CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
PENGALAMAN KERJA DI TOKO ANGKER Bagian 1
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f1802014601cf44ae0146b0/pengalaman-kerja-di-toko-angker-bagian-1

PENGALAMAN KERJA DI TOKO ANGKER

⭐⭐⭐
Cerita ini merupakan sebuah cerita yang terinspirasi dari pengalaman Author sendiri dan ada bagian fiksinya. Semua nama dan detail tempat akan disamarkan agar tidak merugikan pihak manapun.
⭐⭐⭐


Hari ini aku resmi menjadi salah satu karyawan dengan posisi marketing di sebuah toko. Dengan status pendidikan terakhir yang hanya Sekolah Menengah Atas dan belum berpengalaman, tentunya aku merasa sangat beruntung bisa diterima bekerja.

Aku melebaran mataku dan berulang membaca pesan yang masuk ke handphoneku seakan tak percaya.

"Selamat ya kamu diterima."

Jantungku berdegup kencang dan senyumku otomatis terukir karna rasanya... Aku sangat lega. Entah berapa amplop sudah yang aku layangkan ke perusahaan-perusahaan, namun tak ada yang berujung manis. Selalu gagal. Dengan diterimanya aku, aku berjanji akan bekerja keras sebisaku!!!

⭐⭐⭐

Jam sudah menunjuk ke arah 11.00, atasan yang menerimaku meminta aku untuk datang pukul 12.00. Ahhh... Tentunya jam masuk seperti ini menyita perhatian mereka kan? Anak baru harus rajin!
Tanpa ragu, akupun berangkat ke tempat kerja baruku menggunakan motor yang aku pakai sehari-hari. Motor ini dibeli alm. bapakku saat kakakku yang kedua masih menginjak bangku perkuliahan. Sudah tua memang, tapi masih bisa dipakai. Buat apa membeli yang baru? Membuang uang saja, pikirku.

Diperjalanan menuju ke toko, aku terpikirkan sesuatu. Kenapa aku diterima? Sedangkan aku sempat berpapasan dengan perempuan yang secara fisik lebih baik dari aku. Hmmm... Mungkin dia belum rejeki dan ini rejekiku. Aku tersenyum sendiri.
Apa mungkin... Karna perkataan yang tak sengaja aku lontarkan tadi.

"Kenapa kamu ingin bekerja?"

"Karna... Saya ingin memperbaiki ekonomi keluarga saya, pak. Saya baru ditinggal Ibu saya meninggal tiga bulan lalu. Status saya masih kuliah dan adik masih kelas satu SMA. Saya harus bekerja karna saya butuh uang untuk melanjutkan hidup saya."

Entahlah, kenapa kata-kata itu atau lebih pantas disebut curhatan dengan mudah terlontar dari mulutku. Ya, aku saat ini sudah tidak punya orang tua lagi alias Yatim Piatu. Aku sudah berniat bekerja saat ibuku masih ada. Aku bermaksud membantu meringankan beban ibuku, tapi takdir berkata lain. Ibu pergi tanpa pamit kepadaku. Karna, saat itu aku sedang berada di daerah lain sebab kakakku baru melahirkan dan butuh seseorang untuk membantunya. Yang tersisa hanya penyesalan...
Kenapa tidak pulang saja saat itu...
Kenapa...
Kenapa...
Kenapa...

Tak terasa 10 menit sudah berlalu, motorku terparkir di depan toko yang masih terasa asing bagiku. Aku sudah 8 bulan tinggal di daerah ini, tapi aku benar-benar baru pertama kali mengetahui keberadaan toko ini. Jika tidak diberitahukan bahwa ada lowongan disini lewat salah satu grup facebook, aku tidak akan pernah tahu ada toko ini. Toko ini terlihat cukup modern dibandingkan dengan toko bangunan sebelah.

Aku masuk menenteng tasku yang berisi buku, pulpen, dan handphoneku. Hari pertama bekerja dan terasa sangat membingungkan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sesaat setelah masuk, Aku dipersilahkan duduk oleh Atasan yang mewawancarai aku tadi.

"Tunggu yang lain datang ya."

Aku tersenyum dan mengangguk. Disebelahku ada seorang laki-laki dan sepertinya dia adalah senior. Tertera sebuah nama di nametagenya yaitu Pratama.

"Kenalin, aku Pratama. Panggil aja Tama."

"Iya aku Marisa, bisa dipanggil Ica."

Pratama tampak mengangguk dan kembali berkutat dengan laptop dihadapannya. Mungkin dia masih ada kerjaan.

Aku melihat ke sekeliling, beberapa alat elektronic seperti laptop, PC, printer, dan aksesoris yang belum aku tau namanya terpampang. Toko ini adalah toko elektronic, sebelumnya aku melamar di toko baju yang bersebelahan dan ternyata satu manajemen saja. Aku bingung kenapa aku malah diterima bekerja disini. Tapi biarlah, yang penting aku bisa bekerja.

Pintu terbuka dan menampakan sosok perempuan berambut panjang yang dikuncir kuda dan bermake up cukup tebal.

"Permisi..."

"Iya, silahkan masuk." jawab atasan yang bernama Syahrul itu.

Kami berdua duduk di kursi dengan meja yang bebentuk bundar. Sekilas aku sadar bahwa sedari tadi, perempuan itu melihat aku dari atas sampai bawah. Seperti sedang menilai penampilanku. Aku tentunya merasa tidak nyaman dengan perilakunya itu. Rasanya ingin menatap balik dan bertanya "kenapa???" tapi aku memilih diam dan mendengarkan penjelasan Mas Syahrul selaku atasan kami.

"Jadi, tugas pertama kalian adalah mengenal barang disini, dari nama, kegunaan dan spesifikasinya. Kalian saya kasih waktu 3 hari."

Setelah rapat itu selesai, kami berdua langsung melihat-lihat seisi toko sambil berusaha menghafalnya.

Beberapa jam telah berlalu, rasanya mengantuk sekali. Aneh, tokonya sangat sepi, dari tadi tidak ada pelanggan yang masuk meskipun sekedar bertanya. Tapi, aku berusaha berpikir positif bahwa toko ini masih baru dan kembali menghafal nama barang.

Jam dinding sudah menunjukan pukul 17.00 WIB. Mas Syahrul dan Pratama ternyata menghilangdari tempatnya. Mungkin, jam kerja mereka telah usai dan hanya tersisa kami berdua saja di dalam toko. Kami terlalu fokus sampai tidak memperhatikan gerak-gerik mereka. Kata Mas Syahrul, kami boleh beristirahat tapi secara bergantian. Lalu, kami berdua memutuskan untuk Yuni yang istirahat duluan.

"Aku istirahat dulu ya, Ca."

"Iya, silakan, Yun. Hati-hati ya." Yuni tersenyum dan mengangguk.

Kini tinggal aku sendirian di toko. Suasana diluar kian menggelap seiring berjalannya waktu. Toko terasa sangat senyap. Hanya suara kendaraan berlalu lalang yang terdengar.

Kepalaku terasa sangat sakit secara tiba-tiba. Huft, pasti karna sudah lama tidak dipakai. Aku memijatnya dengan pelan berharap rasa sakit itu segera menghilang. Aku ingin keluar dan membeli obat, tapi Yuni belum datang karna jam istirahat satu jamnya belum selesai. Aku mengeriyit. Ini sakit sekali. Ku raih botol air mineral yang isinya sisa setengah itu dan kuminum habis.

Beberapa waktu berlalu, Sakit kepalaku belum menghilang juga.
Aku memutuskan untuk berdiri. Barang kali kepalaku terasa sakit karna aku terlalu lama duduk dan menunduk sambil menghafal nama barang yang ada di toko ini. Barangnya sangat banyak menurutku. Belum lagi, namanya yang begitu aneh sangat asing bagiku. Sulit sekali menghapalnya.

Saat berdiri, aku merasa seseorang sedang berada di gudang kecil yang terletak di belakang samping kiri toko, tepat dibelakang kasir, tempat menyimpan stok barang. Aku hanya fokus pada sakitku tanpa memperhatikan lebih detail karna aku memang yakin ada seseorang yang sedang bercermin disana. Karna waktu aku melihat barang dekat kasir, aku sempat melihat Pratama berkaca disana. Merasa tidak nyaman karna diam, aku menoleh dan melempar senyum.

"Hah?" gumanku saat menyadari tidak ada orang disana...

Aku bergidik ngeri. Ahhh... Hanya imaginasiku saja pasti.

Sayup-sayup terdengar suara motor terparkir di depan. Itu Yuni. Helm Pink helokitty yang dia pakai membuat aku mengenalinya.

Aku bergegas keluar karna mau cepat-cepat istirahat. Aku harus segera beli obat agar sakit kepalaku reda. Belum menginjak teras, Yuni menyeletuk,

"Loh tadi konsumennya mana, Ca? Aku lihat tadi dari seberang jalan makanya ngebut kesini. Apa udah keluar? Kok cepet banget?"

DEG! Rasanya sekujur badanku kaku. Dan merinding tersebar diseluruh bagian tubuh. Aku terdiam.

"Kenapa, Ca?? Kok diem? Hey!"

Aku tersentak.

"Eumm... Iya, Yun. Tadi pelanggannya udah pulang. Aku istirahat dulu ya."

Akupun berlalu menuju ke motor yang tak jauh terparkir dari motor Yuni dan bergegas pulang dengan perasaan yang sulit aku deskripsikan.



Edit: Ada tambahan gambar, salah satu pojok dari bagian belakang toko.

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dmdc
Halaman 1 dari 2
PENGALAMAN KERJA DI TOKO ANGKER BAGIAN 2





Setelah perkataan Yuni tadi, aku cukup merasa merinding. Ada apa dengan toko itu? Kenapa aura mistisnya sangat terasa?
Sepanjang jalan aku memikirkan kejadian barusan. Baru kali ini aku merasakan kejadian mistis seperti itu menimpaku. Benar-benar diluar dugaan. Ck.

Sesampainya di apotik, aku membeli obat sakit kepala. Saat menunggu penjual yang sedang mencari obat yang ku maksud, ada seorang bapak-bapak yang memperhatikanku dengan terang-terangan. Rasanya, pakaianku sopan dan tidak mengumbar tubuhku. Lalu ada apa dengan bapak ini. Aku tidak berani melirik ke arahnya. Yang kulakukan hanya berdoa agar tidak terjadi apa-apa dan aku harus cepat kembali ke toko.

Saat aku keluar dari apotik, bapak itu menghadangku dan bertanya, "Kamu habis dari mana?"

Aku yang tidak mengerti maksudnya hanya bisa diam.

"Bapak tanya kamu dari mana?" tanya bapak itu kembali dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.

"Sa-saya dari kerjaan ini mau balik lagi kesana... Kenapa ya pak?"

Bapak itu terdiam sejenak. Sangat terlihat dia meneguk air ludahnya. "Hati-hati nak di jalan ya." Setelah mengatakan itu, bapak tadi kembali ke apotik mengambil bungkusan yang berisi obat miliknya yang tertinggal tanpa menoleh lagi kepadaku. Apa yang sebenarnya bapak itu maksud? Kenapa abstrak sekali? Hufttt...

Dengan perasaan kesal aku kembali ke tempat kerjaku. Kami bekerja 8 jam dan 4 jam lagi jam kerja pertama kami akan selesai. Lega rasanya. Meskipun hari pertama ini dilalui dengan penuh keanehan. Tak apa. Aku hanya ingin bekerja disini. Bukan hal yang aneh dan melanggar aturan.

🍑🍑🍑

Sudah tiga bulan semenjak kejadian aneh itu. Dan semuanya terasa baik-baik saja. Aku kira setiap hari akan merasakan aura mistis seperti hari itu, ternyata tidak. Pelanggan makin ramai. Sangat berbeda ketika minggu pertama aku bekerja disini.

Belum genap sebulan bekerja, Yuni dipindahkan ke toko sebelah yaitu toko bermerk yang sudah tersohor namanya hampir diseluruh Indonesia. Jadi, hanya aku dan Tama yang masuk shift di toko elektronik. Tapi yang sedikit aneh adalah, aku kebagian masuk shift siang-malam. Sedangkan, aku kan perempuan. Kenapa manager tidak memikirkan hal itu? Mau protes tapi yasudalah... Jalani saja. Lagipula aku hanya karyawan baru.

Hari ini jadwal pemadaman listrik. Tapi manager kami baru mengetahuinya setelah pemadaman berlangsung. Jadi, toko menjadi gelap gulita tanpa penerangan. Meskipun begitu, pelanggan tetap kekeuh masuk mengandalkan flash hp mereka masing-masing. Karna kebetulan toko elektronic sedang sepi, aku di suruh membantu ke toko sebelah untuk menemani Kak Vera yang berjaga sendirian. Mau tak mau aku harus mengikuti kemauan manager itu.

Aku menghidupkan flash hp ku dan masuk ke dalam. Toko baju ini terbilang lebih luas daripada toko tempatku bekerja. Padahal bersebelahan saja dan satu manajemen.

"Mba, ini harganya berapa?" tanya salah satu pelanggan kepadaku.

"hmmm di label bajunya sudah ada tag harganya, Mas." jawabku sesopan mungkin dan diselingi bahasa verbal menunjuk ke arah labelnya.

Pelanggannya berjumlah 3 orang dan keadaan sedang gelap gulita. Wajar saja Kak Vera butuh bantuan. Yuni sedang ijin sakit karena itu, hari ini dia tidak masuk kerja.

Kak Vera memintaku untuk stay di kasir dan dia yang melayani pelanggan. Karna sibuk dengan data yang ada di komputer, aku sedikit tidak memperhatikan pelanggan. Setelah pekerjaan mengasir selesai, aku melirik ke depan. Ada seorang bapak-bapak yang kesulitan melihat pajangan yang merupakan tempat display jaket. Aku berinisiatif mendatanginya dan menyenterkan flash hp ku. Betapa terkejutnya aku, karna saat aku terangi dengan flash hp, bapak itu sudah tidak ada. Meskipun kaget, aku tetap berpikir positif. Mungkin bapak itu sudah keluar dengan cepat. Namun tetap saja akal sehat ini bekerja. Di samping display jaket ada lemari jam, tidak mungkin bapak itu meloncatinya. Dan kemungkinan kedua adalah bapak itu berlari. Tapi, kenapa harus berlari? Dan jika memang berlari kenapa tidak apa suara apapun?

Aku bergegas mendatangi Kak Vera yang sedang berdiri di dekat pintu dan langsung menanyainya. "Kak Ver, itu tadi bapak yang lagi pilih jaket kemana?"

"Hah? milih jaket? Gk ada kok, Ca."

"Ada Kak... jelas banget aku lihat tadi ada disitu, pas aku samperin malah gk ada."

Wajah Kak Vera berubah tegang. Sedetik kemudian dia sudah berlari keluar sambil terpekik. Aku reflek mengikuti dia dan cepat-cepat berlari keluar dari toko.

Dengan nafas yang memburu aku bertanya, "Kak, kenapa lari? Ada apa? Aku jadi kaget kakak tiba-tiba lari begitu."

"Ica, kamu yang bikin aku kaget sama ceritamu itu. Mana lagi mati listrik begini. Bener-bener deh."

"Loh kok nyalahin aku sih, Kak? Aku kan cuma nanya tadi."

"Iya, aku tau kamu nanya. Tapi, cerita kamu tadi gk masuk akal karna waktu aku liat kamu jalan dari kasir tadi emang gk ada siapa-siapa..."

"Berarti, kakak tadi liat aku pas buka flash hp ya? Itu aku jalan ke arah situ karna kasian sama bapak yang milih jaket tapi gelap gitu."

"Serius, Ca. Aku ga bohong. Gk ada orang tadi di display jaket. Besok deh aku ceritain sesuatu."

"Cerita apaan kak?"

"Cerita yang perlu kamu tau juga." Aku terdiam. Cerita yang perlu aku tahu? Apa itu? Kak Vera merupakan karyawan senior yang sudah semenjak toko launching pertama kali, dia sudah diterima bekerja sampai saat ini. Jadi, mengenai cerita yang ingin dia sampaikan pasti berhubungan dengan sejarah toko ini.




NOTE: Sebenarnya agak segan dan takut nulis cerita ini. Karna walaupun udah gk kerja disono, aku masih satu daerah. Untuk sekarang aku lebih milih menghindari untuk ngelewatin toko itu. Why? Karna mereka bakal tau klo aku lewatttt....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
kayaknya seru nih...numpang baca
profile-picture
profile-picture
doelviev dan aan1984 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
aku suka... aku suka... lanjutkan ya kakak... hehehe...
profile-picture
doelviev memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
kayak kenal ceritanya , tapi mungkin kebetulan aja kejadiannya sama emoticon-Smilie
beda nya gw d toko hp bukan baju wkwk
profile-picture
profile-picture
doelviev dan nomorelies memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Nitip sendal dulu
profile-picture
doelviev memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nyimak.
emoticon-Cool
profile-picture
doelviev memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
mana lanjutannya?
profile-picture
doelviev memberi reputasi
Di tunggu lanjutannya sis
profile-picture
doelviev memberi reputasi

PENGALAMAN KERJA DI TOKO ANGKER Bagian 3



"Kalian kenapa?" tanya manager kami yang kaget dengan suara langkah kami sebab interior lantai toko terbuat dari kayu tipis. Aku kurang tahu nama pasarannya.

Kak Vera menegakan badannya yang semula sedikit membungkuk karna ngos-ngosan. "Eumm gk papa kok mas. Kita kaget aja tadi soalnya ada tikus."

Aku yang tidak paham maksud Kak Vera untuk berbohong hanya bisa mengangguk lemah menyetujui perkataan Kak Vera.

"Owhh Begitu... Kirain ada apa. Oiya, karna pemadamannya sampai malam dan kayaknya toko kita sepi, kalian pulang aja." ujar Manager kami Mas Syahrul sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Tapi, ini kan masih jam 7 Malam, Mas. Beneran kami boleh pulang?" tanya Kak Vera untuk memastikan.

"Iya kan saya bilang kalian boleh pulang. Terus kenapa? Kalian gk mau pulang cepet?"

"Owhh enggak enggak mas. Kami mau beres-beres dulu." Kak Vera berlari ke dalam toko untuk mengambil barangnya. Begitupun juga aku. Aku mengikuti langkahnya dari belakang yang terlihat sangat tergesa-gesa. "Ayo cepetan, Ca!"
Kak Vera menarik tanganku dan kembali berlari ke arah pintu keluar.

"Ish Kak Vera ini penakut banget sih. Kan ada aku di belakang Kakak." sungutku karna pergelangan tanganku Ia cengram kuat sekali.

"Hufttt maaf, Ca. Aku terbawa suasana. Soalnya jadinya serem banget di dalam sana."

"Iya, itu serem karna gelap kak. Lagian kan kita gk liat apa-apa juga."

"Heloowww Marisaaa... Kamu itu kayak gk inget aja kejadian barusan. Yang kamu liat tadi itu apaaa???"

Aku tersenyum agar Kak Vera yakin aku baik-baik saja. "Udah gk papa, Kak. Jangan dipikirin lagi dehhh..."

"Kamu ini deh. Ayo kita pulang."

"Iya, Ayo kak."

Aku dan Kak Vera menuju ke tempat motor kami terparkir dan saling berpamitan.

Tidak biasanya Mas Syahrul begitu baik sampai menyuruh kami pulang terlebih dahulu. Tapi tak apa lah. Itung-itung ini libur meski hanya 2 jam.

🍑🍑🍑

Sesampainya dirumah aku segera melaksanakan ibadah. Dan berdoa sebanyak yang aku bisa agar mendapat lindungan dari Sang Pencipta.

Setelah selesai, aku membaringkan tubuhku ke kasur yang sangat sederhana ini. Hanya kasur kapuk biasa. Karna merasa bosan, aku mulai berselancar di dunia maya hingga tanpa sadar aku tertidur.

🍑🍑🍑

Seperti biasa, aku selalu kebagian shift siang. Hari ini aku satu shift dengan Kak Vera. Yuni yang sudah masuk dari pagi tadi berpamitan pulang. Namun tiba-tiba saat berpapasan denganku yang baru datang, Yuni menarik tanganku dengan paksa untuk ikut keluar.

"Eh, Yun kenapa???" Tanyaku saat sudah di luar.

"Sumpah demi apa, Ica??? Dari tadi aku nggak betah banget sendirian. Barang display jatoh mulu kaya ada yang sengaja gitu. Terus di wc aku denger suara kaya orang main air gitu. Abis aku setel Ayat Kursi udah enggak lagi."

"Mungkin itu cuma perasaan kamu aja kali, Yun. Kan kamu abis sakit kemaren." sergahku.

"Enggak, Ca. Aku serius bahkan riburius aku gk bohongggg..." jelas Yuni sambil melirik ke dalam.

"Yaudah kamu pulang dulu sana. Istirahatin badanmu. Nanti sore masuk lagi..." ucapku sambil menepuk pundaknya agar Yuni tidak memperhatikan ke dalam. Takutnya akan ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

"Iya aku pulang dulu ya."

Sepulangnya Yuni, aku kembali masuk ke dalam untuk menaruh tas ke dalam gudang. Kebetulan gudang dua toko ini menjadi satu. Otomatis aku sering bolak-balik kemari. Sebenarnya, aku sedikit merinding mendengar cerita Yuni dan jadi teringat kejadian yang aku alami malam tadi.

"Huhhhhh..." aku melepaskan nafas panjang dan tanpa kusadari di depanku ada Mba Refa sedang berjalan menuju kasir. Mba Refa merupakan istri Mas Syahrul yang juga bekerja disini sebagai admin.

"Buru-buru amat mba hehe." ledekku. Aku dan Mba Refa sudah lumayan akrab karna dia sering menemaniku berjaga disebelah.

"Iya nih, laporan penjualan kemaren kelupaan dikirim karna pemadaman." jawabnya sambil matanya bermain di monitor.

"Iya nih, Mba Refa. Padahal ditempatku enggak pemadaman loh. Hanya jalur sini saja."

"Kalo jaringan sini sama jalan tempat tinggalmu memang beda jalur, Ca. Pernah dulu pemadaman gantian. Mungkin malam ini di tempatmu pemadamannya, Ca."

Aku sedikit terkejut, "Lah, pemadaman juga ya ditempatku nanti. Padahal gk ada senter atau lilin."

"Ces aja hpmu nanti sampe penuh. Andelin flash aja dulu. Jam 12 malam baru hidup listrinya. Lagi ada pemeliharaan kabarnya." jelas Mba Refa.

"Oh gitu ya, Mba. Makasih infonya. Aku kesebelah dulu. Itu Kak Vera udah datang."

"Iya, kesebelah aja, Ca. Nanti aku temenin jaga disebelah ya."

"Oke siap, Mba." akupun berjalan ke arah pintu. Saat di teras, aku menyapa Kak Vera. "Kak Vera... Baru dateng nih semenit sebelum jam kerja. Hehe" ledekku.

"Ahh kamu bisa aja, Ca. Yang penting gk terlambat ini. Oh iya nanti istirahat ke sebelah ya. Aku beneran harus ceritain ke kamu. Tapi, jangan sampai Mba Refa denger..."

Aku berusaha memahami maksud Kak Vera. Jadi, ini semacam rahasia atau sesuatu yang tabu untuk di ketahui Mba Refa? Tapi apa? Aku terlalu malas jika akhirnga pemikiran itu harus bersarang di kepalaku.

"Iya nanti aku kesebelah ya, Kak." akupun berlalu dan mulai berjaga di toko tempatku bekerja.

🍑🍑🍑

Jam dinding sudah menunjukan pukul 16.00 WIB, aku yang sedari tadi penasaran akan cerita Kak Vera, bergegas membereskan meja dan menuju ke toko sebelah.

"Hey, Ca. Sini!" ajak Kak Vera. Ternyata dia sudah menunggu di teras depan.

"Nungguin ya, Kak? Mba Refa nya kemana?" tanyaku sambil duduk disebelahnya.

"Ohhh... Itu tadi dia kayaknya keluar sama Mas Syahrul." jelas Kak Vera sambil memakan cemilan.

"Ehhh iya itu apa yang mau kakak ceritain sih aku penasaran dari kemaren malam."

"Hmmm tapi kamu bukan penakut kan, Ca?"

"Kok nanya begitu? Aku sih kadang aja kalo takut pas dapet."

"Jadi gini..." Kak Vera mengubah posisinya menghadap ke arahku. "Aku kan udah pernah bilang kalo aku ini kerja di toko ini udah lama. Dari pertama toko ini belum buka aku udah keterima disini. Bahasanya generasi old gitu." lanjut Kak Vera.

"Hmmm... Terus?" aku menyimak sambil memasang wajah serius.

"Tentang kejadian yang kamu alamin tadi malam, itu aku percaya kok. Cuman yang harus kamu tahu adalah disini kita gk cuma sendiri. Maksudnya gk cuma kita yang ada disini."

"Gk cuma kita??? Maksudnya gimana, Kak?"

"Hmmm... Gini deh, kita kan sama-sama Islam. Tentunya percaya hal ghoib. Nah, aura ghoib disini tu termasuk kuat banget, Ca." jelasnya dengan nada yang cukup pelan.

"Tapi, Kakak bisa seyakin itu gimana ceritanya?"

"Dulu, karyawan disini bukan cuma aku tapi ada 4 orang. Dan mereka semua pernah alamin kejadian mistis yang berbeda. Yang pertama namanya Eni, dia ngeliat penampakan kakek tua yang megang tongkat di deket pohon mangga itu yang dibelakang toko."

"Waitttt..." potongku. "Maksudnya pohon mangga yang udah mati itu???"

"Iya, Ca. Dulu pohonnya masih hidup. Jadi setelah liat itu dia gk berani kebelakang lagi. Harus ditemenin. Kami yang lain sebenernya gk percaya. Tapi, dia kayaknya ketakutan banget."

Aku berpikir sejenak untuk memasukannya ke dalam akalku. "Terus ada kejadian apa lagi?"


"Yang kedua itu kami alamin bareng-bareng. Ceritanya pas itu kami lagi kumpul di deket pintu yang ke arah belakang itu. Jadi, aku iseng aja ketok-ketok pintu. Ehhh ada yang bales ketok. Aku bilang lah ke yang lain. Mereka gk percaya. Kan waktu itu lagi setel lagu, jadi lagunya di matiin dulu. Serius aku deg-deg kan banget pas mau ketok pintu lagi. Tapi aku beraniin tuh ngetok pintu dan bener... 'tok tok tok' ada yang bales ngetok. Langsung bubar kami lari ke depan semua."

Aku terdiam. Tidak bisa kubayangkan jika ada diposisi mereka saat itu.

"Masih banyak sebenernya cerita yang lain. Yang paling utama harus kamu tau sih cerita satu ini."

"Apa tuh, Kak?"

Kak Vera tampak memindahkan pandangannya. "Disitu, ada sesuatu yang harus kamu hormati keberadaannya."

"Hah??? Maksudnya gimana???"

"Bukannya kita harus memuja atau takut. Hanya menghormati saja. Disitu ada makhluk yang menjaga Mbak Refa." terang Kak Vera dengan hati-hati. Kini pandangannya beralih kepadaku. "Kamu harus jaga lisan, Ca. Ingat ya! Mereka ada disini."

Kalimat terakhir Kak Vera membuatku tersadar, dari yang selama ini bodo amat menjadi percaya dan bahkan penasaran dengan hal seperti itu.

Setelah itu, Mba Refa datang bersama Mas Syahrul yang notabene adalah suaminya.

"Mau magrib ngapain kalian di luar, cepetan masuk." tegur Mba Refa.

Aku dan Kak Vera mengangguk lalu masuk ke dalam toko. Aku ke toko electronic dan Kak Vera ke toko baju.

Di dalam sana Pratama sedang duduk di depan laptop dan menyadari kedatanganku.

"Aku tadi denger sedikit cerita kalian." ujar Pratama dengan senyum yang aneh.

"I-iya... Terus?". Gawat! Kak Vera bilang kan Mba Refa gk boleh tau tentang cerita kami.

"Kapan-kapan aku ceritain juga deh. Hehe. Udah jam lima nih. Jam kerjaku udah habis."

Aku merasa sedikit gugup. Kira-kira apa yang mau dia ceritakan? Apa mengenai cerita keseraman toko ini lagi?




NOTE: Maaf kalo lama update sis gan, serem soalnya. Gk berani nulis malam. Di draft masih satu part. Klo Bagian 5 selesai, aku up sis gan.
Masih newbie juga di kaskus. Berantakan wkwk. Udah yang penting baca aja. Enjoy
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 6 lainnya memberi reputasi
Biar rame threadnya ane ikut comment dh emoticon-Cendol (S)
profile-picture
profile-picture
banditos69 dan nomorelies memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjutkan sist..
Selesai kan crtanya..
profile-picture
profile-picture
doelviev dan nomorelies memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Nandain dulu sist
Moga lancar updatenya emoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
doelviev dan nomorelies memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
semnagat nulis kak 🔥, btw kejadian berapa taun yang lalu nih
profile-picture
profile-picture
doelviev dan nomorelies memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ninggalin jejak dulu👣👣
profile-picture
profile-picture
doelviev dan nomorelies memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Numpang ngecass hp gan
profile-picture
profile-picture
doelviev dan nomorelies memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
PENGALAMAN KERJA DI TOKO ANGKER Bagian 1

Lagi mati listrik,liat toko pakai flash hp tp sibuk bisa liat data di komputer??? Caranya liat data di komputer tanpa listrik gmn gan?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
doelviev dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
tik...tik...tik.... suara detik jam mengalun menunggu... emoticon-Cool
profile-picture
doelviev memberi reputasi
calon2 thread kentang nih...minra di bata TS nya?
profile-picture
banditos69 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

PENGALAMAN KERJA DI TOKO ANGER BAGIAN 4





Seminggu setelah insiden Pratama yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraanku dengan Kak Vera, aku baru tahu bahwa Pratama merupakan sepupu dari Mba Refa. Selain itu, tidak ada yang aneh dari tingkah Pratama. Jadi, mungkin aman saja. Pratama mungkin tidak mengadu. Sedikit lega rasanya.

Hari ini Kak Vera mengabari di grup bahwa dia izin dan tidak bisa masuk kerja dikarenakan sakit. Kenapa sih akhir-akhir ini banyak yang sakit? Padahal aku sehat-sehat saja rasanya.

Mas Syahrul memintaku untuk menjaga toko sebelah karna karyawannya hanya ada dua. Yuni masuk shift pagi jadi untuk shift siangnya kosong. Kata Mas Syahrul, dia yang akan menjaga toko sebelah sampai sore. Jadi malamnya aku tetap ke toko tempatku bekerja. Sedikit membingungkan memang bagi orang yang tidak mengerti posisiku. Bisa dibilang aku ini karyawan multifungsi.

Pikirkan saja, pakaian dan elektronic adalah dua hal yang berbeda. Bahkan Mas Syahrul terang-terangan memintaku untuk mempelajari produk pakaian/baju di toko sebelah. Mau tidak mau harus kuturuti agar aku dipertahankan.

Dari tadi, aku merasa di awasi. Meski agak konyol karna ini siang hari. Aku menatap lurus ke arah pintu masuk. Siang ini belum ada yang masuk, jadi aku bisa mengerjakan laporan di komputer.

Tiba-tiba...

'BUKKK'

Salah satu tas di display jatuh. Aku mengabaikannya sebentar dan tetap melanjutkan laporanku.

'BUKKK'

Tas yang lain ikut jatuh. Aku menggaruk kepala karna sedikit heran. Angin darimana? Karna toko ini berAC jadi cukup terutup untuk bisa dimasuki angin.

Jessss... Seketika bulu kudukku merinding. Aku jadi teringat cerita Yuni tempo hari. Kejadiannya persis seperti sekarang. Tapi aku tidak boleh takut! Harus berpikir positif! Dengan langkah ragu aku menuju ke tempat jatuhnya tas tadi dan langsung aku kembalikan ke tempatnya. Setelah selesai, aku memutuskan untuk duduk di dekat pintu masuk sambil menunggu pelanggan.

Bohong jika aku seratus persen berani. Pendengaranku jadi lebih tajam. Meski aku alihkan perhatianku ke layar hp, otakku tetap saja memikirkan kejadian tadi.

Mendadak kepalaku pusing. Aneh sekali. Padahal tadi aku baik-baik saja. Perutku juga terasa mual. Aku cepat saja mengambil fresh care yang selalu aku bawa dari rumah. Seperti biasa, tasku selalu aku taruh di gudang. Gudang toko ini ada empat. Satu gudang yang menyimpan persediaan baju dan perlengkapan karyawan, satu gudang kecil di toko elektronic, dan dua ada di belakang. Untuk mengakses gudang belakang, harus keluar pintu dulu.

Saat membuka pintu aku merasakan sensasi yang aneh. Perutku makin mual dan kepalaku juga pusing. Tanganku terasa dingin. Setelah aku ambil barang yang kubutuhkan, aku kembali ke pintu depan. Bersamaan dengan itu, kulihat Mba Refa masuk ke dalam toko.

"Laporannya sudah dikerjain belum?" tanya Mba Refa.

"Iya sudah selesai, Mba. Coba aja di cek lagi takut ada yang salah."

"Iya nanti pasti dicek kok. Eh, tapi kamu kenapa kok pucet banget gitu." tanya Mba Refa sambil meneliti wajahku.

"Agak gk enak badan aja." Aku tersenyum. Tidak mungkin aku menceritakan kejadian barusan.

"Ohhh... Yaudah aku ke kasiran dulu ya."

"Iya, Mba." jawabku singkat.

Aku mengoleskan minyak angin ke perut dan juga tengkukku berharap kondisiku akan membaik.


------------


Jam tanganku menunjukan pukul 16.45 WIB, 15 menit lagi jam istirahatku berakhir. Aku tidak kemana-mana karna sebelum berangkat kerja tadi aku sudah membawa bekal untuk dimakan saat istirahat.

"Tumben nih biasanya mepet jam lima baru dateng. Ada angin apa?" sindirku ke Yuni yang baru saja datang.

Dia tersenyum dan turun dari motornya. "Mau ngobrol aja sama kamu, Ca." jawabnya kemudian.

"Iya duduk aja sini loh." aku tepuk-tepuk lantai disebelahku mempersilakan Yuni duduk.

"Kamu kok lemes gitu sih. Pucet pula. Belum makan ya?" tanya Yuni.

"Hmmm rada gk enak badan aja rasanya."

"Waduhhh... Kenapa gantian sih kita sakitnya? Semenjak kerja disini fisikku jadi lemah sering sakit." ujar Yuni.

"Emang biasanya kuat ya?"

"Iya gk pernah aku begini, Ca. Serasa disedot kekuatanku. Aku waktu pertama kali sakit sebenarnya ada alasannya, Ca. Cuma aku gk berani cerita waktu itu."

"Alasan? Alasan gimana maksudnya?" tanyaku bingung.

"Waktu itu aku lihat sesuatu didalam. Sebelum insiden barang banyak yang jatuh itu. Pokoknya setelah aku pindah kesebelah aku sering ngerasa hawa aneh, Ca! Puncaknya pas aku sakit kemaren. Jujur aja sih orang tuaku tuh masih suka berobat alternatif, jadi aku dikasih tau kalo ada yang nempel dari sini. Hmmm kalo sekarang sih belum tau bakal balik atau enggak."

"Begitu ya, Yun. Tapi, saranku tetap minta perlindungan sama Allah bagaimanapun situasinya. Karna mau kita ataupun mereka, sama-sama ciptaan Allah. Bukannya aku mau nyinggung, cuma sekedar saran aja."

"Iya aku paham kok tenang aja. Aku pastinya berdoa terus biar gk diganggu lagi. Aku disini niat kerja bukannya main-main." Yuni pun bangkit dan merapikan bajunya. "Yaudah, Ca. Ayok masuk udah jam lima nih."

"Iya dahh aku juga masuk kok." aku juga ikut bangkit dan masuk toko sebelah.

Seperti biasa, di meja karyawan masih ada Tama yang asyik dengan pekerjaannya. Akupun duduk di kursi sebelahnya.

" Ada barang keluar gk?" tanyaku sambil melihat layar hp. Ada chat dari Kak Vera.

"Ada tadi satu unit." jawab Tama.

Aku membaca pesan yang masuk.

[Ca, sibuk gk?]

[Enggak kok. Kenapa? Lagi ganti shift aja sama Tama]

[Aku mau cerita...]

[Cerita apa Kak?]

[Kemaren pas jaga malam, aku kan masuk ke gudang belakang tuh ambil kardus disuruh Mba Refa... terus tau gk caaaa...]

[Tau apaan kakk? Belum dikasih tau juga.]

[Aku ngeliattttt sekilas ada yang berdiri di pojokan. Pas aku liat lagi gk ada caaa... pas aku ambil kardusnya, ada suara barang jatuh. Langsung lari aku.]

[Oalahhh pantes kemaren aku denger suara orang teriak ternyata kakak ya. Waduhhh kok bisa begitu sih kak. Halusinasi aja kali kak.]

[Aku gk bisa iyain atau bantah pendapatmu, Ca. Karna aku juga berharap itu halusinasi doang. Tapi tetep aja aku jadi ciut gini sampe sakit juga karna kepikiran.]

[Sekarang kakak manfaatin waktunya buat istirahat ya. Jangan dipikirin terus. Banyak berdoa ke Allah.]

[Iya makasih, Ca. Kamu lanjut aja kalo sibuk.]

[Okeeyyy kakkk]

Aku mematikan layar ponsel dan berpikir. Kejadian yang baru saja diceritakan Kak Vera dan Yuni ada relasinya. Mereka sama-sama sakit setelah melihat sesuatu. Hufttt... kira-kira apa yang mereka lihat sampai sakit seperti itu? Aku bukannya mau lihat, hanya penasaran saja.

Mengenai kondisiku saat ini, aku masih pusing dan sedikit mual. Untunglah toko cukup sepi jika malam tiba. Jadi, aku bisa istirahat.

"Hey melamun aja kamu." tegur Tama sambil menutup laptop.

"Eh udah jam lima lewat ini. Gk ke atas kamu?" Tama memang tinggal disini, tepatnya di lantai atas karna ada tiga kamar. Satu ditempati Mas Syahrul dan Mba Refa dan satu lagi ditempati Tama.

"Eummm bentar lagi. Lemesin otot dulu."

Aku hanya mengangguk-angguk untuk meninpalinya.

"Ica, kamu gk penasaran tentang cerita yang lain?"

Aku menoleh singkat ke Tama yang berada di sebelahku. "Udah kebanyakan cerita hari ini. Mumet."

"Serah dah mau denger atau enggak. Tapi aku beneran ceritain nih. Aku denger pas itu Vera udah cerita ada penunggu di depan kan?"

"Eummm... Iyaa... Terus?" aku menoleh dan mulai tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut. Rasanya penasaran sekali.

"Aku akuin memang ada didepan situ sosok crocodile. Dan dia emang penjaga Mba Refa. Tapi tenang aja dia gk ganggu. Dia cuma menjaga apa yang harus dia jaga aja."

Aku menganggguk paham. Tak berani bertanya lebih lanjut.

"Untuk yang lain, disini emang ada. Terutama di belakang toko sebelah. Dia pernah nampakin diri. Tapi untuk aku pribadi belum pernah lihat."

Aku mengangguk lagi, entah bisa percaya atau tidak atas cerita itu.

"Dulu, pas awal toko jalan Mba Refa pernah kemasukan dan itu berlangsung lama banget. Huh serem banget kalo ingat waktu itu." Tama bergidik sambil memeluk dirinya sendiri. "Ahhh udah ya Ca. Aku merinding sendiri jadinya. Aku mau ke atas."

"Lagian kamu, udah tau mau magrib gini malah cerita gituan."

"Iyasih hehe. Tapi kamu berani kan nanti jaga sendirian."

"Insya Allah berani."

"Oke kalo begitu. Byee..."

"heumm..."

Setelah Tama naik ke atas melalui tangga, aku berpindah posisi ke depan laptop membelakangi pintu menuju ke atas tadi.

Beberapa jam kemudian aku teringat jadwal promosi.

"Tap... Tap... Tap... Srekkk"

Suara langkah kaki dan barang yang tergeser di suasana sepi begini terdengar sangat jelas. Tapi, sepertinya itu Mas Syahrul yang sedang mengerjakan laporannya.

Akupun cuek dan mulai mengerjakan promosi produk yang rutin aku lakukan tiap malam.

"Tikk tik tik tik..."


Terdengat suara keyboard. Tapi setelah itu tak ada suara lagi.

Hawa dingin tiba-tiba meyergap. Tapi tak ku acuhkan.

Saat tengah asyik mengerjakan promosi, ada bagian yang tidak aku mengerti dan langsung saja aku berdiri bermaksud untuk bertanya ke Mas Syahrul.

"Mas...
Hah?" mataku melebar. Tidak ada siapa-siapa di kursi Mas Syahrul.

"Tap Tap Tap"

Suara langkah kaki kembali terdengar. Aku memberanikan diri untuk melihat ke arah tangga menuju ke atas.

Saat aku melihat ke atas, jantungku berdegup kencang, kepalaku mulai pusing dan perutku mual.

Di sana, tak ada siapa-siapa.

Tapi perasaanku berkata, pasti ada sesuatu disana.



NOTE: Maaf banget kalo telat update. Bagian sebelumnya cepet update karna udah ada di draft. Fyi aku tinggal daerah Xmantan. Jadi, buat nulis ginian tu rada gimana gitu. Aku juga tinggal sendirian di kost gan/sis. Spoiler dikit boar kalian ngerti keadaanku ya kenapa was was banget, 'mereka' dulu selalu ngikutin aku kemanapun bahkan sampe kesini tempatku lagi baring. Dan untuk sekarang, memang mereka gk bisa ikutin aku lagi. Nanti aku ceritain deh kenapa. Takutnya nih, dia samperin aku kesini karna gk suka diceritain. Jadi paham aja ya gan/sis. Makasih udah suport cerita ini. Untuk bagian 5 masih proses.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Oke sist ..

Tempat ane dlu jga krja ada penunggunya,.stiap mau pulang kta hrus memastikan jgn ada yg ketinggalan ssuatu dtempat kerja,pkoknya kya org blapan lari gtu kdng temen triak2 klo ditinggalin soalnya klo balik lgi kyak ada yg bisikan" kluar klian dari sini"
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di