- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Harga Minyak Turun, Indonesia Tambah Pasokan 10 Juta Barel, AS Tambah 75 Juta Barel


TS
User telah dihapus
Harga Minyak Turun, Indonesia Tambah Pasokan 10 Juta Barel, AS Tambah 75 Juta Barel

Jakarta -
Sejak virus Corona menghantam dunia, harga minyak turun. Situasi ini dimanfaatkan PT Pertamina (Persero) untuk menambah stok BBM.
Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengatakan perusahaan baru saja membeli tambahan 10 juta barel minyak mentah di tengah harga yang sedang murah. Minyak ini akan disimpan untuk mengamankan stok BBM nasional.
"Ketika harga minyak brent US$24, kami melakukan pembelian tambahan 10 juta barel, sebagian kita dan dalam minggu ini. Kita optimalkan disimpan storage yang ada," jelas Nicke dalam rapat virtual bersama Komisi VI DPR, Kamis (16/4/2020).
Nicke mengatakan 10 juta barel minyak ini akan menambah stok BBM RON 92 menjadi 9,3 juta barel.
Baca juga: DPR Singgung Harga BBM Belum Turun, Ini Respons Bos Pertamina
"Jadi dapat menambah pembelian yang murah malah harga kemarin kita beli gasolin lebih murah di mana akan tambah pasokan 9,3 juta barel," jelas Nicke.
Nicke menambahkan kemungkinan akan ada penurunan beberapa kapasitas produksi karena demand juga menurun. Pasalnya, melakukan produksi penuh pun akan menjadi tanggungan ekonomi Pertamina.
"Kami akan mulai menurunkan kapasitas operasi kilang sesuai dengan kondisi demand. Kalau dilakukan dengan penuh kita akan terbebani," jelas Nicke.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Harga BBM Turun?
Meski harga minyak dunia anjlok, pemerintah sampai saat ini belum mengumumkan adanya penurunan harga BBM. Sikap hati-hati yang dilakukan oleh pemerintah ini dinilai langkah yang cukup tepat.
"Saya melihatnya ini merupakan langkah yang cukup tepat. Apalagi, penurunan harga BBM saat ini tidak akan memberikan dampak yang signifikan karena masyarakat yang bekerja di rumah serta industri yang cukup banyak menghentikan produksinya" ujar Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2020).
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan karena OPEC+ telah sepakat untuk memangkas produksi sebanyak 9,7 juta BOPD mulai Mei 2020 - Juni 2020.
"Penurunan ini pasti akan berdampak terhadap kenaikan harga minyak dunia. Saya prediksi, pada akhir tahun 2020 harga minyak dunia akan berkisar di angka US$ 40 - US$ 45 per barrel. Selain itu juga, kita perhatikan kurs rupiah terhadap dolar AS melemah kembali," jelasnya.
Baca juga: OPEC cs Akhirnya Sepakat Pangkas Produksi Minyak Hingga 9,7 Juta Barel/Hari Agar Harga Stabil
Ia juga mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh Pertamina dalam membantu Pemerintah menangani pandemi COVID-19 dengan merubah RSPJ menjadi rumah sakit rujukan serta bantuan kemanusiaan lainnya.
"Saya kira keuntungan Pertamina karena selisih harga tersebut di gunakan untuk membantu masyarakat dan Pemerintah. Jadi pada prinsipnya keuntungan tersebut diberikan kembali ke Pemerintah dan masyarakat dengan berbagai macam bantuan dan program yang dilakukan seperti memberikan cashback maksimal Rp 15.000 untuk para driver ojek online. Saya harapkan program ini bukan hanya untuk ojol,tapi ke depan untuk para supir taksi dan juga supir angkutan umum bisa diberikan hal yang sama," pungkasnya.
Simak Video "Harga Minya Dunia Anjlok, Jokowi: Manfaatkan Peluang Ini"
Sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku akan mengambil keuntungan dari penurunan harga minyak yang terjadi pada perdagangan Senin (20/4/2020).
Ia mengatakan akan membeli 75 juta barel untuk mengisi kembali cadangan strategis nasional negara itu.
"Kami sedang mengisi cadangan minyak bumi nasional kami ... Anda tahu, cadangan strategis. Dan, kami ingin memasukkan sebanyak 75 juta barel ke dalam cadangan kami sendiri," kata Trump pada konferensi pers harian di Gedung Putih dikutip dari AFP.
Baca: Terendah dalam Sejarah! Harga Minyak Runtuh di Bawah US$0

Trump sendiri memang sudah mengumumkan niat untuk mengisi cadangan minyak strategis (SPR) sampai penuh sejak 13 Maret. Di posisi 17 April, cadangan minyak AS sudah terisi 635 juta barel, dari batas saat ini sebanyak 713,5 juta barel.
Minyak disimpan di area bawah tanah di sepanjang Teluk Texas dan Louisiana, di selatan AS. Kapasitas maksimal SPR adalah 727 juta barel.
AS akan menggunakan cadangan ini dalam keadaan darurat. Seperti yang terjadi saat Perang Irak di tahun 1991 dan Badai Katrina di tahun 2005.
Sebelumnya, harga minyak mentah berjangka AS runtuh. Bahkan di bawah US$0 atau di teritori negatif pada Senin alias terendah sepanjang sejarah di NYMEX.
Pandemi corona (COVID-19) telah menyerang emas hitam. Penyebaran virus telah membuat aktivitas manusia berhenti dan menyebabkan melimpahnya pasokan.
Padahal, batas penjualan akan jatuh di Selasa (21/4/2020). Ini membuat kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei turun dan sempat menyentuh -US$ 40,32 per barel sebelum akhirnya berakhir diperdagangkan pada -US$ 37,63.
Baca: 2020 Jaman Edan, Harga Minyak Bisa Minus, Semua Gegara...
Sementara kontrak WTI untuk Juni diperdagangkan di US$ 22 per barel. Meski tak semerosot penjualan Mei, harga masih sangat rendah.
"Ini kontrak untuk sesuatu yang tidak ingin dibeli siapapun," kata Matt Smith, pengamat dari ClipperData sebagaimana dikutip dari AFP.
Selain karena corona, ini juga konsekuensi dari perang minyak Arab Saudi dan Rusia yang terjadi pada akhir Maret lalu. Meski sudah diputuskan akan ada pemangkasan oleh OPEC+ sekitar 10 juta barel per hari (bph) di Mei hingga Juni, keputusan dianggap telat oleh pelaku pasar.
Sementara patokan internasional Brent juga mengalami penurunan. Tapi beda dengan WTI, Brent masih positif karena penyerapan di dunia lebih banyak.
(hns/hns)
https://m.detik.com/finance/energi/d...-10-juta-barel
Diubah oleh User telah dihapus 21-04-2020 16:07






sebelahblog dan 28 lainnya memberi reputasi
25
901
16


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan