CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cbc851a018e0d5684371b5f/pacarku-hidup-kembali

PACARKU HIDUP KEMBALI (Romance, Ecchi, Horror, Comedy)

Tampilkan isi Thread
Halaman 124 dari 127
wah ngga sabar buat baca nesxt part nya
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
Akhirnya selesai juga baca marathon cerita ini

Mantap gan, ceritanya bikin penasaran aja jalan ceritanya

Ditunggu update lanjutannya
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
Akhirnya
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
Lanjut gan
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
HOREEE AKHIRNYA TAMAT JUGA.
profile-picture
profile-picture
Martincorp dan qwaken memberi reputasi
Akhirnya sampek juga di penghujung cerita... Thank you gan
profile-picture
profile-picture
Martincorp dan oktavp memberi reputasi
Maaf nih Gan/Sis, ane lagi ngetik lanjutan cerita ini lagi, mohon kesabaran dan maklum atas semua ini, ane punya kesibukan di Kehidupan nyata yang membuat kelanjutan cerita ini jadi lambat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a1l6v6i90 dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Siap menunggu update kang martin....take your time...
Dan sekarang psbb lagii... Semoga agan martin sempet nerbitin update lagi... Aminnn emoticon-Cool emoticon-Cool
Diubah oleh BlackMX2010
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
BAGIAN 33
KOKI TERKENAL
part 2


Pagi hari, dimana suara burung saling bersahutan menghiasi suasana sejuk Kota Bandung. Mentari pun mulai tak malu menunjukkan keperkasaannya dari balik pegunungan Priangan. Asnawi sedang sibuk menyisir rambutnya yang telihat kelimis terkena jelly. Aroma tubunya pun meyerbakkan wewangian yang membuat suasana menjadi segar.

Enam bulan sudah Asnawi ditinggal oleh Cascade yang pergi ke Perancis untum menimba ilmu. Selama itu pula ia keuilangan kontak dengan wanita itu. Belum sembuh luka akibat kehilangan Hayati, sekarang Asnawi harus ditinggal Cascade yang juga dicintainya. Akan tetapi penderitaan Asnawi tak berlangsung lama, Bi Asih telah memberikan rasa cinta kepadanya. Ia mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Asnawi ketika ditinggal Cascade.

Pada Awalnya, Asnawi tak menghiraukan ungkapan perasaan Bi Asih, namun berkat usahanya yang gigih dalam memperjuangkan cintanya, perempuan beranak satu itu berhasil meyakinkan Asnawi. Ia pun akhirnya resmi dipinang sebagai kekasih oleh Asnawi.

Pagi itu, Asnawi tengah memakai sepatunya di depan pintu kamar kost nya, tiba tiba Utami muncul dari lantai. Asnawi pun terjengkang karena kaget melihat kemunculan Utami.

"ANJIIING! KAGET GOBLOK!!" teriak Asnawi.

"Hahahahaha... segitu aja kaget, dasar payah!!" ucap Utami sambil menjulurkan tangannya untuk membantu Asnawi bangkit.

"Kamu ngapain sih muncul dari lantai, di depan pintu pula"

"Aku kan tiap hari muncul dari situ Wi... lha kamu tuh ngapain duduk didepan pintu kamar?"

"Aku mau pergi Mi... bentar lagi ada yang mau jemput aku"

"Pergi kemana nih? Kuliah? Sekarang kan hari minggu"

"Aku mau ngedate sama pacarku"

"Cie... cie... cie... akhirnya kamu move on juga dari Mbak kunti Wi... hehehe... kamu pacaran sama siapa?"

"Sama Bi Asih"

Utami terkaget kaget mendengar jawaban Asnawi. Ia menggelengkan kepalanya sebagai ekspresi tak percaya.

"Kamu serius?? Kamu pacaran sama dia? Dia itu janda lho... umurnya juga jauh lebih tua darimu"

"Aku serius Tami!! Cuma Bi Asih yang mau mencintaiku... lagian aku gak masalahin perbedaan usia, Hayati dulu jauh lebih tua lagi... dia seumur sama bapakku"

"Oh... baiklah kalo itu keputusanmu, aku gak mau ikut campur, aku cuman arwah penunggu rumah ini... aku gak ada apa apa nya dibanding Bi Asih"

Tiba tiba Utami menundukan kepalanya. Sayup-sayup terdengar isakan keluar dari mulutnya. Asnawi pun merasa simpati. Ia memegang kedua pipi Utami dan mengangkat kepalanya. Tampak mata Utami berkaca-kaca seakan mah menumpahkan air matanya.

"Kenapa kamu nangis Tami?"

"Gak apa apa Wi... "

"Hmmmm... kamu gak suka aku pacaran sama Bi Asih?"

"Enggak Wi!! Itu mah hak kamu, aku gak mau ngurusi"

"Terus kenapa nangis atuh?"

"Aku takut kamu ninggalin aku Wi... kamu bentar lagi jadi sarjana... terus kamu juga udah dapet pacar dan pasti akan langsung nikah... terus kamu bakalan pindah dari sini ninggalin aku sendiri"

"Oh gitu, Tami denger yah! Aku gak akan ninggalin kamu... aku juga gak akan pindah atau keluar dari kostan ini, karena disini banyak kenangan indah bareng Hayati dan kamu... aku gak mau menghapus semua itu... lagian aku belum tentu juga nikah sama Bi Asih, siapa tau ada cewek lain... jodoh kan gak tau Mi... dan kalopun aku nikah suatu hari nanti, aku akan tetep dateng kesini, nengokin kamu sama ibumu... karena kalian udah kuanggap sebagai keluarga"

"Nawiiiiii...."

Utami memeluk Asnawi dengan penuh haru. Air mata tak terbendung lagi, tercurah dari pelupuk mata arwah gentayangan itu. Hawa dingin dari tubuhnya menjalar ke seluruh tubuh Asnawi hingga menggigil karenanya.

"Udah pelukan pelukannya Tami!! tubuhmu dingin banget" kata Asnawi sambil melepaskan pelukan.

"Iiiih!! kamu mah ngerusak suasana aja ah" protes Utami.

"Enggak atuh !! aku cuman kedinginan... hehehehe"

Tak lama berselang, terdengar suara klakson mobil di depan rumah kost. Asnawi pun berdiri untuk melihatnya. Ternyata Bi Asih telah tiba, ia tampak anggun dengan memakai setelan seragam koki.

"Itu Bi Asih Wi?" tanya Utami yang kagum.

"Iya Tami... gimana? cantik kan?"tanya Asnawi sombong.

"Hmmm... cantik Wi, tapi masih kalah sama aku" balas Utami yang tak kalah sombong.

"Anjiiir!! yang kayak gini ngaku cantik!! badan kayak papan penggilesan aja sombong"

"Anjiiing dasar raja col* jelek!! siapa yang selama ini doyan sama papan? Bweeeek!!!"

Asnawi memencet hidung Utami yang sedang meledek dirinya, lalu ia pun beranjak pergi menuju Bi Asih yang telah menunggu. Utami merasa kesakitan, lalu ia mengikuti Asnawi.

Bi Asih keluar dari mobilnya begiti melihag Asnawi datang menghampirinya dengan tergesa-gesa. Utami berusaha membalas perbuatan Asnawi, tetapi ia tak bisa mendekatinya ketika Asnawi berada dibawah pancaran sinar mentari. Utami hanya bisa berada dibawah bayang bangunan dan melihat Asnawi yang tengah berbincang dengan Bi Asih.

"Woyy Nawi!! Awas ya kalo pulang nanti, aku balas perbuatanmu!!"ancam Utami dari balik bayang bayang, namun Asnawi tidak menggubrisnya dengan pura-pura tak mendengar.

"BI ASIH!! KAMU HATI HATI YA!! ASNAWI INI COWOK BUAYA!! DIA UDAH BANYAK NIDURIN CEWEK... TERMASUK AKU, DAN DIA GAK MAU TANGGUNG JAWAB!!" teriak Utami.

"Sssssssst!! Kamu diem yah!!" balas Asnawi dengan muka kesalnya.

Bi asih kembali dibuat heran dengan tingkah Asnawi yang berbicara dengan ruang kosong.

"Kamu ngomong sama siapa Den?" tanya Bi Asih.

"Anu... hehehe... aku bicara sama temenku" jawab Asnawi hanh tersipu malu.

"Temen? Dimana Den? Disana gak ada siapa-siapa" Bi Asih semakin terheran heran.

"Eh... maaf Bi... yuk ah kita pergi!" ajak Asnawi.

"Kamu belum minum obat yah Den?"

"Udah Bi, emang kenapa?"

"Ah, enggak Den, kamu kayak kurang waras gitu hehehe"

"Yaelah Bibi! Udah deh jangan dibahas!"

"Maaf Den... hehehe... abisnya kamu aneh ngomong sendiri"

Asnawi dan Bi Asih masuk kedalam mobil, lalu mereka pun pergi. Utami tampak mengepalkan tangan kepada Asnawi karena merasa kesal.

"Kita sekarang mau pergi kemana?"

"Kita ke cafe Dago Den, aku ada syuting disana buat acara masak"

"Widiiih, hebat nih sekarang kamu jadi selebriti"

"Ah biasa aja kali Den, aku kayak gini kan berkat dukungan kamu juga"

Sejak Cascade pergi ke Perancis, bisnis restoran milik Mommy Cascade diserahkan kepada Bi Asih untuk dikelola. Ia berperan sebagai direktur sekaligus koki eksekutif. Selain itu, Bi Asih juga masih mengurusi rumah tangga Mommy Cascade, itu artinya ia memiliki dua pekerjaan sekaligus.

Tingkat kesibukan Bi asih jadi tinggi, dari semula hanya mengurus rumah tangga menjadi mengurusi sebuah restoran besar yang sangat eksklusif yang diperuntukan khusus untuk orang-orang berkelas. Sebagai direktur baru, Bia Asih memiliki sebuah ide untuk mempromosikan restorannya agar menarik perhatian orang melalui video yang diunggah di internet. Ia sendiri yang menjadi bintang di video itu dengan mempraktikan masak.

Semua usaha yang dilakukan Bi Asih berhasil, dalam kurun waktu yang singkat, restoran menjadi semakin ramai pengunjung dan pamor Bi Asih sebagai koki semakin melesat. Ia mendadak jadi koki terkenal di negeri ini berkat semua video itu, hingga suatu hari ia dikunjungi boleh produser sebuah tv yang menawarinya kontrak untuk jadi bintang pada acara masak memasak.

Awalnya ia menolak, namun setelah mendapat dukungan dari Asnawi, ia pun akhirnya menerima tawaran itu. Bi Asib kini menjelma sebagai selebriti yang terkenal. Selain pintar memasak, penampilan Bi Asih yang cantik sangat memukau banyak orang. Ia berhasil merebut hati para pemirsa tv untuk menonton acaranya. Tentunya hal ini membuat pundi-pundi kekayaanya semakin bertambah.

"Ngomong-ngomong... Jaenal kemana Bi?"

"Dia lagi ikutan les pencak silat Den... sama Angga"

"Wah hebat euy, bakalan jago berantem nih"

"Bukan itu tujuannya Den... tapi biar anakku ini bisa bertanggung jawab sama dirinya"

"Emang bisa Bi?"

"Ya bisa atuh Den... Jaenal nantinya akan memiliki rasa tanggung jawab karena udah punya ilmu bela diri"

"Hmmm... okeh, kalo gitu kapan dia pulangnya? kita jemput dulu sekarang?"

"Gak usah Den... kita langsung ke tempat syuting aja, Jaenal nanti juga dianterin kesana sama Mama Angga"

"Mama Angga? Siapa dia?"

"Ya mamanya Angga atuh Den... emang siapa lagi? kamu mah aneh-aneh aja nanyanya"

"Bukan gitu Bi... aku gak tau orangnya"

"Nanti aku kenalin deh Den... dia orangnya baik lho dan punya hobby kayak kamu"

"Hobby apa? bercinta? hahaha"

"Ihhh bukan Den... malu ah!!"

"Apa atuh Bi?"

"Dia suka nonton film-film kartun Jepang"

"Anime maksudnya?"

"Iya Den... kayak gitu lah, aku juga gak tau istilahnya apa... dan dia sangat terobsesi sama kartun itu, sampe-sampe tiap hari dia selalu pake aksesoris Jejepangan gitu"

"Maen cosplay gitu Bi?"

"Hmmm... costume Den! Bukan cosplay"

"Yaelah Bibiku sayang!! cosplay itu singkatan dari costume play... atau maen kostum... hahahaha"

"Euleuh... hahahaha... aku gak tau Den"

"Dia suka pake kostum apa Bi? pake baju maid? baju anak sekolahan Jepang atau kimono?"

"Kalo di rumahnya ia suka pake kimono... tapi kalo di luar mah bajunya biasa aja Den, dia suka pake rok besar dan panjang... dan yang bikin aku heran... dia suka pake kuping-kupingan hewan"

"Kuping hewan? kuping kelinci Bi?"

"Bukan deh kayaknya... kupingnya tuh lebar dan lancip diujung, terus berbulu oren... sama lah sama warna rambutnya dia"

"Ooh... kalo gitu pasti kitsune... soalnya banyak banget karakter anime yang punya kuping kayak gitu"

"Kitsune? Hewan apa itu Den?"

"Fox... Bi!! "

"Fox? Rubah maksudmu Den?"

"Ya betul... tapi apa Mama Angga gak malu atuh pake kayak gitu kemana mana?"

"Ya gak tau aku juga Den, malahan aku yang jadi malu kalo lagi ketemuan di tempat rame, aku sama dia akrab banget Den... pokokya asik banget lah"

"Ya pasti lah... sesasama emak-emak harus akrab... hahahahahaha"

"Iiiih si Aden ngeledekin Bibi mulu sih!!"

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena terjebak kemacetan, akhirnya mereka tiba di cafe Dago. Asnawi dan Bi Asih berjalan bergandengan tangan menuju kedalam cafe. Di sudut ruangan, seorang wanita memakai hiasan bando telinga rubah memanggil Bi Asih. Mereka pun akhirnya menghampiri wanita berpenampilan aneh itu.

"Hei... Mama Jaenal, apa kabar?" sapa Anggariti.

"Baik Mama Angga... udah lama nih nunggu disini? Anak-anak kemana?" balas Bi Asih

"Enggak kok Ma... baru juga lima belas menit, anak-anak lagi maen game di lantai dua"

"Ayo duduk sini!!"

Anggariti mengajak Bi Asih dan Asnawi untuk duduk dihadapannya. Ia dengan ramah menuangkan teh untuk mereka. Asnawi merasa jantungnya berdebar-debar ketika melihat Anggariti yang tersenyum kearahnya. Pesona kecantikan wanita itu tampak membuat Asnawi jadi salah tingkah.

"Oh iya... Mama Angga, kenalin nih pacar aku...namanya Asnawi"

Anggariti menjulurkan tangannya ke Asnawi sambil tersenyum. "Kenalin... namaku Anggariti"

"I... I... Iya bu... Asnawi" tanggap Asnawi yang gugup.

"Aduh, jangan panggil Ibu dong!! aku gak setua itu kali... panggil Riti aja"

Asnawi hanya mengangguk karena malu, sedangkan Bi Asih menertawakan tingkah gugup pacarnya itu.

...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
OkkyVanessaM dan 40 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Martincorp
Lihat 10 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 10 balasan
Josss
akhirnya asnawi ketemu sama calon pendamping hidup nomor 5 dan karena masuk polling kemungkinan akan merasakan kedasyatan serangan kyubi
profile-picture
profile-picture
johnwang dan Martincorp memberi reputasi
Diubah oleh r.funker
Musuh hayati???
Hahaha hade euy muter ngulur alur na, kanjut mang ~
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
Aaaaahhh...seru nih ketemu Riti yg emang ngincer Asnawi buat balas dendam ke Hayati.
Lanjutttt kaaang emoticon-Toast
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
wahh anggariti ya
Kentang goreng enak di cemil waktu ujan ujan.
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
Penantian yg cukup lama untuk sebuah update,
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
Lagi bum bum bum.. lagiii bum bum bum.. 📣📣📣📣
profile-picture
Martincorp memberi reputasi
BAGIAN 33
KOKI TERKENAL
part 3


Sambil menunggu tim mempersiapkan proses syuting acara memasak, Bi Asih dirias dan didandani oleh make up artist di sebuah ruangan yang ditentukan sebelumnya. Asnawi tidak boleh mengikuti ke dalam ruang rias itu, ia terpaksa menunggu diluar bersama Anggariti. Suasana canggung kembali melanda hatinya. Asnawi seakan tak sanggup untuk sekadar mentap wanita aneh itu. Gunung es pun tumbuh menjulang diantara keduanya sehingga membuat kaeadaan semakin dingin.

Anggariti mulai mencoba meruntuhkan gunung es dengan menawari Asnawi secangkir kopi kepada Asnawi. Ia dengan senyum ramahnya mencoba untuk membuka obrolan sambil mengeluarkan sebuah ekor berbulu dari dalam roknya hingga menyembul keluar. Asnawi terkaget-kaget dengan hal itu. Ternyata dibalik rok besar yang dipakainya, terdapat sebuah ekor besar yang berbulu lebat.

"Duh... gerah banget nih, ekorku sampe keringetan gini" gerutu Anggariti.

"Maaf... apa itu ekor palsu?" tanya Asnawi.

"Yaiyalah Wi... masa ekor asli, emang menurutmu gimana?"

"Kulihat ekor ini kayak asli, soalnya bisa gerak gerak sendiri"

"Hmmm... ini ekor mahal Wi, aku sengaja beli dari Jepang langsung, ekor ini ada robotnya jadi bisa digerakin sama aku... mau pegang?"

"Aku percaya kok... Teh... hehehe gak usah megang"

"Jangan panggil Teteh dong!! Riti aja!!"

"Iya maafin aku Riti"

"Ayok dong pegang Wi!!"

"Enggak Rit, gak usah"

Anggariti memegang tangan Asnawi, lalu dia memaksanya untuk memegang ekor miliknya. Asnawi merasakan kelembutan bulu-bulu ekor Anggariti ketika memegangnya. Selain itu, ekor itu juga menyerbakkan wawangian bunga.

"Gimana? Canggih banget kan ekorku?"

"Iya Rit... bulu-bulunya halus banget, terus wangi lagi"

"Ini mahal banget lah Wi, sekitar 50 jutaan"

"Buseeeet!! Mahal amat!!... tapi... tapi... itu masangin di tubuhnya gimana?"

"Ada semcam sabuk yang dililitin di bokong aku Wi"

"Ooh... aku kira, maaf ekor itu..."

"Ditusukin ke lobang pantat gitu?... ya enggak lah Wi, sakit banget tuh... hahahaha"

Asnawi ikut tertawa ketika Anaggariti melontarkan candaan tentang ekor. Suasana canggung pun kini menghilang, gunung es yang menjulang tinggi telah mencair. Asnawi mulai merasa nyaman mengobrol bersama Anggariti.

"Nawi..."

"Iya.."

"Kamu kok bisa pacaran sama Mama Jaenal, gimana ceritanya tuh?" tanya Anggariti penasaran.

"Ceritanya panjang Rit... kenapa kamu pengen tau?" balas Asnawi.

"Aku penasarn aja, kenapa seleb terkenal kayak Mama Jaenal bisa pacaran sama brondong kayak kamu... hehehehe... jangan tersinggung yah!"

"Gak apa apa kok, aku gak tersinggung... mungkin udah takdir kali aku pacaran sama Bi Asih"

"Bi Asih?? Kamu manggil Mama Jaenal Bibi?"

"Anggap aja itu panggilan sayang dariku... ngomong-ngomong kenapa kamu kepo banget sama aku?"

"Hmmm... Mama Jaenal sama aku memilik persamaan yaitu sama sama janda yang ditinggal mati suami... makanya aku pengen tau cara dia bisa dapetin pacar kayak kamu"

"Aduh... hehehehe... kita baru kenal nih, tapi kamu udah mau tau semuanya tentang aku yah"

"Yaudah ikut aku!!"

Anggariti mengajak Asnawi pergi keluar cafe. Ia menarik tangan Asnawi untuk mengikuti langkahnya. Asnawi menuruti begitu saja ajakan wanita itu. Tangannya sangat halus bagaikan kain sutra, hal ini membuat Asnawi terbuai dengan pesonanya.

Ia mengajak untuk duduk di sebuah bangku panjang yang tebuat dari kau jati. Bangku itu menghadap ke sebuah lembah yang ditumbuhi pepohonan yang lebat. Di dasar lembah itu terdapat sungai kecil yang selalu menghasilkan suara deru aliran air yang membuat suasana hati menjadi tenang.

"Aku sengaja ngajak kamu kesini biara suasana ngobrol kita tenang... soalnya didalem tadi udah pada rame banyak orang... sekarang aku pengen tau cerita kamu bisa jadi pacar Mama Jaenal"

"Okeh... aku mau cerita, tapi aku juga pengen tau cerita kamu... tadi kamu bilang kalo kamu tuh senasib sama Bi Asih... maksudnya gimana?"

"Baiklah... aku janji mau nyeritain kisahku, ini pertama kalinya aku cerita tentang kisah hidupku sama orang asing"

Asnawi menarik napas panjang, lalu ia menceritakan semua kisah tentang pertemuan pertamanya dengan Bi Asih kepada Anggariti.

"Bi Asih adalah pembantu yang bekerja di rumah pacarku dulu... waktu itu, umurku baru 16 tahun sedangkan dia udah 25 tahun, dia baru nikah sama suaminya tapi belum dikaruniai anak"

"Gak mungkin!! Masa Mama Jaenal Pembantu? Bukannya ia lulusan luar negeri?"

"Bi Asih bukan pembantu biasa... dia adalah pengurus rumah tangga, dia mngatur segala kebutuhan rumah, orang tua pacarku tuh dulu orang kaya... mungkin dia adalah orang terkaya di pulau ini... aku juga gak tau kekayaannya kayak gimana, yang aku tau dia mempekerjakan Bi Asih dan menggajinya dengan fantastis"

"Wow... orang tua pacarmu hebat banget... terus kenapa sekarang kamu malah pacaran sama pembantunya?"

"Suatu hari, ketika aku kelas XI SMA... suami Bi Asih meninggal gara-gara kecelakaan... waktu itu dia lagi hamil tua, dia sangat shock denger kabar itu, pas lahiran pun dia cuman ditemenin sama aku dan pacarku... aku mulai deket sama dia semenjak itu... kita pun sampe terlibat hubungan gelap"

"Apaaaaa!!! Jadi kamu selingkuh sama Mama Jaenal?"

"Ya begitulah... tapi aku keburu putus sama pacarku dulu... jadi secara teknis, aku gak selingkuh"

"Yeeee!! sama aja kali!! apa mungkin kamu putus gara-gara selingkuh sama Mama Jaenal?"

"Enggak-enggak!! Aku udah single... lagian aku diputusin sama pacarku dengan alasan gak jelas, terus kita masih berhubungan baik... bahkan kemarn kami sempet balikan sampe akhirnya kita pisah lagi karena pacarku pergi ke Perancis untuk lanjut sekolah"

"Hmmm... terus kamu jadian sama Mama Jaenal?"

"Iya betul... aku jadian sama dia"

"Okeh... menarik juga ceritamu"

"Iya begitulah... sekarang giliranmu cerita!"

"Baiklah... tadi kamu penasaran dengan kesamaan aku sama Mama Jaenal?"

"Iya"

"Persamaan kita sama sama ditinggal mati suami di saat-saat butuh kasih sayang dari mereka... kalo tadi kamu bilang Mama Jaenal ditinggal mati ketika hamil tua, nah! kalo aku ditinggal mati sama suami ketika baru ngelahirin anak"

Asnawi mengeryitkan dahi sambil memandang serius Anggariti. Ia sangat tertarik dengan kisah hidup wanita yang baru dikenalnya itu.

"Maaf... apa suamimu meninggal karena kecelakaan juga?"

"Bukan Wi, suamiku mati dibunuh"

"APAAAAAH!! siapa yang ngelakuin hal keji itu?"

"Ayahku sendiri Wi... suamiku mati dipenggal sama ayahku karena dia emang gak menyetejui pernikahan kami"

Asnawi shock mendengar penjelasan Anggariti. Bibirnya bergetar dan matanya berkaca-kaca, ia terbawa emosi dengan kabar itu.

"Apa ayahmu ditangkep polisi?"

"Enggak Wi... ayahku sangat berkuasa, dia kebal hukum"

"Gak ada yang bisa kebal hukum di negeri ini Rit!! semua orang sama dimata hukum"

"Enggak Nawi... sebenernya ayahku tuh adalah Raja, dialah yang memegang hukum"

"KAMU BERCANDA YAH?? MANA ADA KERAJAAN DISINI? NYESEL AKU NANGGEPIN SERIUS TADI" bentak Asnawi.

"AKU SERIUS WI!!!!" bentak balik Anggariti dengan mata yang melotot. Asnawi pun langsung ciut, dia sangat ketakutan dengan aura yang dikeluarkan Anggariti.

"Baiklah... maafin aku, aku... aku... gak bermaksud... nyinggung kamu... tapi di sini udah gak ada kerajaan lagi, paling cuman Yogya dan Solo yang masih nyisa"

"Nawi!! banyak hal yang kamu gak ketahui tentang negeri ini, sebenernya banyak banget kerajaan yang tersembunyi dan memeilih untuk gak diketahui orang, salah satunya adalah kerajaan tempat dimana aku lahir... kerajaan itu bernama Puncak Hamerang... dan asal kamu tahu, aku lah sekarang yang menjadi Ratu di kerajaan itu, aku menggantikan ayahku yang memilih pensiun jadi Raja"

"Hmmmm... aku berusaha percaya sama kamu, tapi kerajaanmu wilayahnya dimana?"

"Kerajaanku di atas sebuah gunung di wilayah selatan pulau ini, kerajaanku ini bener bener tersembunyi... Akulah satu satunya orang yang bisa mendapat akses keluar dari wilayah kerajaan itu, aku pengen menuntut ilmu yang tinggi diluaran sama... aku kuliah di kota ini, selama itulah aku mulai mengenal dan berteman sama orang orang yang ada disekitarku... termasuk orang yang aku sukai... ya... dia cowok ganteng yang baik hati"

"Terus gimana suamimu bisa dibunuh?"

"Awalanya aku sama suamiku cuman berhubungan bisnis, tapi lama-lama kita saling mencintai... aku tahu banget kalo hal ini bakalan gak disetujuin orang tuaku, terutama ayahku, di Kerajaan ada aturan untuk dilarang menikah sama orang luar kerajaan... akhirnya aku nikah sembunyi-sembunyi, setahun kemudian kita dikarunai anak... tapi entah apa yang terjadi, mungkin ada mata-mata kerajaan yang mengetajui kehidupanku disini, hingga suatu malam aku dan suamiku di darengin sama ayahku ke rumah... ia murka karena tahu selama ini aku nikah sama orang luar dan punya anak... ayahku langsung menyerang suamiku... ia hendak membunuhnya... tak hanya itu, ia juga mau bunuh Angga, aku pun akhirnya bertarung sama ayahku sendiri, suami dan anakku di amankan sama adik perempuanku... aku pun kalah sama ayahku, aku terus dibawa pulang... aku disiksa, dipenjara dan dicuci otak... sampe akhirnya aku lupa akan keluargaku... selama itu aku cuma berharap suami dan anakku selamat... tapi takdir berkata lain, suamiku dibunuh dengan kejam... waktu itu aku gak tau keberadaan Angga, kukira dia juga terbunuh tapi ternyata selama ini adikku berhasil menyembunyikannya di sebuah panti asuhan"

Anggariti tak kuasa menitikan air matanya ketika itu. Asnawi merasa simpati kepada Anggariti walaupun ia tak mempercayai seratus persen ceritanya. Asnawi masih menganggap kalau Anggariti hanya mengarang cerita tentang kerajaan dan terbunuhnya suami. Masa iya ada kerajaan tersembunyi di Indonesia? Terus kenapa ada ayah yang kejam dan tega membunuh menantunya? Kalo terjadi pembununan, kenapa hal ini tidak diketahui kepolisian? Pertanyaan itu muncul di otaknya.

Asnawi memberikan dua helai tisue kepada Anggariti untuk mengjapus air matanya. Meskipun tak percaya, tapi Asnawi melihat kesedihan Anggariti sangatlah nyata.

"Sudahlah Rit! Kamu jangan sedih! Semoga arwah suamimu tenang di alam baka dan kamu bahagia karena udah kembali bersama Angga"

"Makasih Nawi!! Aku sekarang seneng banget karena udah ketemu anakku lagi... kali ini aku bersumpah akan selalu melindungi anakku dari gangguan siapapun... akan kubunuh jaika ada yang mau nyakitin anakku"

"Whoa... whoa... kamu jangan maen bunuh atuh Rit!! Entar kamu ditangkep polisi"

"Tapi aku gak mau kehilangan anakku lagi"

"Aku ngerti Rit... tapi kamu jangan sampe segitunya, aku juga siap melindungi Angga... aku gak mau kamu sampe berurusan sama polisi"

"Apakah kamu serius?"

"Iya Riti... aku serius!!"

"Mmmmm... makasih banget Nawi, walaupun aku baru mengenalmu, tapi aku ngerasa udah deket sama kamu... kamu baik banget Asnawi"

"Udah kewajiban sesama manusia saling bantu"

"Iya Wi... betul banget"

Ketika mereka tengah asyikc berbincang ditengah desiran angi yang berhembus dari lembah yang berada dihadapan mereka, tiba-tiba Jaenal dan Angga menghampiri. Mereka sangat senang melihat kehadiran Asnawi disana dan langsung mengajaknya untuk bermain. Asnawi sangat dekat dan akrab dengan anak-anak itu, sehingga Anggariti pun merasa senang melihatnya.

Sore pun akhirnya tiba, acara pertemuan itu pun akhirnya berakhir. Mereka kembali ke rumah masing-masing setelah Bi Asih menyelesaikan syuting. Mereka pun saling berpamitan di tempst parkir cafe. Aggariti dan anaknya menaiki mobil van mewah dengan menggunakan sopir pribadi. Mobil pi melaju meninggalkan Asnawi, Bi asib dan Jaenal yang masih berada di tempat parkir. Tampak Anghariti melambaikan tangan sambil tersenyum kepada Asnawi.

"Den... kamu sama Mama Angga ngapain aja selama aku syuting?"

"Ya... kita cuman ngobrol-ngobrol aja diluar tadi"

"Dia orangnya asyik kan Den?"

"Iya sih, dia asyik banget kalo ngobrol, tapi menurutku dia ahak kurang waras Bi"

"Maksudnya gimana Den?"

"Iya maksudnya dia bilang kalo suaminya mati dibunuh ayahnya, terus ayahnya itu Raja... dia berasal dari Kerajaan Puncak Hamerang... dan dia ini sekarang menjabat sebagai Ratu... kan aneh banget Bi! Masa ada kasus pembunuhan yang gak bisa ditanganin polisi dan mana ada kerajaan tersembunyi di Indonesia, bukannya udah gak ada lagi kerajaan sekarang?"

"Iya juga sih Den, menurutku dia trauma karena kehilangan suami... aku gak tau yah suaminya mati kenapa, yang jelas dia selalu bilang ada yang ngebunuh, kalo masalah kerajaan kayaknya dia ini sangat terobsesi sama kehidupan kerajaan dan dunia fantasi, sampe-sampe dia berpenampilan kayak manusia rubah kemana mana"

"Dia bener bener seorang Wibu Bi, bahkan dia lebih parah dariku... kalo aku cuman sebatas suka baca dan nonton film anime, tapi dia sampe ngecosplay tiap hari... dia juga menguasai bahasa Jepang lho"

"Ah masa sih Den?"

"Iya Bi, tadi dia mempraktekannya didepanku... aku sampe bingung sendiri dengernya hehe... sebernya dia itu asli orang mana sih Bi?"

"Dia itu orang Tasik Den... dia bukan Ratu, dia kerja sebagai manajer di sebuah perusahaan... aku lupa nama perusahaannya"

"Oh gitu... pantes dia ngomongya agak nyunda gitu ya... hahahaha"

"Yaudah Den... kita jalan yuk, kemana gitu... aku lagi butuh hiburan"

"Kita nonton aja yuk! Kebetulan ada film baru, Jaenal pasti suka"

Akhirnya mereka memasuki mobil,lalu pergi dari cafe itu.

...

Mobil van mewah itu tiba di halaman rumah. Anggariti dan Angga langsung turun dari dalam mobil. Sang supir pun membantu Anggariti keluar dari mobil dengan memegani tangannya.

"Pak supir! Nanti barang barang anterin ke kamarku yah!" perintah Anggariti.

"Baik Nyonya..." jawab supir.

Annggariti dan Angga pun berjalan masuk kedalam rumah. Angga langsung memasuki kamarnya sedamgkan Anggariti pergi ke dapur untuk menyimpan beberapa potonh roti yang dibeli dari cafe. Setelah itu, dia pun pergi ke kamarnya di lantai 2.

Sang supir mengeluarkan barang belanjaan dari dalam mobil setelah memarkirkannya di dalam garasi. Ia membawa 3 tas belanja yang berisi pakaian. Supir itu naik ke lantai dua lalu mengetuk pintu kamar Anggariti. Tak lama berselang, Anggariti membuka pintu dan mengajak supir untuk masuk kedalam. Anggariti tampak sangat anggun dengan baju kimono tipis yang pakainya, tentunya hal itu membuat sang supir menjadi salah tingkah.

"Saya pergi dulu Nyonya" pinta supir.

"Jangan Pak! Sini dulu temenin aku... kebetulan hari ini lagi bahagia banget karena ketemu sama Asnawi"

"Asnawi? Pemuda yang tadi ngobrol sama Nyonya?"

"Iya pak... makanya hari ini aku merayainnya sama kamu pak disini"

"Merayain gimana maksudnya?"

Tiba tiba Anggariti membuka baju kimononya dihadapan supir. Ia memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang sempurna. Ekor rubahnya tampam bergerak gerak seakan mengikiti irama suara hati. Sang supir kaget, ia langsung memalingkan muka dari Anggariti. Ia pun berdiri dari kursi dan berniat pergi. Namun Anggariti menarik tubunya, lalu mendorongnya keatas ranjang sampai berbaring.

"ADUH NYONYA!! APA YANG NYONYA LAKUIN SAMA SAYA?"

"Aku akan ngasih kamu hadiah Pak... malem ini kamu akan bercinta denganku"

"Gak mau... saya udah punya istri!"

"Ayolah Pak... ini perintah dariku... kamu harus mematuhinya!"

"Maaf Nya... saya tidak bisa"

"Kamu mau kupecat?"

"Ampun Nya... jangan pecat saya!"

"Yaudah dong! Turuti perintahku!"

"Baik Nyonya... terserah padamu"

Akhirnya mereka berciuman, lalu bermesraan diatas ranjang dengan saling berpelukan. Perlahan baju sanh supir pun terbuka da menunjukkan kejantannua dihadpaan Anggariti. Mereka pun akhirnya bercinta. Serelah selesai, sang supir berbaring di sebelah Anggariti yang tengah tertidur. Ia tengah meratapi nasibnya yang beruntung karena memilik majikan sebaik Anggariti. Ia pun mulai jatuh cinta kepadanya. Anggariti kemudian bangun lalu mencium sang supir hang tangah memandanginya.

"Pagi nyonya... gimana tidurnya nyneyak?"sapa supir.

"Pagi pak... semalam indah banget, kamu sangat pintar muasin aku"

"Makasih Nyonya... saya sayang sama Nyonya... mulai saat ini saya akan melakukan apa pun demi Nyonya"

"Makasih sayangku... hmmm... kalo gitu aku lapar maukah kami nyiapin makanan buatku"

"Laksanakan Nyonya, saya mau pergi keluar buat beli makanan... Nyonya mau makan apa?"

"Kamu gak usah pergi... Kamu disini aja, karena aku mau makan kamu"

"Hahahaha... Nyonya bercanda aja ah, masa mau makan saya"

"AKU SERIUS"

Tiba tiba Anggariti mengigit leher sang supir, lalu mengunyah sebagian kecil daging yang terbawa mulutnya. San supir pun teriak dan panik. Ia berusaha pergi keluar kamar sambil memeganhi lehernya yang terluka parah. Akan tetapi, ketika mendekati pintu, Anghariti lamgsjng menusuk punggungnya dengan tangan sampai menembus ke dada. Sang supir mengalami shock berat, lalu dia mati seketika. Anggariti kemudian mencabut tangannya dan membiarkan mayat supir tergeletak diatas lantai dengan berlumuran darah.

Perlahan, anggariti menumbuhkan kukunya menjadi panjang dan tajam, lalu ia mencabik cabik mayat itu dan mengeluarkan isi perutnya. Ia mulai melahap organ-organ dalam mulai dari jantung sampai pangkreas. Dia merasa sangat senang ketika mengunyah daging yang masih mengeluarkan darah segar.

Satu jam kemudian, Prameswari masuk kedalam kamar. Ia kaget bukan kepalang ketika memergoki adinya tengah menikmati kudpan daging sang supir sambil bersenandung ria. Mayat supir sudah tidak utuh, hanya tersisa kepala, tangan, kaki dan tulang belulang.

"ASTAGA NAGA!!! KAMU MAKAN SUPIR LAGI RIT??" tanya Prameswari yang hanya dijawab oleh senyuman manis Anggariti.

Ia pun kemudian menarik sebuah kursi, lalu duduk dihadapan Anggariti yabg tengah melahap daging supir diatas lantai.

"Ini udah supir ke berapa yang kamu makan?"

"Kelima... nyam... nyam... rasanya enak banget Pram... kamu harus coba"

"Hihhh!!! Najis... aku gak suka dagkng manusia... kamu juga sebelumnya gak suka makan daging orang, tapi sekarang kamu jadi doyan daging supir... ada apa sama kamu Rit?"

"Aku juga bingung Pram... semenjak ganti tubuh, rasa laparku jadi tak terkendali... aku jadi seneng makan daging orang"

"Bukannya kamu samgat manyukai manusia? Kenapa sekarang malah kamu makanin mereka?"

"Entahlah Pram... aku juga gak tau mesti ngapaon, aku jarus belajar ngendaliin diri"

"Riti... Riti... aku jadi kasihan sama kamu... seharusnya kamu sekarang hidup di istana dan menjadi Ratu, bukan disini, jadi hewan buas"

"HMMMM.... SEMUA INI GARA GARA KUNTILANAK JALANG ITU!!! AKU HAMPIR KEHILANGAN SEGALANYA... AKAN KUBALAS DENDAMKU PADA DIA SECEPATNYA"

"Emang kamu udah siap balas dendam?"

"Aku udah ketemu sama Asnawi... aku udah berkenalan sama dia"

"Wah hebat nih! Dia orangnya kayak gimana?"

"Dia orangnya baik, ramah dan ganteng... pantes aja si kunti jalang itu suka sama orang ini, soalnya dia ganteng banget dan tubuhnya mengeluarkan aura kehidupan yang sangat banyak"

"Aku jadi penasaran sama dia Rit... tapi awas ya kalo kamu sampe jatuh cinta sama dia? Bisa bisa gagal nih misi kamu buat ngasihin kepalanya kepada Ratu"

"Kamu tenang aja Pram... aku gak akan tergoda sama Asnawi"

Terdengar sayup-sayup suara Angga yang berteriak memanggil ibunya. Anggariti dan Pramewari pun kaget dibuatnya.

"Pram... samperin anakku gih!! Aku gak mau kalo sampe dia liat aku kayak gini... aku gak mau Angga jadi siluman kayak kita, aku pengen dia jadi manusia seutuhnya"

"Baiklah Rit... tapi kamu jangan malan supir lagi dong!! Aku repot nih jarus ngatur ngatur semuanya biar hak ada yang curiga"

"Akan kuusahakan... aku gak akan malan orang lagi Pram... supir ini adalah yang terakhir"

Prameswari beranjak dari tempat duduknya, lalu ia pergi keluar untuk menghampiri Angga. Anggariti kekudian menyelesaikan santapan mengerikakannya dengan membelah kepala supir itu dan memakan otaknya.

APAKAH USAHA ANGGARITI AKAN BERHASIL?? KITA REHAT SEJENAK PEMIRSAH.... emoticon-Betty


LOWONGAN PEKERJAAN
JADI SUPIR PRIBADI NYONYA ANGGARITI
GAJI 10 JUTA/BULAN
BONUS MANTAP2 DARI NYONYA

MINAT??









profile-picture
profile-picture
profile-picture
zulleon dan 43 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Martincorp
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Halaman 124 dari 127


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di