CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
DKI Terapkan PSBB Jilid Kedua, PHK Massal Mengancam
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f599e2b82d49510b13d2c88/dki-terapkan-psbb-jilid-kedua-phk-massal-mengancam

DKI Terapkan PSBB Jilid Kedua, PHK Massal Mengancam

Tampilkan isi Thread
Halaman 5 dari 8
Kadrun siap koar2 lagi kalau masjid sementara ditutup emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
bajier dan extreme78 memberi reputasi
Indonesia selalu kalah melawan corona, Indonesia selalu kek Brazil ato India, DKI selalu kek Los Angeles, coba kalo Indonesia kek Italia, Jerman, Jepang, Korea, New York dan Turki dan DKI kek San Francisco, pasti menang emoticon-Sorry
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Saya tak melihat efek positif PSBB untuk pandemi selama berbulan bulan ini ,
Justru yang sering muncul di berita nasional..
Tawuran...
Begal..
Gangster..
Narkoba..
Istri dijual suami..

Suka suka gw bangsaaat
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Sekali ditampol belum sadar jadi kudu dua kali.
Jika sampe tiga kali, coba cek manusia atau bukan
profile-picture
profile-picture
bajier dan extreme78 memberi reputasi
Psbb transisi aja udah banyak korban phk sulit cari kerjaan lagi. Kalo psbb kedua ini sampe ada yg phk lagi, parah sih..
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Akhirnya harus ada yg diphk lagi, coba langsung lockdown gitu dari dulu. Haduh ksian
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Makanya.. jangan pada se enaknya.. jalanin protokol kesehatan.. jangan egois. Kalo udah gini baru dah..
profile-picture
profile-picture
junmi929089 dan extreme78 memberi reputasi
Resesi ekonomi ,ngeri bre
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Oh jadi pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menarik rem darurat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi dan mengembalikan PSBB seperti pada masa sebelum transisi.

PSBB jilid kedua ini diperkirakan bisa membuat pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Lantaran, hanya 11 kegiatan usaha yang boleh beroperasi, dan sisanya tidak boleh sehingga akan ada pengurangan karyawan.
Udah terlambat ni mah,mau lockdown pun percuma apalagi psbb sia2 belaka,lagian virus di anggap tak nyata di jadikan lelucon oleh sebagian rakyat,sekarang baru tahu rasa kan terancam di phk massal,biarin deh pd mati kelaparan imbas kegoblokan di masa2 new normal,salah sendiri juga ada jgn salahin pemerintah doang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cupuboys dan 3 lainnya memberi reputasi
pilihan sulit yang harus di ambil si. emang ini harusnya menekan kasus dulu
Kalo mau PSBB, ya yang bener PSBB nya:
1. Contact tracing dan pengetesan yg banyak, peduli setan jakarta dinyinyiran nambah banyak mulu positifnya, yang penting tes terus, kalo bisa sampai bisa ngelebihin pengetesan minimum yang ditentukan WHO.
2. Kerahkan Polri dan TNI, sidak terus-terusan, orang yang ketahuan keluar tidak pakai masker, denda dengan jumlah yang besar. Dari pengalaman orang indo memang wataknya ngeyelan, tapi kalo urusan duit pasti kapok dan ngikutin aturan.

Itu tadi dari segi kesehatannya. Nah dari segi ekonomi gimana nih? Ane bertanya-tanya apakah:
1. PSBB sudah didiskusikan dengan pengusaha belum? Pengusaha kuliner atau tempat hiburan mungkin masih bisa nego, diliburkan kembali tempatnya seperti psbb awal-awal dulu, nah bagaimana dengan industri manufaktur? Bisakah wfh seutuhnya? Siapa yang menjalankan mesin kalo bukan operator?
2. Kantor disuruh semua wfh, tapi tidak semua perusahaan siap melaksanakan pekerjaan dengan sistem wfh. Tambah lagi internet kita yang sangat amburadul, mengurangi produktivitas sehingga pengusaha pasti lebih memilih pegawai masuk kerja dibanding wfh. Apa yang akan dilakukan kalau ada kantor yang melanggar wfh ini? Jangan sampai kantor tetap mewajibkan karyawan masuk dan beroperasi secara diam-diam.
3. Kalaupun dari dua pertanyaan tadi, Jakarta tegas dan memaksakan semua perusahaan diwajibkan wfh, berapa lama? Apa standar dan indikasi kalau penularan covid sudah menurun? Jangan sampai nasibnya seperti psbb transisi, tanpa pengawasan dan akhirnya hanya menghabiskan anggaran, lewat PSBB 1 selama 2 minggu, lalu diperpanjang lagi, dan lagi sampai 2 bulan. Itu sama saja melakukan hal yang sia-sia.

Dari segi kesehatan:
1. Seperti yang kita tahu ICU RS rujukan sudah mulai penuh, sudah full capacity, apa yang akan dilakukan? Merekrut nakes? Apakah bisa merekrut nakes dari luar daerah ataupun luar negeri?
2. Atau menggunakan RS darurat? Ane ingat kalo ga salah dibangun RS darurat kan ya? Ane belum tahu gimana kabarnya sampai sekarang.

Nah jadi kalopun PSBB, harus serius, tiga hal ini dipikirkan bersama. Kalo bilang PSBB tapi melepas tanggung jawab ke masing-masing rakyat ya sama aja bohong. Rakyat mending cari duit buat makan. Jangan sampai ini jadi gimmick lagi seperti psbb transisi kemarin.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redika27 dan 3 lainnya memberi reputasi
ekonomi drop lagi nih...
Human tuh yg eror ngapain sistem disalahin.. adeeh... Tuhh bocah labil umur dh bau tanah gk sadar sadar... Di suruh pake masker kayak nagih utang egonya... Gpp di psbb in usahai. Lamain dikit setahun kek.. boleh kelaparan yg songong gk mau masker tuh.
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Gw yakin perusahaan gak akan rawat karyawannya yang kena corona. Pasti langsung dipecat.
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Coba itu lembaga² kredit di tertibkan dulu dah
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
kegoblokan anies di pertontonkan ke publik.. indonesia di unjung tanduk masih di jorokin yg mati karena korona cuma satu yg mati karna lapar akan sekeluarga
jaman udah kyk gini, kurang2in gaya
Absen dolo,
yg biasa komen trus ga komen,...jangan....jangan,...... emoticon-Turut Berduka
Dikasih tau batu sih. Dah dibilang ekonomi sama covid itu dua sisi coin yang berbeda. Gabisa lu pilih dua duanya. Keputusan yang benar ga mesti senangin orang banyak. Tentuin prioritas, nyawa atau duit.

Terkecuali lu bisa bikin nyawa lagi silakan
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 5 dari 8


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di