CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
KETIKA AVIN JATUH CINTA (CERPEN)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e455c11a72768738e180c60/ketika-avin-jatuh-cinta-cerpen

KETIKA AVIN JATUH CINTA (CERPEN)



KETIKA AVIN JATUH CINTA



“Bang Avin ..., satenya satu porsi, ya.”

Avin menengok pada sumber suara yang sudah tak asing lagi di telinganya.
Tuti, gadis kampung sebelah yang sejak beberapa bulan terakhir ini mengisi relung hatinya.

“Eh, Tuti. Sendirian aja?” tanya Avin dengan menyunggingkan senyum termanis yang dia punya.

“Kelihatannya gimana?” balas Tuti dengan seulas senyum yang juga tak kalah manis. Membuat hati Avin untuk beberapa saat seperti terbang ke atas awan.

“Makan di sini?” tanya Avin lagi yang dibalas dengan anggukan dari Tuti.

Avin segera menyiapkan pesanan Tuti. Dibolak-baliknya beberapa tusuk sate di atas perapian. Lalu menyiapkan sepiring nasi dan bumbu sate. Tak berapa lama pesanan Tuti pun siap. Avin segera mengantarkan pada gadis pujaannya yang sedari tadi entah mengapa terlihat terus memerhatikan dirinya.

“Tuti, ini pesananmu.”

Gadis berambut lurus sebahu itu segera menerima pesanannya. Matanya berbinar melihat seporsi sate jamur dengan tampilan dan aroma yang sungguh menggugah selera.

“Terima kasih,” ucap Tuti pada Avin yang tanpa sadar terpaku melihat dirinya.

“Ehemmm!” Tuti pura-pura batuk membuat Avin tersipu malu dan segera menundukkan pandangannya.

“Eh, maaf. Silakan dinikmati.”

Avin segera kembali untuk melayani pelanggan yang lain, akan tetapi perhatiannya tak pernah lepas dari Tuti yang mulai menyuapkan nasi putih dan sate jamur kedalam mulut mungilnya.

Tuti yang sesekali melihat ke arahnya membuat pandangan mereka beradu beberapa saat. Hingga sukses membuat jantung Avin kebat-kebit, apalagi saat melihat seulas senyum manis tersungging dari bibir indah Tuti. Hati Avin seketika bagai tersesat di taman bunga.

Setelah menghabiskan makanannya Tuti kembali menghampiri Avin. Pemuda berkulit sawo matang itu segera mengalihkan pandangannya pada pesanan pelanggan lain.

“Bang, nih bayarnya.” Tuti mengangsurkan beberapa lembar uang ke tangan Avin yang diterima dengan sedikit gemetar.

“Makasih, Tuti. Besok ke sini lagi, ya,” ucap Avin seramah mungkin.

“Mau aja kalau digratisin, sih.” Tuti mengerlingkan matanya sambil tertawa kecil. Membuat dada Avin bergetar hebat.

“Boleh, buat Tuti apa, sih yang enggak.” Mata Avin mendadak berbinar.

‘Tuti, andaikan kau tahu kalau aku sangat menyayangimu,’ batin Avin sambil menatap punggung Tuti yang berlalu meninggalkannya.

Keesokan harinya Tuti kembali datang ke tempat Avin berjualan sate jamur.

“Bang Avin ...,” panggil Tuti dengan lembut membuat Avin untuk beberapa saat mematung.

“Bang ...,” panggil Tuti sekali lagi.

“oh, eh, Tuti.” Avin gelagapan menjawab panggilan gadis berkulit putih mulus itu. “ Mau pesen sate lagi?”

“Enggak, Bang. Aku mau bantuin Bang Avin aja. Boleh nggak?”

Mulut Avin seketika membentuk huruf O.

“Mau membantuku? Yang bener, Tuti?” tanya Avin tak percaya.

“Iya. Boleh, kan?”

“Oh, tentu saja boleh.”

Avin segera memberi tahu apa saja yang harus dikerjakan Tuti. Hatinya mendadak riang. Dia nampak lebih bersemangat berjualan.

‘Kenapa Tuti tiba-tiba mau membantuku? Apakah dia diam-diam juga suka sama aku?’ batin Avin sambil mengulum senyum memerhatikan Tuti yang nampak bersemangat membantunya. Setelah jam delapan malam Tuti meminta izin pada Avin untuk pulang.

Begitulah setiap hari selama hampir dua minggu Tuti selalu datang jam tujuh malam untuk membantu Avin dan pulang setiap jam delapan malam. Saat membantu, Tuti banyak bertanya tentang usaha sate jamur yang sudah dirintisnya selama lebih dari dua tahun. Hingga membuat Avin yang biasanya grogi bila berbicara dengan gadis periang itu--karena ada rasa yang dipendam, sekarang menjadi lebih santai. Bahkan sangat akrab.

Malam ini langit tampak cerah, bulan terlihat bulat penuh menggantung di langit yang dilapisi awan-awan putih dan bintang-bintang nampak berkelap-kelip. Membuat suasana tampak romantis, tak terkecuali buat Avin yang malam ini pun masih dibantu oleh Tuti, gadis pujaan hatinya.

Kebetulan pelanggan tidak terlalu ramai, hingga dua anak manusia berlainan jenis itu bisa mengobrol santai.

Avin yang akhirnya tampak terbawa suasana, mencoba memberanikan diri mengutarakan isi hatinya pada Tuti.

“Tuti, aku senang sekali kamu mau membantuku tiap malam.”

Tuti memperlihatkan senyum lebih manis dari biasanya, membuat hati Avin berdegup lebih kencang.

“Aku juga seneng diperbolehkan membantu Bang Avin. Aku jadi tahu banyak hal tentang bisnis sate jamur ini. Makasih, ya, Bang.”

“Tuti ....”

“Ya, Bang.”

Sekali lagi Tuti menghadiahkan senyum manisnya, hingga hati Avin serasa ingin terloncat dari dadanya.

“Kamu mau enggak jadi pemilik warung sate ini?”

Tuti tertawa renyah, lalu katanya, “Aku memang ingin memiliki warung sate, makanya aku tiap malam bantuin Bang Avin sekalian belajar.”

Hati Avin mendadak berbunga-bunga mendengar jawaban Tuti. Dia semakin yakin kalau Tuti pun diam-diam menaruh hati padanya.

“Tuti ..., kalau kamu entar jadi istriku, kamu nggak usah susah-susah bantuin. Kamu cukup temenin aja di sini, biar aku jadi semangat.”

“Istri?” tanya Tuti dengan bola mata membulat.

“Iya, Tuti. Aku sudah lama mencintaimu. Kamu tiap hari mau bantuin aku karena kamu juga suka sama aku, kan?” tanya Avin antusias. Dia sangat yakin kalau Tuti pasti mau menerimanya.

“Ta—tapi, Bang.”

“Aku akan segera menemui orang tuamu untuk melamar, Tuti.”

“Ja—jangan, Bang.” Tuti nampak panik.

“Kenapa, Tuti?” tanya Avin sambil mengerutkan dahi. “Bukankah lebih cepat menghalalkan lebih baik? Biar nggak jadi fitnah.”

“I—ya, tapi ....”

“Tapi apa, Tuti?”

“ A—aku sudah punya pacar, Bang.”

Avin nampak kaget.

“Terus kenapa tiap malam kamu mau membantuku?”

“Kan, aku tadi sudah bilang. Aku Cuma mau belajar tentang bisnis sate jamur ini. Pacarku baru saja di-PHK dan kami berencana membuka bisnis sate jamur di kampung sebelah. Abang enggak keberatan, kan?”

Jawaban Tuti terdengar bagai petir yang menyambar di telinga Avin. Membakar hingga hangus taman bunga yang semula bermekaran di hatinya.

Bogor, 301219
profile-picture
profile-picture
profile-picture
uliyatis dan 4 lainnya memberi reputasi
bismillah
profile-picture
rinafryanie memberi reputasi
kasian Avin... hatinya ikut gosong sama sate
bisa aja Mba Rins😄
akhirnya tragis ya sista. kasihan
profile-picture
dewiri memberi reputasi
Sakit banget tuh hatinya Avin emoticon-Belomatabelo
profile-picture
dewiri memberi reputasi
Diubah oleh peggimiru
Quote:


Belum jodoh Sis😁
Diubah oleh dewiri
Quote:


Hancur Sis
Dduh, sakitnya ya jadi Avinemoticon-Frown
Quote:


Sakit banget Sist
JDYER! Avin yang sabar ya;(((
profile-picture
dewiri memberi reputasi
Quote:


Iya (sambil ngelap air mata sama ingus)
profile-picture
raaaaud20 memberi reputasi
hm, bertepuk sebelah tangan?
profile-picture
dewiri memberi reputasi
Diubah oleh uliyatis
Quote:


Aku tau itu sakit (sambil menahan air mata yang membendung)
profile-picture
dewiri memberi reputasi
Quote:


Perihhhh
Quote:


Cup cup cup, ga usah ikutan nangis
Quote:



emoticon-Wink) Tak tertahankan
Quote:


Ya sudah lepasin aja😀
sakit banget nyesek


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di