CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Bukan Kumpulan Kisah Nyata Tapi Ada di Kehidupan Nyata
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dfc7f7ec820843dc435db78/bukan-kumpulan-kisah-nyata-tapi-ada-di-kehidupan-nyata

Bukan Kumpulan Kisah Nyata Tapi Ada di Kehidupan Nyata

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah
profile-picture
RifanNazhif memberi reputasi
Ketiwi sendiri di ujung cerita....wkwkwkwk...
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
RifanNazhif memberi reputasi

Ayah Mengajariku Pintar Marah

Bukan Kumpulan Kisah Nyata Tapi Ada di Kehidupan Nyata
sumber ilustrasi

Aku terbangun karena suara anak-anak ribut di depan rumah. Hari masih siang, tapi tidurku terhalang. Tadi malam aku bekerja shift malam. Ingin rasanya membentak anak-anak itu.

Aku mencari sendal dengan ujung jempol kaki. Melihat wajah kusut di cermin. Kurang tidur! Aku baru saja terlelap sekian menit. Ah, anak-anak itu.

Hampir saja aku membentak mereka, tapi urung. Aku melihat Anton di situ. Dia anakku yang bertubuh bongsor. Suka berseberangan denganku. Sering membantah. Hampir setiap hari dia ribut berebut ponsel, atau beragam lainnya dengan si bungsu.

Apa sih yang mereka bicarakan? Tak sadar, bukan membentak mereka, aku malah menguping.

“Ayahmu suka marah nggak?” Itu pertanyaan Anto kepada kawannya.

“Kadang-kadang. Kalau aku malas disuruh apa-apa, dia suka membentak. Tapi ketika tidak ada yang akan dikerjakan, dia lebih suka di belakang komputer. Atau sibuk bertelepon. Bila dia sedang senang, aku sering diajak jalan-jalan. Ayahmu suka marah nggak?”

“Enggak!”

“Asyik sekali! Aku ingin memiliki ayah yang demikian.”

Anton menghela napas. Dia melanjutkan, “Ayahku memang nggak pernah marah. Tapi sejak aku berumur empat tahun, dia mulai sering mengajariku agar pintar marah.”

“Maksudmu?”

Dan mulailah kenangan itu dikupasnya satu demi satu. Tentang seorang ayah yang pulang kerja hampir mirip banteng mengamuk. Si ayah menanyakan mana minumannya. Sementara seorang perempuan sedang menyuci pakaian di kamar mandi.

Si ayah marah-marah tak tahu aturan. Anton ada di antara mereka seakan kain gombal yang tak ada perasaan. Anton mungkin mulai berpikir, marah itu asyik. Si ayah berhasil perempuan itu menangis, ditambah sebuah engsel terlepas, hasil kesuksesannya memukul daun pintu.

“Pokoknya hampir tiap hari ayahku di rumah, kerjaannya marah-marah. Segala macam kata-kata jorok terbang dari mulutnya. Berbagai nama binatang berlompatan. Sejak itu aku mulai belajar bagaimana cara marah.” Mata Anton seakan tertawa bengis.

Dia merasa bersyukur karena akhirnya setelah berusia enam tahun, dia memperoleh adik baru berjenis kelamin perempuan. Dia pendam keinginan mempraktekkan cara marah hampir empat tahun. Artinya, saat itu adiknya mulai mengerti dengan orang yang sedang marah.

Maka ketika ayahnya marah-marah dengan perempuan itu sepulang kerja, timbul giliran Anton memarahi adiknya, sedangkan si ayah sedang tertidur. Segala upaya Anton lakukan. Dia selalu berusaha membuat keributan. Misalnya, dia meminta perempuan itu membuat semisal es susu. Maka dia katakan kepada adiknya, bahwa es susu itu bukan main lezatnya. Saat si adik merengek minta dibagi, mulailalah Anton marah-marah mengeluarkan kata-kata jorok dan seluruh nama penghuni kebun binatang.

Hasilmya, mulutnya mulai belajar bagaimana pedasnya cabe giling. Perempuan itu yang melakukannya. Dia meminta ampun, berjanji tak akan melakukannya. Tapi besok dan besoknya lagi, dia dengan senang mengulang lagi, meski gagang sapu mulai bisa bicara. Meski dia sering diisiolasi di kamar mandi. Alangkah nikmatnya!

Si ayah juga seakan tak tahu malu sering mengomel. Bahwa marah-marah itu tak baik. Temannya setan. Anton hanya bisa terseyum. Sungguh tak sopan melawan guru. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Itu artinya marah yang dia punya, levelnya harus lebih tinggi dari level marah si ayah.

Rumah pun bagai kapal pecah oleh suara. Bising sekali setiap hari. Keributan yang memang diciptakan. Menciptakan amarah membara yang bisa membakar siapa saja.

Anton berdiri. “Asyik kan menjadi pemarah itu? Ayah berhasil mengajariku. Sekarang aku harus bekerja lagi.” Dia seakan tentara siap perang mendatangi seorang gadis kecil yang sedang bermain anak-anakan. Boneka-boneka berhamburan dia tendang. Suara tangis terdengar, diikuti lengkingan istriku dari dapur. Sementara aku hanya bisa terduduk lesu di depan cermin. Melihat wajah seorang lelaki; ayah yang gagal mendidik anakya.
-----


profile-picture
profile-picture
profile-picture
evihan92 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh RifanNazhif
Lihat 2 balasan
Quote:


Makasih.
Quote:


Benar two thumb.
Quote:


Tkyou, Gan.
Balasan post RifanNazhif
Hot ini. Pemarah yg gagal
profile-picture
RifanNazhif memberi reputasi
Balasan post RifanNazhif
@aniesday cuma mengajari diri sendiri agar jangan sering marah, karena anak akan mencontohnya.
ntar darah tinggi
profile-picture
RifanNazhif memberi reputasi

Episode Dini Hari

Bukan Kumpulan Kisah Nyata Tapi Ada di Kehidupan Nyata
sumber ilustrasi

Arof seakan lupa siapa dirinya. Musik berdentum dan lantai dansa dipenuhi jerit gairah. Keringat membuat keningnya berkilau. Maskot itu meliuk di tiang, menyapa siapa saja dari sudut lekuk tubuh menggoda.

Arof mengangkat satu jari ke bartender. Dia meminta seloki lagi sampanye. Begitu seloki sampanye itu hadir di meja, perempuan seksi memakai rok ketat langsung meminumnya.

Arof tersenyum sinis. Perempuan murahan! Tubuh bergelambir paling menjijikkan! Andai dia memberikan seluruh gelambirnya dengan cuma-cuma, itu lebih pantas diberikan kepada anjing liar yang gila.

Arof menepiskan tangan, menyuruh perempuan itu menjauh. Selembar uang, tanpa canggung, dia selipkan di antara dada membusung. Mengusirnya secara halus.

Malam ini dendam itu harus dituntaskan. Dia teringat, belasan tahun lalu, saat tengah malam, melewati gang kumuh itu, bukan pada waktu yang tepat.
Malam benar pekat. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan lebat. Bau alkohol dari tiga lelaki, seakan menjalar, dan menarik kerah seragam sekolahnya. Jangan sekali! Tolong jangan ganggu anak kecil berseragam putih-biru. Batin Arof berontak.

Tapi apa arti anak kecil bagi orang buas melebihi serigala. Apa beda laki-laki dan perempuan, bila virus vampir yang bekerja?

Ketiga lelaki tak perduli. Mata-mata tajam menelanjangi. Arof teringat rumah kosong. Teringat bagaimana dia melolong ketika mereka melakukannya berkali-kali. Hingga fajar menyemburkan cahaya remang. Dia seakan kain gombal yang puluhan tahun tak dicuci, menggunduk di sudut ruang.

Dia malu untuk menceritakan kisah itu kepada siapa pun. Kisah suram yang dinikmatinya sendiri. Dia tak sadar virus vampir mulai menjalar di tubuhnya. Dia berjanji akan membalas dendam kepada mereka, dengan melakukan kebengisan kepada para lelaki. Dia harus membalas dendam. Dia tak ingin menjadi vampir sendirian.

Dentum musik semakin ganas. Suasana menjadi panas dan liar. Jam tangan Arof menunjukkan pukul empat dini hari. Waktu yang tepat untuk beraksi. Seorang lelaki kuyu teler sendirian sudut bar. Dia menceracau tak karuan.

Arof memesan lagi sebotol minuman. Berbasa-basi sambil menarik kursi di sebelah lelaki itu. Percakapan yang sempurna. Arof dan lelaki itu sangat cepat akrab.

Pagi suam-suam kuku semakin mempererat keakraban itu. Sebuah apartemen tumpangan ditawarkan dengan suara kebaikan. Arof bagai orang paling dermawan sejagat.

Mereka kemudian terseok meninggalkan bar. Pagi benar-benar pecah. Lalu-lalang kendaraan mulai ramai. Saling menyalak mengurai kemacetan. Sebuah taksi berhenti. Mereka ditelannya, meluncur ke sebuah apartemen di tengah kota.

Prosesi balas dendam itu pun mulai bekerja dalam hening mencekam. Virus vampir harus bergerak simultan tanpa hambatan. Seluruh dinding apartemen seakan tertawa saat virus mulai ditanamkan. Bekerja dengan sukses!

Arof tertawa puas. Dia menari girang. Inilah korban balas dendamnya yang kedua ratus. Pantas dirayakan. Suatu capaian spektakuler dengan dua ratus korban pada rentang waktu dua tahun. Ini harus dirayakan. Harus!

Terjangan di pintu membuatnya tersentak. Lima lelaki berseragam mengurungnya. Masing-masih mengarahkan moncong senjata yang siap menyalak.

Apa yang harus Arof takutkan? Dia tak melakukan perlawanan. Dua ratus korban sudah cukup. Dia menyerahkan tangannya untuk diborgol. Dia tersenyum puas. Sangat puas. Predator itu akan menambah korban di ubin penjara.

---sekian---
profile-picture
profile-picture
profile-picture
evihan92 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh RifanNazhif
Quote:


Jangan sampai. Hehe.
Diubah oleh RifanNazhif
Quote:


Hmmm... yg lagi viral ya
profile-picture
RifanNazhif memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post ndutsetiawan
Quote:


nyenggol dikit
Halaman 2 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di