KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Penghuni Lain di Rumah Kost
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5debc9f89a972e534c1d578b/penghuni-lain-di-rumah-kost

Penghuni Lain di Rumah Kost

Tampilkan isi Thread
Halaman 10 dari 21

Part 10. Semburat Kisah

Tata sering diabaikan dan dianggap mengada-ada, bahkan oleh orangtuanya sendiri. Mereka kerap meremehkan ceritanya. Meremehkan apa yang dia rasakan dan apa yang dia lihat. Mereka tidak percaya bahwa rumah mereka di mess, dulu ada orang gantung diri di kamar yang di tempati Bu In dan Pak Iwan. Sosok itu selalu muncul di malam hari, di atas tempat tidur mereka. Mereka juga tidak percaya bahwa di depan rumah mereka ada anak kecil seumuran Tata yang selalu bermain ayunan di malam hari sambil memanggil namanya. Mereka juga tidak percaya bahwa Sari adalah orang yang sering diganggu dengan penampakan dan suara-suara. Mereka selalu menganggap Tata berhalusinasi. Bahkan dia dianggap gila dan pernah di bawa ke pondok pesantren untuk di ruqyah.

Sungguh, penjelasan Tata sangat sulit kuterima akal sehat. Sekali lagi, logikaku mengatakan bahwa gadis kecil yang duduk di depanku adalah seorang kecil yang bahkan belum akil balig, tapi harus sudah menerima kenyataan hidup yang seperti ini. Cerita Tata mengalir begitu saja, menghanyutkanku dalam arus kisah masa lalunya. Bagaimana pertama kali dia melihat makhluk dunia lain dalam rumahnya. Hingga sekarang dia bisa berkomunikasi dengan “mereka”. Percayalah, dia bercerita dengan tenang dan tanpa rasa takut sedikitpun. Sejenak berhenti, Tata kembali melanjutkan ceritanya.

Beberapa kali melewati ritual ruqyah, tidak ada hasil yang menunjukkan bahwa Tata telah “sembuh”. Justru dia mendapat “kemampuan” baru. Sebelumnya, Tata hanya bisa melihat dan mendengar keberadaan mereka, kini dia bisa berkomunikasi dengan mereka. Bahkan, bisa melihat hal lampau dan hal yang akan terjadi berputar di kepalanya. Semua seperti mimpi. Cerita Tata terus berlanjut. Dia berkisah bahwa kehidupannya berlalu begitu saja hingga dia duduk di kelas 6 SD.

Waktu itu, Ayah dan Bundanya mengajak ke sebuah kota untuk melihat perkembangan pembangunan rumah baru mereka. Di sepetak tanah cluster perumahan yang hanya terdiri dari beberapa rumah. Bu In memilih membeli rumah paling pojok, karena ukuran lebih besar dibanding yang lain. Tidak lain adalah rumah ini. Sejujurnya aku merinding dan enggan melanjutkan mendengar kisah Tata. Bayangkan saja, bagaimana mungkin kita membicarakan hal mistis di tempat di mana kita sedang berada di dalamnya. Tapi entah mengapa, aku seperti tak punya kuasa untuk menghentikan uraian kisah Tata. Aku adalah penikmat cerita yang sedang menyimak lakon berkisah.

Bu In membeli rumah itu dari teman lamanya. Tergiur oleh iming-iming temannya untuk membuka usaha rumah kost, karena sebentar lagi akan dibangun kampus baru di sekitar perumahan ini. Lantaran iming-iming keuntungan usaha rumah kost yang menggiurkan, ditambah teman Bu In menjual rumah ini dengan harga pertemanan, akhirnya Bu In setuju membelinya.

Tata menghipnotisku, membawaku ke masa lalu bagaimana rumah ini dibangun. Hingga tanpa terasa jam di layar ponselku menunjukkan angka 01.30. Aku membujuk seraya membuat mimik wajah menahan kantuk dengan berulang kali berpura-pura menguap. Padahal, aku sedang berusaha menutupi rasa takutku. Bulu di tengkuk mungkin sudah berdiri sedari tadi. Tapi, Tata tak menggubris permohonanku. Dia terus saja berkisah tentang rumah ini. Di sisi lain, aku tak menyangka akan mendapatkan informasi tentang anak kecil itu, bahkan informasi tentang sejarah rumah ini dengan sangat mudah. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Tata menengadah, berusaha mengingat kembali peristiwa beberapa tahun lalu, waktu musim libur sekolah. Mereka sekeluarga menginap di rumah baru untuk menghabiskan masa liburan, sekaligus Bu In mengawasi proses renovasi rumah. Mereka tiba di rumah baru pukul 20.00. Kondisi rumah masih sangat berantakan dengan pasir dan kerikil berserakan di teras sampai garasi. Bagian depan masih mempertahankan bangunan aslinya, hanya bagian tengah sampai belakang yang direnovasi dengan menambah jumlah kamar.

Tata, Sari, dan Ica memilih kamar paling depan untuk kamar tidur sementara, ya di kamarku ini. Sedang Ayah dan Bundanya tidur di kamar dekat kamar mandi. Malam itu berlalu dengan cepat karena mereka semua terbuai lelah selepas perjalanan. Namun, hal itu tidak bertahan lama. Esok paginya, Tata menemukan hal yang ganjil di rumah ini.

Aku masih dengan seksama menyimak cerita Tata. Sesekali kulirik layar HP untuk melihat waktu. Detik berganti menit, menit berganti jam. Dan Tata masih semangat berkisah. Heran, akupun tidak merasakan kantuk sedikitpun. Cerita Tata telah mengubah rasa lelah dan kantukku menjadi rasa penasaran akan kelanjutan kisahnya.

***

Hari kedua di rumah baru.

Suara Sari membangunkan Tata dengan paksa pagi itu. Ica sudah tidak ada di tempat tidur. Padahal, jam masih menunjukkan pukul 05.00. Waktu itu mereka berpikir bahwa Ica berpindah tidur di kamar Bu In. Karena Sari ragu, maka mereka bergegas untuk mengecek ke kamar Bu In. Belum sampai kamar, mereka melihat Pak Iwan duduk di ruang makan sambil memainkan ponselnya.

Melihat Pak Iwan di ruang makan, Sari langsung menyerbu Pak Iwan dengan pertanyaan tentang Ica. Barangkali Pak Iwan melihatnya ikut dengan Bu In belanja ke warung. Namun, jawaban Pak Iwan mengejutkan mereka. Pak Iwan mengatakan bahwa Bu In pergi ke warung sepulang mereka bedua dari jamaah di masjid. Bahkan, Pak Iwan mengira jika Ica masih tidur. Lantas, mereka menunggu Bu In pulang dari warung untuk memastikan keraguan mereka.
Tak lama, terdengar pintu pagar bergeser dan beberapa detik kemudian pintu depan terbuka. Bu In masih memakai atasan mukena sambil menenteng beberapa sayuran dan bumbu masakan. Namun, mereka tak melihat Ica di sana.
Bu In heran melihat anak serta suaminya berkumpul di ruang makan.
Sari kembali mengulang pertanyaan tentang Ica dengan tak sabar. Dan sekali lagi, jawaban Bu In mengundang tanya bagi mereka. Ya, Bu In memang pergi ke warung seorang diri selepas pulang dari masjid. Seketika, Bu In yang keheranan melangkah menuju kamar Tata, dan mengejutkan sekali bahwa Bu In melihat Ica masih tidur di kasurnya.

Bagai disambar petir, mana mungkin Ica ada di kamar sementara Sari dan Tata tidak melihatnya. Tata terus-menerus menegaskan bahwa dia dan Sari benar-benar tidak melihat Ica tidur di kasur tadi. Atau mungkin Ica sedang ke kamar mandi dan tidak diketahui oleh Tata maupun Sari. Tapi, untuk ke kamar mandi harus melewati ruang makan. Dan Tata meyakinkan bahwa dia tak melihat siapapun melewati mereka. Pak Iwan yang merasa sudah dijahili oleh anaknya balas menertawakan akting mereka yang berusaha menakut-nakutinya.

Setelah Bu In mengatakan Ica masih tidur, Tata dan Sari langsung berlari untuk memastikan. Dan benar saja, Tata hampir pingsan dan tidak mempercayai penglihatannya. Kini dia melihat sosok Ica masih tidur berselimut dengan memeluk Momonya. Lalu, apa ini? Bagaimana bisa begini?

Sari yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, langsung berlari ke arah Ica dan menggoyangkan tubuhnya. Membangunkan Ica dan berharap akan mendapat penjelasan yang masuk akal dari Ica. Sari tampak gusar membangunkan Ica. Malah Sari terlihat dengan kasar menggoyangkan dan memukul tubuh Ica.

Melihat itu, Tata berinisiatif untuk mengambil alih posisi Sari membangunkan Ica, dia berdiri di samping Ica. Perlahan mata Ica terbuka. Dia menguap dan merenggangkan tubuh hingga selimut yang menutupi tubuhnya tersibak. Sepintas, Tata bisa melihat seperti ada bekas genggaman tangan di kaki Ica. Namun, Tata masih diam saja. Kembali dia tidak yakin dengan apa yang dia lihat.

Setelah kesadaran Ica berangsur normal, Tata menanyakan perihal hilangnya Ica, atau lebih tepatnya hilang dari penglihatan Tata dan Sari. Keterangan Ica membuat mereka yang mendengarkan bergidik ngeri. Ica mengatakan bahwa tadi dia merasa ingin kencing dan sudah berusaha membangunkan Sari juga Tata, tapi tidak ada yang bangun. Karena sudah tidak tahan, akhirnya Ica langsung pergi ke kamar mandi sendiri. Ica juga mengatakan bahwa ia melihat Pak Iwan yang sedang duduk di dekat meja makan, tapi saat dipanggil Pak Iwan juga diam saja seperti tidak mendengar. Akhirnya, Ica memutuskan untuk langsung masuk ke kamar mandi.

Pak Iwan berusaha menjelaskan untuk menetralisir keadaan bahwa dia memang tidak mendengar siapapun memanggilnya hingga Tata dan Sari datang. Kemudian, Pak Iwan menanyakan apa yang dilakukan Ica setelah dari kamar mandi. Pak Iwan berharap Ica memberikan keterangan yang logis sehingga bisa menepis pikiran negatif Tata dan Sari.

Namun sekali lagi, jawaban Ica malah membuat pikiran negatif itu semakin menjadi. Ica menceritakan bahwa setelah dari kamar mandi, Ica melihat Pak Iwan masih bermain dengan ponselnya. Tapi waktu dipanggil masih saja tidak menoleh. Lalu, Ica pergi ke taman belakang untuk melihat ikan yang mereka bawa kemarin.

Dari sinilah cerita seram Ica dimulai. Ica mengatakan bahwa dia melihat anak perempuan berdiri di kamar paling belakang, sambil bawa Momo. Ica pikir siapa anak ini kok berani masuk ke rumah dan bawa Momonya. Akhirnya, karena kepolosan Ica dia hampiri anak kecil itu. Ica tanya siapa namanya, tapi dia hanya tersenyum dan memberikan Momo kembali pada Ica. Karena Ica masih mengantuk, akhirnya dia tinggalkan anak itu dan kembali ke kamar. Manakala kembali ke kamar Ica melihat Sari, Tata, dan Pak Iwan ngobrol di ruang makan. Namun, Ica yang berada di antara mereka merasa tidak dianggap dan memutuskan untuk kembali tidur di kamar. Begitu sampai dia dibangunkan oleh Tata.

Tata merasa ngeri mendengar cerita Ica dengan wajah polosnya. Lalu, siapa gadis kecil yang dilihat Ica di kamar belakang? Mengapa Tata tidak merasakan kehadirannya di rumah ini ketika pertama dia datang? Mungkinkah gadis kecil itu tidak berbahaya sehingga Tata tidak merasakan ancaman energinya? Entahlah, Tata berfirasat untuk segera mencari tahu.

***
Malam hari kedua.

Tata bermimpi didatangi sosok anak perempuan. Dia seumuran Ica. Memakai baju bunga-bunga tanpa lengan dengan bando kupu di kepalanya. Mungkinkah ini anak yang dilihat Ica? Dia tersenyum menghampiri Tata.

“Rumahku di pojok situ. Aku minta tolong, jangan menggunakan rumahku untuk tempat tinggal manusia lain. Biarkan aku istirahat dengan tenang dan keberadaanku tak diketahui manusia. Jika terpaksa harus digunakan, pakai saja sebagai dapur atau kamar mandi. Karena aktivitas manusia akan sedikit di dua ruangan itu.” suaranya menggema di kepala Tata. Seperti beberapa manusia dewasa bicara dalam waktu bersamaan.

“Kamu siapa?” Tata bertanya pada sosok itu.

“Dulu aku tidur di situ, tapi kini jasadku sudah berpindah tempat. Hanya jiwaku yang tertinggal di sini. Aku akan menjaga orang-orang yang baik seperti kamu.”

Tata terbangun dengan keringat bercucuran di keningnya. Dia melihat jam masih pukul 04.00. Bu In dan Pak Iwan mungkin sudah pergi ke masjid untuk jamaah. Firasat menuntunnya untuk melangkah menyusuri ruang belakang. Tata melihat anak itu tersenyum dan melambai ke arahnya. Mulai saat itu, Tata memanggilnya anak kecil itu.

Tata berusaha meyakinkan kedua orangtuanya untuk memindahkan posisi dapur. Awalnya, dapur berada di bagian kiri lorong dan kini berpindah ke bagian kanan lorong. Posisi kiri yang awalnya akan difungsikan sebagai kamar, ditambah lantai dan dialihfungsikan menjadi tempat tandon air. Begitu kondisinya sampai sekarang.

Anak kecil itu selalu menampakkan diri dalam wujud anak kecil yang manis. Sungging senyumnya tak mengurangi seram pucat wajahnya. Namun, bagi Tata, dia adalah sosok anak yang baik dan tidak jahil. Buktinya, dia mau memberitahu apa yang harus kami lakukan agar tetap aman.

Dengan ragu, Tata memutuskan untuk menceritakan mimpinya kepada Bu In dan Pak Iwan, tanpa sengaja Sari mencuri dengar obrolan mereka. Hingga akhirnya, sejak saat itu Sari tidak pernah mau untuk menginap di rumah ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
meqiba dan 17 lainnya memberi reputasi
Salam dari alumni sasindo UM 2010
profile-picture
sukaskusuka memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
mantab Langsung ada Update, ijin baca sist
profile-picture
sukaskusuka memberi reputasi
mantap makin hari makin pnasaran euy
profile-picture
sukaskusuka memberi reputasi
Quote:


Pasti arek sastra UM iki model tulisan e ahahaha, angkatan brp mbak?
profile-picture
sukaskusuka memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Part 11. Pembawa Bencana

Senin malam. Sekira pukul 19.40.

Beberapa hari sepeninggal Ibu kost dan keluarga, rumah ini kembali sepi. Hanya aktivitas monoton yang penghuni kost lakukan. Mandi. Makan. Nonton TV. Tidur. Begitu saja. Pun dengan malam ini. Semua penghuni kost berkumpul di ruang tengah untuk melihat TV, lengkap beserta Bu Yulis.

Aku masuk kamar lebih awal dari biasanya. Karena hari Senin adalah hari padat di tempat kerja. Sekadar rebahan adalah imbalan yang sepadan untuk badan ini. Sembari membalas pesan dari Mas Boy, sesekali aku iseng membaca artikel tentang dunia mistis. Entah, sejak mengenal Tata aku seperti penasaran dengan hal berbau mistis.

Tiba-tiba nada panggilku berdering, nama Mas Boy tertulis di layar HP. Kugeser layar ke kanan untuk menjawab teleponnya.

“Assalamualaikum...” sapa suara di ujung sana.

“Waalaikum salam, Mas. Tumben kok telepon?”

“Nggak apa-apa kan kalau aku telepon? Masa nggak boleh?”

“Ya nggak apa-apalah. Ada apa?” dengan bermalas-malas aku meladeni obrolan Mas Boy yang hanya basa-basi. Sampai di suatu pembahasan, Mas Boy kembali menyinggung tentang “penghuni rumah ini”.

“Dik, gimana? Aman?” tanya Mas Boy memulai topik baru.

“Alhamdulillah aman, Mas. Tapi yang di sebelah itu kadang malam-malam nangis. Kalau pas rame sih aku berani, kalau pas di kost sendiri ya takut juga.”

“Malam ini bagaimana?” tanya Mas Boy penasaran. Memang beberapa hari dia tidak sempat mampir karena kesibukan kami masing-masing.

“Semoga aman, Mas.”

“Oke, kalau ada apa-apa langsung telepon ya. Ya udah assalamualaikum.” ucap Mas Boy mengakhiri percakapan.

“Waalaikumsalam...”

Tuut...tuut...tuut...

***

Aku tertidur begitu saja, dan terbangun pada pukul 23.00 karena merasa haus. Untung persediaan air di kamar masih banyak, jadi tak perlu ke dapur untuk mengambil air minum. Dengan malas aku berjalan meraih gelas dan menuangkan air hingga separuh ke dalamnya. Setengah sadar aku seperti mendengar suara isak tangis. Aku mengira itu adalah “penghuni sebelah”, seperti biasa aku tidak menghiraukannya. Lama-lama aku terbiasa dengan suara itu.

Namun, malam ini suara tangis itu terdengar sangat pilu dengan durasi yang lebih lama. Sebenarnya aku malas untuk keluar mencari tahu. Tapi entah mengapa, malam ini aku sangat penasaran. Kadang, tidak tahu apa-apa justru lebih baik.

Aku masih diam di tempat sambil terus mendengar suara tangis di sebelah. Lamat-lamat suara itu berganti jadi tertawa cekikikan, lalu suara langkah kaki bersautan. Kutempelkan telinga di tembok samping, namun suara itu tidak berasal dari garasi samping, seperti berasal dari ruang tengah.

Lama-lama aku juga mendengar seperti orang mengaji dengan suara keras, seperti berteriak. Tidak, itu suara Dewi. Mungkin juga Rina. Ditambah suara langkah kaki bersautan yang semakin banyak. Mengarah ke ruang tamu dan menuju teras. Mereka terus berteriak mengucap doa sambil berlari ke depan. Aku yang penasaran langsung keluar kamar dan mengikuti mereka.

Setelah sampai di depan rumah, mereka masih terlihat panik. Bahkan Dewi menangis histeris di pelukan Mega. Sementara Yesi dan Ega berusaha menenangkan Rina yang seakan mau pingsan. Ida yang nampak kebingunan dengan ekspresi seperti bangun tidur yang dipaksakan. Tak kulihat Bu Yulis di antara mereka.

“Ada apa, Da?” kuhampiri Ida yang terus menguap di tengah teriakan histeris teman-temannya.

“Nggak tahu, Mbak. Tadi aku dibangunin Ega. Terus ikut lari sama mereka. Kupikir ada gempa bumi.” jawab Ida dengan santainya. Tidak puas dengan jawaban yang Ida berikan, aku beralih tanya kepada Mega.

“Meg, ada apa?”

“Nanti saja Mbak tanya langsung sama pelakunya. Dia yang buat jadi begini, Mbak.” pun jawaban Mega masih membingungkanku.

“Pelaku? Maksudnya? Ada maling? Kita panggil warga ya?” belum sempat aku pergi, Mega menahan tanganku.

“Bukan, Mbak. Tanya saja pada Bu Yulis. Itu dia.” kali ini Mega menjawab dengan ketus sambil menunjuk seseorang yang baru keluar dari rumah dengan keringat mengucur deras dari dahinya. Baju yang dikenakan pun tampak carut. Sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

Tak lama, Bu Yulis sudah bergabung dengan kami. Langsung saja kutanya apa yang terjadi sehingga anak-anak ketakutan seperti ini.

“Maaf, Bu. Ini ada apa ya?” belum sampai Bu Yulis menjawab, aku mencium bau kenanga sangat menyengat. Kucari sumber bau ini. Tak lama kemudian, aku menemukan jawabannya. Ya, sumber bau ini ada di ruang tamu. Sedang mengintip kami di balik selambu. Anak kecil itu. Menatap kami dengan raut marah. Tak seperti biasanya. Menahan takut aku memberanikan diri melihatnya, gurat marah tergambar di wajahnya. Kepolosannya hilang sudah, berganti dengan ekspresi menakutkan yang selama ini tak kuketahui.

“Bu Yulis, ada apa?”

Kembali pertanyaan itu kulontarkan kepadanya. Namun tak kunjung kudapat jawaban yang jelas. Sampai akhirnya Dewi membuka suara dan menjelaskan semuanya.

“Jadi begini, Mbak...”

***
(Cerita berdasarkan penuturan Dewi, sudut pandang penulis adalah orang ketiga serba tahu)

Malam itu, Dewi, Rina, dan Bu Yulis sepakat akan melakukan hal yang sudah lama mereka rencanakan. Semua perlengkapan sudah mereka persiapkan. Boneka batok, papan kayu, tulisan abjad A-Z, dan angka 0-9 sudah tertempel di papan kayu itu. Ditambah tulisan IYA dan TIDAK di pojok kanan dan kiri papan kayu. Tak lupa, bunga dan dupa sebagai syarat utama kegiatan mereka, tentu sudah disiapkan juga.

Setelah puas melihat TV di ruang tengah bersama yang lain, Bu Yulis mengode Dewi dan Rina untuk ikut bersamanya. Mereka melangkah menuju depan, mengambil beberapa tanah di taman depan dan dimasukkan ke dalam kain putih. Setelah itu, mereka menuju kamar untuk mempersiapkan semuanya.
Sambil menunggu waktu yang tepat, mereka kembali keluar kamar untuk memastikan bahwa semua penghuni kost sudah terlelap. Atau minimal, sudah berada di kamar masing-masing. Dan waktu yang dinanti pun tiba.

Pukul 22.00 tepat. Kondisi di luar sudah sepi.

“Dew, Rin, sudah siap?”

“Siap, Mbak. Yakin aman kan?”

“Yakin. Aman.”

“Ini daftar pertanyaan yang akan kita tanyakan pada anak itu, Mbak.”

“Oke Rin, sini aku yang bawa. Kita mulai ya. Semua tangan pegang pensil ini. Jangan ada yang melepas apapun yang terjadi. Jangan berteriak, jangan takut, jangan memejamkan mata. Kita harus hadapi semua bersama.”

“Baik, Mbak.”

Bu Yulis pun mulai membaca mantra pemanggilan itu. Ya, benar saja. Malam itu mereka sedang bermain ritual ja*langk*ng tanpa sepengetahuan penghuni kost yang lain.

“Mbak, kok aku mulai merinding.” kata Rina tiba-tiba.

“Aku juga, Mbak. Apa dia sudah datang?” tambah Dewi yang mulai gemetar tangannya.

“Tunggu sebentar lagi. Tenang saja, ini baru akan dimulai. Bukankah kalian penasaran dengan anak kecil itu. Malam ini akan kita ungkap semua.”

Bu Yulis kembali mengucap mantra sekali lagi. Kali ini dengan suara lebih menekan tinggi. Tak lama, nampak pensil yang mereka pegang gemetar hebat. Dewi dan Rina saling pandang. Mereka masih ingat pesan Bu Yulis, apapun yang terjadi jangan lepas tangan dari pensil itu. Namun, takut tetap saja takut.

“Dia sepertinya sudah datang. Aku mulai tanya ya.” kata Bu Yulis seraya membuka kertas daftar pertanyaan yang telah mereka buat sebelumnya.

“Apakah kamu sudah datang?”

Pensil itu masih bergetar, namun tak bergerak. Bu Yulis mengulang pertanyaannya lagi.

“Apakah kamu sudah di sini?”

Perlahan pensil bergerak menuju pojok kanan papan. Ya, pensil itu menunjuk kata IYA. Dewi dan Rina nampak semakin pucat. Sementara Bu Yulis masih bisa tersenyum tipis. Kembali pertanyaan Bu Yulis ucapkan.

“Apakah kamu penghuni rumah ini?”

Dengan cepat pensil itu bergerak menuju kata IYA. Spontan Rina langsung melepas genggamannya dan berteriak untuk menghentikan semuanya. Dia berlari menuju tempat tidur dan meringkuk sambil menarik selimut sampai menutupi bagian lehernya. Sementara Bu Yulis dan Dewi masih melanjutkan kegiatan itu.

“Bagaimana Dew? Lanjut?”

“Lanjut, Mbak. Nanggung.” jawaban Dewi terdengar mantab di tengah ketakutannya. Rina hanya melihat mereka dari balik selimut. Sesekali dia menggigil ketakutan dan mulai merapal doa-doa yang dia ketahui.

“Apakah kami boleh mengetahui tentang kamu?”

Kali ini, pensil bergerak dengan cepat menunjuk kata TIDAK.

“Apakah kamu marah jika kami mengetahui tentangmu?

Kembali pensil menunjuk kata TIDAK.

“Apakah kami boleh melanjutkan bertanya yang lain?”

Lagi-lagi pensil menunjuk kata TIDAK. Kali ini pensil terus menerus melingkari kata TIDAK. Dewi dan Bu Yulis pun tak kuasa menghentikannya. Sampai akhirnya Dewi berteriak histeris dan kesurupan. Rina yang melihat Dewi kesurupan semakin takut dan semakin kencang melafalkan doa-doa. Hingga tanpa sadar mereka telah membuat penghuni kost yang lain terbangun dan berbondong menuju kamar mereka.

“Ada apa ini?” Mega yang pertama membuka kamar Dewi dan terkejut melihat Dewi teriak-teriak sambil terus dipegangi oleh Bu Yulis. Sementara Yesi dan Ega merangsek masuk untuk meraih Rina yang menangis histeris untuk dibawa keluar kamar.

“Tolong bantu saya pegang kepalanya.” pinta Bu Yulis yang mulai terlihat panik. Seraya membaca sesuatu, Bu Yulis menekan jempol kaki Dewi hingga dia berteriak semakin tidak karuan.

“Ada apa ini, Mbak?” pertanyaan Mega tak digubris oleh Bu Yulis yang terus menerus merapal sesuatu. Tak lama, Dewi sudah tersadar dan menangis memeluk Mega.

“Ga, tolong bangunin Ida. Dia masih di kamar. Barangkali bisa bantu.” Mega meminta Ega untuk membangunkan Ida.

Beberapa menit kemudian, Ida dan Ega sudah berada di depan kamar Dewi. Hanya selang beberapa detik, mereka mencium semerbak bau kenanga. Disusul dengan teriakan Dewi sambil menunjuk arah dapur. Mereka melihat anak itu berdiri di sana dengan ekspresi kemarahan yang menakutkan. Sontak semuanya berlari ke depan. Kecuali Bu Yulis, dia masih bertahan di tempat sambil terus melihat ke arah anak itu.

***

(Cerita Dewi berakhir. Sudut pandang penulis kembali seperti sebelumnya. Orang pertama serba tahu)

Begitu cerita Dewi kepadaku. Melihat yang lain masih ketakutan, aku memutuskan untuk mengajak mereka ke pos ronda depan perumahan. Beruntung di sana kami bertemu beberapa bapak-bapak yang sedang tugas menjaga keamanan. Setelah menceritakan semuanya, akhirnya beberapa bapak bersedia menemani kami untuk kembali ke kost. Dengan catatan, mereka tidur di teras luar dan kami di dalam.

Peristiwa malam itu tak kuceritakan kepada Mas Boy, atau lebih tepatnya belum kuceritakan. Selain sudah larut malam, aku juga tak mau membuatnya khawatir. Setelah suasana berangsur tenang, aku memutuskan untuk masuk ke kamar. Bu Yulis memutuskan pulang, sementara Mega, Yesi, Ida, Ega, Dewi, dan Rina memutuskan untuk tidur bersama di ruang tengah. Mereka masih enggan untuk beraktivitas di ruang belakang.

Sembari mencoba tidur, tanpa sengaja aku mendengar percakapan bapak-bapak di teras. Ya, letak teras memang tepat di depan kamarku. Samar kudengar mereka berbincang.

“Bukankah rumah ini yang dulu pernah ditemukan mayat bayi itu?” tanya salah seorang Bapak.

“Kata Bapakku sih begitu.” jawab Bapak yang lain.

“Sudahlah, jangan dibahas di sini. Besok saja kita lapor Pak RT. Kasihan anak-anak itu kalau terus diganggu begini. Ayo kita gantian berjaga.” ucap Bapak yang lain. Selebihnya, aku hanya mendengar obrolan ringan di antara mereka. Sampai akhirnya aku berhasil terlelap hingga pagi hari.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
meqiba dan 17 lainnya memberi reputasi
Cerita nya renyah, semngat ya update nya...
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
makin seru lanjutkannnn
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
lanjut sis😁
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
Quote:


Mantap dik, lanjutkan, sebentar lagi dibukukanemoticon-thumbsup
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Quote:


jurusan SASINDO? Pantes ae gaya penulisane smooth
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dizzydeez dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
bu yulis knapa ga di usir aja sih, bikir ribut aja.. esmosi aing...
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


wkwkwk... angkatan th brp? Ane jg ada temen SASINDO UM
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


2011?
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
Quote:


Opera an smooth be.e emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


Loalah rugi dadi sasindo nek ga ngerti 😁
profile-picture
sukaskusuka memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Quote:


Di sidoarjo
profile-picture
sukaskusuka memberi reputasi
Quote:


punya relasi penerbit? Boleh bagi infonya jg, sist?
profile-picture
sukaskusuka memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
aih bikin masalah aja mereka emoticon-Marah
profile-picture
sukaskusuka memberi reputasi
kenapa malah jadi pada nantangin yakk itu bu yulis cs? emoticon-Nohope

Tapi apa yang penulis bilang bener, sometimes, ignorance is bliss

(dalam kasus ini mungkin harusnya jadi most of the times emoticon-Ngakak (S) ).
profile-picture
profile-picture
berodin dan sukaskusuka memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 10 dari 21


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di