CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
"Pengarungan Puncak Puncak Tertinggi"
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd812f468cc9570b930adbc/pengarungan-puncak-puncak-tertinggi

Pembukaan Argopuro



"Koaaakk koaakk" terdengar suara burung merak di tepi sungai.

Di sebuah savana yang amat luas ada beberapa tenda yang saling berhadapan. Pagi itu, saat salah satu dari mereka keluar menyambut sinar pagi yang masih berwarna kemerahan, beberapa merak dewasa terlihat sedang mencari pangan di sisi utara didekat sungai yang terlihat memanjang. Tak jarang mereka mengeluarkan bunyi-bunyi khas seekor unggas. Laksana seorang gadis yang mencari perhatian kekasihnya, begitu pula para merak itu berhasil mencuri perhatian para pendaki dan menjadi tontonan menarik bagi mereka

Yang terlihat hanyalah sebuah padang savana berwarna kuning, beberapa bulan air hujan tak kunjung menghujam bumi, rerumputan menjadi kering, tanah berubah menjadi debu, terik matahari selalu menemani rombongan pendaki dari pagi hingga petang menjemput.

Satu-persatu para pendaki itu keluar dari dalam tenda, langit yang awal mula berwarna merah gelap perlahan berubah menjadi kuning keemasan. Pancaran indah nampak naik ke atas secara perlahan menyambut para pendaki yang sedang asik duduk menikmati kopi panas dengan uap yang masih mengebul ke atas. Burung merak yang masih setia bermandi di sebuah sungai ikut menyambut hari baru dengan terus melantunkan suara khas mereka.

Dua orang pendaki sedang menyiapkan sebuah botol. Mereka berencana mengambil air di tepi sungai sembari menonton pertunjukan yang di sajikan oleh para merak. Pagi yang amat dingin tak membatasi kedua manusia itu untuk melangkahkan kakinya menembus rerumputan yang membeku akibat suhu yang sepertinya mencapai dua hingga lima drajat.

"Hey, coba kau lihat itu, apakah mereka merasa terganggu dengan kehadiran kita?" Jerry melontarkan pertanyaan kepada rekannya dengan terus berjalan menyusuri tepi jalan, kawan sependakiannya langsung menimpali pertanyaan Jerry.

"Sepertinya iya. Tetaplah berjalan, jangan sampai sedikit pergerakanmu membuyarkan pertunjukan indah itu" Johan yang sedari tadi sudah memperhatikan para merak itu mengurangi kecepatan jalannya. Ia seperti seorang penjahat yang berjalan mengendap-endap. Embun pagi yang membasahi sebagian tubuhnya tak ia hiraukan. Dua bola matanya masih tetap fokus memandangi unggas-unggas tersebut.

Terlihat tiga ekor merak sedang bercanda di tepi sungai, satu merak dewasa meloncat kesana kemari seakan-akan tau bahwa ada penonton yang sedang melihatnya menari. Sementara dua ekor lagi sedang asik membasahi bulu-bulu cantiknya dengan bermain air sedikit ke arah tengah, berjalan ketengah kemudian kembali ketepian, berjalan ketengah lagi, lalu kembali ketepian lagi. Entah berapa kali merak muda itu melakukannya, pandangan Johan dan Jerry tak lepas dari unggas-unggas cantik tersebut.

"Istimewa. Sangat istimewa, benar bukan. Jo?" Celetuk Jerry yang masih fokus nelihat para merak bermain.

"Benar sekali. Hanya di gunung ini kau dapat menemukan pertunjukan seperti ini. Apa kau menikmatinya?" Johan menimpali Jerry dengan pertanyaan.

"Ya, benar. Seumur-umur aku melanglang buana ke berbagai gunung, hanya di tempat ini aku bisa melihat merak di alam liar. Ah sepertinya aku jatuh hati terhadap gunung ini. Apa kau merasakan hal yang sama denganku Jo?" Jawab Jerry panjang lebar yang kemudian ia berdiri berusaha mendekat secara perlahan.

"Tentu saja, setiap tahun aku selalu mengunjungi tempat ini. Dan, ini adalah kesempatan keduaku bertemu dengan mereka, para merak yang kau lihat itu" Johan ikut mendekat ke arah Jerry sambil menunjuk ke arah merak tersebut.

Bagi Jerry, ini adalah keindahan yang amat luar biasa, bisa melihat seekor merak di alam liar dengan latar sebuah savana bagaikan di Afrika nan jauh disana. Tapi, bagi Johan. Merasakan damainya suasana di tempat bernama Cikasur untuk kedua kalinya merupakan nikmat yang tak bisa di bayar dengan apapun. Bagaimana tidak, untuk menuju ketempat ini saja mereka harus berjalan selama dua hari.

"Wush wush wush" Merak-merak itu terbang mengepakkan sayapnya hingga menimbulkan riak di sungai yang terlihat tenang tadi. Ekornya sangat panjang menjuntai kebawah, kilauan berwarna hijau sedikit kebiruan terlihat bercahaya saat matahari menembus dan menabrak bulu-bulu cantik itu. Hingga perlahan para merak itu hilang di telan rimbunnya hutan di ujung timur sungai Qalbu.



Perkenalkan, namaku Johan, aku biasa di panggil Jo. Hari ini aku akan melakukan pendakian bersama teman-temanku. Mendaki gunung dengan kategori tertentu membuat adrenalinku terpacu, bagaimana tidak, butuh 5 hari 4 malam untuk menyelesaikan satu kali pendakian ini. Gunung ini juga menjadi salah satu gunung yang wajib di daki oleh para pendaki. Gunung Argopuro.

Terletak di empat kabupaten, setauku hanya ada dua pintu masuk untuk mendaki gunung ini, melalui jalur Baderan di Situbondo dan juga jalur Bermi di Probolinggo.

Malam sudah menjemput, lagit yang sebelumnya terlihat sedikit kemerahan kini sudah berubah menjadi hitam pekat, ada beberapa bintang yang sedang bergelantungan di atas sana. Beberapa temanku sudah datang satu-persatu sembari menggendong tas yang terlihat besar itu. Beberapa keperluan selama pendakian sudah kami persiapkan, tak terkecuali aku yang sudah menyiapkan jauh-jauh hari peralatan tempurku.

Mobil jemputan sudah datang, kulihat arloji berwarna hitam di tangan sebelah kiri sudah menunjukkan angka dua belas lebih, itu berarti pagi ini hari sudah berganti.

Ada enam belas orang termasuk aku yang akan melakukan perjalanan panjang ini, aku memperkirakan dari tempatku berkumpul menuju ke sebuah basecamp pendakian memakan waktu lima jam. Awal perjalanan masih terasa santai, sebagian dari kita asik bercanda gurau di dalam mobil, mengabadikan moment kebersamaan atau sekedar bertanya asal masing-masing.

Lambat laun suara-suara itu hilang satu persatu, yang terdengar sekarang hanya raungan mesin mobil yang akan mengantarku ke titik awal perjalanan. Kulihat kanan-kiri teman-temanku sudah memejamkan mata terlebih dahulu, sepertinya mereka kelelahan. Aku pun memaksa untuk mengistirahatkan tubuh dan kedua mataku.

"Jo, bangun Jo, yuk kita turun ngopi-ngopi sebentar." Terdengar Jerry membangunkanku sembari menggoyang-goyangkan tubuhku.

Kukihat arah jarum jam sudah menunjukkan angka tiga, seluruh penumpang pun turun dan memaksa membuka mata mereka untuk sekedar menghangatkan tubuh dengan kopi yang mereka beli di warung-warung pinggir jalan. Kulihat di belakang warung tersebut ada sebuah bangunan yang amat sangat besar. Belakangan kuketahui itu adalah pembangkit listrik tenaga uap terbesar di jawa timur.

Lampu kerlap kerlip berwarna merah itu mendominasi bangunan raksasa tersebut, sayup-sayup terdengar mesin besar di dalam sana sedang bekerja. Terkadang suara itu tersamarkan dengan mobil yang lewat di depan jalan ini. "Ini mas kopinya." Secangkir kopi hitam yang terlihat amat pekat menjadi teman santai di pagi yang teramat dini ini.

Cuaca saat itu memang lumayan dingin, apalagi kita berhenti dekat dengan laut. Kulihat beberapa temanku sangat antusias, ada yang sedang asik berbincang, ada juga yang sekedar menikmati alunan lagu dari earphone, atau aku yang sedang menikmati secangkir kopi yang sudah mulai sisa setengah.

Kurasa sudah cukup, setelah kopi yang kuminum sudah habis aku membayar dan kembali masuk kedalam mobil, perjalanan menuju titik awal pendakian pun kita lanjutkan.

Dari sisi timur lagit sudah berwarna agak kebiruan dimana matahari akan muncul sebentar lagi. Mobil yang melaju pelan karena jalanan yang naik turun serta berkelok-kelok membuat seluruh penumpang terjaga dari sisa tidurnya. Seperti dugaanku, jam enam lebih sedikit kita sudah sampai di basecamp pendakian, satu persatu penumpang turun, setelah melakukam simaksi kita pun makan bersama mengisi perut yang semalaman tadi hanya terisi kopi.

Beberapa ojek sudah menunggu di depan, hari ini kita menggunakan jasa ojek yang akan mengantar kita sampai ke pos mata air satu untuk memangkas waktu.

Kali ini aku mendapat bagian leader bersama Nono, menjadi penunjuk jalan untuk beberapa teman-temanku, tak lupa masing-masing dari kami di bekali HT untuk berkomunikasi, karena dari enam belas orang ini hanya ada tiga orang saja yang sudah pernah kesini, termasuk aku.

Setelah berdoa dan membagi siapa siapa saja yang akan membawa HT, perjalanan pun di mulai.


Spoiler for Rules:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 3 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
Diubah oleh lapar.bang

Argopuro II

Langkah pertamaku terasa sangat mantap, awal perjalanan aku langsung di suguhi tanjakan yang membuat nafas sedikit tersengal, bahkan dengan badan kurus ini aku harus membawa beban yang bisa kubilang lumayan berat.

Saat ini aku berjalan mengikuti sebuah setapak yang terlihat gersang, beberapa kali aku melangkah, tanah yang kuinjak mengeluarkan bias debu yang bisa terbang kapan saja. Terkadang aku bisa melihat dedaunan yang tak lagi hijau, daun-daun itu berwarna kecoklatan. Bukan karena kering, tapi debu-debu yang tertiup angin itulah yang menyelimuti dedaunan tersebut.

Terik matahari semakin tinggi, beruntung pohon-pohon besar itu bisa menghalau sinar matahari yang berusaha menjilati kulit-kulit tubuhku. Kulihat Nono, salah seorang temanku membasuh peluh yang membasahi dahinya. Di sebelahnya ada Laras yang masih tegap berdiri dengan nafas yang kulihat masih terartur. Aku rasa dia bukan perempuan sembarangan.

Masih dengan medan yang sama, jalan setapak yang tidak terlalu kecil namun hanya muat untuk satu orang menjadi jalan yang akan aku lewati. Ritme perjalanan ini sedikit aneh, Nono seringkali berhenti dan meminta istirahat. Saat kudekati, wajahnya sudah mulai sangat pucat. Nono sempat memuntahkan isi perutnya. Salah seorang temanku yang membawa obat-obatan langsung merespon Nono yang sudah mulai lemas, dia bilang hanya masuk angin biasa dan sedikit kecapean saat di perjalanan. Dengan berat hati aku meminta partner pengganti untuk menemani perjalanan kali ini.

Perlahan tapi pasti, setelah Nono bertukar posisi menjadi sweeper, kini keanehan terjadi padaku. Kedua pahaku terasa sangat panas seperti tertusuk-tusuk jarum, tapi aku tak menghiraukannya, aku menganggap hal tersebut adalah kejadian biasa. Semakin ke atas jalan semakin naik, vegetasi hutan yang tadi terlihat rapat kini sudah berkurang yang dengan bebasnya membuat panas matahari bisa menyengat tubuhku kapan saja. Lagi-keanehan terjadi. Tangan kiriku tak bisa aku gerakkan, bahkan untuk menggerakkan jari-jari saja aku tak sanggup. Aku seperti orang lumpuh, tangan kiriku sangat dingin. Aku tidak bisa merasakan tanganku sendiri. Melihat keanehan yang aku alami dan berkali-kali aku berhenti dengan interval waktu yang tak terlalu lama membuat Jerry curiga akan hal tersebut.

Kuceritakan saja apa yang menimpaku saat itu, tanganku tak bisa aku rasakan, sesaat memudian kaki kiriku juga mengalami hal yang sama. Dan sekarang setengah badanku juga tak bisa aku rasakan, aku seperti kehilangan disfungsi sebagian dari tubuhku. Melihat kondisi yang aku alami, Jerry langsung membuat panggilan darurat dengan HT yang ia bawa.

"Kontek kontek, medis cepat kedepan, ada sedikit kendala yang menimpa Jo." Dengan sigap Jerry menghubungi tim medis.

Beruntungnya saat itu salah satu rombongan kami ada yang berpropesi sebagai dokter, tak perlu menunggu lama, perempuan yang belakangan ku ketahui bernama Evi tersebut adalah ahli medis di kota besar di Jawa Timur.

Bu Evi hanya tersenyum simpul, dan dia mengatakan tidak apa-apa yang membuatku sedikit lega.

"Jo sudah tidak apa-apa, lanjutkan saja perjalanan kalian, biar Jo aku yang mengurusnya untuk beberapa waktu." Celetuk Bu Evi terhadap Jerry.

Sekali lagi sebelum Jerry melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh itu ia menanyakan kondisiku, dan sekali lagi aku meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.

Kulihat beberapa temanku sudah mulai berjalan dan pergi meninggalkanku yang hanya menyisakanku dan Bu Evi saja. Pun, rombongan belakang juga belum terlihat.

"Berapa kilo beban yang kamu bawa, Jo?" Tanya Bu Evi.

"Dua puluh keatas sepertinya, bu." Jawabku sambil memijit-mijit tangan kiriku sendiri.

"Pantas saja, aliran darahmu tersumbat. Dan karena itulah sebagian tubuhmu mengalami disfungsi sementara." Sergah Bu Evi yang mencoba mengankat tas ku.

"Tas lama ya?" Lanjut Bu Evi sambil membersihkan kondisi tasku yang terlihat kotor karena kuletakkan begitu saja di tanah.

"Iya bu." Jawabku singkat - yang kemudian Bu Evi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Kulihat Bu Evi mengeluarkan syal berwarna abu-abu dan memberikannya kepadaku, syal tersebut polos dan sangat tebal, kulihat rumbai-rumainya sepertinya masih baru, baunya wangi khas bau seorang perempuan.

"Busa tasmu terlalu tipis, syal itu bisa kamu pakai untuk melapisi busa di pundakmu."

"Iya itu baru saja kubeli saat aku pergi ke Jogja beberapa hari lalu." Lanjut Bu Evi.

Bagaimana bisa Bu Evi mengetahui apa yang aku pikirkan, kukira Bu Evi selain seorang dokter dia juga seorang psikolog.

Setelah aku merasa sedikit lebih baik aku kembali melanjutkan perjalanan untuk menyusul Jerry yang sudah di depan, begitupun Bu Evi yang juga menginkuti ritme jalan ku yang sedikit lebih cepat. Mengetahui hal tersebut aku sedikit mengurangi kecepatan jalanku, selain debu yang berterbangan karena hentakan kakiku, dia juga sedikit tersengal.

Dengan ritme yang kembali normal aku bisa mendengar suara Jerry yang sedang tertawa, kulihat dia sedang asik bercerita, mungkin menceritakan sebuah lelucon atau humor receh yang entah dari mana ia mendapat semua itu.

Melihat aku yang langsung meletakkan tas di sebelahnya, Jerry langsung menyodorkan sebotol air minum. Ah, dahaga ini hilang seketika saat beberapa tegukan air melintasi dan membasahi tenggorokanku. Ada Laras, Danu, Arvin di depanku, mereka masih asik berbincang. Sedangkan Jerry masih saja menanyakan kondisiku, aku pun enggan menjawab pertanyaan yang sudah bekali-kali aku jawab itu, pun dengan Bu Evi yang hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Jerry yang entah sudah berapa kali ia menanyakan pertanyaan yang sama.

Hari semakin siang dan panas semakin terasa. Jalanan yang aku lewati masih sama, kecil, gersang, kering, dan berdebu.

Aku kembali memimpin mereka untuk melanjutkan perjalanan, kucocokkan arlojiku dengan ritme jalan, kurasa sebentar lagi aku akan sampai di pos mata air dua.

Benar saja, sebuah tempat lapang yang bisa kubilang hanya cukup untuk menampung tiga tenda itu adalah pos mata air dua. Di sudut tempat itu terlihat plang penanda berwarna hijau yang terbuat dari plat besi, dengan karat yang menutupi hampir sebagian tulisan. Ada jalan kecil ke arah kanan dengan kemiringan yang amat. Lantas, aku menunggu beberapa tim sweeper untuk makan siang bersama.

Aku melihat salah satu temanku ada yang langsung terlelap dengan tas keril yang masih melekat di punggungnya. Sungguh kasihan, aku rasa ia sangat kelelahan. Mengingat jalur yang aku lewati tadi memang hampir tidak ada bonus sama sekali, belum lagi cuaca panas dan musim kemarau yang membuat nafas sedikit terganggu karena menghirup debu di jalur pendakian. Aku berbagi tugas dengan beberapa temanku, ada yang memasak, ada yang sedang membuat dokumentasi, dan aku adalah orang yang akan mengambil air ke sumber yang ada di bawah sana.

Kuperkirakan kemiringannya bisa mencapai lima puluh drajat dengan jarak kira-kira empat puluh meter, tak butuh waktu lama bagiku untuk menuju tempat tersebut, tak ada satu menit berjalan maka kita akan sampai ke sebuah sumber air yang sangat jernih.

Disini aku bisa melihat pantulan wajahku sendiri dari air tersebut, atau juga melihat bebatuan di dasar sungai. Aku bisa merasakan hawa yang sangat beda. Berada di dekat sumber air rasa panas dan peluh hilang seketika. Berbanding terbalik saat aku berada di atas sana tadi, apalagi suara gemericik air menambah kesan tenang. Terkadang hembusan angin membuat tubuh ini enggan beranjak dari tempat tersebut, daun-daun basah tersapu air yang mengikuti jalurnya sendiri, bebatuan tempatku duduk menjadi sangat dingin saat aku tak sengaja membuatnya basah karena ulahku.

Beberapa teman yang ikut mengambil air kembali satu persatu dan hanya menyisakan aku seorang diri. Kubasuh mukaku dengan aliran air yang amat tenang, rasanya tak cukup jika hanya sekali dua kali air-air itu membasahi pori-pori wajahku. Aku sangat terlena dengan semua ini, bahkan aku tak sadar sudah berapa lama aku berdiam diri di tempat tersebut, badanku sudah sedikit gemetar karena merasakan dingin yang sudah mulai menyerang, selain tempat yang sedikit lembab, tempat ini juga sangat rindang, bahkan panas di siang itu tak mampu mengalahkan dingin di hilir sungai yang menjadi tempat para pendaki mengisi ulang botol-botol mereka.

HT yang ku bawa berbunyi, ada panggilan masuk dari temanku di atas sana, mereka mengira ada sesuatu yang menimpaku karena aku tak kunjung kembali ke atas. Memang benar aku sudah terlalu lama di sini, akhirnya aku memutuskan untuk kembali dengan membawa dua botol air. Di atas, setelah semua di rasa cukup, aku pun kembali melanjutkan perjalanan dan aku kembali menjadi penunjuk jalan bagi mereka.

Jalur yang aku lewati masih sama seperti sebelumnya, kecil, bedebu, dan vegetasi pohon yang mulai jarang sekarang di ganti dengan semak belukar. Hanya saja jalur sedikit landai dan cenderung menurun.

Sesekali aku menjajal seberapa kuat daya tahan tubuh temanku termasuk Laras yang kulihat masih tegap berdiri. Aku sengaja membuat jarak dengan mereka semua, dimana dengan jarak tersebut membuat mereka harus mengimbangi langkah kakiku agar tidak tertinggal terlalu jauh. Tapi karena aku yang terlalu fokus dengan jalanan yang semakin menurun membuat suara langkah kaki di belakangku kembali tak terdengar, sepertinya mereka tertinggal agak jauh.

Aku berhenti di sebuah belokan dengan bekas pohon tumbang di sebelahnya, duduk di atas dengan menyandarkan tas yang sedari tadi menemani perjalananku, kurogoh salah satu tembakau dari tas selempang yang masih melekat di dadaku. Aku sengaja menyiapkan beberapa lintingan dari rumah untuk menjadi bekal santai di perjalanan dan ku hisap di saat-saat seperti ini. Korek yang berada di tangan kananku mengeluarkan api, lantas saja aku mendekatkan api tersebut kemulutku lalu membakar kertas putih yang menyumpal bibirku sedari tadi.

Memainkan lintingan tembakau dari jari ke jari sepertinya menarik, aku melakukannya berkali-kali, dalih ingin membunuh rasa bosan karena menunggu beberapa teman yang berada di belakang, terkadang aku lupa kalau lintingan itu harusnya kuhisap bukan untuk kumainkan.

Asap putih keluar dari cerobong asap yang kusebut mulut, relaksasi yang kubuat dengan caraku sendiri berhasil. Aku sempat terbawa suasana, angin panas bercampur dengan dinginnya hawa pegunungan perlahan membuat mata sedikit berat, kaki kanan sengaja kusilangkan di atas kaki kiri yang tak menyentuh tanah, terkadang aku mengayunkan kedua kakiku yang entah kenapa aku melakukanya. Siang itu aku sama sekali tak mendengar suara-suara penghuni hutan Argopuro, hanya suara angin yang menabrak cemara gunung seperti badai yang hendak menikamku dari belakang. Tembakau yang kuhisap berubah menjadi abu. Sekarang benda merah panas yang membakar lintingan di antara jari telunjuk dan jari tengahku semakin mendekat, bahkan kedua jariku sudah bisa merasakan panas dari lintingan yang sudah semakin pendek karena terbakar. Aku pun mematikan sisa lintingan dan membakarnya hingga tak bersisa.

Sebuah lonceng terdengar samar dari kejauhan, kukira itu adalah lonceng milik Jerry, karena dari beberapa temanku hanya dia yang selalu membawa lonceng saat bepergian ke gunung. Di ujung belokan sebelum mereka mendekat ke arahku, aku melihat empat manusia sedang berjalan saling beriringan, dengan langkah gontai mereka mendekatiku dan ikut duduk di atas pohon secara memanjang, tapi tidak dengan Laras. Dia benar-benar beda.

Dengan muka oriental sedikit kecoklatan dan sedikit peluh membasahi wajahnya membuat Laras terlihat sangat eksotis, apalagi aku kerap curi-curi kesempatan tatkala ia sedang tertawa atau sedang berbicara serius dengan teman-temannya. Aku yang memang agak sedikit pendiam hanya bisa menjadi penonton saat mereka membicarakan hal yang bagi mereka sangat menarik. Terkadang aku hanya menjawab seperlunya saja saat mereka bertanya tentang ini-itu dan sebagainya, tapi tidak dengan Laras saat menanyakan sesuatu, tak terkecuali saat bertanya tentang gunung argopuro, sesekali dia memergoki aku yang sedang melamun katanya, padahal aku sedang memikirkan jawaban apa yang harus aku siapkan dengan kata-kata sehalus mungkin.

Tujuanku jelas, agar dia tidak kaget dengan jalur pendakian yang lumayan panjang ini, mungkin baginya tak masalah sepanjang apa jalur yang akan ia lewati, karena saat kulihat style yang ia gunakan waktu itu, bisa kukatakan Laras seperti seorang yang sudah lama malang melintang di dunia pendakian, mungkin saja aku kalah jam terbang dengannya, mengingat apa yang melekat di tubuhku adalah barang-barang titipan, tas yang melekat di punggung adalah tas pinjaman dari temanku, sepatu yang melapisi kedua kakiku adalah sepatu pinjaman dari pihak penyelenggara agar semua panitia kompak memakai sepatu yang sama, kaos yang aku pakai pun pemberian dari seorang kawan karena aku sudah mau menemaninya berkeliling jawa saat itu. Hanya celana pendek berwarna krem dengan kantong sebelah kanan yang sudah bolong inilah satu satunya barang yang benar benar milikku. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang dikenakan Laras saat itu.

Kalaupun aku merasa tertarik dengannya aku pun sadar aku siapa, mungkin lebih tepatnya aku mengaguminya, iya benar aku mengaguminya.

Lagipula dari sikap Arvin terhadap Laras sepertinya dia memiliki hubungan khusus, tak mungkin jika mereka hanya berteman terlihat sangat akrab dan sangat dekat, bahkan cara bicara mereka berdua sangat intim. Kalau kata seseorang yang sedang kasmaran, dunia seperti milik mereka berdua. Sayangnya aku hanya bisa mengagumi Laras dari kejauhan. Yasudah.

"Yuk lanjut, sebentar lagi kita sampai di alun-alun kecil." Kataku yang sudah mulai siap untuk berdiri.

Tak ada suara dari mereka semua termasuk Jerry, mungkin mereka percaya dengan apa yang aku katakan, mengingat di tim depan ini hanya aku saja yang sudah pernah kesini.

Memang benar, dari apa yang keluar dari mulutku, perjalanan dari tempatku beristirahat tidak banyak memakan waktu, terlebih jalanan saat ini di dominasi jalan yang menurun.

Aku kembali berjalan dan mengatur ritme langkah yang kehilangan iramanya, sudah menjadi kebiasaan jika aku berhenti terlalu lama maka untuk kembali menemukan lantunan yang pas terhadap dua kakiku agak lama. Beberapa saat kemudian aku sudah menemukan iramaku, aku kembali berjalan dengan langkah yang sedikit panjang, begitupun Laras, Arvin, Danu, dan juga Jerry. Mereka terus membuntutiku di belakang hingga mereka kembali tak menemukanku.

Kedua kakiku sudah sangat panas, berhenti sebentar saja rasanya tak nyaman, untuk menyiasati hal tersebut aku menitipkan pesan kepada Jerry selaku partnerku yang setia membackup ketiga temanku.

"Sepertinya aku akan sedikit mempercepat langkahku, tolong kau jaga mereka bertiga, kakiku tidak bisa diajak untuk berjalan secara pelan, jalurnya hanya satu dan jika kalian sudah menemukan sebuah sabana itulah yang di namakan alun-alun kecil." Ucapku kepada Jerry menitipkan ketiga temanku.

"Ok Jo, jangan lupa gunakan HT mu jika terjadi sesuatu." Jerry menimpali perkataanku sembari mengangkat jempolnya.

Kuanggap Jerry bisa menjadi leader pengganti saat aku merasa sedikit keanehan kembali menimpaku.

Aku kembali mempercepat langkah kakiku, Jerry bilang aku sedang berlari menuruni jalan yang sedikit curam, terlebih lagi di tengah jalur yang kulewati ada cekungan bekas roda sepeda motor yang kapan saja bisa membuatku tergelincir jika aku salah berpijak. Aku sedang tidak berlari, lebih tepatnya aku berjalan cepat, aku merasa tubuhku merasa sangat kuat, aku terus mempercepat langkah hingga aku benar-benar berlari, aku tidak tau kenapa dengan tubuhku. Rasanya aneh, tubuhku sangat ringan, walaupun beban yang aku bawa lumayan berat, hingga di kejauhan aku bisa melihat padang savana yang sedikit kekuningan, di tengah savana tersebut ada sebuah plang besi yang amat sangat besar bertuliskan himbauan untuk para pendaki. Di sebelah plang tersebut ada satu pohon yang lumayan besar, terlihat sangat rindang dari kejauhan.

Alun-alun kecil, akhirnya aku sampai, aku terus menuruni jalan tersebut dengan berlari dan aku langsung meletakkan tas berwarna merah dengan strip hitam di tengahnya, ku letakkan begitu saja di rerumputan dekat pohon besar kemudian aku berlari ke tengah dan menjatuhkan diri di panasnya terik matahari.

Kulihat kulit tanganku mulai menghitam, aku sudah menduganya karena aku sudah berminggu-minggu keluar masuk hutan dan tak kunjung pulang, aku rasa saat aku pulang nanti orang-orang terdekatku akan sedikit kaget, terutama perubahan kulit yang aku alami ini.

Terdengar teriakan yang seperti teriakan bahagia dari beberapa temanku, kukira itu adalah Laras dan kawan-kawan, ternyata aku salah, suara itu dari temanku yang menjadi tim sweeper. Ternyata aku tertidur sangat lama di tengah savana. Bahkan pose tidurku yang terlihat aneh di abadikan dengan kamera ponsel untuk di jadikan bahan lelucon. Ah biarlah, lagipula aku sudah cukup kebal dengan lelucon yang kadang sedikit membuat aku merasa sinis dibuatnya.

Aku terbangun bukan karena teriakan-teriakan temanku, tapi aku terbangun karena panas yang terasa amat ini. Kepalaku masih pusing, aku bisa merasakan rambutku berantakan akibat angin yang bertiup sedikit kencang. Aku berdiri kembali menuju tempat awal saat aku baru sampai di alun-alun kecil.

Aku teringat dengan salah satu titipan seseorang yang mengatakan; carikan aku bunga dandelion, kudengar dandelion di gunung argopuro berbeda dengan dandelion di gunung-gunung lain. Memang sebelumnya aku melihat bunga yang sedikit aneh menurutku, berwarna kuning, dan aku ingin mengabadikan bunga tersebut kedalam kamera ponsel yang aku bawa.

Dan beruntungnya aku, saat aku menemukan banyaknya bunga berwarna kuning tersebut aku melihat bunga dandelion yang hanya ada satu diantara bungan berwarna kuning itu. Satu melawan puluhan. Aku rasa mungkin dandelion ini yang di maksud. Aku mengambil beberapa kali gambar dandelion yang terlihat seperti minoritas disana, semua berwana kuning, sementara hanya dandelion itu saja yang berwarna putih. Aku duduk di depan bunga itu tak mempedulikan panas yang dengan leluasa membakar kulitku.

Sangat berani, dandelion itu berani tumbuh dan berdiri sendiri, terlihat seperti keterasingan yang membelenggu tapi ia tetap tumbuh dengan yakin. Aku melihat diriku saat melihat dandelion tersebut. Lakukanlah apa yang menurutmu benar karena yang tau itu hanya dirimu sendiri.

Kata-kata itu selalu terngiang, kata-kata dari kakak kelas saat aku baru memasuki bangku smp, aku selalu terintimidasi dengan keanehan-keanehan yang aku buat sendiri.

Lakukan apa yang menurutmu benar karena yang tau itu hanya dirimu sendiri. Setelah mengucapkan itu ia pergi ke sebuah lorong kelas. Seorang perempuan dengan rambut sebahu yang ujung rambutnya berwana merah dan selalu menggunakan bando berwarna pink, berkulit kuning langsat, memiliki lesung pipi di sebelah kanan dan bodohnya aku sampai saat ini belum mengetahui siapa namanya.

"Hei Jo, kemarilah, ada sedikit makanan untukmu." Teriakan dari Om Pandu membuyarkan imajinasiku tentang bunga dandelion dan kakak kelasku.

Aku berdiri berjalan secara berlawanan meninggalkan bunga dandelion dan imajinasiku dibalakang sana, berjalan maju menuju tempat yang sedikit lebih rindang, aku berkumpul bersama teman-temanku, sekedar bercanda dan mengisi perut dengan sedikit makanan ringan menjadikan siang yang panas berubah menjadi kehangatan dengan tawa kebahagiaan dari beberapa temanku.

Hingga semua dari kita menghilang satu-persatu di sisa siang itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lapar.bang
Untuk update saya tidak bisa janji setiap hari atau dua hari sekali seperti penulis penulis lain.

Yang jelas saya akan menceritakan seluruh perjalanan selama awal tahun 2019 sampai dengan akhir desember nanti.

Jadi di harap untuk penyuka cerita petualangan tetap bersabar dan doakan mood saya dalam menulis tetap konsisten agar cerita imi selesai secepatnyaemoticon-Big Grin

Menerima segala bentuk kritik dan saran agar penulisan cerita ini enak untuk di bacaemoticon-Embarrassment
profile-picture
cos44rm memberi reputasi
Diubah oleh lapar.bang
Kalau berada lama di hutan emang bisa bikin kulit hitam ya?
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
Quote:


Bisa banget kalo gak pake sunblok omemoticon-Big Grin
Jangankan seminggu, sehari jalan di hutan aja apalagi vegetasinya sabana, turun turun bakalan item emoticon-Hammer (S)
Diubah oleh lapar.bang
Quote:


Masa sih? Beberapa hari pernah di hutan tapi di sekitar lereng gunung gak item-item juga kok? emoticon-Bingung (S)

Apa cuma perasaan aja ya gak merasa item?
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
Quote:


Lihat kegiatannya juga omemoticon-Embarrassment
Saya paling lama 40 hari di hutanemoticon-Embarrassment
mejeng sek penting, mengko diwoco keri emoticon-Traveller

profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Cerita mendaki gunung.
Sepertinya menarik. Ane mejeng pejwan dulu gan, jangan sampe berhenti di tengah jalanemoticon-Cool
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
Balasan post risky.jahat
Yang begini neh dambaan para pendaki jomblo.

emoticon-Leh Uga
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
Quote:

Walah.. barbuke apik jeemoticon-Leh Uga
Quote:

Siap.. makasih sudah mampiremoticon-Big Grin
Quote:


Agan jomblo gak?emoticon-Leh Uga
Lihat 1 balasan
opo iki ...
yok argopuro
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
Balasan post lapar.bang
Jomblo bini satu anak tiga.

emoticon-Wkwkwk
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
banyak mayat pendaki di Everest tapi ga pernah di ambil mayatnya
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
Quote:


buatpenawarletih emoticon-Leh Uga

Quote:


lanjutkannn emoticon-2 Jempol
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
wihhh keren nihh, semoga idenya terus mengalirr gann😁
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
WOWWW UWOOO UWOO
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
ums kalo naik gunung itu angker ndak ums emoticon-Betty (S)
saia pengen naik gunung tapi takut di gangguin demit emoticon-Takut (S)
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi
MANTAP BANGG 😆
profile-picture
lapar.bang memberi reputasi

Gunung Argopuro III

Siang itu menjadikan kami seorang pemalas layaknya penganggur yang sibuk mencari kesibukan. Bagaimana tidak, satu jam lebih tidur di bawah rimbunnya pohon dengan hembusan angin panas membuat tubuh enggan beranjak.

Kulihat dari sebrang, aku merasa di sebuah tempat asing yang jauh entah dimana, luasnya padang savana dengan satu pohon besar terlihat seperti oase di padang pasir. Rerumputan itu kuning, menjadi penguasa di sebuah savana yang kusebut alun alun kecil, hanya ada satu titik yang terlihat berdiri gagah, berwarna hijau, besar, dan sangat rindang, dia seperti hendak melarang manusia-manusia di bawahnya untuk pergi.

Tapi waktu adalah instrumen paling kejam, terus berjalan maju tak bisa mundur barang sedetik, lengah sedikit, hilang sudah tergilas waktu.

Aku kembali melanjutkan perjalanan dengan santai. Setelah tubuh ini terisi dengan karbohidrat, aku harus kembali menemukan ritme kaki seperti biasa, seperti saat aku pertama memulai perjalanan tadi.

Baru beberapa langkah berjalan, kembali sebuah tanjakan menyambut di depan mata. Ya, tanjakan dan turunan adalah sahabat terdekat seorang pendaki, atau tanah dan batu yang terlihat seperti sepasang kekasih yang ingin menunjukkan eksistensinya untuk bersaing dengan langit biru dan angin panas, bahkan batu dan tanah itu tak bisa mencuri perhatian bola mata pendaki. Sesekali saat aku mendongak ke atas ada gumpalan putih yang menempel di langit-langit luas. Bersih sekali. Terkadang aku memainkan imajinasiku membuat angan-angan terus memikirkan seperti apa gumpalan awan-awan itu, sesekali terlihat seperti kapal di sebuah samudra, atau seorang bayi kecil berkepala botak. Aku hanya tersenyum saat membayangkan imajinasi yang memenuhi isi kepalaku.

Jalur tanah masih mendominasi, begitupun tanjakan yang tak ingin kalah. Langkah kaki semakin pelan, dan ketika sedikit hentakan keluar dari kedua kaki ini membuat otot-otot pergelangan harus bekerja lebih keras dari biasanya.

Beruntungnya tanjakan tanah dengan debu yang mendominasi saat itu sudah berada di belakang. Sekarang aku hanya melihat jalanan yang sangat landai, di tumbuhi semak belukar di sebelah kiri namun tidak sebelah kanan yang terlihat seperti lembah.

Masih sama, aku berjalan beriringan dengan mereka. Jerry, Laras, Arvin, dan Danu.

Sesekali kulentangkan tangan kiriku untuk sekedar menyapa ilalang liar yang kadang tumbuh dari celah-celah tanah. Perjalanan mulai terasa mengasikkan tatkala aku melewati sebuah bukit dan harus berjalan dipinggirnya.

Aku bisa membayangkan, mungkin jika aku bisa terbang, jalanan yang kulalui adalah jalan yang berputar-putar. Bagaimana tidak, berkali-kali aku melewati bukit dan aku berjalan melipir berbelok-belok, tidak berjalan lurus untuk membelah bukit-bukit didepan sana. Bahkan aku beramsumsi, yang membuat panjang pendakian ini adalah jalur yang memutari bukit. Pantas saja gunung ini mendapat julukan gunung dengan track terpanjang di pulau jawa.

Membosankan memang, tapi aku harus bisa menikmati setiap langkahku. Aku percaya ini adalah salah satu kristimewaan yang hanya ada di gunung argopuro.

Sayup-sayup suara angin semakin kencang, sedikit demi sedikit pandanganku semakin jelas, aku melihat sebuah padang savana di depan sana, vegetasi di sekitarku pun mulai berubah, dari pepohonan rindang yang selalu menghalau sinar matahari masuk menelanjangi kulit-kulitku sekarang sudah sedikit berkurang. Sesekali panas itu menyapa indra perasaku dengan ganasnya, semakin aku berjalan kedepan semakin terasa panas di seperempat siang kala itu.

"Oh Tuhan, sungguh Indah sekali." Gumamku dalam hati.

Berkali-kali aku tak henti-hentinya mengucap syukur atas apa yang tersaji di depan mata ini. Dengan cepat aku menyandarkan tubuh di sebelah pohon tanpa melepas tas dari punggung. Badanku sedikit mundur dengan kaki kanan kutopangkan di atas kaki kiri. Angin masih saja merayuku untuk memejamkan mata, sungguh tak tau diri.

"Hey, bagaimana kalau kita memasak air dan menikmati secangkir kopi sembari menunggu yang lain." Tanyaku kepada kawanku yang masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Bagaimana tidak. Aku masih terfokus dengan sebuah padang savana besar yang aku menyebutnya dengan alun-alun besar terlihat saling bergunduk menunjukkan betapa luasnya tempat ini. Didominasi ilalang yang menguning aku bisa melihat bukit yang sama dibelakangnya, bahkan saat mata ini kufokuskan untuk kedua kalinya. aku bisa melihat ada bukit lagi dibelakang bukit kedua, begitupun seterusnya. di sebelah kiri terlihat jalan setapak yang tak lebih dari satu meter seperti membelah padang savana. Lurus. Sangat lurus.

Aku mulai mengeluarlan kompor beserta nesting. Kulihat beberapa temanku juga mulai berdatangan, termasuk Billy, Raden, dan juga Danu Pangestu.

Ah, bahkan aku lupa memberi tahu kalian, di pendakianku kali ini ada dua Danu. Satu Danu kecil yang bersamaku dan satunya lagi Danu besar yang ikut dalam rombongan tengah.

Sangat antusias, kira-kira itulah yang aku lihat dari wajah-wajah lelah mereka. Tak bisa dipungkiri, aku tersenyum kecil saat melihat mereka saling bergantian mengabadikan tempat yang sangat eksotis tersebut.

"Fotoin dong"
"Lagi"
"Sekali lagi"
"Aku juga mau foto disana"
Seperti itulah celoteh beberapa temanku saat asik berpose.

Hingga air yang kumasak mendidih. Kuambil beberapa kopi dan juga teh untuk kuseduh. Beberapa teman kupanggil untuk menyidahi foto-foto namun sepertimya mereka masih enggan untuk bersantai. Biarkan saja.

Gelas berisi kopi masih mengepul di tangan sebelah kanan, sementara lintingan tembakau sudah menyala di tangan kiri. Tubuh yang di balut peluh selama perjalanan sudah mulai sedikit kering tersapu angin yang sedari tadi lalu lalang menyapa tubuh ini. Perlahan kopi mulai kuminum, sesekali tangan kiri dengan tembakaunya tak lupa untuk menyapa mulut yang sedari tadi tersenyum. Bagaimana tidak, di luasnya padang savana dengan matahari yang tidak terlalu panas karena sedikit tertupup gumpalan awan, aku melihat kekonyolan beberapa temanku yang sedang asik berpose. Perpaduan yang sangat istimewah di siang hari ini.

Kusandarkan badan yang mulai rilex di pohon besar, aku sengaja menjauh dari teman-temanku untuk menikmati sisa siang itu. Aku ingin menikmati kesendirianku di tengah riuhnya mereka yang terkadang mengulang pose yang sama karena menurutnya itu jelek.

Aku bisa mendenger dari kejauhan saat mereka saling tertawa atau saling bergantian untuk mengabadikan moment yang mungkin hanya ada disini.

"Jo, kemarilah." Teriak mas Bed yang memanggilku dari kejauhan.

Aku pun menyudahi acara santaiku. Aku berjalan menghampiri mereka, semua sudah berkumpul, dengan saling bercerita selama perjalanan tadi.

Masih jam dua siang, masih ada beberapa jam lagi sebelum aku dan teman-temanku kembali melanjutkan perjalanan ke tempat camp pertama.

"Bagaimana dengan argopuro, indah bukan?" Tanya om Pandu.

"Seperti biasanya, masih tetap istimewah." Jawabku yang masih menuang kopi ke dalam gelas.

"Terbaik om."
"Keren lah argopuro."
Iya keren, gak rugi kita kesini."
Beberapa temanku ikut menimpali.

Kulihat mas Bed sedang asik mencari bunga-bunga yang ada di sekitarnya, sementara Topeng dan Daniel ikut memasak air untuk membuat kopi karena beberapa dari kita tak kebagian menikmati kopi yang kubuat tadi.

Tinggal seperempat jalan lagi, ini adalah padang savana kedua, dan tempat camp savana cikasur adalah padang savana nomor tujuh, kurasa sebentar lagi akan sampai di tempat yang bernama cikasur itu.

Sebelum beranjak untuk melanjutkan perjalanan, tak lupa aku mengabadikan keistimewaan tempat tersebut. Beberapa objek yang sama ku foto dengan angel yang berbeda-beda sebagai bukti jikalau aku telah memenuhi janjiku untuk mengambil sisa kenangan di tempat ini.

Pukul dua lebih tujuh menit. Aku berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan tanpa terkecuali.

Semakin jauh aku berjalan makan semakin kecil setapak yang aku lewati, terkadang aku tak biaa menjaga langkah kaki sehingga beberapa kali aku hampir terjatuh karena jalur yang aku lewati sangat kecil.

Mau tak mau sepatu ini harus beradu dengan tanah berdebu, kalaupun aku berjalan di atas pada savana yang penuh dengan ilalang, menurutku itu akan lebih beebahaya. Kau tau, padang savana disana banyak sekali lubang-lubang bekas galian babi hutan. Aku rasa, jika aku memaksa berjalan di padang savana, perlahan tapi pasti aku akan tergelincir. Bagaimana tidak, lubang-lubang itu sangat besar, jumblahnya mungkin bisa ratusan lubang, atau bisa ribuan lubang, mengingat padang savana disini sangatlah luas.

Mungkin jika kubuat perbandingan, savana disini sama dengan lima sampai tujuh kali lapangan sepak bola.

Setelah memasuki hutan kini aku kembali memasuki padang savana. Ini adalah kali ketiga. Hutan, savana, hutan, savana. Hingga aku memasuki savana terakhir.

Di savana terakhir ini jalur tak lagi lurus, jalur setapak yang aku lewati bahkan berbelok-belok, sedikit landai, dan kebanyakan menurun. Sesekali Jerry bertanya dengan putus asa.

"Berapa jam lagi kita sampai di cikasur?" Tanya Jerry yang sudah sedikit gontai.

"Sebentar lagi kita akan sampai, ini adalah savana terakhir, habiskan saja sisa savana ini. Nanti, jika kau sudah melihat aliran sungai yang penuh dengan selada air, maka kau sudah sampai di cikasur." Jawabku meyakinkan Jerry.

Bagaimana tidak, aku dan teman-temanku sudah berjalan hampir delapan jam, dan delapan jam adalah bukan waktu yang sebentar.

Menggendong tas gunung dengan masing-masing beban 25 kilo kurasa bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi di gunung dengan jalur terpanjang.

Jari kelingking kaki sebelah kiriku sedikit sakit, aku tau kakiku sedang lecet, tapi aku terus berjalan, sesekali berhenti jika Laras dan kawan-kawan ingin beristirahat.

Di ujung jalan aku sedang bercengkrama dengan mereka, saling tertawa melempar candaan adalah agenda sebelum sore menjemput. Dari kejauhan kulihat beberapa orang sedang berjalan pelan. Mereka adalah Billy, Raden, dan juga Danu Pangestu.

Aku tau mereka bertiga tidak bisa lepas satu sama lain, karena mereka adalah kawan sedari kecil.

Bergabunglah kita di sore yang mulai agak dingin, pun dengan Daniel dan Topeng yang juga sudah ikut bercerita dengan kami.

Satu rokok di tangan sudah habis, menyisakan puntung dengan abu yang berterbangan di tiup angin adalah tanda jika kami harus kembali melanjutkan perjalanan.

Jalan setapak yang sedari tadi landai kini berubah menjadi jalan yang sedikit menurun.

Terlihat didepan sana ada satu savana yang amat sangat luas, ada satu bangunan shelter disana, sementara ujung timur savana ini ada sungai yang menjadi pemecah antara savana terakhir dan cikasur.

"Sweeper masuk sweeper masuk." Ucapku menghubingi sweeper dari HT.

"Masuk masuk." Jawab Sweeper yang tidak lain adalah Om Pandu.

"Leader sudah sampai di Cikasur, kita bagi tugas. Team depan mendirikan tenda sementara team belakang mengambil air di sungai kolbu." Kataku santai.

"Dimengerti." Balas Om Pandu

Setelah percakapan singkatku dengan sweeper melalui HT, aku melanjutkan perjalanan memutari savana, tujuanku adalah ke hulu sungai. Aku enggan untuk turun kebawah berjalan menyebrangi sungai. Karena tenaga sudah hampir habis tak bersisa, lebih baik aku berjalan memutar tapi dengan kontur tanah datar daripada memotong yang harus turun kemudian naik lagi.

Kulihat dintengah savana cikasur ada beberapa tenda, ternyata aku tidak sendirian, ada beberapa pendaki yang sudah datang terlebih dahulu nampaknya.

Lantas saja kaki ini berjalan meghampiri mereka. Sedikit basa-basi hanya untuk sekedar bertanya darimana dan berapa jumlah rombongan mereka, langsung saja aku menyambung dengan obrolan-obrolan ringan lainnya. Setelah kurasa cukup, aku langsung mengeluarkan tenda dan membangun tenda di sebelah mereka.

Mereka tak keberatan, justru mereka senang karena merasa tak sendirian. Setelah semua tenda berdiri, langsung saja aku di beri secangkir kopi.

"Kopi?" Aku terkejut saat ada seseorang yang menawariku kopi.

"Ah iya, terima kasih. Boleh kuminum?" Tanyaku memastikan hanya untuk sekedar basa-basi.

Aku bercengkrama sore itu, sembari menunggu beberapa rombongan belakang, sesekali aku mendekatkan tangan ke api unggun yang sudah mulai menyala.

Aku dan teman-temanku pun membagi tugas. Aku yang akan mengambil air di sungai yang agak jauh disana, sementara yang lain menyiapkan makanan guna mengisi perut sebelum malam datang.

Satu-persatu mereka datang, ada yang langsung masuk ke tenda, ada yang masih duduk-duduk di luar, dan aku tetap berjalan ke arah sungai. Di hulu sungai ada teman-temanku yang memang sengaja beristirahat disana dengan sesekali membasuh muka-muka letihnya.

Cikasur. Sore yang damai di tempat bernama cikasur. Di sebelah barat cikasur ada sungai kolbu yang menyembur dari bawah tanah, kanan-kiri sungai itu banyak di tumbuhi selada air. Sementara di ujung sungai sesekali terdengar suara merak. Asal kau tau, merak-merak itu akan menampakkan dirinya hanya di pagi dan sore hari saja.

Aku mengisi botol-botol airku hingga penuh. Hembusan angin terasa lembut menerpa wajahku, di sebelah kiri ada sebuah bangunan shelter yang sudah roboh. Sementara di depan sana ada sebuah papan larangan dilarang masuk karena area berbahaya. Di area tersebut pula akan terlihat landasan pesawat terbang. Konon dulunya cikasur adalah bekas bandara pada jaman belanda. Menakjubkan bukan. Di sebuah gunung ada bekas bandara yang masih utuh dengan lintasan jalurnya.

Aku kembali ketenda, kembali menyiapkan bahan makanan yang akan kita kelola sebelum beristirahat malam. Semua kawanku sudah sampai, kita disibukkan dengan agenda masak-memasak, adapun dari mereka yang bediam di dalam tenda karena kedingian, ada juga yang dengan sigap membatu chef andalan di pendakian kali ini. Dialah Mas Bed.

Sore sudah hampir habis, langit biru mulai sedikit merah, awan-awan tipis menjadi pemanis dikala sore pergi meninggalkan siang. Kopi yang baru saja masak menjadi kombinasi istimewah hari itu, perlahan warna merah yang mendominasi langit berubah menjadi biru agak kehitaman, lampu-lampu tenda sudah mulai menyala menerangi penghuni-penghuni tenda. Hingga, satu-persatu cahaya putih muncul dan bergelantungan di langit yang sudah menghitam.

Kulihat jarum jam sudah menunjukkan angka enam lebih, beberapa temanku sudah mulai memakai pakaian hangat mereka, pun denganku yang sudah kembali masuk kedalam tenda berwarna kuning itu. Berganti pakaian dan memakai pakaian hangat, aku merebahkan badan yang terasa remuk malam itu.

"Jo bangun Jo, ayo makan dulu." Kudengar suara Jerry yang memanggilku dan memggoyangkan tubuhku.

"Astaga aku ketiduran, jam berapa sekarang?" Tanyaku kepada Jerry.

"Masih jam delapan lebih, ayo makan dulu sebelum tidur." Jawab Jerry singkat yang mulai mengunyah makanan di mulutnya.

Tak kusangka Jerry sebegitu perhatiannya denganku. Aku mengambil piring plastik berwarna putih, banyak sekali yang mereka masak waktu itu. Entahlah kurasa menu pertama hari ini sangat mewah. Aku terlalu banyak makan, dan membuat mulutku bersendawa dengan sembarangan. Sungguh tak sopan.

Setelah acara makan-makan itu selesai, aku mengemasi sisa nasi yang masih utuh, kata Om Pandu, banyak babi disini jadi sisa makanan lebih baik di masukkan kedalam tenda saja. Aku pun menurutinya dan memasukkan semua bahan logistik kedalam tenda. Sementara untuk sampah baiknya di gantung di pohon agar tidak dikoyak babi-babi liar.

Semua sudah masuk, dan di luar tak ada suara. Sepertinya semua sudah tertidur, bahkan saat mataku mengintip keluar dari balik tenda suasana sangat hening, pun dengan lampu tenda yang sudah tak menerangi tenda-tenda temanku. Namun tidak dengan tenda yang kutempati.

Tenda ini berisi tiga orang. Jerry, Om Pandu, dan aku. Kita semua tak bisa mengistirahatkan mata, ah mungkin merokok sebentar bisa menjadi penenang sebelum tidur. Sesekali aku berbincang dengan mereka berdua, kadang agak keras kadang sedikit berbisik.

Hingga teror di malam itu pun terjadi.
profile-picture
eja2112 memberi reputasi
Diubah oleh lapar.bang
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di