CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Bukan Korban Perceraian Biasa
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efe7aa22525c3458a0ce9be/bukan-korban-perceraian-biasa

Bukan Korban Perceraian Biasa

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
Lanjut gan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
seperti judul lagu gan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Sekayak cerita kawan aku. Memanglah sadis 🥺
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
ninggalin jejak
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nyimak gan.. nice story. lanjutkaaann
Ikutan gan... Cuma ada yg ga make sense aja ibu nya guru tapi ga peduli sekolah anak... Mungkin bisa kita dapatkan di cerita berikut nya... emoticon-Smilie
#14 Dijemput Ayah - 1

Mulanya, Aku pikir saat Ayah membeli sebuah mobil, terdapat sebuah perubahan yang baik di dalam kehidupan ku.

Namun ternyata Aku salah! Ayah membeli sebuah mobil pick-up (mobil bak) untuk digunakan sebagai alat penghasil uang.

Saat itu Aku tidak memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan pekerjaan Ayahku sebelumnya.

Aku tumbuh sebagai anak yang tidak peka, acuh, dan seperti mempunyai dunia sendiri.

Tentu saja ini terbentuk karena kehidupan ku yang terbiasa sendiri.

Aku tak tahu kenapa tiba-tiba Ayahku membeli mobil tersebut dan tidak lagi bekerja di perusahaan kayu.

Mungkin dari sini kah permasalahan orangtua ku berawal?

Semenjak Ayah membeli mobil bak itu, Aku berangkat sekolah diantar, begitu juga dengan pulangnya, Aku dijemput oleh Ayah.

Bila dilihat secara sekilas, Aku akan terlihat lebih bahagia, seharusnya!

Tapi ternyata pada kenyataannya, Aku harus bangun lebih pagi karena Ayah akan mengantarkan tukang sayur ke pasar.

Ya! Aku berangkat sekolah berbarengan dengan Ayah yang mulai bekerja sebagai pengantar barang-barang pedagang sayur.

Aku berangkat sekolah sekitar pukul 4-5 subuh. Ini berarti, Aku akan menjadi siswa yang paling pertama untuk sampai di sekolah?

Tidak!

Itu karena Ayah harus mengantarkan pedagang sayur beserta barang-barangnya ke pasar.

Bukan karena Ayah tidak ingin mengantarkan ku duluan, namun memang jalan yang ditempuh harus melewati pasar terlebih dahulu.

Jadi Aku harus menunggu Ayah dan para pedagang sayur itu menurunkan barang-barang dagangannya.

Aku pun sampai di sekolah dengan waktu yang normal, sekitar pukul setengah 7 pagi.

Lanjut gan..ceritanya menarik dan kalimat nya mudah dimengerti...gw jd kyk flashback kehidupan gw dlu... Wkwkwkk...

Gw suka kalimat "Aku tumbuh sebagai anak yang tidak peka, acuh, dan seperti mempunyai dunia sendiri.

Tentu saja ini terbentuk karena kehidupan ku yang terbiasa sendiri."

Gw baru ngerti knp gw tuh punya sifat yg acuh dan ga pedulian... Mungkin karena ini jg..
profile-picture
beetroot memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Wah agan ini bikin ane jdi ingat masa lalu wktu sd.(mrsa terkucilkan)
Lanjut gan 😁😁
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
#15 Anak Pertama - Kakak Tertua (Part 1)

Saat ini, ketika Aku menulis cerita, pada usiaku yang hampir genap 30 tahun.

Aku mempunyai 3 adik kandung laki-laki dengan Ayah dan Ibu yang sama, 1 adik perempuan dengan Ayah yang sama namun dengan Ibu berbeda, 1 adik tiri laki-laki dan 1 adik tiri perempuan.

Sebenarnya, bila Ibuku tidak bercerai lagi dengan Ayah tiriku, Aku masih akan mempunyai, 2 adik tiri laki-laki kembar dan satu adik tiri perempuan.

Sebuah keluarga yang sangat unik bukan? Tapi ya beginilah kehidupan yang harus Aku jalani.

Singkat cerita, setelah Ibuku bercerai dengan Ayah kandungku, Ibuku menikah lagi dengan seseorang yang katanya sih mantan pacarnya dulu.

Setelah mereka memutuskan untuk menikah, Aku pindah ke Bekasi. Namun, beberapa tahun menikah, Ibuku kembali bercerai.

Sekarang, Ibuku telah menikah kembali di Samarinda, tinggal di rumah dimana Aku dibesarkan dulu bersama Ayah kandungku.

Aku tidak begitu mengenal Ayah tiriku yang sekarang, apakah Ia punya anak juga atau tidak, jika punya, maka sepertinya Aku akan mempunyai adik tiri lagi.

Aku tidak terlalu mengenal Ayah tiriku karena memang Aku tidak terlalu ingin mengetahuinya, serta tempat tinggal ku di Bekasi, sedangkan Ayah tiri dan Ibuku tinggal di Samarinda.

*** Kembali ke masa lalu sebelum Ayah dan Ibuku berpisah ***

Aku merupakan anak pertama dari total 4 bersaudara. Ini berarti Aku mempunyai 3 orang adik laki-laki yang kalau diingat kembali, Aku adalah kakak yang tidak mempunyai tanggungjawab terhadap adik-adiknya.

Hubungan kami sebagai kakak-beradik bahkan tidak terjalin dengan erat.

Aku dan adik-adikku seperti mempunyai kehidupannya masing-masing.

Namun, tentu saja, kami sering bermain bersama saat di rumah, tidur satu ranjang, dan melakukan ragam aktivitas lain.

Adapun mengenai hubungan yang tidak biasa di sini adalah seperti pada saat-saat tertentu dimana peran dari seorang kakak seharusnya bisa menjadi pengganti saat orangtua tidak ada.

Misalnya saja ketika adikku berkelahi dengan temannya, lalu menangis, Aku tidak bisa menempatkan diri dengan melakukan tindakan sebagai kakak yang semestinya.

"Tam, adik mu berantem tuh," teriak salah seorang teman di sekolah.

"Terus, gimana?," jawabku. "Ya, sudah gak kenapa-kenapa sih. Tadi dipisahin sama guru," ujarnya.

"Oh, oke oke," ucapku lagi tanpa melakukan apapun lagi setelahnya.

Aku seharusnya memberikan perlindungan kepada adikku, tidak harus membalas pukulan dari temannya, paling tidak Aku memberikan pelukan atau sekedar mengelus kepalanya mempertanyakan bagaimana keadaannya.

Tapi sayang sekali karena itu tidak Aku lakukan, Aku hanya melihat, mengetahui, lalu berpikir apakah Aku harus membantunya atau tidak, namun seringkali Aku memutuskan untuk tidak membantunya.

Aku seperti punya batasan-batasan tertentu untuk turun tangan ketika momen-momen seperti itu.

Bila Aku merasa kalau adikku bisa mengatasinya, Aku tidak akan membantunya.
#15 Anak Pertama - Kakak Tertua (Part 2)

Setelah dewasa, Aku baru menyadari bahwa ternyata Aku memang tidak menyukai 'masalah' sejak kecil.

Bagaimanapun caranya, Aku akan berupaya untuk menghindari sebuah masalah.

Selain itu, Aku juga tidak mengetahui apa makanan adik-adikku, kapan hari ulang tahunnya, tidak pernah mengucapkan selamat atau memberikan apresiasi atas sesuatu hal yang mungkin berhasil dicapai oleh adikku, dan lainnya.

Bahkan, kebetulan Aku berasal dari keluarga muslim, pada waktu perayaan Hari Raya Idul Fitri, kita melakukan sungkem hanya sebatas formalitas saja.

Bersalaman, mohon maaf lahir dan batin, padahal tanpa didasari dengan maksud sebenarnya dari perayaan tersebut.

Sering sekali Aku merasa cukup aneh dengan keluarga-keluarga lainnya, pada waktu merayakan hari raya, mereka melakukan sungkem dengan khidmat, menangis hingga sesugukan untuk meminta maaf.

Padahal kan seharusnya, keluarga ku yang patut dianggap sebagai sesuatu yang aneh karena tidak mempunyai keterikatan seperti keluarga-keluarga lainnya.

Oh ya, kembali membahas mengenai sifat kurang baik yang Aku miliki tentang 'malas untuk terlibat dengan masalah'.

Hal ini tak hanya berlaku untuk adik-adikku saja, namun semuanya, misalkan saja ada sebuah kejadian hingga membuat orang berkerumun, Aku tidak akan tertarik untuk melihatnya.

Pernah suatu ketika, Aku melihat praktik pencopetan di dalam sebuah angkot (bukan angkot yang menuju rumahku).

Seorang pria tengah merogoh isi tas wanita yang duduk di sebelahnya, bukannya berteriak atau memberitahukan aksi tersebut, Aku hanya diam dan tersenyum jahat dalam hati, 'Oh ternyata begini ya cara mencopet orang, nekad juga orang ini'.
profile-picture
seenoevil memberi reputasi
Sorry belum bisa lanjut dulu nih :'(
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjutkan gan emoticon-excited
Halaman 2 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di