CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e27f9e6f4d6955cbe0390ea/proposal-tunangan

Proposal (Tunangan)

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Laa ilaha illa Allahu Allahu Akbar . . .

'Idul Fitri 2017

Hari pertama lebaran.

Semarak umat muslim merayakan hari kemenangannya.

Anak-anak bersuka cita atas salam tempel dari keluarga dan tetangga.

Keluarga kecil dan besar silaturrahim.

Tring.. chat dari Anjani.

Jam 10 kita ke rumah Ustad Asmuni, habis itu ke rumah Ustadz Yunus.

Siaapp. balasku.

                                                             ***

Makanan telah berjejer di meja kediaman Ustadz Asmuni .

Aku, Anjani, Dafiq, Ustad Qayyim dan keluarganya menikmati hidangan yang tidak akan pernah kami sia-siakan.

Tentu ada opor ayam salah satunya.

Ngalor ngidul obrolan kami.

Jam 11.30 tidak kami rasa.

Pamitan.

"Ini Anjani sudah ada calonnya belum?" Tanya Ustad Asmuni 

"Masih kuliah ustad." Jawabnya ringkas

"Kalau Dino sudah ada belum?" Tanya Ustadz Asmuni  padaku

"Belum Ustad. Adakah calonnya ustad? Hhh" jawabku bercanda

"Baru selesai S2 Dino Ustad." Timpal Ustad Qayyim

"Alhamdulillah. Kalau mau ada anak panti nih. Hafidzah. Tinggal di asrama." Tawar Ustad Asmuni.

"Nahh.. bisa itu ustad. Hafidzah lagi. Mantab itu" ucap Ustadz Qayyim tersenyum lebar melihat saya.

"Bisa nanti saya atur." Kata ustad Asmuni 

Pelan-pelan kami meninggalkan kediaman beliau sambil ngobrol kembali tentang hafidzah itu. Hehehe..

12.30

Memasuki Pondok Istiqomah ke asrama putri menuju rumah Ustad Yunus. Sebab rumah beliau tepat di belakang asrama putri. 

Nampak akhwat-akhwat dengan jilbab besarnya masih berkeliaran sambil bercengkrama dengan kawannya.

Mereka tidak meninggalkan asrama karena mungkin belum bisa pulang kampung untuk 'idul fitri kali ini.

Adzan zuhur telah berkumandang.

Saya, Anjani dan Dafiq menuju masjid terlebih dahulu. Ustad Qayyim langsung melintir ke rumah ustad Yunus.

Usai sholat kami pun langsung menuju kediaman Ustadz Yunus. Bersalaman dan tentunya. . . makan lagi. hhhh

Sambil menyantap makanan untuk yang kesekian kalinya,  sembari itu ustad Yunus meminta untuk berfoto bersama.

Perut kenyang dan kami pamit pulang.

Berjalan menuju kendaraan, Ustad Qayyim lirih berkata.

"No. Ustad Yunus mau kamu loh."

"Hah? Maksdunya Ustad?!" Tanyaku penuh keheranan

"Dia melamar kamu. Menjodohkan kamu dengan anaknya."

"Apa sih ustad ni."

"Beneran. Tadi beliau sendiri yang berucap seperti itu sebelum kalian datang."

Sedikit kaget, Ku rangkul Dafiq  dari sebelah kiri yang berjalan sejajar dengan diriku.

"Laki-laki kayak aku gini. Apa sih. Masih banyak banget kurangnya. Laki-laki macam apa aku ni. Bentukan dan kelakuannya kayak gini. hhhh.." Ucapku menutup keheranan dan rasa tak percaya

"Yaudah. Sekarang kamu fikirkan. Kamu dilamar Ustad Yunus loh. Bagus itu. Masya Allah."

Penutup kalimat dari Ustad Qayyim.

Kami pulang ke kediaman Ustad Qayyim terlebih dahulu.

Sambil membawa motor aku membonceng anak Ustadz Qayyim yang pertama, mengantarkan ia pulang sebelum aku kembali ke rumah.

I am so speechleas.
Aku baru selesai pendadaran tesis.
Dijodohkan dengan anak ustad.

Di motor aku menangis bahagia.

Apa yang kamu rencanakan ini ya Allah. 

Air mata menetes dan mulai membasahi pipi.

yaaa.. aku berfikir sederhana saja. Rezeki yang Allah berikan tidak pernah diduga. 

Ada juga rasa ingin menikah. Tapi tidak secepat ini.

Di samping itu aku masih ingin meniti karir sebagai dosen.

Ya. selama melanjutkan studi S2, aku sebagai dosen di kampusku sendiri.

Sambil membawa motor hatiku benar-benar berkecamuk tak karuan.

Bagaiman kalian merasakan seperti itu wahai pria yang membaca tulisan ini??

Pria yang dilamar oleh bapak perempuan.

Sedangkan aku tidak pernah tahu anaknya yang mana? Namanya siapa? Usianya berapa? Pasti banyak pertanyaan yang muncul.

It's logic.

Aku kembalikan kepada sang Maha Menjodohkan.
Ini benar-benar kuasa Allah.
Kun fayakun.
                                                                 ***

Go Home

Aku pulang. Melihat keponakan sedang ngobrol dengan Ibu. Keponakan dari anak sepupuku. Tinggalnya di Palaran. 30 menit dari Samarinda.

Keponakan pamit pulang kembali ke rumahnya setelah silaturahim k rumah mbahnya yaitu Ibu ku.

Tak lama kemudian aku memeluk Ibu dan berbisik di telinga Ibuku.

"Aku dilamar." 

"Hah!?" Ibu terkejut "Siapa yang ngelamar kamu?!"

Kakak dan Ipar pun kaget.

Karena tepat mereka juga ada di ruang tamu.

"Hah?! Siapa yang ngelamar kamu?" Tanya Kakakku

Ku ceritakan kembali kejadian tadi.

"Aduuhh.. anakku kok malah dilamar. Bukan melamar."

"Hhhhh..." Kakak dan Ipar ikut ketawa

"Oshin. Om dilamar shin." Ucap Kakak ajak ngobrol anaknya.

Ibu shock. Sungguh shock.

Aku telepon Ustad Qayyim untuk dapat menjelaskan lebih lanjut perihal itu.

Ada sesegukan yang ku lihat dari wajah ibu saat berbicara dengan Ustad Qayyim ditelpon.

Entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti ibu masih shock.

Bersambung . . . 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 8 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
Cerita ini sama dengan di Forum Latihan Posting.

karena aku memang masih noob di kaskus. hehehe
profile-picture
tabernacle69 memberi reputasi
+ 1 for today. emoticon-Matahari
Diubah oleh Uncle.Turtle
Part 2


Sejak sore Ustad Qayyim telah bertandang di rumahku beserta istri dan lima anak beliau, untuk menjelaskan dan memberikan keyakinan atas lamaran ini kepada Ibu.

"Saya dulu waktu menikah belum ada penghasilan tetap bu. Alhamdulillah sekarang Allah lancarkan keuangan kami." Tutur Ustad Qayyim meyakinkan bahwa semua diawali dengan kekurangan.

Ibu aku sangat belum siap melepaskan anak lelaki terakhirnya.

Obrolan sore itu masih seputar lamaran yang begitu mendadak.

PRIA YANG DILAMAR.

Huh . . Rasa ingin mengolok diri ini. Aku melihat ke dalam diriku yang serba kekurangan. Sungguh pilihan yang keliru. Gumamku dalam hati.

Aaiiisshh . . Aku tidak tahu lagi harus berkata apa.

Apa sih yang aku miliki . . Why me?? I have nothing.

Aku bingung.

Menetes lagi air mataku.

Mungkin kalau kamu baca tulisan ini. Menyimpulkan kalau penulisnya cengeng. Yahh . . Cara aku meluapkan emosi kebahagiaan.

Allahu Akbar.

Tess..

*

Ku tutup pintu kamar sekaligus mematikan lampu.

Jendela kamar ku biarkan terbuka. Menatap jauh ke langit malam. Bintang-bintang masih bertabur di langit malam. Indah.

Ya Allah . . .

Ya Allah . . .

Ya Allah . . .

Just it. I said.

Aku tidur lebih awal dari biasanya. Jam 10 sengaja aku ke kamar terlebih dahulu dari keluargaku.

Lelap.

*

Paginya Ibu cerita kalau beliau tidak bisa tidur dengan tenang.

Kepikiran anak laki-lakinya.

She's so confused.

"Kalau emang udah jalannya diikuti aja bu." Kata kakak sambil suapin Oshin.

"Bunda Frozennya bagus loh." Ucap Oshin sambil nonton frozen di tv yang dimulutnya masih terisi makanan.

"Yaah . . Maksud Ibu itu, biarkan Dino meniti karirnya sebagai dosen. Kan nanti bisa lanjut S3. Kalau udah punya istri trus ada anaknya kan banyak biaya yang dikeluarkan" Kata Ibu yang sudah jauh pikirannya kedepan.

"Kalau itu kan masih ada waktu. Biarkan dulu Dino istirahat, toh dia juga baru menyelesaikan masternya. Kalau sudah menikahkan istrinya juga paham. Temanku loh yang ambil S3 di luar aja bisa ajak anak istrinya lagi. Dapat biaya full malahan." Balas Kakak dengan maksud baik.

"Wees..nggak tahu dah. Ibu masih bingung."

Kata penutup Ibu sambil mengunyah tahu goreng dengan rasa tak nafsu.

Ibu cuman bisa menghela nafas panjang. Hembusannya terasa lelah.
Menampakkan kebingungan.
Rasa tak percaya masih merasuk dalam raganya.

Tak percaya.
Sungguh tak percaya.

Jika kamu diposisi Ibu ku, apa yang kamu fikirkan?

Think's that.

Panjang obrolan pagi hari itu.

Aku diberi waktu tiga hari untuk menentukan jawaban yes or no oleh Ustad Qayyim.

Just it.

Bayangkan.
Aku laki-laki yang dilamar. Aku pun yang harus menjawab deal or no deal.

LUCU!

Apakah begini ketika perempuan dilamar?

Tapi apakah ada laki-laki yang bernasib sama denganku?!

Allahu Akbar!!!

Aku pun sungguh bingung.

Modal apa??!
Aku bukan dari orang kaya.
Ibuku seorang penjahit.
Penghasilan juga masih belum seberapa dari hasil aku kerja selama ini.
Aku bukan orang cendikiawan yang luas ilmunya.
Bangun subuh kadang kesiangan. Meskipun tetap sholat sih.

Wahai perempuan asing

Apakah kamu mirip nikita willy?

Nia Ramadhani?

Raisha?

Whitney Houston?

Atau Mi. . . .

Ah sudah lah..

Who are you?

Bersambung . . .

profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 2 lainnya memberi reputasi
Part 3


Lebaran ke-3

Rutinitas yang tidak boleh ditinggalkan saat lebaran ialah silaturahim ke rumah keluarga.
Terutama rumah sepupu yang selalu menyediakan hidangan bakso di hari lebaran.
My favorite. Hehehe..

Dari pagi keliling mengunjungi rumah keluarga tak disangka telah menjelang sore.

Ba'da Isya aku ke rumah Anjani dan Dafiq. Mereka tinggal satu atap.

Mereka sepupuan.

Duduk lesehan menikmati camilan lebaran yang aku bawa dari rumah.

"Kayak apa No, sudah ada jawabanmu kah?" Tanya Dafiq

"Nggak tahu fiq. Bingung juga." Balasku

"Masya Allah loh itu. Kamu langsung dilamar Ustad Yunus. Di mana-mana cowok yang melamar cewek, ini kamu langsung bapaknya. Ustad Yunus lagi. Kurang apa coba hhh." Ucap Dafiq berusaha menghibur kegalauanku yang tak kunjung usai.

"Ustadz Yunus gitu loh." Anjani menambahi.

"Gitu ya?" Kataku lemas

"Ya ialah. Secara Ustad Yunus. Tahu sendirikan beliau itu kayak apa."

"Heemmm...ituu sudah Fiq. Aku ini siapa gerang (logat Samarinda). Kok aku gitu loh. Haish. G ngerti aku dah." Kataku dengan sedikit mengacak rambut

"Assalamu'alaikum."

Suara Ustad Qayyim mendadak sudah di depan pintu rumah.

"Wa'alaikumsallam." Jawab kami serentak

"Dino bingung puang (paman) hhh." Kata Dafiq mengolokku

"Ustad Yunus tidak mungkin sembarangan memilihkan jodoh untuk anak-anaknya . . ." Ucap Ustad Qayyim sembari duduk sebelahku mengunyah kuping gajah " Jika memang kamu adalah pilihan untuk anaknya, maka kamu lah calon mantunya." Sambung beliau

Aku diam. Mengunyah kacang sembunyi.

Yang hanya bisa aku lakukan.
Sholat istikhoroh dan tahajud.

Dua hari berturut-turut aku lakukan.

Sudah barang tentu aku meminta petunjuk dan memantabkan hati, apakah benar ia jodohku??

Malam sudah semakin larut.
Obrolan kami masih seputar lamaran dan perihal lainnya.

Pkl 22.00 Wita aku pamit meninggalkan mereka bertiga.

Ku susuri dinginnya malam Samarinda dan ku tengok kanan kiri jalanan, masih kental hari lebaran.

Sepanjang perjalanan pulang, aku membisu.

Biasa aku bernyanyi.

Kali ini tidak.

***

Bismillah.

Awal yang positif.

Pkl 09.25 Wita

Ku cari kontak telpon atas nama Ustad Qayyim.

Ketemu.

Calling. . . .

"Assalamu'alaikum." Jawab Ustadz Qayyim di seberang telepon.

"Wa'alaikumsallam Dino." Jawabnya

"Sibuh kah ustad?"

Basa basi macam apa ini hhhh

"Lagi enggak Dino."

"Begini ustad. Setelah saya memikirkannya melalui sholat istikhoroh dan tahajud. Semoga ini jalan yang Allah tunjukkan pada Dino. Bismillahirrohmanirrohim. . ." Aku menutup mata meyakinkan hati menarik nafas panjang ". . saya menerima lamaran Ustad Yunus. Saya bersedia!" Jawabku penuh keyakinan tanpa ragu dan terus berdzikir atas nama Allah SWT.

"Alhamdulilllaaaah. . . " Ucap beliau dengan penuh bahagia di seberang telepon "Kalau begitu saya sampaikan dulu berita gembira ini ke Ustadz Yunus. Biar beliau mengatur untuk selanjutnya."

"Ia ustad. Rencana kami mau silaturahim ke rumah beliau."

"Bagus kalau begitu."

"Saya minta tolong ustad sampaikan ke beliau kami akan berkunjung . . "

Pembicaraan ditelpon masih berlangsung santai dan diiringi candaan.

***

"Kayak apa cewekmu bos? Dah ikam (kamu) lamar kah?" Tanya Igun ke Oden

"Belum wal (kawan). Masih nunggu pitis (uang) runtuh dari langit. Hhh" Jawab Oden

"Uang tuh ada aja pang. Cuman ceweknya ni kadang minta lebih. Bukan ceweknya. Keluarganya. Wkwkwk" Timpalku diiringi tawa bersama.

"Ikam pang No. Sdah ada kah cewekmu?" Tanya Oden

"Belum laah.. aku loh masih santuy. Masih kuliah broo . . "

"Apalagi ditunggu." Potong Igun

"Kalau aku tuh. Bukan aku yang melamar perempuan. Tapi perempuan yang melamar aku wkwkwk." Sambungku

"Bungul ikam (bodoh kamu)." Kepalaku ditoyol Igun.

Kami tertawa di cafe sambil menikmati minuman masing-masing.

Sebab aku tak begitu mengidolakan kopi. Aku memesan es coklat.

Syukurnya, kami tak merokok. Dan tak ada yang menyumbangkan racun diantara kami

Sering teman-teman membahas malah jodoh. Aku selalu menjawab hal yang serupa.

Kata bercanda yang jadi kenyataan.

Ini kah yang dinamakan kualat dan karma menjadi satu.

OMG

Bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Yups, betul. emoticon-siul

Next update di sini lagi saja, jangan buat thread baru.

Karena cepat/lambat 2 Thread kamu yang di sana juga bakalan dihapus sama moderator.

Terima kasih. emoticon-Angkat Beer
Apa tanggapan kamu ketika kamu, sebagai pria yang dilamar bapak perempuan. Bahkan kamu tidak mengenali perempuan itu??
Quote:


Pian punya hak malihati dulu kayak apa bebiniannya wal
Tapi kalo kada pun,hak pian jua
Semoga jodoh yang barokah gasan pian wal
profile-picture
Dinopecel memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Lain, lahore wal
Tapi mama ku urang banjar
Beisi kawal banyak urang samarinda, kuliah di unmul
Lihat 1 balasan
Quote:


Bujur wal ae
Salam kenal jua
Kawalan ku rata rata unmul fak. Hukum wal
Post ini telah dihapus oleh KS06
Part 4

Lebaran ke-7

Kalian tahu kisah di daerah Sumatera ? Bahwa sebelum berlangsungnya pernikahan proses lamaran dilakukan oleh pihak perempuan ke pihak pria yang diinginkannya ?

Aku tidak begitu tahu jelas mengetahui apakah  itu cerita rakyat atau memang benar adanya?

Aku bukan dari keturunan Sumatera.

pikirku.

***

Setelah aku setuju atas lamaran itu. Kami pun menjadwalkan untuk pertemuan keluarga terlebih dahulu.

Sorenya aku mencari buah tangan.

Ba'da maghrib kami meluncur bersama keluarga kecilku; Ibu, Kakak, Ipar dan Keponakan kecilku menuju kediaman Ustad Yunus.

Ya. Di belakang asrama putri.

Pertemuan ini lebih tegang dari ujian tesis.

Lebih terasa mengerikan saat dosen penguji akan membuang tesisku ke tong sampah jika tidak diperbaiki.

Aku buat diri senyaman mungkin diri ini..tarik nafas..hembuskan...tarik nafas...hembuskann.. Namun tetap nervous.

Obrolan santai antar keluarga berjalan dengan baik.

Basa basi ringan untuk membuka pembicaraan ke arah tersebut.

"Ambil S2 nya di mana din?" Tanya Ustad Yunus

"Unmul ustad. Ambil Ilmu Lingkungan. S1 ambil Kesehatan Masyarakat." Tanya Ustad Yunus yang sebelumnya memang sudah tahu aku telah menyelesaika master.

Pertanyaan ini sebenarnya untuk memberi tahukan kepada keluarga lain pendidikan dan pekerjaan aku sehari-hari.

Jajanan lebaran tersaji di depan kita.

Tawa ringan masih menyelimuti pertemuan itu.

"Vii..viii.. sini vii.." Ustad Yunus memanggil perempuan asing itu.

Perempuan asing itu bernama vivi.

Deg.

Ia melewatiku.

Ia mendatangi Ibu yang tepat di sebelahku.

Ia datang duduk bersimpuh depan Ibu bersalaman kemudian menyambung ke Kakak.

Ia duduk tepat dibelakang Ibu nya.

Lebih tepatnya sembunyi.

Aku?

Apa yang aku perbuat saat dia datang?

Tentu kamu sudah tahu.

Mengajak salaman.

Hhhh..

Tentu tidak mungkin.

Aku begitu sungkan.

Belum begitu berani menatap wajahnya.

Wajah perempuan asing itu atau lebih tepatnya sebagai calon istri aku kelak.

Malu.

Sempat aku melihat tangannya yang kurang berisi.

Aku fikir dia kurus.

"Ini vivi bu. Masih kuliah. Wajahnya mirip dengan Ibu nya waktu muda. Kalau mau lihat Ibu nya waktu muda, ya vivi ini."

Jelas Ustad Yunus sambil diiringi canda dan tawa ringan di antara kami.

Keluarga kami saling memberikan penjelasan dan tanya jawab seputar lamaran itu.

Bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 2 lainnya memberi reputasi
Part 5

Universitas

2018

Satu tahun telah berlalu.

Kapan?

Pertanyaan ini muncul kala aku bertemu Ustad Qayyim. Sebab perantara Ustad Yunus ialah beliau.

Kapan. Aku dapat mempersunting dia. Perempuan yang bahkan aku tak tahu dia hobi makan pete atau jengkol.

Saat pertemuan itu hanya untuk saling mengenal, belum sampai jenjang pernikahan.

Sebab aku masih meniti karir dan ia masih semester tiga. Masih kuliah.

Oh My God.

Aku pun belum bisa menjawab dengan pasti kapan.

Keluarga Ustad Yunus khawatir kalau anaknya akan dilamar oleh pria lain.

Aku fikir wajar karena beliau memang orang yang sudah dikenal dan tentu anak-anaknya tidak luput dari sorotan publik.

Alhamdulillahnya mereka masih menunggu jawaban diriku.

Hanya aku yang ditunggu.

Masya Allah.

Seistimewa apa aku ini?

Terbersit dalam hati kecilku.

Astaghfirullah.

***

Oktober 2018

Raport hasil ujian Psikologi pemilihan dosen tetap telah keluar sehari yang lalu. Aku dan teman sejawat dosen lainnya menantikan itu, apakah kami menjadi dosen tetap di kampus?

Hasil yang aku miliki. Sama dengan tes sebelumnya, tidak lolos ujian.
Dua kali tes. Dua kali pula aku tidak lolos.

Baik. Untuk tes sebelumnya aku menerima hasilnya dengan ikhlas, karena belum ada persiapan sama sekali dengan alasan mengurus akreditasi fakultas.

Namun kali ini aku telah belajar secara serius kemudian tidak lolos.

Teman dosen lainnya juga bingung, karena terdapat satu item yang menyebabkan aku tidak lolos lalu tidak direkomendasikan sebagai dosen tetap.

Hari ini aku rencan menghadap rektor. Telah aku konsulkan rencana ini dengan teman dosen agar memberiku keyakinan.

Fight!

***

"Pak rektor. Semua item penilaian di sini saya baik. Hanya dikreatifitas nilai saya kurang, terus disimpulkan saya tidak lolos?" Tanyaku. Aku mendatangi beliau di kantornya setelah ia rapat dengan staff fakultas lain.
"Bapak rektor. . .” Sambungku “Saya sudah konsultasikan ini dengan dosen Psikolog dari kampus lain, bahwa raport yang saya miliki hanya sebagai rekomendasi saja. Mengetahui parameter mana yang kurang, kemudian dapat dilakukan perbaikan dikemudian hari. Selebihnya kembali pada universitas untuk merekrutnya, dilihat dia bekerja selama ini. Empat tahun saya membangun laboratorium bersama rekan saya Ibu Sri. Akreditasi siang malam hingga larut kami buat demi mendongkrak nilai akreditasi fakultas. Sekarang sudah menjadi B pak. Apakah itu belum cukup untuk rekomendasikan saya sebagai dosen tetap? Selain itu pak. Univeritas telah mensekolahkan saya habis puluhan juta untuk mengambil gelar master. Apakah universitas tidak rugi melepaskan saya karena tidak lolos ujian begitu saja??" Tambahku mencoba meyakinkan Bapak Rektor.

Kali ini aku sudah tidak ambil pusing. Rektor pun ku datangi.

Kurang loyalitas apa aku ini terhadap kampus?

Mau yang kreatif kayak apa maksud dari tes itu?

Benar-bener ya, yang nguji ini. Apakah tidak ada konsul dulu dengan pihak universitas bagaimana setiap individu yang bekerja di sini ketika ia tak lolos item tes Psikologi?

"Kalau ini sebenarnya tidak begitu masalah. Ia, saya juga bingung. Kenapa tidak lolos? Terutama kamu sudah disekolahkan universitas." Rektor pun bingung.

"Kalau begitu saya buat rekomendasi agar kamu tetap diurus sebagai dosen tetap."

Rektor pun menulis disecarik kertas rapot Psikologiku.

Ku perhatikan setiap detail coretan yang ia tuang di raportku.

Mengikuti perintah rektor. Raport itu aku berikan ke Kepala Bagian Umum.

Ku cari Ibu kepala, tapi hari ini cuti hingga minggu depan.

Ku letakkan saja raportku di atas meja beliau.

***

Minggu depannya aku dipanggil oleh Kepala Bagian Umum untuk menghadap.

Aku pun sudah duduk berhadapan dengan Ibu Kepala Bagian Umum.

“Dino kenapa langsung datangi rektor?” Tanya Ibu Hamiyah

“Saya heran saja bu. Kenapa, karena nilai saya yang kurang ini tidak direkomendasikan sebagai dosen tetap. ” Jawabku

“Tapi kenapa kok langsung ke rektor. Kenapa tidak ke saya dulu? Apakah ada yang menyuruh kamu?” Masih dengan pertanyaan yang sama.

“Karena saya tidak tahu alurnya, saya berinisiatif untuk langsung menghadap rektor. Tidak ada yang menyuruh saya bu. Ini karena keinginan saya sendiri. Saya jelaskan juga, kalau saya disekolahkan oleh universitas. Melepaskan begitu saja.” Jawabku lugas

“Begini Dino. Dari hasil ini kan sudah jelas, kalau tidak direkomendasikan. Ini sudah mutlak. Meskipun rektor memberikan catatan seperti ini, tidak akan ada perubahan. Karena peraturan mengikuti yayasan. Karena rektor berada di bawah yayasan, maka ia harus mengikuti aturan yayasan.” Ucap Ibu Hamiyah

“Baik kalau begitu bu. Jika memang ini sudah aturannya. Saya ingin bertanya. Universitas telah mensekolahkan saya, apakah saya akan mengganti rugi atas seluruh biaya yang telah dikeluarkan?”

“Berkaitan dengan biaya sekolah kamu, kami tidak bisa menuntut ganti rugi. Sebab dari fakultas kamu belum ada mengirimkan kontrak kerja ke kami.”

“Jika saya bekerja di tempat lain. Tidak akan ada tuntutan sama sekali?” Tanyaku lebih jelas

“Tidak akan ada tuntutan sama sekali. Jika ada tempat yang lain dan lebih baik menurut kamu monggo. Fakultas ini juga kalau rekomendasi orang yang bener coba.”

‘maksudnya? Ada apa dengan ibu ini. Kalau ngomong depan orangnya langsung. Kayak dia bener ja’ Kesalku dalam hati.

“Baik kalau begitu bu. Terimakasih atas penjelasannya.”

“Sama-sama Dino. Maaf kami tidak bisa bantu dan semoga kamu bisa mendapatkan tempat kerja yang lebih baik lagi.”

Pamit.

Aku jadi bingung. Yang rugi dan untung ini siapa sih sebenarnya??

Ok. Aku beruntung sudah disekolahkan gratis tanpa harus mengabdi di kampus.

Kampus rugi puluhan juta menghabiskan biaya untuk mensekolahkan aku.

Ya sudah lah.

Alhamdulillah rezekiku.

Aku melongo pergi.

Dan aku gagal sebagai dosen tetap.

Fine.

Bersambung . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 2 lainnya memberi reputasi
Part 6

Hari-hari biasa aku lalui seperti biasa di kampus. Mengajar dan menguji mahasiswa skripsi.

Namun masih terngiang sedihnya tidak bisa menjadi dosen tetap di kampus sendiri. Padahal itu cita-citaku bisa mengabdi untuk berbagi ilmu terhadap mahasiswa.

Kandas lah harapan.

SMS masuk dari sekeretaris prodi ditujukan pada petugas laboratorium rapat bersama dekan di fakultas.

Ada apa ni? Tanyaku sambil mencoret-coret proposal mahasiswa yang sedang sidang skripsi dihadapanku bersama dosen lainnya.

Aku menunggu depan kelas usai menguji mahasiswa. Janjian bersama Ibu Sri, selaku kepala laboratorium.

Kami berdua bertanya. Ada apa ini? Tumben-tumbenan.

Aku sedikit berharap. Informasi sebelumnya aku akan diangkat menjadi laboran setelah empat tahun mengabdi.

Aku akan diakui.

Baru akan diakui setelah sekian lama ini.

***

Duduk bersama di meja bundar (lebih tepatnya meja lonjong, namun kami menyebutnya meja bundar) fakultas. Sebelah kananku Ibu Sri.

Ujung meja bundar ada Bapak Dekan, sebelah kanan beliau Sekretaris Prodi dan di sampingnya Ketua Prodi.

Sebelah kiri Bapak Dekan ada Ibu karina.

Ibu Karina?

Ngapain beliau ikut duduk?

Tanyaku penuh dengan rasa penasaran.

Numpang duduk saja, pikirku sekejap.

Dekan membuka rapat dengan salam dan terimakasih atas kehadiran kami.

"Kami mengundang bapak ibu sekalian di sini dengan maksud untuk mengangkat laboran di Laboratorium Kesehatan Masyarakat." Kalimat pembuka

Ada harapan. Dalam hatiku.

"Mohon Ibu Rida, selaku Kaprodi untuk membacakan SK nya." Pinta Dekan

"Baik pak Suwigo." Ucap Ibu Rida "Surat Keputusan dengan nomor (membacakan nomor SK) mengangkat. . . " hatiku degdegan "Ibu Karina Wulansari, S.K.M., M.Si sebagai laboran Laboratorium Kesehatan Masyarat."

Saat itu juga aku langsung tersentak kaget.

Aku terdiam.

Kakiku menginjak lantai begitu kuat.

Tanganku mengepal.

Kenapa ini?

Ada apa ni?

Aku . . Aku . .

Aku ini sebenarnya siapa? Apakah aku tak dianggap selama mengurus laboratorium??

Ibu sri meminjam SK untuk ia lihat kebenarannya.

"Baik. Kalau begitu nanti kita atur untuk serah terima tupoksi dari Bapak Dino ke Ibu Karina." Jelas Ibu Sri dengan tenang.

Rapat selesai.

Tak ada kata maaf yang keluar dari mulut Dekan.

Aku dan Ibu Sri menuju laboratorium

Kami sangat bingung atas keputusan ini.

Ibu Sri juga tidak terima atas SK yang telah terbit.

Ibu Sri selaku Kepala Laboratorium tidak dianggap. Tidak diajak rapat untuk menentukan laborannya.

Ia menyayangkan atas SK tersebut.

Aku pun berkomentar.

Selama empat tahun aku telah berdedikasi untuk laboratorium, dari yang tidak memiliki peralatan lengkap sampai mahasiswa bisa praktikum.

"Ibu Kartin ini tahu apa tentang lab ini. Dia itu nggak ngerti. Kan yang dari awal mas Dino memang yang urus." Ucap Bu Sri dengan nada kesal

Aku begitu tersayat.

Sakit.

Aku begitu ingat kata-kata Dekan sebelum ia menjadi Dekan.

'Pak Dino. Kalau saya jadi Dekan, Pak Dino saya angkat jadi laboran. Karena Pak Dino sudah lama mengurus lab.'

Ingin ku ludahi kalimat itu.

Ya Allah.

Cerita ini telah menyebar ke teman dosen lainnya. Terutama geng dosenku.

Kenapa dengan Pak Dekan ??

Apa yang ada di pikiran dia ??

Bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan anwarabdulrojak memberi reputasi
ikut nyimak gan, sepertinya seru nih emoticon-Big Grin

janji manis emang kadang tidak sesuai kenyataan, pasti ada yg menggerakan itu dekan....
Lihat 1 balasan
mantab gan, lanjoott
Lihat 1 balasan
Quote:


Benar gan ane dari sumatra tepatnya sumatra barat ada beberapa bagian atau daerah yang dimana pihak perempuan yang pergi kerumah pihak laki laki untuk melakukan lamaran, tapi itupun tidak semua daerah tergantung dari budaya masing2 juga
Lihat 1 balasan
Quote:


Wah pasti dipantengin gan.

Pantesan kebanyakan gula, jadinya penyakit deh gan, terus kepikiran kenapa bisa gagal emoticon-Ngacir
Diubah oleh kaduruk
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Part 7

Sakit.

Luka dalam.

I am so speechleas.

Aku pulang.

Ku kunci pintu kamar.

Air Mata sebelah kiriku menetes disusul sebelah kanan.

Menurut pakar kesehatan jiwa. Jika yang menetes air mata sebelah kiri pertanda kesedihan.

Dan itu yang ku rasakan saat ini.

Ya Allah.

Sore itu aku duduk di lantai bersandar di pinggir springbed.

Ku lipat kedua kakiku dengan sudut 45 derajat. Tanganku bersila di atas lutut. Ku jatuhkan kepala di atasnya.

Mengalir deras air mata ini.

Hatiku meraung.

Aku menangis sejadi-jadinya. Mumpung tidak ada orang di lantai dua kamarku.

Hampa.

 No work.
 No money.

Tak menjadi dosen tetap, tak lagi bekerja di laboratorium.

Sampai aku kesal ketika melihat dua kejadian itu.

Ku seka kedua mata dan pipiku.

Kucari handphone di tas ransel merah maroon.

Aku search di Youtube mencari video teknik bunuh diri .

(Ups sorry. Canda. Hehehe)

Video motivasi bangkit dari keterpurukan.

***

Keesokan harinya aku kembali ke kampus.

Tak ada gairah semangat yang aku bawa dari rumah.

Ku susuri jalanan semen dihiasi pohon-pohon kanan kiri.

Mahasiswa asik bercengkarama di berbagai tempat.

Ku lewati seluruh anak tangga di gedung C.

Telah sampai aku di lantai empat, tempat biasa aku beristirahat, bekerja, mengajar dan bergosip dengan rekan-rekan dosen lainnya.

Ku diam sejenak menatap pintu bertuliskan tempelan kertas yang telah dilaminating . .

LABORAORIUM KESEHATAN MASYARAKAT

Sedikit senyum untuk menguatkan diri ini.

Aku masuk ke ruangan.

Bruk.

Begitu lemah sekali aku menjatuhkan pantatku di atas kursi yang sering kali menjadi tempat aku bekerja.

Ku lihat sekeliling ruangan.

Aku akan meninggalkan ruangan ini.
Semua kenangan ini.

Hari ini aku akan merapikan semua barang milikku. Meja ini bukan jadi hak milikku lagi.

Ku susun rapi semua berkas, buku, modul praktikum dan lainnya jadi satu di atas meja.

Aku berjalan ke ruangan kecil khusus.

Terlihat dua lemari besi berjajar rapi. Ku buka satu persatu pintu lemari itu.

Ku lihat peralatan dan bahan laboratorium.

Tabung reaksi, tabung durham, spatula, chloroform, eosin, alkohol . . . Mataku masih berputar pelan mengitari semua yang ada di depan mata.

Rindu.

Aku masih bersyukur tersisa beberapa mata kuliah. Sehingga masih tetap bisa mengajar dan praktikum.

Keluar aku dari ruang kecil membuka connecting door menuju ruang praktikum.

Meja dan dinding putih khas ruangan laboratorium.

Berjejer juga poster-poster besar bertuliskan informasi mengenai ilmu identifikasi, petunjuk praktikum dan lain sebagainya.

Ku lihat dari kejauhan di ujung ruang.

Menempel spanduk kecil ukuran 1x2 meter bertuliskan 'Struktur Organisasi Laboratorium Universitas', ada namaku di situ.

Fuuh.. aku menarik nafas panjang dari hidung, ku keluarkan perlahan di mulutku.

Astaghifrullah.

Ku berjalan kecil menuju meja panjang yang menempel dinding di atasnya berjejer alat-alat laboratorium..

Oven, autoclaff, magnetic strirrer . . . Oohh..masihkah aku menggunakan kalian lagi setelah usai semua pertemuanku dengan mahasiswa.

Ku lihat alat-alat di dalam lemari kaca di sebelah meja panjang itu. Melihat semua alat yang biasa aku gunakan praktikum bersama mahasiswa.

Begitu hancurnya diriku.

Aku sendiri tak menyangka.

Semua ini adalah hasil perjuanganku bersama Ibu Sri.

Tapi ya sudah lah. Itu memori yang sangat indah bagiku.

Jika memang jalan yang ingin Kau giring seperti ini.

Maka akan aku ikuti ke mana pun itu.

***

Berbaring aku di atas lantai tanpa beralaskan apapun. Kepalaku ditopang bantal empuk.

Asik aku menonton acara televisi di rumah.

Tak ayal. Suara handphone berbunyi.

Ada panggilan masuk.

Nomor rumah.

Siapa yang telpon?

Coba ku angkat, sedikit ragu.

"Halo. Assalamu'alaikum." Kataku

"Wa'alaikumsallam. Benar dengan Bapak Dino?" Tanya suara dari seberang telepon

"Ia benar. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku penasaran. Siapa kamu?

"Saya dari Rumah Sakit, ingin memberitahukan bahwa besok bapak tes tulis dan wawancara."

Hah?!

Tersentak kaget.

Segera bangun meninggalkan keasikanku menuju ruang sholat agar aku bisa dengar suara penelepon lebih jelas.

Ku tutup pintu.

"Ini Rumah Sakit yang di jalan Keong Sawah itu bukan? Yang dekat kantor DPRD?"

"Ia benar."

Ya Alllaaaahhhh..

"Kemudian apa yang saya persiapkan?"

Aku bertanya ia menjelaskan.

tak lama kemudian ku ahiri percakapan dan ku tutup percapakan kami.

Ku jatuhkan kedua lututku bersamaan.

Jidat, hidung, dan kedua telapak tangan aku tempelkan di atas sajadah.

Sujud.

Syukur adalah cara seorang hamba ketika kabar bahagia itu menghampirimu.

Ku Puji terus atas nama Allah.

Deras lagi air mataku.

Gift.

Bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
thedreamcrusher dan eja2112 memberi reputasi
rejeki anak sholeh wal..
ada panggilan kerja di RS
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di