CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Awakening (Supranatural & Romance)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f59f61509b5ca3feb6ac28e/awakening-supranatural-amp-romance

Awakening (Supranatural & Romance)

Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 15

Chapter 12 Menikmati Momen yang Langka

"Eh, kok kamu bisa ada disini Del?" tanyaku dengan bingung.

"Aku dari tadi nyariin kamu Ram, tau-taunya lagi enak berduaan disini." ucapnya dengan ekspresi jengkel.

"Emangnya ada perlu apa Del, sampe nyariin aku?" tanyaku lagi.

"Emangnya harus ada yg perlu kah, baru nyamperin kamu?" jawabnya.

Duh, kayaknya aku salah nanya, pikirku. Aku bingung dengan sikap yang ditunjukkan Adel, antara aku yang kepedean atau salah sangka. Sepertinya dia terlihat cemburu saat aku bersama Riska.

"Halo Adellia, maaf ganggu, omong-omong kalo boleh nanya, apa kalian berdua pacaran?" tanya Riska dan memandang kami berdua.

"NGGAK KOK" ucap kami berdua secara serentak.

Riska hanya tersenyum melihat reaksiku dan Adellia. Sedangkan kami berdua menjadi salah tingkah setelah berteriak dengan spontan. Aku merasa sangat malu, dan ingin secepatnya pergi menghindar dari sana.

"Yaudah deh, aku pergi dulu ya Ram. makasih banget bantuannya tadi." ucap Riska sambil mengedipkan salah satu matanya.

"Ehh, iya sama-sama kak." ucapku dengan canggung.

Setelah Riska pergi meninggalkan kami, Adellia pun mengajakku untuk makan bersama di kantin. Saat berjalan kami berjalan ke kantin, entah kenapa suasana mulai terasa canggung. Sepanjang perjalanan menuju kantin, kami berdua tak berbicara sama sekali. Kami hanya menatap satu sama lain beberapa kali, layaknya dua sejoli yang sedang curi-curi pandang. Seumur hidupku, baru kali ini aku merasakan hal seperti ini. Rasanya benar-benar aneh, seperti rasa senang tapi malu. Sesampainya di kantin, aku akhirnya memberanikan diri untuk memulai percakapan.

"Del, mau sampai kapan nih kita diem-dieman?" tanyaku sambil menatapnya

"Hmmmm, tau ah Ram, aku lagi bete." ucapnya

Duh, kayaknya aku salah ngomong lagi nih, ucapku dalam hati.
"Sorry Del" ucapku pelan, walau pada dasarnya aku tak mengerti mengapa aku harus meminta maaf.

"Sorry buat apa Ram? emang kamu ada buat salah?" tanyanya

"Gpp del, cuman mau bilang sorry doang kok." ucapku sambil menggaruk rambutku.

Melihat responku, bibir Adelliapun mulai bergerak membentuk senyuman. Dia seperti melihatku dengan tatapan kemenangan. Mungkin ini yang selalu disebut orang-orang, kalau wanita pasti selalu benar. Aku hanya bisa mengalah dan mengikuti apa kemauannya saja. Saat di kantin, seperti biasanya, kami hanya mengobrol santai, entah itu membahas film,kuliah, supranatural dan berbagai topik lainnya. Tak terasa kami menghabiskan waktu yang cukup lama disana, akhirnya kami beranjak dari kursi dan keluar dari kantin untuk pergi pulang bersama.

Saat sedang diperjalanan pulang, lagi-lagi ada orang yang mencegat kami ditempat yang sama saat aku berkelahi dengan Arif. Bedanya saat ini ada delapan orang yang menghadangku. Sepertinya mereka dipimpin oleh David dan saat kuperhatikan disampingnya berdiri orang yang tidak asing lagi, dia adalah Arif. Dia memandangku dengan senyuman licik dan penuh kebencian. Ternyata dia masih dendam akan hal yang terjadi saat ospek kemarin, pikirku.

"Del, kamu lari duluan ya." ucapku ke Adel

"Kamu gimana Ram? ada masalah apa sama mereka? mending kita lari bareng aja cepet." ucapnya

Sebelum aku membalas ucapan Adelia, mereka sudah mulai bergegas berlari mendekatiku dan sepertinya mereka ingin mengelilingku agar tidak bisa kabur.

"Cepat kabur Del!" teriakku sambil mendorong pelan Adellia.

Tanpa banyak omong, akhirnya Adellia langsung pergi kabur. Sepertinya dia ingin mencari bantuan warga sekitar, seperti yang dilakukannya waktu ospek kemarin. Walau secara logika bantuannya pasti tak akan datang tepat waktu. Yang dipikiranku setidaknya Adellia bisa selamat dan tak terkena imbas dari masalahku.

"Beraninya keroyokan ya lo pada." ucapku sambil menatap mereka satu persatu.

"Terus emangnya kenapa? panggil temen lo sana kalo bisa." ucap David yang direspon dengan tawa teman-temannya.

"Lo mau remuk dibagian mana dulu nih, gw kasih lo milih sendiri deh" ucap Arif dengan ekspresi mengejek.

Saat mereka sibuk berbicara dan mengolok-olok diriku. Tiba-tiba pria berjubah merah muncul disampingku dan mulai berbicara.
"Aku akan masuk ketubuhmu, jangan lakukan perlawanan." ucapnya

Aku hanya mengangguk tanda menyetujui ucapannya. Sesaat kemudian, aku mulai merasa hilang kontrol akan tubuhku. Aku hanya bisa melihat dan mendengar, layaknya sedang menjadi penonton saja. Aku merasakan tubuhku bergerak dengan sendirinya dan langsung mencekik leher Arif. Sementara itu, David dan temannya mulai menyerangku dengan pukulan dari berbagai arah. Tapi anehnya, tubuhku tak bergeming sama sekali. Aku meninju ke arah wajah Arif satu kali dan melepas cekikanku setelahnya. Sedangkan David dan teman-temannya masih sibuk memukul dan menandang tubuhku, sepertinya mereka mulai kehabisan tenaga.

Tubuhku mulai bergerak menoleh memandang mereka dan dalam sekejap memukul mereka dengan membabi buta. Satu persatu dari teman David mulai berjatuhan di tanah, dengan berbekas lumuran darah dibeberapa bagian tubuh mereka. Wajah mereka yang awalnya penuh tawa berubah menjadi jeritan histeris penuh kesakitan. Tapi, pria berjubah merah yang sedang berada ditubuhku tidak memperdulikannya. Dia tetap memukul dan menendang mereka yang masih berdiri maupun yang tergeletak di tanah.

Pada akhirnya, tersisa David yang masih berdiri. David menatapku penuh ketakutan, layaknya sedang melihat setan. Saat aku mendekatinya, tubuhnya terlihat gemetaran dan diapun terjatuh dengan sendirinya. Tangan kiriku bergerak mencekik lehernya, sedangkan tangan kananku bergerak untuk memukul wajahnya berkali-kali. Beberapa saat kemudian, aku bahkan sampai lupa akan jumlah pukulan yang telah diluncurkan. Aku hanya memperhatikan wajah David yang seperti sudah tak jelas bentuknya. Seluruh wajahnya dipenuhi akan darah, dan sepertinya dia sudah pingsan.

Aku mencoba untuk mengambil alih kendali tubuhku, dengan berkomunikasi secara batin kepada pria berjubah merah yang sedang berada ditubuhku. Sepertinya dia paham maksudku, dan segera pergi meninggalkan tubuhku. Setelah mendapat kendali akan tubuhku sendiri, aku tak merasakan kehadirannya didekatku lagi. Aku mulai memperhatikan teman David yang telah tergeletak ditanah, untungnya mereka masih dalam keadaan sadar. Aku langsung menyuruh mereka untuk pergi membawa David, dan sebagai penutup aku memberikan sebuah bogeman manis ke wajah Arif.

Setelah mereka pergi, dari kejauhan aku melihat Adellia dengan beberapa orang yang sedang berlari menuju arahku.

"Kamu gpp Ram? Kok mereka pada hilang semua?" tanya Adel dengan wajah bingung.

"Mereka udah pada kabur semua Del." jawabku singkat

Adellia sepertinya mengerti setelah memperhatikan pakaianku yang berbekas bercak darah. Kamipun berterimakasih dan meminta maaf kepada orang yang dimintai bantuan karena telah merepotkan mereka.

"Penjaga kamu, masuk ketubuhmu kayak kejadian waktu ospek kemarin ya Ram?" tanya Adel

"Iya del, bedanya waktu dia masuk tadi, aku sadar sepenuhnya." jawabku

"Jadi kondisi kamu sekarang gimana Ram, apa ada yang sakit atau yang ga nyaman?" tanya Adel dengan penuh khawatir.

"Aku gpp kok Del, cuma badanku susah digerakin, karena rasanya pegel semua. Kayak habis olahraga berat." jawabku sambil tersenyum

"Itu mah sakit namanya Ram. sini aku bantuin pulang." ucapnya sambil memegang tanganku dan meletakkan disekitar lehernya.

Aku sangat terkejut, dan berusaha menolaknya "Eh jangan del, gw lagi kotor banget nih." ucapku

"Udah gpp Ram, jangan malu gitu dong hahaha, sesekali biar aku yang bantuin kamu." ucapnya dan menatapku sambil tertawa

"........" aku hanya bisa pasrah dan berusaha menikmati setiap detik dari momen langka ini.

Bersambung....

profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 25 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Co cuit....
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjutkeun paman...
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjut gan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ijin pasang tenda gan....uwuemoticon-Ngakak (S)
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Widih endingnya soswettemoticon-Hammer2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Wuihh ajib om..
Dikeroyok kaga gentar :v
profile-picture
blckmmb7 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
makasih gan

semangat buat ceritanya gan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Alamaak asik benerr
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
menang banyak juragan.... emoticon-Kimpoi
Lanjut gan
Nice update

Chapter 13 Pilihan

Sore hari yang penuh konflik itu berubah menjadi kenangan memori yang indah bagiku. Setiap langkah yang kuambil menjadi saksi atas konflik batin yang kumiliki, antara aku harus jujur atau menyimpan perasaanku yang sebenarnya dalam-dalam. Sebab aku sadar, sejak pertemuan kami pertama kali, benih-benih cinta sudah mulai tertanam dan tumbuh seiringan dengan interaksi kami berdua. Tapi sejenak aku sadar, bahwa aku bukanlah siapa-siapa yang tidak pantas akan dirinya. Sepertinya lebih baik aku bersyukur, masih bisa menjalani hubungan yang baik dengannya seperti saat ini.

Akhirnya momen itu berakhir saat kami sampai didepan kost-an.

"Udah sampai nih Ram, makasih ya buat hari ini dan jangan lupa buat langsung istirahat, OK?" ucapnya dan menatapku dengan senyuman manis khasnya

"Seharusnya aku yang ucapin makasih Del, udah mau bantu dan nemenin aku." ucapku tersenyum

"Sama-sama Ram, kalo bisa sering-sering senyum kayak gini Ram, biar keliatan makin ganteng. Byeee" ucapnya sambil tertawa dan langsung berlari kabur ke kostnya yang berada di sebelah.

Sejenak, aku berdiri terdiam ditempat dan tersenyum sendiri layaknya orang gila, setelah mendengar ucapan dari Adellia. Sungguh hari yang menyenangkan ucapku dalam hati dan langsung pergi bergegas masuk kedalam kost-an. Aku segera mandi membersihkan tubuhku yang sangat kotor. Setelahnya aku langsung berbaring di tempat tidur, mulai merenung dan tenggelam dalam pikiranku sendiri. Aku merasa sejak masuk kampus, hidupku yang dulunya tenang tanpa konflik berubah drastis. Tapi entah kenapa aku tak merasa menyesal sama sekali, mungkin karena aku tak merasa bersalah dan telah melakukan apa yang benar. Tanpa kusadari, sifatku yang selalu mencoba untuk menghindari dan tak peduli akan masalah, mulai berubah. Walau aku tak tahu perubahan itu akan berdampak baik atau buruk kedepannya. Malam itu kulewati dengan penuh perdebatan didalam pikiran dan batinku, hingga tak terasa waktu berlalu cepat dan akupun tertidur lelap.

Suara kicauan burung dan aktifitas penghuni kost yang lain pun berhasil membangunkan tidurku. Tubuhku masih terasa pegal dan kurang nyaman, tapi berhubung hari ini masih ada jadwal kelas yang harus kuhadiri, aku terpaksa bangun dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke kampus bersama Adellia.

Saat sampai di kampus, aku mulai merasa banyak orang yang memandangiku dengan tatapan yang aneh dan penasaran. Sepertinya Adellia juga merasakan yang sama, dia juga menatapku dengan bingung karena tak tahu apa alasannya. Kamipun langsung mempercepat langkah menuju kelas dan anehnya mahasiswa yang ada didalam kelas juga menatapku seperti orang-orang yang berada diluar.

Aku mulai berspekulasi dan bertanya dalam hati. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku mulai mengetahui alasannya, penyebabnya adalah kejadian perkelahian antara aku dan geng David kemarin. Sepertinya beritanya sudah mulai tersebar dikalangan mahasiswa fakultasku. Seketika aku menjadi orang yang populer, walau aku tak tau itu dalam artian konotasi yang baik atau buruk.

Sepanjang kelas berjalan, aku menghiraukan beberapa dari mereka yang masih saja menatapku dengan aneh. Walaupun sebenarnya aku merasa risih dan tak tahu mau merespon dengan apa. Beberapa dari mereka juga bertanya langsung denganku mengenai kejadian kemarin, tapi aku hanya menjawabnya singkat dan langsung mengakhiri percakapan secara halus.

Sesudah kelas berakhir, saat aku dan Adellia baru saja keluar dari pintu kelas. Sudah ada dua mahasiswa yang menunggu dan langsung mengajakku kesuatu ruangan dengan alasan ada yang ingin menemuiku. Aku sempat bertanya akan identitasnya, tapi mereka bersikeras merahasiakannya dengan mengatakan yang ingin menemuiku adalah orang penting. Dengan terpaksa aku harus mengikuti mereka keruangan itu tanpa Adellia. Aku menyuruhnya untuk pergi terlebih dahulu, walau pada akhirnya dia tetap bersikeras untuk mengikutiku dan menunggu diluar ruangan.

Saat memasuki ruangan, aku melihat ada seorang pria dengan perawakan tinggi dengan wajah yang cukup tua duduk disebuah kursi. Jika kuperhatikan dengan seksama, ternyata wajahnya mirip dengan David. Sepertinya ayahnya datang untuk menemuiku, mempermasalahkan kejadian kemarin, pikirku.

"Kamu yang namanya Rama?" ucapnya dengan menatapku sinis

"Iya, ada keperluan apa dengan saya pak?" ucapku

"Jadi kamu yang berani mukulin anak saya sampai luka parah begitu?" tanyanya dengan nada suara yang mulai naik.

"Iya pak, tapi saya hanya membela diri kok. Pada dasarnya anak bapak yang memulai, dia mau mengeroyok saya dengan teman-temannya." jawabku

"Saya tidak peduli sama alasan kamu, yang penting sekarang buktinya yang luka itu anak saya. Sedangkan sekarang kamu gak terlihat luka sama sekali." balasnya

"Jadi mau bapak sebenarnya gimana, walau saya cari alasanpun pasti bapak ga akan percaya, jadi langsung to the point aja pak." ucapku

"Kamu ikut saya ke rumah sakit buat bayar biaya pengobatan sebagai kompensasi dan yang terutama minta maaf langsung ke David." ucapnya

Mendengar ucapannya membuatku sangat marah, aku sungguh tak menyangka ternyata ada orang tak tahu malu seperti ini.

"Maaf pak, saya gak merasa buat salah, jadi saya gak bisa ikut dengan bapak." ucapku dan bersiap untuk pergi dari ruangan.

"Mau ikut saya atau mau dituntut secara hukum?" ucapnya dengan enteng

"Kalau bapak masih waras dan punya malu, bapak gak akan ngomong kayak gitu." balasku dan menatapnya dengan marah.

"Berani kamu ngeledek saya? HAHHH!!!" bentaknya

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan aku melihat Adellia yang langsung bergegas masuk.

"Dasar orang tua gak tau malu, anak sama bapak ternyata sama brengseknya." ucapnya sambil menatap ayah David

"Ayo Ram, kita pergi aja dari sini. Gausah dengerin dia ngomong." ucap Adel sambil menarik tanganku dan pergi keluar.

"Hei!!! mau kemana kalian berdua, jangan menyesal nantinya!!!." teriak ayah David

Sembari kami pergi menjauh dari ruangan itu, Adellia masih memegang salah satu tanganku. Aku merasa tangannya terasa sangat halus dan lembut, ada sensasi dingin yang membuatku nyaman karenanya. Saat aku memandang wajahnya, sepertinya dia masih tidak menyadarinya. Mungkin karena dia masih terbawa suasana emosi hingga tak memperhatikanku. Tapi aku sengaja pura-pura tak menyadarinya dan tetap membiarkannya memegang tanganku.

Saat kami sampai diluar gedung kampus, sepertinya Adellia mulai menyadari posisi tangan kami berdua. Aku melihatnya menoleh seperti mengintip kearahku sedikit dan melepas tanganku perlahan-lahan setelahnya. Suasana yang tadi tegang berubah menjadi canggung, kami berdua hanya berjalan dengan pelan didalam diam.

"Gausah dipikirin Ram, kamu gak buat salah kok." ucap Adel yang akhirnya memulai percakapan.

"Iya Del, aku sebenarnya cuma takut orangtuaku tahu masalah ini aja Del, takut ngecewain mereka." ucapku pelan

"Hmmmm, kalau dengar cerita yang sebenarnya, aku yakin mereka bakal ngebela kamu kok Ram." ucapnya

"Aku gatau Del, soalnya aku baru kali ini punya masalah sebesar ini." ucapku

"Santai aja Ram, kalau ada apa-apa nantinya, aku pasti bakal dukung dan bantu kamu." ucapnya dan memandangku dengan senyuman manisnya.

Melihat senyumnya, berhasil membuat kekhawatiranku menghilang. Mendengar ucapannya membuatku menjadi percaya diri, aku menyadari bahwa kehadirannya telah membuat diriku nyaman dan bahagia.

"Makasih banyak Del." ucapku tersenyum membalasnya.

Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki seperti orang yang sedang berlari. Saat menoleh kebelakang, aku melihat Riska yang sedang berlari dan sudah mendekati posisiku.

"Ram, tadi bokapnya David ngomong apa ke kamu?" tanyanya dengan suara ngos-ngosan.

"Hmmmm, ngomong banyak sih kak, tapi gausah dipikirin kak." balasku

"Dia pasti ngancam kamu ya Ram? Aduh, aku jadi gaenak sama kamu Ram." ucap Riska dengan ekspresi khawatir

"Gpp kok kak, paling dia cuma mau nakut-nakutin aku doang." ucapku

"Kayaknya sih dia serius Ram, soalnya setauku bokapnya David itu polisi yang pangkatnya lumayan." ucapnya serius

Aku terdiam sejenak, sepertinya masalahku terasa makin rumit dan berbahaya, ucapku dalam hati.

"Gini aja Ram, ikut aku sekarang, buat aku kenalin sama papaku. Papaku pasti punya solusi nantinya." ucapnya

Sesaat aku sedang berpikir keras, tiba-tiba aku mendengar Adellia yang mulai bersuara.

"Kamu sekarang, mau ikut dia atau bareng aku Ram?" ucap Adellia dan menatapku dengan tajam.

"Hmmmm,......"

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 25 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
Hadehh,, lagi seru²nya padahal..

Gpp dehh,, ane tunggu om hehehe
Makasih udah updet
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
ga update malem2 lagi gan?emoticon-Bingung
profile-picture
fiqihism memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Update bre...
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Kayaknya seru
profile-picture
ardibarker memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Chapter 14 Genderuwo

Ucapan Adelia membuatku merasa dilema. Saat ini, aku bingung harus merespon mereka seperti apa, karena salah satu dari mereka pasti akan kecewa jika aku memilih salah satunya. Otakku mulai sibuk berpikir dan mencari solusi secepatnya, walau pandangan tajam kedua mata mereka berdua masih berfokus pada diriku. Keringat dingin mulai muncul dan menetes diwajahku, efek dari tekanan mental yang mereka berdua berikan. Beberapa saat kemudian, akhirnya aku menemukan solusi yang paling efektif.

"Kak, gimana kalau Adel juga ikut bareng aku?" tanyaku sambil menggaruk kepala.

"Hmmmm, boleh Ram." ucapnya singkat setelah terlihat berpikir sejenak.

Saat aku menoleh memperhatikan ekspresi wajah Adellia, dia tampak tersenyum manis memandangku. Sepertinya kali ini aku selamat, ucapku dalam hati. Pada dasarnya aku tak menyangka situasi ini bisa terjadi, ternyata rumor yang kudengar selama ini ada benarnya. Kalau wanita adalah makhluk yang sangat susah dimengerti. Aku menyeka keringat dingin yang telah muncul diwajahku dan langsung pergi bergegas mengikuti Riska.

Riska mengajak aku dan Adellia untuk masuk ke mobilnya yang berwarna merah dengan tampak terkesan mewah. Aku memprediksi, sepertinya Riska memiliki keluarga yang status sosialnya tergolong tinggi. Tapi aku tak terlalu memperdulikan status sosialnya, bagiku yang terpenting adalah karakter yang dimiliki seseorang. Saat diperjalanan agar suasananya tidak terlalu kaku, aku berusaha untuk memulai percakapan kecil.

"Kak, tadi kok bisa tau kalo bokapnya David jumpain aku?" tanyaku

"Tadi aku ngeliat bokapnya David keluar dari gedung fakultas kita Ram, otomatis aku ngerti tujuan dia datang." jawab Riska

"Hmmm, kalo boleh tau bokapnya kakak profesinya apa ya?" tanyaku lagi

"Pengusaha Ram, papaku punya banyak channel ke orang-orang di pemerintahan termasuk juga polisi." jawabnya tersenyum

"Oh, gitu ya kak...." ucapku sambil mengangguk kecil.

Saat kami sedang sibuk berbicara, Adellia hanya diam dan menempelkan wajahnya ke jendela mobil sambil memandang keluar. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kami sampai didepan rumah Riska. Letak rumahnya ada disebuah perumahan elit, terlihat dari jarak antar rumah yang bisa dikatakan lumayan jauh. Rumahnya terlihat sangat besar, seperti sebuah villa mewah yang biasanya ada di kawasan tempat liburan. Terdapat beberapa taman lengkap dengan fasilitas dan pepohonan yang asri disekitarnya. Tapi lingkungannya terlihat sangat sepi, tidak ada orang yang terlihat disekitar jalan maupun taman, hanya ada beberapa mobil yang sesekali lewat. Kamipun keluar dari mobil, kemudian Riska memencet bel yang ada didekat pintu. Tak lama setelahnya, ada dua orang yang membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk.

"Yuk masuk Ram, Del." ucap Riska

"Iya, kak." jawabku serta Adellia yang cuma diam saja mengikutiku dari belakang.

Aku memasuki rumahnya dan secara otomatis memerhatikan setiap sudut dari ruangan, tampak dalam rumahnya adalah terkesan mewah dengan desain modern yang tak bisa kujelaskan. Dibagian belakang rumahnya, tampak sebuah kolam renang lengkap dengan kursi santai disekitarnya. Aku merasa seperti sedang berada disebuah hotel, kusadari suasana dirumah ini terasa sangat hening. Aku bahkan bisa mendengarkan langkah kaki kami saat sedang berjalan.

"Kalian duduk aja dulu ya, biar aku panggilin papaku sebentar." ucap Riska lalu segera bergegas menaiki tangga.

Kami mengiyakan dan langsung mengambil posisi duduk disofa. Aku memandangi sekitar ruang tamu dan melihat beberapa pajangan foto besar yang terpampang didinding. Rata-rata isinya adalah foto keluarga Riska dan foto papanya saat sedang bersama para pejabat. Beberapa kali aku mulai melihat ke arah kolam renang, sebab aku merasakan ada sesuatu energi yang aneh. Aku tak tahu itu sebenarnya apa, tapi menurut pengalamanku energi itu sepertinya adalah energi negatif. Karena aku merasakan sesuatu yang panas menyengat dan tidak nyaman dari arah sana.

Aku menoleh ke Adellia dan menggerakkan kepalaku ke arah kolam renang, layaknya memberikan sebuah kode. Adellia memandangku dan mengangguk artinya paham akan maksudku. Tetapi aku memberinya kode dengan meletakkan jari telunjukku dimulut, tanda untuk merahasiakannya. Sesaat kemudian, Riska turun dengan seorang pria yang kelihatannya sudah sangat berumur. Pria itu mengenakan pakaian santai, dan tersenyum ke arah kami berdua. Seketika aku dan Riska langsung berdiri dan bersalaman dengan papanya Riska. Lalu dia mempersilahkan kami untuk duduk kembali.

"Heru, saya papanya Riska." ucapnya tersenyum.

"Nama saya Rama om dan yang disebelah saya Adellia, salam kenal." ucapku dan membalas senyumannya.

"Tadi Riska udah ngomong sama saya tentang masalahnya. Nanti bisa saya urus, jadi kamu gak perlu khawatir." ucapnya

"Makasih banyak om, udah mau repot-repot bantuin saya." ucapku

"Justru, seharusnya saya yang harus berterimakasih udah bantuin anak saya dari laki-laki ga bertanggung jawab. Sebagai rasa terimakasih saya, kamu mau diberi hadiah apa?" ucapnya sambil tersenyum

"Ehh, gausah repot-repot om. Saya bantuin kak Riska secara ikhlas kok om." ucapku dengan cepat.

"Hmmmm, gimana kalo dijodohin sama anak saya aja?" ucapnya tiba-tiba sambil tertawa

"Ihhhh, papa becandanya kelewatan" teriak Riska lalu mencubit lengan ayahnya.

"Iyaa...iyaa... papa bercanda doang kok." ucapnya sambil tertawa

Aku dan Adellia hanya bisa terdiam didalam suasana yang aneh dan canggung ini. Walau masih terlibat dalam percakapan, tapi aku masih merasakan energi yang tidak nyaman berasal dari arah kolam renang itu. Secara tak sadar aku menjadi sering melihat ke arah sana, penasaran akan penyebabnya. Sepertinya, Adellia juga menyadari diriku yang sedang tidak fokus dan selalu memandang ke arah kolam renang. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan malam sudah mulai tiba, akhirnya papanya Riska pamit meninggalkan kami bertiga di ruang tamu.

"Kenapa Ram, kok lihat ke arah kolam renang terus?" tanya Riska, sepertinya dia juga menyadari kondisiku yang tidak fokus.

Akupun tersadar dan berkata "Ehhh, nggak ada apa-apa kok kak." ucapku spontan

Riska masih memandangku dengan tatapan curiga. Sepertinya dia tidak percaya akan apa yang telah kukatakan.
"Kamu bisa ngelihat hantu ya Ram?" ucap Riska secara tiba-tiba

"Haaa?? maksudnya kak?" tanyaku pura-pura karena tak ingin Riska tau.

"Soalnya tatapan kamu kayak lagi lihat sesuatu, dan aku dengar rumornya kamu punya ilmu kebal." ucapnya dengan ekspresi penasaran.

"Sejak kapan ada rumor kayak gitu kak?" ucapku bingung dan mulai mengerti kenapa mahasiswa lainnya menatapku aneh saat dikampus.

"Baru kemarin aja sih, teman-temanku banyak yang omongin tentang kamu. Katanya kamu bisa ngelawan belasan orang sendirian tanpa luka." jawabnya sambil menatapku.

Aku terkejut mendengar ucapannya, aku berpikir dan menyimpulkan sepertinya teman-teman David yang telah menyebarkan rumornya. Walau rumornya menjadi dilebih-lebihkan, seperti diberi bumbu penyedap.

"Emangnya kakak percaya sama omongan mereka?" ucapku

"Hmmmm, awalnya sih gak percaya Ram. Tapi waktu masuk kelas, aku ngelihat temen-temennya David pada banyak bekas luka diwajahnya. Berarti apa yang kudengar bener dong?" ucap Riska memastikan.

Aku berusaha untuk mencoba mengelak dari pertanyaan Riska. Karena entah kenapa aku merasa tak nyaman saat dicap memiliki ilmu kebal. Mungkin karena sifatku yang pada dasarnya tidak suka menjadi pusat perhatian.

"Sebenarnya aku punya alasan Ram kenapa nanya kalo kamu bisa ngelihat semacam hantu." ucap Riska serius

"Emangnya ada alasan apa kak?" balasku dengan penasaran

"Udah beberapa hari ini, aku ngerasa banyak gangguan dirumahku. Mulai dari suara aneh yang muncul waktu malam, terus ada hewan kelabang yang muncul tiba-tiba, dan beberapa pekerja disini bahkan ngelihat sosok hantunya." ucapnya dengan ekspresi takut.

Saat Riska sedang berbicara, aku merasakan hawa negatif itu makin membesar dan seperti mendekat ke arah kami. Bulu kudukku merinding secara tiba-tiba, aku merasakan suasana yang sangat tidak nyaman. Begitu juga dengan Adellia, dia terlihat mengernyitkan dahinya saat memandang ke arah kolam renang itu.

"Ram? kok diam aja nih? aku jadi merinding nih." ucap Riska sambil memegangi lengannya sendiri.

"Kayaknya memang ada yang gak beres kak, dari arah kolam renang." ucapku pelan

Tiba-tiba aku mendengar suara lelaki yang tertawa terbahak-bahak, suaranya tampak berat dan bergema. Aku dan Adellia langsung saling menatap satu sama lain, tanda bahwa kami mendengarkan hal yang sama. Seketika aku melihat ada sesosok makhluk berbulu lebat yang ukuran tubuhnya sangat tinggi dan besar muncul tak jauh dari posisi kami bertiga. Dia menatap dan memperhatikan kami dengan mata yang merah serta gigi taringnya yang panjang.

"Genderuwo ini penyebabnya Ram." ucap Adellia dengan pelan.

Bersambung....

profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 23 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Huahuhauhaaaa,, kumenangisssss...
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Wkwkwkw...kentang lagi bre emoticon-Ngakak
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 3 dari 15


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di