakin tinggi levelnya, maka semakin sulit pula ujian yang akan dijalankan. Namun, semua akan terasa mudah, jika kamu belajar sungguh-sungguh. Begitulah analogi kehidupan.

***

Bagaimana rasanya setelah bangun dari tidur, kau kehilangan segalanya. Kehormatan yang selama ini kau jaga, telah direnggut paksa oleh dia yang bahkan sama sekali tidak kauketahui? Apakah kau akan mengamuk? Menjerit? Atau bahkan ingin mengakhiri hidup?

Itulah yang dirasakan oleh Acha, sampai ia tidak tahu harus melalukan apa. Baginya Tuhan memang selalu ingin menguji kesabarannya sampai batas akhir. Namun, bukankah selalu ada hikmah di setiap peristiwa?

Di usianya yang tergolong muda, ia harus bekerja keras untuk membiayai hidup dan juga pendidikannya. Masa muda tak menjadikannya berleha-leha hanya untuk sekadar bersenang-senang, karena ia tahu, jika iya melakukan itu, maka mimpi hanyalah tinggal mimpi tanpa pernah menjadi nyata.

Namun, setelah peristiwa itu terjadi, akankah ia masih menyalahi Tuhan?

💕💕💕💕💕💕
Cuplikan secuil bab I

Judul: Bidadari yang Ternoda
Oleh: Gita Lubis.
Sub: Kesucian yang Terenggut

Semua terasa berbeda kala aku membuka mata, rasanya di beberapa bagian tubuh begitu nyeri. Masih dalam keadaan berbaring, aku menatap sekeliling sambil memegang tengkuk leher yang begitu terasa sakit.

Beberapa bagian dinding begitu kotor dan bersarang. Ini bukan kamarku, lalu di mana aku? Semua yang ada di sini begitu asing.

Aku mencoba bangkit, tapi begitu terkejutnya aku melihat tubuhku yang seperti ini. Baju yang kukenakan begitu menggenaskan, bahkan ini tidak pantas lagi di sebut bahan penutup diri. Begitu menggenaskannya keadaanku saat ini, seperti makanan yang dihabisi paksa oleh binatang buas.
***

Sudah hampir satu jam aku berada di dalam kamar mandi, menangisi nasib yang begitu kejam. Aku terus menggosokkan sabun ke seluruh tubuh, berharap noda yang ada pada tubuh menghilang. Melihat bercak merah keunguan di beberapa bagian tubuh, membuatku merasa jijik.

Aku kembali terisak, mengingat kesucian itu telah terenggut bahkan dalam keadaan tidak sadar. Mahkota yang selama ini kujaga untuk dia yang akan menjadi suamiku kelak, telah dicuri. Entah siapa pelakunya pun aku tidak tahu.

Baca juga Bapak, pahlawan tanpa senjata

Masih di dalam kamar mandi dengan keran air yang sengaja kubuka, aku mencoba untuk mengingat kronologi bagaimana hal ini bisa terjadi.

Malam itu ....









profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh gitalubis
Dah pada bikin ya...
profile-picture
Richy211 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan

Sambungan Part I

Malam itu ....

“Kamu yakin nggak mau kuantar? Ini sudah larut lo, Cha.”

“Makasih banyak tawarannya, tapi aku pulang naik angkot aja.”

Aku kukuh menolak tawaran Irwan—teman kerja—yang ingin mengantarku pulang. Bukan tanpa alasan aku melakukan itu, hubungan aku dengan Mira yang terlalu dekat membuatku menjauhi Irwan.

“Kamu segan sama Mira?” tanyanya yang seolah tahu apa yang sedang kupikirkan. “Aku dan Mira itu sahabat, nggak lebih dari itu. Jadi, kamu nggak usah takut.”

Irwan dan Mira memang sahabatan, tapi sayangnya Mira terjebak dalam sebuah rasa yang lebih dari sahabat. Berbeda dengan Mira, Irwan malah menjunjung tinggi nilai persahabatan mereka tanpa ingin merusaknya walau hanya secuil rasa yang berbeda.

Alasan itu pula yang membuatku tidak pernah ingin menerima perasaan lelaki itu. Aku mengenal Irwan lewat Mira, waktu itu aku butuh pekerjaan paruh waktu untuk tambahan biaya hidup. Tanpa menunggu lama, Mira langsung menghubungi Irwan untuk memberi pekerjaan padaku. Sejak itulah aku dan Irwan saling mengenal lima bulan lalu.

“Kamu nggak perlu khawatir, ini malam minggu. Jalanan pasti ramai,” ucapku sebelum melambai ke arah angkot.

“Kalau sudah sampai jangan lupa kabarin, ya!”

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Dia hanya pasrah melihatku yang sudah menaiki angkot, di antara cahaya yang tidak begitu terang, aku masih bisa menangkap raut kecewa, dan kekhawatirannya.

Karena kontrakanku dekat sama terminal, tidak begitu sulit bagiku untuk mendapatkan angkot walau sudah larut. Karena, kalau sudah larut banyak angkot ke arah sana.

Sepuluh menit berlalu. Setelah turun dari angkot, aku hanya perlu berjalan sekitar 100 meter untuk sampai ke pintu rumah. Biasa bila malam minggu tiba, gang masuk ke kontrakanku ramai orang berlalu lalang, tapi kali ini terlihat begitu sepi.

Entah kenapa, perasaanku mendadak tidak enak. Segera kukencangkan langkah, derap kaki lain yang juga kencang membuatku berhenti melangkah. Seolah suara itu membuatku lega karena ada orang lain yang juga berjalan selain aku. Namun, saat menoleh ke belakang, tidak kutemukan seorang pun, padahal tadi suara langkah kakinya terdengar banyak.

Aku segera berlari sekencang mungkin kala mendapat sinyal bahaya, tapi sayangnya seseorang menarik lenganku dengan kuat.

Belum sempat lagi diriku menjerit, seseorang yang lain sukses membekap mulutku. Pergerakanku dikunci dengan mudahnya oleh lelaki bertubuh kekar. Detik berikutnya, mereka memukul bagian leherku yang akhirnya membuatku tidak tersadar.

Namun, sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, di bawah lampu yang bersinar remang, aku mentap empat orang lelaki yang terlihat samar.

“Kenapa kau buat di pingsan, Bodoh. Permainannya tak akan seru!”

“Kudengar dia pandai bela diri, atau kita nanti yang dihajar.”

Masih di antara sadar yang mulai menghilang aku mendengarnya, lalu setelah itu aku tak lagi bisa merasakan apa pun.

“Siapa di dalam?”

Teguran Marwah membuatku berhenti mengingat peristiwa tadi malam. Aku segera menetralkan suara agar tak terdengar seperti habis menangis.

“Acha, Mar,” jawabku singkat.

“Cepat ya, Cha! Gue mau pergi.”

Untuk menghemat pengeluaran, kami memilih mengontrak rumah yang hanya terdiri dari dua kamar tidur, dan satu kamar mandi untuk enam orang. Jadi, bila ingin memakainya harus bergantian, dan saling pengertian.

Aku segera bersiap untuk keluar. Memastikan kalau mata ini tidak terlalu bengkak akibat tangis yang meledak. Tanpa ingin menatap atau berkata apa pun, aku melewati Marwah yang berdiri tegak di depan pintu.

“Jalan loe kenapa gitu, Cha?”

Aku menghentikan langkah kala Marwah menanyakan itu, bingung harus menjawab apa.

“Nampak kali, ya?” tanyaku senetral mungkin.

“Iya, nggak anggun kayak biasanya. Kenapa?” Marwah masih terus bertanya.

Lama aku tak menjawab, tapi Marwah masih setia berdiri menunggu jawaban. Padahal, tadi katanya dia mau pergi.

Ada dua jenis manusia jika ia bertanya. Yang pertama, seseorang itu memang khawatir akan keadaan diri kita, dan yang kedua entah karena ia ingin tahu tentang kita.

“Tapi kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya.” Setengah berbisik aku mengatakannya.

Marwah menatapku semakin penasaran, menunggu kalimat apa yang akan akan kulontarkan.
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan pulaukapok memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan

Part II

Judul: Bidadari yang Ternoda
Sub: Dia Peduli

“Ada bisul yang tumbuh di pahaku. Makanya jalannya kayak gini. Janji loh, nggak bilang ke siapa-siapa!”

“Ya ampun, Cha. Gue kira tadi loe tuh mau bilang apa, ternyata cuman ini, hahahah.”

Aku segera menutup mulut Marwah. Mukanya yang tadi terlihat tegang, kini mencair layaknya ice yang terkena panas.

“Memangnya tadi kamu pikir apa?” tanyaku yang ingin tahu apa yang ada di dalam pikirannya.

“Ada deh, tapi gue percaya kok apa yang loe bilang barusan. Secara loe kan anak baik, jadi nggak mungkin lah loe ngelakukan hal itu.”

Aku tercekat mendengar perkataan Marwah, bukan aku tak mengerti apa yang dia maksud.

“Udah, ah! Entar gue telat lagi,” ucapnya sebelum menutup pintu kamar mandi rapat.

***

Aku menutup wajah dengan bantal, berusaha menghilangkan apa yang telah terjadi. Namun, sekeras apa pun aku mencoba tetap saja bayang-bayang tentang keadaan tubuhku yang menjijikkan kembali melintas.

Bahkan, Marwah sendiri pun mengatakan aku anak baik. Namun, kenapa ini semua terjadi padaku. Semesta begitu kejam, sudah cukup masalah yang ada sebelum ini membuatku menderita. Namun, kenapa Dia kembali memberikan cobaan yang begitu berat?
Seandainya tadi malam aku mengizinkan Irwan untuk mengantar, pastilah semua ini tidak terjadi. Tanganku tak henti-hentinya memukul kasur yang menjadi alas tidur sebagai pelampiasan. Aku benci semua ini, benci.

“Acha? Kamu nggak jadi pergi?”

Suara Mira menghentikan gerakan tanganku. Entah kapan dia membuka pintu kamar yang sebelumnya telah tertutup rapat.

“Cha, kamu sakit?” tanyanya dengan nada khawatir lantaran aku tak menjawab.

Aku menahan bantal yang menutupi seluruh permukaan wajah, tak ingin Mira melihat betapa hancurnya diriku saat ini.

“Enggak, cuman capek doang. Hari ini Hafsah nggak bisa.”

Aku sengaja berbohong pada Mira agar ia tak banyak bertanya, padahal hari ini aku sudah berjanji dengan Hafsah—teman kelompok—untuk mengerjakan tugas persentasi mata kuliah statistik. Pastilah ia akan kecewa karena aku tak menepati janji.

“Oh iya, handphone kamu kenapa nggak aktif? Tadi malam Irwan nelponin aku berkali-kali karena mencemaskanmu.”

Mungkin tadi malam Mira nginap di kos temannya, makanya ia tidak tahu kalau tadi malam aku tak ada di sini. Mira itu sangat cinta dengan organisasinya, sampai-sampai waktunya untuk istirahat di sini pun bisa dihitung.

“Aku kehilangan ponsel, Mir.”

Penjahat itu bukan hanya mengambil kesucianku, tapi ponsel dan sejumlah uang yang di dalam dompet juga mereka kuasai.

“Kok bisa sih, Cha?”

Kini bantal itu telah diangkat Mira dari wajahku, walau begitu aku masih tak mampu melihatnya.

“Kamu nangis, Cha? Cerita dong kronologinya gimana.”

Sialnya walau aku menutup mata, Mira masih bisa melihatku menangis.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 2 lainnya memberi reputasi
Wahhh itu kaya ditaruh dimana gtuuu
profile-picture
gitalubis memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan

Part II

“Ada bisul yang tumbuh di pahaku. Makanya jalannya kayak gini. Janji loh, nggak bilang ke siapa-siapa!”

“Ya ampun, Cha. Gue kira tadi loe tuh mau bilang apa, ternyata cuman ini, hahahah.”

Aku segera menutup mulut Marwah. Mukanya yang tadi terlihat tegang, kini mencair layaknya ice yang terkena panas.

“Memangnya tadi kamu pikir apa?” tanyaku yang ingin tahu apa yang ada di dalam pikirannya.

“Ada deh, tapi gue percaya kok apa yang loe bilang barusan. Secara loe kan anak baik, jadi nggak mungkin lah loe ngelakukan hal itu.”

Aku tercekat mendengar perkataan Marwah, bukan aku tak mengerti apa yang dia maksud.

“Udah, ah! Entar gue telat lagi,” ucapnya sebelum menutup pintu kamar mandi rapat.

***

Aku menutup wajah dengan bantal, berusaha menghilangkan apa yang telah terjadi. Namun, sekeras apa pun aku mencoba tetap saja bayang-bayang tentang keadaan tubuhku yang menjijikkan kembali melintas.

Bahkan, Marwah sendiri pun mengatakan aku anak baik. Namun, kenapa ini semua terjadi padaku. Semesta begitu kejam, sudah cukup masalah yang ada sebelum ini membuatku menderita. Namun, kenapa Dia kembali memberikan cobaan yang begitu berat?
Seandainya tadi malam aku mengizinkan Irwan untuk mengantar, pastilah semua ini tidak terjadi. Tanganku tak henti-hentinya memukul kasur yang menjadi alas tidur sebagai pelampiasan. Aku benci semua ini, benci.

“Acha? Kamu nggak jadi pergi?”

Suara Mira menghentikan gerakan tanganku. Entah kapan dia membuka pintu kamar yang sebelumnya telah tertutup rapat.

“Cha, kamu sakit?” tanyanya dengan nada khawatir lantaran aku tak menjawab.

Aku menahan bantal yang menutupi seluruh permukaan wajah, tak ingin Mira melihat betapa hancurnya diriku saat ini.

“Enggak, cuman capek doang. Hari ini Hafsah nggak bisa.”

Aku sengaja berbohong pada Mira agar ia tak banyak bertanya, padahal hari ini aku sudah berjanji dengan Hafsah—teman kelompok—untuk mengerjakan tugas persentasi mata kuliah statistik. Pastilah ia akan kecewa karena aku tak menepati janji.

“Oh iya, handphone kamu kenapa nggak aktif? Tadi malam Irwan nelponin aku berkali-kali karena mencemaskanmu.”

Mungkin tadi malam Mira nginap di kos temannya, makanya ia tidak tahu kalau tadi malam aku
Diubah oleh gitalubis
Numvang lewat gan emoticon-Traveller

Bidadari yang Ternoda
Quote:


langsung crotkan gan : https://kask.us/izpAG

emoticon-Cendol GanLN ILUSTRATION TEASERemoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol GanKISAH SI MANSYUR
emoticon-Cendol Gan


Bidadari yang Ternoda
Bidadari yang Ternoda
Bidadari yang Ternoda
Bidadari yang Ternoda
profile-picture
gitalubis memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan

Par II (B)

Mungkin tadi malam Mira nginap di kos temannya, makanya ia tidak tahu kalau tadi malam aku tak ada di sini. Mira itu sangat cinta dengan organisasinya, sampai-sampai waktunya untuk istirahat di sini pun bisa dihitung.

“Aku kehilangan ponsel, Mir.”

Penjahat itu bukan hanya mengambil kesucianku, tapi ponsel dan sejumlah uang yang di dalam dompet juga mereka kuasai.

“Kok bisa sih, Cha?”

Kini bantal itu telah diangkat Mira dari wajahku, walau begitu aku masih tak mampu melihatnya.

“Kamu nangis, Cha? Cerita dong kronologinya gimana.”

Sialnya walau aku menutup mata, Mira masih bisa melihatku menangis.

“Mir, tolong jangan tanya ini sekarang. Aku lelah banget, butuh istirahat,” ucapku memelas.
“Satu lagi, jangan bilang hal ini pada Irwan.”

Mira hanya menggangguk, setelah itu kulihat ia pun ikut berbaring. Sepertinya Mira juga kelelahan. Menit selanjutnya, suara dengkuran Mira yang halus menemani senduku.

Aku menatap langit-langit kamar yang besarnya hanya 3x4 meter yang diisi oleh tiga mahasiswi. Luka ini terlalu sakit untuk kupendam seorang diri, tapi pada siapa aku akan membaginya walau hanya lewat cerita? Air yang keluar melalui bola mataku ikut membasahi bantal yang kupakai.

“Cha ... cha ... bangun, kamu kenapa, Cha?”

Aku tersentak kala seseorang menyentuh pipiku. “Jangan mendekat!” jeritku sambil mendorong tubuhnya.

Setelah sadar sepenuhnya, betapa terkejutnya aku bahwa yang kudorong itu Mira. Mira sedikit meringis, mungkin dorongan tadi terlalu keras.

“Mir ... maaf, ya. Aku tidak sengaja,” ucapku sedikit memohon padanya.

Ekspresi wajahnya yang tadi terkejut, kini telah hilang. Perlahan Mira merangkak mendekatkan posisinya denganku.

“Aku nggak apa-apa, Kok. Aku bangunin kamu, karena kamu tidur sambil sesengkuk. Memangnya tadi mimpi apaan?”

Aku tak percaya apa yang dikatakan Mira, apakah mimpi yang kualami memang sesedih itu? Sampai saat alam bawah sadarku belum pulih pun air mataku ikut menetes.
Tangan Mira menyentuh pipiku, benar saja ada sisa air mata di sana.

“Kamu nggak mau cerita sama aku? Siapa tahu aku bisa bantu. Apa kamu shock karena ponselmu hilang?”

“Bukan karena ponselku yang hilang Mir, tapi kehormatanku.” Seandainya kata itu bisa didengar Mira tanpa harus perlu kuucapkan, sudahlah tentu ia akan menenangkanku.
Sayangnya, kata-kata itu hanya sebatas jeritan hati. Aku terlalu malu untuk menceritakannya.

“Mungkin, Mir.” Akhirnya kata itu yang keluar.
Mira mengelus pundakku. “Kamu sabar ya, sebelum mendapatkan ponsel baru, kamu bisa kok pakai punyaku dulu. Sekarang yang terpenting kamu selamat, untung aja kamu nggak kenapa-kenapa. Gimana coba kalau mereka memperkosamu, seperti berita yang lagi marak tu ....”

Sayangnya, kata-kata Mira malah membuatku semakin terisak. Aku tahu sebenarnya maksud Mira ingin membesarkan hatiku, tapi kalimatnya yang terakhir malah membuatku tak tahan untuk menahan tangis.

“Loh. Aku salah ngomong ya, Cha. Maaf ya.”

Setelah itu, Mira bingung bagaimana cara membuatku berhenti menangis.

“Acha kenapa nangis?” tanya Marwah yang baru pulang. “Oh gue tahu, pasti loe nggak tahan sakitnya, kan? Bentar, ya!”

Aku berhenti terisak, Mira, dan aku saling bersitatap. Tak mengerti apa yang baru saja Marwah katakan.

“Sakit? Kamu sakit apa, Cha? Kok aku yang teman sekamarmu malah nggak tahu?” Mira mencecarku dengan berbagai pertanyaan yang aku sendiri juga tidak tahu.

Tak berselang lama, Marwah kembali. “Ini telur kodok, nanti loe lengketkan disekitaran bisul biar nggak tambah besar. Oh, iya, itu bawaannya mau demam.”

Aku menerima bungkusan yang kata Marwah isinya telur kodok, tak percaya bahwa ia memberikan ini karena pembicaraan kami pagi tadi.

Ada rasa bersalah saat tadi aku hanya menganggap tanya Marwah sebagai bentuk kekepoan atas hidup orang lain, ternyata ia memang peduli.

Sering kali apa yang kita anggap benar adalah kebenaran, tapi kenyataannya pikiran yang terlalu menguasai itu yang telah menutupi kebenaran.

“Jangan heran kalau gue tahu, karena katanya pengalaman adalah guru terbaik.”
Setelah mengatakan itu, Marwah langsung kembali ke kamarnya, istirahat mungkin.
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan rinandya memberi reputasi

Tamu Di Tengah Malam

Di bawah pohon pepaya yang berbuah lebat, aku duduk menatap langit berwarna kemerahan yang terlihat sangat memikat. Namun, sayangnya keindahan itu tak berlaku lama, karena lama-kelamaan warnanya mulai memudar. Ya, seperti itulah gambaran kehidupan. Tak ada yang abadi selama kau masih berpijak di bumi-Nya, keindahan, keinginan, semua itu layaknya fatamorgana.

“Udah mau maghrib loh, Cha. Entar kamu kesambet.”

Teguran Mira sukses membuatku terkejut. Saat ini aku memang sedang duduk di belakang rumah dekat jemuran.

“Eh, piringnya biar aku aja yang nyuci, Mir!” larangku saat kulihat ia membawanya.

Rumah yang kami kontrak ini, mempunyai tempat mencuci yang cukup lebar di belakang rumah. Halamannya yang luas ke belakang pun membuatku senang menghabiskan waktu di sini ketimbang halaman depan.

“Nggak apa-apa Cha, sekalian juga.”

Aku menyerah, tak lagi berusaha mengambil piring kotor itu dari tangannya. Mataku fokus menatap apa yang Mira lakukan, selanjutnya tangannya sibuk membasuh permukaan wajah.

Ya, Mira mengambil wudhu untuk melaksanakan salat maghrib yang sebentar lagi akan tiba.

“Kamu nggak wudhu?” tanyanya yang membuatku terbengong.

Aku hanya diam menatap Mira. “Sekeras apa pun kamu, aku tak akan pernah bosan untuk mengajakmu kepada kebaikan. Jika bukan saat ini, mungkin suatu saat nanti hatimu akan luluh,” ucapnya menepuk bahuku pelan sebelum berlalu.

Mira adalah seorang teman yang tak henti-hentinya mengingatkanku tentang kewajiban kepada Sang Pencipta. Bahkan, aku yang mendengarkan sampai jengah, tapi ia tak pernah lelah.

Lantunan ayat Al-qur’an yang dibacakan Mira membuat hatiku merasa lebih tenang. Hingga di pertengahan ayat surat Abasa, air mataku menetes. Aku masih ingat betul tentang penjelasan ayat ini walau sudah bertahun-tahun lalu aku mempelajarinya. Ayat yang menjelaskan tentang bagaimana sibuknya kita pada urusan masing-masing, saat itu kita tidak lagi peduli dengan saudara, ibu, bapak, istri, atau pun yang lainnya.

“Cha, ada yang nyari kamu tuh.”

Sella menyembulkan sedikit kepalanya dari luar, setengah berbisik ia mengucapkannya karena tahu kalau Mira sedang mengaji.

Aku yang sedang berbaring langsung bangkit, menyisir rambut ala kadarnya agar tidak terlihat amburadul. Tanpa ingin menanyakan pada Sella siapa yang bertamu, aku langsung berjalan menuju teras rumah.

Dari punggung badannya yang mempunyai bidang lebar, aku sudah bisa memastikan bahwa itu Irwan. Kenapa ia harus datang kemari sih?

“Ada apa, Wan?” tanyaku yang membuatnya langsung berbalik menghadapku.

Tatapannya yang menelisik dari ujung kaki sampai ujung kepala, membuatku risih. Ya, aku tak suka bila dipandangin seperti itu.
“Kamu sudah sehat, Cha? Maaf ya, baru bisa jenguk sekarang.”

Kemarin aku meminta Irwan untuk menyampaikan izinku pada bos agar tidak masuk kerja dengan alasan sakit, melalui ponsel milik Mira.

“Udah agak mendingan, kok. Duduk Wan, biar aku panggilkan Mira juga.”

“Nanti aja, aku masih mau ngobrol sama kamu,” cegah Irwan saat aku hendak meninggalkannya.

Jadilah sekarang kami duduk berdua di teras rumah yang menghadap jalan. Untuk beberapa saat tak ada yang memulai, entah kenapa embusan angin malam yang berhasil membuat daun mangga terlepas dari rantingnya lebih mencuri perhatianku.

“Jadi, kapan kamu masuk kerja, Cha?” tanya Irwan memecah keheningan.

Aku pun tak tahu, perasaan takut tentang pulang malam tiba-tiba saja menghantui. Bukan karena takut ada hantu, tapi takut kalau peristiwa itu terulang lagi.

“Kayaknya, aku bakal berhenti dari sana.”

“Loh, kenapa? Bukannya kamu lagi butuh pekerjaan ini ya?” tanya Irwan penasaran.
Aku memang masih butuh pekerjaan ini, terlebih lagi sekarang ponselku telah hilang. Namun, bayang-bayang malam itu masih membuatku trauma.

“Aku masih bisa nyari kerja di tempat lain kok .... Kalau nggak ada yang mau diomongin lagi, aku masuk ya.”

“Tapi, tolong beri tahu alasannya kenapa kamu sampai berhenti kerja segala?”

Kini tubuhku sudah berdiri tegak hendak meninggalkannya. “Aku udah nggak bisa pulang malam-malam lagi. Oh, makasih untuk buahnya ya, tapi aku harus istirahat, Wan,” elakku yang tak ingin mendengar pertanyaanya lebih banyak lagi.

“Kalu gitu, tolong panggilkan Mira, ya!”

Aku hanya tersenyum sambil mengangguk mendengar permintaannya. Pintu kamar yang terbuka bisa membuatku langsung menatap Mira yang tengah sibuk mengetik sesuatu di laptop miliknya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
Komenn dong
Sedih gk ada yg komen
Berasa kayak gk ada yg baca, hiks
Cerita yg menarik tapi terasa lajunya agak kecepetan deh...
Atau emang sengaja ngebut diawal krena ceritanya mau berfokus di pasca 'kejadian' kah?
profile-picture
profile-picture
rinandya dan gitalubis memberi reputasi
Diubah oleh akudanme
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan

Tamu Di Tengah Malam (2)

“Mir, Irwan mau ngomong tuh sama kamu.”

Setelah mendengar itu, Mira langsung mengenakan mukenah yang tadi dipakainya salat. Berbeda denganku, Mira selalu menutup rapat auratnya bila keluar rumah. “Sebagai seorang muslimah, sudah menjadi kewajiban kita untuk menutup aurat. Tak ada tawar-menawar dalam hukum yang sudah ditetapkan. Panasnya dunia, bukanlah alasan agar kita terhindar dari kewajiban yang sudah jelas tertuang dalam Al-quran.”

Seperti itulah jawaban Mira saat aku pernah memintanya untuk melepaskan kerudungnya. Saat itu, kami sedang mengikuti seminar di ruangan tertutup yang diisi oleh ratusan bahkan hampir seribu peserta. Kulihat Mira mengibas-ngibaskan tangan ke dalam jilbabnya. Dan hal itu terjadi setelah seminggu perkenalanku dengan Mira.

“Cha, tolong sleep-kan laptopku ya.”

Ucapan Mira membuatku tersentak dari kejadian delapan bulan lalu, segera kulakukan apa yang dipinta Mira. Setelah itu kembali berbaring di atas peraduan yang menempel dengan lantai.

Sudah empat hari berlalu sejak kejadian yang menggenaskan itu. Aku tak boleh terus-terusan seperti ini, ada banyak hal yang harus kulakukan, bahkan impian yang selama ini kuimpikan belum tercapai.

Pahitnya perjuangan untuk mengambil gelar sarjana sudah sampai separuh jalan. Ya, aku harus bangkit, setidaknya untuk menyelesaikan perjuangan yang telah kulalui agar tidak sia-sia.
Yang lalu biarlah berlalu, tak ada yang perlu disesali dengan histeris sampai melupakan persiapan untuk masa yang akan datang.
Konon katanya, masa lalu itu layaknya kaca spion. Kita hanya perlu melihatnya sesekali ke belakang untuk memastikan keadaan. Namun, jika terlalu fokus melihat spion itu, kita bisa saja menabrak apa yang ada di depan.

Aku memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh, dan otak yang akhir-akhir ini bekerja sangat keras. Berharap kesedihan serta ingatan buruk juga ikut menghilang bersamaan dengan mata yang terlelap.
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan namakuve memberi reputasi
Silauan cahaya lampu yang menerang membuat mataku sedikit menyipit. Suara Mira membaca Alquran yang terdengar seperti orang berbisik mampu membuatku terjaga. Padahal, bila suara adzan subuh menggema, aku tak pernah terbangun.

Apa ini sebagai pertanda, bahwa Sang Kuasa ingin melihatku bersujud? Apa ini saatnya aku kembali ke jalan-Nya yang benar?

“Acha?”

Panggilan Mira yang terdengar seperti tanya, mampu menghilangkan pertanyaan yang hadir sejak aku terbangun. Aku langsung mendudukkan diri, meyakinkan panggilan Mira bahwa aku memang benar-benar sudah bangun, Mungkin ia ragu karena tak biasanya aku terbagun sepagi ini.

“Kamu nggak mau tahajud? Masih ada lima belas menit sebelum subuh, sayang loh melewatkan kesempatan?”

Mira menghunjamku dengan beberapa pertanyaan, karena sedari tadi aku tak beranjak dari kasur yang tidak seberapa empuk ini.

Mendengar itu, aku langsung berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Aku tak boleh membiarkan kesempatan ini berlalu seperti kata Mira. Lagi pula, sudah lama sekali aku tidak bersujud, mungkin sejak aku menjalin kasih dengannya.

Wangi mukenah ini pun sudah seperti wangi lemari akibat betapa lamanya tidak pernah kupakai. Ada debaran yang begitu dahsyat kala aku mulai bertakbir, sesaat setelah itu pikiranku hanya terfokus pada lantunan-lantunan ayat yang keluar dari bibir. Walau hampir seluruh bacaan dalam salat itu tidak kumengerti, tapi entah kenapa aku terisak.

Ibadah kali ini benar-benar terasa nikmat, padahal sebelumnya aku juga pernah salat walau sudah lama sekali, dan kenikmatan ini tidak kurasakan saat itu.

“Kok malah bengong? Jamaah, yuk!” ajak Mira yang menyikut bahuku.

Aku mendongak melihatnya yang sudah berdiri tepat di sampingku. “Jamaah apa?” tanyaku.

“Subuh, Cha. Kan udah azan, kamu nggak dengar?”

Aku menggeleng, ternyata apa yang sedang kupikirkan mampu membuatku kehilangan fungsi indra pendengaran. Baru kali ini kami berdua berjamaah, Mira sebagai imam, dan aku sebagai makmum.

“Kamu kenapa, Cha?” tanya Mira yang sudah melepaskan mukenahnya dari tadi.

Aku yang masih duduk di atas sajadah dengan mukenah yang masih menempel menautkan alis, tidak mengerti tentang apa yang ditanyakan Mira.

“Aku dengar, pas tahajud tadi kamu terisak. Terus pas sujud terakhir, sayup-sayup aku mendengar sepertinya kamu juga terisak. Sekarang, kamu bahkan masih setia duduk di situ. Padahal, bentar lagi matahari mau terbit.”

Aku menatap luar jendela. Benar saja, hari sudah mulai terang.

“Kamu kalau lagi ada masalah cerita aja, siapa tau aku bisa bantu. Jangan dipendam sendiri,” ucap Mira sekali lagi.

“Aku nggak kenapa-kenapa kok, Mir.”

Aku menyakinkannya kalau aku sedang baik-baik saja. Biarlah semua tertutup rapat, tanpa ada yang tahu. Karena tak semua luka harus dibagi. Kejadian malam itu, aku sudah memutuskan untuk melupakannya.

“Mir, aku mau nanya, tapi kamu jangan tersinggung atau kaget ya.”

“Memangnya kamu mau nanya apa?” tanya Mira yang sedang mengeluarkan pakaian dari lemari.

“Kamu, pakai baju tertutup kayak gitu, nggak pernah digoda laki-laki, ya? Maksudku, kalau kita sudah menutup aurat dengan sempurna, apakah ada jaminan bahwa kita terlindung dari godaan laki-laki kebanyakan?”

Sedikit ragu aku menanyakan hal itu pada Mira, karena sejujurnya aku juga penasaran. Mira yang tadinya mendengarku sambil mengerjakan sesuatu, kini menatap dengan kening berkerut. Namun, setelahnya kembali menampilkan wajah yang begitu indah bila dipandang.

“Aku tidak bisa mengatakan bahwa, semua muslimah yang berpenampilan sesuai syariat islam atau menutup aurat dengan sempurna akan terlindungi dari kejahatan lelaki, karena ada juga korban yang mengalami pelecehan seksual adalah mereka yang menutup aurat.

Namun, bukankah kebanyakan dari lelaki yang terangsang adalah karena melihat kemolekan tubuh kita? Bukankah karena sebab munculnya akibat?

Setidaknya dengan menutup aurat ini, aku berusaha untuk tidak membuat mereka tergoda, untuk tidak membuat mereka berdosa karena melihat auratku, untuk tidak membuatku berdosa karena telah memamerkan aurat. Dan, yang terpenting dari menutup aurat ialah, aku sedang melaksanakan kewajiban terhadap Allah.”

Aku hanya diam mendengarkan, mencoba memahami setiap kata yang dijelaskan Mira dengan panjang lebar. Namun, untuk pertanyaanku tentang apakah ia pernah digoda, sepertinya tidak dijawab.
Setelah itu, Mira kembali melanjutkan aktivitas. Aku hanya memandangnya, sambil masih terus berfikir. Niatan untuk ikut menutup aurat semakin yakin.
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan rinandya memberi reputasi
“Mir, menurutmu kalau aku berhijab gimana?”

Gerakan Mira yang sedang menggosok hijabnya seketika berhenti. Aku yang sedang mengoleskan hand body di sekujur tubuh menanti jawabannya.

“Kamu serius, Cha?”

Mata Mira yang berbinar saat mengatakan itu, membuatku mengangguk dengan antusias. Cepat Mira mencabut colokan setrika, lalu mendekap tubuhku dengan erat. Aku sampai terhuyung karena serangan pelukannya yang mendadak.

“Masya Allah, Acha. Aku senang dengar kamu bilang gini.” Mira menepuk-nepuk bahuku lembut. “Kalau Kak Anisa ada di sini, pasti ia juga tak kalah bahagianya,” tambahnya lagi.

Kak Anisa adalah teman sekamar kami, kesibukan di semester akhir membuatnya jarang ada di sini. Ia selalu menginap di tempat temannya. Walaupun yang mengontrak rumah ini ada enam orang, tapi sangat jarang enam orang ini lengkap berada di rumah secara bersamaan.

“Tapi, Mir ....” Aku sengaja menjeda apa yang hendak kukatakan.

Mira yang mendengar kata tapi dari mulutku langsung melepaskan pelukan. Kini mata kami saling bersitatap. “Tapi apa?” tanyanya penasaran.

“Aku hanya punya satu jilbab,” ucapku dengan menggigit bibir bawah.
Karena tidak berhijab, aku hanya membawa satu jilbab berwarna hitam dari rumah. Selain itu, kutinggalkan di kampung, itu pun tidak banyak.

“Kamu boleh pakai punyaku dulu kok, atau bajunya juga boleh sekalian, lagi pula ukuran badan kita sama.”

“Cukup jilbab aja, Mir.”

Untuk pakaian, aku masih bisa memakai milikku sendiri. Kemeja serta kaosku semua berlengan panjang, walau tidak gamis, tapi masih bisa menutup aurat.

***

“Masya Allah, kamu tambah cantik kalau begini Cha.”

Menurutku pujian Mira terlalu berlebih, bagaimana mungkin sehelai kain berwarna maroon menutupi rambut hitamku yang biasa tergerai membuatku bertambah cantik. Namun, aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.

“Semoga aku bisa istiqomah seperti kamu ya, Mir. Dan aku berharap kamu tidak pernah bosan menasehati serta mengajariku untuk hal-hal menuju kebaikan.”

Jika dulu aku ingin Mira berhenti memberiku nasehatnya, maka hari ini aku menarik ucapan yang pernah kuucapkan itu. Aku tak ingin Mira berhenti menunjukkan padaku jalan kebaikan.

“Bukankah setiap orang mempunyai kewajiban untuk saling mengingatkan? Dan semoga kamu juga mau mengingatkan jika aku melakukan kesalahan.” Mira melepaskan tangannya yang tadi kugenggam. “Ayo berangkat, takutnya telat,” ucapnya yang sudah keluar dari kamar.

Walau berbeda jurusan, tapi jadwal masuk kami sama-sama pagi. Tak jarang aku selalu nebeng dengan Mira kalau ia berangkat dari sini, lumayan untuk meminilasir pengeluaran.

Dari depan fakultas, aku sedikit berlari agar lebih cepat sampai ke depan kelas. Karena tadi malam hujan deras, simpang empat yang biasa kami lewati menuju kampus menjadi macet akibat genangan air yang tak dalam. Tentu saja prediksi untuk sampai di kampus tepat waktu meleset.

Dengan sedikit hati-hati, kubuka pintu kelas yang tertutup, meminta izin agar dibolehkan untuk mengikuti mata kuliah yang sedang berlangsung. Tampak mereka yang ada di dalam kelas terkejut melihatku, terutama Pak Adnan selaku dosen bahasa.

Aku berjalan menuju kursi belakang setelah mendapatkan izin masuk. Beberapa pasang mata masih setia mengamati gerak gerikku.

“Tiga hari nggak masuk kelas, sekali masuk langsung berjilbab aja. Keren kau, Cha.”

Baru saja aku mendudukkan diri, Amoy langsung mengeluarkan kata-kata yang kuyakin sama dengan apa yang dipikirkan teman-teman di dalam kelas ini.

“Tiga hari itu, aku lagi sibuk nyari hidayah,” ucapku yang ikut berbisik.

Tak kusangka Amoy langsung terbahak mendengar jawabanku, tentu saja hal itu membuat perhatian mereka yang sedang fokus pada pelajaran menjadi ambyar.

Cukup dengan tatapan mata elang milik Pak Adnan, Amoy langsung membungkam mulut dengan sendirinya.

“Pintu kelas akan terbuka lebar kalau kamu mau ninggalin kelas ini.”

Suara bariton milik Pak Adnan yang terdengar kurang bersahabat, membuat nyali Amoy seketika menjadi ciut. Aku yang menjadi penyebab Amoy tergelak hanya bisa menunduk merasa bersalah.

Setelah dilihat keadaan kelas yang mulai tenang, Pak Adnan kembali menjelaskan teori mata kuliahnya. Ya, begitulah Pak Adnan, dia tidak akan menjelaskan kalau ada salah satu mahasiswa atau pun mahasiswi yang tidak fokus pada apa yang disampaikannya.

Semua seakan terhipnotis kala dosen muda lagi tampan itu menjelaskan, penjabaran kalimat yang simple membuatku dengan mudah mengerti teori yang dijelaskan Pak Adnan. Hingga dua jam mata kuliah yang dibimbingnya pun terasa sangat cepat.

“Kesel banget dah aku sama bapak itu, hidupnya terlalu kaku banget. Telinganya juga sensitif amat sama suara yang bukan miliknya, bahkan kalau tutup pulpen jatuh dia juga dengar kali ya.”

Amoy menggerutu kala Pak Adnan sudah keluar dari kelas. Semua yang dikatakan Amoy benar adanya, bahkan bapak itu sangat jarang sekali tersenyum pada kami, bisa dikatakan pun hampir tak pernah.

“Lagian suara kamu tadi besar loh, Moy. Ya wajar kalau Pak Adnan dengar,” ucapku memberi tahunya.

“Eh, cerita dong kenapa tiba-tiba kamu pakai jilbab?”

Amoy tak lagi membicarakan perihal Pak Adnan, baginya alasan aku mengenakan hijab lebih penting dari yang lain.

Sambil menunggu dosen selanjutnya, aku memberi tahu Amoy tentang perubahan penampilanku. Namun, tentu saja tidak secara keseluruhan, karena ada hal yang memang tak pantas untuk diceritakan.


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di