CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Awakening (Supranatural & Romance)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f59f61509b5ca3feb6ac28e/awakening-supranatural-amp-romance

Awakening (Supranatural & Romance)

Awakening (Supranatural & Romance)

Awakening (Supranatural & Romance)

Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.


INTRO
Hitam dan putih adalah suatu simbol yang seringkali dijadikan sebagai penentu akan hal baik maupun yang buruk.
Baik itu 1000 tahun yang lalu maupun 1000 tahun yang akan datang, manusia masih akan tetap menggunakan konsep yang sama untuk membedakan mana yang benar dan salah. Yang berbeda adalah alasan dan kepentingan mereka.

Bagi segelintir manusia, kehidupan terasa sangat membosankan. Manusia selalu dituntut untuk hidup mengikuti arus dan suara mayoritas. Kehidupan yang harus sesuai dengan ekspektasi orang lain, bagaikan sebuah boneka yang tak bisa lepas dari kendali pemiliknya.

Ini adalah cerita kehidupan seseorang yang dulunya mengikuti arus tanpa mengerti apa tujuannya. Hingga suatu saat sebuah pertemuan dan mimpi berhasil mengubah jalan hidupnya. Kehidupan dirinya yang tenang mulai bersinggungan dengan dunia mereka, para makhluk yang tak kasat mata. Layaknya sebuah takdir, kisah cintapun mulai terbentuk dan tumbuh didalam dirinya.

Inilah kisah Rama yang akan menyadari kepingan yang hilang dari hidupnya.

INDEKS
1. Pertemuan Pertama
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh

Berhubung TS juga upload cerita ini di Wattpadd. Bagi yang berminat baca dan support TS bisa buka link dibawah ini.
https://my.w.tt/8GV5RUwaW9

Terimakasih emoticon-Big Grin

Chapter I Pertemuan Pertama

Perkenalkan nama lengkapku adalah Rama Wijaya, sering dipanggil Rama. Aku diberikan nama itu oleh ayahku karena sebuah alasan klasik. Seperti orangtua pada umumnya yang menggunakan nama idolanya sebagai nama anaknya. Ceritanya dulu, ayahku sangat menyukai kisah legenda wayang yang sangat populer pada masanya. Kisah legenda yang sangat sering dan telah banyak diadaptasi. Yaitu kisah legenda Rama dan Shinta.

Ayahku berasal dari desa yang masih sangat kental dengan adat istiadat Jawa. Sedangkan Ibuku sudah menetap di Jakarta sejak lama. Sebenarnya, background mereka sangat berbeda dan bertolak belakang. Begitu juga dengan sifat mereka, tapi anehnya mereka bisa berakhir hidup bersama, aneh bukan?.

Mereka berdua bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta yang berbeda. Secara finansial bisa dikatakan keluarga kami berkecukupan. Sejak kecil aku juga diajarkan untuk hidup sederhana oleh orangtuaku. Aku selalu diajarkan untuk hidup dengan prinsip yang baik.

Aku adalah anak semata wayang alias anak satu-satunya di keluargaku. Banyak orang mengatakan aku pasti sangat disayang dan dimanja kedua orangtuaku. Tapi pada kenyataannya, kedua orangtuaku sangat sering berselisih pendapat dan bertengkar. Itulah sebabnya aku menjadi orang yang kurang percaya diri dan pendiam. Dikarenakan aku sering memendam pikiran dan perasaanku sendiri.

Kehidupanku sejak kecil sampai aku menginjak bangku SMA bisa dikatakan biasa saja. Tiada kejadian unik ataupun menarik yang bisa kubanggakan. Aku hanya menjalani kehidupan yang membosankan. Layaknya seseorang yang berenang mengikuti arus sungai tanpa menyadari kemana arah tujuannya.

Selama hidupku aku hanya memiliki seorang sahabat yang bernama Steven. Dia termasuk salah satu siswa terpopuler di sekolahku. Alasannya karena wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tinggi seperti model. Ditambah lagi dengan sifatnya yang ramah dan humoris, menjadikan dirinya pria yang selalu menjadi pusat perhatian bagi para wanita.

Berbanding terbalik denganku yang cuma berwajah biasa saja, pendiam dan tidak suka menjadi pusat perhatian. Sebenarnya Steven seringkali mengatakan kalau aku memiliki wajah yang tampan. Tapi aku tidak percaya dan tak menggubris omongannya.

Kami berdua sudah kenal sejak kelas 1 SMP, disaat kami berada dikelas yang sama. Saat ini kami baru saja lulus dari jenjang pendidikan SMA. Kami berdua akan melanjutkan pendidikan ke universitas dan jurusan manajemen yang sama di Jakarta.

Berhubung jarak antara rumah dan kampus kami yang tergolong sangat jauh. Aku dan Steven berinisiatif untuk hidup ngekost di dekat daerah kampus. Untungnya kedua orangtua kami setuju dan memperbolehkannya. Hitung-hitung agar kami bisa hidup lebih mandiri kedepannya.

Setelah menjalani semua proses registrasi dan test. Akhirnya tibalah hari dimana kami akan mengikuti kegiatan ospek alias pengenalan kampus. Pada hari itu aku dan Steven berangkat ke kampus bersama. Sejak dulu kami sudah terbiasa untuk berangkat ke sekolah bersama. Disepanjang perjalanan, biasanya kami berbincang-bincang mengenai berbagai macam topik. Entah itu tentang cewek,game,politik dan berbagai macam jenis topik lainnya.

Tak terasa karena sedang asik ngobrol, ternyata posisi kami sudah berada tak jauh dari gerbang pintu masuk kampus. Disana terlihat banyak mahasiswa baru yang sedang berbondong-bondong dan bergegas memasuki gerbang.

"Ram, ternyata sesuai ekspektasi gw. Disini emang banyak banget cewek cantiknya. Ga nyesel dah gw masuk kampus ini." celetuk Steven sembari celingak-celinguk ke arah kanan dan kiri.

"Masih sempet-sempetnya aja lo liatin cewek. Perhatiin panitia ospeknya tuh. Matanya udah melototin kita dari jauh noh." sindirku pada Steven sambil bergegas jalan menuju lapangan.

Setelah sampai di lapangan, kami langsung disuruh berbaris sesuai yang ditetapkan. Lalu kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Rektor dan para pejabat kampus. Pidatonya terasa sangat formal dan membosankan. Aku tak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan, sebab aku sedang asik melamun. Sesekali aku menoleh dan memperhatikan mahasiswa yang ada disekitarku.

Akhirnya setelah upacara penyambutan yang membosankan itu selesai. Tibalah saatnya panitia ospek melakukan tugasnya. Contoh tugas yang mereka lakukan adalah seperti berteriak sambil mencari kesalahan para peserta ospek. Selain itu mereka juga memberi tugas-tugas aneh yang aku tak mengerti apa tujuan dan manfaatnya.

"Waktunya pembagian kelompok." teriak salah satu panitia ospek

Pada saat pembagian kelompok, panitia ospek sengaja memisahkan peserta yang dulunya masuk di sekolah yang sama. Otomatis aku harus berada di kelompok yang berbeda dengan Steven. Aku terpaksa harus bersosialisasi dan bergaul dengan orang-orang baru.

Pada akhirnya aku ditempatkan di kelompok tiga belas yang berisikan empat orang anggota. Aku maupun mahasiswa lainnya langsung bergegas pergi mencari anggota kelompok kami masing-masing.

Setelah mencari dengan waktu yang cukup lama, akhirnya aku menemukan mereka yang sedang berteriak "kelompok tiga belas" sambil melambaikan tangannya. Tak memakan waktu yang lama, semua anggota kelompok kami akhirnya berkumpul. Kami langsung bersepakat untuk memperkenalkan diri masing-masing secara bergiliran.

Aku sengaja menunggu mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu. Agar bisa memperhatikan cara mereka memperkenalkan diri. Selain itu aku merasa lebih nyaman memperkenalkan diriku diakhir.

"Halo semuanya, nama gw Raka." ucap seorang laki-laki berkacamata.

Ku perhatikan tampak ukuran tubuhnya sedang, wajahnya terlihat cukup berkharisma. Penampilan dan gerak geriknya terasa terkesan seperti seorang akademisi bagiku. Aku merasa sedang melihat ketua OSIS waktu SMA dulu.

Dilanjutkan dengan seorang wanita dengan tubuh mungil, mata bulat dan wajah yang tampak polos. Panjang rambutnya sekitar sebahu membuatnya terkesan sangat imut.

"Hai, namaku Gayatri, biasanya dipanggil Tri"
ucapnya dengan suara yang manis.

"Salam kenal, namaku Adellia biasa dipanggil Adel." ucap wanita yang berdiri disebelah Gayatri.

Tubuhnya terlihat cukup tinggi dan proporsional seperti seorang model.
Wajahnya berbentuk oriental, saat tersenyum matanya tampak menyerupai bentuk bulan sabit. Senyumannya benar-benar terlihat sangat manis.

Rambutnya yang panjang terurai membuat penampilannya tampak elegan. Walau memakai pakaian yang sama dengan mahasiswi yang lain, dia tampak berbeda dan unik. Gayanya terlihat sangat modis dan memesona.

Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang unik dan menarik sejak pertama kali aku melihat dirinya.

Pada akhirnya, waktunya giliranku untuk memperkenalkan diri.

"Halo, nama gw Rama" ucapku singkat.

Seperti biasa, aku tidak pandai bersosialisasi dengan orang yang baru kutemui dan hanya bisa berkata dengan singkat jelas dan padat. Aku hanya berharap mereka tidak mendapat kesan yang jelek saat berkenalan denganku.

Setelah memperkenalkan diri masing-masing, kami langsung bergegas menemui kakak tingkat yang bertugas mengawasi dan memberikan tugas kelompok kami.

Kating yang mengawasi kelompok kami adalah seorang pria yang bernama Ansel. Kesan pertamaku saat melihatnya adalah bahwa dia orang yang ramah dan santai. Sebab aku memperhatikan dia selalu memasang ekspresi wajah yang ceria, berbeda dengan kating yang lain.

Sambil memegang kertas ditangannya, dia mulai berkata "Untuk Kelompok tigabelas, ini list peralatan sama tugas yang harus kalian kumpulkan untuk ospek besok. Jadi, jangan sampai ada yang telat dan gak lengkap, OK?" ujar Ansel

Setelah menjelaskan semuanya, Ansel langsung pamit dan pergi. Dikarenakan jam sudah mengarah pada angka lima yang artinya sudah waktunya pulang.

Sementara itu, kelompok kami harus berdiskusi dan membagi tugas terlebih dahulu sebelum pergi pulang. Kami berinisiatif untuk membuat group LINE untuk mempermudah komunikasi.

Kebetulan diskusi kelompokku selesai lebih cepat daripada kelompok Steven. Oleh karena itu, aku masih harus menunggu Steven menyelesaikan diskusinya. Aku berdiri menunggunya didepan pintu gerbang.

Tak lama kemudian, setelah menunggunya sekitar lima menit akhirnya aku bertemu dengan Steven. Tanpa berpikir panjang, kami langsung memutuskan untuk pergi pulang. Seperti biasanya, kami hanya mengobrol dan bercanda santai disepanjang perjalanan pulang.

"Ram, gimana tadi kelompok lo? Ada yang cantik gak disana?" tanya Steven sambil cengar-cengir.

"Hadeh, kalo ada yang cantik juga gak akan gw kasih tau ke lo. Kasian tuh cewek, kalo cuma jadi korban selanjutnya." ucapku

"Yah gak asik lo ahh, coba kenalin ke gw dong. Soalnya dikelompok gw rata-rata cowok semua, kampret emang." keluh Steven

"Hahaha rasain, makan dah tuh batang." ejekku

Sembari diperjalanan, tak sengaja aku melihat Adellia yang sedang berjalan sendiri tidak jauh dari posisiku. Tapi anehnya aku melihat dia seperti sedang berbicara sendiri sambil menoleh ke arah kirinya yang kosong.

Beberapa saat kemudian, setelah aku memandanginya yang sedang berbicara sendiri cukup lama.

Tiba-tiba Adellia menoleh kebelakang dan memandang diriku.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gwazwei dan 36 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
Halaman 1 dari 13

Chapter 2 Mimpi yang Aneh

Saat pandangan kami saling bersentuhan. Secara tak sadar, seketika aku dan Adellia berhenti berjalan. Kami berdua terdiam sesaat, hanya memandang satu sama lain.

Pada saat itu entah kenapa, anehnya aku merasa pandangan matanya seperti sedang menarik sesuatu didalam diriku. Jantungku mulai terasa berdebar-debar dengan sendirinya. Rasa gugup mulai datang dan memenuhi seluruh tubuhku.

Mungkin ini yang disebut-sebut orang dengan cinta pada pandangan pertama. Baru kali ini aku merasakan hal semacam ini, rasanya sangat istimewa. Sepertinya, aku tak bisa menjelaskan perasaanku saat ini hanya dengan kata-kata.

Saat aku terhanyut didalam pikiranku sendiri, perlahan aku merasakan rasa sakit dibagian perutku. Ternyata, Steven sedang memandangku aneh sambil menyikut bagian perutku berkali-kali.

"Woi Ram, lo kenapa liatin itu cewe sampe mupeng gitu?" tanya Steven dengan ekspresi curiga.

"Mupeng pala lo peang, gw sama dia sebenarnya satu kelompok ospek tau." jawabku

"Gila, dia cantik banget dah, kenalin ke gw dong Ram. Ntar bakal gw traktir sepuasnya deh sebagai imbalan hehehe." ucap Steven

"Lo tau sendiri deh sifat asli gw gimana. Gw masih susah buat deket sama orang yang baru kenal Ven. Boro-boro ngenalin ke lo, paling habis ospek juga dia udah lupa sama gw." jawabku

"Yah elu mah belom nyoba udah nyerah duluan. Gw yang nyamperin dia dluan deh, bye-bye." ucap Steven lalu berlari cepat menuju Adellia.

Sebelum sempat aku merespon, Steven sudah berlari terlebih dahulu. Oleh sebab itu aku langsung bergegas mengejarnya.
"Woi bangke, lo jangan malu-maluin gw ven." panggilku

Tapi apadaya, aku sudah telat menghentikannya terlebih dahulu.

"Hai, kenalin nama gw Steven" ucap Steven sambil tersenyum sekaligus menjulurkan tangannya kepada Adellia.

Dengan nafas tergesa-gesa aku berdiri gugup disamping Steven yang sedang menjulurkan tangannya.

"Duh emang malu-maluin nih anak." ucapku didalam hati.

"Adellia" balas Adel dengan tersenyum kecil lalu membalas uluran tangan dari Steven.

Steven tersenyum sumringah lalu mulai bertanya basa-basi ala playboy cap buaya. Adellia hanya meresponnya dengan menjawab singkat yang terkesan tidak tertarik sama sekali.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Adellia mulai bertanya.

"Ram, kalo boleh tau asal kamu dari mana ya?" ucapnya kepadaku

"Kok dia nanyanya ke gw ya dan kok pake kata kamu?" tanyaku dalam hati.

"Asal gw dari Jakarta del, cuma rumah gw jauh dari kampus. Makanya sekarang gw lagi ngekost bareng Steven di dekat sini." jawabku

Tanpa melewatkan kesempatan, Steven langsung memotongku yang sedang berbicara. Dia langsung meluncurkan pertanyaan.

"Kalo lo asalnya dari mana Del?" ucapnya

"Kalo gw sih asalnya dari Surabaya, tapi sejak SMA gw udah pindah ke Jakarta." balas Adellia

"Ohhh, kalo gitu sekarang tinggalnya dimana Del?" tanya Steven sambil mengkedipkan salah satu matanya.

"Dekat dari sini juga kok, di gang kedua dari jalan besar." jawab Adellia

"Lah, kita berdua juga ngekost di gang dua nih. Kenapa kita gak bareng aja Del baliknya? hehe." ucap Steven dengan senyum nyengir.

"Boleh juga tuh, oh iya besok mau bareng juga gak Ram berangkat ospeknya?" tanya Adellia kepadaku

Aku mengangguk mengiyakannya sambil menggaruk-garuk kepalaku.

"Boleh del, tapi ntar ketemuan dimana Del?" tanyaku

"Minta nomor HP kamu aja Ram, ntar aku kabarin lewat WA aja ok?" balas Adel dengan tersenyum.

"0821*****632, itu Del nomor gw." ucapku seraya memperhatikan Adellia yang sibuk mengetik di Handphonenya.

Didalam benakku, aku berasumsi bahwa dia tidak tertarik sama sekali dengan Steven. Dan anehnya dia malah sering bertanya kepadaku, tapi mungkin saja karena kami berada di satu kelompok yang sama. Tak mungkin wanita secantik dia tertarik kepadaku, ucapku dalam hati.

Saat aku sibuk tenggelam didalam pikiranku sendiri. Tiba-tiba Steven mendekat ke sampingku lalu berbisik pelan ditelingaku.

"Lo naksir ya sama dia? dari tadi mupeng mulu lo liatin dia." ejek Steven dengan ekspresi tengilnya.

Aku sedikit terkejut mendengar ucapan Steven. Semoga saja Adellia tidak mendengar ucapannya, karena aku tak ingin dia merasa tidak nyaman didekatku. Tanpa basa-basi, aku langsung membalas keisengannya dengan mencengkeram keras kedua pundaknya. Seketika dia langsung meringis dan menjerit kesakitan.

Disepanjang perjalanan pulang, kami bertiga hanya mengobrol santai mengenai topik ospek, dan sesekali membahas tentang hal umum lainnya. Saat sampai di gang kedua, kami berpisah dan saling pamit sebelum memasuki kost kami masing-masing. Saat kuperhatikan, ternyata jarak antara kedua kost-an kami hanya dipisahkan oleh tiga bangunan rumah saja. Sungguh kebetulan yang aneh, pikirku.

Saat masuk kedalam kost, aku dan Steven langsung masuk ke kamar kami masing-masing. Aku bergegas mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah terasa sangat lengket. Efek dari mengikuti aktifitas ospek yang melelahkan seharian.

Selesai mandi, aku melanjutkan beres-beres di kamar sembari mempersiapkan peralatan dan mengerjakan tugas ospek untuk besok. Saat sibuk mengerjakan tugas ospek, tiba-tiba aku mendengar suara handphone yang berbunyi. Sebagai tanda adanya notifikasi yang masuk.

Aku langsung bergegas mengeceknya dan benar sesuai dugaanku, notifnya berisikan pesan Whatsapp dari Adellia yang isinya menanyakan seputar tugas. Selain itu dia juga bertanya tentang waktu dan tempat janjian bertemu esok pagi.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjawab pesan darinya. Sejak saat itu, kami mulai aktif saling berkirim pesan. Tak tahu kenapa, saat itu aku merasa sangat senang. Sampai-sampai, aku tersenyum dan heboh sendiri tanpa alasan. Mungkin aku sudah mulai gila pikirku hahaha.

Setelah membalas pesannya aku melanjutkan mengerjakan tugas dan mempersiapkan peralatan untuk ospek besok. Saat selesai mempersiapkan semuanya, tak terasa jam di layar handphoneku sudah menunjukkan angka dua. Aku langsung pergi bergegas tidur supaya tidak telat besok paginya.

Suasana hening pada malam itu berhasil menenangkan tubuh dan pikiranku. Perlahan-lahan kesadaranku mulai memudar dan akhirnya hilang. Saat tersadar, aku melihat sebuah pantai yang luas dipenuhi dengan pasir yang berwarna emas. Saat aku memandang ke atas, tampak langit yang cerah berwarna biru.

Saat itu, aku bisa merasakan tubuhku sedang melayang dan bergerak di udara dengan laju yang sangat cepat. Anehnya aku bisa merasakan seperti gesekan angin disekujur tubuhku. Selain itu, suara angin yang sangat lebat berhasil menutupi pendengaranku.

Saat aku mencoba merasakan sensasi yang lebih dalam. Aku melihat ombak yang sangat tinggi mulai mendekat ke arahku yang sedang berdiri di udara. Ombak itu seperti sedang mengincarku, layaknya tsunami yang bergerak tanpa ampun yang mencoba menenggelamkan diriku.

Pada akhirnya, ombak itu berhasil menangkapku dan menyelimuti keseluruhan tubuhku. Seketika aku terkejut dan terbangun dari tidurku. Aku menyadari bahwa yang kualami tadi hanyalah sebuah mimpi. Anehnya setelah terbangun, aku merasakan tubuhku terasa sangat ringan. Tubuhku seperti dikelilingi udara sejuk dan penuh dengan energi.

Aku masih tidak bisa lupa dengan mimpi yang kualami tadi. Soalnya aku baru pertama kali mengalami mimpi mengerikan seperti itu. Tak lupa, aku coba mengecek jam di handphoneku. Angka yang ditunjukkan di layar adalah angka empat, artinya waktu tidurku tadi hanya sekitar dua jam saja.

Aku merasa aneh dan bingung karena tubuhku yang rasanya tidak lelah. Rasa kantuk yang menghantuiku tadi malam juga menghilang seketika. Aku berbaring dan termenung diatas kasur sejenak. Hingga akhirnya aku tersadar, bahwa pagi ini aku harus cepat bangun. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mencoba untuk tidur kembali.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 17 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
lanjut.
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Chapter 3 Kesurupan Massal

"Tok...Tok...Tok..!!!"

"Tok...Tok....Tok.....!!!"

"Woi Ram, lo udah beres siap-siap blom?"

Suara ketukan pintu yang keras beserta teriakan Steven berhasil membangunkan tidur lelapku. Saat aku perlahan mulai membuka mata dan menyentuh layar handphoneku, disana tertulis angka 07.10. Aku baru mengingat kalau ospek hari ini diadakan pada jam 07.30.

"Ahhh, kenapa lo baru bangunin gw sekarang venn!!!." jeritku seraya bergegas berlari menuju kamar mandi.

"Lo berangkat duluan aja Ven, ntar lo bisa telat kalo nungguin gw." teriakku dari dalam kamar mandi.

"Yaudah deh Ram, gw berangkat duluan yaaaa." balas Steven.

Setelah bersiap-siap seadanya dengan waktu kurang dari 15 menit. Aku langsung bergegas mengambil peralatan dan tugas ospekku, tanpa berpikir banyak aku pergi berlari menuju kampus seperti orang yang sedang kesetanan.

Saat sudah berada dipersimpangan jalan gang, aku melihat Adellia yang sedang berdiri bersandar di sebuah tiang. Aku terheran, karena ternyata dia masih tetap menunggu diriku. Aku tak menyangka dia begitu setia menungguku yang tidak datang sesuai perjanjian.

Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari mendekatinya.

"Del, sorry banget ya, gw bangun kesiangan tadi." ucapku dengan ekspresi menyesal.

"Yaudah gpp kok ram, yuk langsung berangkat aja. Ntar keburu telat nih". balas Adellia dengan senyuman manis.

Tanpa menghabiskan waktu yang berlama-lama kami berduapun langsung bergegas pergi menuju kampus. Disaat posisi kami sudah mendekati gerbang pintu masuk kampus, kami tidak lagi melihat adanya mahasiswa baru yang lain. Disana hanya tersisa beberapa kating panitia ospek yang sedang berdiri didepan gerbang masuk.

Dengan teriakan yang lentang, salah satu dari panitia ospek itu memanggil kami berdua.
"Hei, yang berdua disana cepat datang kesini!!!"

Kami langsung bergerak mendekati para panitia ospek yang sudah memasang raut wajah marah dan tatapan sinis khasnya.

Aku jadi merasa bersalah kepada Adellia, dia akan ikut terkena hukuman karena kesalahanku. Mungkin ini akan membuatnya jengkel, dan memberinya kesan yang buruk terhadapku. Aku hanya bisa pasrah dan berharap semua ini bisa cepat berlalu.

"Kenapa kalian berdua bisa terlambat?" tanya salah satu panitia ospek.

"Maaf kak, tadi saya bangun kesiangan." jawabku pelan.

"Halah!!! alasan klasik, ga ada alasan yang lain apa?" cibirnya

Aku hanya bisa menjawab pertanyaan mereka seadanya saja. Karena aku tau, jika memberi banyak alasan, mereka akan semakin senang meladeniku dan memberikan pertanyaan yang sulit. Setelah memborbardir kami dengan sekian banyaknya pertanyaan sekaligus sindiran, akhirnya mereka merasa puas dan akan memberikan kami hukuman.

Ternyata yang menjadi hukumannya adalah bahwa kami berdua harus membersihkan ruangan panitia ospek. Jadi, kami baru diperbolehkan mengikuti kegiatan ospek setelah selesai membersihkan ruangannya.

Sepertinya ini akan memakan waktu yang cukup lama. Belum lagi jika ada banyak orang diruangan itu, sudah pasti kami akan dicibir dan menjadi bahan gossip mereka. Sungguh hari yang sangat sial, pikirku.

Saat sedang berjalan menuju ke ruangan panitia ospek, terjadi beberapa percakapan diantaraku dan Adellia.

"Sorry banget ya del, gara-gara gw, lo juga jadi kena hukum." ucapku

"Kamu sih ram, masih sempet-sempetnya aja ngebo waktu ospek hahaha." jawab Adellia

"Santai aja kali ram." ucapnya sambil menepuk-nepuk pundakku.

"Makasih ya, tapi kok lo masih mau nungguin gw sih Del?." ucapku canggung.

"Sama-sama, mungkin karena aku tipe orang setia kali Ram? hehe." ucapnya sambil tersenyum kecil.

"Tapi tetep aja aku ngerasa gaenak sama kamu Del." ucapku pelan

"Gapapa kali Ram, lagian aku udh lama banget gak dihukum. Jadi hitung-hitung buat nostalgia deh hahaha." ucapnya sambil tertawa

Duh, udah cantik, orangnya baik, ditambah sifatnya yang humoris juga. Benar-benar tipe wanita idaman bagi para pria pikirku. Aku penasaran, pria beruntung seperti apa yang akan mendapatkan hatinya. Mungkin di kehidupan sebelumnya, pria itu telah berjasa menyelamatkan sebuah negara, ucapku dalam hati.

Beberapa saat kemudian, akhirnya kami berdua tiba diruangan panitia ospek. Didalam ruangan itu hanya terdapat dua orang panitia saja. Ada sepasang panitia pria dan wanita disana. Jika dideskripsikan pria itu memiliki tubuh berisi dan cukup tinggi, berambut cepak dan dia memasang ekspresi wajah yang tampak sinis. Sedangkan wanita itu memiliki bentuk wajah oval, rambutnya hitam bergelombang, dan bentuk tubuhnya bagaikan jam pasir. Bisa dikatakan, dia tak kalah cantik jika dibandingkan dengan Adellia.

"Kalian berdua lagi ngapain disini?" tanya panitia wanita dengan ekspresi bingung.

"Kita berdua dihukum buat bersihin ruangan ini kak, karena tadi datangnya telat." jawabku

"Baru aja hari kedua, kalian udah berani-beraninya datang telat." bentak panitia pria

"Anehnya ada sepasang cowok dan cewek. Kalian gak mau sekalian aja pacaran disini?" ejeknya

"Masih maba udah berani macem-macem kalian berdua. Kalian gak ngerasa malu apa?" tambahnya lagi

"Udah rif, biarin aja mereka kerja." ucap panitia wanita

"Gapapa ris, biar dua anak ini bakal jera." balasnya sambil melihat kami dengan sinis.

"Terserah lo deh, asal lo jangan sampai kelewatan aja." ucap panitia wanita

"Oke ris, kalian berdua ngapain liat-liat, sana cepat kerja." bentaknya

Sebenarnya aku sangat kesal mendengar ucapannya. Tetapi aku tidak ingin menambah masalah lagi, aku hanya bisa diam dan memaki panitia sialan itu didalam hati. Tetapi karena ucapan panitia sialan ini, aku menjadi makin merasa bersalah terhadap Adellia. Seharusnya dia tidak harus kena omelan panitia ini kalau bukan karena kesalahanku. Sementara itu, panitia tersebut masih saja mengoceh dan mengomeli kami tanpa henti saat bekerja.

"Kalian udah pada jadian belum nih? selagi ada momen-momen romantis nih." ejeknya

"Kalo kalian ga jadian, mending lo pacaran sama gw aja." ucapnya kepada Adellia sambil tersenyum

"Mending gw pacaran sama dia, ketimbang sama lo yang udah jelek, berisik lagi." ucap Adellia tegas.

Suasana berubah menjadi hening seketika. Aku mulai berpikir, apa telingaku yang salah dengar atau aku sedang berhalusinasi?

"Beraninya lo ngata-ngatain gw hahhhh!!!" teriak panitia pria itu.

Aku tersadar, ternyata apa yang kudengar adalah kenyataan.
"Duh, masalahnya makin ribet aja nih." ucapku dalam hati.

"Emang kenapa? emang cuman lo doang yang bisa ngata-ngatain orang lain?" jawab Adellia dengan suara yang lantang.

Panitia pria itu langsung berusaha mendekati Adellia dan mencoba mencengkeram tangannya. Tanpa ragu aku langsung memposisikan diriku didepan Adellia dan menghadang panitia sialan itu.

"Jangan halangin gw, woi b*ngs*t." teriaknya padaku

"Udah rif lo keluar aja deh, kalo mau bikin ribut jangan disini." ucap panitia wanita itu dengan ekspresi jengkel.

"Lo malah bantu mihak mereka ris, yaudah gw bakal keluar tapi awas ya lo berdua." ancamnya seraya bergegas keluar ruangan

Aku tak menyangka panitia pria itu berani bermain fisik, apalagi terhadap perempuan. Ternyata di dunia nyata juga masih ada manusia-manusia br*ngs*k seperti dia, pikirku. Sejenak, aku menoleh kebelakang dan bertanya ke Adellia.

"Lo gapapa kan del? gausah didengerin tuh orang gila." ucapku khawatir.

"Aku gpp kok ram, ternyata seru juga ya ladenin orang songong kayak gitu hahaha. Omong-omong kok wajahmu pucat ram?" tanya Adellia

"Ah gpp kok del, gw cuma sedikit shock doang hehehe" jawabku dengan malu.

"Udah bikin onar masih bisa bercanda ya kalian berdua. Cepet sana bersihin ruangannya, sebelum panitia yg lain datang" ucap panitia wanita

"Makasih banyak kak udah mau bantuin kita." ucapku sambil bergegas membersihkan ruangan

"Sama-sama, tapi jangan bikin onar lagi ya habis ini." balasnya dengan tersenyum

Untung saja panitia wanita ini mau membela kami. Seandainya tidak, sudah pasti terjadi baku hantam diantaraku dengan panitia pria itu. Yang pastinya akan memperumit masalah kami. Hingga tak lama kemudian, akhirnya kami selesai membersihkan ruangan panitia ospek itu. Kami langsung pamit dan bergegas pergi keluar ruangan. Saat kami berjalan menuju aula tempat dimana kegiatan ospek sedang dilaksanakan, tiba-tiba terdengar banyak suara jeritan dan teriakan histeris dari dalam aula.

"Ada apa tuh didalam sana?" tanyaku dalam hati

Seketika juga banyak orang yang berlarian keluar dari ruangan aula berbondong-bondong. Aku merasa bingung, apa sedang terjadi kebakaran didalam sana pikirku. Tapi aku tidak melihat ada asap ataupun api dari arah sana. Disaat aku sibuk berpikir dan tenggelam didalam lamunanku sendiri. Tiba-tiba Adellia mengucapkan kata-kata yang berhasil membangunkanku.

"Ram, kayaknya kita bakal libur deh hari ini." celetuk Adellia.

"Ha? maksudnya Del? emangnya ada apa ya disana, sampe semuanya pada kabur?" tanyaku dengan ekspresi bingung.

"Disana lagi ada kesurupan massal Ram." jawabnya pelan

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep

Chapter 4 Warna Merah

"Hah... serius ini kesurupan massal?" tanyaku dengan heran.

Adellia mengangguk dan berkata
"Katanya sih kampus kita emang angker Ram, terutama di bagian aulanya. Tahun lalu juga kabarnya ada kejadian yang sama, cuma bedanya tahun lalu kesurupan massalnya malam-malam." jelasnya

"Waduh, kalo gitu kita ngikutin yang lain aja yuk Del" ucapku

"Yaudah ayuk Ram, tapi kayaknya yang lagi pada keluar juga bakal kesurupan ram" ucap Adellia

Aku terkejut mendengar jawabannya dan sesaat setelah adel selesai berbicara, aku melihat beberapa dari peserta ospek mulai pingsan dan beberapa orang lainnya berteriak sembari tertawa cekikikan.

Secara spontan aku bertanya
"Kok lo bisa tau Del?"

"Jangan-jangan lo bisa...."

"Iya Ram, gw bisa ngelihat mereka" jawab Adel dengan singkat

"Berarti kemarin, waktu gw ngelihat lo bicara sendiri itu...."
Aku terkejut dan tak menyangka ternyata Adellia adalah seorang indigo.

"Waktu itu aku lagi ngobrol sama temen ghoib, emang kamu gak bisa liat Ram?" tanya Adel dengan wajah yang bingung dan penasaran.

"Hah? gw gak bisa liat yang gituan Del." jawabku dengan bingung

"Hmmm, tapi kok ada sinar ya di pertengahan alis kamu? bukannya itu tanda dari mata ketiga kamu yang udah terbuka?" tanya Adel yang juga tampak bingung

"Sinar gimana maksudnya Del? Serius, aku gak paham." jawabku

Adellia tak membalas ucapanku, dia hanya diam menatapku sambil mengernyitkan dahinya. Aku menjadi makin bingung dan tak mengerti apa yang dimaksud dari omongan Adel. Melihat situasi sekitar yang makin kacau juga membuatku bingung harus berbuat apa.

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang.
"Woi Ram, ngapain diam aja disana? sini ikut bareng gw" teriak Steven

Huffttt, aku mulai lega dan mengajak adel keluar dari lokasi bersama Steven. Untungnya timing kemunculan Steven sangat tepat dengan situasi yang canggung itu.

Sesaat setelah kami sampai dilokasi baru yang lebih tenang, Stevenpun mulai bertanya.
"Dari mana aja lo Ram, gak keliatan dari pembukaan ospek tadi?"

"Tadi, gw sama Adel dihukum karena telat." jawabku

"Hahaha, dihukum ngapain aja tuh? tawa Steven

"Disuruh bersihin ruangan panitia ospek" jawabku

Dengan memasang wajah tengilnya Steven berkata
"Walau dihukum tapi lo tetep senengkan, bisa berduaan bareng Adel" ejeknya

"Emang kampret nih anak" jawabku sambil menendang ke arah bokongnya

Adel hanya duduk diam dan tersenyum melihat tingkah kami berdua. Hingga beberapa saat kemudian para panitia mengumumkan peserta ospek bisa pulang terlebih dahulu dan kegiatan ospek dilanjutkan esok hari.

Setelah mendengar pengumuman kami bertiga langsung memutuskan untuk berangkat pulang bersama.
Saat di perjalanan kami hanya ngobrol santai mengenai hal-hal umum dan kehidupan kami dulu sewaktu SMA.

Tapi sebenarnya omongan dari Adel saat terjadi kesurupan massal di kampus masih terngiang dikepalaku. Aku masih tidak mengerti apa maksudnya dengan sinar dan mata ketiga yang disebutnya.

Aku juga menjadi was-was karena setauku orang yang memiliki kemampuan seperti indigo biasanya merahasiakan kemampuan mereka.
Aku berpikir apakah Adellia keceplosan karena dia berpikir kalau aku memiliki kemampuan yang sama dengannya. Tapi yang pasti untuk saat ini aku berpikir untuk merahasiakannya dari orang lain termasuk Steven.

Sebelum sampai dikost masing-masing aku dan Adel sepakat untuk berangkat bareng lagi besoknya.

Saat sampai di kamar, aku langsung berbaring di kasur dan termenung sejenak. Aku berpikir sepertinya didalam hidupku, baru kali ini aku merasakan interaksi yang sangat dekat dengan seorang wanita selain ibuku sendiri.

Tetapi sebelum berpikir yang aneh-aneh dan berharap banyak, lebih baik aku membatasi pikiranku dengan alasan kami berdua hanya sekedar teman biasa.

Setelah lelah melakukan aktifitas seharian, aku mengecek jam di layar handphoneku dan melihat angka satu disana. Tanpa berpikir panjang, akupun bergegas tidur supaya tidak telat dan terkena hukuman lagi besoknya.

Aku mulai memejamkan kedua mataku, hingga kesadaranku perlahan-lahan mulai menghilang. Tak tahu sudah berapa lama aku tertidur, hingga saat aku tersadar, aku melihat hal yang sama seperti malam kemarin. Dimana aku sedang berdiri diatas udara dan melihat pantai dan laut yang luas dari atas.

Sejenak aku baru menyadari, ternyata tubuhku tidak bisa dikendalikan dan hanya bisa mengikuti insting saja. Layaknya seorang penonton yang hanya bisa memperhatikan saja.

Saat aku masih sibuk memperhatikan sekitarku, tiba-tiba ombak yang tadinya tenang berubah menjadi makin tinggi. Hingga perlahan-lahan aku melihat sesuatu muncul dari kedalaman ombak itu.

Aku melihat makhluk seperti ular yang bersisik dan berwarna merah menggunakan seperti mahkota yang bersinar dikepalanya. Aku tidak bisa melihat keseluruhan tubuhnya karena sebagian tubuhnya ditutupi oleh ombak.

Beberapa saat kemudian, makhluk itu mulai bergerak mendekat kearahku dengan sangat cepat. Spontan, tubuh dan instingku bereaksi ingin melarikan diri dari makhluk tersebut. Tapi apadaya ternyata kecepatan makhluk itu jauh lebih cepat dibandingkan dengan kecepatanku yang melayang diudara.

Saat makhluk itu sudah berjarak sangat dekat denganku, secara tak sadar aku memperhatikan bola matanya yang berwarna emas. Hingga perlahan-lahan kesadaranku mulai buyar.

Akupun terbangun dan merasakan keringat dingin yang telah membasahi tubuhku. Mimpi itu masih sangat terasa nyata dan terekam jelas diingatanku. Jika mengingatnya kembali, sekujur tubuhku akan merinding dengan otomatis.

Kubuka layar handphoneku dan melihat jam masih menunjukkan angka tiga. Tak mau melakukan kesalahan yang sama seperti hari sebelumnya, akupun memasang alarm dan menenangkan diriku. Dibenakku, aku hanya mencoba mengalihkan pikiranku dari mimpi mengerikan tadi. Hingga perlahan-lahan akhirnya akupun tertidur kembali.

"Ring...Ring....Ringg..."
Suara alarm berbunyi dan berhasil membuatku terbangun dari tidur lelapku. Seketika aku langsung bangun dari tempat tidurku dan bergegas bersiap-siap untuk menghadiri ospek hari ini.

Setelah aku selesai bersiap-siap, aku hampir saja lupa untuk mengajak Steven untuk berangkat bersama.
Aku mengetuk-ngetuk pintunya berkali-kali sambil memanggil namanya, tetapi dia tak juga menjawab. Sampai beberapa menit kemudian, akhirnya dia membalasku.

"Ahhhh, gw kesiangan nih. Lo berangkat dluan aja Ram" jeritnya

Aku cuma bisa menggelengkan kepalaku sambil tertawa kecil, karena aku merasa kali ini situasi kami terbalik.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung bergegas menuju persimpangan gang, tempat dimana Adel biasa menunggu.

Dari kejauhan aku melihat Adel sedang berdiri didekat tiang. Menunggu di tempat yang sama seperti hari sebelumnya. Dari kejauhan aku langsung bisa mengenalinya karena auranya yang unik. Aku langsung bergegas jalan mendekatinya.

"Udah lama nunggunya Del?" tanyaku

"Nggak Ram, aku juga baru sampai kok." jawabnya sambil tersenyum

"Yaudah kalo gitu, berangkat yuk Del." ucapku

Disaat lagi diperjalanan menuju kampus tiba-tiba Adel berucap pelan kepadaku.

"Ram, itu disamping kiri kamu ada yg warna merah ngikutin." ucapnya pelan

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 19 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Ninggal jejak dlu.
Diubah oleh mono88
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ijin nyimak dulu
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
panggilannya kenapa ga Ijay aja
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
jejak..
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
seru nih
semoga sampe tamat ya gan...emoticon-Cendol Gan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Mantap nihh brooo..gasss lanjutkeun
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ijin gelar tiker...keknya mayan seru nihemoticon-Shakehand2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Chapter 5 Hilang Kesadaran

Aku langsung menoleh ke arah kiri tapi tak menemukan apapun disana. Perasaanku mulai terasa janggal dan tak enak karena sepertinya aku mengerti apa yang dimaksud oleh Adellia.

"Hmmm, maksud lo warna merah yang mana Del?" tanyaku untuk memastikan maksudnya dan berharap kalau itu bukanlah makhluk tak kasat mata.

Sambil tersenyum tengil Adellia menjawabku "Dari wajahmu sih keliatannya paham apa yang aku maksud ram, tapi gausah keliatan takut gitu dong hahaha" ucapnya

"Gimana gak takut del, tau-tau ada hantu yang ngikutin gw" balasku dengan wajah malu.

Adel cuma lanjut tertawa mendengar jawabanku.

"Emang bentuknya gimana del? kok lo cuma bilang warna merah? tanyaku karena penasaran.

"Perawakannya besar, wajahnya kayak pria paruh baya dan dia pakai jubah warna merah Ram, tatapan matanya keliatan garang." jawabnya

Sebelum aku bertanya lebih lanjut, tiba-tiba Adellia mengernyitkan dahinya dan berkata.
"Tapi kayaknya sih wujud aslinya bukan ini Ram, waktu aku coba minta tunjukin yang aslinya, dia kekeh nolaknya sambil melotot." ucapnya

"Duh, emang tujuannya ngikutin gw buat apa ya Del? malah yang ada, gw jadi parnoan." tanyaku dengan gugup

"Keliatannya sih dia ga ada niat jahat Ram. Tapi energi dari dia itu sifatnya keras, jadi efeknya bisa bikin kamu gampang emosian Ram" jawabnya

Sambil menepuk kedua pundakku Adellia berkata
"Udah gausah dipikirin Ram, anggap aja ada bodyguard yang bantu jagain kamu." ucapnya sambil terkekeh

Sambil berjalan menuju kampus, aku berpikir keren juga ya kalau punya bodyguard pribadi. Tapi sayangnya sih, dia tidak keliatan secara fisik. Beberapa saat kemudian akhirnya kami sampai di kampus dan langsung bergegas menemui anggota kelompok kami yang lain. Seperti dugaanku mereka menanyakan kenapa kami tidak datang di hari sebelumnya. Aku dan Adellia pun menjelaskan alasannya dan untungnya mereka bisa memakluminya. Selanjutnya akupun mengikuti kegiatan ospek yang membosankan, membuatku ingin pulang saja secepat mungkin.

Setelah mengikuti kegiatan ospek yang terasa sangat lama dan membosankan itu, akhirnya jam menunjukkan angka lima yang artinya waktunya pulang. Aku langsung bergegas mengajak Adellia dan Steven untuk pulang bersama. Seperti biasa kami hanya ngobrol dan bercanda santai saat diperjalanan pulang. Saat berada di jalan sepi sebelum kami sampai di persimpangan gang kedua, tiba-tiba ada dua orang pria yang mencegat jalan kami. Saat kuperhatikan wajahnya, ternyata salah satu dari pria itu adalah panitia ospek yang bertengkar dengan kami kemarin.

"Berhenti lo pada!!!" teriaknya

"Ada apa nih bang? ada urusan sama kita?" tanya Steven kebingungan.

"Tanya temen lo sana, yang jelas kita bakal kasih pelajaran sama dia" ucapnya sambil menunjuk ke arah Adel.

"Serius bang? mau sampe main fisik sama cewek?" sindir Steven

"Lo kira gw bencong kayak lo? cepet suruh dia minta maaf ke gw sekarang juga." bentaknya

"Ngomong langsung ke gw sini, gausah ngomong ke temen gw." balas Adel

"Ni jabl*y kurang ajar bener ya. Lo mau mancing gw maen kasar ya?" teriaknya

"Gausah teriak-teriak gitu dong. Kalo kita salah mah wajar minta maaf, tapi masalahnya kita ga merasa ada salah." ucapku perlahan

"Lo berdua gausah ikut campur, sebelum gw bonyokin muka lu berdua." ucapnya

"Ya santai dong bang." ucap Steven dengan raut wajah serius

"Alah gak usah banyak omong, yok sikat aja bro" ucap temannya sambil melangkah ke arah kami.

"Sana, lari aja Del" ucapku ke Adel dan sekaligus memposisikan diri bersiap menghadang lawan.

Adel mengangguk dan berkata "Sabar ya Ram, aku cari bantuan dulu didekat sini"

"Jangan kasih dia kabur bro" teriak panitia ospek itu.

Tak banyak omong aku dan Stevenpun langsung menghadang kedua orang itu dengan sekuat tenaga. Aku dan Steven hanya berfokus menghalangi jalan mereka. Hingga pada akhirnya pertarungan kami dilanjutkan dengan duel satu lawan satu. Dimana aku melawan panitia ospek sedangkan Steven melawan temannya.

Sebelum baku hantam terjadi, panitia ospek itu masih sempat berkata "Nama gw Arif, ingat baik-baik jangan sampe lupa sama orang yg bonyokin muka lo." ucapnya dengan sombong.

Setelah itu dia langsung melayangkan tinju pertamanya ke arah wajahku dan aku berhasil menghindarinya dengan bergerak kesamping. Tapi tidak berhenti disitu saja, dia langsung melayangkan tendangan yang berhasil mengenai perut dan membuatku terjatuh.

"Segini doang yang lo bisa? hahaha" ejeknya sambil tertawa

Aku bangun dan mencoba untuk melawan balik, tapi apadaya aku tak bisa melakukan perlawanan banyak. Hingga pada akhirnya yang kuingat adalah sewaktu dia melompat menendang kearah kepalaku. Setelah itu, aku tak bisa mengingat apa-apa sebab kesadaranku sudah menghilang.

Saat aku tersadar, aku melihat Arif yang tergeletak ditanah dengan berlumuran banyak darah diseluruh wajahnya. Aku sangat terkejut dan saat menoleh kesamping, aku melihat wajah Steven yang memandangku layaknya tak percaya. Sedangkan lawannya hanya bisa bergetar dan memandangku ketakutan.

Tiba-tiba aku mendengar suara Adel di sebelahku
"Kamu udah sadar Ram?" tanya nya sambil memandangku dengan mata yang berkaca-kaca.

"Emang ada apa ya Del? aku gak ingat apa-apa habis ditendang." jawabku bingung.

"Setelah manggil beberapa warga, aku langung lari secepatnya kesini. Dari jauh, aku denger ada jeritan orang minta ampun. Waktu mendekat, aku ngeliat kamu lagi mukulin wajahnya habis-habisan Ram." ucap Adel dengan suara yang bergetar.

Aku sangat terkejut mendengar ucapan Adel, hingga seketika aku termenung sejenak. Aku tak menyangka dan tak mengerti kenapa itu bisa terjadi. Aku masih tak mempercayai ucapan Adellia, tetapi saat aku memandang kedua tanganku yang berlumuran darah, aku tak lagi bisa membantah ucapannya.

"Woi, yang penting kita bawa dia ke rumah sakit dulu. Sebelum orang yang dipanggil Adel sampe sini." bentak Steven yang berhasil menyadarkan kami.

Kamipun langsung bergegas membawa Arif ke rumah sakit terdekat dan untung nyawanya masih terselamatkan. Pada akhirnya Steven menyuruh teman Arif yang mengurus sisanya. Kamipun langsung meninggalkan rumah sakit, saat di perjalanan pulang aku hanya bisa terdiam dan tak bisa berhenti berpikir. Aku tak mau bertanya ke Steven ataupun Adel, karena aku dapat tau dari wajah mereka yang masih terlihat shock dan tak percaya akan kejadian tadi, sama seperti diriku.

Saat sampai didepan kost-an, sebelum pamit Adel berkata "Maaf banget ya, aku jadi nyusahin kalian karena masalahku."

"Gapapa kok Del, gausah banyak dipikirin." ucapku sambil tersenyum

"Iya del santai aja, kita kan udah temen nih ceritanya, jadi lo harus bantuin gw juga kalo lagi ada masalah ntar hahaha" timpal Steven

"Yang ada lo bakal nyusahin kita berdua." ucapku dengan sinis

"Yeee, asal gw ngomong sewot mulu nih anak. Lo cemburu ya?" balas Steven

"Berisik lo kampret." ucapku sambil menendang bokongnya.

"Hahaha..." Adellia hanya tertawa melihat tingkah kami berdua.

Akhirnya kami bertiga bisa tertawa dan merasa sedikit lebih lega karena percakapan singkat itu. Setelah itu kami langsung pamit dan masuk ke ruangan kami masing-masing.

Aku langsung mandi untuk membersihkan tubuhku yang penuh kotoran dan bercak darah. Setelahnya aku masih harus mempersiapkan tugas dan peralatan untuk ospek terakhir besok. Walau kejadian yang tadi masih saja menghantui pikiranku. Aku hanya bisa bertanya dan berspekulasi sendiri.

Tak terasa aku selesai mempersiapkan semua untuk ospek besok. Saat aku mengecek jam di layar hapeku, jam telah menunjukkan angka satu. Artinya aku harus cepat bergegas untuk tidur. Tak lama kemudian, akupun terlelap setelah berbaring diatas kasur. Mungkin karena aktifitas dan kejadian tadi yang berhasil menguras semua energiku.

Tak tahu sudah berapa lama aku tertidur, hingga perlahan kesadaranku mulai pulih. Saat aku memperhatikan sekitarku, akhirnya aku menyadari bahwa aku mengalami mimpi di lokasi yang sama dengan dua hari sebelumnya. Bedanya adalah aku tidak berdiri melayang diatas udara, tapi aku merasa naik diatas tubuh suatu makhluk. Saat kusadari ternyata makhluk itu adalah sejenis ular atau naga yang kulihat kemarin. Makhluk itu dapat bergerak sangat cepat diatas air dan dalam sekejap mata dia berhasil membawaku lebih jauh ke arah tengah lautan.

Tak lama kemudian dia mencoba menyelam masuk ke dalam laut. Saat kusadari, aku sudah berdiri didepan beberapa pilar berwarna emas yang berukuran besar. Bentuk desainnya mirip dengan bangunan kerajaan tua seperti yang pernah kulihat di film tentang yunani kuno dan spartan.

Saat aku memerhatikan sekitarku, aku melihat seseorang berdiri didepan sebuah gerbang dan bangunan kuno besar yang tak jauh dariku. Aku tak bisa melihat jelas wajahnya, yang bisa kulihat hanyalah jubahnya yang berwarna merah pekat dan tubuhnya yang tegap besar. Sesudah melihatnya kesadaranku pun perlahan menghilang. Hingga akhirnya, akupun terbangun dari mimpi itu.

Sesaat setelah aku sadar dan terbangun, aku mencoba untuk kembali mengingat mimpiku tadi.
"Jubah berwarna merah, bukannya dia yang dimaksud Adel?"

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Chapter 6 Salah Tingkah

Berarti warna merah yang disebut Adel adalah makhluk itu. Walau hanya melihatnya sekilas di mimpi, aku merasakan hawa yang dominan dari makhluk tersebut. Saking penasaran, aku langsung mencoba untuk tidur kembali dengan harapan bisa bermimpi dan bertemu makhluk itu lagi. Tak lama setelah memejamkan kedua mataku, akhirnya aku kembali tertidur, tapi sayangnya mimpi yang kuharapkan tidak berlanjut.

Pada hari terakhir ospek, aku berangkat ke kampus bersama Steven dan Adel. Saat memasuki kampus, aku menyadari banyak pandangan mata menuju kami. Sebagian besar dari orang yang memandangi kami adalah panitia ospek. Beberapa menatap kami dengan sinis dan yang lainnya menatap kami dengan raut wajah penasaran.

"Kayaknya kita udah terkenal nih di kampus, jadi serasa artis yak hahaha" ucap Steven sambil tertawa

Adel tersenyum mendengar ucapannya, sedangkan aku hanya bisa menepuk jidat sambil menggelengkan kepalaku.
Sembari berjalan menuju lokasi kegiatan ospek, aku melihat seorang wanita berjalan menuju arah kami. Saat jaraknya dekat, aku baru sadar ternyata dia adalah panitia ospek yang membela kami saat dihukum.

Saat sudah berhadap-hadapan dengan kami, diapun berkata "Kalian bertiga, ikutin aku sekarang juga."

"Baru kemarin diingetin, kalian udah bikin masalah baru. Kalian ga bosen bikin masalah apa?" ucapnya dengan nada mengejek

Kami bertiga hanya bisa diam dan mengikutinya dari belakang. Ternyata kami dibawa ke ruangan panitia ospek dan ditanyai mengenai kejadian kemarin. Setelah menjelaskan dan membela diri dengan panjang lebar akhirnya kami diperbolehkan untuk tetap mengikuti kegiatan ospek.

Saat kami beranjak keluar ruangan, tiba-tiba panitia itu berkata "Kenalin namaku Riska, kalo Arif masih coba cari masalah ke kalian, langsung kabarin aku aja ya." Kami mengangguk mengiyakan ucapannya sekaligus berterimakasih. Tanpa banyak bicara, kami langsung bergegas pergi menuju lokasi kelompok ospek kami masing-masing.

Bahkan disaat kegiatan ospek berjalan, ternyata kami masih menjadi pusat perhatian. Baik itu dari maba ataupun panitia ospek, perhatian dan pandangan mereka membuatku merasa tidak nyaman. Beberapa dari mereka mencoba untuk bertanya kepadaku dan Adel, tapi aku hanya menjawabnya dengan singkat karena malas untuk menjelaskan dan menanggapinya.

Setelah proses kegiatan yang cukup lama dan pidato penutup Ketua pelaksana ospek selesai, akhirnya kami diperbolehkan pulang. Dari ospek ini aku hanya mengenal tiga mahasiswa baru saja, yaitu anggota kelompok ospekku sendiri. Aku jadi merasa miris akan sifat anti sosialku yang tampaknya sudah parah.

Hari demi hari berlalu, kegiatan ospek yang melelahkan akhirnya telah selesai. Aku mulai menjalani kehidupan kampus yang terasa sangat berbeda dibandingkan kehidupanku saat di bangku SMA dulu. Aku merasa mulai mengenal dunia yang baru, dimana banyak sekali perbedaan dan hal yang baru bagiku. Mulai dari pakaian, gaya belajar dikelas, dan pergaulan yang sangat bebas. Aku menjadi lebih bisa membuka diri karena bertemu banyak orang dengan berbagai jenis sifat dan latar belakang berbeda.

Aku juga mulai memiliki beberapa teman baru walaupun masih belum terasa begitu dekat. Sementara itu, hubunganku dengan Adel menjadi lebih dekat seiring waktu berjalan, karena aku berada dikelas yang sama dengannya.
Sedangkan Steven berada di kelas yang berbeda dari kami, karena di semester pertama kelas maba ditentukan langsung dari fakultas, jadi kami belum bisa mengambil kelas sesuai yang kami inginkan.

Adel tidak lagi membicarakan hal-hal yang berbau mistis, sejak dia mengetahui kalau ternyata aku tidak bisa melihat makhluk astral. Begitu juga denganku yang tidak terlalu tertarik dengah hal mistis, karena tugas dan jadwal perkuliahan yang sangat padat. Aku hanya menjalani dan menikmati hari-hariku dengan tenang.

Sampai suatu ketika, saat aku sedang fokus mengikuti mata kuliah di pagi hari. Aku melihat seperti sinar berwarna biru yang menyelimuti keseluruhan tubuh dosenku. Saat aku melihat ke beberapa orang lainnya didepanku, tubuh mereka juga diselimuti oleh sinar yang warnanya berbeda-beda.

Aku sangat terkejut, dan saat mencoba memandang mereka lagi, entah kenapa sinarnya tiba-tiba menghilang. Perhatianku menjadi tidak fokus dengan dosenku yang sedang berbicara didepan kelas. Aku sibuk berpikir dan mencari tau penyebabnya, tetapi karena tidak mendapat hasil dan jawaban saat dikelas. Aku berencana untuk langsung bertanya ke Adel saat kelas selesai.

Tak lama kemudian akhirnya kelas selesai. Aku langsung bergegas mengajak Adel ke tempat yang lebih sepi dan bertanya tentang apa yang kualami dikelas tadi. Sesampainya di taman, perlahan aku menjelaskan tentang apa yang kulihat dikelas.

"Yang kamu lihat itu namanya aura Ram, artinya pancaran energi. Warnanya memang berbeda-beda tergantung sifat objeknya." ucapnya

"Terus fungsi aura itu untuk apa Del?" tanyaku penasaran

"Fungsinya sih untuk semacam identifikasi Ram, bisa juga buat membaca kondisi objek. Dari aura objek yang nampak, kita bisa tau mood dan sifatnya. Salah satu contohnya, orang yang sakit biasanya warna auranya pucat dan gelap Ram." jelasnya

"Ohhh, tapi kok durasi penglihatanku tadi cuma sebentar ya Del?" tanyaku dengan bingung.

"Itu karena kamu panik Ram, fokus kamu hilang karena mulai banyak mikir" jawabnya

Adel tiba-tiba berdiri dan memposisikan dirinya didepanku.
"Coba rileks dan fokus pandangannya ke aku Ram" ucapnya perlahan

Duh, gimana mau fokus coba, kalau posisinya saling tatap-tatapan kayak gini, ucapku dalam hati. Perlahan aku mencoba untuk rileks dan menatap dirinya. Tapi tetap saja tidak membuahkan hasil, mungkin dikarenakan efek dari perasaanku yang terlalu gugup.

"Kok mukamu jadi merah gitu Ram? hahaha." tawa Adel terbahak-bahak

Rasanya aku ingin lari menjauh secepat mungkin, saking malunya. Saat aku memalingkan wajahku agar tak terlihat, tak kusangka Adel bergerak mendekatiku lalu memegang kedua bahuku sambil berkata "Santai aja kali Ram, jangan malu-malu gitu dong." ucapnya sambil tertawa.

Aku mengangguk dan saat aku menoleh kesamping, terlihat Steven yang sedang mengintip di balik pohon. Dia memandang kami dengan senyum dan raut wajah mesum khasnya.

"Lanjut aja Ram, sorry ngeganggu." teriaknya sambil berlari


Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 17 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjut lagi ram, sorry nunggu πŸ˜‚πŸ˜‚
profile-picture
cakramukti memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Chapter 7 Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas

Setelah mendengarkan penjelasan tentang aura dari Adellia, aku menjadi tertarik untuk mendalami dan memiliki kemampuan supranatural. Beberapa hari ini aku sibuk mencari informasi tentang hal-hal berbau supranatural di internet. Aku menemukan banyak penjelasan dan teori untuk mendapatkan kemampuan supranatural. Rata-rata diantaranya berisikan tentang praktik meditasi, membaca mantra atau doa dan berbagai jenis macam puasa.

Bahkan dibeberapa website aku melihat ada jasa yang menawarkan pelatihan premium berbayar. Sungguh menarik pikirku, aku seperti telah menemukan dunia baru yang selama ini tersembunyi dan tidak kuketahui.

Dari semua yang kubaca, aku sangat tertarik dengan pembahasan mengenai yang disebut dengan khodam, spirit, jin, ataupun hantu. Setelah membaca dari berbagai sumber, aku menyimpulkan kalau mereka bisa dijadikan sebagai teman atau pendamping manusia. Tapi tak banyak yang menjelaskan bagaimana cara melakukannya, mungkin itu salah satu rahasia dapur mereka pikirku.

Saat ini aku hanya bisa mempraktikkan metode latihan meditasi, alasanku memilihnya karena latihannya itu gratis dan tak perlu menggunakan peralatan apapun. Aku berencana melakukan meditasi malam ini, di kamarku sendiri. Sesuai dengan petunjuk salah satu artikel yang masuk akal bagiku. Isinya menjelaskan bahwa, praktik meditasi biasanya dilakukan pada malam hari di tempat yang hening dan sepi. Tujuannya supaya praktisi bisa mencapai fokus dan rileks dengan lebih mudah.

Tak terasa akhirnya malampun tiba, jam masih menunjukkan angka sembilan di layar handphoneku. Keadaan kost-an juga masih penuh dengan suara aktifitas penghuni kamar lain. Ada yang sibuk bermain gitar, ada yang telponan, dan bermacam-macam aktifitas lainnya. Sembari menunggu suasana yang hening, aku melanjutkan membaca topik yang membahas supranatural di beberapa website dan forum. Hingga beberapa saat kemudian, suara aktifitas penghuni kost-an yang lain perlahan-lahan mulai hilang dan berhenti.

Aku langsung bersiap, mengambil sikap posisi meditasi duduk bersila lalu meletakkan kedua telapak tanganku diatas lutut. Tak lupa juga, aku mengecek jam di handphoneku terlebih dahulu untuk memastikan durasi latihanku. Aku mulai memejamkan kedua mataku, lalu mencoba fokus pada keluar dan masuk nafasku. Perlahan-lahan aku merasakan sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Batinku terasa sangat tenang layaknya tidak ada beban. Sejenak kemudian, penglihatanku tiba-tiba berubah, aku merasa berada disuatu lorong gelap yang tak memiliki penerangan sama sekali.

Berbeda dengan mimpi, disini aku bisa menggerakkan tubuhku sesuai keinginanku. Aku masih merasa bingung dan shock karena ini terjadi diluar ekspektasiku. Aku mencoba menenangkan diri seraya memperhatikan keadaan sekitar, tapi tetap saja aku tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan. Setelah merasa cukup tenang, aku memberanikan diri melangkah kedepan untuk mencari tahu apa yang ada disana.

Langkah demi langkah berhasil kupijakkan, hingga aku tak tahu sudah berapa lama aku berjalan. Dan pada akhirnya muncul suatu sinar putih dari ujung lorong. Tanpa berpikir panjang dan dengan bersemangat aku langsung berjalan mendekati sinar tersebut. Saat mulai mendekat, aku merasa seperti ditarik dan dihisap kedalam sinar putih itu. Sejenak kemudian, akupun tersadar bahwa aku sedang berdiri didepan sebuah pintu gerbang istana.

"Selamat datang" ucap seseorang dari arah belakangku.

Secara otomatis aku menoleh kebelakang dan melihat seorang pria berjubah merah berdiri tegak sambil menyilangkan kedua tangannya. Tak sadar aku langsung mundur beberapa langkah dan menatapnya dengan was-was. Perlahan aku mulai menyadari bahwa dia adalah makhluk yang mendatangiku lewat mimpi saat musim ospek dulu.

Aku mencoba memberanikan diri bertanya kepadanya "Apa sebenarnya tujuanmu selalu menemuiku?" ucapku pelan

"Dulu aku telah berjanji dan ditugaskan oleh seseorang untuk melindungimu." jawabnya sambil menatapku.

"Siapa seseorang yang menugaskanmu itu?" tanyaku dengan penasaran.

"Kau tak perlu tahu." jawabnya dengan suara yang lantang.

Rasa takutku pun berkurang setelah mengetahui tujuan sebenarnya. Penampilan dan gaya bicaranya yang kaku mengingatkanku dengan film tentang kerajaan yang terkesan jadul. Aku masih sangat penasaran tentangnya dan mencoba berkomunikasi untuk mengulik informasi yang lebih banyak.

"Boleh aku tau siapa nama aslimu?" tanyaku sambil memerhatikan ekspresi wajahnya.

"Kau belum pantas untuk mengetahui namaku, yang penting saat ini kau telah paham tujuanku. Sekarang sudah waktunya kau kembali ke duniamu." jawabnya dengan respon yang dingin.

"Bukannya aku tak mau kembali, tapi bagaimana caranya aku bisa kembali ke duniaku?" tanyaku dengan bingung.

"Cukup niatkan dengan kuat untuk kembali ke ragamu" jawabnya dengan singkat

Akupun mengikuti perkataannya dan berhasil kembali ke ragaku yang sedang duduk bersila diatas kasur. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan tak akan bisa terlupakan. Aku tak menyangka bisa mendapat pengalaman seperti ini di meditasi pertamaku.

Tak lupa aku langsung mengecek handphone disebelahku dan melihat jam yang menunjukkan angka satu. Artinya durasi meditasiku sekitar satu jam, pantas saja kakiku mati rasa saat digerakkan.

Saat aku sibuk menggerakkan tubuhku, tiba-tiba aku mendengar suara tawa cekikikan dari luar. Sebenarnya aku merasa sangat terkejut, tetapi aku memilih untuk mengabaikannya dengan fokus bermain game di handphoneku. Suara itu muncul beberapa kali lalu tiba-tiba menghilang, aku menjadi makin parno karenanya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidur menggunakan headset dan menyetel lagu dari handphoneku.

Walau terasa tidak tenang dan tidak nyaman, tanpa kusadari pada akhirnya aku bisa tertidur. Aku hanya berharap agar suara aneh seperti itu tidak muncul dihari-hari berikutnya. Supaya aku bisa tertidur dengan tenang dan nyenyak dikamarku sendiri.

Suara pintu yang terbuka diiringi dengan langkah kaki dan suara orang yang berbicara berhasil membangunkanku. Tak terasa ternyata pagi telah tiba, para penghuni kost lainnya sudah sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Pada hari ini aku berniat menceritakan pengalamanku waktu kemarin malam kepada Adel, setelah kelas selesai.

Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, akupun berangkat ke kampus dengan mood yang bagus dan bersemangat. Jika kuingat-ingat, sudah lama aku tidak merasa semangat seperti ini. Mungkin karena aku telah tertarik dengan hal-hal supranatural, karenanya aku menjadi merasa lebih bersemangat untuk menggali informasi.

Moodku yang sedang bagus, berubah seketika saat aku baru saja memasuki kelas. Saat memasuki kelas, tak sengaja aku melihat seorang wanita berpakaian putih dengan rambut panjang yang menutupi seluruh wajahnya. Wanita itu hanya diam berdiri disalah satu sudut ruangan kelas. Aku hanya bisa terdiam di tempat sambil memandanginya. Hingga beberapa saat kemudian, aku mendengar seseorang berbisik ditelingaku.

"Kamu ngeliat cewe yang berdiri disudut kelas itu ya Ram?"

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 16 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
lanjut terus gan, cendol sdh meluncur πŸ˜„
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Chapter 8 Sebuah Awal

Aku terkejut dan langsung otomatis menoleh kebelakang. Terlihat Adel yang sedang berdiri sambil memeluk beberapa buku dengan kedua tangannya. Sesaat aku memerhatikan dia yang mengenakan kemeja dan celana jeans berwarna biru yang tampak sangat modis. Wajahnya terlihat cerah dengan make-up yang terlihat natural, sedangkan rambutnya bergaya kuncir kuda. Sejenak aku melupakan eksistensi wanita yang berdiri disudut ruangan kelas. Aku hanya berfokus memandangi Adellia.

"Ram, kamu dengar aku gak? halooo???" tanya Adel sambil melambaikan tangannya didepan mataku.

"Eh iya del, ngomong apa tadi?" jawabku sambil menggelengkan kecil kepalaku.

"Itu tuh, cewe yang lagi berdiri disudut sana, kamu bisa ngeliatnya kan?" ucapnya sambil menunjuk ke arah sudut kelas.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah sudut kelas, dan melihat wanita itu masih diam berdiri disana. Setelah mendengar perkataan Adel, aku akhirnya yakin kalau yang kulihat itu adalah makhluk halus. Dari karakteristik yang ditunjukkan, aku bisa menyimpulkan kalau dia termasuk salah satu makhluk mitos yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Benar sesuai dugaan kalian, dia adalah mbak kunti.

"Itu dia kok diam doang ya Del? Apa dia tau kalo kita lagi ngeliatin dia?" tanyaku dengan bingung.

"Dia penunggu disini Ram, mereka langsung tau kok, orang yg bisa lihat wujud mereka. Mau aku coba panggilin dia kesini aja Ram?" ucap Adel sambil tersenyum menatapku

"Eh jangan dong Del, gw takut diapa-apain sama dia." jawabku gugup

"Hahaha, bercanda doang Ram" tawanya

"Eh, bukannya kemarin kamu bilang gak bisa lihat mereka Ram? kok sekarang kamu bisa lihat dengan jelas?" tanya Adel dengan bingung.

"Nanti semuanya kujelasin habis kelasnya selesai aja Del." jawabku sambil mengambil posisi kursi yang jauh dari mbak kunti.

"Oh oke deh Ram" jawabnya sambil duduk disebelahku.

Setelah menunggu sampai kisaran 5-10 menit, akhirnya dosen pengajar tiba dikelas dan memulai kelas seperti biasa. Saat kelas berlangsung, sesekali aku memerhatikan ke arah sudut ruangan, ternyata mbak kunti masih diam terpaku diposisi yang sama. Dia tidak mengerikan seperti perkiraanku, tidak seperti rumor dan film horror yang kutahu.

"Kita sudahi dulu pertemuan kali ini, sampai jumpa di pertemuan berikutnya." ucap Dosen sebagai kata penutup.

Akhirnya kelas usai, aku dan Adel langsung beranjak keluar kelas. Saat kami berdua berada di tangga, aku melihat beberapa mbak kunti dan makhluk halus lainnya. Beberapa memiliki penampilan yang mengerikan, dalam posisi yang bermacam-macam. Ada yang berdiri, duduk dan bahkan ada yang merangkak menempel didinding. Aku terkejut setengah mati, badanku sampai gemetaran melihat penampakan mengerikan itu. Tanpa berpikir lama, aku langsung mengalihkan pandanganku menghadap lantai, sambil berjalan cepat menghindari mereka.

Sepertinya Adel menyadari kondisiku, dia langsung mendekat sembari menepuk bahuku Adel sambil berkata "Jangan takut Ram, ada aku disini kok. Mereka ga bakal berani ganggu kamu." ucapnya

"Hmmm, iya Del." jawabku pelan karena masih merasakan pandangan makhluk-makhluk itu yang berfokus padaku.

Tak lama kemudian, setelah berjalan secepat mungkin, kami akhirnya sampai di gazebo kampus. Walau sedikit ramai, setidaknya aku tidak merasakan tatapan mengerikan para makhluk itu disini. Akhirnya aku bisa menarik nafas yang lega dan merasa tenang.

"Gimana Ram, kamu gpp kan?" tanya Adel dengan wajah cemas

"Udah gpp kok del, tadi aku bener-bener shock karena mereka munculnya tiba-tiba gitu, Del." jawabku

"Oh iya, tadi katanya kamu mau cerita alasannya sehabis kelas Ram." ucapnya

Akupun menjelaskan mulai dari hal yang kupelajari sendiri di internet, meditasi dan kejadian kemarin malam. Saat aku berada di lorong hitam dan masuk kedalam sinar putih, hingga bertemu pria berjubah merah didepan gerbang istana. Lalu aku menghubungkannya dengan kejadian barusan, yaitu waktu aku melihat makhluk halus alias hantu didalam kelas dan tangga. Aku mencoba menjelaskannya sedetail mungkin supaya tidak ada hal, yang bisa saja penting terlewat.

Usai mendengar penjelasanku, Adel masih terlihat mengernyitkan dahinya, tanda bahwa dia sedang berpikir keras. Aku hanya diam menatapnya sambil menunggu dia memberi jawaban. Tak tau sudah berapa lama aku menunggu sambil menatapnya, aku menyadari ternyata dia memiliki ekspresi yang sangat manis saat sedang serius dan berpikir keras. Berbeda dengan imagenya yang biasa santai dan tersenyum. Saat aku tersenyum dan tenggelam dalam imajinasiku sendiri, suara Adel berhasil membuyarkan lamunanku.

"Kalo menurutku sih indera keenammu mulai kebuka kembali Ram. Kalau versi alasanku, indra keenammu makin sensitif karena efek meditasi kemarin malam. Selain itu ada kemungkinan karena efek jarak kita yang dekat Ram." jawab Adel dengan jelas.

"Hmmm, masuk akal juga del. Tapi aku gak ngerti maksud dari efek jarak kita yang dekat Del, bisa tolong dijelasin gak?" tanyaku

"Contoh analoginya, waktu kita berteman dengan penjual minyak wangi, secara otomatis kita juga bakal ketularan sedikit wanginya. Jadi analoginya aku itu ada diposisi penjual minyak wanginya. Pahamkan maksudku Ram?" ucapnya

"Paham Del, tapi ada solusi gak untuk bisa mengontrol indra keenam ini? soalnya pasti risih dan gak nyaman, kalau bakal terus ketemu mereka dimana-mana." tanyaku dengan penuh harap.

"Sebenarnya ada Ram, semacam tombol ON / OFF nya, tapi kamu harus punya energi yang jauh lebih kuat dan bisa mengontrol emosi. Intinya sih kamu harus bisa memahami diri kamu sendiri Ram. Mungkin kamu bisa coba meditasi rutin dulu Ram untuk saat ini." jelas Adel

"Jadi gimana dong sekarang Del? apa aku harus terpaksa mode ON trus nih?" tanyaku dengan wajah lesu dan pasrah.

Adel hanya tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresiku.
"Kayaknya sih iya Ram, tapi seharusnya kamu gak perlu takut, bukannya kamu dijagain sama yang warna merah itu tuh?" ucap Adel

"Iya sih Del, tapi buktinya dia gak keliatan nih sampe sekarang." balasku

"Tadi dia muncul kok Ram, waktu ada makhluk halus yang punya niat iseng atau jahat dia pasti muncul. Tapi sekarang kamunya yang masih belum bisa lihat dia, karena energi dan sensitivitasmu belum cukup memadai Ram." jelas Adel

"Makasih banget ya del, udah mau bantu jelasin semuanya ke aku." ucapku dengan tulus.

"Sama-sama Ram, mungkin udah waktunya kemampuanmu terbuka, tapi janji ya Ram, nanti jangan pernah pakai kemampuanmu untuk kejahatan." ucap Adel sambil tersenyum memandangku.

Sambil menghormat ke arahnya aku menjawab "Siap Ibu Komandan."
Adelpun tertawa melihat tingkahku.

Setelah mendengar semua penjelasan Adel, aku akhirnya menyadari bahwa saat ini kemampuanku masih sangat rendah. Aku menjadi lebih bersemangat dan bertekad untuk terjun mendalami dunia supranatural. Ini menjadi awal aku mulai sering bersentuhan dengan dunia mereka, mulai mengenal dan berinteraksi dengan mereka, makhluk tak kasat mata.

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Ijin nenda ganemoticon-Traveller
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ceritanya kayakk narkoba, BIKIN NAGIHHπŸ˜‚
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
lanjutttt keunnn. Ini yang dicari cari
profile-picture
profile-picture
OkkyVanessaM dan g3nk_24 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 13


GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di