alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sains & Teknologi /
Dongeng Gempa Bumi dan Bencana Nuklir
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d766031f0bdb23a502badd1/dongeng-gempa-bumi-dan-bencana-nuklir

Dongeng Gempa Bumi dan Bencana Nuklir

Tampilkan isi Thread
Halaman 6 dari 7
Quote:


Pertama, silakan diperhatikan poin 3, supaya perspektif kebencanaan kita tidak bias.

Kedua, apakah anda menganggap BATAN, Bapeten, Teknik Nuklir UGM, BPPT, STTN, adalah SDM-SDM tidak kompeten? Selaku peneliti di BATAN dan melihat sendiri betapa instansi ini mampu mengoperasikan tiga reaktor riset dengan baik-baik saja sejak 1965 dengan anggaran terbatas, kok sepertinya ini seperti merendahkan instansi kami dan penduduk Indonesia secara umum. Seolah-olah dari 260 juta penduduk semuanya inkompeten buat memahami fisika reaktor dan kendali reaktivitas dan heat removal dll.

Ketiga, perkara titipan, maka sesungguhnya tidak ada pembangkit listrik manapun yang meloloskan siapapun sebagai operator tanpa lisensi. Apalagi PLTN yang lisensi operatornya itu level internasional, dibawah pengawasan IAEA.

Keempat, saya justru curiga kalau PLTN dihambat salah satunya adalah karena sulit dikorupsi. Mengingat, sekali lagi pengawasannya tingkat internasional. Bapeten juga mengawasi, ketika ada yang tidak sesuai persyaratan, tidak akan diberi izin operasi.

Quote:


Tidak usah, di darat saja.
profile-picture
sidewinder11 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post dic.thorium
pertama...oke saya baca poin 3 TS ttg jumlah korban jiwa PLTN compared dengan bencana lain yang tampak tersaji lebih sedikit. tapi dalam fikiran saya timbul pertanyaan...bahwa angka2 yg disajikan tsb bukankah hanya direct casualty? bgmn dgn indirect nya? yg (maaf) kena radiasi dan mencemari dll? bukan kah efek nya lebih besar ??

ke dua, yang saya rendahkan (maaf lagi) bukan kemampuan intelektual nya. indonesia ini sangat penuh dengan individu pintar dan jenius.

ke tiga, saya tidak tahu mengenai sistem safety dan administrasi di bidang nuklir. tapi saya punya prinsip ( bisa benar bisa salah tapi intinya saya memilih dan cocok dengan ini) bahwa segala sesuatu entah sistem entah manusia entah perusahaan entah bumn....di indonesia ini...semua nya sama saja. bahkan industri aviasi yg kadar safety nya tinggi pun.....yang (semuanya pasti tersinggung kalo kita ragukan kompetensi nya lah ya hahaha) katanya sangat kompeten dan profesionalpun....ada corrupt lah. tapi ya sekali lagi saya gabisa buktikan jadi kalo ditantang saya ngaku kalah aja. intinya pake prinsip dagang aja lah. saya juga makanan. saya makan gak makanan tsb.....kalo yes. bagus. jadi kalo PLTN jadi di bangun. saya si ngedukung aja asal DeCISION MAKER nya dan PEKERJA nya dibuatin kompleks lengkap tinggal di radius 3 km keliling reaktor lah....selain agar kalo ada masalah agar cepet handling nya juga agar mereka lebih,,,gitu deh. jangan PLTN dibangun di pantai yg nelayan nya ga tau apa2 akan proseduran safety dan risk2 yg mereka bakal terpapar..

ke empat.....sekali lagi saya cuma pedagang kecil bukan politikus. jadi saya ga ada stakeholding ttg apakah PLTN akan dikebut or di hambat.

apapun yg terjadi...ini pendapat saya.....dan semoga indo makin maju.
cheers
Menurut ane susah klo di indonesia
Primadonanya masih pltu kapasitas gede, sekalian bwt bisnisnya penguasa disini sepaket ma batu baranya
Trs lg gencar2nya go green bwt pembangkit
Intinya gak perlu parno buat pltn di indonesia, tp ya orang sepinter ma sebanyak apapun tetep aja kalah ma pemerintah g*bl*k yg bikin peraturan
Nice share TS
disini mah lbh tertarik bahas urusan surga/neraka dibanding ngurusin hidup di dunia
emoticon-Ngacir
profile-picture
comrade.frias memberi reputasi
Quote:


Mungkin anda harus meningkatkan literasi. Dampak langsung maupun tidak langsung dari Tragedi Bhopal jauh lebih tinggi daripada Chernobyl sampai 1000 tahun ke depan sekalipun. Tapi tentu saja, Bhopal tidak menarik bagi media massa karena itu pabrik kimia, bukan PLTN. Lagipula, kalau anda bicara dampak jangka panjang radiasi, artinya anda bicara soal level kontaminasi dan efek biologi radiasi. Untuk itu, mohon menghadirkan artikel ilmiah (kalau bisa di jurnal internasional terindeks Scopus atau Web of Science) yang menunjukkan indikasi bahwa dampak Chernobyl lebih parah dari bencana-bencana lain di dunia. Saya tunggu.

Kalau saya sudah mempelajari datanya, termasuk komparasi paparan radiasi di Chernobyl, Pripyat, Mamuju, dan Bangka Belitung. Honestly, saya merasa lebih aman dari paparan radiasi dengan tinggal di Chernobyl daripada di Mamuju. Meski sebenarnya dosis radiasi kedua tempat itu jauh di bawah ambang batas selamat, sih.

Quote:


Pst. Yang sopan.
Lihat 1 balasan
nice tread gan
tapi indonesia belum canggih, di luar negeri. negara mana saya lupa, ada PLTN. dan waktu nuklirnya bocor, meluluh lantakan seluruh kota. padahal itu negara maju, jepang apa ya.

nah apalagi kalo di indonesia, yang teknologinya belum secanggih mereka emoticon-Frown
Lihat 1 balasan
Balasan post kuteklucu
Quote:


Chernobyl? Tidak sampai luluhlantak, kok. Anda bisa main ke Chernobyl dan Pripyat kalau mau. Sudah lama dibuka objek wisata di sana.
Balasan post dic.thorium
literasi?? maksudmu perlu memperkaya khazanah literatur gitu ya? iya dong......menurut saya itu kewajiban setiap orang yg ingin jadi lebih baik utk meningkatkan literasi gan. bukan saya aja sih....(apakah agan merasa sudah tidak butuh meningkatkan literasi??? its your own opinion and i respect it dude).

tentang data2 dan penelitian yang agan tuliskan bahwa agan sudah baca semua datanya.....well...saya akui literasi saya di bidang yg agan sebut2kan di atas mungkin masi di bawah agan hehehe...tapi.....(saya jujur aja yaa).....saya pede bahwa ada bidang2 lain yang mana saya yakin tingkat literasi saya tidak rendahh juga (apa guna literasi kalo ga bisa jadi nasi ya khan) . tiap kita memiliki tingkat mastery yg bervariasi terhadap suatu subjek...tergantung apakahh kita minat / bakaat / terekspose di subjek tersebut. tapi tetap saya akan berpendapat sesuai tingkat paradigma saya (ya gapapa kalo ga cocok sama agan, salah, atau ga literate sih....namanya opini kan). mungkin saya memberi masukan aja...data nya di aplod aja sekalian di awal thread jadi orang yg literasi lebih rendah (di bidang ini) spt saya bisa mendapat info.kalo saya suruh cari data2 spt itu sepertinya.....bukan masuk di minat hehehe.

intinya gan....saya doakan PLTN kalo jadi di bangun. diisi oleh SDM2 yg mumpuni. pintar. jujur. bermoral. tidak rasis. yah kira2 seperti agan lah......dan tolong lokasi nya ditempatkan jangan di lokasi yg jauh dari pemangku kepentingan dan keputusan. jadi mereka agak concern gitu. jangan tarok di area2 yg jauh2...yg penduduknya polos2....ga ngerti dampak2 nya, terburuk nya apa (kalo terbaiknya sih semua pasti senang yaa), ga punya literasi dan kemampuan utk safety dan handling emergency kalo pas misalnya dapet lotre sial nya.....

good luck n cheers
kayanya agan harus bikin pake cara interaktif, karena ada banyak poin yg mungkin aja kelewat kaya perbandingan kegagalan pembangkit lain kaya bendungan itu.
Quote:


Poin yang dijabarkan dia jelas kok, Anda yang justru terpelatuk seolah - olah disuruh membaca literatur adalah tanda kebodohan, dia cuma mengajak verifikasi, darimana lagi kita mendapatkan bahan pertimbangan kalau bukan sumber literasi dan data?

Seharusnya kalau anda memang "master" dalam suatu bidang, pasti ada metode - metode ilmiah yang diterapkan, bahkan penggunaan bahasa pun masih acak - acakan, bilang saja Anda malas membaca buku. Tidal usah menyerang orang dengan bilang rasis atau apalah.

Memang sdm itu penting, tapi penerimaan secara luas itu lebih penting, oleh karena itu TS berusaha mengedukasi lewat threadnya, dan lagi dengan "penanganan emergency" menunjukkan anda gak baca sampai full bahkan sekedar thread ini, apalagi sumber literatur yg lain, sudah dituliskan bahkan ancaman nuklir terbesar saja bagian dari "paranoid para pendongeng" dan bahkan ga jauh lebih mematikan dari pembangkit tenaga yg lain.
Lihat 1 balasan
"... korban jiwa yang disebabkannya tidak lebih dari 60 orang."
Jangan lupa untuk ikut daftar, yah 'gan ... emoticon-Big Grin
...
Yang perlu dipikirkan (tapi biasanya dilupakan) adalah material bahan baku dan proses "daur ulangnya".
Berapa banyak (ketersediaan) bahan baku (uranium) yang ada ?
Apakah itu penggunaannya hanya/melulu (secara positif) untuk pembangkit listrik di bumi saja ?
Bagaimana pengelolaan "limbah" ?
Itu akan dibangun, memanfaatkan air sungai atau air laut ? Kalau itu memakai air sungai, patut diperhatikan resiko kekeringan ketika kemarau panjang atau karena perubahan iklim.

Terkait keselamatan, kalau bisa dibangun di Jakarta atau sekitarnya sana. Jadi kalau meleduk atau apa, penduduk Indonesia bisa berkurang dalam jumlah yang cukup banyak ... Ya ,'nggak ? ;D
Balasan post gebolextreme
iya bro. iya aja deh. bahasa acak2an tetap bole ber opini kan......
sudah ya. cheers
Koreksi yaa Gan kalau salah hehehe 😁

Ada beberapa poin sepaham ane dari reaktor nuklir..
1. Reaktor nuklir tidak pernah medak (literally), yg meledak itu uap air bertekanan tinggi karena kena panas core yg melting dalam kondisi super darurat.
2. Reaktor saat ini enrichment uraniumnya diatas 2% dan energi neutronnya hanya 0,6MeV. Tidak setinggi RBMK yg sampai bisa menghasilkan plutonium dalam jumlah lumayan sebagai keberlangsungan bahan bakar atau diambil menjadi bahan persenjataan.
3. Untuk saat ini reaktor power plant dan reaktor untuk menciptakan plutonium dipisah.
4. Biaya operasionalnya seperti pahit di akhir, berat di penanggulangan limbah dan (sepahit2nya) kalau terjadi failure seperti chernobyl or fukushima.

So, kalau gak punya PLTN dibilang tertinggal baik dari segi power maupun persenjataan negara juga belum tentu...
Dibilang hemat cost tunggu dulu... Cost di awal emang hemat, kalau ada apa2 pusing lah kita apalagi kita deket cincin api, inget kan power plant terbesar di Jepang ditutup karena apa? (NPP Kashiwazaki-Kariwa)
SDM? Nah... Disini banyak opsinya, bisa training sekaligus jalan proyeknya (misal NPP Canada invest disini terus teken kontrak sekalian magang pegawai nuklir SDM lokal ntar setelah beberapa tahun bisa mandiri atau gimana) ada jalan kalau pengen berusaha...
Pro-kontra pasti, cuma dilihat dari cost dan risikonya perlu dipertimbangkan. No Pain No Gain, tp apakah kita sudah siap menerima "pain"nya yg bisa punya waktu paruh sampai 7 turunan kita?

Hanya opini orang noob... Monggo suhu2 mengkoreksi persepsi ane kalau salah. Cheers...
emoticon-Jempol
Diubah oleh zeolic
Quote:


Silakan mampir ke trit saya yang lain. Sepertinya sebagian besar sudah dibahas.

Termasuk bahwa PLTN tidak bisa meledak. Sampai capek saya ngomong begini.

Quote:


1. Ya.
2. 0,6 MeV? Buat apa anda mengoperasikan reaktor di spektrum epitermal? Hilang semua netronnya di resonansi integral.
3. Plutonium selalu dihasilkan di PLTN, tapi grade rendah sehingga tidak cocok dijadikan senjata.
4. Externalities seperti biaya penanggulangan "bencana" (if it were a thing) tidak pernah diinternalisasikan dalam BPP listrik pembangkit listrik tipe apapun. Tidak ada alasan kenapa PLTN harus melakukannya. Kalau soal limbah, barangsiapa mengatakan limbah radioaktif tidak ada solusinya, maka dia tidak tahu apa-apa.
5. Memang Kashiwazaki-Kariwa ditutup karena apa? Gempa? *laugh in Tohoku tsunami
6. Cincin api? Anda sebenarnya baca trit ini dengan lengkap tidak sih?
7. Waktu paruh tujuh turunan? Ya, dan itu bagus. Abu batubara, limbah panel surya, semua berbahaya sampai kapan? Sampai kiamat.
profile-picture
TAH14974 memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Balasan post dic.thorium
Oh, saya tidak membahas kemungkinan meleduk seperti yang sampeyan bayangkan, tapi meleduk karena kepanasan dan menyebabkan tempat penyimpanannya menjadi bocor. Meledak dan meleduk itu beda lho ...

+

Ingat hukum kekekalan energi ?

Energi yang dibutuhkan untuk menambang (beserta restorasi kerusakan alam karenanya) + Energi yang dibutuhkan untuk memprosesnya menjadi bahan baku + Energi yang dibutuhkan untuk memproses limbahnya ... ===> Apakah sebanding dengan manfaat yang akan didapat, tidak semata bagi manusia namun juga terhadap alam lingkungan secara keseluruhan ?
===> Kita dapat energi "murah" saat sekarang, tapi siapa yang nantinya akan membayar biaya "selebihnya" ?

Karena itu khusus untuk Indonesia, terkecuali kalau sudah desperate amat, kiranya PLTN tidak perlu mengada. Cukup PLTN mini saja untuk penelitian agar bisa menambah pengetahuan.
Terkait Uranium itu pula dengan sifat atom yang dimilikinya, apakah itu tidak dapat dikombinasikan sebagai bahan baku tehnologi lainnya ?
Dengan tingkat peluruhan yang cukup panjang, kiranya itu mungkin juga dipakai untuk hal-hal yang diingini berumur/berdaya tahan panjang. Semisal untuk batteray pesawat luar angkasa antar bintang ... Entah apakah itu dimungkinkan, ... dengan tehnologi yang ada saat ini ?
Diubah oleh bingsunyata
Balasan post bingsunyata
@bingsunyata anda tidak benar-benar baca trit ini dengan serius, berarti.
Balasan post dic.thorium
@dic.thorium Oh saya cukup dua rius membacanya.
Karena masalah keselamatan/amdal bukan cuma perkara "reaksi yang timbul " dari alam semata.
Perkara manusianya pun harus ditinjau.
Ketika gempa, bangunannya tidak akan pindah. Tapi orangnya bisa saja melarikan diri ke Kalimantan. ;D
Dalam keseharian, bisa saja kemudian fasilitas yang bersangkutan ditinggal petugasnya untuk gendakan dengan mamah muda. Atau juga ditinggal mudik tidak balik-balik saat perayaan hari Lebaran. Atau bisa juga dtinggal ikut demo minta kenaikan gaji, atau pengangkatan bagi mereka yang honorer (yang mana itu untuk efisiensi keuangan perusahaan).

Jangan dibilang tidak mungkin, yah. Segala sesuatunya bisa terjadi di Indonesia ini meski itu dirasa tidak logis sekalipun. Digaji puluhan juta pun masih korupsi ...
Balasan post bingsunyata
@bingsunyata kekhawatiran tentang SDM agak terlalu dibesar-besarkan. bagi kami yang memahami bagaimana sistem licencing dan regulasi nuklir bekerja, termasuk kerja sistem dalam sebuah PLTN, semua sudah diantisipasi termasuk kondisi severe accident serta mitigasinya dari faktor manusia maupun teknis. Termasuk soal demo atau honorer, terlalu mengada-ada.
Balasan post dic.thorium
@dic.thorium
"kekhawatiran tentang SDM agak terlalu dibesar-besarkan"
emoticon-Bingung
Lalu mengapa timbul masalah yang kemudian berbuntut hingga PLTN itu kemudian ingin diadakan ?
Kehendak Tuhan ?
emoticon-Wakaka

...
Oh, ya ... Agan mengatakan bahwa saya tidak membaca threat agan secara serius ..., tapi apakah agan membaca komen saya secara serius pula ?
Sekalipun saya mengemukakannya dengan nuansa humoris, tapi tidak berarti bahwa tiada makna di belakangnya.
...
Sejauh ini, uranium cuma digunakan semata untuk 'manasin air dan bom doang.
Apakah itu tidak bisa digunakan untuk hal lainnya, yang kiranya juga membawa manfaat ?
Apakah manfaatnya itu belum diketemukan ?
Kapan kita bisa menemukan manfaat tersebut ?
Dikala sumber daya itu sudah habis digunakan demi kepentingan manusia sendiri ? ;D

...
+ Satu lagi ...
Mengapa PLTN ? Apakah karena itu dikatakan sebagai energi yang "murah" ?
Bahan baku, suku cadang alat, merupakan produk dalam negeri ?
Harganya dan kualitas mempunyai rasio yang selaras dengan kondisi ekonomi Indonesia ?
Ataukah itu harus didatangkan dari luar, dan dibeli dengan tingkat kurs yang tinggi ? ===> Kalau memang begitu, murahnya dari sisi mana ?
Karena dari sisi maintenance, bidang ini tidak boleh sembarangan. Bila suatu alat secara teori mempunyai umur 1 juta jam, maka sebelum waktu itu harus langsung diganti. Tidak perduli kurs mata uang saat itu. Dan bukan menunggu kurs mata uang yang bersangkutan turun, atau menunggu proses penggantian saat alat bersangkutan telah rusak total.
profile-picture
TAH14974 memberi reputasi
Diubah oleh bingsunyata
Balasan post bingsunyata
Quote:


@bingsunyata Ya mengada-ada. Karena kalau anda tahu sedikit soal bagaimana mekanisme yang berlaku, anda akan paham bahwa seleksi dan pelatihan SDM operator PLTN itu sangat ketat bahkan salah satu yang terketat di dunia. Tidak bisa semudah itu menyimpangkan SDM di PLTN; anda butuh melawan multiple barrier yang masing-masing independen.

Manfaat uranium? Sederhana saja, sebagaimana dikatakan Dr.-Ing. Kusnanto, dosen saya dulu. "Produk utama teknologi nuklir adalah energi, sisanya cuma remah-remah saja." Tidak usah repot-repot mencari so-called "manfaat lain" dari uranium. Toh memang potongan kue terbesarnya untuk energi, not for anything else.

Cuma karena diimpor apakah berarti kemudian jadi mahal? PLTU-PLTU di Indonesia sebagian besar, kalau bukan semua, menggunakan barang impor. Mana ada industri lokal yang mampu bikin steam turbine 600 MWe? Boiler batubara? Piping? Lokalisasi komponen tidak pernah menjadi sorotan serius di Indonesia, jadi kenapa repot-repot memikirkan ini impor atau bukan. Seandainya ada PLTU/PLTGU skala besar yang lokalisasi komponen sampai >80%, barulah silakan repot-repot memikirkan masalah aspek lokalisasi komponen. Kalau tidak, maka sebagaimana kata Pramoedya Ananta Toer, "...bersikap adil sejak dalam pikiran."

Terakhir kali saya kunjungan ke CNNC dan INET, Cina, mereka menjelaskan bahwa pada awalnya komponen lokal PLTN cuma 1%. Sekarang sudah lebih dari 90%. Asalkan ada strategi lokalisasi komponen dan kemampuan industri berat lokal mendukung, it won't be a problem.

Masalah perawatan biasanya sudah dinegosiasikan kontraknya dengan vendor dan EPC sebelum PLTN memasuki tahap komisioning. Jadi sudah sejak awal diantisipasi. Usia komponen dan lain sebagainya sudah diperkirakan dan diantisipasi. Biaya kontingensi pun sudah disiapkan sejak awal. Tidak beda malah lebih terstruktur daripada PLT lain. Kuncinya, ikuti best practice dari negara-negara yang sukses mengaplikasikan PLTN secara efektif dan efisien.

Bearing that in mind, nuklir masih tetap murah.
Halaman 6 dari 7


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di