CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d8285804601cf7edc360669/seikat-dusta

SEIKAT DUSTA

Tampilkan isi Thread
Halaman 7 dari 9
Makin gemesin ceritanya
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
Quote:


Quote:


Makasij🤗
profile-picture
adityasatriaji memberi reputasi
Izin nenda sist..
emoticon-terimakasih
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
Quote:


Waduh, udh part 38 aja 😅
profile-picture
profile-picture
ummuza dan alunaziya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


emoticon-Ngakak
Quote:


Diizinkan, deh.
Makasih😉
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Quote:


Kudu gercep nih, biar ngga ketinggalan jauh emoticon-Ngacir2emoticon-Ngacir2emoticon-Ngacir2
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
Balasan post alunaziya
Dinar jatuh cinta yah?
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
Sudah part 38 ajah Sist. Bravo yah!
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
Quote:


Masa?😁

Quote:


Kalau lagi kumat nulisnya😄
profile-picture
qoni77 memberi reputasi
Waduh,rugi banget ane baru tahu ada trit ini. Ceritanya bikin emosi campur aduk.
Kadang heran,kok ada orang seperti TS nya ini bisa bikin cerita yg keren begini.
Semoga lanjut terus sampai tamat ya..emoticon-Toast
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
Quote:


Ya Allah.
Ini pujian apa sengaja bikin daya melayang, ya?

Makasih🤗🙏
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post alunaziya
Ente berhak dapatkan pujian itu,sis. Semoga melayangnya gak bikin lupa berpijak ke bumi lagi ya.
profile-picture
alunaziya memberi reputasi

SEIKAT DUSTA

part-39

Rere terpaku diam, lidahnya kelu saat menyaksikan betapa dua insan papa di depannya larut dalam kerinduan yang tak diharapkan. Ia hanya berpaling saat melihat tubuh rapuh ibunya dipeluk oleh pria lain, bukan sang ayah. Ia bahkan tak mampu menghentikan air mata yang kian berderai membasahi wajah.

Bian hanya menghela napas, merasa lega sekaligus iba saat menyadari kegundahan di wajah gadis yang kini berada di dekatnya. Ia pun tidak mengelak saat Rere mendorongnya perlahan agar sedikit menjauh. Pemuda itu hanya menahan senyum.

"Ap-- apa yang terjadi?" Pertanyaan itu masih berulang meski Galang tak sekali pun menjawab. "Re-- ... Rere??" gumam Dinar saat mendapati sang gadis juga berada dalam ruangan itu.

Galang hanya diam saat Dinar tiba-tiba mendorongnya menjauh hingga rengkuhan itu pun, terlepas.

"Ya, Bu. Ini rere ...." Seketika gadis itu menghambur ke pelukan sang ibu. Mereka kemudian menumpahkan semuanya dalam tangis, penuh kesedihan sekaligus syukur yang tak terungkapkan. Hingga ....

Brukk!!

"Ibu ...!" teriak Rere saat tubuh ibunya terkulai lemas di pangkuannya. "Om. Tolong Ibu ...!" serunya menatap ke arah Galang yang terlihat kebingungan.

"Apa? Ada apa, Rere? Dinar?!" Pria itu menggapai, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Bian segera mendekat dan mengangkat tubuh lemas Dinar dari pangkuan Rere yang panik dan terus memanggil ibunya.

"Sepertinya ibumu mengalami syok. Kita harus membawanya ke Rumah Sakit." Bian berusaha menenangkan Rere yang tak mau melepaskan tangan Dinar. "Tolong bantu Bapak ke mobil," pintanya seraya bergegas pergi.

Rere tak lagi membantah, ia beralih ke Galang, membantu pria itu duduk di kursi roda lantas mendorongnya mengikuti Bian yang keluar dengan setengah berlari menuju mobil di seberang jalan.

---

Hardian mempercepat langkah saat melihat Rere duduk di kursi tunggu, sementara Mami mengikuti dengan terburu-buru. Suara ujung tongkat yang beradu dengan lantai koridor terdengar makin tergesa.

Semakin dekat, sepasang mata pria itu memicing. Ia seolah ingin memastikan sosok lain yang juga berada di sana, di atas kursi roda. Benar saja, seketika darahnya mendidih begitu melihat wajah Galang dari dekat, raut muka yang tegang bahkan terlihat acuh dengan kedatangannya.

"Kau ...?"

Bugh!!
Seketika Galang tersungkur di lantai, disusul jeritan Rere yang sontak berlari mendekati pria yang kini telah jatuh dari kursinya itu, berusaha membantunya duduk.

"Ayah! Apa yang Ayah lakukan?!" teriaknya sambil menatap Hardian yang berdiri tegak di hadapan mereka. Tangan pria itu masih terkepal. Wajah pun tampak garang dengan mengatupkan rahang.

"Tidak apa-apa, Rere." Galang hanya tersenyum dan menggapai untuk mencari pegangan. Ia tak menolak ketika gadis itu membantu berdiri, juga menahan kursi agar tidak bergerak saat ia berusaha duduk kembali. "Terima kasih," ucapnya lirih.

"Apa-apaan ini? Jadi-- kalian tinggal dengan orang ini?" tanya pria itu sembari menarik lengan sang putri agar menjauh dari Galang. "Jawab, Rere?!" geramnya.

"Lepas!" Rere menepis tangan ayahnya.

"Rere!" Kali ini sang nenek yang memanggil, tapi saat gadis itu menoleh, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya dengan tiba-tiba tanpa ia duga. "Anak tidak tahu diuntung," gumamnya.

"Mamih ...." Hardian menahan tangan ibunya yang sudah terlanjur melayang di wajah putri semata wayangnya. Terlambat sudah.

"Begini perlakuanmu sama orang tua? Kamu tahu apa yang sudah orang ini perbuat?" tanya wanita baya itu seraya menunjuk ke arah Galang. "Dia kekasih ibumu, Rere. Mereka sudah selingkuh di belakang ayahmu ...!" jeritnya tak dapat menahan emosi.

Rere sama sekali tak bersuara, bahkan saat neneknya itu kembali ingin menggapai tapi kembali dihalangi oleh Hardian yang langsung memeluknya. "Mami ... sudah. Jangan seperti ini," ucapnya.

"Lepaskan mami, Hardi. Mami harus bicara agar dia tidak selalu menyalahkanmu. Anak itu harus tahu semua kelakuan ibunya," sahutnya mencoba melepaskan diri.

"Mamih ...? Sudah. Tidak di sini," tukasnya pelan.

"Kalian ingin ibuku mati, kan?" Pertanyaan itu membuat mereka diam. Bukan hanya Hardian yang menoleh ke arahnya, tapi sang nenek pun menatap gadis itu tanpa kata.

Dari arah lain, Bian berdiri diam dengan tiga gelas kopi di tangan. Ia memang pergi mencari minuman dan beberapa potong roti bakery.

"Ibu berjuang di antara hidup dan mati, apa itu semua tidak ada artinya? Nenek terus ... saja menyalahkan Ibu. Itu sama saja menyuruhnya mati, Nek. Memangnya kalian pikir Ibu tak punya hati? Kalau memang Ibu pernah salah, bukan berarti harus menyiksanya seumur hidup, Ayah ...!" Hampir menjerit gadis itu mencoba berdiri tegak meski berurai air mata.

"Apa?" Hardian terhenyak. Semua pun terdiam dan hening untuk beberapa saat.

"Oh .... Kepala mamih. Awh ... awhh!" Nenek tiba-tiba tampak limbung dan memegangi kepala.

"Mih ... Mamih. Suster ...!" Hardian memegangi tubuh sang ibu dan berteriak memanggil suster yang kebetulan melintas tak jauh dari tempat itu.

Bian bergegas menolong setelah meletakkan bawaannya di kursi tunggu. Untuk beberapa saat, ia mengabaikan Rere yang masih berdiri tak jauh dari Galang yang bungkam di kursi rodanya. Ia dapat merasakan kekacauan itu meskipun hanya melihat gelap. Ada noda merah di sudut bibirnya yang pecah karena dihantam bogem mentah Hardian sebelumnya.

---

(Next)

---
profile-picture
profile-picture
profile-picture
riskaultimate dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
masih next ya, sudah 38 part, semangkin penasaran aja nih.
profile-picture
profile-picture
wijayanita dan alunaziya memberi reputasi
Balasan post alunaziya
Akhirnya Rere berani mengeluarkan apa yg selama ini bergejolak d dlm pikirannya, semoga setelah ini sang mami mau mengakui kekeliruannya.
Nais update, tengkyu sis.. emoticon-Toast
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
Quote:


Bagus Kak
Salut ma semangatnya

Semangat Jum'at
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
lanjutin kak , ndak sabar ni lanjutan ceritanya seru abis👍
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
alunaziya;Part 26

Galang terdiam, juga Rere yang masih berdiri menatapnya dengan tajam, ada kesedihan yang terpancar dari wajah ayu nan sendu, mengingatkannya pada sosok yang kini terbaring di dalam ruangan yang tak mampu dia temui.

"Kamu ... Rere?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari tatapan gadis itu.

"Ada hubungan apa antara Om dan Ibu?" Lirih dia bertanya, tak mengindahkan pertanyaan lelaki itu. Suster yang masih berada di belakang Galang, mulai mendorong kembali kursi roda itu dengan perlahan. "Tunggu!" tahannya, menghalangi jalan mereka, "jawab dulu pertanyaanku," lanjut gadis itu.

Galang menghela napas, lalu menoleh ke arah suster cantik itu dan mengangguk, "Suster bisa tunggu sebentar?" tanyanya.

"Maaf, Pak. Ini di luar kewajiban saya," sahutnya.

"Biar saya yang antar, Sus!" serunya, membuat mereka serentak menoleh memandang Rere yang tetap berdiri menghalangi jalan.

"Kamu serius?" tanya Galang tak yakin.

"Om harus menjelaskan semua yang terjadi dengan Ibu. Semua," sahutnya lirih.

Galang tak langsung menjawab, ia mengangguk pada suster yang telah berbaik hati mengantarkannya beberapa saat yang lalu hingga sampai di tempat itu. "Terima kasih, Sus. Biar dia nanti yang mengantarkan," ucapnya datar.

"Baik, Pak. Saya permisi," sahutnya, kemudian berlalu meninggalkan mereka setelah menatap Rere beberapa saat untuk memastikan.

Galang tak menolak atau pun mengelak saat Rere dengan cepat mengambil alih dan mendorong kursi itu menjauhi ruangan Dinar dirawat dan tertutup rapat. Ia pun tak ingin nenek atau ayahnya melihat keberadaannya, apa lagi dengan orang yang mungkin berhubungan dengan kecelakaan yang dialami oleh sang ibu.

Masuk ke dalam lift, mereka harus berbagi tempat dengan pengguna lain yang juga turun ke lantai bawah. Galang hanya menghela napas dalam-dalam, aroma lembut yang dipakai oleh gadis itu, adalah parfum kesukaan Dinar. Seketika ada rasa merana yang sangat menyesak, mana kala mengingat sosok yang ia rindukan itu, kini terbaring tak berdaya.

"Ruang mana, Om?" tanyanya saat lift berhenti dan mendorong kursi perlahan keluar dari sana.

"Rajawali, kamar no 13," jawabnya. Tidak ada sahutan, Rere hanya mengawasi sekeliling sambil terus mendorong kursi yang bergerak perlahan menyusuri lorong yang sesekali terlihat orang lain berlalu-lalang. Galang menengok sebentar, melihat wajah gadis itu terlihat mencari lalu kembali memperhatikan sekeliling. Sofi bisa saja muncul tiba-tiba dan bertemu dengan mereka, dan itu akan tambah memperburuk masalah yang sedang mereka hadapi. "Rere! Kita bicara di sini saja," sahutnya, menahan langkah gadis itu.

"Ya?" tanya Rere, menghentikan jalan saat mereka telah sampai di sebuah kursi tunggu tepat di lorong yang berbelok menuju ke kamarnya.  Beberapa pasien dan keluarganya, terlihat duduk daan bercengkerama di sana.

"Istriku tidak akan senang bertemu denganmu," lirihnya.

Rere tertegun, mengerti dengan kekhawatiran lelaki itu dan semakin menyadari kesalahan yang telah diperbuat oleh ibu dan orang yang kini sedang melihatnya. Perlahan, gadis itu mengangguk dan duduk di kursi besi, tak jauh Galang. Hening sejenak. Mereka hanya memperhatikan sekitar dan beberapa suster yang melintas di depan mereka.

"Saya pernah bertemu dengan istri Om, sekali," jawabnya lirih, menunduk.

Galang tampak sedikit terkejut mendengarnya, karena Sofi tak pernah menyinggung tentang pertemuan itu. "Kapan?" tanyanya menggumam.

"Hari itu, di ruangan dokter." Rere diam sebentar, memperhatikan wajah lelaki di sebelahnya terlihat diam. Ia tersenyum getir kemudian melanjutkan, "Tante sepertinya sangat membenci Ibu. Saya pun tidak tahu apa alasannya kenapa dia bilang tidak akan pernah memaafkan kesalahan Ibu. Apa yang terjadi, Om?"

Galang terdiam, menahan gejolak yang kian membuatnya merasa sangat bersalah melihat gadis itu. Bahkan sikapnya persis dengan Dinar yang begitu adem dan tidak meledak-ledak seperti Sofi. Entah kenapa, dia merasa malu berada di depan gadis manis yang terlihat begitu sedih itu. "Maafkan aku," gumamnya lirih.

Rere menoleh, pandangan mereka bertemu. Namun Galang buru-buru mengalihkan tatapannya, mengusap wajah dengan tangan yang terlihat gemetar dengan gusar. "Maaf karena membuat ibumu menderita," lanjutnya dengan suara bergetar dan mengempaskan napas beberapa kali.

"Apa yang Om lakukan pada Ibu? Apa salahnya?"

"Tidak ada!" sahutnya cepat, menatapnya dengan mata yang terlihat memerah. "Dia orang yang baik, istri yang baik, dan juga ibu yang baik. Akulah yang bersalah," jelasnya berusaha tegar.

"Om ... mencintai Ibu?" tanyanya lirih, menatap lelaki yang hanya menatapnya itu, kemudian mengangguk perlahan, mengiyakan. "Kenapa? Om tahu itu salah, kan? Ibu adalah sahabat dari istri Om sendiri," lanjutnya.

"Aku tahu." Lelaki itu mengangguk dan kembalu melempar pandangan ke arah lain, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tenang, "Sofi sering menceritakan tentang ibumu, memujinya karena mereka dulu bersahabat baik dan tentang kisah hidupnya yang menyedihkan. Ehm ... entahlah, aku hanya merasa telah mengenalnya dari apa yang diceritakan oleh istriku. Meski belum pernah bertemu dengan ibumu," gumamnya tersenyum kecil.

"Kalian ... berhubungan dekat?" tanyanya.

"Hemm," gumamnya mengangguk. "Sempat. Lebih tepatnya, aku yang memaksa ibumu," sahutnya lebih tenang saat melihat wajah Rere yang tak tampak marah, tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

"Ibu bukan orang seperti itu, Rere tahu," gumamnya, menunduk sedih. "Ibu sangat mencintai ayah, lebih dari apa pun. Dia sudah sangat menderita selama ini, Om," lirihnya.

Galang terdiam, memandang gadis itu dengan perasaan iba. "Aku ...." Ia tak melanjutkan ucapannya saat menyaksikan tangan gadis itu mengusap kedua pipinya yang telah berderai air mata. "Rere," panggilnya lirih, menahan diri untuk tidak beranjak dari kursinya.

"Ibu berjuang keras agar bisa diterima Nenek, Om. Saya tahu bagaimana Ibu berkali-kali mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari keluarga Ayah. Bertahun-tahun, Om. Juga saat Ibu bertahan dengan keadaan Ayah beberapa tahun lalu. Ini sangat berat buat Ibu, Om ...." Gadis itu terisak, tak dapat lagi menahan tangisnya.

Galang hanya menatap dengan beberapa kali menghela napas berat, sesekali memejamkan mata, menahan dada yang kian bergemuruh. Mereka tak bicara lagi untuk beberapa saat, hingga kemudian Rere terlihat tenang kembali, mengusap wajahnya dari jejak basah dan menoleh ke arahnya. "Apa Ibu sering tertawa?" tanyanya.

"Apa?" Galang tergagap, tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. " Hmm ... jarang. Hanya tersenyum saja, beberapa kali. Sepertimu," jawabnya ragu.

"Terima kasih, Om," sahutnya. Galang tak bergeming, kembali terperangah dengan apa yang dilihatnya. Bukan gadis yang marah dan menamparnya, atau mencacinya dengan kata-kata kasar, tapi ....

"Kau ... tak marah?" tanyanya lirih.

"Tentu saja," jawabnya, menghela napas dan kembali mengalihkan pandangan ke arah lain. "Saya pernah menyangka Ibu pergi dan meninggalkan kami saat melihat koper pakaian di dalam mobil. Saya tidak akan menerima itu, juga tidak akan memaafkannya. Terima kasih sudah mau mengantarkan Ibu ke stasiun, Om. Maaf karena tak sengaja mendengar penjelasan Om di depan Ayah beberapa saat yang lalu," sahutnya.

Galang hanya tertegun, sepertinya gadis itu telah mendengar apa yang ia katakan saat menemui Hardian. Lelaki itu semakin merasa kagum dengan kedewasaan yang dimiliki oleh Rere, bukan sikap gadis seusianya. 'Dia mirip sekali denganmu, Dinar,' bisiknya dalam hati.

"Sampaikan salam saya untuk Tante, Om. Meskipun mungkin dia tidak berkenan memaafkan kesalahan Ibu, tapi saya sangat berterima kasih karena dia telah berniat baik untuk menjadi donor saat kami sangat membutuhkan. Terima kasih," lirihnya, tersenyum.

"Donor?" Galang semakin terhenyak mendengarnya, merasakan sesal yang kian memenuhi relung hati. "Sofi?" ulangnya lirih tertahan.

"Dia orang yang berhati mulia, Om. Jangan pernah menyakitinya lagi. Saya berharap, ini adalah pertemuan terakhir kita, Om." Rere menatapnya lekat-lekat. Galang mengerti maksud perkataan gadis itu, yang memintanya untuk menjauh dan meninggalkan ibunya.

"Ya. Baiklah," sahutnya mengangguk.

"Terima kasih, Om. Mari saya antar ke kamar." Gadis itu beranjak dari duduk dan kembali mendorong kursi roda itu dengan perlahan, menuju arah yang ditunjukkan oleh Galang. Meninggalkan seseorang yang diam di balik dinding, terlihat mengusap wajahnya yang telah basah oleh air mata yang masih meleleh di kedua pipinya. Sofi menggenggam erat kantung plastik kecil berisi obat ditangannya, menangis sesenggukan.

Pintu terbuka, dan Rere mendorong kursi itu masuk mendekati tempat tidur, ada tongkat yang tersandar di sisinya. Sejenak, gadis itu memperhatikan ruangan yang tampak bersih itu, juga sebuah tas agak besar di atas meja.

"Om sudah berkemas?" tanyanya.

"Iya. Besok, aku meninggalkan rumah sakit," jawabnya.

"Syukurlah," gumamnya dan berjalan menjauh, mendekati bunga indah di dalam vas gelas besar di dekat jendela, menyentuhnya lembut. "Bunga yang cantik. Ibu sangat menyukai wangi bunga," lirihnya.

Galang terdiam, sekali lagi memperhatikan gadis itu, mencoba mencari sosok Dinar dalam bayang yang samar. "Rere ...." Ragu, ia memanggil.

"Ya," sahut gadis berambut panjang itu menoleh.

"Bolehkah, aku bertemu Ibumu sekali saja? Untuk yang terakhir?" pintanya dengan tatapan nanar. Rere tak menyahut, ia hanya menatap wajah lelaki itu tanpa kata, kemudian berjalan perlahan menuju ke arah pintu. "Izinkan aku meminta maaf padanya, Rere. Sekali saja ...." Terdengar lebih keras, tapi gadis itu tak menghiraukan dan berlalu pergi tanpa menoleh.

Galang hanya diam termangu, menatap daun pintu yang tertutup rapat. Tak berapa lama, lelaki itu tertunduk menutup wajah dan meremas rambut di kepala, kedua bahunya terlihat berguncang, tak bersuara.

___

Lorong terlihat lengang, hanya tampak beberapa suster yang melintas karena harus berjaga. Tak tampak lagi pasien berseragam rumah sakit yang berjalan-jalan atau di dorong menggunakan kursi roda, semua berada di dalam kamar untuk beristirahat.

Galang kembali merubah posisi tidurnya, melihat ke arah jarum jam di dinding, pukul dua pagi. Sofi pun tampak tertidur di atas sofa, membelakanginya. Perlahan, lelaki itu bangkit, menyingkap selimut yang menutup sebagian tubuhnya, lalu turun dengan hati-hati seraya meraih tongkat yang berada di sisi tempat tidur.

Tertatih, ia melangkah dengan berpegangan sisi meja dan dinding untuk menahan keseimbangan, sementara sebelah tangan mencengkeram tongkat dengan kuat. Menyeret sebelah kakinya yang masih terbalut perban sebatas lutut.

Geriiitth!
Suara pintu terdengar lirih, kemudian menutup kembali dengan perlahan, tepat bersama terbukanya sepasang mata indah Sofi yang semula terpejam. Bulir hangat kembali meleleh di sudutnya, membasahi bantal butih yang menyangga tidurnya. Perlahan, ia kembali memejamkan mata, mencoba abai dan tak ingin mengikuti kata hati yang menyuruhnya untuk berlari mengejar lelaki yang sangat ia cintai itu. 'Bertahanlah sekali ini saja, Sofi! Semua akan membaik esok hari,' bisiknya dalam hati.
Perih.

Sementara Galang masih terseok setapak demi setapak menyusuri lorong yang senyap, sesekali merapatkan rahang, menahan nyeri yang ia abaikan. Ia mengatur napas saat berada di dalam lift, juga menyeka basah di kening yang sempat menetes ke dagunya. Kemudian kembali melangkah pelan dengan sesekali berhenti dan bersandar di dinding lorong, lalu kembali tertatih menuju kamar di ujung lorong yang sunyi itu.

Tuk! Tuk! Tuk!
Ketukan itu berulang dan membangunkan Rere dari lelapnya. Gadis itu menoleh ke arah pintu, lalu menatap ibunya yang masih terbaring dengan slang oksigen dan juga kabel detektor yang terhubung ke monitor di sebelahnya, mengeluarkan ritme teratur. Perlahan ia beranjak dari sofa kecil yang ia sengaja dekatkan dengan tempat tidur, lalu berjalan membuka pintu.

Masih dengan terengah, juga wajah yang berkeringat, lelaki itu menatap Rere dengan sorot mata yang lelah. Berharap gadis itu memberikan kesempatan padanya untuk masuk dan menemui Dinar.

"Om?" lirihnya tak percaya, menoleh ke arah jam di dinding dan kembali memperhatikan keadaan lelaki di depannya. Pandangannya tertuju ke arah perban di kakinya, bersemu merah yang membias di kain kasa putih itu. "Apa yang Om lakukan?" tanyanya dengan suara yang tercekat.

"Biarkan aku bertemu dengannya, Rere," lirihnya terengah, menatapnya dengan sungguh-sungguh.

"Saya bantu--" Rere mengulurkan tangan untuk membantu, namun lelaki itu menggeleng dan menepisnya dengan lembut.

"Tidak, Rere. Aku bisa sendiri," ucapnya tersenyum, berterima kasih karena gadis itu masih peduli dan mengkhawatirkan keadaannya.

"Om tidak apa-apa?"

"Ya, tidak apa-apa, Rere. Terima kasih," ucapnya masih tersenyum. Gadis itu perlahan mundur dan memberikan jalan untuknya. Sejenak, ia diam terpaku, lalu melangkah masuk dan berjalan mendekati tempat tidur di sudut ruangan itu, perlahan-lahan. Rere tak sanggup menyaksikannya, ia bergegas ke luar kamar dan berdiri di balik pintu yang tertutup, perlahan merosot dan terduduk diam di sana, tanpa kata.

'Maafkan Rere, Ayah,' bisiknya dalam hati, merasa bersalah karena memaksa ayah dan neneknya untuk pulang dan tidak bermalam menemani sang ibu di rumah sakit. Ia ingin memberikan sedikit ruang untuk ibunya bertemu dengan lelaki itu, mungkin untuk terakhir kalinya.

Bip! Bip! Bip!
Suara itu masih terdengar teratur, saat Galang telah berada di sisinya. Perlahan, ia meraih tangan diam itu dengan gemetar, menyentuhnya kemudian menggenggamnya erat. Ia luruh, tersedu menatap Dinar yang diam tak bergerak.

"Maafkan aku, Dinar ...." Lirih, tenggelam dalam sedu yang terbungkam. Ia memeluk tubuh diam itu, menyentuh wajahnya dengan tangan yang masih gemetar, memanggilnya berkali-kali.

Tangis itu sayup terdengar dari luar kamar, membuat Rere semakin menundukkan wajah di atas lututnya, tubuh gadiis itu berguncang pelan, lamat-lamat terdengar ia terisak.

(bersambung)
Lihat 1 balasan
Balasan post wijayanita
Quote nya gak kira2 nih, ane kira udah updet emoticon-Hammer2
profile-picture
alunaziya memberi reputasi
Halaman 7 dari 9


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di