CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e521639f4d695292017f242/cerpen-demi-surga

[CERPEN] Demi Surga

Membahagiakan kedua orang tua adalah impian seluruh anak di dunia ini, termasuk aku pun juga menginginkan hal yang sama agar kedua orang tuaku bisa tersenyum lebar. Namaku Wiryanto, kedua orang tuaku dan orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan ‘Anto’. Umurku 27 tahun bekerja di bidang IT pada salah satu perusahaan swasta di Semarang, Jawa Tengah. Banyak orang bilang, sekolah dan kuliah jurusan IT begitu menjanjikan, karena faktanya bidang ini menjanjikan banyak lapangan pekerjaan yang bisa kita pilih sesuai dengan spesialisasi yang kita geluti. Di saat orang-orang berbondong-bondong ingin ambil bagian pada profesi tersebut, justru aku teringat akan perjalananku hingga bisa nyemplung di pekerjaan yang begitu dekat dengan ‘bandwith internet’.

 [CERPEN] Demi Surga 
Credit Foto googleusercontent.com

Jauh beberapa tahun yang lalu, kedua orang tua ku lah yang memaksaku untuk kuliah di Fakultas Komputer salah satu kampus yang ada di Jakarta, Ayah dan Ibu ku menyarankan untuk masuk kampus tersebut dan mengambil jurusan Sistem Informasi. Berat!, kata itu menjadi salah satu kata yang paling tepat untuk mewakili saat itu. Terlalu berat karena memang secara basic aku tak begitu mengenal akan technology, mengoperasikan komputer saja seminggu sekali dan itu pun juga ketika di Lab semasa SMA. Setelah melewati sederet proses, sampailah pada ketika dimana aku menyandang status sebagai Mahasiswa IT. Sudah tentu hal tersebut pun membuat senyum bahagia kedua orang tuaku pun begitu terlihat, terlalu bangga hingga Ibu ku kerap ceritakan ke tetangga ataupun sesama anggota ibu-ibu pengajian. Dibalik senyum bahagia kedua orang tuaku, tersimpan rasa yang saat itu aku sendiri tak memiliki keberanian untuk menceritakannya. Berat itu pun berlanjut di semester awal, dimana aku harus beradaptasi dengan segala tetek bengek tentang dunia IT. 

Saat itulah pertama kalinya melihat RAM, ROM, Hard disc, dan motherboard. Saat itu pula pertama kalinya aku mendengar istilah algoritma, flow cart, hingga istilah normalisasi database. Hari-hari yang berat, dan untungya aku memiliki teman (Aulya) yang mau berbagi pengetahuannya. Ia selalu mengajari dan menuntunku serta memperkenalkan seluk beluk dunia IT, masih teringat betul aku pernah diajak ke rumahnya kemudian di ajak ke kamarnya dan di situ ia perlihatkan komputer yang ia miliki begitu canggih yang menggunakan tiga monitor terpampang di tembok.
Jauh dari lubuk hati, diri ini merasa tak nyaman mengambil jurusan yang memang bukan aku inginkan. Sebenarnya, sedari duduk di bangku SMA aku sudah mengimpikan bahwa kelak aku ingin menjadi seorang arsitek yang handal. Tak sekedar mimpi, namun cita-cita ini tak lain adalah agar bisa membangun gedung tinggi, dan tentunya bisa membangun gubug yang unik untuk calon istriku kelak. 

Nyemplung ke jurusan komputer seakan jadi pertanda bahwa aku harus mengubur dalam-dalam akan mimpi menjadi seorang arsitek. Menjadi mahasiswa perantuan lumayan berat, bukan hanya karena jauh dari tempat kelahiran, namun lingkungan baru dan orang-orang baru butuh adaptasi. Belum lagi, hidup sebagai anak kos yang sudah barang tentu akan adanya keterbatasan, mulai dari kamar yang sempit, kamar mandi bergantian, sampai dengan belanja sendiri akan berbagai kebutuhan. Orang tuaku selalu menelponku, mereka selalu menghubungiku minimal satu kali dalam seminggu. Singkat cerita, proses menjadi Sarjana IT pun aku lewati dalam kurun waktu 4, 5 tahun, mungkin ini masih waktu normal karena faktanya ada beberapa teman yang belum lulus, dan bahkan mereka ada yang sampai 7 tahun belum lulus juga. Selama 4 tahun itu terbilang hidupku Cuma untuk kuliah saja, berbeda dengan teman lain ada yang sambil bekerja, ada yang sibuk pacaran, dan ada pula yang sibuk dengan bermain musik hingga lupa akan kewajibannya sebagai mahasiswa.
Bangga! Meskipun menjadi Sarjana IT bukan impian lamaku, tentu ini adalah hasil dari proses yang sudah aku jalani. Sudah tentu, wisuda ini menjadi salah satu momen yang membanggakan kedua orang tuaku. Mereka pun hadir di Wisudaku, lengkap mengenakan baju kebanggan mereka yang kalau temanku bilang mirip Sinden di Wayang Kulit emoticon-Big Grin. Apapun itu, mereka adalah orang tuaku, dan mereka adalah Ayah dan Ibuku yang telah menyekolahkan aku di kampus ini. Kami pun menyempatkan berfoto bareng teman-teman kuliah ku, dan setelah itu Aku dan Orang tuaku pergi ke salah satu Studio Photo untuk mengabadikan momen wisudaku. 

Selang beberapa hari, kami pun memutuskan untuk pulang kampung, dan dalam perjalanan pulang itu rupanya kedua orang tuaku sudah menyiapkan sederet pertanyaan yang akan dilontarkan ke anak semata wayangnya ini.

Quote:

 [CERPEN] Demi Surga
Untuk ke sekian kalinya, aku pun menuruti apa yang menjadi titah dari Ibu ku. Akhirnya aku bekerja di kantor milik Pak Jimmy, teman Bapakku semasa mereka berkuliah. Menjadi karyawan yang bos udah aku kenal bukan berarti aku mendapat perlakuan spesial, Pak Jimmy orang yang baik dan ia memperlakukan karyawanna dengan sama rata, berlaku adil, ia membebaskan karyawannya dalam hal berinovasi. Bangunan kantornya tak terlalu besar, cukup untuk 50 Karyawan dengan fasilitas seperti pantri, ruang ibadah, dan parkir pun tersedia. 

Di kantor yang beralamat di Jl. Suka Duka, No 40 ini lah jadi tempat pertemuanku dengan Winda. Rekan satu kantor yang bekerja di divisi PR & Marketing terbilang sosok yang selalu ceria dan ramah. Seberapa besar tekanan pekerjaan pun ia hadapi dengan senyuman, dan hebatnya ia adalah sosok wanita yang ramah ke semua orang. Mulai dari rekan kerja satu level, hingga OB pun ia kerap bertegur sapa dan selalu tersenyum. Kami pun tak butuh lama untuk akrab, meskipun aku sendiri berbeda divisi dengannya. Aku berada di divisi Infrastruktur yang mengurusi segala urusan IT, mulai dari software, hardware, sampai dengan bandwith internet. Aku dan Winda pun sering meluangkan waktu bersama, ngobrol di jam istirahat hingga hangout di akhir pekan atau sepulang kerja pun kerap kami berdua lakukan. Singkat cerita, Aku dan Winda memutuskan untuk mencoba melangkah lebih serius dengan memutuskan jadian. Berpacaran selama 3 bulan, akhirnya aku beranikan untuk memperkenalkan Winda kepada kedua orang tuaku di kampung halaman.

HARPITNAS (Hari Kejepit Nasional) emoticon-Big Grin, menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh karyawan, karena pekerja bisa mengambil cuti sehingga libur pun menjadi lebih panjang. HARPITNAS menjadi hari mudik dengan membawa Winda ke kampung halamanku. Rasa senang pun memang tak bisa aku kesampingkan, bisa ketemu dengan orang tuaku yang masih sehat, dan tentunya ada dorongan lebih karena Winda bisa bertemu langsung dengan Ayah dan Ibu. Melihat dari gerak-gerik dan respon dari Ayah dan Ibu, sepertinya memang mereka begitu senang dengan kedatangan Winda. Terbukti Ibu begitu sibuk menyiapkan hidangan yang sepertinya tak pernah ada di rumah dibikin ada. Kami ber-empat, aku, Winda, Ayah dan Ibu pun sempat keliling rumah saudara bersilaturahmi seraya mengenalkan Winda. Tak terasa udah tiga hari Winda berada di rumah ku, dan Minggu sore itu pun kami berdua memutuskan untuk kembali ke Semarang karena hari Senin sudah kembali bekerja. Di dalam perjalanan, Winda pun mencoba membuka obrolan akan kelanjutan dari hubungan kami berdua.

Quote:


Singkat cerita, kami pun sepakat untuk membina hubungan kami ke langkah yang lebih serius. Sebelumnya memang Aku sudah mengenal keluarga Winda dan mereka a dalah keluarga baik-baik dan mendukung hubungan kami karena dirasa kami sudah saling dewasa dan sudah bekerja. Sejak kepulangan ku ke kampung halaman, hubungan aku dan winda pun semakin lengket dan kami kerap bertanya kepada orang yang lebih duluan menikah. Kami kerap meminta advice  tentang apa dan gimana dengan kehidupan setelah menikah. Demi mengirit budget, kami pun berencan untuk tak tunangan, namun langsung menentukan hari pernikahan agar budget tunangan bisa kami alokasikan untuk membeli sebuah gubug untuk berteduh bagi kami berdua, dan anak-anak kami kelak.

Ring Ring... 14.14 WIB
Hari jumat adalah menjadi hari terakhir bekerja di minggu itu, aku sengaja berangkat lebih awal karena memang kondisi pekerjaan sedang banyak. Sesampai di kantor aku mengawali dengan menyeruput kopi dan menghisap sebatang rokok sembari memandangi daun-daun yang sedang menari-nari tertiup angin. Kemudian aku putuskan untuk kembali bekerja dan tak terasa Alloh memanggil lewat suara Adzan sebagai tanda panggilan sholat jum’at. Aku pun bergegas ke Masjid dekat kantor, yang lokasinya hanya sekitar 200 meter. Di tengah perjalanan aku pun sempat bertemu Winda dan mencoba menitip agar dibelikan makan siang yang aku santap setelah sholat jumat.
Setelah sholat jumat aku kembali ke kantor dan rupanya Winda sudah berada di kantin dan ia menungguku agar makan siang bareng. Makan siang kami lewati dengan menu biasa, pecel madiun (menu favorit) dengan minum air putih gratisan di kantor yang diambil dari dispenser satu-satunya di kantor. Jam makan siang usai kami berdua pun kembali ke ruang masing-masing untuk melanjutkan kerjaan yang sudah menunggu. Tak seperti biasanya, Pukul 14.14 WIB ponselku berbunyi dan dalam layart tampak nomor Ibuku yang melakukan panggilan.

Quote:


Sore itu pun aku putuskan pulang dengan diawali mencari tiket kereta menuju kampung halamanku di Tegal, Jawa Tengah. Rupanya keberuntungan sedikit tak berpihak. Tiket kereta pun terjual habis, sehingga aku putuskan untuk mudik menggunakan bus. Perjalanan aku tempuh hingga 5 jam karena kondisi jalanan yang macet dan hujan. Sesampai di rumah pun tepat tengah malam, dan kedua orang tuaku pun sudah lelap tertidur.
Pagi harinya, ibu membangunkanku dan segera untuk mandi dan bersiap-siap karena kami akan menuju suatu tempat yang rupanya ia sudah janjian dengan seseorang.

Quote:


Setelah mandi dengan mengenakan pakaian rapi, kami sekeluarga pun menuju tempat makan yang ada di pusat kota Tegal. Di sini ternyata teman ibu sudah datang duluan, dan mereka sudah menempati meja yang Ibu pesan. Dari meja tersebut tampak Pria dan Wanita yang seumuran dengan orang tuaku, dan tampak pula seorang gadis berambut panjang dengan mengenakan kemeja hijau bercelana hitam. Aku pun bergabung di meja ibu seraya bersalam-salaman sebagai iringan dikenalkan oleh Ibu.

Quote:


Aku pun menyambar momen itu dengan saling berkenalan dengan Pak Wija dan keluarganya. Dua keluarga ini pun akhirnya pesan menu favorit mereka, dan aku lebih banyak duduk terdiam sembari melihat obrolan seru dari para orang tua. Tak berselang lama, menu pesanan kami pun tiba diantar oleh pramu saji, kami pun bergegas makan sembari mencoba membuka obrolan dengan Sari. Suasana pertemuan itu pun berlangsung hangat, terjadi obrolan sembari menikmati hidangan di meja. Sampai suatu menit, di tengah waktu makan tersebut ibu pun mencoba obrolan mengungkapkan maksud dari pertemuan itu.

Quote:


Rupanya  pertemuan penting itu adalah usaha perjodohanku dengan anak dari teman sekolah Ibu dan Bapak. Kaget dan ada sedikit rasa marah kala itu tersulut karena di era teknologi masih ada saja kisah Siti Nurbaya. Aku pun berusaha menolaknya dengan baik-baik, mencoba menjelaskan kepada orang tuaku bahwa Winda adalah pilihan terbaik. Ia sudah bekerja dan berasal dari keluarga baik-baik, apalagi kami juga sudah menyusun rencana untuk menikah tanpa harus bertunangan.
Malam harinya aku menceritakan kejadian siang ini kepada Winda, mencoba berbagi cerita dan mencoba jujur kepadanya. Jelas hal ini membuat Winda kaget atas respon yang baik tat kala ia main ke rumahku dulu. Singkat cerita, pernikahanku dengan Sari anak Pak Wija pun segera terlaksana meskipun ada adu pendapat dan ngambek kepada Ibu yang berlangsung hingga sebulan.

Quote:


Aku pun Cuma terdiam dan bingung, kalau tak menuruti kemauan orang tuaku, aku takut menjadi anak yang durhaka. Sementara, kalau aku mengikuti kemauan Ibuku maka aku akan menjadi pria yang melukai hati lainnya, yaitu Winda.

Asal Ibu Bahagia
Setelah melewati berbagai proses dari marah-marahan hingga suasana kerjaku yang sedikit terganggu, akhirnya keputusan untuk meninggalkan Winda adalah menjadi pilihan pahit yang harus aku pilih. Akhirnya aku dan Winda pun berpisah baik-baik, dan sepertinya winda berusaha memperlihatkan akan mengerti keadaanku, meskipun ia sendiri mengumpatkan rasa kekecewaannya. Kami berdua berpisah, kami putus dengan baik-baik dan tetap bekerja satu kantor meskipun ada rasa canggung setelahnya.
 [CERPEN] Demi Surga
12.12 2012 adalah menjadi hari pernikahanku dengan Sari yang semua itu adalah Ibu ku yang mengurusnya. Rasa cinta untuk Sari memang tak ada sama sekali saat itu, namun aku tetap menjalani pernikahan tersebut dengan ikhlas. Setelah kami menikah, Sari pun akhirnya memutuskan untuk ikut denganku dan tinggal di Semarang. Stelah pernikahan memang terlihat hubungan kami yang canggung, bahkan sekali waktu Sari mengutarakan akan unek-uneknya.

Quote:


Mau tak mau aku pun menjalani kehidupan ku dengan Sari kala itu, sampai akhirnya aku melihat kalau Sari adalah orang yang baik juga. Tak sekedar seorang istri yang menyiapkan makanan dan mencuci pakaian, dan melayani suami di tas ranjang saja, namun ia juga istri yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang baik sehingga ia punya pandangan sendiri dalam hal menghasilkan uang.

Perjalanan pernikahan yang awalnya terpaksa ini pun sudah berjalan hingga sekian lamanya, sampai seketika kami berdua pun dipercaya oleh Alloh SWT dengan diberi momongan perempuan kembar. Kami pun sepakat untuk memberinya nama Winda dan Windi. Awalnya nama itu pun menyulut pertentangan, terutama dari Ibu ku yang beranggapan aku tak bisa move on  dari Winda. Tapi ini lah salah satu cara untuk mengabadikan Winda, sebagai nama yang pernah ada dalam kehidupanku. Sejak perpisahan dengan Winda kala itu, aku dan winda pun tak pernah ketemu. Karena selang 2 bulan kami putus, Winda memilih untuk hijrah ke Ibu Kota demi mengejar mimpinya kerja di kantor multinasional.

Itulah ceritaku (Anto) yang demi ibu apapun akan aku lakukan. Aku rela dan ikhlas mengubur mimpiku menjadi seorang arsitek, bahkan aku rela menikahi perempuan yang memang baru aku kenal demi membuat Ibu ku bahagia. Karena aku sadar, bahwa surga ada di telapak kaki Ibu...


Whitehats, Semarang, 23 Februari 2020

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rrputro dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh whitehats
Untuk ku sajah...
Untuk ku saja (2)
Salut buat mas anto yang ikhlas.
Susah nemuin orang yang kaya gitu zaman now. Malahan ada juga yg banyak nemuin jodoh dari online.
Berasa baca novel
Ane nitip sandal jepit dulu, takut nih thread rame jadi ambol tikar dulu biar duduk paling depan.
emoticon-Matabelo
profile-picture
rindudihati memberi reputasi
Dulu aku juga mau dijodohin cuma menolak dengan cara minggat.
Akhirnya ga jadi deh
profile-picture
enopandarmawan memberi reputasi
Anak baik agan ini
Ane kash cendol deh
profile-picture
enopandarmawan memberi reputasi
Pilihan yang sulit yah Gan
Tapi menarik ceirtanya
Semoga jangan tergoda mantan yak kalau ketemu emoticon-Ngakak
Dilema
Surgamu belum tentu sama dengan surgaku

emoticon-Nyepi
profile-picture
indra.blora memberi reputasi
Semoga Anda bahagia.
hmmm boleh juga nih
profile-picture
enopandarmawan memberi reputasi
Diubah oleh indra.blora
Hmm mengharukan sekali gan, jadi terbawa suasana emoticon-Meweks
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
duh jadi keingat sama emak di kampuang emoticon-Mewek
kadang emang jadi anak harus ngalah gan
toh agan seakrang bahagia kan? biasane ortu emang udah ngerti yg terbaik buat anaknya.
apalagi agan katanya anak satu satunya. semoga langgeng yah Gan..

btw winda cakep ga, kalau cakep masih jomblo buat ane aja gan emoticon-Ngakak
menyedihkan gan emoticon-Mewek
 [CERPEN] Demi Surga
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di