alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Masuk SD Harus Bisa Baca Tulis, Situ Sehat?
4.85 stars - based on 26 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d2fa5aea2d1951d9b777886/masuk-sd-harus-bisa-baca-tulis-situ-sehat

Masuk SD Harus Bisa Baca Tulis, Situ Sehat?

Tampilkan isi Thread
Halaman 17 dari 17
setuju gan, makanya ane males punya anak di Indonesia, ada yang salah dengan sistem pendidikan kita
Quote:


Penerapan biar masuk sekolah favorit
tau ga sih kalo lembaga pendidikan di indonesia kbnyakan lebih suka mentingin prestasi skolah daripada bakat anak didiknya? PAUD yg bisa nelorkan siswa bisa baca tulis, jadi favorit buruan orang tua. Efeknya, tuh skolah punya status keren, elite yg akhirnya berpengaruh ke biaya pendidikannya. Makin elite sekolahnya, makin mahal biayanya.

akhirnya, paham kan knapa status skolah elite tetep kudu ada? emoticon-Wink
Balasan post Ngeuepamajikan
Moga2 anak ente ga stress ngikutinnya ya
Balasan post jatafest.junior
@jatafest.junior justru itu gegara anak gw yg maksa pengen sekolah emoticon-Ngakak (S)
Saya liat alhamdulilah enjoy aja dia
tujuan bersekolah memang mengajarkan sesuatu yg tadinya tidak bisa jadi bisa. tapi menurut ane, setidaknya kalo udah bisa calistung sebelum SD jadi poin plus. di sekolah tinggal menyempurnakan dan punya potensi besar bisa ngikutin di kelas. pentingnya orang tua selalu aware sama pendidikan anak.. bantu & bekali dgn sabar..
profile-picture
online.addict memberi reputasi


Quote:


Wkwkwkwk sunnah iya bener begitu. Yaah semoga thread agan ini bisa membuka wawasan ortu dan sekolah2 yg nuntut masuk SD udah harus bisa baca deh ya gan
profile-picture
powerpunk memberi reputasi
Quote:


Nahhh setuju banget bree, brarti yg hrus di evaluasi bukan anaknya kan?? Sistem dan materi di skolah trsebut, mmg hrs mgikuti prkembangan jaman tp ya ga hrs kelas 1 udh ngerti TIK jg keles
Quote:


Sistem kurikulum nya harus di evaluasi gan, karena hal ini berlaku secara nasional
Tiap daerah, kemampuan sekolah dalam hal fasilitas dan SDM pengajar nya berbeda2 maka ga mungkin kurikulum harus disamakan di seluruh indonesia
Balasan post online.addict
Jangwe itu petasan roket istilah bocah jaman dulu.....ada jangwe ada tekoan (sekarang tekoan dilarang karena bisa dibikin boom karena memang pada dasarnya bom mini cuman pakai sumbu tapi suaranya yah gile bisa bikin kaca pecah kalau deket2 dan bisa bikin jari lu ilang kalau meledak di tangan. emoticon-Takut tapi yah itu bagian dari masa lalu yang menyenangkan). biasanya kita war habis subuhan ke komplek2 gitu bawa sapu lidi sama petasan jangwe (ini petasan roket tapi gak ada lidinya jadi polosan) nanti kita pasang lidi terus kita pasang....malah kalau ada yang nembak kita pake jangwe kita balas....emoticon-Cool . tapi kita gak pernah isengin warga yah....ibarat kata cuman buat seneng2......sekarang sih udah old dah punya bini udah malu main kayak gituemoticon-Wakaka
Tar 2222 sd wajib bisa geometri emoticon-Ngakak emoticon-Hammer2
profile-picture
powerpunk memberi reputasi
Quote:


edaaan mainannya greget banget Om emoticon-Wow
ngeriiii emoticon-Ngakak
profile-picture
powerpunk memberi reputasi
Quote:


Iya bree bener, tapi mnrt ane klo ga disamain malah kacau sihh...mgkin temanya tetep sm tapi judul dan cara penyampaiannya yg hrs dieval
profile-picture
powerpunk memberi reputasi
Quote:


saking gobloknya si
emoticon-Ngakak
trit mantap emoticon-Sundul Up
Kok dari judulnya aja sudah tendensius ya?
Setelah baca isinya, kok menyudutkan sekolah sekali.
Apalagi ada salah ejaan dalan penulisan kata izin, yang benar mengizinkan bukan mengijinkan. Demikian juga kata jaman yang benar zaman. Disitulah saya merasa pentingnya membedakan bahasa lisan dan tulisan.
Kemudian membandingan Indonesia dengan Finlandia, maaf itu bukan perbandingan yang seimbang, not apple to apple.
Buat saya yang masih nubie di sini, membaca thread ini opini yang berupa uneg-uneg, tanpa memiliki dasar ilmiah.

Pendidikan itu terdiri dari tiga (3) roda gigi: perserta didik (siswa/siswi), orangtua, dan sekolah. Ketiga roda gigi itu harus bergerak bersamaan, Kita tidak bisa memberi beban pada satu bagian saja.
Kenapa di Finlandia begitu ideal? Karena seluruh bagian itu mengambil perannya dalam mendukung proses pendidikan seorang peserta didik.
Para pembuat kebijakannya adalah orang-orang yang tepat, tidak hanya memikirkan proyek semata. Kurikulum di sana berfokus pada pengembangan keterampilan (skills), konsep, dan karakter. Sedang di Indonesia masih pada konten saja.
Tenaga pengajar di Finlandia memiliki kualitas yang mumpuni; bahkan untuk pengajar taman kanak-kanan adalah lulusan master (S2) dan doktorat (S3), pelatihan yang rutin selalu diadakan di sekolah masing-masing. Metode pengajaran di sana berbeda dengan di republik ini.
Orangtua mengambil perannya. Walaupun banyak orangtua yang bekerja, namun mereka masih punya waktu untuk mendampingi anaknya untuk belajar.

Pembelajaran tentang nilai moral, sopan-santun, dan integritas itu dimulai dari keluarga. Kemudian disekolah semua itu diberikan penguatan dan contoh-contoh lain. Di taman kanak-kanak, siswa-siswi belajar tentang motorik halus dan kasar, sekalin itu kemampuan kognitif dasar mulai diajarkan, seperti mengurutkan, membandingkan, memahami pola. Kemudian di rumah dilakukan penguatan tentang semua yang diajarkan di sekolah. Semua itu terjadi dengan adanya komunikasi antara orangtua dan sekolah.

Ingat tugas orangtua tidak selesai dengan membayar semua pembiayaan si Anak untuk sekolah. Jika itu yang ada pola pikir yang kita pakai, bisa repot generasi penerus negeri berflower ini.

Anak usia kelas 1 sekolah dasar seharusnya sudah mampu untuk mengenal huruf, membaca kata, dapat membaca buku bergambar dengan kalimat sederhana, memahami kalimat sederhana, dan mulai menulis , walaupun tulisan mereka masih terlalu besar atau terlalu kecil, melewati garis buku. Kemampuan tulis seperti itu wajar. Karena itu juga akan membantu guru untuk melakukan koreksi dan penguatan.
Kemudian untuk angka, sudah tau mengurutkan angka dengan representasi objek, tahu banyaknya objek. Misalnya menyebutkan kata tiga (3) ketika melihat jumlah permen dalam mangkuk. Itulah cara berhitung siswa kelas 1.

Cobalah kita gunakan teknologi untuk terus belajar. Baca buku tentang teori perkembangan anak, salah satunya Teori Jean Piaget lalu baca tentang metode belajar Inqury yang salah satu ahlinya adalah Kath Murdoch.

Jadi, jika kita ingin anak kita sukses maka kita wajib ambil bagian dalam proses belajar mereka. Jadilah pembelajar sejati, sebab pada kodratnya manusia akan selalu belajar -life long learners.
Diubah oleh badakjawacula1
Jaman sekarang apa sih gunanya sekolah?
Anak2 pengen pintar harus kursus/les diluar sekolah.
Anak2 harus pinter dari luar sekolah lalu masuk sekolah udah harus bisa, klo enggak ya ketinggalan.
Makanya sekolah hanya utk mengejar nilai bukan lagi tempat menuntut ilmu, karena tempat menuntut ilmu ada ditempat les atau bimbel.
Diubah oleh evancode
Sebenernya ada yang menurut ane fenomena unik.
Baik di dunia nyata maupun di grup fb, ane menemui kasus "ada orang tua yang mencari guru les baca & berhitung untuk TK".
Karena ane belum punya anak, jadi engga begitu paham, apa tujuan hal ini.
Kalo les fisika & matematika SMA, wajar lah, karena sebagai orang dewasa (ortu) belum tentu mahir di bidang ini (ane aja kesulitan) emoticon-Big Grin
Lha tapi kalo cuma baca & berhitung level awal, masa iya ortu nya belum bisa? (sedangkan nyari guru les nya bisa pake sosmed)
emoticon-Hammer2
Itulah gunanya TK
Halaman 17 dari 17


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di