alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Indonesia Harus Berani Mencontoh Amerika Jika Ingin Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cdecae3c9518b6f765f8bfc/indonesia-harus-berani-mencontoh-amerika-jika-ingin-menjadi-tuan-rumah-piala-dunia

Indonesia Harus Berani Mencontoh Amerika Jika Ingin Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia

Indonesia Harus Berani Mencontoh Amerika Jika Ingin Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia

JAKARTA - Sepak bola boleh menjadi olahraga terpopuler di dunia. Namun, itu tidak berlaku di Amerika Serikat (AS). Di Negeri Paman Sam, popularitas sepak bola masih kalah di bawah American Football, baseball, bola basket, dan hoki es.

Terdapat beragam faktor yang menghambat perkembangan sepak bola di AS. Tapi, bias gender bisa menjadi salah satu jawabannya.

Seperti halnya olahraga kebanyakan, kaum pria menjadi penikmat dan pelaku terbesar sepak bola di dunia. Namun, kondisi di AS sungguh unik. Di sana sepak bola justru lebih populer di para wanita.

Kantung terbesar pelaku dan penggemar sepak bola di AS ada di institusi pendidikan. Olahraga ini mulanya mulai tumbuh di sekolah dan universitas pada 1980-an. Awalnya pemainnya didominasi kaum pria. Namun, sejak 1990-an, animo kaum wanita meningkat pesat.

Menurut catatan American Soccer Historic Archives, sejak 1997 jumlah tim sepak bola wanita di perguruan tinggi ataupun sekolah di AS sudah melebihi jumlah tim pria.

Para orang tua berjasa dalam memopulerkan sepak bola di kalangan wanita AS. Mereka lebih memilih putrinya memainkan sepak bola karena dinilai sebagai olahraga yang aman. Jika dibandingkan dengan American Football, pandangan tersebut jelas tepat. American Football memang jauh lebih keras dibanding sepak bola.

Bukan hanya itu, sepak bola juga dinilai terbilang "aman" bagi perkembangan mental anak. Olahraga ini mengedepankan kolektivitas, sehingga kebintangan seseorang tidak begitu menonjol. Sifat sepak bola berbeda jauh dibanding dengan olahraga populer lain di AS yang rata-rata mengedepankan kemampuan individu seperti baseball dan bola basket.

Kondisi ini membuat sepak bola belum bisa menjadi olahraga nomor satu di AS. Kaum pria di AS yang notabene konsumen olahraga terbesar menilai sepak bola kurang "macho" karena lebih banyak dimainkan oleh para wanita.

Akan tetapi, situasi itu menjadi berkah bagi perkembangan sepak bola wanita AS. Timnas sepak bola wanita AS merupakan salah satu kekuatan besar di dunia. Mereka menjuarai Piala Dunia Wanita sebanyak dua kali pada 1991 dan 1999. Posisi itu membuat mereka sejajar dengan Jerman sebagai tim yang menjuarai Piala Dunia Wanita terbanyak.

Timnas sepak bola wanita AS menuai berkah dari bias gender. Mereka memiliki stok pemain berlimpah karena para wanita di AS rajin memainkan sepak bola.




Piala Dunia 1994

Jika dihitung sejak 1994, atau saat Piala Dunia diselenggarakan di Amerika Serikat, animo tinggi warganya terhadap sepak bola bisa dibilang sangat terlambat. Pagelaran akbar Piala Dunia ternyata belum cukup untuk menyaingi olahraga populer Amerika terutama bisbol, American Football, bola basket, dan hoki.

Sepak bola, yang disebarkan orang-orang Inggris ke berbagai sudut bumi, sering menghadapi cibiran. Apa lagi jika kita menimbang riwayat pembangkangan orang-orang pertama di bumi Amerika yang notabenenya para pemberontak Protestan. Hal-hal yang berbau Kontinental (baca: Eropa) sering dinilai dengan alis terangkat dan sinisme yang tinggi.

Di Jerman pun awalnya sedemikian. Sepak bola tidak serta merta populer. Dalam tulisan di tahun 1889, seorang guru bernama Karl Planck menyebutnya sebagai “Penyakit Inggris” dan olahraga yang ‘not just nasty but absurd, ugly and perverted.’

Selidik punya selidik, kebencian ini didasari oleh sentimen identitas. Sesuatu yang menjijikkan dan dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi. Inilah yang mendasari American pride, eksepsionalisme khas Amerika. Terserah jika seluruh penduduk dunia menyaksikan Piala Dunia, olahraga terbaik tetap American Football. Titik.

Kebencian ini, tentu Anda sudah bisa menebak, dikemukakan orang-orang konservatif, si leher merah dari Partai Republik.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa sampai serepot ini memperkarakan olahraga? Sedikit atau banyak jumlah penontonnya, asal diurus dengan rapi suatu olahraga bisa terus eksis. Seperti kriket atau polo. Tetapi wacana (discourse) tidak berjalan dengan logika seperti itu. Sepak bola adalah olahraga populer yang telah menjadi simbol kultural. Semakin populer sesuatu, ia akan menarik banyak pihak untuk memperebutkannya, dan dalam hal ini: menegasikannya.

Inilah mengapa di kesempatan sebelumnya saya menulis bahwa arena olahraga adalah ruang publik. Ruang bukan lagi diartikan secara sempit, berdasarkan makna harfiahnya semata. Perbincangan kita di media sosial juga disebut ruang publik, atau ‘public space’.

Dengan sudut pandang ini, berbagai isu populer bisa memasuki kesadaran warga sehingga di titik itu, ide, agenda, bahkan propaganda disebarluaskan. Kebencian terhadap sepak bola semakin mencuat di penghujung kepemimpinan Barack Obama yang bertepatan dengan Piala Dunia 2014 di Brasil.

Sebabnya jelas: sepak bola mewakili simbol-simbol yang dibenci Partai Republik. Meski tidak mengutarakannya secara gamblang, narasi yang mereka umbar diwarnai bias kulit putih (white America). Kita ambil contoh dari tulisan pandit politik Ann Coulter yang berjudul American’s Favorite National Pastime: Hating Soccer yang ia muat di situsweb pribadinya.

Tanpa banyak basa-basi, di tulisannya tersebut ia langsung menuliskan sembilan poin mengapa warga Amerika sejati harus membenci sepak bola. Ya, tidak usah kaget. Kedegilan macam ini juga menjangkiti Amerika. Coulter menutup tulisannya dengan,

“If more “Americans” are watching soccer today, it’s only because of the demographic switch effected by Teddy Kennedy’s 1965 immigration law .”
Menurut Coulter, sepak bola populer karena para penontonnya adalah imigran atau keturunan imigran (generasi kedua). Coulter membandingkan jumlah penonton dengan perhitungan yang sungguh keliru. Ia membandingkan pertandingan Piala Dunia antara Amerika Serikat melawan Portugal yang ditonton 18,2 juta pemirsa dengan Super Bowl yang ditonton 111,5 juta orang.

Ia tidak cermat untuk menelaah bahwa tayangan sepak bola terpecah ke berbagai liga dan model kejuaraan (klub dan timnas). Perbandingan macam ini tidak bisa menjadi sandaran argumentasi, hanya terkesan ingin tetap faktual.

Menempati urutan berapa pun dalam perhitungan jumlah penonton, yang paling mengkhawatirkan tentu narasi ‘kita’ versus ‘mereka’. Ini terejawantahkan menjadi ‘kulit putih’ kontra ‘kulit berwarna’.

Nada yang sama juga dikemukakan Dan Shaughnessy di Boston Globe lewat tulisan yang berjudul Ignoring the World Cup. Amerika ya Amerika. Kami punya sistem ukur sendiri. Terserah bila seluruh dunia menggunakan sentimeter, yang kami kenal tetap inci. Kaki, bukan meter. Setelah Piala Dunia usai, toh kegilaan ini akan berakhir dan sepak bola kembali ditinggalkan warga Amerika.

Saya juga heran, jika tidak menyukai olahraga, mengapa sampai mesti membencinya? Oke, saya beri pengandaian: Saya tidak suka polo meski saya belum pernah menyaksikan olahraga itu secara utuh. Saya tidak suka polo karena olahraga tersebut terkesan aristokratik dan tidak mudah diakses warga biasa. Dengan sistem pikir seperti ini, maka ketidaksukaan saya adalah sesuatu yang tidak berdasar.

Dari dua tulisan di atas, kita bisa melihat bagaimana kesadaran masyarakat diseret sedemikian rupa. Sesuatu tidak pernah berjalan secara apa adanya (taken-for-granted). Sepak bola memiliki potensi untuk menggugah kesadaran banyak orang, namun di sisi lain ia juga rentan untuk meninabobokan kesadaran.

Di balik segala sengkarut kepentingan yang ada, sepak bola tetaplah suatu permainan yang berlandaskan merit. Seorang pemain, sebut ia Budi, menjadi starter karena kemampuan yang ia miliki pas dengan kelemahan musuh yang akan mereka eksploitasi (misal, postur tubuh yang tinggi). Sementara di pertandingan lain, Budi menjadi cadangan karena larinya lambat dan tidak piawai menggiring bola.

Meritokrasi adalah paham yang kerap ditonjolkan saat membicarakan demokrasi: bahwa seseorang mendapat jabatan karena sesuai dengan kemampuannya. Tapi kita tahu, itu omong kosong belaka. Jual beli jabatan menjadi hal yang lazim karena pembiaran.

Berkaca dari Amerika, kita seharusnya mengambil hikmahnya. Sepak bola selalu menempati posisi istimewa di negeri ini. Sepak bola tidak punya pesaing signifikan dalam hal kepopulerannya, tidak seperti di Amerika yang warganya memiliki banyak pilihan tontonan olahraga.

Kawan saya, Rizal Syam, menulis bahwa sepak bola menjadi sarana penjaga perdamaian di Halmahera Selatan. Warga kampung Kristen mengundang tim dari kampung Islam untuk bertanding saat Natal. Begitu pun sebaliknya, kampung Islam mengundang tim kampung Kristen untuk beradu sepak kala Lebaran.

Itu baru satu contoh di salah satu aspek. Belum lagi jika kita mempertimbangkan aspek-aspek yang lain seperti ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Di benak sebagian besar dari Anda, tentu berkeyakinan bahwa elite sudah terlalu culas menggembosi sepak bola nasional. Bonus demografi tak akan bisa mengantar sepak bola Indonesia ke posisi terhormat selama pembenahan sekadar kata yang terucap di bibir semata.

Berbeda dengan MLS di Amerika, liga yang kita punya masih jauh dari kata profesional. Pengunduran jadwal Liga 1 telah dikemukakan Aun Rahman akan menghadirkan sejumlah masalah. Bosan kiranya jika semua orang menulis ‘kapan sepak bola Indonesia bisa maju?’, karena sejatinya masalah memang ada di kepengurusan. Sponsor, talenta, berkah ekonomi, prestasi klub maupun timnas, akan mengikuti karena besarnya kecintaan masyarakat terhadap olahraga ini.

Peran yang tak kalah penting sebenarnya juga ada di pihak kolektif suporter. Suporter harus mampu mengorganisir diri tak hanya di dalam stadion, tetapi bagaimana memberi pemahaman yang baik kepada para anggotanya. Suporter tidak hanya wajib menghafal mars klub, tetapi harus mengetahui pula bagaimana pemain-pemain idolanya digaji. Kelompok suporter menjadi suatu kolektif yang berdaya secara ekonomi, budaya (mindset), dan politik.

Dan puncaknya, jika terus abai pada pentingnya pemberdayaan diri, jangan salah jika kita terus menerus dijadikan sapi perah oleh elite sepak bola nasional.

SUMBER:

1. USA

2. PAMAN SAM

Mmg suka tidak suka, kalau mau jd tuan rumah
Diubah oleh pelindungsapi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
tirulah china kate habib
tiru yg bagus buang yg cosplay daster
emoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Uga
Masih banyak yg perlu dibenahi....
contoh tuh afsel sama brazil. negara ampas shithole aja bisa jadi tuan rumah Pildun
gimana bisa contoh, org dikit2 kopar kapir harummm...

emoticon-Leh Uga
ga usah buru-buru, 50 taon lagi aja klo dah lepas landas..
Mana ada yg mau datang kalo yang jedar jedor itu gak diberantas dulu
Quote:


ngomongin shithole country, ane mau nunggu Pakistan / Afghanistan jadi tuan rumah World Cup, pasti rame tu tiap hari lihat pertandingan sambil dengerin duaarrrr duooooorrrr....

emoticon-Wkwkwk

emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
christomathew dan 2 lainnya memberi reputasi
Sebenarnya sih taon 94 minta wanita ke sepakbola keliatan,rata2 idolanya mereka itu roberto baggio

Trus taon 98 baru pada menggila,rata2 gila sama beckham dan del piero
Gak usah jadi tuan rumah pildun lah gak tega gw liat timnas di gulung timnas negara laen di negara sendiri
emoticon-Mewek
Diubah oleh revolushit.29
stadion dibenahi dulu
Taek kucing kuraplah

Masih banyak yang harus dibenahi, Indonesia gak usah sok-sokan jadi tuan rumah pildun hy krn gengsi
Kalo jd tuan rmh siap2 aja dipakein rumput plastik sama bang penis
profile-picture
profokatorcabul memberi reputasi
Harus berani dong.
akhirnya ada yg post selain politik tentang pilpres...
Pengen satu negeri gila bola sebulan daripada gila hasil pemilu.
Quote:


sepuh bener.


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di