CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5cea74af7e93206a12fe3f/let-me-tell-you-a-story-konten-dewasa

🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫

Tampilkan isi Thread
Halaman 26 dari 30
Balasan post cowoalay
Ya mboseni...luluh trz
suruh pke rok aja hery!
hery = heboh sendiry
Balasan post deadtree
Sorry, kayaknya ibu-nya sista kelainan mental ya,,,,sorry to say,,,keep strong for u.....agak ngga kuat mau baca sampai akhir,,,
Balasan post deadtree
buseeettt,,seharian ini dari pagi ampe sore di kantor baca thread sist nih,,,,hemmm complicated banget hidupnya, cuma emang dasar sist terlalu "gampang memaafkan" dan gak menimbang2 kesempatan2 untuk kehidupan yang lebih baik....

dilihat dari semua ini mending penebusan dosa menggugurkan anak dilakukan dgn cara lain, ngga harus sama Herri......berbuat kehidupan yang lebih baik aja sist ke depannya.....dilihat2 IBRA lebih cocok daripada Herri,,,,dan IBRA lebih gentle daripada si Herri ituh....
Balasan post deadtree
Bad mom.. can i kill her?
Balasan post deadtree
Kayaknya lu jadi orang naif bgt sis...kayak gue.gampangan ,dalam artian GK tega kalau GK memaafkan walau sebenarnya masih kecewa dan dendam.itu mungkin baik sis,tapi pada akhirnya akan terus menyakiti diri sendiri kalau tdk tegas.
Btw,,lanjut terus yeee
profile-picture
profile-picture
aganaf dan makgendhis memberi reputasi
wah blm updte sist
profile-picture
profile-picture
ciptawan dan ramakade memberi reputasi
Chapter 27 - Tunas

2 bulan berlalu, dengan aku yang kembali memaafkan. Tak ada yang berbeda darinya, masih sama seperti dia yang aku cinta 5 tahun lamanya.

Kala itu, di bulan April 2018. Aku tiba-tiba dikejutkan dengan pesan Whatsapp dari Ibu. Setelah naik turun marah akur marah akur, kali ini Ibu akur (lagi) dan menghubungiku dengan kabar bahwa dia akan ke Jakarta dan mau menemuiku. Saat namanya muncul di layar handphoneku, ada rasa tak nyaman di tubuhku. Rasa sakit di dadaku, badan gemetaran dan panik langsung menyeruak bersamaan dan aku ketakutan setengah mati (belakangan aku tahu itu namanya trauma dan tertekan berat). Awalnya aku tak ingin membalas pesannya, dan saat kuceritakan itu pada Herri dia juga terkesan acuh. Karena balik lagi, aku orang yang 'tidak enakan', akhirnya kubalas pesannya dan bilang kalau aku akan menyambutnya di Jakarta.
Saat tiba di Jakarta, Ibu dan adik-adiknya langsung mampir ke kostku. Mereka nampak seperti rindu sekali padaku, tapi entah kenapa aku tidak nyaman berada di keliling mereka. Saat itu, tak ada yang salah hanya saja aku merasa aku tidak seharusnya disini dan aku merasa ini semua sebuah kesalahan besar. Terutama dengan tatapan tajam Ibu yang membuatku takut meski sebenarnya dia tak berniat menatapku setajam itu.
Selama di Jakarta, Ibu banyak kutemani. Dia juga memintaku untuk ikut serta ke Surabaya bersama Herri dan adik-adiknya (saat itu memang libur panjang dan Herri ikut Ibu pulang ke Surabaya). Awalnya aku agak berat, aku takut kejadian subuh dulu itu terulang lagi, apalagi sekarang kondisinya kami sudah seringkali bertengkar. Aku disana sendirian dan tak punya siapa-siapa tempatku kabur kalau terjadi hal yang tidak menyenangkan. Akhirnya kuputuskan untuk tidak ikut, yang berujung dengan raut muka Ibu yang friendly berubah menjadi kecewa dan membuatku tidak nyaman.

SKIP

Di pertengahan Juli 2018, aku sedang asik numpang kerja di laptop Herri. Tapi entah kenapa rasanya ingin sekali kepo dengan isi laptopnya. Aku search bagian history google chromenya, dan benar saja ada nama Ginta di sana. Dengan keywords "ginta cantik", "instagram ginta", "tanggal lahir ginta" dll. Sebelumnya, setelah insiden berantem di tahun lalu, Herri berjanji untuk memblock whatsapp ginta, dan unfollow instagramnya yang kebetulan juga diprivate. Herri juga sangat amat tidak ingin aku menyentuh handphonenya, dia merasa aku sudah cross the line dengan membuka isi handphonenya. Okelah aku salah. Tapi darahku mendidih lagi melihat isi google chrome lelaki itu. Saat Herri masuk kamar, aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan, tanpa emosi tanpa nada tinggi dan tanpa air mata seperti sebelum-sebelumnya. Herri tak ada perlawanan saat itu, dia hanya diam seribu bahasa dan di akhir pertengkaran dia berjanji tak akan mengulanginya lagi. Tapi entah kenapa aku muak rasanya dengan semua kalimat bodoh Herri dan meninggalkannya sendiri di kamar.
Keesokan harinya, Herri pulang ke Surabaya dan aku tak perduli sama sekali. Cukup lama dia cuti saat itu hampir 2 minggu. Tak sedikitpun aku menghubunginya, hanya Herri yang terus-terusan mengabariku. Aku tak bergeming. Muak sekali rasanya. Aku sibuk dengan teman-temanku dan berencana membuka bisnis kecil-kecilan. Herri pulang di tanggal 1 Agustus, dan dia meletakkan oleh-oleh kesukaanku di depan pintu kamar dengan pesan untuk dikembalikan saja padanya jika aku tak mau terima dan jangan dibuang. Aku luluh (lagi) dan mengetuk kamarnya, Herri dengan senang hati menyambutku dan memelukku erat saat itu.

Malam harinya, entah kenapa Ibu mengirimiku pesan dan bilang dia rindu sekali dengan Smith. Ibu ingin dibantu untuk mencari Smith agar dia bisa meminta maaf dan kembali bersama. Aku yang sedang dalam kondisi senang karena baikan dengan Herri langsung berinisiatif menghubungi temanku Nathan di Los Angeles dengan catatan aku tak bisa berjanji apa-apa. Karena Amerika tidak sekecil itu dan Nathan juga sibuk dengan pekerjaannya sebagai web developer dan bisnis restorannya di beberapa kota. Ibu mengiyakan saat itu.
Aku memang menghubungi Nathan dan meminta bantuannya, tapi sadly Nathan marah padaku karena dia merasa aku dibodoh-bodohi Herri sekeluarga. Nathan bahkan tak mau membantuku sama sekali, dia ingin aku melepaskan Herri saat itu. 2 hari kemudian Ibu menghubungiku dan aku bercerita kalau Nathan sedang tidak bisa membantu karena memang harus mengurusi restorannya yang baru saja buka cabang di sebuah kota kecil di sana. Ibu hanya membalas dengan "Oh, ok. Kamu memang tidak pernah berubah, niatmu busuk!" daaaaaan kemudian nomorku di blokir.

Esoknya, aku ceritakan itu ke Herri. Herri yang sepertinya sudah mendengar cerita dari sisi Ibu hanya menjawab "Ya salah, janjiin Ibu tapi ingkar" sambil acuh dengan laptopnya tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Aku langsung terdiam dan kembali ke kamarku. Malam harinya, sepulang kantor aku kembali mencari Herri di kamarnya dan dia masih sibuk dengan laptopnya, niatku ingin berkeluh kesah masalah kerjaan ke pacar sendiri. Tapi saat aku ingin memeluknya dari belakang, Herri langsung dingin dan ketus sekali, "Apa sih! Aku lagi sibuk kerja lho. Jangan ganggu ah! Nanti aja!".

DHEGGG. Disitu semua urat sabarku rasanya seperti putus, semua rasa cintaku padanya mendadak hilang, dan semua berubah menjadi rasa benci dan muak padanya. Aku kembali ke kamarku dan mengurung diri. Semalaman aku tidak tidur memikirkan apa yang sudah dia lakukan padaku, lengkap plus minusnya. Kutulis semuanya di kaca riasku dan aku berkaca disana sampai subuh. Pagi-pagi sekali aku berangkat ke kantor, dan kemudian mengiriminya pesan whatsapp:
"Mas, kayaknya kita udahan deh. Aku gak bisa hidup begini terus, entah aku yang salah atau kamu yang salah aku udah gak perduli. Semoga setelah ini kamu bisa sadar bahkan aku berkorban nyawa anak kandung kita di dalam hubungan ini. Semoga gak ada lagi aku-aku yang lainnya di hidupmu."

Balasannya apa? "Oh, yaudah kalau itu mau kamu"

Hari itu, aku bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak lagi menoleh ke arahnya. Aku berdoa pada semesta alam agar dipertemukan dengan lelaki yang bisa memberiku rasa sayang yang luput kurasakan dari Papa dan dari seorang pasangan. Tak ada air mata, hanya rasa nyeri di dada. Sakit sekali rasanya, bahkan sekarang Herri tak membelaku atau mencariku sama sekali. Seolah-olah cinta itu juga sudah hilang dari hatinya atau mungkin dia berfikir aku akan kembali lagi padanya seperti yang sudah-sudah.
Minggu depannya, aku pindah ke kost yang jaraknya tak jauh dari kostku sebelumnya. Herri membantuku pindahan meski wajahnya dingin. Aku tiba-tiba teringat kalau ulang tahun herri tinggal 1.5 bulan lagi dan aku sempat terfikir apa dia akan kesepian kalau aku pindah bla bla bla. Tapi melihat muka dinginnya itu rasanya ingin sekali kuinjak-injak. Seharian aku sibuk membereskan kamar dan tak melihat isi handphoneku. Herri sempat mengirimiku beberapa pesan yang menanyakan apa aku butuh bantuan dan hal basa-basi lainnya. Aku hanya bilang thanks.

Seminggu berlalu, aku iseng membuka pesan di kotak masuk handphoneku, ada beberapa pesan yang belum kubuka. 99% dari operator dan 1% dari nomor tidak kukenal. Aku iseng membuka sms itu yang berisikan kalimat menggelikan,
"Knock knock! Excuse me, it seems like God has given you everything but my whatsapp text. Wanna try?"

Enggak, aku bukan tipe yang akan peduli dengan chat macam di atas. Tapi entah kenapa ada rasa ingin membalas pesan itu, yang turned out dia orang yang menyenangkan diajak berdiskusi. Pria ini pintar, wawasannya luas dan cara bercandanya juga bodoh. Entah kenapa aku langsung merasa sudah kenal lama dengannya. Aku yang awalnya lebih asik nonton tv, kini jadi sibuk membenamkan diri di layar handphone dan berbincang dengannya.
Herri juga masih sesekali menghubungiku lewat whatsapp, tapi aku malah seolah merasa lebih ingin menunggu pesan-pesan bodoh dari pria itu. By the way, kabar putusku dengan Herri juga sampai ke telinga Ibra. Dia beberapa kali mengunjungiku ke kost baru dan mengajakku berkencan fancy seperti Ibra as usual. Tapi lagi-lagi, laki-laki ini lebih menghipnotisku daripada Ibra yang sepertinya berniat mengajakku rujuk. Padahal aku belum pernah bertemu dengannya, videocall hanya sepintas kurang dari satu menit dan Herri terlihat seperti tidak rela melepaskanku saat aku ceritakan kalau aku dekat dengan seorang lelaki. Aku jadi seperti playgirl yang meladeni chat dari Ibra, Herri, Pria Ini, dan satu lagi lelaki yang juga teman lamaku yang jadi tempat sampah curhatku semenjak aku putus dengan Herri. Tapi yang kutunggu balasannya hanya Pria Ini, aku merasa aku bisa menceritakan seisi duniaku padanya. Depresiku, beban hidupku, dilemaku perkara agama, hancurnya hatiku dan bahkan perkara sepele soal kekesalanku ke tukang ojek. Pria ini bisa menjadi teman baikku, yang baru kukenal tapi serasa mengenalnya seumur hidupku.
Namanya Adara, aku memanggilnya Mas Ara. Dia seumuran denganku, jauh lebih tinggi dariku yang cuma 160cm, putih bersih, rambutnya tebal dengan suara berat. Mas Ara punya suara yang bagus dan memang dulu sering nyanyi. Dia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Mas Ara bilang, dia kenal dariku dari media sosial dan langsung gercep mencari kontakku dari semua orang yang ada koneksi denganku. Dia bilang ingin berteman denganku karena lihat isi twitterku yang katanya menyenangkan dan ingin mengajakku bekerjasama di bisnis sampingannya sebagai tim kreatif.

Itu sekilas tentang Mas Ara, lelaki yang dulu tak pernah terbersit sedikitpun akan jatuh hati padanya dan kini dia resmi menjadi suamiku emoticon-Smilie

Ceritanya tamat teman-teman.
Kalau mau, aku akan buatkan additional story aja di sini, tentang Herri setelah berbulan-bulan putus dariku, tentang Mas Ara, tentang struggle-ku dengan Major Depressive Disorder yang ternyata kuidap 10tahun, tentang kisah mantan-mantanku, dan tentang keluargaku secara mendetil. Kalau mau, tulis di kolom komentar aja. Kalau banyak yang minat, aku lanjutkan. Kalau enggak, aku gembok threadnya.


Maaf ya kalau ada kekurangan dan kesalahan selama cerita. Sekali lagi, cerita ini ga murni sesuai kenyataan. Banyak yang aku twist tapi inti ceritanya tetap sama. Rasanya pengen share tentang fotoku berdua Mas Ara. Tapi nggak deh, ehehehe. Ditunggu ya komentar soal additional story-nya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makgendhis dan 22 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh deadtree
Lihat 7 balasan
happy ending ya sis... buatin aja additional story nya sis. tp ttg herri skip aja. males banget haha..
profile-picture
bryan10herera memberi reputasi
Quote:



Pdhl awalnya ku kira bakal jd sama mas ibra ternyata emg jodoh bisa datang dengan cara yg tidak dpt dibayangkan ya.
Makasih sista uda share jalan hidup sista. Semoga bahagia selalu ya dengan mas ara emoticon-Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
menk93 dan 5 lainnya memberi reputasi
buatin epilog dong sis, keadaan para tokoh, dan gimana sista berdamai dengan masa lalu terutama ortu dan juga kondisi para tokoh, seperti heri, ibu, mas ibra.
profile-picture
profile-picture
aganaf dan bryan10herera memberi reputasi
major depresive dissorder kayaknya oke tuh sis, jadi bisa share pengetahuan. illness macam ini yang masih nggak banyak orang kita aware soalnya, dianggap sepele..hehe..
profile-picture
aganaf memberi reputasi
bela-belain bikin account cuma buat bales thread ini yang selalu aku tunggu kelanjutan ceritanya.
Thanks sista buat sharingnya dan masih berharap ada kelanjutan kisahnya. Jodoh memang tak terduga yaa emoticon-Smilie
Happy ending. Makasih udah mau share disini sist. Semoga bahagia selalu ya sist. Di tunggu cerita tambahannyaemoticon-Smilie
profile-picture
bryan10herera memberi reputasi
Balasan post deadtree
jadi terakhir nikah sama sapa ya sist ? penasaran
Tamat ya... Kirain masih panjang ceritanya...
Semoga bahagia selalu ya sist, ditunggu additional story nya, with mas ara aja, kan baru sekilas aja diceritain disini emoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
aganaf dan bryan10herera memberi reputasi
Balasan post deadtree
lanjut plis!!
Balasan post deadtree
Saya tunggu side storynya sis, menarik.....plisssss updatedr ya sis..
aku tungguuu lanjutannyaa😍
Halaman 26 dari 30


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di