CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4aa4e4a727684917225b16/kotak-waktu

Kotak Waktu

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 10 dari 15

BAB 18

Libur akhir semester menjelang tahun baru 2003.

Taka sedang nyenyak-nyenyaknya tidur siang ketika pintu kamar diketuk.

“Taka,” panggil Emak dari luar. “Ada temanmu tuh datang.”

Taka membuka mata. Nyawanya belum ‘terkumpul’. Dia hanya duduk di kasur sambil mengucek mata. Emak memanggilnya lagi dari luar. Makin lama ketukannya makin cepat dan keras.

“Iya, Mak! Ini udah bangun!” Taka beringsut turun dari kasur dengan malas. “Siapa, sih, yang datang? Lagi enak tidur juga.” Dia terus mengomel sambil berjalan keluar.

“Maaf ya, Ka, ngeganggu tidur kamu.”

Taka mematung. Matanya mengerjap cepat. Nyawa yang sejak tadi melayang-layang di atas kepala langsung kembali ke tubuhnya begitu melihat siapa yang datang. “Keela?”

Keela berdiri sambil tersenyum. “Kalau kamu masih mau tidur, aku pulang lagi aja.”

“Eh, enggak usah! Aku enggak keganggu, kok. Kamu duduk aja dulu. Sebentar, aku mau cuci muka.” Taka bergegas ke dapur.

Selesai cuci muka, dia diberondong pertanyaan oleh Emak. “Taka, Keela itu siapanya kamu? Cantik banget. Pacar? Ah, mana mungkin anak Emak punya pacar yang cantiknya kayak gitu! Jangan ngawur kamu.” Emak berbisik penuh semangat.

“Yang ngawur itu Emak. Aku enggak ngomong apa-apa juga.”

“Duh, meni geulis eta budak,” lanjut Emak sambil mengintip ke ruang tamu. Duh, cantik sekali anak itu.

“Dia itu teman sekolahku, Mak. Dulu sekelas pas kelas satu.”

Emak mengangguk-angguk mengerti. “Anaknya sopan banget. Enggak kayak si Dewi tuh, kalau ke sini main selonong aja. Ya udah, kamu temenin sana. Jangan dibiarin sendiri.”

Taka kembali ke ruang tamu. Dia duduk di samping Keela. “Aku kaget kamu datang ke sini,” katanya. “Tahu rumahku dari mana?”

“Dewi yang ngasih tahu. Tadi aku ke rumahnya dulu.”

“Oh. Tunggu, kamu katanya liburan ke Jakarta, tapi kok ada di sini?”

“Udah pulang lagi, Ka. Enggak seru di Jakarta. Panas. Macet. Enakan di sini, adem.”

“Jelas, dong. Bandung itu kota ternyaman di Indonesia.”

“Itu mah karena kamu orang Bandung, jadinya bilang begitu.”

“Hehehe, iya juga, sih. Terus, rencana kamu gimana? Mau ke mana lagi? Masih ada beberapa hari sebelum mulai masuk sekolah.”

“Aku enggak pengin ke mana-mana.”

“Enggak jalan sama pacar kamu?”

“Pacar? Siapa?”

“Iqbal.”

Kedua pipi Keela memerah. “Aku belum jadian sama dia. Aku bukan pacarnya Kak Iqbal.”

“Kalau kamu bilangnya ‘belum’, berarti ‘akan’ jadian, dong?”

“Apaan, sih? Enggak. Kamu tuh, bukannya kamu yang udah punya pacar? Hayo ngaku.”

Taka mengernyitkan dahi.

“Kata gosip yang beredar, kamu jadian sama anak IPS-1.”

“Siapa? Gita? Enggak, ah.”

“Aku enggak nyebut nama, lho. Kamu sendiri yang bilang.”

Mereka berdua tertawa.

“Eh, daripada bosan di rumah doang, kita jalan-jalan yuk?” usul Taka.

“Mau. Tapi, jalan-jalan ke mana?”

“Kita keliling aja, pakai motor. Mumpung lagi enggak panas cuacanya.”

“Hayuk!”

“Mak, Abah lagi di mana?” Taka berteriak.

“Lagi tidur.” Emaknya balas berteriak dari belakang.
“Kalau gitu motornya aku pinjam ya?”

“Iya. Hati-hati, Kasep.”

Taka menoleh pada Keela dan langsung tersenyum lebar. Lima menit kemudian, keduanya sudah bersiap di atas vespa tua berwarna kuning yang mengeluarkan bunyi berkelontangan khas motor dua tak.

“Maaf ya, Kee, di sini adanya motor tua,” kata Taka. “Bukan moge kayak punya pacar kamu.”

“Kok ngomongnya gitu? Mau motor tua, motor muda, atau motor masih bayi juga enggak masalah.”

“Hahaha, kamu bisa aja. Udah siap?”

“Udah. Eh, tunggu, kok enggak ada behel buat pegangannya?”

“Namanya juga motor tua, Kee. Harap maklum. Tapi kalau kamu butuh pegangan, peluk aku aja. Karena sesungguhnya, pelukan adalah sebaik-baiknya pegangan.”

“Yee, ngarep!” Keela mencubit lengan Taka.

Tidak lama kemudian, motor keluaran tahun 1975 itu membelah jalanan kota Bandung. Taka dan Keela sama sekali tidak mempunyai tujuan ke mana mereka pergi sore itu. Mereka benar-benar melakukannya dengan spontan. Setiap kali menemukan persimpangan jalan, Taka bertanya ke mana harus mengarahkan kemudi. Dengan asal-asalan Keela akan menjawab kanan, kiri, atau lurus.

Taka melajukan motornya tidak lebih dari 50 kilometer per jam. Dia biarkan udara sore yang segar memenuhi rongga dada mereka.

“Hei!” Taka membunyikan klakson lalu melambaikan tangan ketika melewati seorang tukang bakso di pinggir jalan. Tukang bakso balas melambai.

“Siapa itu, Ka?” Tanya Keela.

“Enggak tahu.”

“Lho, tapi barusan kamu nyapa dia, kan?”

“Iya.”

“Tapi kamu enggak kenal sama orangnya?”

“Iya.”

Keela tertawa keras. “Dih, bodor kamu mah!” Sambil mencubit lengan Taka.

Mereka terus melaju.

“Eh, kamu mau minum bandrek enggak? Sore-sore dingin begini enak minum yang anget,” ujar Taka.

“Boleh.”

Tidak jauh dari persimpangan yang baru saja mereka lewati, Taka menghentikan laju motornya. Mereka duduk di kursi kayu di samping gerobak penjual bandrek.

“Segar banget ya.” Keela menghirup napas dalam-dalam. “Makasih, Ka, udah ngajak aku jalan-jalan.”

Taka tersenyum. Apa pun asal kamu senang, Kee.

Bandrek pesanan mereka sudah jadi. Aroma jahe yang segar menguar dari gelas bersamaan dengan asap putih yang mengepul tipis. Taka merasakan sensasi pedas dan dingin ketika minumannya melewati tenggorokan, tetapi begitu sampai di dada rasanya menjadi hangat.

Duduk berdua bersama Keela, ditemani segelas bandrek hangat dan kesegaran udara sore adalah hal terindah yang didapat Taka hari itu. Entahlah, mungkin ini adalah mimpi di dalam mimpi, yang ketika membuka mata, dia akan mendapati dirinya sedang berbaring di dalam kamar. Walaupun ini cuma mimpi, Taka cukup senang untuk memimpikannya. Dia malah berharap mimpi seperti ini akan datang setiap hari.

“Jadi, hubungan kamu sama si Gita udah sejauh mana?”

Pertanyaan dari Keela membuat Taka terbatuk-batuk karena tersedak. “Ehem, aku enggak ada hubungan apa-apa sama Gita.”

“Masa, sih?” Keela sambil memasang wajah tidak percaya. “Aku dengar katanya kamu lagi pendekatan.”

“Kamu dapat sumber berita dari mana, sih, Kee? Aku berasa artis aja digosipin.”

“Tapi benar, kan? Kamu lagi pendekatan sama si Gita.”

“Aku enggak ada hubungan apa-apa sama Gita. Sumpah.”

“Aku enggak percaya.”

“Ya udah, terserah.”

“Kok terserah?”

“Kan aku udah jawab. Soal kamu percaya atau enggak, itu terserah kamu, Kee.”

Mereka terdiam sejenak.

“Jangan-jangan....” Keela menaikkan kedua alisnya, menunggu kelanjutan ucapan Taka. “Kamu cemburu kalau aku dekat sama cewek lain?”

Seketika wajah Keela memerah. Kedua alisnya bergerak aneh. “Sembarangan aja! Ngapain aku cemburu? Bukan urusanku kamu mau dekat sama siapa pun.”

“Hehehe, iya juga. Lagian, kamu udah punya Iqbal. Ngapain cemburu sama aku?”

“Aku bukan pacar Kak Iqbal.”

“Masa, sih?”

“Kamu dapat sumber dari mana, sih, Ka? Aku berasa artis aja digosipin.”

Keduanya tertawa lagi.

“Ini kayaknya kalau ada gitar lebih mantap lagi ya,” kata Keela. “Sambil nyanyi-nyanyi gitu.”

“Bentar, aku ke rumah Gugun dulu, ngambil gitar.”

“Eh, enggak usah! Aku enggak serius, kok. Hahaha.”

“Aku juga bercanda, Kee. Memangnya kamu mau nyanyi lagu apa?”

“Hm, apa ya?”

“Lagu yang lagi sering kamu dengar, deh. Lagu apa?”

“Kalau nanyanya yang sering aku dengar, ya lagu-lagunya Bee Gees.”

“Bee Gees?” Taka tertawa.

“Kok ketawa?”

“Enggak apa-apa. Enggak percaya aja selera musik kamu mantap. Old soul. Itu kan band zamannya orangtua kita masih remaja.”

“Iya. Aku juga tahu lagu-lagunya Bee Gees dari papaku. Dia penggemar beratnya.”

“Oh … pantas. Terus, lagu favorit kamu yang mana?”

“How Deep Is Your Love, lagu yang dirilis tahun 1977. Papaku punya hampir semua album kasetnya. Cuma kurang album pertamanya aja, Bee Gees 1st. Padahal aku pengin banget dengar lagu-lagu di album itu.”

Taka hanya menggelengkan kepala pertanda dia kagum pada perempuan di sampingnya. “Kapan-kapan kita nyanyiin lagu favorit kamu, tapi aku harus nyari kunci gitarnya dulu.”

“Kalau udah bisa, kasih tahu aku ya.”

“Siap.”

Mereka masih berbincang beberapa saat kemudian. Ketika minuman di gelas habis, mereka pun pulang. Kali ini perjalanan pulang tidak seramai ketika berangkat. Mereka lebih banyak diam.

“Ka.”

“Kenapa, Kee?”

“Aku ngantuk.”

“Yah, gimana, dong? Masih setengah perjalanan lagi ke rumah kamu.”

“Aku tidur aja ya.”

“Eh, jangan. Nanti jatuh ngeguling ke jalanan. Bahaya, lho.”

“Tapi ngantuk banget.”

“Sabar. Sebentar lagi nyampe.”

“Gini aja, deh.” Keela melingkarkan kedua tangannya di pinggang Taka. “Kalau kayak gini, aku enggak bakal jatuh, kan?”

Taka tidak bisa menjawab. Dadanya berdebar kencang. Dia hanya menganggukkan kepala, tetapi tidak yakin Keela melihatnya karena saat itu Keela sudah menyandarkan kepala di bahunya. Selama perjalanan pulang, Taka ingin segera sampai ke rumah Gugun dan meminjam gitar si Keling untuk mencari kunci gitar lagu How Deep Is Your Love.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
thanks update nya emoticon-Toast
ciattt, ciattt, ciatttt

bola bergulir kembali saudara-saudara

lanjut emoticon-Belgia
Gw yang baca aja sampe ikut degdegan nih emoticon-Malu

Lanjut nenda emoticon-Ultah
auto nyari di yutube how deep is your love
ninggalin jejak ah
Enggak kerasa udah sampai Bab 18 aja.
Jarang, kan, ada buku yg dibagikan nukilannya sampai sebanyak ini?
Itu semua karena SFTH. emoticon-I Love Kaskus (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gebolextreme dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Saluuut emoticon-Mewek
Balasan post pujangga.lama
Quote:


semoga sampe beres ya om
Quote:


Waaw iya Om ga kerasa dah 18.. emoticon-Matabelo
hehe jarang banget, makasih Om Ari, makasih SFTH emoticon-Salaman
asyooooyyy udh motoran sore2 sambil peyuk2 ahahahaha
lanjut kang ari

BAB 19

Jakarta, 2014

…I believe in you
You know the door to my very soul
You’re the light in my deepest, darkest hour
You’re my savior when I fall
And you may not think I care for you
When you know down inside that I really do
And it’s me you need to show

How deep is your love, how deep is your love
How deep is your love?
I really mean to learn
‘Cause we’re living in a world of fools
Breaking us down when they all should let us be
We belong to you and me…


Ketika Taka melepas headset dari kedua telinganya, suara merdu Gibb bersaudara lenyap dari pendengaran. Dia berdiri menatap gedung berlantai tiga milik salah satu bank swasta di hadapannya. Dia tidak menyadari seorang petugas keamanan yang sejak tadi memperhatikan dari jauh, menghampirinya.

“Maaf, Pak. Bapak mau ke bank atau cuma lewat aja?” Petugas itu bertanya dengan sopan. “Dari tadi saya lihat berdiri terus di sini. Bapak butuh bantuan?”

“Oh—itu … enggak. Saya mau masuk, kok. Tadi lagi ngelihat bentuk bangunannya. Bagus ya,” Taka berkilah. Dia memaksakan tersenyum lalu melangkah masuk lewat pintu depan. Seorang petugas kembali menyambutnya di dalam dan mempersilakan Taka menunggu setelah mengambil nomor antrean.

Taka duduk di sofa besar warna merah. Dia menghadap deretan meja petugas layanan pelanggan. Diperhatikannya satu per satu papan nama di atas masing-masing meja. Itu dia! Tertulis dengan jelas menggunakan huruf kapital: K-E-E-L-A. Seketika jantungnya berdegup cepat. Dari posisi duduknya sekarang, dia tidak bisa melihat petugas di belakang meja karena tertutup oleh kaca buram pembatas meja di sebelahnya.

Taka yakin sudah datang ke tempat yang tepat. Sejak pertemuan dengan Gugun, dia jadi banyak mengingat teman-temannya di sekolah dulu. Melalui laman media sosial, Taka berhasil menemukan akun Keela. Dia sudah mencoba mengirim pesan langsung padanya, tetapi tak kunjung dibalas. Dari seorang teman, didapatkanlah informasi bahwa Keela bekerja di salah satu bank swasta di Jakarta. Dia pun memberanikan diri mendatangi perempuan itu, dengan harapan—setidaknya—menyambung lagi silaturahmi yang sempat terputus. Syukur-syukur kalau Keela tahu informasi tentang Gugun. Taka masih tidak habis pikir, bagaimana bisa sahabatnya itu bersikap dengan begitu anehnya?

Pelanggan di meja nomor lima, meja milik Keela, sudah menyelesaikan urusannya. Dia beranjak pergi. Bersamaan dengan itu pelanggan di meja nomor tiga pun sama. Pengumuman di pengeras suara mempersilakan Taka menuju meja nomor tiga, tetapi dia menghampiri pemilik antrean lain yang hendak ke meja nomor lima dan memintanya bertukar tempat. Taka mengatakan sejujurnya, bahwa petugas di meja nomor lima adalah kawan lamanya, dan dia ingin bicara dengannya. Beruntung pelanggan itu bersedia bertukar tempat.

Taka tidak berani menatap wajah orang di seberang meja sampai dia duduk.

“Selamat siang, ada yang bisa dibantu?” ucap perempuan itu dengan sopan.

Taka mengangkat wajah dan akhirnya melihat orang di hadapannya. Seketika memori di kepalanya berhamburan, berdesakan ingin keluar. Kedua mata itu, hidungnya, juga bibirnya dan cara dia tersenyum, mengingatkan Taka pada wajah dan senyum yang sama bertahun-tahun yang lalu.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Keela mengulangi pertanyaannya. “Bapak datang ke sini untuk mengadukan masalah terkait rekening Bapak, atau….”

“Saya mau buka rekening baru,” Taka mengatakan apa yang terpikirkan olehnya.

“Baik, untuk pembuatan rekening baru, kami butuh beberapa dokumen….” Keela menyebutkan apa saja yang dibutuhkannya dan beberapa penjelasan lain mengenai penawaran dari bank, tetapi Taka tidak mendengarkan. Hati dan pikirannya berada di tempat lain, jauh dari realitasnya saat ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
huhuy kentang di sore hari hehe
bang,, dikit amaatt.. pas x motong nya ya.. makin harum kentang nya emoticon-Hammer (S)
Keknya masalah waktu masa lalunya Taka berat banget ya.. sampe Keela aja gk kenal
Quote:


Wah bener juga, klimaksnya pasti disana
Quote:


Kalo buku sudah rilis, jangan lupa PM saya buat buku gratisemoticon-Peace
Duh bau bau sad ending nih kayak nya

Semoga aja enggakemoticon-Ngacir
ikut nyimak dulu di thread TS yang udah maestro di jagat SFTH
Halaman 10 dari 15
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di