CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Amukan Di PERSAMI Sekolah (Based On True Story)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cf26d706df2317ea470fc9a/amukan-di-persami-sekolah-based-on-true-story

Amukan Di PERSAMI Sekolah

Amukan Di PERSAMI Sekolah (Based On True Story)


P R O L O G U E



Quote:





CATATAN :

Jadi sebelum saya memulai thread perdana ini, saya ingin menerangkan beberapa point dulu. Thread ini terinspirasi dari pengalaman teman-teman saya disekolah. Sekolah kami memang sudah berdiri berpuluh tahun lamanya, sehingga rasanya sudah wajar jika ada kepercayaan tertentu terkait hal mistis.

Saya sendiri sejak kecil tinggal diwilayah yang berdekatan dengan sekolah tersebut. Dan selama ini memang sering terjadi kesurupan massal yang melibatkan para pelajar dari sana.

Demi kenyamanan bersama, saya tidak akan menyebutkan lokasi sekolah ini. Nama-nama orang yang terkait dalam thread ini hanyalah samaran untuk menjaga privacy mereka. Karena dikumpulkan dari berbagai pihak maupun dari pengalaman saya sendiri, maka thread ini lebih baik ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Thread ini tidak sepenuhnya nyata, sebagian saya tulis berdasar imajinasi dikepala.

Terima kasih sudah singgah sejenak di thread yang masih berantakan ini. Saya hanya ingin menuliskan cerita berlatar dari tempat saya bersekolah saat ini. Saya sangat membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca untuk thread ini.

Selamat membaca bagi agan-sista sekalian emoticon-Jempol



I N D E X :

PROLOGUE

P A R T 1

profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Eldnict
Halaman 1 dari 2

Amukan Di PERSAMI Sekolah (Part 1)

Aku mengusap peluh yang mengucur didahi menuju pipi. Terik matahari terasa begitu menusuk disore ini. Ah! Padahal aku seharusnya sedang merebahkan diri diatas kasur sambil mengecek akun media sosialku. Sayangnya aku harus memenuhi tugas sebagai panitia dari kegiatan Persami ini. Ya, Perkemahan Sabtu Minggu. Acara rutin tahunan yang diurusi oleh para anak Pramuka.

Sebelumnya perkenalkan, kalian dapat memanggilku Aira. Aku adalah ketua organisasi dari ekstrakulikuler Palang Merah Remaja tingkat Wira di SMA ini. Dan aku beserta beberapa temanku diminta untuk menjadi panitia yang menghandle bagian kesehatan dalam penyelenggaraan acara Persami. Teman satu ekskul ku yang juga menjadi panitia ada Aldi, Rei, Vini dan Dian. Pembina ekskul PMR memang hanya menurunkan kami berlima sebagai petugas kesehatan karena dirasa sudah lebih dari cukup.

Setelah mengikuti upacara pembukaan dari kegiatan Persami tahun ini, aku segera kembali keruang UKS yang letaknya terpisah dari gedung sekolah. UKS disekolah ini terletak berdampingan dengan laboratorium Kimia, ruang OSIS dan berdekatan dengan bangunan aula. Disekitar sini terbilang rimbun karena ada banyak pohon dan tanaman disekitarnya.

Aku mendudukan diri disalah satu kursi yang disediakan didalam UKS. Didalam ruang 5x7 meter ini terdapat 5 buah tempat tidur dengan sekat tirai yang dapat dibuka tutup. Total ada 6 jendela diruang ini dan 2 lemari yang menyimpan obat-obatan serta perlengkapan kesehatan lain. Didekat pintu, ada sebuah meja yang biasanya ditempati oleh perawat yang bertugas disini dan disinilah aku sedang duduk sembari menyiapkan tabel untuk daftar pasien.

Entah mengapa saat diluar sedang terik-teriknya, aku malah merasa dingin didalam ruang UKS ini. Padahal temanku tadi hanya menyalakan satu kipas angin, itupun tidak mengenai tempat dimana aku berada. Mungkin kondisi tubuhku saja yang sedang menurun atau... apa?

"Ra, gue sama Aldi mau pergi beli air galon." Suara berat Rei memecahkan pikiranku.

"Eh, oke. Lu berdua belinya pake duit sapa?"

Rei menurunkan zipper rompi PMR yang dikenakannya. "Gampanglah. Gue ambil sama ibu bendahara dulu..."

Aku tertawa seusai mendengar julukan yang diberikan Rei pada sosok bendahara organisasi. "Hati hati ya Rei, Al. Jangan ngebut!"

"Duh iya makkk... iyaaa..." sela Aldi dengan guyonan dan kedua cowok itu segera keluar dari ruang UKS.

Aku sejujurnya sudah tahu niatan kedua bocah sok keren itu. Mereka hanya ingin menghilang sejenak untuk mengusir kebosanan. Andai aku bukanlah ketua organisasi, maka aku sejak awal pasti akan menolak tawaran sebagai bagian dari panitia acara Persami ini.

Ah sial, pena ku jatuh kedekat kaki meja. Aku beringsut mengambilnya namun terhenti sejenak. Apa-apaan ini? Rasanya tadi aku telah meminta Dian dan Vini untuk membersihkan UKS bahkan mengepel lantai dengan cairan antiseptik. Lalu kenapa ada gumpalan rambut keriting disini?

Aku segera mengambil penaku lalu berdiri untuk menanyakan hal ini pada Vini dan Dian yang sedang berada disekat lain ruangan ini.

"Vin, lu tadi udah gue suruh bersihin UKS kan?" Tanyaku sambil berdiri dibibir pintu.

Vini mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "Udah kok, Ra. Lu kan juga liat si Dian bawa ember sama pengepel tadi."

"Iya nih. Gue sama Vini udah kerjain waktu lu lagi upacara tadi."

Aku mengerutkan dahi. "Trus kok ada banyak rambut dibawah meja depan?"

"Ihhh bukan rambut gue yaaa Ra..."

"Bukan rambut gue juga. Lu tau gue sama Vini kan pake kerudung terus. Jadi enggak mungkin rontok disanalah."

Vini mengubah posisi baringnya menjadi duduk bersila diatas tempat tidur. "Rambut lu kali, Ra."

"Bukan. Rambut gue lurus Vi. Ini rambutnya keriting."

Dian menghela nafasnya. "Yaudah deh, lu bersihin aja. Mungkin itu rambutnya nyangkut dipengepel yang gue pinjem tadi."

Benar juga, aku yang terlalu berlebihan. Kemudian aku mengambil sapu dan segera membersihkan rambut-rambut itu. Namun apa yang membuat hal ini masih terus muncul dalam kepalaku?

Mengapa ada rambut sebanyak ini disini?


- o O o -



Langit mulai menggelap disaat jam telah menunjukan pukul 17.58. Acara inti Persami juga akan dilakukan jam 7 nanti seusai waktu makan. Sejak tadi sudah ada 12 orang peserta Persami yang datang ke UKS untuk meminta paracetamol maupun sekedar meminta balsem atau minyak kayu putih. Semuanya memiliki keluhan yang sama, yaitu pusing. Setelah cukup membaik, mereka segera diminta kembali keruang tempat regu mereka masing-masing oleh panitia.

"Yun!" Panggilku pada salah seorang panitia Persami yang kukenal.

Cewek berseragam lengkap pramuka itu menghampiriku yang sedang duduk diluar UKS. "Hey, Ra. Kenapa manggil gue?"

Yuna mendudukan diri disampingku. Setahuku Yuna adalah panitia inti yang banyak berperan dalam acara ini. Cewek itu sesaat meneguk air dari air mineral kemasan gelas ditangannya.

"Anak PMR kudu stay sampe jam berapa?"

"Sampe besok pastinya. Tapi kalo ntar malem mau balik bentar gapapa, asal lagi kosong."

"Oalah, sip deh. Anak buah gue tuh, takutnya mereka kelaperan ntar malem. Jadi enggak apa apa ya kalo mereka keluar bentar?"

Yuna tersenyum lalu mengangguk. Ada hal yang cukup menarik perhatianku sejak tadi. Yuna adalah cewek keturunan chinese, sehingga kulitnya berwarna terang namun merona. Biasanya wajah Yuna selalu sedikit memerah dibagian pipi, namun hari ini dia tampak pucat.

"Lu sehat, Yun?"

"Enggak terlalu sih. Gue capek banget padahal enggak banyak jalan."

"Hmmm... Lu kudu rajin minum aja dih saran gue."

Lalu hening sesaat. Aku maupun Yuna sama-sama menatap layar ponsel. Namun bedanya, kepalaku sedang mengumpulkan kesadaran agar aku lebih peka. Ya, aku mulai merasakan keanehan sejak petang tadi.

Aku mematikan ponsel dan mengusap layarnya untuk membersihkan jejak tangan. Namun sesaat kemudian tubuhku menegang dan jantungku benar-benar seperti hendak melompat keluar dari rongga dada. Dari pantulan layar ponselku yang gelap, aku dapat melihat samar sesuatu yang bergerak-gerak disekeliling tubuh Yuna.

APA ITU?

Aku terpaku namun terus mengamati dalam diam. Seperti ada bayangan tangan yang menjangkau-jangkau tubuh Yuna. Bukan hanya satu, namun lebih dari lima.

Aku menelan ludah dengan susah payah lalu mengalihkan pandanganku. Segera kulihat Yuna yang masih sibuk dengan ponselnya. Jantungku terus berdegup kencang.

"Yun, gue kayaknya mau nyari si Alexa dulu ya. Lu jangan lupa makan sama doa, biar tetep sehat. Hehehehe..." Oke kalimatku kacau. Yuna tertawa lalu mengangkat jempolnya.

Aku segera bangkit dari tempat duduk dan segera berjalan menjauh. Kepalaku masih terus dibayangi apa yang kulihat barusan. Sejujurnya aku memang sangat dekat pada hal-hal semacam ini. Mata batinku pernah terbuka lebih dari satu tahun secara tanpa sengaja dan aku sangat tertekan dimasa itu. Kemudian mata batin itu tertutup dengan sendirinya walaupun tak dapat aku pungkiri bahwa aku masih peka terhadap hal ini. Contoh sederhananya, aku akan muntah bila memakan makanan dari kedai yang memakai pelaris.

Sesaat aku ingin melirik jam dari layar ponselku. Namun sebelum layar kunyalakan, aku malah melihat pantulan mengerikan yang membuatku reflek menahan nafas.

Ada sosok mengerikan yang menggantung terbalik diatas kepalaku.

Dan aku yakin, kemunculan "mereka" adalah pertanda buruk.


BERSAMBUNG....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Eldnict
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
lanjutkan... ijin nenda
ada cerita baru nih ...

Amukan Di PERSAMI Sekolah (Part 2)

Keinginanku mencari keberadaan Alexa bukan tanpa sebab. Cewek kelahiran Manado itu sudah menjadi sahabatku sejak SMP. Alexa adalah anggota pramuka inti yang juga menjadi panitia dalam kegiatan Persami. Aku harap diwaktu istirahat ini dia sedang tidak sibuk.

"Kak! Kakak! Tolong kak!" Aku menoleh kedalam sebuah ruang kelas yang dipergunakan untuk ruang istirahat peserta Persami.

Aku melangkah masuk kedalam kelas yang sebagian lantainya tertutup karpet plastik itu. Seorang cewek berkerudung coklat berjalan mendekat kearahku. Teman-temannya tampak mengerumuni seseorang yang sedang terbaring cukup jauh dari tempatku berdiri.

"Kakak anak PMR kan? Tolong kak, teman kami mendadak pingsan..." Ada nada panik yang kutangkap dari omongan adik kelas dihadapanku.

"Mana dek? Biar kakak periksa dulu."

Cewek itu membawaku ketengah kerumunan tadi. Sesaat kemudian jantungku berdebum keras. Apa ini?

"Tolong kak. Sebelumnya dia baik-baik aja trus mendadak pingsan. Kepalanya bentur lantai keras banget." Jelas salah seorang adik kelas diseberang posisiku saat ini.

"Takutnya dia kenapa-napa kak. Kalo gegar otak kan bahaya."

Aku jengah pada adik-adik kelas yang berkerumun ini. "Oke, kalian tolong agak menjauh dulu ya. Biar dia bisa ngehirup udara bebas."

Merekapun sedikit membuka ruang. Aku menurunkan zipper rompi yang kukenakan. Rasanya panas sekali memakai seragam pramuka dan memakai rompi PMR tebal seperti ini. Aku duduk berlutut disisi cewek berambut panjang yang pingsan ini. Bibirnya pucat sekali.

Aku menepuk wajahnya sesaat namun tak mendapat respon. Sejauh ini aku rasa dia hanya pingsan karena kelelahan. Sebab dia tidak terlihat sedang demam atau sakit anemia. Aku memegang telapak tangannya dan dilanjutkan dengan pemeriksaan Gerak Sensasi Sirkulasi. Aku mengecek denyut nadinya. Tidak ada.

Tunggu... Dimana denyut nadinya?

"Tolong salah satu dari kalian, panggil anak PMR di UKS. Suruh mereka bawa tandu kesini."

"Baik kak."

Aku kembali meyakinkan diri. Kemudian mengeluarkan senter kecil dari saku rompiku. Lantas membuka salah satu kelopak mata cewek yang pingsan tadi. Tidak, ini aneh. Aku melakukan hal yang sama pada mata satunya. Apa aku yang salah lihat atau bagaimana? Pupil matanya tidak menanggapi cahaya!

"Ra! Kenapa Ra? Dia pingsan?" Suara Rei datang dari belakang. Aku menoleh untuk memastikan. Memang benar ada Rei dan Aldi yang sudah membawa tandu.

"Iya. Siapin tandu. Dan adek-adek, tolong bantuin kakak buat angkat temen kalian ini."

Tubuhnya lebih berat diluar dugaanku. Padahal tubuh cewek ini kurus banget. Sebelum aku, Rei dan Aldi meninggalkan kelas, aku sempat menanyakan data diri cewek yang pingsan tadi.

Rahma Helianna. Regu Anggrek 3. Ruang 4.

Rei dan Aldi membawa tandu beserta Rahma menuju UKS. Aku sendiri berjalan dibelakang mereka, masih memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Bukannya aku tidak cepat tanggap, tapi aku merasa seperti ada sesuatu didalam diriku yang menahan untuk memahami keanehan ini.

Tanpa denyut nadi dan pupil mata yang tidak peka terhadap cahaya. Ini terasa aneh...

"Woi jancok! Bawa yang bener Al!"

"Lu yang bener dong! Daritadi gue keberatan anjer!"

"Enak aja. Gue udah bener ini bawanya, ato emang nih anak yang berat kali."

"Mana mungkin. Kurus gitu."

Langkahku berhenti. Aku menatap lurus kedepan, kearah punggung Rei dan Aldi yang membawa Rahma dengan tandu. Aku yakin, ada sesuatu hal yang salah. Tapi apa?!

Sosok kedua cowok itu hilang dibelokan koridor. Letak tiap lampu koridor cukup jauh sehingga saat ini hanya keremangan yang ada disekitarku. Bunyi hewan malam juga samar terdengar. Lampu koridor yang persis diatas kepalaku sesekali berkedip.
Kenapa otak ku tidak dapat menemui pangkal dari permasalahan ini? Ada kabut tebal yang seorang menutupi mataku dari jawaban itu. Ayolah! Ayo berpikir!

Hingga sebuah tepukan dipundak mengagetkanku. Sosok Dava yang menyampirkan sarung dipundak dan masih memakai kopiah dikepalanya. Ia baru menyelesaikan sholat maghrib di masjid terdekat.

"Kenapa lu? Bengong aja, Ra. Lu kelaperan ato mau pulang?"

Tepukan dipundak ku itu seolah menghantarkan sesuatu kedalam pikiranku dengan cepat. Lalu dengan mata melotot sembari menoleh kepada Dava, aku mengatakan jawaban yang kucari sejak melihat Rahma terbujur diruang gugusnya.

"Rahma kerasukan!"


BERSAMBUNG....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 2 lainnya memberi reputasi
nyimak dolo gan
bookmark dulu gayn, biar gk keilangaaan
nyimak sembari nungguin update
nyimak dulu gan...
Save dulu gan. Nunggu update emoticon-Sundul Up
subscribe dulu ya kak, sepertinya cerita seru.
demen nih cerita di sekolah gini
tandain dulu gan emoticon-Cool
keren ceritanya pake ada bersambung nya, jadi tambah dramatisir gan nge emoticon-Angkat Beer dulu gan
Seruuuu... Jadi penasaran
masih panjang ni... lanjut...
lanjut gan, kyk seru nih
Lanjut gan

Amukan Di PERSAMI Sekolah (Part 3)

Aku dan Dava berlari secepat yang kami bisa untuk mencapai UKS. Dengan cepat aku membuka pintu UKS dan mencari keberaraan Rahma. Namun aku malah terkejut ketika melihat cewek berkulit terang itu sudah duduk ditepi tempat tidur UKS sambil memegang sebuah gelas.

"Ngapa lu, Aira? Kayak abis dikejar setan aja." Seluruh mata didalam UKS menatap kearahku dan Dava.

"Eh... Enggak." Ujarku singkat kemudian memijat pelipisku pelan.

"Dav nongkrong dulu sini. Jam 7 masih lama." Ajakan Aldi pada Dava juga ditolak dengan sopan.

Aku berjalan keluar dan mendudukan diri disisi koridor yang tak begitu jauh dari pintu UKS. Dava mengekoriku dan kini berdiri sambil bersandar dipagar jaring kawat yang membatasi koridor dengan wilayah apotik hidup.

"Jadi Aira, lu bisa jelasin sesuatu ke gue? Gue emang bukan tipe yang kepoan tapi gue cukup penasaran sama kata-kata lu tadi."

Argh! Apa-apaan dengan isi otakku tadi. Aku pasti sedang kelelahan sampai mulai mengigau seperti ini. Sekali lagi aku menghela nafas panjang lalu menatap Dava gusar.

"Abaikan aja, Dav. Gue emang lagi gak beres kayaknya. Otak gue kacau."

"Lu enggak keliatan kayak Aira yang gue kenal. Lu kenapa?"

"Gak apa-apa. Maaf gue udah bikin lu panik. Lebih baik lu kembali keruang panitia, Dav." Ujarku yang kemudian membenamkan kepala dilipatan kakiku.

Dava turut mendudukan diri diatas lantai koridor. Cowok itu melepas kopiahnya lalu sekilas mengacak rambut basahnya. Manik hitamnya tertuju kepadaku. "Cerita aja, Ra. Gue khawatir lu kenapa-napa."

Lagi, aku menghela nafas. "Otak gue lagi enggak bener. Masa iya tadi pas gue meriksa adek kelas yang pingsan tadi, gue gak nemu nadinya. Trus pupilnya juga enggak ngerespon sinar senter gue."

"Gue yakin gue mulai ngelindur, Dav. Dan begonya gue anggep Rahma kerasukan padahal tadi kita liat sendiri dia baik-baik aja."

"Ah, udahlah Dava. Gue males. Mungkin nanti gue mau pulang aja."

Dava tertawa. Cowok itu tersenyum saat aku melirik kearahnya. "Lu masih gampang keganggu sama hal-hal kecil. Udah, santai aja boss. Bahu lu kaku, dikasi rileks dikit ngapa sih."

Aku tersenyum tipis. "Iya om, iyaaa... Sana balik keruang panitia."

Dava pun segera pamit dan kembali keruang panitia. Ekor mataku mengikuti punggung cowok itu sebelum akhirnya menghilang dibelokan koridor. Aku berkedip. Aku mungkin memang hanya butuh bersantai.

"Kak, saya pamit kembali kekelas ya." Aku menoleh, sosok adik kelas bernama Rahma berdiri dibibir pintu UKS.

Aku tersenyum samar. "Iya. Jaga kesehatan ya."

Cewek itupun kembali memakai sepatu dan segera berjalan menuju kelas bagian regunya. Lucu sekali melihat rambut panjang sepinggangnya bergoyang setiap kali ia melangkah. Ah, mungkin memang benar aku terlalu lelah sampai kepalaku mulai bermasalah. Bagaimana mungkin aku melihat rambut Rahma bertambah panjang disetiap langkahnya? Anehnya.


BERSAMBUNG....
profile-picture
radityodhee memberi reputasi
jejak dl smbl ane rate 5
lanjoet gan
nenda dolo
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di