CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Telah Terjadi Berabad-Abad
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f071474eaab2548e63457d0/pelecehan-seksual-di-gereja-katolik-telah-terjadi-berabad-abad

Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Telah Terjadi Berabad-Abad

Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Telah Terjadi Berabad-Abad

Kasus pelecehan seksual dalam lingkungan Gereja Katolik telah mendarah-daging hingga kini. Terkuaknya praktik sodomi dan simoni di awal abad ke-11 oleh Santo Petrus Damianus dalam bukunya "Liber Gomorrhianus" pernah menjadi bagian dari Reformasi Gregorian oleh Paus Gregorius VII pada tahun 1050.

Saya tidak terlalu terkejut saat mendengar kasus yang menimpa novelis asal Nusa Tenggara Timur, Felix K. Nesi. Apa yang dirasakan Felix juga menghantui banyak pihak, khususnya mereka yang pernah bergelut dengan lingkungan gereja Katolik. Entah sebagai putra-putri altar, asrama, seminari, hingga sekolah umum.

Felix yang juga mantan seminaris dan frater itu ditahan oleh Kepolisian Sektor Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT pada 3 Juli 2020. Ini bermula saat Felix tak terima keputusan SMK Santo Pius X Bitauni merekrut seorang pastor/romo Katolik yang “bermasalah”. Pastor ini baru dipindahkan dari Gereja Santo Petrus Tukuneno, Atambua Selatan.

Lewat akun Facebook, Felix bercerita ia menemui romo kepala sekolah SMK Bitauni yang letaknya tidak jauh dari rumah Felix pada Januari-Februari 2020. Dia mempermasalahkan mengapa romo yang pernah bermasalah dengan perempuan di sebuah gereja paroki lantas dipindah ke sebuah sekolah kejuruan dengan ratusan siswi.

Kepala sekolah menjanjikan romo itu hanya dipindah sementara saja. Hanya satu-dua bulan. Begitu ucapan Felix menirukan janji kepala sekolah. Pada Maret-April Felix masih melihat pastor itu masih belum dipindah. Ia pun mendatangi pastoran SMK Bitauni yang kebetulan tinggal pula seorang uskup emeritus Keuskupan Atambua, Mgr. Anton Pain Ratu. Sayang, pertemuan kali itu berlangsung tegang karena Felix menuduh romo kepala sekolah berbohong soal pemindahan romo bermasalah tadi. Oleh karena rasa hormat Felix terhadap romo kepala sekolah, maka ia pun undur diri kembali.

Sekitar pukul delapan malam, 3 Juli 2020, Felix kembali ke pastoran SMK Bitauni dan menanyakan tentang keberadaan romo bermasalah pada seorang penjaga sekolah. Sayangnya, penjaga sekolah bertutur bahwa romo bermasalah tersebut masih tinggal di situ. Dengan kekecewaan yang membuncah, penulis novel “Orang-orang Oetimu” itu menghantam kaca jendela dengan helm.

Seorang guru SMK Bitauni yang melaporkannya pada Polsek Insana selang beberapa jam setelah kejadian itu. Felix lantas diciduk polisi atas tindakan perusakan dan ditetapkan sebagai tersangka dengan jerat Pasal 406 KUHP tentang perusakan properti.

Dalam novel fiksi etnografinya, Felix pun mengangkat kisah seorang perempuan bernama Elisabeth yang dihamili seorang romo setelah dijanjikan banyak hal. Begitu pula dengan sosok Maria yang enggan pergi ke gereja karena trauma terhadap pengalaman dilecehkan oleh seorang romo. Hal itu bisa saja berasal dari fakta-fakta tempatan di mana Felix menemukan hal serupa di sekitar tempat tinggalnya. Dan sayangnya, kisah dalam novel Felix tadi lantas bersentuhan langsung dengannya melalui sebuah sekolah di kampung halamannya.

Berlangsung ratusan tahun

Praktik pelecehan seksual dalam gereja Katolik telah dilaporkan sejak abad ke-11. Ini dapat dilacak dari risalah panjang tulisan Santo Petrus Damianus dalam bukunya “Liber Gomorrhianus” atau “Book of Gomorrah” yang terbit pada tahun 1051. Buku ini ikut mendasari terjadinya Reformasi Gregorian yang dilakukan Paus Gregorius VII untuk meningkatkan moral dan independensi para rohaniawan Katolik serta menghapuskan praktik suap jabatan gereja atau kerap disebut dengan Simoni.

Dalam bukunya, Petrus Damianus menyebut adanya praktik-praktik sodomi yang dilakukan para biarawan atau klerus. Di samping merajalelanya praktik simoni dan korupsi di antara para klerus pelaku sodomi ini. Damianus juga menyoroti bahwasanya terdapat pula hubungan patron-klien antara para imam efebofilia, yaitu sebuah preferensi seksual orang dewasa pada seorang remaja di bawah umur. Dalam kasus yang dicatat Damianus, praktik ini dilakukan oleh kalangan klerus gereja Katolik pada anak-anak lelaki.

Praktik pelecehan seksual di lingkungan gereja Katolik lantas terus terjadi hingga berabad-abad lamanya. Umumnya, kasus semacam ini menjadi rahasia tiap lingkaran komunitas gereja, entah dalam biara, paroki, keuskupan, atau sejenisnya. Dilansir BBC, kasus pedofilia di kalangan klerus Katolik di Irlandia terbungkam sejak 1975 hingga 2004. Hal ini lantaran pihak dari Keuskupan Agung Dublin menutup mata dan merahasiakan kasus ini dari publik. Baru kemudian pada Maret 2010, Kardinal Sean Brady, pemimpin Gereja Katolik Irlandia mengakui bahwa pada tahun 1975 pihak gereja menyuruh seorang anak untuk menandatangani perjanjian bungkam terhadap kasus pedofilia yang dialaminya. Kelak diketahui bahwa anak tersebut mengalami pelecehan seksual oleh seorang pastor bernama Brendan Smyth. Pada 20 Maret 2010, Paus Benediktus XVI secara langsung meminta maaf kepada anak-anak korban pelecehan seksual oleh pastor Katolik di Irlandia.

Tak hanya Irlandia, kasus “pembungkaman” terhadap korban juga terjadi di Belgia. Roger Vangheluwe, uskup Keuskupan Brugge mundur dari jabatannya pada April 2010 karena terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap dua orang anak lelaki selama 15 tahun sejak ia menjadi pastor hingga menjadi seorang uskup. Kasus Vangheluwe tertahan begitu lama karena ikut campurnya pemimpin tertinggi gereja Katolik Belgia saat itu, Kardinal Godfried Danneels yang menyarankan korban untuk tidak mempublikasi kasusnya sampai Vangheluwe pensiun pada 2011. Namun kasus ini akhirnya terbongkar dan komisi investigasi setempat menemukan setidaknya 300 kasus pelecehan seksual oleh klerus Katolik Belgia pada September 2010. Di antara jumlah itu, 13 orang korban melakukan bunuh diri.

Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Telah Terjadi Berabad-Abad

Di Amerika Serikat, kasus pelecehan seksual dalam lingkungan gereja Katolik meledak setelah serangkaian investigasi surat kabar The Boston Globe sejak tahun 2002. Kasus mulai tersibak saat dua pastor Katolik Boston, Paul Shanley dan John Geoghan terungkap melakukan pelecehan seksual sejak tahun 1990-an. Paus Yohanes Paulus II pun sempat melakukan pertemuan darurat dengan seluruh kardinal se-Amerika Serikat. Sebelumnya, kasus serupa terjadi di Dallas, Texas saat pastor Rudolph Edward Kos dari Keuskupan Dallas dihukum seumur hidup pada 2 April 1998 karena terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap 8 mantan putra altar. Keuskupan Dallas lantas setuju untuk membayar ganti rugi materi sebesar US$23,4 juta kepada kedelapan mantan putra altar dan keluarganya. Mereka mengaku bahwa pelecehan seksual itu dilakukan selama satu dekade sejak 1980.

Pada September 2003, Keuskupan Agung Boston membayarkan US$85 juta untuk 500 gugatan sipil atas tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengurus gereja Katolik di wilayahnya. Komisi pelaporan setempat menyebut bahwa ada sekitar 4.000 pastor Katolik di AS menghadapi tuduhan pelecehan seksual dalam 50 tahun terakhir dengan korban mencapai 10.000 orang yang umumnya adalah anak lelaki.

Kasus paling parah berdampak mundurnya Paus Benediktus XVI dari tahta Vatikan pada 28 Februari 2013. Hal ini disebabkan ditemukannya dokumen bertanggal Maret 2010 kepada Kardinal Joseph Ratzinger (sebelum menjadi Paus Benediktus XVI) untuk merespons surat mengenai pelecehan seksual oleh pastor Katolik di Wisconsin, AS. Hal ini juga merujuk pada tidak berdayanya Vatikan saat memilih seorang pastor bernama Lawrence Murphy untuk berkantor di Vatikan pada tahun 1996. Murphy terduga melakukan serangkaian pelecehan seksual terhadap 200 anak lelaki di Sekolah untuk Tunarungu St. John di St. Francis, Wisconsin. Kejahatan seksual yang dilakukan Murphy disinyalir terjadi dalam rentang tahun 1950 hingga 1974.

Hingga tahun 2019, Associated Press menyebut ada sekitar 1.700 imam dan anggota klerus lain dalam Gereja Katolik di AS yang tertuduh melakukan pelecehan seksual. Mereka masih belum terkena jerat hukum karena adanya keterbatasan dari otoritas keagamaan yang berusaha merahasiakan hal ini.

Kasus di Indonesia

Sampai hari ini, setidaknya belum ada investigasi holistik tentang pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan gereja Katolik Indonesia. Khususnya, yang dilakukan oleh para klerus atau pastor. Namun satu kasus terburai pada awal Juni 2020 yang menyeret seorang awam pengurus Paroki Santo Herkulanus Depok, Syahril Parlindungan Marbun. Syahril yang seorang pengacara ini diketahui aktif sebagai pengurus misdinar (putra-putri altar) di gereja tersebut.

Dilansir dari MerahPutih, Syahril setidaknya melakukan pelecehan seksual terhadap 20 anak di bawah umur sejak tahun 2002 hingga Maret 2020. Syahril sendiri ditahan oleh Polresta Depok sejak 14 Juni 2020 dan ditetapkan sebagai tersangka berdasar Pasal 82 UU No. 53 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Ia diancam hukuman 15 tahun penjara.

Dalam kajian lain, media informasi “Warta Minggu” Paroki Santa Maria Bunda Karmel Tomang pernah menerbitkan tulisan menanggapi pelecehan seksual dalam lingkungan gereja Katolik di Indonesia pada edisi 8 Desember 2019 lalu. Tulisan tersebut membahas bagaimana Komisi Waligereja Indonesia (KWI) menyikapi adanya kasus-kasus pelecehan di lingkungan gereja Katolik. Romo Joseph Kristanto yang menjabat sekretaris Komisi Seminari KWI mengungkap bahwa pada kasus pelecehan seksual terhadap anak dan remaja oleh klerus sudah menjadi isu global. Kristanto menambahkan bahwa dalam rentang tahun 1950 sampai 2002 di AS saja terdapat 10.667 orang yang melayangkan aduan. Pelecehan seksual ini diduga dilakukan oleh 4.932 klerus, masing-masing adalah 3.282 klerus diosesan dan 1.110 oleh klerus religius (kongregasi).

Di Indonesia sendiri, menurut Kristanto belum ada data pasti terkait korban pelecehan seksual. Namun pihaknya telah membuka data terbatas dari beberapa informan yang memberanikan diri melapor ke KWI. Ia mencatat bahwa setidaknya ada 21 korban dari kalangan seminaris (sekolah calon imam) dan frater (calon imam). Lalu ada 20 orang suster (biarawati) dan 15 korban awam. Korban-korban ini menjalani konseling dan pengakuan dalam rentang waktu panjang sebab pelakunya ada 33 orang imam/pastor dan 23 pelaku bukan imam. Dalam data yang dimiliki KWI, tercatat umumnya pelecehan terjadi di seminari atau sekolah calon imam dengan rentang usia korban 12-20 tahun. Sedangkan di kalangan biarawati atau suster rentang usia saat kejadian adalah 6- 14 tahun. Kedua kluster korban ini baru memberanikan diri untuk konseling setelah 10-16 tahun sejak kejadian.

Melihat fakta itu, tentu saja hal ini masih dikatakan sebagai puncak gunung es dari kejadian-kejadian serupa di berbagai keuskupan Katolik di Indonesia. Tercatat, di Indonesia ada 38 keuskupan yang terbagi menjadi 10 keuskupan agung, 27 keuskupan sufragan, dan satu ordinariat militer. Semuanya terbagi dalam regio-regio dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Manado-Ambon-Makassar, dan Papua. Hal ini tentu menjadi ladang luas untuk pengungkapan tindakan pelecehan seksual di lingkungan Gereja Katolik di Indonesia. Belum lagi, sekolah-sekolah Katolik, panti asuhan, dan berbagai instansi yang berafiliasi dengan gereja lainnya.

Paus Fransiskus yang meneruskan estafet kepemimpinan tahta Vatikan dari Paus Benediktus XVI sendiri telah mengeluarkan dekrit atau yang disebut Motu Proprio pada 7 Mei 2019 untuk mendasari aturan global tentang pelecehan seksual dalam tubuh Gereja Katolik. Dekrit apostolik Paus Fransiskus yang berjudul “Vos Estis Lux Mundi” itu menjadi dasar resmi adanya hukuman dan keterbukaan terhadap investigasi yang menyasar para pelaku pelecehan seksual di setiap keuskupan.

Dalam dekrit yang judulnya berarti “engkau adalah cahaya dunia” itu, Paus Fransiskus menyatakan tidak ada lagi yang disebut privilese bagi klerus untuk mendapat proteksi dari perilaku buruknya. Terlebih, secara teologis, Paus Fransiskus menyebut bahwa kejahatan seksual merupakan tindakan yang melukai Tuhan. Tak hanya itu, ia menilai bahwa tindakan semacam ini dapat mendegradasi iman dan spiritualitas korban. Sekaligus merugikan komunitas orang-orang dalam iman Katolik.

Hal ini kiranya dapat menjadi dasar reformasi gereja Katolik, termasuk di Indonesia, dalam keterbukaan terhadap kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para rohaniawan maupun awam di lingkungan gereja. Sebab, jika dirunut ke belakang, Santo Petrus Damianus telah membuka gerbang awal reformasi ini bersama Paus Gregorius VII melalui temuan-temuannya pada awal abad ke-11. Amat disayangkan jika sampai sepuluh abad setelahnya, hal-hal serupa masih terjadi di dalam lingkungan Gereja Katolik.



Artikel Menarik dan Mendalam Lainnya:
1. Benih Lobster dan Nestapa Oligarki di Indonesia
2. PDIP dan Rekam Jejak Pembakaran Bendera
3. Ketika Para Kriminal Cuci Tangan Lewat Sepakbola
4. Mengapa Kementerian Agama Butuh VPN?
profile-picture
Newbie220502 memberi reputasi
Diubah oleh estebanvis
:sudahkuduga


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di