- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Aku Tak Memilihmu


TS
bundasholihaah
Aku Tak Memilihmu

Ibu tampak berusaha keras memilih kata agar tidak menyakitiku. Namun, tetap saja rasa hati tak dapat membohongi, meskipun di bibir kuberkata, 'tak apa'.
Aku pamit meninggalkan ibu ke kamar. Sungguh tak sanggup kutahan lagi bendungan air di mataku. Aku menjatuhkan diri di kasur, lantas membenamkan kepala di bawah bantal. Kebiasaanku setiap kali merasa ingin menangis.
***
Pertemuanku dengannya terjadi beberapa bulan yang lalu. Seorang teman memperkenalkan kami sebagai tim baksos di sebuah daerah terdampak asap gunung merapi. Tak kusangka, dia yang seorang dokter memberikan sinyal-sinyal yang membuatku ke-ge-er-an.
Saat itu, aku hanyalah penanggung jawab atas program pengobatan gratis yang diadakan lembaga sosial tempatku bekerja. Program yang berlangsung sekitar satu minggu itu cukup membuat kami dekat. Sebab, selama di lokasi bencana, kami tinggal di basecampyang bersebelahan. Koordinasi kegiatan yang tak hanya pengobatan gratis membuat kami bertemu intens hampir sepanjang hari.
"Aku masih boleh kirim-kirim chat, 'kan?" ucapnya sesaat sebelum aku memasuki mobil ambulance berlogo sebuah lembaga sosial untuk kembali ke Surabaya. Dia sendiri menaiki mobil lain yang akan mengantarkannya pulang ke Lamongan.
Sebenarnya aku sangat gugup saat itu. Namun, aku memcoba berseloroh agar teman-teman tidak terpancing untuk menggodaku, meskipun hasilnya gagal total. Sepanjang perjalanan pulang, sudah habis aku jadi bulan-bulanan mereka.
"Dokter Iwan pernah tanya makanan kesukaanmu segala, kok, ke aku," goda Farida, apoteker yang selama ini membantuku di lokasi baksos.
Pantas saja kemarin Dokter Iwan mengantarkan sebungkus bakso ukuran jumbo ke basecampku. Mukaku kembali terasa hangat.
"Ciyeee ... yang mukanya merah!" Farida dan dua orang lagi di dalam ambulance membuatku tak berkutik.
Hari-hari berganti, hubungan kami semakin dekat meskipun hanya lewat chat dan sesekali v-call. Kami pun sering sengaja bertemu ketika dia sedang ada di Surabaya, atau ketika aku membutuhkan tenaga dokter untuk kegiatan-kegiatan bakti sosial yang kuadakan. Meskipun dia tak pernah sekali pun menyatakan cinta, tapi aku bisa melihat kesungguhan rasa itu dalam binar matanya ketika menatapku.
Benar saja, selang beberapa bulan, dia datang ke rumah untuk menemui orangtuaku.
"Nak dokter, tinggal di Lamongan mana?" tanya ayahku waktu itu.
Pembicaraan pun berlangsung bagaikan sesi wawancara. Kami cukup terkejut ketika Dokter Iwan mengaku bahwa dia adalah anak dari salah satu pejabat penting di Lamongan. Aku sungguh tak menyangka, sikap supel dan ringan tangan selama aku mengenalnya benar-benar mengecohku.
Hari itu hatiku begitu berbunga-bunga. Apalagi sepulangnya Dokter Iwan dari rumah, dia mengirim chat yang membuatku serasa memiliki kekuatan melawan gaya gravitasi. Aku melayang.
Namun, tak perlu waktu lama untuk menghempaskan semua perasaan itu. Malam esoknya, ibu berkata bahwa hubungan kami sebaiknya tidak dilanjutkan.
"Kita harus tahu diri. Ibu sama Bapak takut kita akan dihinakan mereka karena status sosial yang njomplang, bagaikan raja dan kacungnya," ucap ibu.
Aku terdiam, kala itu. Senyumku tersungging agar ibu tahu bahwa aku baik-baik saja. Aku pun memang harus sadar diri. Bapak yang seorang kuli bangunan, dan ibu yang membuka warung kecil-kecilan, tak pantas bersanding dengan dia yang bagaikan anak seorang Raja.
Lalu, di sinilah aku sekarang. Dengan mata basah kuketikkan permintaan maaf kepada pria yang beberapa bulan ini membuat hatiku dihinggapi kupu-kupu.
Alasanmu mengada-ada!, balasnya.


Aku tahu dia akan berkata seperti itu. Pun ketika dia bilang kalau keluarganya pasti akan menerimaku dengan baik, aku sudah menduganya. Namun, perkataan ibu benar. Aku tak mau keluargaku kelak akan diremehkan. Apakah aku mendahului takdir? Entah, tapi perasaanku memaksa untuk patuh pada ibu. Biarlah lelaki itu membenciku karena ini. Dia belum pernah tahu bagaimana rasanya menjadi rakyat jelata yang dihinakan.
Surabaya, 23 April 2020
Gambar : dari sini
Aku pamit meninggalkan ibu ke kamar. Sungguh tak sanggup kutahan lagi bendungan air di mataku. Aku menjatuhkan diri di kasur, lantas membenamkan kepala di bawah bantal. Kebiasaanku setiap kali merasa ingin menangis.
***
Pertemuanku dengannya terjadi beberapa bulan yang lalu. Seorang teman memperkenalkan kami sebagai tim baksos di sebuah daerah terdampak asap gunung merapi. Tak kusangka, dia yang seorang dokter memberikan sinyal-sinyal yang membuatku ke-ge-er-an.
Saat itu, aku hanyalah penanggung jawab atas program pengobatan gratis yang diadakan lembaga sosial tempatku bekerja. Program yang berlangsung sekitar satu minggu itu cukup membuat kami dekat. Sebab, selama di lokasi bencana, kami tinggal di basecampyang bersebelahan. Koordinasi kegiatan yang tak hanya pengobatan gratis membuat kami bertemu intens hampir sepanjang hari.
"Aku masih boleh kirim-kirim chat, 'kan?" ucapnya sesaat sebelum aku memasuki mobil ambulance berlogo sebuah lembaga sosial untuk kembali ke Surabaya. Dia sendiri menaiki mobil lain yang akan mengantarkannya pulang ke Lamongan.
Sebenarnya aku sangat gugup saat itu. Namun, aku memcoba berseloroh agar teman-teman tidak terpancing untuk menggodaku, meskipun hasilnya gagal total. Sepanjang perjalanan pulang, sudah habis aku jadi bulan-bulanan mereka.
"Dokter Iwan pernah tanya makanan kesukaanmu segala, kok, ke aku," goda Farida, apoteker yang selama ini membantuku di lokasi baksos.
Pantas saja kemarin Dokter Iwan mengantarkan sebungkus bakso ukuran jumbo ke basecampku. Mukaku kembali terasa hangat.
"Ciyeee ... yang mukanya merah!" Farida dan dua orang lagi di dalam ambulance membuatku tak berkutik.
Hari-hari berganti, hubungan kami semakin dekat meskipun hanya lewat chat dan sesekali v-call. Kami pun sering sengaja bertemu ketika dia sedang ada di Surabaya, atau ketika aku membutuhkan tenaga dokter untuk kegiatan-kegiatan bakti sosial yang kuadakan. Meskipun dia tak pernah sekali pun menyatakan cinta, tapi aku bisa melihat kesungguhan rasa itu dalam binar matanya ketika menatapku.
Benar saja, selang beberapa bulan, dia datang ke rumah untuk menemui orangtuaku.
"Nak dokter, tinggal di Lamongan mana?" tanya ayahku waktu itu.
Pembicaraan pun berlangsung bagaikan sesi wawancara. Kami cukup terkejut ketika Dokter Iwan mengaku bahwa dia adalah anak dari salah satu pejabat penting di Lamongan. Aku sungguh tak menyangka, sikap supel dan ringan tangan selama aku mengenalnya benar-benar mengecohku.
Hari itu hatiku begitu berbunga-bunga. Apalagi sepulangnya Dokter Iwan dari rumah, dia mengirim chat yang membuatku serasa memiliki kekuatan melawan gaya gravitasi. Aku melayang.
Namun, tak perlu waktu lama untuk menghempaskan semua perasaan itu. Malam esoknya, ibu berkata bahwa hubungan kami sebaiknya tidak dilanjutkan.
"Kita harus tahu diri. Ibu sama Bapak takut kita akan dihinakan mereka karena status sosial yang njomplang, bagaikan raja dan kacungnya," ucap ibu.
Aku terdiam, kala itu. Senyumku tersungging agar ibu tahu bahwa aku baik-baik saja. Aku pun memang harus sadar diri. Bapak yang seorang kuli bangunan, dan ibu yang membuka warung kecil-kecilan, tak pantas bersanding dengan dia yang bagaikan anak seorang Raja.
Lalu, di sinilah aku sekarang. Dengan mata basah kuketikkan permintaan maaf kepada pria yang beberapa bulan ini membuat hatiku dihinggapi kupu-kupu.
Alasanmu mengada-ada!, balasnya.

Aku tahu dia akan berkata seperti itu. Pun ketika dia bilang kalau keluarganya pasti akan menerimaku dengan baik, aku sudah menduganya. Namun, perkataan ibu benar. Aku tak mau keluargaku kelak akan diremehkan. Apakah aku mendahului takdir? Entah, tapi perasaanku memaksa untuk patuh pada ibu. Biarlah lelaki itu membenciku karena ini. Dia belum pernah tahu bagaimana rasanya menjadi rakyat jelata yang dihinakan.
Surabaya, 23 April 2020
Gambar : dari sini
Diubah oleh bundasholihaah 23-04-2020 08:49






nona212 dan 44 lainnya memberi reputasi
45
882
21


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan