CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Part 06 - 07 Lembayung Senja 1 "Ketika Ia Datang Untuk Pergi"
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7ef4be28c99158d5721d2d/part-06---07-lembayung-senja-1-quotketika-ia-datang-untuk-pergiquot

Part 06 - 07 Lembayung Senja 1 "Ketika Ia Datang Untuk Pergi"

Part 06 - 07 Lembayung Senja 1 "Ketika Ia Datang Untuk Pergi"


PART 6

Setelah beres semua gua sama lisa langsung pergi waktu menunjukan jam 03 - 45 dari purwokerto ke indramayu, setelah

Sampai di rumah gua pukul 19 - 50, gua lihat di depan rumah ramai banyak saudara dan tetangga, gua langsung turun dari mobil di barengi delisa, delisa langsung memeluk tangan kiri gua dan kita berjalan bersama.

Pas yang pertama tau kedatangan gua sama lisa, adalah pak de joni, sontak gua pun melepas pelukan tangan delisa dan langsung memeluk pak de joni,

Pak de joni : Sing sabar ya nang, bokat wis jadi takdir gusti Allah, Rendi sing ikhlas ya nang. Kata pak de sambil memeluk ku, dan gua gak bisa menahan lagi air mata yang sudah menggenangi mata gua, gua gak bisa bicara apa pun, gua hanya bisa memandang begitu ramainya rumah gua, gua rasakan suasana yang menyedihkan, belum juga gua melepas pelukan pak de, dini datang dan langsung memeluk erat gua dengan isak tangis yang begitu menyakitkan.

Dini : mas... Ma.....sssss,
"panggil dini dengan suara berat dan tangisan"
Gua : Diiinnn.... Iiii... Tuuu... Papah, din? "Tanya gua dengan tangisan yang memilukan"
Dini : iiiaaa.. Mas, itu papah.
"Jawab dini yang masih memeluk dan menenggelamkan wajahnya di dada gua"

Tiba tiba entah kenapa tubuh gua terasa berat, kepala puyeng,pandangan memburam perlahan lahan hingga menjadi gelap gulita, ahirnya gua roboh dan jatuh ke lantai sebelum gua mendekati jenazah papah,
gua masih memeluk adek gua.
" Pak de, iiikihh.. Mas rendie pingsan " Teriak dini, hanya itu yang terakhir gua dengar sebelum benar benar pandangan menjadi gelap gulita,

Entah berapa lama gua dalam ke adaan gelap hampa dan tak berdaya, Samar Samar gua mendengar suara lantunan ayat ayat suci, surat yasin, dalam pandangan yang gelap, gua pelan pelan mencoba menggerakan tubuh, walau pun sekujur badan begitu lemas, gua pun menggerakkan jari tangan kanan, setelah itu, dalam pandangan gelap gulita lama lama menjadi terang, ahirnya gue membuka mata, dan tersadar, namun belum sepenuhnya sadar karena kepala masih sedikit pusing.

Gua merasakan ada belaian belaian di kepala, lalu gua tersadar penuh setelah ada air mata yang terus menerus menetes di wajah gue, langsung aja gua menatap ke atas.

"Looohhh kok gua di sini sih"
Perasaan tadi gue baru keluar dari mobil dengan delisa, gua membatin.

Lalu gue sapukan pandangan ke seluruh ruang ini, ternyata gua ada di kamar gua
" Kamu udah sadar kan ren "
Tanya seorang wanita dengan suara lirih dan berat, di belakang gua.

Seketika gua di peluk erat dari depan yang ternyata mamah dan dini, gue tengok ke kanan ada pak de sama bude, dan ke kiri gua liat ada roni, wendi dan kiki sepupu gua anaknya pak de joni, tapi gua liat delisa di depan pintu kamar tapi agak jauh,

nah yang di belakang gua siapa?
" Rara.. "
Ucap gue
" Ia mas "
Jawab mamah
" Dia baru dateng dari bandung mas" Kata mamah lagi.
gua liat wajah cantik dan senyuman yang dulu dan sekarang tetap menghiasi hati, yang membuat suasana fikiran gua adem, rara pun menyalami dan mencium tangan gue, dia tersenyum tapi menangis sedih,

" Tadi kamu pingsan mas,selama setengah jam "
Kata rara,
"Mas sholat isya dulu gih, nanti ngaji yasin buat papah ya"
Kata mamah.
"Hayu mas solat dulu"
Tanya rara sambil menarik pelan tangan gua,
Gua pun menghampiri lisa, "hayu lis kita solat dulu"
" Ia a" Jawab lisa,

Kok tumben banget lisa manggil gua aa, tanya gua dalam hati, alahh bodo lah.

"Din pinjem mukenah buat lisa nih" Kata gua ke dini,
" Ia mas nanti aku ambil" Jawab dini.

Kita pun sholat di kamar gua bertiga, gua, rara dan lisa, setelah selesai sholat, rara menyalami dan mencium tangan gua, dan lisa pun menyalami dan mencium tangan gua,

Dari raut muka mereka berdua gua perhatiin ada sedikit yang aneh, mungkin masing saling bertanya dalam hati mereka, itu siapanya tendi,
Gua liat tiba tiba rara mengajak kenalan sama lisa,

" Hey... Mba aku rara, mba siapa? "
Tanya rara sambil berjabat tangan
" Aku delisa"
Gua liat mereka berdua saling tersenyum
.


PART 7



" Hey... Mba aku rara, mba siapa? "
Tanya rara sambil berjabat tangan
" Aku delisa"
Jawab lisa Sambil menjabat tangan.
Gua liat mereka berdua saling tersenyum
, sehabis sholat gua beranjak dari kamar ke ruang tamu, dimana jasad orang yang sudah mengorbankan seluruh hidupnya untuk membesarkan anak anaknya, gua pun mendekat, gua pandang wajahnya, wajah yang dulu selalu tersenyum ketika dia pulang kerja, secape apapun dia pasti memyempatkan waktu untuk sekedar bersenda gurau dengan anak dan istrinya, setelah itu dia mandi dan istirahat, gua belai pipinya dan gua cium keningnya,

Tak sadar kelopak mata sudah di penuhi air mata, lalu butiran air mata pun mulai menghiasi pipi gua tak tahan dengan keadaan ini akhirnya gua menangis, bergetar hati gua, tiba tiba ada tangan halus yang menyeka air mata gua, dia pun memegang kedua pipi gua dan memalingkan muka gua untuk menatapnya, dan ternyata itu tangan rara, wajah kita pun saling Berhadapan,

Rara : ren yang sabar, ikhlasin, relain dan jangan di tangisi, kasihan papah nanti sedih dan liang kuburnya akan kebanjiran air mata mu.
"Kata rara dengan suara lirih dan lembut"

Gua pun hanya bisa diam dan tidak menjawabnya, gua hanya menganggukan kepala,

"Kok Rendi sekarang cengeng sih, padahal dulu dia berani loh,
doyan berantem hanya karena melindungi ceweknya"
Sindir rara dengan senyuman sejuknya,

Gua pun menggenggam tangannya yang masih memegang lembut pipi gua dan menarik tangannya terus gua cium tangannya,
" Terima kasih ra, senyuman mu yang selalu menyadarkan ku, kehadiran mu yang selalu membuat aku tenang dan wajah mu yang membuat teduh hati ku dari dulu sampai detik ini"
Kata gua pelan dan lirih.
" Ya udah senyum dong"
Kata rara.
Gua liat mamah hanya tersenyum, dan dini mencubit pinggang gua dengan tersenyum dan berkata,
"Malu banyak orang iikkkhhh"

Namun gua lihat lisa tersenyum tapi seperti di paksakan, gua ngerti perasaan lisa namun gua menghiraukan nya,

Setelah gua mengaji kira kira pukul 21 - 00
Gua keluar ke halaman, gua ngobrol dengan pak de joni perihal penyebabnya papah meninggal,

Gua : pak de..
"Sapa gua"
Pak de : sini nang ( nang itu kependekan dari senang, ya itu panggilan anak laki laki)
Duduk, "
Jawab pak de"

Gua : ia pak de, pak de papah tuh kenapa?
"Tanya gua"

Pak de : papah mu itu meninggal karena serangan jantung ren, dan asal Rendi tau semua keturunan dari nenek mu, orang tua pak de dan papah mu itu mempunyai penyakit turunan yaitu darah tinggi, jadi sikapnya cepet nafsuan atau gampang marah, namun papah kamu tidak ada riwayat darah tinggi tapi ya mau gimana lagi kan umur gak ada yang tau,

"Gua pun sejenak terdiam, ya benar semua ini kuasa illahi sang Pencipta"
Kata gua dalam hati

Gua : berarti aku juga ada riwayat darah tinggi dong pak de?
"Tanya gua"

Pak de : ya gak tau juga sih, tapi menurut orang tua jaman dahulu, ya seperti itu rem.
"Jawab pak de"
Udah sana istirahat kamu dari pas nyampe sini belum istirahat kan, istirahat dulu, besok kita kan mau mengebumikan papah mu,
" Sambung pak de lagi"

Gua : ya udah, udah ngantuk juga nih pak de,
" Kata gua sambil beranjak dari kursi di samping pak de"

Pak de : ren perempuan itu siapa? Pacar kamu?
"Tanya pakde"


Belum juga gua jawab pertanyaan, tiba tiba ada yang nyolek dari belakang dan bilang,

"Mas ini mba rara nya pamit mau pulang ke rumah neneknya, udah ngantuk jeh"

Kata dini, rara pun pamit sambil bersalaman ke gua dan pak de joni,

"Mas aku pulang dulu ya, besok aku ke sini lagi"
Kata rara.

" Oh ia ra, istirahat yah, kata mamah kamu kan baru dateng dari bandung"

"Ia mas"
Jawab rara singkat sambil berjalan keluar halaman rumah gua,

"Ra tunggu, aku boleh minta no kontak kamu gak? "
Tanya gua dari belakang dia,

"Boleh kok mas, emang ada yang ngelarang ya"
Tanya rara.

"Emang siapa yang ngelarang ra?"
jawab gua.

"Itu mba lisa yang larang"
Kata rara sambil tersenyum.

" Lah emang dia siapa? "
Tanya gua.

"Pacar kamu kan mas"
Jawab rara.

"Eh.. Bukan kok ra"
Kata gua.

Ya udah nih no aku " 087xxxxxxxxx"
Kata rara,

"Ok nanti gua hubungin loe"
Jawab gua,

" Aku tunggu loh mas"
Kata rara sambil tersenyum genit menatap. ku...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Thread sudah digembok
wkwk mantab dahh ceritanyaa semoga lebih berkembang
Post ini telah dihapus oleh KS06
kirain gua itu tempat sempit gelap.. Goa
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 03
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di