CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XVI Tenggang Waktu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f17f1afa2d1957860211ff0/penyewekan-pengasih-bagian-ke-xvi-tenggang-waktu

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-XVI Tenggang Waktu

                   “Kamu habis nangis ya?”, tangannya ketetertan mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya, aku pandangi anak2 berjalan disebelahnya, mereka nampak antusias pulang kerumah masing2 beberapa dari mereka minta izin pamit pulang meyentukan dahi di jemari tangan guru tarinya.

                “Ibu kenapa nagis bu?”, salah satu anak menatap Mira, “Enggak kok, tadi habis makan pedes di kantin, dah sana pulang hati2 dijalan inget rajin belajar ya”, anak2 berlalu dengan riang aku mencoba melempar senyum pada mereka tapi reaksi mereka selalu sama cemberut dan memandang aneh padaku.

                “Duuuttt...Duuutttt..Duuttt”, suara getaran ponsel terdengar, awalnya aku kira dari selempang dadaku tapi baru aku sadari ketika melihat Mira memegang ponsel yang bergetar, ponsel itu dipegang saja tanpa peduli panggilan dengan nama kontak jantung hati merah muda.

                “Ibu ada yang nelfon”, sorang siswi berkata pada gurunya sementara Mira hanya diam menyerahkan tangannya pada siswi yang berkerumun keluar sekolah.

                14 panggilan tidak terjawab dari 1 kontak menjadi ahir ketika seluruh siswa telah pulang kerumah masing2 semntara guru mereka hanya bengong di gerbang belakang sekolah bersama denganku yang duduk diatas motor, bengong tanpa bisa berkata apa2.

                “Duuuttt...Duuutttt..Duuttt”, ponsel itu bergetar kembali, “Angkat saja”, kataku singkat dia hanya menggeleng tatapannya kosong entah kemana membuat kali ke 15-nya terjadi.

                “Aku cuma berusaha”, sebuah kata yang tidak dapat aku mengerti makana berusaha apa dan untuk apa, “Kamu punya cara lain kak?”, dia menatapku mengharap ide kreatif yang ternyata tetap tidak berguna.

                Aku mendengarnya tapi berusaha tuli karena tidak akan mampu menjawab harapan itu, siang ini yang ada hanyalah kebisuan, “Ambil motormu, ayo pulang”, aku menunggunya beranjak ke parkiran untuk kuatar kerumahnya, tapi dia diam bagai tonggak ditancapkan.

                “Aku gak berani pulang hari ini Kliwon, aku pasti diteror lagi”, aku tersenyum kecut, dia bisa menangkap kegundahanku, “Tunggu aku ambil motor” dia memalingkan badan,  aku paing benci melihat wanita berusaha menutupi kegelisahannya dengan pura2 baik2 saja namun yang paling aku adalah ketika lelaki sudah tau tapi pura2 tidak mengerti.

                Di gerbang utama matic sudah bersiap melaju, dia membuntuti ku kemanapun aku melaju bahkkan ketika motorku berhenti di parkiran minimarket, aku turun begitu juga dia heran menyusul, penjaga toko yang menyapu lantai segera menumpuk kursi, mencegah kami duduk bertengkar dan membuat risih pengunjung disana.

                “Kenapa kesini?”, kaca helem digeser keatas itu menunjukan wajahnya, “Aku mau beli rokok sebentar”, aku berjalan kedalam, “Buat apa?”, pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak usah aku jawab. “Bekal disawah”, langkahku  melaju sampai di pintu kaca, aku menoleh “Kamu ada nitip?”, melihatnya berjemur berdiri disebelah kendaraan, dia menggelang.

                “Ayo pulang”, aku sudah naik diatas memundurkan motor bersiap pergi, tapi dia seket (susah) disuruh pulang, hanya bengong berdiri dengan helem dikepala.

                “Kak”, motorku terhenti “Boleh aku ikut”, aku mengetutkan dahi, bukannya aku sengaja membuat dia mengikutiku mengatrnya kerumah suapaya tidak ngawag (sembarangan) mengendarai karena di tepi jalan mellihat mahluk menyeramkan mencegat, “Iya ikut aja” jawabku menyalan motor menunggunya memutar motornya.

                Tapi tak kunjung suara mesin kudengar, hanya “Klek” suara jok motor dikunci dan “Jegleg” suara jok motorku tertekan.

                “Yeh engken ne?! (Kenapa ini?!)”, aku menengok kebelakang Mira sudah duduk duduk diatas motorku, kami beradu pandang, “Kamu ngapain?”, dia celingukan gugup dengan reaksi ku yang juga sama gugup dengannya.

                “Katanya aku boleh ikut”, dia masih tetap duduk disana “Iya kan memeamng kamu ikut, aku antar kerumah kamu dengan motormu sendiri, bukan dengan boncengan bersamaku”, wajahnya berubah merah dan turun dari motorku.

                “Ampura (maaf), aku kira kamu ngasi aku ikut kamu?”, dia menunduk seperti bocah dimarahi, “Emang mau ikut kemana?”, aku standar mototrku.

                “Kesawah”, aku palingkan wajah enggan niatku untuk pergi bersamanya, karena jikalau ada orang yang melihat dia berduaan bersamaku pastinya akan ada gosip dari para mulut tetangga yang tidak bisa diatur oleh pemiliknya sendiri.

                “Sebenehne jani jumah nak sepi makejang luas kundangan (sebenarnya sekarang rumahku sepi semua pergi kondangan)”, Mira melepas helemnya menatapku dengan tatapan yang dulu pernah menjebaku, “Aku gak berani dirumah sendirian”, aku kembali diam, membayangkan sesuatu yang akan aku sarankan padanya.

                “Aku kapok ngungsi dirumah orang”, ternyata saranku dengan mudah ditebaknya, aku melepas helem hitam tanpa kaca kesayanganku, “Sampai jam berapa sepi dirumah?”, aku baru menyadari pertanyaan itu mengandung dua konotasi positif dan negatif.

                “Jam 6 pulang dah semua”, kulihat jam tanganku masih pukul 01.30PM, waktu yang cukup lama kalo aku tunggu dengan duduk di parkiran sini, ditambah lagi ternaku belum ada yang diberi pakan.

                Wajah Mira sudah berkeringat karena berjemur di terik matahari parkiran bersamaku, dia membalikan badan berjalan menuju motornya, kembali lagi hal yang aku tidak suka terjadi ketika wanita berusaha menutupi kegelisahannya dengan pura2 baik2 saja dan  lelaki sudah tau tapi pura2 tidak mengerti.

                “Mir!”, dia Membalikan badan melihatku, aku berdoa mudah2an aku tidak salah mengambil keputusan yang mungkin saja bisa merubah kehidupanku, “Mai menek (sini naik)”, wajahnya langsung tersenyum lebar berjalan keatas motor dan duduk di jok tepat dibelakangku.

                “Makasi ya!”, dari pantulan cermin aku bisa melihat senyum sumbringahnya sama seperti kebahagiaaan dia menceritakan tentang pacarnya. “Kita mau kemana?”, tanyanya lagi yang membuatku mulai memahami sifat gadis ini.

                Aku tidak menjawab melajukan motorku dengan kecepatan normal 60km/jam namun justru membuatnya menjerit memaksaku melaju seperti siput

                Diatas kendaraan tidak sepatah katapun yang terucap, rasa canggung membuatku diam terlebih lagi jalan ini jalan raya yang banyak dilalui orang, yang sangat aku pikirkan 5 menit lagi akan masuk jalan desa pasti puluhan pasang mata akan memandangiku.

                Kegelisahanku jauh beda dengan yang aku bonceng dia justru sangat menikmati udara polutan dengan membuka kaca pelindung dan membiarkan wajahnya disapu oleh angin sembari memejamkan mata, pastinya dia begitu lega bisa menikmati kedamaian tanpa kejaran sosok itu.

                Lampu merah menghalangi jalanku “Kriit”, remku bergesek dengan piringan cakram. “Gruug” suara gemuruh kecil membuatku celingukan menasaran dengan motor yang sudah sering masuk bengkel ini, “Gruug” suara itu lagi membuatku penasaran hingga dengan seksama aku tau itu berasal dari belakang, ada seseorang yang kelaparan tapi pura2 tangguh diam belangkang.

                “Kamu lapar?”, pancingku, “Enggak kok aku udah makan dikantin” jawabnya saat nongol dari pundak kananku, aku heran dikantin mana dia makan sebab tadi aku juga berpapasan dengan ibu kantin yang menangku tutup karena anaknya sakit,

                “Kamu suka bohong?” tanyaku balik, “Enggak, beneran serius!” lampu hijau melepas deru mesin memaksa dia berteriak agak kencang, tapi suara rintihan cacing diperut membuatnya malu sekaligus mematahkan semua argumennya.

                Ahirnya aku belikan nasi bungkus mumpung belum masuk wilayah desa, dan benar saja ketika telah masuk mata2 orang disana menatapku dengan tajam, entah kenapa aku bingung dengan apa yang mungkin mereka pikirkan.

                “Aku kerumah sebentar, ngambil vitamin”, dia menoleh dengan tangan memegang kresek berisi bungkusan nasi, “Kamu Ngedrop ya?” kepalanya nongol kembali di pundak kiriku “Bukan, vitamin untuk ayam”, dia tertawa “Maaf gak tau hehehe”.

                Motor aku standar didepan gerbang rumah, kuintip didalam pekarangan sepi mungkin bapak dan ibu sedang beristriahat di kamar masing2, “Kamu tunggu disini sebentar aja”, segera aku turun meninggalkan muataanku gadis cantik berbaju polo abu dengan celana tresning hitam strip merah yang juga ikut turun dari motor namun memandang sekitar seperti orang kesasar.

                Aku masuk seperti maling kerumah sendiri, tidak ingin ada yang mengetahui aku mengajak seseorang yang kalau saja dilihat ibu atau bapak pasti akan ribet jadinya, segera aku ambil kresek berisi obat2tan yang diberikan Sales didalam kamarku, dengan mengendap aku berjinjut membuka pintu kamar untuk keluar sampai aku melihat di bawah bangunan lumbung padi seseorang duduk disana.

                “Ngapain kamu kesini?!”, aku berbisik mendekatinya, “Aku takut diluar gangya sepi banget”, Mira memgang erat kresek dan menatap sekitar rumahku, “Disini juga sepi, keluarganya kamu mana kak?”, segera aku pegang tas kresek yang masuk dipergelangan tangannya untuk secepatnya aku seret dia keluar rumah namun dia tidak memahami ketidaknyamananku akan keberadaanya disini.

                “Yeh ada tamu”, suara itu mengagetkannya dan melemahkan jantungku “Melinggih dumun (silahkan duduk dulu)”, langkah kaki dsiseret disertai hantaman tongkat membuatku tau siapa itu tanpa perlu menoleh kearah teras.

                “Inggih, inggih (iya)”, Mira mengangguk tersenyum kearah sumber suatra tadi, membuatku tidak enak bakal menyeretnya keluar dari pekarangan rumah.

                Ibuku langsung duduk bangunan lumbung beras, begitu juga Mira yang ikut duduk kembali ketempatnya sementara aku hanya berdiri bengong menyaksikan sesuatu yang sangat sulit aku mengerti.

                “Sampun sue iriki gek? (sudah lama disni nak?)”, Mira tersenyum meraih tangan ibuku dan menyentuhkannya didahinya, “Neten, ibu wawu nike (tidak, baru saja ibu)”, jawabnya

                “Lama tidak ketemu sekarang suba bajang (sudah dewasa)”, kembali rangkaian kalimat terlontar dari ibuku yang tersenyum pada Mira “Duk dumun (dulu) sering tiang (saya) lihat diatar sama neneknya ke SD”.

                “Inggih (iya) ibu, saya masih ingat ibu nganter kak Wahyu-nya, ibu mangkin punapi gatra (sekarang apa kabar)?, becik nggih (baik)?”

                Ibuku menganggukan kepala, “Nggih astungkara becik makasami (syukur baik semua)”

                Aku mengegelengkan kepala tidak mempercayai apa yang aku lihat didepan mataku, bagaimana mungkin ibu bisa sembuh dengan begitu cepat padahal pagi tadi masih sama seperti orang linglung dan entah kenapa kalu menyangkut urusan mengenai orang ini ibuku selalu bisa mendadk sehat

                “Mira nikaange (dibilang) sakit?”, Mira melirik kearahku yang masih berdiri bengong, kemudian kembali menoleh kearah ibu, “Hee... ten nike (tidak) ibu.. tiang becik kemanten (saya baik2 saja)”, Mira berusaha menutupi semua masalahnya, ibuku tersenyum mentapnya tentunya Mira gelapgapan, ibuku sudah tau semua masalah Mira, bahkan aku yakin jauh lebih tau ketimbang ditriku.

                “Nggih lamon kenten (baiklah kalau begitu), ngiring ngajeng dumun driki (mari makan dulu disini)”, Mira hanya sekedar mengiakan sambil tersenyum mungkin Mira mesara belum begitu nyaman ngobrol dengan orang baru, begitu juga aku yang manggut saja dan perlahan memberi mira kode untuk keluar rumah.

                “Meme ne Mira nak suba meli makan (ibu ini Mira sudah beli makan), biar nanti Yu antar pulang dulu”, ucapku tapi ditanggapi lain oleh ibu yang dengan cepat tangannya memegang pergelangan tangan Mira dan beranjak mengajaknya masuk ke dapur rumahku.

                Mira terpaksa ikut susah baginya untuk menolak ajakan itu, “Niki ambil dumun (silahkan ambil dulu)”, ibuku memberikan piring seng dan sendok juga menyendok nasik keatas piring memnyerahkannya pada Mira yang Cuma bisa cengar cengir meliriku,

                “Nggih (iya) ibu kok repot2 banget niki”, sebenarnya Mira risih tapi susah mengelak ketika tudung diatas meja makan dibuka dan miera disuruh memilih,

                “Niki samian panak tiange masak (ini semuanya anak saya yang memasak), silahka coba dulu” tanpa sempat berfikir semua lauk disana disendok satu2 ke atas piring ditanan Mira.

                Aku mendekati ibuku berbisik ditelinganya “Me de nake keto (ibu jangan gitu), malu sama Mira lauk kita itu...”, aku merasa minder dengan lauk makan yang aku buat cuma tempe tahu dan ikan pindang juga tumuis kangkung, menurutku ini bukan makanan manuisa bagi standar orang sekelas Mira.

****************
                “Ohh Mira robot makan baut”, gumamanku dikala kesunyian mlam ini terasa makin keras menggigit badan yang mulai nyem (dingin, *bukan gila, klo ada orang bisa bahasa Bali ) kena damuh peteng (embun malam)

                “Apa jangan2 makananmu yang sebenarnya meracuni Mira!”, Odik kembali mengeluarkan arguman tanpa otaknya, kadang dia benar2 membuatku kesal dengan ucapanya yang selalu berubah2 kadang pro dan kontra disaat bersamaan.

                Aku takut ketika melihat Wahyu yang menatap dengan seringai, aku yakin dia tersinggung karena makannya dituduh beracun, “Tidak bli!, makanan itu tidak dimakan Mira sama sekali, tapi dibungkus tiang (saya) sendiri yang memakannya Mira hanya makan nasi bungkus yang dibeli”, jawab Wahyu, Odik mengangguk mencoba percaya, meski aku yakin hanya sesaat.

                “Berarti mulai saat itu Mira berubah tidak mau menjawab telfonku”, Wahyu mengangguk tanpa berani menatap Odik, “Kenapa bisa begitu?, apa karena dia menganggapku yang melakukan perbuatan jahat padanya?”Odik mengajukan pertanyaan yang sebenarnya bisa aku jawab tapi tidak enak mendahului.

                “Tidak!”, Wahyu menjawab singkat membuat dugaanku melesaet “Kenapa tidak?”, Odik mulai menekan jawaban Wahyu.
                Wahyu menatap kembali kearah kami.

*******************
                “Kenapa kamu tiak mengangkat telfon dari pacarmu”, pertanyaanku memecah lamunannya, dia hanya diam duduk bersandar di tiang bambu gazebo ditengah hamparan padi yang mulai tumbuh.

                “Kamu kenapa?, klao memang kamu masih sayang sama dia bilang aja kenyataanya kalo selama ini...” aku terhenti tidak tega meluncurkan tuduhan tidak masuk akal itu kembali

                Mira masih tetap diam memegang ponsel yang terus bergetar ditangannya tanpa peduli yang menelfon adalah orang yang menggunakan foto profil sama dengan akun WA nya itu.

                “Kak”, panggilannya padaku membuat aku segera meletakan sabit ditanganku dan mendekat padanya, “Kak, semuanya itu gak segampang yang kamu kira, susah banget”, aku duduk di gazebo berhadapan dengannya

                “Apa susahnya?”, aku geregetan dengan sifatnya yang benar2 seperti ABG “Bilang saja, kalo dia emang sayang atau cinta dengan kamu ya pasti dia akan nurut, dan lagi pula ini kan masih kemungkinan saja, siapa tau memang ada orang lain yang sengaja memisahkan kamu dan dia, dengan cara membuat kamu tertekan dan memojokan pacarmu kan bisa saja!”, dia tetap diam mendengar penjelasan panjangku.

                “Tetep aja susah”, sangahannya membuatku kesal dengan bertele2 ini “Udah kalo kamu gak mau bilang biar aku saja yang bilang sama Wik  mu itu!”, ketusku. Mira langsung menoleh

                “Jangan, kalo dia tau dia bakal berubah banget!, aku seneng pacarku jadi penurut!, aku gak mau kaena aku dia bakal jadi pemberontak”, bentakannya membuatku mengurungkan niatku “Lalu sekarang apa yang bakal kamu lakukan?”, Mira menatap poselnya yang kembali berdering, kemudiam membuang jauh pandangannya pada hamparan sawah

                “Aku bakal coba bikin space sama dia, mudah2an dia bakal peka”, aku membuang lludah kesal dengan sifat main kode2 seperti ini.

-------------------
                “Ngapain kamu?... ahh gak bilang aja..?!”, bentaku pada HP di telingaku, segera aku membuka pintu kamar dan melangkah cepat membuka gerbang rumah menyambut kedatangan matic dengan 2 orang diatasnya, Mira dan ibuku yang diboncengnya.

                Aku kesal melihat pemandangan ini, niatku memang membantu Mira tapi tidak ingin melibatkan keluargaku karena aku takut nama baik keluargaku bakalan bahaya kalau saja warga desa mengetahui kedekatan kami dengan Mira dan keluarganya yang begitu dibenci. Tapi itu tidak seberapa, alasan utamanya adalah akrena aku takut keluargaku bakal terkena teror mahluk mengerikan itu juga.

                Ibuku turun tertatih dari motor begitu juga Mira dengan memakai helem menggandeng tangan  ibuku untuk duduk di Glebeg (bangunan penyimpanan beras), “Sukseme nggih gek (terimakasi ya nak)”, Mira tersenyum manis, segera aku berbisik disebelahnya.

                “Kamu ngapain nganter kesini?, kan bisa WA biar aku yang jemput ibuku” dia menunduk mendengar ucapanku yang menyalahkannya, “Aku cuma pengen melali kesini aja, gak boleh ya?”, aku menggeleng menghembuskan nafas beserta ucapan kencang “Engg......”,

                “Wahyu, sing dadi keto (tidak boleh begitu)” ucapanku dipotong oleh ibu, membuatku terpaksa menahannya “Mira mriki melinggih dumun (silahkan disini duduk dulu) ”, Mira duduk disebelah ibuku kemudian melepas helemnya.

                “Nggih (iya) ibu”, Mira mengerai rambut panjanggnya “Tiang dot mecerita (saya ingin bercerita)”, Mira mengagguk penasaran

                “Tau dengan kisah kelaurga nak Mira dulu?”, mira memiringkan kepala “Enggak ibu” ibuku tersenyum mendengarnya “Beleh tiang (saya) tau?”, ibuku mengagguk dan mulai becerita aku berajak meninggalkan ibuku yang mulai membuatku kesal, lagi kumat lagi sakit, sesaat sembuh, sesaat ringkih, entah keajaiban atau hal apa yang membuat sakintnya seolah mempermainkan diriku.

                “Blar....!” pintu kamar aku banting meninggalkan 2 orang berseda gurau disana aku berusaha memejamkan mata, tapi terasa suah ketika dua suara bersahutan cekikikan penuh canda tawa diluar sana, aneh sekali bagaimana bisa ibuku akrab begitu pada orang asing dan kenapa bersikap seolah linglung didepan anaknya sendiri.

                Bersambung......
                *Maaf lama tidak nge-thread mudah2an seterusnya lancar....
profile-picture
chimax andi memberi reputasi
Spoiler for Penyewekan bagian ke XVII Kentara:
profile-picture
chimax andi memberi reputasi
Kirain lanjutannya di pisah treath gan...terusin gan sampai tamat ya..
Ayoo gan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di