- Beranda
- Komunitas
- Food & Travel
- Cerita Pejalan Domestik
Jalan-jalan ke Desa Sade di Lombok


TS
shinasuke
Jalan-jalan ke Desa Sade di Lombok
Lombok punya desa adat yang sudah terkenal di kalangan para traveler yakni Desa Sade. Lokasinya berada di Kabupaten Lombok Tengah, tepatnya di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut. Selain karena bangunannya yang khas, Desa Sade punya tradisi unik berupa kimpoi lari. Nah, yang menjadi titik pelariannya adalah Pohon Cinta yang berada di tengah desa.
Pohon Cinta merupakan pohon nangka yang kini sudah lapuk di makan usia. Menurut penuturan warga Sade yang memandu saya, pohon ini menjadi titik pertemuan sepasang kekasih baik yang akan memadu cinta maupun yang akan melangsungkan pernikahan. Dari sini lah para lelaki akan membawa 'kabur' calon istrinya.
"Jadi udah tradisi di sini. Kalau mau menikah juga janjiannya di sini," kata dia menceritakan adat kimpoi lari di desanya.
Si wanita akan dibawa pergi ke tempat di luar desa, atau ke rumah saudara maupun teman dari lelaki. Prosesnya biasanya sampai tiga hari. Dari keluarga lelaki kemudian akan memberi tahu keluarga wanita bahwa keluarga atau anaknya sedang dibawa 'kabur' oleh lelaki idamannya dan meminta izin untuk dipersunting.
Menurut pemandu saya, tradisi ini sudah berlangsung sejak lama. Ia sendiri tidak tahu persis kapan tepatnya. Hanya saja dilihat dari kondisi pohonnya saat ini, tradisi ini pastinya sudah berlangsung puluhan tahun atau lebih.
"Dulu ini ada daunnya, tapi lama kelamaan rontok," kata dia berusaha menggambarkan.
Pemandu itu menjelaskan kepada saya, kalau penduduk Desa Sade masih satu ikatan keluarga. Sebab, budaya perkimpoian mereka masih satu silsilah. Ada yang menikah dengan sepupu atau paman.
Desa Sade dihuni oleh 700 warga dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 150. Pendudunya merupakan dari Suku Sasak. Mayoritas warga di sini memiliki pekerjaan sebagai petani tapi ada juga yang membuat kerajinan tangan berupa aksesori hingga menenun kain.
Kain tenun yang dihasilkan oleh ibu-ibu di desa ini dibuat dengan menggunakan alat tradisional. Begitu juga dengan pewarnaan kainnya. Bahannya didapatkan secara alami. Bahkan benang-benang yang ditenun terlebih dahulu dipintal sejak masih berupa kapas.
Setelah melihat langsung proses pengerjaan kain tenun, saya kembali diajak menyusuri desa. Di sebuah rumah, saya melihat seorang ibu yang sedang menumbuk. Rupanya ia tengah menumbuk biji kopi yang sudah disangrai.
Ibu itu kemudian memperlihatkan kopi khas Lombok kepada saya. Ada yang masih berupa biji, ada pula yang sudah ditumbuk halus. Saya kemudian dipersilahkan untuk mencicipi kopi tersebut.
Menurut pemandu, warga Sade termasuk hobi meminum kopi. Sebelum pergi ke ladang, mereka sarapan dengan meminum kopi. "Tapi tidak bikin sakit perut, karena ada campuran berasnya," kata dia.
Ternyata kopi yang saya cicipi itu punya campuran beras. Herannya begitu diseruput, rasa berasnya tidak begitu terasa. Puas mencicipi kopi, saya sudahi perjalanan di Desa Sade siang itu.
Berkunjung ke Desa Sade traveler akan menemui rumah-rumah Suku Sasak yang masih tradisional. Bangunannya didominasi oleh kayu dan atapnya dibuat dengan anyaman ilalang kering. Bentuknya pun cukup unik. Apalagi lantai rumahnya yang ternyata dibuat dengan campuran kotoran sapi.
Tidak ada tiket khusus yang harus dibayar oleh pengunjung saat datang ke desa ini. Hanya saja untuk membalas kebaikan pemandu siapkan saja biaya seikhlasnya atas jasa yang ia berikan selama menemani kalian berkeliling desa.
Akses ke Desa Sade tidak begitu jauh dari Bandara Praya Lombok. Jalannya pun mulus beraspal sehingga bisa dilalui kendaaran roda dua atau roda empat. Perjalanan dari Bandara Praya Lombok ke Desa Adat Sade kurang lebih ditempuh dalam 20 menit.
Sumur: di sini
Pohon Cinta merupakan pohon nangka yang kini sudah lapuk di makan usia. Menurut penuturan warga Sade yang memandu saya, pohon ini menjadi titik pertemuan sepasang kekasih baik yang akan memadu cinta maupun yang akan melangsungkan pernikahan. Dari sini lah para lelaki akan membawa 'kabur' calon istrinya.
"Jadi udah tradisi di sini. Kalau mau menikah juga janjiannya di sini," kata dia menceritakan adat kimpoi lari di desanya.
Si wanita akan dibawa pergi ke tempat di luar desa, atau ke rumah saudara maupun teman dari lelaki. Prosesnya biasanya sampai tiga hari. Dari keluarga lelaki kemudian akan memberi tahu keluarga wanita bahwa keluarga atau anaknya sedang dibawa 'kabur' oleh lelaki idamannya dan meminta izin untuk dipersunting.
Menurut pemandu saya, tradisi ini sudah berlangsung sejak lama. Ia sendiri tidak tahu persis kapan tepatnya. Hanya saja dilihat dari kondisi pohonnya saat ini, tradisi ini pastinya sudah berlangsung puluhan tahun atau lebih.
"Dulu ini ada daunnya, tapi lama kelamaan rontok," kata dia berusaha menggambarkan.
Pemandu itu menjelaskan kepada saya, kalau penduduk Desa Sade masih satu ikatan keluarga. Sebab, budaya perkimpoian mereka masih satu silsilah. Ada yang menikah dengan sepupu atau paman.
Desa Sade dihuni oleh 700 warga dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 150. Pendudunya merupakan dari Suku Sasak. Mayoritas warga di sini memiliki pekerjaan sebagai petani tapi ada juga yang membuat kerajinan tangan berupa aksesori hingga menenun kain.
Kain tenun yang dihasilkan oleh ibu-ibu di desa ini dibuat dengan menggunakan alat tradisional. Begitu juga dengan pewarnaan kainnya. Bahannya didapatkan secara alami. Bahkan benang-benang yang ditenun terlebih dahulu dipintal sejak masih berupa kapas.
Setelah melihat langsung proses pengerjaan kain tenun, saya kembali diajak menyusuri desa. Di sebuah rumah, saya melihat seorang ibu yang sedang menumbuk. Rupanya ia tengah menumbuk biji kopi yang sudah disangrai.
Ibu itu kemudian memperlihatkan kopi khas Lombok kepada saya. Ada yang masih berupa biji, ada pula yang sudah ditumbuk halus. Saya kemudian dipersilahkan untuk mencicipi kopi tersebut.
Menurut pemandu, warga Sade termasuk hobi meminum kopi. Sebelum pergi ke ladang, mereka sarapan dengan meminum kopi. "Tapi tidak bikin sakit perut, karena ada campuran berasnya," kata dia.
Ternyata kopi yang saya cicipi itu punya campuran beras. Herannya begitu diseruput, rasa berasnya tidak begitu terasa. Puas mencicipi kopi, saya sudahi perjalanan di Desa Sade siang itu.
Berkunjung ke Desa Sade traveler akan menemui rumah-rumah Suku Sasak yang masih tradisional. Bangunannya didominasi oleh kayu dan atapnya dibuat dengan anyaman ilalang kering. Bentuknya pun cukup unik. Apalagi lantai rumahnya yang ternyata dibuat dengan campuran kotoran sapi.
Tidak ada tiket khusus yang harus dibayar oleh pengunjung saat datang ke desa ini. Hanya saja untuk membalas kebaikan pemandu siapkan saja biaya seikhlasnya atas jasa yang ia berikan selama menemani kalian berkeliling desa.
Akses ke Desa Sade tidak begitu jauh dari Bandara Praya Lombok. Jalannya pun mulus beraspal sehingga bisa dilalui kendaaran roda dua atau roda empat. Perjalanan dari Bandara Praya Lombok ke Desa Adat Sade kurang lebih ditempuh dalam 20 menit.
Sumur: di sini


tata604 memberi reputasi
1
355
0


Komentar yang asik ya


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan