CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e18ab004601cf20a061a09d/misteri-kontrakan

MISTERI (KONTRAKAN)

MISTERI (KONTAKAN)#2
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...972e25851c48d9

MISTERI (KONTRAKAN)#3
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb9546352bea53

MISTERI (KONTRAKAN)#4
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c9917875090f1b

MISTERI (KONTRAKAN)#5
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...5c4f614c32fe22


MISTERI (KONTRAKAN) ENDING
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...1d30678c3e7ed9




Setahun yang lalu aku dihadapkan dengan masalah yang berat dalam hidupku, kegagalan dalam menjalin hubungan kasih dengan seorang wanita cantik pilihanku terasa sangat menyakitkan bagiku, bahkan kami sudah merencanakan pertunangan tepat sebulan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah 4 tahun terjalin secara sepihak.
Berbagai macam pertanyaan mucul dalam fikiranku saat itu, mengapa semuanya harus terjadi? Apa mungkin ini hukuman bagiku sehingga aku dihadapkan masa sulit seperti ini?, tapi apa salahku?.
Aku merasa dunia sangat tidak adil, meski terdengar sedikit cengeng tapi percayalah betapa sakit perasaan ini menerima kenyataan itu.
Namun aku tak ingin terus terpuruk dalam keadaan seperti ini, untuk melupakan semua kenangan yang pernah terjadi aku memutuskan merantau keluar kota, dikota ini aku bekerja sebagai karyawan pabrik.

"Kamu kopi apa teh Ndri?" Tanya Supri, teman satu kontrakan ku

"Tumben nawarin, biasanya juga gak pernah"

"Mau apa enggak?, tak bikinin sekalian ini" Jawabnya sembari melangkah kedapur

"Iya, kopi aja"

Sudah hampir 8 bulan aku tinggal disini bersama Supri, teman yang ku temui saat aku melamar kerja ditempat ia bekerja, meski terbilang belum begitu lama kenal namun Supri begitu baik padaku. Ia juga salah satu karyawan pabrik sama sepertiku, hanya saja ia sudah 2 tahun lebih lama dibanding aku.

Malam ini udara terasa lebih sejuk dari biasanya, sejak awal aku tinggal disini jujur saja baru kali ini aku merasakan dingin yang tak biasa. Aku duduk diteras menunggu Supri yang tak kunjung datang membawa kopi, langit malam tampak gelap tanpa sedikitpun penerangan dari sinar bulan, bintang-bintang pun seolah bersembunyi dibalik awan hitam yang menutup dan membawa kegelapan.

"Mikirin apa?" Supri duduk disampingku dengan membawa dua gelas kopi

"Ngagetin lu ah"

Aku dan Supri larut dalam obrolan-obrolan kecil hingga malam semakin larut, memang begitu lah biasanya. Jika libur kerja bahkan sampai adzan subuh berkumandang, berbagai macam peristiwa kehidupanku dan Supri menjadi topik pembicaraan kami, tak terlepas juga kisah asmara yang pernah masing-masing rasakan.
Supri memang teman curhatku yang baik, begitu pun aku. Tak jarang pula Supri curhat denganku tentang masalah yang ia alami, tak jarang pula aku berusaha mencari penyelesaian dengan gaya sok tau ku.

Kegelapan malam terasa semakin pekat dengan mendung hitam yang menyelimuti langit, rintik hujan mulai turun bersama gemuruh dan kilatan cahaya.

Braaaakkk.

Suara benda jatuh yang sangat keras tiba tiba terdengar dari arah dapur, untuk sesaat aku terdiam menatap Supri, begitu pula yang dilakukan Supri. Ia terdiam menatapku seolah bertanya padaku apa yang terjadi didalam. Tanpa aba-aba aku meninggalkan Supri dan melangkah menuju arah suara tersebut, tapi aku tak menemukan apa-apa disana, setelah aku pastikan tidak ada yang aneh aku pun memutuskan kembali ke teras.

"Woi, kenapa lu?" Tanyaku setelah mendapati ada yang aneh dengan Supri

Tangannya gemetar, raut wajahnya terlihat pucat dan bibirnya seakan melafalkan sesuatu.

"Ndri, malem ini kita jangan nginep disini ya"

"Lah kenapa?"

"Udah pokoknya lu dengerin gue aja"

Aku masih tak mengerti dengan perubahan sifat Supri saat ini, aku pun menentang untuk mengikuti kemauannya.

"Lu kenapa si?"

"Tadi pas lu masuk kedalem sebenernya gue mau nyusul, tapi begitu gue mau masuk tiba-tiba dipintu kamar lu ada orang gede banget, item semua" Jelasnya padaku dengan tubuh yang masih bergetar

Mendengar penjelasan dari Supri spontan aku pun menengok kearah kamarku, dan betapa terkejutnya aku ketika apa yang baru saja Supri bicarakan kini terjadi padaku. Sesosok makhluk hitam besar sedang berdiri menatapku, mata merah dengan mulut yang menganga memperlihatkan gigi-giginya yang kehitaman. Entah binatang apa yang saat ini ada dihadapan mataku, atau bahkan mungkin inilah yang disebut jin.
Namun kejadian itu tak lantas membuatku terperanjat hingga hampir mampus seperti adegan-adegan difilm horor, bahkan aku sempat mendekat beberapa langkah sebelum akhirnya ia menghilang menjadi kepulan asal tebal yang dengan seketika melenyapkan wujudnya.
Disaat itulah aku benar-benar menyadari bahwa apa yang aku lihat bukan lah hal yang biasa, dari arah dapur aku mendengar suara orang yang sedang berbincang namun sangat pelan, seperti berbisik.
Dengan langkah pelan aku mendekat kearah pintu dapur, suara itu semakin jelas terdengar dan kini berubah menjadi suara tangisan, perlahan aku mulai mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka dan disana aku tak melihat apapun.
Aku sadar dan sangat sadar jika saat ini ada yang tidak beres dirumah ini, dan aku juga sangat sadar bahwa apa yang saat ini aku alami adalah ulah dari makhluk gaib.

"Supri, astaga"

Aku telah melupakan Supri, aku berlari kearah pintu depan dan mendapati pintunya terkunci, beberapa kali aku memanggil-manggil Supri namun tak ada jawaban darinya, aku masih berusaha membuka pintu dengan memutar-mutarkan gagangnya, usahaku sia-sia. Pintu terkunci dari luar, tidak mungkin jika Supri sengaja mengunciku disini dan meninggalkanku sendiri, suasana malam ini benar-benar kacau.
Tak berapa lama aku mendengar suara langkah kaki, pintu terbuka dan Supri masuk kedalam.

"Pri, dari mana lu?"

"Eh sorry Ndri, gue terpaksa ninggalin lu buat nyari orang pinter yang bisa ngusir makhluk halus"

Supri masih tampak berdiri didepan pintu seolah menunggu seseorang yang akan datang, wajahnya pun tersenyum saat melihat orang ditunggu sudah terlihat didepan rumah.

"Ayo mbah masuk" Ajaknya pada tamunya itu

"Ayo, mari-mari mbah langsung masuk aja" Lanjut Supri

Deg deg deg

Suara langkah kaki yang terdengar mendekat, aku masih terduduk dikursi tamu sembari menanti siapa gerangan yang Supri ajak kesini, dan sampai akhirnya aku dibuat terdiam seribu bahasa saat melihat siapa yang kini berdiri disamping Supri.
Sesosok pocong dengan balutan kain kumuh yang sangat kotor, bau busuk seketika menyengat indra penciumanku. Wajahnya yang sudah hancur dan hampir tak seperti wajah, satu bola matanya terlihat tidak ada pada posisi dimana seharusnya ia terpasang.
Sesosok pocong tersebut tak henti menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tatapannya mulai tertuju padaku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kedawons dan 26 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh andrialong05
Halaman 1 dari 7
lanjut gan
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
ada lanjutanya ga? banyak paragraf yg double bro
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
iya, kesalahan waktu nge copy..mohon maaf
profile-picture
profile-picture
Kup4s dan aan1984 memberi reputasi
Quote:


Ini kisah cerbung atau cerpen, gan?
profile-picture
profile-picture
Kup4s dan aan1984 memberi reputasi
Quote:


Cerbung
profile-picture
profile-picture
Kup4s dan aan1984 memberi reputasi
Quote:


Oke kalau cerbung jangan dibuat terpisah seperti story Cinta Tiada Tara yang dibuat terpisah, ketahuan momod @radheka bisa kena gembok ntaremoticon-Jempol
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Quote:


Siap, makasih kritiknya
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Quote:


Oke sama2 yaemoticon-welcome
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
lanjoottt
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Quote:


Mksih ganemoticon-Imlek
profile-picture
Kup4s memberi reputasi

MISTERI (KONTRAKAN) #2

Aku terdiam untuk beberapa saat, kurasakan dingin disekujur tubuhku yang seolah membuat aku membeku. Aku mencoba membuang pandanganku terhadap makhluk itu, ku pejamkan mata mencoba untuk menenangkan diriku sendiri.

"Pergi…pergi…"

Hanya kata-kata itulah yang mampu ku ucapkan saat ini sampai akhirnya seketika hening, hujan tampak sudah berhenti dan perlahan aku mencoba membuka mataku.

"Eh, udah bangun tu" Ucap seorang pemuda kepada yang lain

Saat aku membuka mata betapa terkejutnya ketika mendapati banyak warga yang berkumpul disini, semua mata tertuju padaku, tak peduli dengan semua itu aku mencoba menyapu pandanganku berharap menemukan Supri.

"Mas Andri, kenapa bisa sampe begini?" Tanya Mas Gito, salah seorang warga sekaligus pemilik bengkel yang tak jauh dari kontrakanku.

"Gak tau saya Mas, Supri mana Mas?" Ucapku balik bertanya pada Mas Gito

"Ada, itu diteras lagi sama warga yang lainnya"

"Warga yang lainnya?"

Tak hanya 6 orang saja yang saat ini berada dikontrakanku, ternyata diluar masih banyak warga yang berkumpul. Aku sendiri bingung mengapa semua warga tiba-tiba berkumpul disini, hingga sampai akhirnya Supri terlihat masuk dan menghampiriku. Wajahnya tampak biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa, ia tersenyum bahagia melihatku.

"Haha, udah bangun lu"

"Pri, ini ada apa si kok tiba-tiba rame begini?"

"Ya iyalah rame, orang lu teriak-teriak kayak orang gila, gimana mereka gak pada denger, ya akhirnya kesini lah" Jelas Supri

"Hah!!! Teriak-teriak?"

Aku pun menceritakan semua yang terjadi kepada Supri dan Mas Gito, juga beberapa para warga yang ada diruangan itu, Mas Gito hanya tersenyum mendengar ceritaku. Tak berbeda dengan Mas Gito, Supri pun tampak melakukan hal yang sama. Kejadian ini aku sendiri yang mengalami, tapi entah mengapa mendadak seolah aku yang saat ini tak mengerti apa-apa. Satu persatu warga mulai meninggalkan kontrakanku, tinggallah Supri dan Mas Gito yang masih terlihat asyik ngobrol.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi saat Mas Gito berpamitan untuk pulang, Supri terbaring disampingku dan lantas menutup matanya tanpa sepatah katapun yang terucap, ingin sekali aku bertanya perihal rumah ini kepada Supri namun sepertinya ini bukanlah saat yang tepat.

Matahari pagi pun mulai terlihat, Supri sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja, walaupun ia tampak letih karena mungkin semalaman tidak bisa tidur karena aku.

"Eh kok gak bangunin gue?"

"Udah, lu istirahat aja dulu dirumah, urusan bos biar gue yang ngomong" Jawabnya sembari melangkah keluar

Aku hanya duduk termenung memikirkan kejadian yang terjadi semalam, detik-detik yang berlalu tak mungkin bisa aku lupakan begitu saja, sangat jelas dan melekat dalam ingatanku, semua tampak nyata. Meskipun menurut pengakuan Supri aku terjatuh pingsan saat menuju dapur ketika memeriksa suara benda jatuh.
Tapi aku sangat yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dirumah ini, andai saja aku Raden Kian Santang tentu aku bisa memecahkan misteri ini dengan sangat mudah.
Siang itu berlalu begitu saja, tak terjadi hal-hal aneh seperti yang aku alami semalam, padahal aku sangat berharap agar aku lebih yakin bahwa apa yang aku alami bukanlah mimpi, terdengar cukup aneh memang. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini, rasa penasaranku 70% lebih tinggi dibanding rasa rakutku. Aku teringat saat menonton film horor dimana saat itu aku membodoh-bodohi pemeran utamanya kala ia memasuki rumah kosong seorang diri padahal ia sendiri sudah tau bahwa rumah itu rumah berhantu, dan saat teraplikasikan dalam kehidupan nyata bahkan aku sendiri melakukan kebodohan itu.

"Andri, malem ini gue lembur"

Begitu isi pesan singkat yang Supri kirimkan beberapa saat yang lalu, setelah selesai sholat maghrib aku memutuskan untuk keluar sekedar mencari makanan, dengan berjalan kaki aku menelusuri jalan setapak yang kira-kira sepanjang 50 meter sebelum akhirnya memasuki jalan raya.
Tidak ada penerangan sama sekali disepanjang jalan ini, hanya berbekal lampu flas dari ponselku aku berjalan seorang diri menembus kegelapan. Tampak sudah didepan sana cahaya dari penerangan jalan raya, terlihat juga lampu-lampu dari kendaraan yang melintas, aku semakin mempercepat langkahku untuk segera sampai pada tujuan, selain cacing-cacing dalam perutku yang sudah tak mampu berkompromi lagi, aku pun merasa tidak begitu nyaman disini. Namun yang anehnya adalah,semakin lama aku berjalan seolah jalan ini seperti tak berujung, cahaya yang sedari tadi terlihat kini mendadak menghilang berganti kegelapan yang sangat pekat disekelilingku.
Untuk beberapa lama aku tak menghentikan langkahku, hingga aku menyadari bahwa aku sudah tersesat, aku mencoba untuk tetap tenang dan mengamati sekelilingku. Ada setitik cahaya yang terlihat dari dalam kegelapan itu, aku pun mendekati arah cahaya tersebut, mendekat, semakin dekat, dan saat ini aku sudah berdiri dipekarangan rumah. Sangat terang, terlihat beberapa bola lampu yang menyala diterasnya, perlahan aku mendekati rumah tersebut. Rumah yang terbuat dari kayu bercat warna coklat, pintu dan jendela yang terdapat pada rumah ini tampak terbuka lebar, aku dapat melihat seisi rumah meski hanya dari teras.

"Om, temennya kak Dita ya? Masuk Om"

Seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur 13 tahun kini berdiri tepat disampingku, entah dari mana datangnya anak ini, ia berjalan masuk kedalam rumah. Tak berapa lama keluarlah seorang gadis cantik memakai gaun putih bermotif bunga berwarna merah, ia tersenyum padaku.

"Masuk Mas" Ajak gadis tersebut

Aku pun menuruti ajakannya, namun begitu aku menginjakkan kaki, aku merasa tidak asing melihat struktur dan pajangan-pajangan yang ada dirumah ini, sama persis seperti kontrakanku. Hanya saja rumah ini terlihat lebih hampa, ruang tamu dan ruang keluarga terlihat kosong tanpa ada furniture sama sekali.

"Kamu baru ya tinggal disini?" Tanyaku pada gadis itu

"Enggak kok, aku udah lama tinggal dirumah ini"

"Terus kok ini kosong semua, apa mau pindahan ya?" Tanyaku lagi

"Enggak, disini aku cuma pake kamar buat tempat tinggalku, ruangan yang lain enggak"

"Kenapa?"

"Karena ruangan yang lain kan dipake sama kamu…hihihi"

Tertawa, gadis itu tertawa yang sangat tidak wajar. Layaknya tawa kuntilanak saat bahagia karena berhasil menakut-nakuti manusia, aku mundur beberapa langkah.
Gadis itu masih saja tertawa sembari melotot kearahku, wajahnya yang cantik kini berubah menjadi sangat menyeramkan, kedua tangannya menjulur kearahku dengan kuku-kuku panjangnya, perlahan melayang dan mendekat seolah ingin membunuhku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Suminten. dan 13 lainnya memberi reputasi
lanjutttt
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Quote:


Oke, siap
profile-picture
profile-picture
Kup4s dan onenkyess memberi reputasi
gelar tikan gan...
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Quote:


Hehe monggo
profile-picture
profile-picture
Kup4s dan onenkyess memberi reputasi
Quote:


Bikin index ya bang, biar lebih sip...emoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempol
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
nanggung nih lanjuttt
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Quote:


Msh ngetik gan
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
tandain
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Nitip sendal gan
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
Halaman 1 dari 7


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di