CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e9af174a2d195283b1cac3c/di-antara-dua-duda

Di Antara Dua Duda

Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 3
Ditunggu lanjutannya emoticon-Toast
profile-picture
megaut memberi reputasi
Quote:

Sudah lama keluar mas, kurleb tahun 2015. Hehe

Quote:

Makasi udah nunggu tapi sabar ya gan mba lisna lagi sibuk bolak balik rs.
cerita Duren nya ditunggu
profile-picture
megaut memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ilmu jualannya boljug
profile-picture
megaut memberi reputasi
Lihat 2 balasan
bagus ceritanya gan, jangan sampe kentang gan
profile-picture
megaut memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Bagian 14


Di kosan malam ini aku dan mama bagi tugas, beliau mencuci pakaian dan aku nanti yang menjemurnya. Sambil menunggu kubaca lagi apa yang tadi kucatat di kantor. Ada beberapa poinnya dan yang paling cepat kuingat adalah Always Be Up yang dijelaskan mengandung arti...

Quote:


Benar juga pikirku apa yang dijelaskan Always Be Up ini karena selama ini kalo diingat ingat kegagalan yang sudah sudah malah membuatku takut untuk memulai sesuatu ibaratnya balita yang mau belajar berjalan saja tak pernah kapok walau beberapa kali terjatuh hingga akhirnya dia bisa berjalan bahkan berlari masa aku yang sudah gede ini kalah sama balita, hehe no way!

"Lis sudah nih, sekarang tolong kamu jemur pakean ya." Kata mama.

"Iya beres ma, oiya tapi jemurnya dimana?"

"Di lantai 3, lantai paling atas. Tadi mama sudah tanya pak kos dan lihat sendiri. Tempatnya lapang banget, di sana juga udah ada tali buat jemur."

"Kesananya lewat mana ma?"

"Itu sebelah kamar no 1 ada gerbang nah disebelah gerbangnya itu ada tangga, kau naiklah sana."

"Oh iya ma."

Kuambil ember berisi cucian dari kamar mandi lalu segera menuju tempat jemuran yang mama tujukan tadi melewati kamar no 2 dan no 1 lalu naik lewat tangga yang ada di sebelah gerbang. Sepi disini tapi justru aku suka apalagi ketika aku sudah sampai di lantai paling atas bangunan kosan tempatku menjemur pakean ini. Tempatnya luas, ada beberapa tanki air kulihat dan tali jemurannya terikat diantara besi yang ada di tanki air yang satu dengan yang lainnya. Tak ada lampunya sama sekali disini namun suasana sekitar masih bisa terlihat jelas apalagi ada sinar bulan yang cukup menerangi tempat ini.

Selesai menjemur pakean aku tak langsung kembali ke kamar karena aku suka, aku betah di atas sini walau dingin angin malam. Kuputuskan untuk duduk sejenak di bawah tower paling ujung barat untuk memandangi sekitar. Timur, barat, utara sejauh mata memandang hanya gelap tapi dari arah selatan nampak banyak lampu dari kejauhan. Mungkin di selatan itu pusat kota Jembernya pikirku.

Sambil duduk menikmati suasana yang sangat kusuka ini pikirku kembali mengingat tentang Always Be Up tadi, tentang balita yang sedang belajar berjalan. Muncul tanya dalam benakku, jika balita yang menjadi contoh kebangkitan itu bukankah mereka saat sedang mencoba berjalan itu ada yang membimbingnya, bah! Berarti aku harus ada orang yang membimbing ini..hm...

Mama sudah pasti akan selalu membimbing, mendampingiku tapi.. Oh Tuhan semoga aku bisa bertemu dengan orang yang bisa membimbingku kelak.. Saat sedang melamun seperti itu ada suara sepeda motor kudengar dari bawah memasuki halaman kosan ini. Refleks aku berdiri menuju ke tepian untuk melihat siapa yang datang. Tak jelas nampak wajah siapa yang datang dari atas sini namun yang pasti kulihat dia adalah seorang laki laki dan masuk ke kamar kos no. 1.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nyahprenjak dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Bagian 15


Kembali aku duduk di tempat semula di bawah tangki air di lantai paling atas bangunan kos kosan ini. Di lain hari mungkin hanya hujan yang akan jadi penghalangku kemari karena kuperhatikan malam ini disini tak ada atapnya sama sekali untuk berteduh dan bisa kubayangkan kalau hari siang betapa panasnya di sini, hehe tapi lagipula siapa juga yang akan nongkrong siang siang di sini.

Untuk beberapa saatnya aku hanya duduk diam sampai akhirnya kudengar lagi suara sepeda motor dari bawah, kutengok lagi rupanya orang yang tadi keluar entah kemana. Padahal baru saja sampai kosan pikirku. Terlanjur berdiri kuputuskan untuk kembali ke kamar, selama berjalan menuruni anak tangga aku berpikir merasa ada yang kurang yang harus kubawa ke atas sana. Saat ini sudah nanggung, besok atau kapan kalo aku naik lagi malam malam pasti akan kubawa. Harus!

"Jemur pakean di Medan kau nak?" Kata mama ketika aku masuk kamar kos.

"Hehe, di atas enak ma bisa lihat pemandangan."

"Oh yang penting kau berani saja, trus mama pikir kamu ketiduran di sana Lis."

"Haha, ya beranilah ma aku udah gede ini."

Obrolan kami terhenti ketika jeda iklan sinetron kesukaan mama selesai. Beliau kembali fokus duduk menonton tv yang terletak di depan kasur, sementara aku memilih rebahan di kasur sambil sesekali menjawab celotehan mama. Sama mungkin seperti kebanyakan ibu ibu yang lain, mamaku ini kalo nonton sinetron suka teriak dan marah marah sendiri. Kadang kesal dan kadang lucu juga aku melihatnya. Entah sudah berapa lamanya tiba tiba terdengar ada yang mengetuk kamar kosan yang belum sepenuhnya tertutup.

"Permisi.." Terdengar suara laki laki dari balik pintu, aku yang tadi rebahan mengambil posisi duduk.

"Iya, sebentar." Jawab mama sembari berdiri menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Eh, oh rupanya nak Deni." Kata mama setelah membukakan pintu. mendengar itu aku jadi kaget juga, kebetulan pak Deni dan aku tak bisa saling lihat karena terhalang tubuh mama.

"Hehe iya tan, barusan tadi saya dibilangin pak kos waktu beli rokok di tokonya."

"Oh begitu, ayo sini masuk."

"Hehe ga usah tan, ga enak. Ini lho saya beranikan diri ketuk pintu soalnya lihat tadi pintunya masih kebuka sedikit jadi saya pikir mungkin tante belum istirahat trus kebetulan ini saya ada martabak mohon diterima."

"Haduh nak Deni ini kok repot repot saja."

"Hehe enggaklah tan, kebetulan ada lebih. Ya sudah saya ke kamar dulu ya tan, itu kamar saya yang nomor 1. Mari tan saya permisi dulu, oya salam juga buat Lisna, hehe."

"Iya nak Deni, terimakasih ya." Kata mama kemudian menutup pintu kamar dengan sempurna setelah Pak Deni berlalu.

"Kamu kok ga nongol Lis, tadi itu ada kawanmu kan."

"Hehe malu aku mak, berantakan, aku juga cuma pakai celana pendek banget ini. Untung aja Deni ga mau masuk tadi."

"Haha iya mama tau. Tadi nawarin masukpun mama juga tau dia ga akan mau masuk karena mama lihat baik anak itu."

"Oh ya ma? Baik beneran? Apa karena martabak itu ya?"

"Haha kau ini Lis, ayo ini kita makan. Kebetulan..."

"Kebetulan laper ya ma, haha."

Malam ini aku dan mama lanjut nonton sinetron sambil ngemilin martabak pemberian Deni sampai habis karena memang kebetulan kami sedang lapar. Bukan karena tak ada uang dan sebenarnya stok mie instanpun ada tapi rasa malas tadi sejenak mampu mengalahkan rasa lapar kami. No HP Deni sudah ku save, ingin sebenarnya kukirimi dia sms untuk ucapkan terimakasih tapi entah kenapa hal itu tak kulakukan sampai akhirnya aku lupa dan tertidur...
profile-picture
profile-picture
nyahprenjak dan jiyanq memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Halaman 3 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di