alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sains & Teknologi /
Mitochondrial Eve, Bukti Ilmiah Bahwa Kitab Suci Benar Tentang Manusia Pertama?
4.33 stars - based on 12 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5febf8a7276823616d1500/mitochondrial-eve-bukti-ilmiah-bahwa-kitab-suci-benar-tentang-manusia-pertama

Mitochondrial Eve, Bukti Ilmiah Bahwa Kitab Suci Benar Tentang Manusia Pertama?

Tampilkan isi Thread
Halaman 21 dari 22
Balasan post shinhikarugenji
Terkait "mata batin"-mistisme itu ..., kita baru berkata mengenai "kepercayaan"/"keyakinan". Dimana itu memang bukan "konsumsi untuk umum", tetapi cenderung untuk komunitas tertentu saja.
===> Seseorang akan susah untuk menerangkan mengenai "beragam warna" yang ada beserta keindahannya kepada seseorang yang "buta warna".

Untuk membuktikan apakah itu delusi atau bukan, atau tipuan ...
Itu sebetulnya terkait dengan pengalaman pribadi yang dimiliki oleh orang tersebut. Itu bisa dibedakan menjadi dua, yaitu yang terjadi saat orang itu tidur (sleep) dan saat orang itu dalam keadaan bangun (tidak dalam keadaan tidur).

Pada kondisi tidur itu ada beragam pengalaman pribadi yang bisa terjadi, namun diantaranya ada yang umum (sering terjadi). Seperti pengalaman "mimpi" jatuh pada lubang/jurang tak berdasar, ("mimpi") out of body experience, "mimpi" berada pada suatu tempat namun dengan nuansa warna tertentu (semisal, warna disana dominan hijau semua) ... dimana pada kesempatan lain orang itu berada pada tempat yang sama namun dengan nuansa warna yang berbeda (merah misalnya), "mimpi" berada pada suatu tempat yang gelap gulita ... tapi bisa melihat dengan jelas ketika ada sosok-sosok seperti orang yang sedang mengejarnya (dimana mimpi itu biasanya berakhir ketika orang tersebut jatuh ke lubang/jurang tak berdasar).
===> Warna-warna yang dikemukakan itu terkait dengan frekuensi tertentu, yang mana frekuensi itu dideteksi oleh orang yang bersangkutan, ketika ia berada dalam "kondisi pikiran" tertentu.

Lha ketika kita sudah bicara mengenai frekuensi itu, maka akan sangat "raksasa" sekali bahan yang dapat dibicarakan. Bukan saja mengenai jenis frekuensi-nya (sinus, cosinus dan semacamnya) tetapi juga amplitudo, dan arah getarnya. ===> Saat di sekolah, kita mungkin bisa mendapati gambar mengenai frekuensi/gelombang pada berbagai buku-buku pelajaran yang ada. Tapi itu semata hanya 2 dimensi. Coba bawa itu pada "alam" 3 dimensi ... Kiranya berapa banyak ragam frekwensi yang akan kita dapatkan ? emoticon-Smilie

Kemudian ... ada juga faktor terkait bakat bawaan sejak lahir. Dimana bakat ini biasanya sudah terlihat sejak orang bersangkutan masih kecil. Mengenai itu kemudian (terkait dengan perjalanan hidup) seseorang, bakat itu bisa saja terpendam begitu saja seiring dengan pertambahan usia dan pola hidupnya. ===> Orang yang dalam hidupnya bekerja keras, maka tidurnya biasanya nyenyak. "Kontrol otomatis" yang bekerja saat ia tidur, cenderung akan memprioritaskan upaya untuk menggantikan energi yang telah terpakai dan "proses maintenance" lainnya.

...

Tentunya ada juga pengalaman yang terjadi saat seseorang itu dalam keadaan bangun/sadar. Dimana kondisi-kondisi yang dialami saat itu tidak terlepas dari ... niatan/kehendak/will ... dari orang yang bersangkutan.
Dari beberapa macam kondisi itu, biasanya yang paling diincar adalah kondisi "being one with the nature", "being one with the heaven" dan "enlightment".

===> Saat berada dalam kondisi "being one with the nature" itu kita bisa merasakan "frekuensi" yang dipancarkan oleh bumi ini, beserta dinamikanya. Itu pun masih terbagi menjadi berbagai jenis. Ada yang bisa merasakan frekuensi yang dikeluarkan oleh tumbuhan, hewan atau bahkan bumi. Kita tidak bilang bahwa jenis yang satu lebih tinggi dari jenis lainnya, karena tingginya tingkatan itu terkait kemampuan seseorang dalam memahami dan bereaksi terhadap perubahan yang terjadi pada dinamika jenis frekuensi tersebut. ===> Jadi, jangan meremehkan ... kalau ada yang bilang bisa berkomunikasi dengan semut, semata karena mengira bahwa itu tidak mungkin untuk dilakukan. emoticon-Smilie Tapi ..., kalau memang bisa ..., tentunya bisa dibuktikan secara nyata. He he he ...

Hal yang sama terkait dengan "being one with the heaven". Yang mungkin agak berbeda adalah kondisi "enlightment". Pada kedua kondisi yang sebelumnya dikatakan, ego pribadi masih mengada. Dimana itu tentunya akan berpengaruh terhadap pemahaman yang timbul pada diri seseorang terkait "apa-apa" yang dirasakan saat berada dalam kondisi tersebut. Ia akan membedakan, apakah itu baik atau buruk ... bagi dirinya. Ketika ia merasa bahwa itu adalah sesuatu hal yang buruk baginya atau diniati sebagai suatu hal yang akan membahayakan bagi dirinya, itu bisa mewujud menjadi suatu hal yang buruk/"menyeramkan" menurut persepsi pribadi orang yang bersangkutan.
Sedangkan pada kondisi "enlightment" ini, ego pribadi harus ditanggalkan. Sehingga ketika frekuensi-frekuensi pada ranah bumi dan langit itu "diterima" oleh yang bersangkutan, tidak akan ada sesuatu yang mewujud. Karena ... "dari sononya" ... hal buruk atau niat untuk membahayakan ... itu tidaklah mengada. ===> Terkait ini ... kita bisa melihatnya secara riil ... pada ranah atom dan partikel. emoticon-Big Grin Apakah saat ada elektron meloncat dari atom yang satu ke atom yang lain, ia (elektron) mempunyai niatan buruk bagi "yang lainnya" ?
He he he ...


Quote:


Ttg mata batin, kenapa tidak ada yg lolos uji secara ilmiah ya gan?

Dlm bayangan saya uji ilmiahnya kan tdk terlalu rumit.

Misalnya diuji, subyek ditempatkan di satu kamar, lalu diminta untuk melihat pesan yang tertulis di kamar lain, menggunakan mata batin.

Pastikan yg menulis pesan itu tdk pernah berhubungan dgn subyek uji coba, lewat cara/media apa pun.

Dst
Lihat 4 balasan
Balasan post bingsunyata
Quote:

Makanya, untuk hal yang seperti ini, kecuali seseorang mengalami dan membuktikan sendiri, mereka hanya bisa memilih percaya atau tak percaya. Dan gue gak tertarik pada sesuatu yang hanya bisa dipercaya tanpa dibuktikan. Juga tak ada poin dari menyatakan itu benar atau salah jika memahaminya juga tidak.
Balasan post shinhikarugenji
@shinhikarugenji Terkait itu maka lahirlah konsep "datang dan buktikan". emoticon-Smilie ===> Dalam artian harus diketahui sendiri oleh orang yang bersangkutan dan bukan karena "katanya ...".

Namun entah itu dipercaya atau tidak, beberapa konsep yang dikemukakan itu sebetulnya sudah hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, meski tidak semua orang menyadarinya.
Sebagai contoh, mengenai "kekosongan" itu kemudian lahirlah pengertian mengenai nol (yang asli, bukan nol yang relatif, terkait persepsi yang timbul dalam diri seseorang).
Dimana ketika kita sudah mengtahui yang nol asli itu, kita kemudian bisa menggunakannya sebagai suatu acuan saat merasionalkan sesuatu dan mengkategorikannya sebagai positif-negatif (asli). Dan bukan karena kita menganggap bahwa itu merupakan suatu hal yang negatif karena itu membawa dampak buruk bagi diri kita.
Ketika itu dibawa ke ranah kehidupan sehari-hari, kita kemudian mengetahui yang disebut dengan titik beku air, titik didih air, dan sebagainya, dan memakainya sebagai acuan/standar. ===> Pada point ini, kita tidak sudah lagi bicara mengenai "dingin bagimu, belum tentu dingin bagiku". emoticon-Big Grin


Balasan post lonelylontong
Karena itu berkaitan dengan level seseorang pada ranah itu.
Mengetahui belum tentu memahami. Memahami belum tentu mempunyai kemampuan untuk berinteraksi.

Plus ... kita hidup pada jaman apa sekarang ?
Gelombang yang ada disekitar kita, tidak semuanya merupakan gelombang yang bersifat alamiah, entah itu gelombang suara atau gelombang jenis lainnya. ===> Itu juga salah satu sebab mengapa saya memilih untuk tidak menekuni ranah ini. emoticon-Big Grin
Bukannya kita nanti bisa berhubungan dengan alam, tapi nanti malah keenakan nonton sinetron dari stasiun tv tertentu. emoticon-Wink

Tapi tidak demikan halnya dengan "enlightment" itu. Kalau yang diberi fokus adalah faktor "niatan", segala jenis gelombang dan frekuensi tidak terlampau membawa pengaruh dalam hal pencapaiannya. Believe or not ... emoticon-Big Grin
Quote:


Kalau saya sih ga terlalu percaya kemampuan supra natural gan.

Tp kl enlightenment saya msh percaya.

Dlm artian bkn sbg bentuk pencapaian suatu kemampuan supra natural. Tetapi lbh sbg bentuk pencapaian kedewasaan spiritual.

Ketika diri bisa berdamai dgn eksistensi-nya yg terbatas dan sementara.

Ketika mampu melihat "aku", sebagai bagian dari "AKU"
Lihat 1 balasan
Balasan post lonelylontong
Kalau yang agan katakan itu terkait dengan mentalitas.
Kalau proses "enlightment" yang saya kemukakan, itu terkait dengan "mata batin". Jadi bukan cuma sekedar "mengetahui" akan "kekosongan" berdasar "penjelasan"/statement yang kita baca/dengar, namun kita melihatnya sendiri secara langsung.
...
Sebagai tambahan ...
Terkait proses "enlightment" yang berfokus pada faktor "niatan" itu, bukannya tanpa ada resiko. Karena "nol" pada faktor niatan itu, juga meliputi niatan/will untuk survive. Kalau "dasarnya" kurang "kuat", bisa "kebablas" ...
Quote:


Yg batin itu termasuk fungsi fisik tubuh jasmani (misal spt hormon, atau otak), atau dia punya keberadaan tersendiri?

Bukan dr salah satu organ jasmani?
Lihat 1 balasan
Quote:


tolol jika membandingkan, temuan ilmiah dengan iman apalagi menyejajarkan itu sudah

apa sudah dibayangkan bahwa sains itu berkembang dan jika ada bukti kuat yang mengugurkan "Mitochondrial Eve" suatu saat nanti
TS akan mengingkari kebenaran kitab suci ?
atau Mitochondrial Eve adalah absolut benar yang gak bisa di revisi karena ssuai dengan kitab suci ?
Diubah oleh hawiyah
Quote:


Kalau dah bisa maki orang lain tolol, trs berasa jadi jenius ya gan?

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Lihat 1 balasan
Balasan post lonelylontong
agan membandingkan enggak emoticon-Ngakak
lagian ane bukan jenius
itukan logika saja emoticon-Traveller
Diubah oleh hawiyah
Quote:


Membandingkan apa ya?

Logika saja? Coba dong dijelaskan runutan logikanya spt apa. Soalnya saya punya hobby berusaha memahami alur logika seseorang.
Lihat 4 balasan
Balasan post lonelylontong
alur logika
agan percaya bahwa kebenaran sains itu bisa berubah (gak absolut) ?
agan percaya bahwa kebenaran kitab suci itu tidak bisa berubah (absolut) ?
jika "Mitochondrial Eve, Bukti Ilmiah Bahwa Kitab Suci Benar Tentang Manusia Pertama?"
gak usah di pertanyakan atau disandingkan bukti ilmiah itu dengan kitab suci karena bukti kebenaran sains masih bisa direvisi jika ada bukti baru


Balasan post lonelylontong
Hmmm..., boleh dikata itu merupakan "kemampuan". Sebagai misal, tangan kita, dimana itu bisa difungsikan untuk melakukan banyak hal. Demikian pula halnya dengan otak.

Namun ..., satu hal yang saya sendiri belum bisa memastikan, bahwa apakah itu terjadi karena ada "hubungan" antara saraf tertentu dengan saraf tertentu lainnya di otak kita (yang mana itu bisa diartikan punya keberadaan sendiri), atau semata karena pola/"rute" pikir tertentu (yang membuat "hubungan" itu mengada). Terus terang ..., saya tidak berani 'mbedah kepala orang lain ataupun kepala saya sendiri untuk membuktikan apakah memang terdapat perbedaan. emoticon-Big Grin
Namun (lagi) ..., kalau dari ageman yang ada, kemungkinan yang kedua itu yang cenderung dianggap sebagai opini "umum". ===> Pada saat itu. Pada jaman sekarang ketika pola hidup, jenis asupan sudah berbeda, dimungkinkan juga terjadinya perubahan pada genetika, yang mungkin menyebabkan timbulnya perubahan tertentu pada saraf dalam otak.
Diubah oleh bingsunyata
Quote:

1.
Jd diimani sebagian orang bahwa KS itu absolut. Realitanya KS yg sama bisa ditafsirkan berbeda. Tergantung kemampuan penafsir.

2. Baik pada judul, maupun pada penutup. Diberikan tanda tanya, artinya sbg TS, saya tdk menyimpulkan apa-apa.

Tp saya sajikan bbrp temuan ilmiah, disandingkan dgn KS, saya lemparkan pertanyaan, dan tergantung yg membaca, bgmn mau memaknai-nya.
Quote:


Kalau "kemampuan" itu adalah bagian dr fungsi fisik jasmani, artinya

1. Bisa jadi suatu saat nanti, yg namanya enlightenment itu ndak perlu proses "tirakat", dsb.

Tapi bisa dicapai lewat stimulasi2 berdasarkan teknologi. Yg penting bisa bayar.

2. Krn dia bagian dr fungsi fisik jasmani, ketika fisik jasmaninya lemah/rusak/mati, yg namanya "enlightenment" jg bisa lemah/rusak/mati.
Lihat 1 balasan
Balasan post hawiyah
Quote:

Kebenaran dalam sains tidak bersifat mutlak.
Artinya jika ada fakta baru yang menyanggahnya, kebenaran bisa berubah.
Atau jika ada fakta baru yang lebih baik, kebenaran akan semakin mendetail.
Tapi karena ini pula, sifat sains akan semakin lama semakin cenderung mendekati kebenaran sesungguhnya. dan makin jauh dari hal yang ditemukan tidak benar.

Tapi, apa bisa dibandingkan dengan kitab suci?
Apakah kitab suci bisa diuji dan dibuktikan?
Atau sekedar dipercaya dan selesai?
Jika sekedar dipercaya, tak boleh diragukan atau dipertanyakan, bukankah itu hanya akan jadi pembenaran?
Diubah oleh shinhikarugenji
Quote:


Beberapa orang penganut agama, menganggap ilmu pengetahuan sebagai bagian yg melengkapi iman mereka.

Shg mereka memperbarui tafsiran2 thd KS, sesuai dgn perkembangan sains. Bagi mereka KS tdk boleh bertentangan dgn kebenaran, dan mereka meyakini sains sebagai sebuah metode utk mengungkap kebenaran

Bagi sebagian penganut yg lain, kemudian mereka dipandang sesat dan meng-kompromi-kan agama.

Bagi yg setuju, mereka adalah pemuka agama yg progresif.
Balasan post lonelylontong
Eee... jangan salah paham ...
Proses "enlightment" itu tidak perlu harus terjadi secara berulang-ulang. Sekali saja sudah cukup, asalkan orang yang bersangkutan dari proses "enlightment" itu kemudian dapat memahaminya. Bedakan dengan kondisi "full enlightment", yah. emoticon-Smilie Kalau pada kondisi ini, orang yang bersangkutan, berada pada posisi dimana ia memahami (boleh dikata 100%), terkait "segala hal" yang ada di dunia ini.

Serba-serbi "enlightment" itu sendiri bisa beragam (namanya juga serba-serbi emoticon-Smilie) tergantung dari latar belakang-ranah minat orang yang bersangkutan.

Semisal ...
Kalau orangnya minat ama matematika, mungkin ia kemudian bisa mendefinisikan angka 0 (nol).
Kalau orangnya minat terhadap masalah peradaban, ia mungkin mendapati (kondisi) peradaban saat masih nol (asli) itu seperti apa, dan seperti apa yang bersifat relatif (yang terjadi saat peralihan generasi). ===> Katakanlah pada generasi awal, mereka bisa mencapai tingkat peradaban ... katakanlah ... pada level satu, namun ketika terjadi peralihan generasi, maka oleh generasi penerusnya itu level itu dikatakan/disebut sebagai nol. Kalau kita bawa dalam keseharian, mungkin kita biasa menyebutnya sebagai "klasik"/"kuno"/"tradisional".

Kalau orangnya minatnya pada bidang ekonomi, ia mungkin menyadari akan masalah "keinginan/kebutuhan akan suatu barang". Yang mana ketika ia belum mempunyainya, maka itu adalah nol yang asli. Dan ketika pada saat ia telah mempunyainya, tetapi kemudian ia merasa masih "kurang", maka kondisi itu dapat dikatakan sebagai nol yang relatif.

...
Terkait contoh-contoh itu ..., kalau kemudian di suatu saat dimungkinkan ada tehnologi tertentu yang membuat manusia bisa mendapatkan "enlightment" (artificial), maka ia tidak akan menemukan nol yang asli itu. emoticon-Big Grin

...
Nambah ... agak banyak ...
Mitochondrial Eve, Bukti Ilmiah Bahwa Kitab Suci Benar Tentang Manusia Pertama?
Ada satu fenomena terkait dengan peradaban atau pernak-pernik yang menyangkut masalah manusia dalam kesehariannya.
Fenomena itu saya sebut saja sebagai fenomena "sudut"/"angle", seperti yang ada dalam gambar di atas itu. Bahwa ada suatu masa dimana peradaban dan segala pernak-perniknya itu berada pada area yang berwarna abu-abu gelap. Dan ada masanya pula (termasuk masa kini) dimana kita berada pada area yang berwarna abu-abu terang. Bisa dilihat pada gambar itu, bahwa mereka yang berada pada area abu-abu gelap, tentunya selain lebih mudah untuk mencapai "titik awal", juga akan mempunyai tingkat pemahaman yang lebih terhadap apa-apa yang ada disekitarnya. Dulu ... orang mungkin mudah untuk menjadi "master" dalam banyak hal, namun pada jaman sekarang, bisa menjadi "master" pada satu-dua bidang saja mungkin sudah cukup menghebohkan. emoticon-Big Grin
...
Lebih lanjut ...
Pemahaman mengenai titik 0 itu bukanlah suatu hal yang bisa diremehkan, karena "dampak"-nya bisa mengada dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Seperti saya contohkan/misalkan perkara peradaban itu, ketika sebuah generasi menanggap bahwa mereka saat itu berada pada "point awal"/"titik 0", secara otomatis ... mereka akan menganggap apa-apa yang berada pada masa/peradaban sebelumya adalah sesuatu hal yang bersifat negatif. Boleh dibawa ... perenungan masalah ini pada berbagai bidang (terkait sosial-budaya, yang mana ini tentunya berkaitan dengan masalah peradaban), bidang seni, ekonomi, politik ,sosial, bahkan ... agama.

Bila mau dimatematiskan ...
Ketika pada satu ruas ternyata diisi oleh sesuatu hal yang bernilai negatif, maka pada ruas lainnya pun akan timbul suatu hal yang bernilai negatif pula.===> -X = -"X"
Dalam hal ini bisa berupa tindakan intoleran, niat untuk membuat sengketa/konflik, benci dan sebagainya.
Bila mau dibawa pada kasus riil ...
Dalam bidang politik, bisa saja kemudian timbul pertentangan antara pihak konservatif dengan pihak populis (yang mana mengandalkan trend/kekinian), bilamana konsep yang mereka tawarkan bertentangan antara satu sama lainnya.
Dalam bidang pelestarian alam lingkungan, bisa saja kemudian timbul pertentangan antara mereka yang berusaha untuk menjaga kondisi lingkungan untuk tetap lestari, dengan pihak yang mempreketekkan masalah kelestarian alam lingkungan.
Dalam bidang agama, bisa saja kemudian satu pihak yang agamanya muncul belakangan, akan merendahkan mereka yang memeluk suatu agama/kepercayaan/keyakinan yang telah muncul duluan.
Dan sebagainya ...




Diubah oleh bingsunyata
Quote:


Justru itu saya pingin nanya, menurut agan, batin/spiritual/dst, itu suatu fungsi fisik/jasmani?

Atau sesuatu yg terpisah dr fisik/jasmani.

Jadi kalau dia sesuatu yg fisik/jasmani, maksud saya bisa ditemukan, misalnya oh di otaknya itu ada susunan neuron yg seperti ini, sehingga dia mengalami enlightenment.

Ini misalnya saja, krn kan otak tidak sesederhana itu, cm maksud saya, apakah menurut agan, kondisi enlightenment/dst, itu hasil dr kerja otak?

Krn sdh ada penelitian-nya, utk menghubungkan otak satu orang, ke otak orang lain, dgn salah satu tujuan spy bisa transfer "data" dr satu otak ke otak lain.
Diubah oleh lonelylontong
Lihat 3 balasan
Halaman 21 dari 22


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di