- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
KUMPULAN PENTIGRAF DE YUDI


TS
DeYudi69
KUMPULAN PENTIGRAF DE YUDI

Pict from google
Pentigraf ke-1
KEJUJURAN
Karya : De Yudi
Pagi itu Adi disuruh membeli kecap botol oleh ibunya. Dia diberikan selembar uang sepuluh ribu. "Nak, kamu belikan ibu kecap di warung Bu Atik, harga kecapnya enam ribu rupiah, jadi nanti kamu minta kembaliannya lagi empat ribu rupiah!" Ibunya memberi tahu jumlah uang kembalian yang harus diterima, karena Adi baru berumur lima tahun.
Di warung Bu Atik, ternyata harga kecap cuma lima ribu rupiah, karena mereknya berbeda. Adi pun menerima unag kembalian sejumlah lima ribu rupiah, dengan dua lembar uang dua ribu rupiah dan selembar uang seribu rupiah. Adi pulang setelah berhasil membeli sebotol kecap manis.
"Buk, ini uang kembaliannya," ucap Adi pada ibunya. Ibunya pun bertanya kenapa bisa lebih seribu uangnya. Adi mejelaskan dengan penuh kejujuran. Alhasil kelebihan uang kembalian itu diberikan kepada adi untuk ditabung dalam celengan. Orang jujur akan selalu mendapat pahala yang baik.
Pentigraf ke-2
AKU PINJAM SEBENTAR SAJA
Karya : De Yudi
Melia, gadis kecil kelas lima SD. Dia anak yang pandai dan rajin bersekolah. Namun sayang, Melia dibesarkan oleh keluarga yang terbilang kurang mampu. Keinginannya untuk bersekolah sangat tinggi, walaupun selepas sekolah Melia harus ikut orang tuanya menjadi pemulung, tidak lupa dia selalu membawa buku pelajaran untuk dibacanya.
Suatu ketika tahun ajaran baru dimulai, Melia kini naik ke kelas enam SD. Dia mendapat kesempatan berada di kelas unggulan, berkumpul dengan siswa-siswi pintar lainnya. Disitulah Melia merasa minder dan dikucilkan oleh teman-temannya. Banyak buku pelajaran yang harus dibeli. Namun orang tua Melia yang sebagai pemulung tak cukup punya uang untuk membeli buku baru.
Hanya sedikit teman yang mau bergaul dengannya. Alasan mereka Melia bau sampah dan anak pemulung. Ejekan itu tak jarang membuatnya menangis. Beruntung Rudi dan Dimas mau meminjamkan buku pelajarannya kepada Melia. Namun, tetap saja tidak bisa dibawa pulang, karena Rudi dan Dimas juga pasti membutuhkannya. Akhirnya buku itu dipinjam oleh Melia di saat teman-temannya sedang beristirahat di kantin. Karena ketekunan dan kegigihannya dalam belajar, Melia kini telah lulus menjadi seorang sarjana ekonomi karena beasiswa dan memiliki beberapa toko sembakau.
Pentigraf ke-3
BUKAN SALAHKU
Karya : De Yudi
Pagi itu cukup cerah, Gilang berlari di koridor sekolah menuju kelasnya. Tak sengaja sikunya menyenggol vas bunga di depan kelas. Belum ada murid yang datang selain dia. Gilang ketakutan. Dia segera menyembunyikan vas bunga itu di dalam bak sampah.
Pelajaran pun dimulai. Awalnya tak ada yang ngeh dengan hilangnya vas bunga di depan kelas. Sampai Bu Mesya gurunya bertanya. Apakah ada yang memindahkan vas bunga di depan kelas? Degup jantung Gilang semakin kencang, peluh dingin membasahi dahinya. Takut akan hukuman yang akan diterima jadi dia tutup mulut saja.
'Pokoknya bukan salahku,' batin Gilang. Karena tak ada yang mau mengaku akhirnya seluruh siswa di kelas enam SD itu dihukum oleh ibu guru. Termasuk gilang yang ikut dihukum berjongkok bangun sebanyak 20 kali. Sebelum ada yang mengaku hukuman akan ditambah. Akhirnya Gilang menyerah. Dia pun mengaku telah memecahkan vas bunga itu dan berjanji akan menggantinya. Sesuatu apa pun yang telah kita perbuat harus dibarengi dengan tanggung jawab.
Pentigraf ke-4
TERPAKSA
Karya : De Yudi
Febi dan Maya hidup menjadi gelandangan karena orang tuanya telah bercerai dan keduanya tak mau mengurus mereka berdua. Emperan toko atau kolong jembatan menjadi tempat ternyaman dikala malam tiba dan rasa kantuk tak tertahankan lagi.
Febi baru sepuluh tahun, dan Maya adiknya baru tujuh tahun. Kedua gadis kecil itu bertahan hidup dengan menjadi pengamen, pemulung kadang juga meminta-minta pada pengendara kendaraan roda dua maupun roda empat yang berhenti di lampu merah.
Suatu ketika Maya jatuh sakit. Tak punya uang sepeserpun untuk membeli obat atau setidaknya berobat ke dokter. Febi pun nekat menjadi pencopet. Sial, aksinya ketahuan oleh sang pemilik dompet. Febi menangis meminta ampun. Berunrung bapak yang dicopet baik hati. Bapak itu bertanya apa penyebab Febi menjadi pencopet. Febi menjelaskan dengan air mata berlinang dari netra kecilnya. Merasa iba, bapak-bapak itu pun membantunya membawa Maya berobat ke dokter. Tidak hanya sampai di situ, kuasa Tuhan selalu ada. Ternyata Pak Tomi dan istrinya sudah lama menikah dan tidak dikaruniai keturunan. Maya dan Febi pun diadopsinya sebagai anak angkat. Mereka berempat hidup bahagia.
Pentigraf ke-5
RODA KEHIDUPAN
Karya : De Yudi
Mala gadis kecil anak semata wayang dari seorang konglomerat. Karena selalu dimanja, Mala pun mendapat semua keinginannya sampai suatu ketika setelah dewasa, ada satu hal yang tidak dapat diperolehnya. Jodoh.
Tak satu pun laki-laki mau menikah dengannya walau pun dia anak orang kaya. Alasannya cukup sederhana, Mala selalu bersikap sesuka hatinya dan tidak pernah menghargai orang lain. Semua laki-laki yang pernah menjadi pacarnya pun dianggap sebagai babu.
Usia semakin menua, tapi sikap kekanak-kanakannya tak kujung berubah. Ayah dan ibunya pun sudah menyerah dengan sikap dan kelakuan Mala. Usaha ayahnya bangkrut, mereka harus pindah ke rumah kontrakan yang terbilang jauh dari kata mewah. Di sanalah titik balik kehidupan yang mau tidak mau harus diterimanya. Mala mulai belajar hidup sederhana dan menjadi mandiri. Kekayaan hanya sebuah titipan dari Tuhan, kita hanya harus bijak menggunakannya.
03/07/2019
Baca juga kumpulan cerpen ane ya, Agan and Sista 😊
Klik DI SINI
Diubah oleh DeYudi69 22-07-2019 13:31






anasabila dan 32 lainnya memberi reputasi
33
6.2K
115


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan