CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb932354601cf590024a84c/misteri-rumah-peninggalan-bapak

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Tampilkan isi Thread
Halaman 7 dari 26
LAH...habis critanya emoticon-Nohope
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
pendek banget gan, updatean nya?
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
Wahh sampai ngompol emoticon-Big Grin
Sama2 ciptaan Tuhan jangan takut gan cuma beda asal penciptaanya saja. Kita dari tanah mereka dari api.
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
Hari Keenam

Hampir semalaman tidurku terganggu, seperti ada yang mengawasiku dari atas pohon. Entah benar atau tidak, namun aku tahu dari suhu kamar yang tiba-tiba membuat bulu kuduk meninggi.

“Kling-Kling”.

“Iya Ran”.

“Gimana sudah tahu jawabannya ?”.

“Belum terlalu yakin, tapi kemarin malam aku seperti diawasi oleh sosok diatas pohon”.

“Kamu beneran itu ?”.

“Iya bener”.

“Ih kok malah tambah serem gitu sih, kamu mending pindah aja deh”.

“Nanggung Ran, aku yakin bisa menyelesaikan teka-teki pembunuhan keluargaku”.

“Yaudah kalau itu tekadmu, aku selalu berdoa semoga kamu selalu baik-baik saja”.

“Terima kasih Ran”.

Aku tidak tahu kenapa, tapi yang pasti ada tekad lebih dari diriku untuk menyelesaikan teka-teki ini. Aku tahu bapak, ibu dan Mbak Lestari tidak akan menyakitiku meskipun dunia kami sekarang berbeda.

Aku paham mereka hanya ingin aku bisa mengungkap siapa dalang pembunuhan keluargaku, namun semua tidak bisa mereka jelaskan secara terus terang, seperti ada sesuatu yang sedang bapak, ibu dan Mbak Lestari rahasiakan.

Dan ada yang aneh juga dengan sifat dan perilaku dari Pak Joni, meskipun aku sudah lama tidak berjumpa dengannya tapi aku yakin ini bukanlah sifat seorang Pak Joni yang aku kenal. Aku paham itu karena Rani yang merupakan anak pertamanya adalah teman masa kecilku.

Semua pertanyaan itu lebih baik aku simpan terlebih dahulu dan mulai fokus untuk bekerja, karena aku juga ingin mengejar impianku untuk menghalalkan Kirana yang sudah dua tahun menjadi kekasihku.

Setelah bekerja seharian, aku tidak memutuskan untuk cepat-cepat pulang dan memilih untuk menghabiskan waktu sejenak menikmati malam Kota Solo, apalagi besok hari libur nasional jadi bisa bangun agak siangan.

Aku seperti tidak sengaja menyusuri lokasi-lokasi yang dulu sering sekali menjadi tempat berkumpulnya aku bersama bapak, ibu dan Mbak Lestari. Semua ini, tempat ini benar-benar seperti sebuah kenangan yang bakal terus membuatku meneteskan air mata.

“Bapak, ibu dan Mbak Lestari...kenapa kalian pergi tanpaku, coba saja aku tahu bakal kejadian seperti ini, mungkin aku lebih baik mati bersama kali ketimbang harus hidup sendiri seperti ini” rintihku dalam hati mengingat mereka bertiga yang sekarang sudah berbeda alam dan mungkin sedang memperhatikanku.

Aku ingat benar warung susu segar pinggir jalan Pak Abdi ini, warung yang menjadi favorit keluargaku karena selain tempatnya yang agak luas, warung Pak Abdi memiliki susu yang begitu segar dan menggoda selera.

Bapak selalu bilang, kalau warung ini bakal menjadi warung susu segar yang besar. Dan benar saja, sekarang untuk mendapatkan tempat duduk saja harus menunggu konsumen lainnya selesai terlebih dahulu.

“Aaaa..., roti bakar coklat keju aja Pak”. Ya sebuah jajanan sederhana yang paling aku dan ibu sukai, bahkan kami berdua sering tambah satu porsi lagi karena tidak cukup hanya memesan satu, dan seringkali bapak selalu bilang kalimat pamungkasnya.

“Bapak pusing to le..le” sambil diiringi dengan senyuman di wajahnya, semua kenangan itu seperti hidup kembali.

Pukul 21.00, aku memutuskan untuk pulang karena memang badan juga sudah mulai benar-benar ingin ditidurkan ke tempat tidur empuk yang menjadi pembelian terakhir kedua orang tuaku sebelum pergi untuk selamanya.

Setiap kali aku melewati rumah Pak Joni, ada rasa yang mengganjal dalam hatiku. Entah itu apa, namun yang paling membuatku aneh adalah katanya Pak Joni hanya hidup seorang diri karena ditinggal mati oleh anggota keluarganya yang lain, kok ada sosok perempuan berambut panjang yang selalu berdiri diatas ball room lantai dua Rumah Pak Joni.

Hari Ketujuh – Part 1

Hari libur ini memang benar-benar ingin aku habiskan dirumah, entah kenapa rasanya super mager untuk sekedar keluar rumah saja. Padahal isi dapur juga sudah mulai habis, jadi mau tidak mau pagi ini sarapan dengan mie instan.

Sedang mencoba menikmati hari libur, keanehan rumah ini kembali terjadi dan sekarang sebuah dentingan piano yang mengingatkanku dengan sebuah nada paling sering dimainkan oleh Mbak Lestari.

Sebuah nada piano yang aku ketahui dari Ludwig Van Bethooven, lagu yang sebenarnya enak untuk didengarkan saat kumpul bersama keluarga, namun kali ini kesan itu berbeda. Aku malah merasa menyeramkan.

Aku mencoba memberanikan diri untuk mendekat ke Piano yang tidak jauh dari tempat aku duduk, piano hitam berukuran besar yang menjadi hadiah ulang tahun dari bapak untuk Mbak Lestari.

Suara dari piano itu tiba-tiba mulai memelan seiring langkahku untuk mendekatinya, dari nada berubah menjadi suara tangisan memelan seorang perempuan. Aku percaya dia adalah Mbak Lestari, meskipun aku tidak dapat melihatnya namun tangisan itu dan nada-nada piano yang dimainkan sangat erat dengan Mbak Lestari.

“Mbak, apa itu kamu” keberanianku sedikit diuji disini, kaki sudah mulai tidak terasa namun mau tidak mau aku harus mendapatkan informasi tambahan.

“Dong—Dong__Dong” tiba-tiba nada dari Piano langsung membuatku terjatuh karena kaget, dan seperti sebuah pesan atau peringatan ? entah aku tidak tahu pasti, namun setelah aku terbangun.

Aku melihat buku kumpulan nada diatas piano membuka, dan terlihat disana bukan sebuah halaman yang berisi nada-nada piano melainkan hanya sebuah tulisan berupa pesan diary yang mungkin selama ini tidak aku sadari.

“Kalau aku bisa melihat dunia ini dalam waktu yang lebih lama, mungkin aku tidak akan membuat mereka bersedih, namun Tuhan berkata lain. Apa yang aku impikan ternyata tidak baik, sehingga Tuhan membiarkanku terbaring, dan mulai menunggu waktu itu datang, dan hanya satu saja orang yang bikin aku merintih, itu dia. Seorang yang bikin aku tidak sepi lagi”.

Apa jangan-jangan Mbak Lestari mengalami sakit ? tapi kenapa ibu dan bapak tidak pernah memberitahuku sebelumnya ?.

Hari ini ada yang janggal, kenapa Kirana tidak biasanya menelponku ya ? coba deh aku ceritakan apa yang aku alami ini ke dia, siapa tahu Kirana bisa membantu.

“Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif” ha ? apa-apaan nih, kenapa disaat seperti ini malah Kirana tidak bisa dihubungi, padahal dia dulu yang janji bakal terus ada saat aku butuh temen curhat saat di Solo.

Ingin berkunjung dan menceritakan apa yang aku dapatkan ke Pak Joni, tapi kemarin aku melihat ada sosok yang misterius. Dan itu adalah teman kecilku, tidak mungkin aku bakal kesana juga. Bisa-bisa malah tambah repot, dan aku sendiri juga menaruh curiga dengan Pak Joni.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
OkkyVanessaM dan 18 lainnya memberi reputasi
Up up, jangan terlalu singkat gan, di gali lagi tiap2 kejadian yg ada , juga deskripsi2 nya supaya gambaran pembaca makin kumplit
aduh makin serem aja nih kejadian. kalo aku udah pasti bakal keluar rumah dengan senang hati. serem banget emoticon-Takut
Tuh misteri makin banyak aja yang harus di pecahkan. emoticon-Hammer2
bikin pos dulu dah di sini. sambil tnggu update..bagus ceritanya.
Quote:


Ane lbh suka update malam gan... biar dapat feel nya gan..
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
Lanjutkan bosquh 💪
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
makin penazaran gan
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
Hari Ketujuh – Part 2

“Kling-Kling”.

“Hallo Ran”.

“Kamu kemana aja sih Han, aku hubungin kok nomernya tidak aktif terus, kamu disana jangan macam-macam ya”.

“Macam-macam apanya coba ? kamu aja aku hubungin nomernya malah tidak aktif”.

“Hubungin aku ? orang tidak ada laporan telpon yang masuk ke nomerku”.

Sampai disini tiba-tiba bulu kudukku mulai berdiri, entah kenapa ini bukan hanya masalah jaringan biasa, mungkinkah ini gangguan dari arwah tidak tenang dari keluargaku ?.

“Yaudah Ran, mungkin masalah jaringan. Tapi yang pasti, aku tidak pernah macam-macam disini”. Jawabku sembari melihat sekeliling rumah, jangan sampai aku di jump scare seperti dua hari yang lalu.

Kalau memang gangguan jaringan, tidak mungkin aku bisa berselancar di internet dengan cepat dan seperti tidak mengalami gangguan apapun, tapi...

“Gubraaaaakkkk” tiba-tiba suara keras seperti barang jatuh terdengar dari arah dapur, astaga cobaan apalagi ini, jujur saja rasanya sudah lemas badan ini dibuat takut seharian dirumah yang dulu tidak menakutkan sama sekali.

Satu langkah demi satu langkah aku mulai mendekat kearah dapur, suara goresan kaca tiba-tiba mulai terdengar ditelinga, meskipun lemas namun aku tetap penasaran apa yang terjadi di dapur.

Dan...sebuah penampakan seorang laki-laki seperti sedang menuliskan sebuah pesan dikaca terlihat dari posisiku yang mulai mendekat, kaki sudah berasa mati rasa dan keringat sudah mengucur diseluruh badan.

Belum kelar rasa takutku yang sudah mulai menginjak titik nadir kesadaranku, tiba-tiba “wuss” penampakan itu mendekat dan menjatuhkanku hingga tidak sadarkan diri.

Entah berapa lama aku pingsan, namun setelah membuka mata jam dinding sudah menunjukan pukul 12 malam, kepalaku rasanya sangat pusing mungkin karena terbentur lantai tadi.

Meskipun dengan susah payah, aku tetap mencoba memeriksa kaca jendela yang tadi digores oleh makhluk yang menyerangku. Dan terdapat tulisan “Maaf”, sebuah pesan yang mungkin ditujukan kepadaku setelah tadi dia menyerang ?.

“Aduuuuhhh...kepalaku” jeritku yang sudah tidak kuat dengan kondisi kepala yang memang harus segera disandarkan dan diistirahatkan.

Malam ini rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan investigasi, kepala sudah begitu berputar, tetapi saat mataku mulai tidak jelas aku melihat sosok seorang perempuan berkebaya sedang mendekat kepadaku, dan...aku pun tidak sadarkan diri setelahnyaa..


Hari Kedelapan

Entah berapa lama aku tertidur dilantai, adzan subuh membangunkanku dalam sebuah tanda tanya besar tentang apa yang terjadi kemarin malam. Seperti hanya ada ingattan tentang sosok bayangan sebelum aku tidak sadarkan diri.

Waktu seakan cepat berlalu dikantor, sepertinya hari ini bakal aku habiskan semalam lagi diluar rumah. Rumah tersebut benar-benar seakan ingin mengusirku secara perlahan.

“Mas, malam ini ada acara ?” tanya seorang teman kantor yang memang dekat denganku.

“Sepertinya tidak ada mbak, ada apa ?”.

“Ini lho, aku dapat undangan buat nonton kembang api di daerah Stadion Manahan. Tapi ada dua undangan, jadi kalau mau Mas Burhan temani saya kesana”.

“Boleh sih mbak, tapi saya enggak ada kendaraan”. Jelasku secara jujur, sebenarnya aku tidak mau menerima tawaran dari Mbak Ambar, karena aku tahu pasti Kirana bakal cemburu berat nantinya, tapi demi tidak segera pulang dirumah mau tidak mau tawaran itu aku terima.

“Santai saja mas, aku punya motor kok nanti kita boncengan saja kesananya”.

Aduuh...bisa gawat kalau Kirana tiba-tiba menelpon saat aku bersama Mbak Ambar, bisa kena omelannya berjam-jam.

Tiba di Stadion Manahan, para tamu undangan sudah mulai memadati stadion yang menjadi salah satu jantung Kota Solo ini, tidak tahu juga kenapa Mbak Ambar bisa mendapatkan undangan yang sepertinya terbatas ini.

“Kling-Kling” sedang asyik-asyiknya menikmati pesta kembang api yang begitu besar, dering telpon menggetarkan kantong saku bajuku.

“Hallo, Han kok rame banget sih” suara dari lawan telpon menganggetkanku. Cilaka ini suara Kirana, kenapa tadi tidak aku cek dulu siapa yang ada disambungan telpon sih.

“Eh...iya Ran, ini aku ada di pesta kembang api mumpung...” belum sempat melanjutkan pembicaraan, Mbak Ambar tiba-tiba memanggilku sembari menepuk-nepun lengan kiriku.

“Loh kok ada suara perempuan manggil kamu sih Han, kamu...” daripada menjadi masalah lebih baik aku matikan dulu sambungan telpon, dan mematikan handphone .

Maaf ya Ran, bukan maksud untuk membuatmu cemburu tapi aku Cuma enggak mau kamu berpikiran buruk, padahal aku disini tidak sedang mencoba menghianati cinta kita, aku tetap mencintaimu sampai kapanpun.

Puas dengan pesta kembang api yang ternyata sudah dua jam digelar, aku dan Mbak Ambar memutuskan untuk pulang. Mengingat jalan rumah kami searah jadi bisa nebeng bareng, meskipun tidak tega juga membiarkan seorang perempuan pulang sendirian malam-malam.

Disepanjang perjalanan yang lumayan macet karena faktor pesta kembang api tadi, Mbak Ambar ternyata orang yang begitu humble, tidak seperti dirinya sewaktu di kantor yang terkenal pendiam dan juga serius dalam pekerjaan apapun.

Karena selalu mengobrol tidak terasa sudah sampai saja dirumah peninggalan bapak yang lupa aku menyalakan lampunya sehingga begitu terlihat gelap dan tidak lupa begitu menyeramkan.

“Wah akhirnya sampai jumpa mbak, terima kasih banyak lho udah mau repot-repot” ujarku sembari melepaskan helm dan menyerah terimakan motor kembali ketangan Mbak Ambar.

“Iya tidak papa kok mas, eh mas katanya kamu tinggal sendirian ?”. tanya Mbak Ambar yang langsung menatap tajam kearah rumah seakan melihat seseorang dirumah.

“Iya kok mbak, aku tinggal sendirian. Memang ada apa ?”.

“Terus perempuan yang tertidur di kursi depan rumah kamu itu siapa ? aku sampai tidak enak hati lho, kamu ditunggu sampai ketiduran gitu”.

“Perempuan ? yang mana mbak ? aku tidak melihat apa-apa kok ?”.

“Itu lho pakai baju putih-putih seperti piyama”. Ujar Mbak Ambar sembari menunjuk kearah pintu rumah.

“Enggak ada kok mbak”.

“Mas Burhan jangan bercanda deh, lalu dia itu siapa ?”. tanya Mbak Ambar dengan wajah yang sudah mulai berubah dan mulai keluar keringat diwajahnya.

“Enggak ada kok mbak, mungkin salah lihat”.

“Yaudah sebaiknya aku pamit pulang aja mas”. Secara cepat Mbak Ambar memutar balik motornya dan menghilang dibawah lampu-lampu jalanan.

Sosok perempuan ? berbaju seperti piyama ? siapa maksud Mbak Ambar ? jelas-jelas dirumah ini tidak ada orang lain selain diriku, apalagi aku juga tidak melihat ada sosok perempuan seperti yang Mbak Ambar gambarkan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
OkkyVanessaM dan 17 lainnya memberi reputasi
aseeeemmmm...berasa seremnya...lanjuttt
Keren.....sambungan cerita jangan terlalu lama gan.....gak sabar ngikutin terusannya
profile-picture
dhannns memberi reputasi
Wahh tambah serem aja rumahnya..
Itu pingsannya berapa lama, gak inget sama sekali kah?
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
setan kan gak bisa nulis ya. atau jangan2 nih ada hubungannya sama tetangga depan rumah. sosok itu kan laki2 juga. emoticon-Leh Uga
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
Kayaknya si Ambar pnya six sense ya dan kemungkinan bakal ngebantuin kasusnya Burhan emoticon-Betty
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
ditunggu lanjutannya gan..
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
seru gan ceritanya
kyax bakalan ada perang nih😁
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan darmawati040 memberi reputasi
ditunggu updatenya
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan darmawati040 memberi reputasi
pendek ga pa2 yg penting update.dri pada panjang kaya tol cipali tp ga update2
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
Halaman 7 dari 26


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di