CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pajaki Hasil Pertanian, Ini Alasan Sri Mulyani Bikin Aturan Baru
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f2fc39910d29553a24edcbd/pajaki-hasil-pertanian-ini-alasan-sri-mulyani-bikin-aturan-baru

Pajaki Hasil Pertanian, Ini Alasan Sri Mulyani Bikin Aturan Baru

 Pajaki Hasil Pertanian, Ini Alasan Sri Mulyani Bikin Aturan Baru

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati telah menerbitkan aturan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 89/PMK.010/2020. Dalam aturan baru itu, nilai Dasar Pengenaan Pajak (DPP) dalam pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari penyerahan barang hasil pertanian akan diatur secara khusus oleh Kemenkeu.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, beleid tersebut disusun guna melengkapi ketidakpastian hukum terkait dengan dengan PPN hasil pertanian. Sehingga, kontribusi perpajakan pada sektor pertanian mampu mendobrak pertumbuhan ekonomi nasional.

"Sektor ini rata-rata sekitar sumbang pajak sebesar 13 persen, ini sektor yang sangat besar. Jika kita bandingkan Produk Domestik Bruto (PDB). Pada 2019, pertanian saja sudah mendekati 13 persen, kalau 13 persen dari Rp 16.000 triliun, itu sekitar itu sekitar Rp 2.000 triliun kontribusi sektor pertanian dalam pendapatan perekonomian kita," ujar Febrio dalam konferensi pers virtual, Kamis (6/8/2020).

(Baca Juga: Kontribusi Terhadap Ekonomi Meningkat, PDB Sektor Pertanian Melesat)

Kemenkeu, lanjut Febrio, menilai bahwa rasio perpajakan dalam negeri cukup rendah. Itu terjadi dalam beberapa tahun terakhir, bahkan kurva rasio pajak cenderung terus menurun. Karena itu dalam kajian Kemenkeu, hal ini disebabkan oleh ketidakpastian hukum atau regulasi sehingga Menteri Keuangan mengambil solusi dengan menerbitkan PMK.

"Ini bukan masalah penerimaannya, kenapa penerimaan tadi katanya rasio perpajakan rendah tapi tax rasio diturunkan. Memang kita melihat dalam jangka panjang perpajakan ini harus size of the paid sehingga kalau perekonomiannya besar basis pajaknya juga tambah besar dan semakin tinggi pertumbuhan ekonominya," kata dia.

Untuk diketahui, pada bagian lampiran PMK Nomor 98 Tahun 2020 dijelaskan penyerahan barang hasil pertanian yang bisa menggunakan DPP nilai lain dalam pengenaan PPN antara lain 24 jenis komoditas perkebunan mulai dari buah dan cangkang dari kelapa sawit, kakao, getah karet, daun tembakau, batang tebu, hingga batang, biji, ataupun daun dari tanaman perkebunan dan sejenisnya.


Sementara itu, terdapat empat komoditas tanaman pangan, tiga jenis komoditas tanaman hias dan obat, serta sepuluh jenis komoditas hasil hutan yang pengenaan PPN-nya juga bisa berdasarkan pada DPP nilai lain.

Dalam PMK ini dipertegas apabila pengusaha kena pajak (PKP) memilih untuk menggunakan nilai lain sebagai DPP maka nilai lain yang digunakan adalah 10 persen dari harga jual. Dengan tarif PPN sebesar 10 persen, maka secara efektif besaran PPN yang dipungut hanyalah sebesar 1 persen dari harga jual.

Namun, pajak masukan atas perolehan barang kena pajak atau jasa kena pajak (BKP/JKP) yang berhubungan dengan penyerahan barang hasil pertanian tertentu ini tidak dapat dikreditkan apabila PKP memilih menggunakan nilai lain sebagai DPP.

PKP yang memilih untuk menggunakan DPP nilai diwajibkan untuk menyampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat PKP terdaftar. Pemberitahuan harus disampaikan paling lama pada saat batas waktu penyampaian surat pemberitahuan (SPT) masa PPN masa pajak pertama dalam tahun pajak dimulainya penggunaan DPP nilai lain.

Meskipun PKP sudah menyatakan menggunakan DPP nilai lain dalam pemungutan PPN, PKP juga dapat menggunakan kembali harga jual sebagai dasar pengenaan pajak atas penyerahan barang hasil pertanian tertentu. Namun demikian, penggunakan harga jual sebagai DPP tersebut hanya dapat dilakukan pada masa pajak setelah tahun pajak penggunaan DPP nilai berakhir dengan terlebih dahulu mengajukan pemberitahuan.

Bila PKP memutuskan untuk kembali menggunakan harga jual sebagai DPP, PKP tersebut tidak dapat lagi menggunakan DPP nilai lain untuk masa pajak dan tahun pajak berikutnya.


link

"Sektor ini rata-rata sekitar sumbang pajak sebesar 13 persen, ini sektor yang sangat besar. Jika kita bandingkan Produk Domestik Bruto (PDB). Pada 2019, pertanian saja sudah mendekati 13 persen, kalau 13 persen dari Rp 16.000 triliun, itu sekitar itu sekitar Rp 2.000 triliun kontribusi sektor pertanian dalam pendapatan perekonomian kita," ujar Febrio dalam konferensi pers virtual, Kamis (6/8/2020).
profile-picture
profile-picture
falin182 dan nomorelies memberi reputasi
Diubah oleh perojolan13
Tanaman hias kena pajak emoticon-Traveller

 Pajaki Hasil Pertanian, Ini Alasan Sri Mulyani Bikin Aturan Baru
profile-picture
profile-picture
atmajazone dan Nibrashilmy2 memberi reputasi
lu semua kudu tau kalo setiap warga negara adalah objek palak...eh pajakemoticon-Mad
profile-picture
profile-picture
atmajazone dan falin182 memberi reputasi
"jika rakyat memgijinkan kita akan bayar hutang fakai fulau"
Mentri ini ngak jauh jauh dari pajak ya .
profile-picture
kaiserwalzer memberi reputasi
Diubah oleh ART7
Pokoknya semua yang berada di Indonesia, dilakukan di Indonesia, milik orang Indonesia atau bukan, baik produk maupun jasa, benda bergerak dan tidak bergerak, nyata dan digital, baik syar'i atau kapir, semuanya wajib palak, sekali lagi, wajib palak, eh maaf, maksudnya wajib pajak emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
chisaa memberi reputasi
Berita ginian sih biasanya sepi basser
Maklum otak mreka ga tau cara counternya gmn
Paling jg maximal seputar "bilang aja ga kuat nyicil rumah / kendaraan drun" dll
profile-picture
atmajazone memberi reputasi
Abis ini makan di warteg kena ppn juga kah? emoticon-Ngakak
rasio pajak rendah, yang menanggung hulu. padahal hulu yang paling bereperan untuk recovery.
jangan jangan nanti mobael lejen kena pajak juga
emoticon-Blue Guy Bata (S)
Nunggu berak ditoilet umum kena pajak juga emoticon-Taiemoticon-Taiemoticon-Tai

Palak terus peres sampe kering emoticon-fuck


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di