CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb932354601cf590024a84c/misteri-rumah-peninggalan-bapak

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Tampilkan isi Thread
Halaman 23 dari 25
Sepertinya bapak angkat mba ambar yg menabrak gadis kecil yg misterius itu
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Hari Keenam Belas - Part IV

Kaki kecil tergopoh-gopoh dengan menjaga gelas berisi teh hangat agar tidak tumpah, tangannya sibuk menutupi gelas agar tetap terjaga. Namun disisi lain, jalannya tidak bisa ia lambankan sedikit pun. "Ini teh hangatnya pak". "Dasar lamban", celetuk Gunawan dengan perlahan menikmati teh hangatnya.

Ambar hanya menunduk, tak berani lagi mukanya menatap pria yang sudah dianggapnya bapak tersebut. Langkah kecilnya perlahan meninggalkan Gunawan dan secangkir teh hangat berukuran besar, Widiya dari balik korden hanya bisa menahan air matanya agar tidak meluap.

Dibalik selimut tebal, Ambar menenggelamkan tubuhnya. Tidak ada lagi sikap kasih sayang dari Gunawan pasca kejadian beberapa waktu lalu, kini Ambar seperti dihadapkan dengan monster yang setiap saat bisa saja memukulnya dengan rotan, mungkin masih ada Widiya, namun perempuan yang dipanggilnya ibu itu tidak memiliki daya untuk melawan keganasan Gunawan.

"Heiii...kamu tuh malas banget ya, siang-siang begini sudah tidur", bagaikan tangan besi yang begitu kuat, selimut tebal itu ditarik keras oleh Gunawan, dengan segera tubuh Ambar yang masih berbaring di kasur diangkatnya dengan keras. Tak ada lagi tepukan ringan untuk membuat kesadaran Ambar setidaknya pulih.

"Maaf pak, tapi __", belum selesai mulut kecil itu menyelesaikan perkataannya, sebuah tamparan mendarat di pipi Ambar yang membuatnya memerah seketika, air mata mulai terurari keluar, meskipun mencoba ditahan, namun rasanya terlalu sukar.

Badan kecil Ambar dipaksa untuk mengikuti langkah cepat Gunawan, tangan Ambar mulai memerah karena terlalu kencanganya cengkraman tangan Gunawan. Sambil sesekali, Ambar mengucapkan kata kesakitan untuk mendapatkan iba dari Gunawan. "Mas, sudah tho jangan terlalu keras dengan Ambar", Widiya yang tak kuasa melihat pemandangan tersebut mencoba mencegah perbuatan tak manusiawi dari suaminya.

"Kamu diam saja, atau kamu juga ingin aku siksa ?", sebuah tawaran yang tentu sama-sama berat bagi Widiya, mulutnya tak berani mengatakan apapun. Sementara air mata mulai membasahi wajah Widiya. Gunawan acuh dengan pemandangan tersebut, diambilnya sebuah gayung di kamar mandi, dengan segera Gunawan mulai mengguyurkan air demi air ke badan Ambar.

"Ingat ya, kamu tidak boleh keluar dari kamar mandi sampai selesai dengan tugasmu untuk menguras bak, kalau bapak tahu kamu keluar dan tugasmu masih belum selesai. Bapak tidak segan-segan memberikan hukuman lebih kepadamu", pintu kamar mandi ditutup oleh Gunawan, membiarkan Ambar dengan baju dan tubuhnya yang basah berjibaku membersihkan bak kamar mandi yang cukup luas.

***

"Kamu enggak belajar ?", suara halus menyapa Ambar yang sedang sibuk merapihkan sepatu kerja Gunawan, dengan pelan Ambar hanya menggelengkan kepala. Memberikan kode bahwa pekerjaannya belum selesai. "Sudah, biar ibu yang meneruskan, kamu masuk dan kerjakan tugas sekolahmu", sebuah senyum mengembang dari perempuan yang masih memperdulikannya.

Lembar demi lembar kertas di buka oleh Ambar, mestinya ada Gunawan yang bisa menemaninya untuk mengerjakan tugas. Namun laki-laki dewasa itu kini telah menjadi iblis yang tak mungkin lagi bisa disentuh oleh Ambar.

"Lho__kemana anak itu ? kenapa kamu yang mengerjakan, kurang ajar dia !", suara keras terdengar dari luar kamar, Ambar mulai ketakuttan. Mungkin bakal ada hadiah bogem mentah yang mendarat ke wajahnya malam ini, "Mas jangan...aku yang memintanya untuk belajar, sudahlah biarkan dia beristirahat sebentar". Terdengar dari bilik kamar, suara injakan kaki cepat mulai terhenti, malam itu, Ambar selamat karena adanya Widiya.

"Ambar...ambar", suara lirih dari perempuan terdengar di sisi lain ruangan rumah, segera dengan kaki yang berjalan cepat, Ambar membuka daun pintu kamarnya. Sosok Widiya terlihat, segera ibu asuhnya tersebut mengajak Ambar untuk kembali masuk kedalam kamar. "Kamu belajar apa hari ini ?", sebuah buku hitung menghitung diserahkan kepada Widiya.

"Oh, anak ibu pintar, jawabannya benar semua", kertas demi kertas berisi jawaban Ambar memberikan senyum diwajah Widiya, rasanya sukar memarahi anak kecil berhati mulia dan juga pandai ini, tubuh kecil Ambar tenggelam dalam pelukan penuh kasih dan sayang dari Widiya. Setidaknya, ada sosok yang masih menyayanginya di dunia ini.

"Bu, kenapa bapak sekarang suka marah sama aku, memang salahku apa ?", dengan mengumpulkan keberanian lebih, Ambar kecil mencoba mencaritahu apa yang terjadi sebenarnya dengan sosok Gunawan. Widiya memberikan senyuman penenang untuk Ambar, "Bapak tidak kenapa-napa kok, mungkin memang sedang banyak pikiran saja, tapi bapak itu tetap sayang sama kamu, dan ibu". Sebuah kata yang tentu tidak dipercaya oleh Ambar, kelakuan Gunawan benar-benar membuat Ambar kecewa, ambyar.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 8 lainnya memberi reputasi
kasian yaa.. mbak ambar kok ambyar endingnya emoticon-Mewek
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
wah mulai peak nech...lanjuttt bossss
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Hari Keenam Belas - Part V

"Jadi, menurut Mbak Ambar, anak kecil tersebut kembali untuk meminta pertanggung jawaban?", cangkir teh di depan sudah habis setengah gelas, cerita masa lalu Mbak Ambar benar-benar menarik untuk didengar. Namun misteri ini, masih belum terselesaikan.

Mbak Sulis menatapku dengan pandangan sinis, "Kamu kenapa menyela seperti itu sih ? enggak sopan sama sekali". Mbak Ambar mencoba menenangkan perempuan yang ketahuan tingkat kejudesannya sekarang.

"Iya mas, benar. Dia kembali, entah kenapa malah kamu yang didatangi", benar, kenapa perempuan tersebut malah menjadikan aku sebagai perantara. Padahal, aku bukanlah teman masa kecil Mbak Ambar, bahkan kami juga baru dekat beberapa waktu lalu.

"Oh iya mbak, setelah kejadian demi kejadian kemarin, mohon maaf sebelumnya, bapak sudah diserahkan di pihak berwajib ?".

"Bener mas, bapak sudah melegakan hatinya untuk bertanggung jawab...", sebuah tangisan terurai dari mata perempuan yang memiliki cerita begitu menarik di masa kecilnya, pantas saja ia selalu terlihat kuat dihadapanku.

Perempuan kecil tersebut datang kepadaku hanya untuk meminta pertanggung jawaban pelaku yang tidak lain adalah bapak dari Mbak Ambar. Tapi, apakah hanya untuk itu ia datang menemuiku ?.

***

"Hari ini susah sekali kamu dihubungi Han ? ada tugas lembur ya ?", wajah ketus diperlihatkan oleh Kirana, secangkir susu hangat rasa coklat belum bisa meredakannya. Aku tidak mungkin menceritakan sosok Mbak Ambar dan kisahnya, kekasih hatiku tidak boleh terlalu dalam ikut ke misteri ini.

"Iya Ran, maaf ya. Ada beberapa deadline pekerjaan, aku tidak memegang ponsel sama sekali tadi".

Setelah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, aura Kirana tampak lebih membaik. Setidaknya kencanku malam ini, tidak diisi dengan pertanyaan-pertanyaan dari Kirana. "Kamu, tadi seharian kemana aja ?", mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar tidak keceplosan.

"Tidak kemana-mana Han, kan malam ini, ada janji sama kamu jadi aku enggak mau kecapean", roti bakar yang dipesan akhirnya datang, obrolan antara aku dan Kirana sedikit tertunda, membiarkan mas-mas pelayan warung menaruh pesanan kami.

"Disini itu, warung favorit keluargaku dulu Ran, memang tampak sederhana, namun suasananya benar-benar nyaman, apalagi susu segar disini juga terkenal dengan kelezatannya", tanganku sudah siap meminum susu hangat dengan cita rasa vanila.

Kirana masih mencoba menyelesaikan urusannya dengan roti bakar, dasar perempuan yang doyan pergi ke resto. Makan roti bakar saja wajib untuk dipotong-potong, "Nih.." tangan dengan garpu dan potongan roti bakar tiba didepan mulutku.

Tanpa basa-basi, aku memakannya dengan lahap. Ah, rasanya sampai lupa, meskipun di warung sederhana, tapi malam ini agendanya adalah kencan bersama pacar, jadi tetap harus romantis.

"Sini gantian, tapi pakai potongan rotimu", aku mencoba mengambil potongan di piring Kirana, dengan sigap Kirana mengambil piringnya "Enak saja, aku saja usaha buat nyuapin kamu, masak kamu tinggal ambil gitu aja". Dasar perempuan, selalu urusan mudah dibuat ribet.

"Iya deh iya", tangan kanan dan kiri mulai berkoordinasi, membuat pola potongan-potongan kecil roti bakar, sial...aku bukan orang yang suka jajan di warung steak, masalah potong memotong tentu bukan keahlianku. Suara cekikikan terdengar dari Kirana, ambyarrr..ditertawakan pacar gara-gara tidak bisa memotong roti bakar.

"Aduuhhh...ternyata Burhan yang banyak digandrungi cewek-cewek ini, memotong roti saja enggak bisa".

"Ini bukan masalah tidak bisa, hanya belum biasa saja", tanganku masih fokus memotong-motong roti dihadapanku, sial..mending suruh push up ketimbang seperti ini.

Dan setelah sepuluh menit berjibaku dengan roti dan garpu, akhirnya seluruh roti sudah terpotong secara tidak rapih. Benar-benar tidak rapih, ada yang ukurannya besar, ada juga yang hanya ukurannya kecil.

"Yah gagal Ran, maaf ya...", Kirana hanya melemparkan senyuman, tangannya memberikan instruksi untuk menyuapinnya dengan potongan roti bakar yang gagal. "Ini gagal tapi".

"Usahamu untuk memotong-motong roti wajib diapresiasi, aku enggak melihat hasilnya, tapi usahanya", tanpa pikir panjang, sepotong roti bakar ku tusuk dengan garpu, "Pesawat datang...", dengan sedikit gerakan tangan mengayun-ayun didepan mulut Kirana yang sudah membuka.

"Hisss...emang, aku anak kecil....".

Malam ini benar-benar menjadi malam spesial bagiku, andai saja ibu dan bapak masih ada di dunia ini. Mungkin bakal ikut bahagia, anaknya berhasil menemukan sosok perempuan yang begitu dicintai. Waktu, kenapa kau begitu cepat mengambil bapak dan ibu, bahkan sebelum aku bisa menyelesaikan pendidikanku.

"Oh ya Han, gimana sudah ada perkembangan dengan latar belakang kasus di keluargamu ?", sepotong roti bakar yang sudah siap mendarat di mulut, aku hentikan seketika. Mau menjawab apa ? berbohong tentu bukanlah solusi, namun jika jujur juga bakal membuat Kirana terseret dalam cerita ini terlalu dalam.

"Belum ada, aku masih disibukan dengan deadline pekerjaan Ran", susu segar di hadapanku menjadi pelampiasan untuk sedikit mengurangi rasa bersalah karena telah tidak jujur kepada Kirana.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 7 lainnya memberi reputasi
mantau
thread yang selalu kunanti, akhirnya update cukup cepat, walaupun saat ini jadi terasa lama... mungkin karena begitu tertarik dengan ceritanya... masih ku pantau... hehehe... emoticon-Jempol
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Hari Ketujuh Belas - Part I

Secangkir kopi panas menjadi teman di pagi ini, sudah enam belas hari aku berada di rumah ini. Dan belum menemukan satupun titik terang tentang siapa sosok pembunuh bapak, ibu dan Mbak Lestari.

Semua sudut rumah sudah aku masuki, dan tidak menemukan satupun barang bukti yang bisa menguatkan. Tunggu sebentar, ada satu ruang yang masih tersisa ? aku benar-benar melewatkan satu pintu tersebut, "Ruang Kerja ?".

"Kriiiiikkkk" suara khas pintu tua.

Tata ruang layaknya sebuah kantor menjadi pemandangan pertama kali ketika memasuki ruangan yang sebenarnya tidak terlalu besar ini. Namun ruangan ini benar-benar moderen, sebuah komputer, dengan segala sistematisnya benar-benar tidak pernah aku melihatnya selama ini.

Tampaknya Ruang Kerja ini baru dibuat setelah usaha bapak semakin maju di Kota Solo, berkas-berkas bertumpuk di meja menunjukan kesibukan yang diemban bapak di perusahaan yang ia besarkan dengan jerih payahnya itu.

Satu demi satu berkas aku mulai bongkar dan membaca setiap isinya, berharap ada sebuah informasi yang bisa mengarah ke misteri rumah ini. Beberapa berkas bahkan menunjukan sebuah investasi besar yang masuk ke perusahaan ini, benar-benar kerja keras yang luar biasa dari bapak.

"Aku baru tahu, usaha ini benar-benar begitu besar, kenapa dulu bapak tidak pernah mau bercerita tentang usahanya ?".

Hampir satu jam aku mengacak-acak semua berkas, dan belum ada satu pun kata kunci yang bisa membawaku ke tokoh lain. Ah, rasa-rasanya tidak berguna membuang-buang waktu di tempat seperti ini. Hingga suara dering ponsel membuat suasana sunyi didalam Ruang Kerja Bapak pecah.

"Halo Ran, ada apa ?".

"Kamu sedang apa pagi-pagi gini Han ?".

"Ini baru mencoba mencari dokumen penting di ruangan kerja milik bapak dulu".

"Sudah menemukan sesuatu ?".

"Belum, diatas meja banyak berkas, namun tidak ada satupun yang penting".

"Kenapa kamu tidak bongkar laci-laci di meja".

"Benar juga, nanti aku telpon lagi ya".

Segera mungkin aku membuka laci-laci yang ada di meja, "Ahhhh...sialan, dikunci semua", mataku terus mencari-cari satu benda yang benar-benar aku butuhkan, yakni kunci. Tidak ada sama sekali benda kecil tersebut, mungkin jalan satu-satunya wajib aku lakukan, menggunakan gaya maling.

Sebuang Obeng besar dengan palu sudah siap di tangan kanan dan kiriku, "Duk---duk---duk", terserah benda antik ini mau rusak, karena sekarang yang terpenting adalah menyelesaikan tugasku disini, membongkar misteri kematian di rumah ini.

"Binggo...." akhirnya, laci-laci di meja bisa terbuka dan benar kata Kirana, berkas-berkas sudah menyapaku disana. Satu demi satu berkas kembali aku bongkar, dan setelah lima belas menit membongkar akhirnya, satu berkas yang mengarah kepada siapa tokoh-tokoh penting di perusahaan mengentikan tanganku untuk membedah lebih jauh berkas-berkas disana.

"Alif Yunarto, Joni Suprapto, Gani Bustomi", aku mengenal dua nama yang tertulis disana, namun siapa itu Gani Bustomi ? bapak bahkan tidak pernah menyebut-nyebut nama tersebut selama ini.

Alif Yunarto adalah nama bapak, menjabat sebagai Presiden Direktur, lalu Joni Suprapto adalah tetangga sebelah yang ternyata juga tewas dengan tidak wajar dan di perusahaan menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur I, dan yang ketiga adalah Gani Bustomi menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur II.

Aku tidak tahu mengenai sosok Gani Bustomi, bagaimana nasibnya saat ini, masih hidup atau malah sebaliknya sudah tewas sama seperti nasib bapak dan Pak Joni. Berkas-berkas lain yang masih belum terbongkar, ternyata memiliki satu informasi yang tidak kalah penting lainnya yakni alamat dimana perusahaan milik bapak berada.

"Jalan ini ya, mungkin Mbak Ambar bisa menjadi pemanduku disana".

"Duk-duk-duk", suara ketukan pintu terdengar dari balik ruangan, "Siapa ?", tidak ada tanggapan yang aku terima. Perlahan demi perlahan aku mulai memberanikan diri untuk mendekati pintu dihadapanku.

Jantung rasanya mulai berdetak begitu cepatnya, tanganku mulai menyentuh gagang pintu yang terasa lebih dingin. "Kriiiiikkkkkk...". suara khas pintu tua kembali menambah rasa menyeramkan di rumah ini.

Dan "Gluk-gluk-gluuk" suara langkah kaki orang besar dibalik ruangan mengehentikan niatku untuk membuka pintu, sial aku terjebak dalam ruangan yang sunyi dan tidak pernah aku jumpai sebelumnya.

***

"Mbak, kamu tahu jalan ini ?".

"Tahu, kenapa mas ?".

"Bisa temani aku kesana ?".

"Bisa saja, emang kesana mau apa ?".

"Nanti aku jelaskan saat kita ketemu mbak, aku tutup ya telponnya".

"Oh, iya mas baiklah".

Sosok misterius dengan langkah yang besar masih menjadi misteri, namun tidak ada waktu untuk takut. Aku harus segera menemukan sosok Gani Bustomi, mungkin saja dia tahu persoalan apa yang membuat perusahaan yang dirintis bapak tiba-tiba hancur.

***

Temen-temen bisa bisa mendukung saya dan cerita saya melalui :

https://trakteer.id/bimo-kuskus




profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 9 lainnya memberi reputasi
mantau lagi
Lanjut gan !!
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lanjut terus emoticon-Request
Hari Ketujuh Belas - Part II

"Ada urusan apa mas ke sini ?". wajah Mbak Ambar penuh tanda tanya, dari pagi aku memang tidak menceritakan apapun tentang yang sebenarnya, mulut ini masih tertutup rapat, menunggu momen yang tepat untuk berbicara.

"Aku sedang mencari seseorang bernama Ghani Bustami".

"Dimana alamatnya ?", sebelum pergi ke jalan ini, aku sudah menyiapkan kertas kecil bertuliskan alamat dari Ghani Bustami, maklum saja, sebagai seseorang yang sudah lama tidak tinggal di Solo, sosok detail kota ini sudah sedikit terlupa dalam ingatan.

"Hanya menunjukan jalan ini, nomor 59". Tanpa komando, aku dan Mbak Ambar segera menyusuri jalanan yang ternyata adalah perumahan kaum elit, rumah-rumah ukuran super jumbo menjadi pemandangan mata.

Sialnya, setiap nomor pada rumah ternyata tidak urut. Ada sebuah kolom ganjil dan genap yang wajib aku pelajari, dan tambah apes, tidak ada satupun orang yang bisa aku jumpai disana.

"Disini memang terkenal perumahan orang-orang kaya sih mas, jadi jarang ada orang yang keluar rumah, mereka nyaman dengan istananya, kalaupun keluar juga pada naik mobil, jadi kita bakal sukar menemukan seseorang".

Binggo, setelah tiga puluh menit berputar-putar, akhirnya rumah besar bernomor 59 dengan gerbang tingginya terlihat. Lega rasanya, meskipun belum tentu bisa berjumpa dengan Ghani Bustami, namun setidaknya rumahnya sudah ketemu.

"Aku akan coba bertanya kepada satpam di rumah tersebut mbak", dengan segera motor ku pinggirkan di tepi jalan. "Semoga segera ketemu mas", perempuan ini benar-benar begitu mendukung setiap langkahku, mungkin kalau Kirana tidak datang terlebih dahulu, aku bakal memilihnya.

"Permisi pak".

"Iya mas, ada yang bisa saya bantu ?".

"Apakah ini rumah Pak Ghani ?".

"Benar, ada urusan apa ya ?".

"Pak Ghani ada di rumah ?".

"Ada mas, hari ini libur kerja beliau".

"Pak, tolong sampaikan kepada Pak Ghani, saya Burhan anak dari Pak Alif Yunarto".

"Tunggu disini sebentar mas, saya sampaikan kepada Pak Ghani terlebih dahulu".

Segera ku hampiri Mbak Ambar yang berada di sebrang jalan, rasanya tidak sabar ingin menceritakan kesuksesan kami berdua menemukan sosok kunci dibalik semua misteri ini. "Disana benar rumah orang yang sedang aku cari, aku sudah bilang ke satpamnya untuk bisa bertemu dengan Pak Ghani".

"Syukurlah mas, yaudah ayo segera kesana, sebelum beliau berubah pikiran".

***

"Kamu, putra dari Alif ?", sapa seorang laki-laki paruh baya, tampak dengan setelan baju polo, yang dipadukan dengan celana tiga per empat. Cermin orang kaya, tampil sederhana namun auranya tidak akan luntur.

"Benar pak, saya Burhan,".

"Kalau begitu silahkan duduk,".

Rasanya pandanganku belum selesai menikmati setiap dekorasi rumah yang begitu menakjubkan, seakan menjadi permata yang sukar untuk dilewatkan. Sesaat, laki-laki paruh baya tersebut memanggil seseorang yang mungkin adalah pembantunya, "Mbok, tolong kesini sebentar".

"Enggih Pak Ghani, ada yang bisa saya bantu ?," sesuai dengan tebakanku, laki-laki didepanku ini adalah Ghani Bustami, seorang yang mungkin bisa memberiku banyak informasi soal kematian keluargaku.

"Tolong siapkan minuman untuk tamu-tamu saya, kalian mau pesan apa ?".

"Saya kopi hangat saja pak, kamu apa mbak ?".

"Saya teh hangat saja".

"Siap tuan, saya siapkan terlebih dahulu".

Aku masih bingung mau memulai darimana pembicaraan ini, jujur saja, sosok Ghani Bustami tidak pernah diperkenalkan bapak pada keluarga. Berbeda dengan Pak Abdullah yang terlalu sering berkunjung ke rumah.

"Saya turut berbela sungkawa terhadap kejadian dua tahun lalu,".

"Terima kasih pak, saya datang ke Solo juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada malam pembunuhan keluarga saya".

"Lalu, kamu tahu alamat saya darimana ?", jawabanku tertunda, setelah Mbok yang aku tidak tahu namanya tersebut sudah siap dengan satu nampan berisi tiga gelas air yang dipesan.

"Silahkan diminum dulu".

"Terima kasih pak", tanganku mulai aktif mengambil segelas kopi hangat, satu seduhan rasanya cukup sebelum memulai pembicaraan yang serius kembali.

"Saya tahu dari sebuah berkas lama bapak, tidak sengaja saya menemukannya".

"Oh begitu, benar-benar, saya rindu dengan Alif dan Joni, rasanya baru kemarin kami membicarakan soal bisnis, dan kini tinggal saya saja".

"Jadi bapak masih melanjutkan usaha yang dirintis bertiga ?".

"Benar, saya tidak mungkin meninggalkan sebuah usaha yang sudah dirintis sejak nol".

Ada yang aneh, sebetulnya Ghani Bustami ini menyampaikan sebuah kalimat belas kasihan yang tidak tampak diwajahnya. Hanya seperti sebuah ucapan semata, agar aku terhibur dengan rasa ibanya.

"Sebenarnya, kalau mereka berdua tidak melakukan hal bodoh dengan meminta kerja sama dengan setan. Mungkin nasib mereka bakal berbeda".

"Maksud bapak ?".

"Alif dan Joni menggunakan seorang dukun untuk mencari klien, saya sudah memperingatkan mereka, namun Joni tetap teguh dengan pendiriannya. Dia lah sejatinya orang yang banyak terlibat dalam kasus ini".

"Pak Joni ? bukannya beliau juga tewas terbunuh ?".

"Terbunuh karena takut ketahuan aksinya yang memborbadir keluargamu ?".

Apa ini cerita fakta ? ada benarnya juga, sampai detik ini pelaku dari pembunuh keluargaku juga belum ditemukan. Wajar saja, toh pelaku utamanya saja sudah mati juga, ini mungkin yang jadi dasar kenapa polisi kesulitan menemukan pelakunya.

"Jadi Pak Joni dalang pembunuhan bapak, ibu dan Mbak Lestari, begitu maksud Pak Ghani ?", Ghani Bustami hanya menggangguk, wajahnya kali ini menunjukan sebuah penyesalan. Ini mungkin yang jadi dasar kenapa Pak Agus lari dariku, ternyata ia tidak ingin borok saudaranya terbongkar.

***

"Apa kamu langsung percaya dengan perkataan Pak Ghani ?," sebuah pertanyaan yang menghentikanku untuk melanjutkan memakai helm, "Memang menurutmu, perkataan Pak Ghani tidak benar ?". Mbak Ambar hanya menunjukan dua jalan didepan.

"Menurut Mas Burhan, jalur mana yang bisa membawa kita kembali ke rumah ?".

"Aku tidak tahu daerah sini mbak, kamu yang lebih tahu".

"Pasti kamu bakal bertanya denganku bukan ? kalau aku bilang bahwa jalur yang ke kanan ujungnya adalah jurang, kamu juga bakalan percaya begitu saja ?".

"Aku bakal mencari tahunya terlebih dahulu, sebelum percaya dengan perkataanmu tadi".

"Dalam kasus ini, kamu juga wajib mencari tahu banyak informasi dari orang lain terlebih dahulu sebelum memutuskan Pak Joni bersalah".

Ada benarnya juga perkataan dari Mbak Ambar, aku tidak mengenal betul sosok Ghani Bustami. Bisa saja dia berdusta dalam hal ini, namun di satu sisi aku juga bingung harus mencari siapa lagi ?.

Temen-temen bisa bisa mendukung saya dan cerita saya melalui :

https://trakteer.id/bimo-kuskus

profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 7 lainnya memberi reputasi
Lanjuuttttt gan
keren ah ceritanya... makin menegangkan...tak sabar jadinya menanti kelanjutannya... semangat gan...emoticon-Jempol
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Hari Ketujuh Belas- Part III

"Aku bingung mbak, mau mencari siapa lagi ?," aku sengaja tidak langsung pulang, karena mungkin secangkir kopi hangat di kafe bersama Mbak Ambar bisa membuka arah pikiran dalam diriku, mau kemana lagi ?.

"Memang tidak mudah mas, cuman, kalau menurutku mending kamu mencari sosok adik dari Pak Joni terlebih dahulu".

"Dia saja menghindar, bagaimana bisa aku berbicara dengannya ?".

"Jangan mudah menyerah, karena memang kasus misteri itu tidak mudah untuk diungkap, tapi pasti ada satu jalan kebenaran diantara ribuan jalan setan".

"Benar mbak, oh ya, silahkan diminum dulu kopinya, aku traktir deh".

"Wah makasih sekali ya mas,".

Pak Agus, mungkin benar kata-kata dari Mbak Ambar, adik dari Pak Joni bisa menjadi titik terang siapa yang sebetulnya tengah berdusta. "Oh ya mas, kamu tidak tahu alamat perusahaan bapak kamu dimana ?".

"Aku tahu sih mbak, hanya sewaktu lewat di jalan tersebut, kantor tersebut sudah berganti nama".

"Tidak ingin mencari tahu kebenaran darisana ?".

"Ah, benar juga ya mbak..baiklah malam ini juga, kita kesana".

"Ha...harus gitu ya malam-malam seperti ini ?".

***

Tampak dari luar, gedung besar menyapa siapapun pejalan kaki yang lewat. Namun ada yang berbeda disana, nama dari perusahaan tersebut telah berganti, aku masih ingat nama yang tertera dalam berkas di ruang kerja milik bapak.

"Kok beda ya mbak namanya ?".

"Mungkin kita salah alamat mas ?".

"Benar kok mbak, nomor 27".

"Apa sudah dibeli oleh pengusaha lain ?".

"Tapi kenapa aku tidak diberitahu ? padahal, aku adalah ahli waris bapak".

"Lebih baik kita selidiki besok pagi lagi mas, karena kalau hanya bertanya-tanya seperti ini tidak akan ketemu jawabannya".

Hari ini, benar-benar membuat hatiku terasa penuh dengan tanda tanya, aku masih dengan pendirianku, ada yang janggal terhadap kantor tersebut. Namun ada benarnya juga perkataan Mbak Ambar, kalau hanya bertanya-tanya saja, tidak akan menemukan jawabannya..

"Mbak, terima kasih untuk hari ini ya, aku sudah banyak menemukan beberapa informasi penting".

"Iya mas sama-sama, aku bakal support kamu sebisaku", tiba-tiba sebuah pelukan mendarat di perutku, ada apa ini ? jangan-jangan Mbak Ambar benar-benar memiliki rasa denganku. Segera ku lepaskan pelukan dari Mbak Ambar, namun sayang, tenagaku yang terbagi antara mengemudi sepeda motor membuat sukar melepas pelukan perempuan yang sudah ku anggap saudara.

"Mbak, tolong lepaskan pelukanmu, aku tidak ingin Kirana berpikir macam-macam".

"Biarkan sekali saja mas, aku memeluk tubuhmu, ku mohon", rasanya beban juga harus menolak permintaan Mbak Ambar, dia sudah banyak menolong selama ini, toh, Kirana juga tidak mungkin melihatku malam ini.

***

Bau menyan menyambut kedatanganku, sesekali mata ini melirik ke arah Rumah Pak Joni, semua terasa begitu mengerikan malam ini. Perempuan di kamar atas menatap dengan pandangan yang begitu tajam, "Kenapa lirikannya terlihat lebih tajam seperti itu sih..." dengan segera aku memalingkan wajah dan masuk kedalam rumah.

"Duk-duk-duk", suara seperti ketukan menyapaku sebelum memasuki kamar, semua seakan ingin membuatku keluar dari rumah ini. Ada apa sebenarnya ? masih menjadi pertanyaan dalam pikiranku, suara ketukan yang semakin kencang juga memberikan kesan menakutkan.

"Tolong jangan ganggu aku".

Perlahan, langkah kecilku memasuki kamar kesayangan yang tampak menjadi tempat perlindungan yang menjadi andalanku selama di rumah ini. Suara ketukan benar-benar meninggi memberikan kesan yang lebih horor.

Dan..

"Braaaaaaak", refleks tubuh langsung menenggelamkanku ke dalam tumpukan bantal yang ada di tempat tidur, seperti inikah rasanya ketakutan yang luar biasa. Entah kenapa, semenjak pulang dari rumah Ghani Bustami, rumah ini seakan ingin menyerangku.

"Lagu ini ku ciptakan untukmu..."suara dering ponsel memberiku secercah harapan, setidaknya ada teman untuk mencurahkan rasa yang sedang ku hadapi saat ini. "Kirana, syukurlah".

"Halo Han, kemana aja sih ? kok aku hubungi sejak siang tidak pernah diangkat ?".

"Aku tadi sedang mencari-cari seorang yang merupakan mitra kerja dari bapak Ran, jadi maaf tadi tidak memegang ponsel sama sekali".

"Oh, lalu bagaimana Han ? sudah menemukan jawabannya".

"Katanya pelaku adalah Pak Joni, namun aku masih belum percaya, besok aku bakal mencoba mencari tahu tentang kantor dari bapak dulu".

"Benar kamu Han, jangan mudah percaya, karena bisa jadi Ghani Bustami sedang berbohong".

"Itu dia, aku juga masih curiga dengan sosoknya....".

Belum selesai aku mengobrol dengan Kirana, sambungan telpon dimatikan secara sepihak oleh perempuan tersebut. Emm, dasar tidak sopan memang si Kirana ini, "Lagu ini Ku ciptakan untukmu".

"Halo, kamu tuh gimana sih, aku baru mau ngobrol malah dimatiin telponnya".

"Telpon apa sih Han ? daritadi aku mau nelpon kamu, malah kamu sedang dalam jaringan telpon yang lain".

"Lho, tadi kamu kok yang nelpon ?".

"Sudah deh tidak usah bercanda Han".

"Aku tidak bercanda Ran, lha terus tadi siapa ?".

"Kamu serius itu aku barusan yang nelpon ?".

"Serius !!!".


Temen-temen bisa mendukung saya melalui :
https://saweria.co/donate/BimoKuskus
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 8 lainnya memberi reputasi
yg rutin gan update...menarik ceritanyaemoticon-Jempol
semangat terus gan
Hari Kedelapan Belas

"Aku kemarin mendapatkan kejutan yang luar biasa mbak," perempuan di depanku yang tengah fokus menikmati seporsi bakso menghentikan aktivitasnya, kedua matanya kini menyorot ke wajahku dengan tajam.

"Kejutan dari Kirana ?".

"Iya, tapi disini Kirana dijadikan sosok perantaranya mbak".

"Maksud dari sosok perantara ?".

"Aku kemarin mendapatkan sebuah telpon, dan di ponselku bertuliskan nama Kirana, namun tiba-tiba saat kami tengah berbincang-bincang, sambungan telpon itu mati. Dan Kirana kembali menelpon setelah itu, saat ku tanya kenapa dimatikan, dirinya malah bercerita bahwa aku baru mengangkat telponnya. Daritadi, menurutnya telponku sedang dijaringan lain mbak".

Mbak Ambar terlihat masih tidak percaya, memang cerita ini mungkin bakal sukar untuk dipercaya. Namun, ini adalah kejadian nyata yang benar-benar menimpa dalam kehidupanku. "Mungkin tidak mas, kalau yang menelpon tersebut adalah sosok di dunia lain ?".

"Apakah mereka ingin menyampaikan sesuatu ya mbak ?".

"Bisa jadi mas, apalagi setelah kita menemui Ghani Bustami kemarin".

"Emmm...," aku masih mencoba memecahkan kode rahasia kali ini, sepertinya ada hal yang ingin disampaikan oleh salah satu keluargaku. Namun soal apa ? mungkinkah sosok Ghani Bustami yang masih misterius tersebut.

"Sudah mas, kita makan dulu aja, nanti malam kita cari tahu tentang kantor tersebut. Dan kabar baiknya, aku memiliki teman yang bekerja disana sudah lima tahun'an".

"Benarkah ?".

"Iya mas, sekarang kita makan bakso dulu, sudah agak dingin soalnya".

***

"Rumahnya besar juga ya mbak," sebuah rumah besar terhampar di depan mataku, mungkin jabatan teman Mbak Ambar sudah tinggi sehingga rumah semewah ini bisa dibelinya. "Iya mas, dia sudah memiliki jabatan di perusahaan,".

"Permisi pak, saya Ambar, sudah ada janji dengan Ibu Intan." Seorang satpam dengan perawakan tinggi besar kemudian meminta aku dan Mbak Ambar untuk menunggu sejenak di sebuah kursi panjang yang berada di depan pos satpam.

Kurang lebih lima menit menunggu, sosok perempuan cantik berkulit putih keluar membukakan pagar. "Sudah pak, biar saya saja yang membuka, kamu kembali ke pos saja". Terdengar suara perempuan tersebut yang sepertinya sedang berbincang dengan satpam yang tadi menjadi pembawa pesan Mbak Ambar.

"Hallo Ambar, wah udah lama tidak ketemu", seperti biasa, tradisi perempuan jika berjumpa pastilah cipika-cipiki, pelukan dan menunjukan tampang yang begitu rindu. Emm, kenapa hal ini sukar untuk dilakukan oleh seorang cowok ya ?.

"Oh ya Ntan, kenalin ini temenku, Mas Burhan".

"Intan, mas".

"Burhan".

"Wih ganteng juga lho, kenapa tidak jadian aja sih kalian". Sial, tampaknya ada sesi mak comblang disini.

"Dia udah ada yang punya Ntan,".

"Eh maaf ya mas, yaudah yuk masuk aja".

***

Tiga gelas cangkir sudah tersedia di atas meja tamu, dengan sebuah teko sedang yang isinya masih ku duga-duga, namun sepertinya teh hangat. Sementara Mbak Ambar dan temannya yang bernama Intan asyik ngobrol ngalor-ngidul tentang masa lalunya. Aku masih berusaha menebak isi teko di hadapanku.

"Ngomong-ngomong, ada persoalan pekerjaan yang ingin kamu ceritakan ya ?," tanya Intan kepada Mbak Ambar, dengan reflek cepat, mata Mbak Ambar melirik ke arahku. "Ini Ntan, Mas Burhan ingin tanya-tanya soal kantormu".

"Mau kerja disana mas ?".

"Bukan mbak, ini masalah sejarah dari perusahaan Mbak Intan".

"Sejarah maksudnya ?", tangan Intan mulai menuangkan isi dalam teko ke dalam tiga gelas kecil yang sudah ada di atas meja, bingggo !!! benar bukan, sebuah teh dengan sedikit asap, sesuai dengan tebakanku saat pertama kali datang kesini.

"Saya dulu adalah putra dari Bapak Alif Yunarto, mbak pernah mendengar nama tersebut ?".

"Pernah, beliau dulu atasan di perusahaan saya, nah dua tahun yang lalu, beliau ditemukan meninggal dunia bersama istri dan putrinya".

"Tapi mbak, kenapa sekarang perusahaan tersebut berganti nama ?".

"Bos kami yang baru, Ghani Bustami mengambil alih setelah dua petinggi di perusahaan tewas secara tidak wajar mas, makannya saya langsung mendapatkan promosi jabatan karena kejadian luar biasa yang waktunya berdekatan".

"Mas Burhan ini ingin menanyakan, kenapa dirinya tidak diajak bicara dengan Ghani Bustami, padahal status Mas Burhan adalah pewaris dari Pak Alif Yunarto".

"Benar juga kamu, aku sih kurang paham soal hukum ya,".

"Mungkin itu saja sih yang ingin saya tanyakan, kalau seperti ini berarti sudah ada kejelasan tentang perusahaan tersebut".

"Kamu harusnya mencari advokat gratis yang biasanya bisa menolong hukum secara gratis, aku punya kenalan".

"Wah, bagus itu Ntan, jadi kan kasus ini cepat terungkap".

"Tapi kamu mending siapin dulu berkas-berkas yang mendukung kalau perusahaan tersebut memiliki waris di kamu deh mas, biar nanti advokat yang menyelesaikannya".

"Baik mbak, akan siapkan semua, terima kasih atas bantuannya".

"Tapi kalau menang, aku jangan kamu downgrade posisinya ya", semua tertawa lepas, aku tahu ini bercandaan, namun yang pasti jika perusahaan tersebut bisa ku ambil haknya lagi, Intan adalah sosok yang bakal ku naikan posisinya.

Sekarang tinggal mencari seseorang yang juga memiliki informasi yang aku butuhkan, Pak Agus, semoga sosok tersebut bisa segera ku temukan. Ada banyak informasi yang masih bisa terkulik dari Pak Agus.

****

Temen-temen bisa mendukung saya melalui :

https://saweria.co/donate/BimoKuskus


profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 7 lainnya memberi reputasi
Hari Kesembilan Belas - Part I
"Kamu gimana Han ? sudah ada perkembangan." Perempuan cantik didepanku, entah kenapa muncul rasa bersalah ketika harus berdua dengan Kirana seperti ini. Mbak Ambar sudah terbuka menyatakan rasa sukanya, dan aku tetap mengajaknya menyelesaikan masalah ini bersamanya, sementara ada Kirana yang sudah mengikat janji bersama.

"Hei, kenapa melamun sih ? kamu mikirin apa ?".

"Ehhh...tidak ada kok, hanya sedang menikmati kecantikanmu saja".

"Kamu sedang berbohong Han, aku tahu itu".

"Tidak kok, oh ya, soal perkembangan kasus, bisa dikatakan aku mendapatkan sebuah informasi terbaru".

"Benarkah ? lalu gimana ?".

"Aku sedang mencari dokumen-dokumen yang bisa menjadi bukti kuat di hadapan hukum Ran".

"Maksudnya ?".

"Aku belum bisa cerita banyak, ada beberapa langkah yang masih rancu".

"Tidak papa kok Han, yang penting kamu sudah mendapatkan progress di kasus ini".

Segelas kopi hangat bersama dua Roti Bakar tiba di meja kami, "Kamu kenapa tidak pesan minuman Ran ?".

"Aku sedang menjalankan diet Han".

"Diet ? badanmu sudah bagus kok, mau dibuat apalagi ?".

"Mau dibuat sehat".

***

"Kamu yakin mau menunggu Pak Agus di sini lagi Han ?".

"Iya Ran, aku harus berbicara dengan dia".

"Yaudah, kamu tunggu disini sebentar ya, aku mau tanya-tanya orang sini dulu Han," Kirana berlalu dari pandangan mata, perempuan tersebut benar-benar berbeda, dirinya selalu rela membantu di setiap kesulitan yang aku alami.

Aku segera mengambil arah berlawanan dengan Kirana, harapannya bisa mendapatkan informasi yang lebih banyak dengan membagi tugas. "Nyuwun sewu pak, kula badhe tanglet, panjenengan mengenal nama Pak Agus ? badannya agak besar," setiap pedagang yang ku jumpai selalu menjawab dengan menggelengkan kepalanya.

Sudah tiga puluh menit mencari, hasilnya masih nihil. Rasa-rasanya, pencarian kali ini bakal gagal, sebuah bangku panjang di depan pasar ku pilih untuk menjadi tempat istirahat, setidaknya untuk mengambil nafas sejenak.

"Han, aku cari-cari ternyata kamu disini".

"Eh iya Ran, aku tadi mencari di sisi yang berlawanan denganmu, gimana ada informasi ?".

"Ada Han, Pak Agus disini tuh sebagai kuli panggul, dan dirinya kini sedang libur karena anaknya sakit, rumahnya ada di jalan ini", sebuah kertas kecil dikeluarkan Kirana dari saku bajunya. "Alamat Pak Agus ?", anggukan Kirana menjadi jawaban atas pertanyaanku.

"Yaudah, kita kesana sekarang Ran, keburu sore," beruntung sudah ada ojek online yang bisa menghantarkan kemanapun kaki ini melangkah meskipun tidak buta peta di Kota Solo. Tidak mungkin juga meminta bantuan kepada Mbak Ambar.

"Kamu takut ya Han ?,"

"Takut kenapa ?".

"Takut kalau aku marah karena kamu mencari informasi bersama seorang perempuan".

"Kok kamu bisa tahu ?".

"Aku kemarin melihat kamu sama seorang perempuan, dia memelukmu bukan ?".

"Ran, aku bisa menjelaskan soal itu".

"Tidak perlu Han, aku percaya kok, kamu tidak akan mungkin mengkhianati janji kita berdua, aku mengenal kamu sejak semester satu".

"Aku sebenarnya beban Ran, tapi hanya dia yang bisa membantuku sekarang,".

"Iya aku paham kok, aku juga tidak marah kepadamu kan ?".

"Tapi aku janji, setelah misteri ini terbongkar, aku bakal melupakan dia dan menjauhi dia".

"Kamu jahat Han, dia sudah baik sama kamu, tapi malah mau kamu lupakan begitu saja".

"Tapi...".

"Sudah, aku tidak masalah kok kamu berkawan sama dia, karena aku percaya hatimu hanya untukku".

"Terima kasih Ran, aku janji bakal membahagiakan kamu setelah ini, dan seterusnya", aku memeluk tubuh Kirana, memberikan sebuah jawaban bahwa Burhan tetaplah menjadi milik Kirana.

"Sudah Han, malu dilihatin orang-orang pasar".

"Sampai lupa aku, kalau kita di pasar".

***

"Assalamualaikum", sebuah rumah di gang sempit, sesuai dengan alamat yang diberikan salah satu pedagang. Aku sengaja tidak menunjukan diri terlebih dahulu, biar Kirana yang memberikan salam.

"Walaikum sallam," seorang perempuan paruh baya membukakan pintu rumah yang terlihat sudah agak lapuk, wajahnya tampak bingung melihat aku dan Kirana. Sosok yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

"Apa benar ini rumah dari Bapak Agus".

"Benar mbak, panjenengan ini siapa ya ?".

"Kami dulu rumahnya disebalah dari Pak Joni, ibu kenal kan ?".

"Maksudnya Mas Joni ?".

"Iya bu, benar sekali".

"Ada urusan apa mas ?".

"Saya mau bersilaturahmi dengan keluarga Pak Agus, kalau diperbolehkan".

"Tentu saja boleh mas, silahkan masuk dulu, bapak sedang keluar sebentar soalnya".

"Terima kasih bu".

***

Temen-temen bisa mendukung saya melalui :
https://saweria.co/donate/BimoKuskus

saya berterima kasih untuk teman-teman yang mau mendukung penulis dengan materi. terima kasih



profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh bej0corner
lanjut gan.. ceritanya potong2..
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
Halaman 23 dari 25


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di