CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
I Think Love is BULLSHIT!!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9e4d3dd675d482258b4567/i-think-love-is-bullshit

I Think Love is BULLSHIT!!

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 4

#musik enak



Waktu Yang Salah by Fiersa Besari ft. Tantri

btw bukan tantri kotak ya wwk

Tiga Belas : Friend with ?

Bebi dan Safira duduk bersama sangat akrab dan menuangkan sebotol vodka bersama - sama. Tertawa larut dalam kebahagian karena mabuk.

Bentar dulu. Ceritanya bukan gitu. Itu cuman ekspetasi gua doang. Kenyataannya?

Yaa suara itu adalah suara Bebi. Tidak lain dan tidak bukan. Suaranya gak asing banget bagi gua, cempreng - cempreng gimana gitu. Bebi kini sudah berada di samping meja gua dan Safira. Pakaiannya yang wow meski di puncak. Luar biasa kuatnya nih orang.

"Widih, Yoga punya cewek" kata Bebi sambil nyengir - nyengir. Bukan itu yang jadi masalahnya. Bau mulut Bebi begitu menyengkat. Bau sebuah minuman beralkohol tercium jelas. Gua yakin Bebi pasti lagi mabok. Safira menatap Bebi dengan tatapan jijik dan tidak suka. Yaa wajar, Safira dan Bebi berada di sisi yang berbeda. "Temen lu, Yog?" tanya Safira mengintrogasi. "Salam kenal, gua temennya Yoga" kata Bebi mengulurkan tangannya ke arah Safira. Safira membalas uluran tangannya dan memperkenalkan dirinya. Walau jelas keliatan rasa tidak suka nya itu.

Bebi mengangkat tangan yang satu lagi dan sebuah botol minuman diangkatnya, lalu langsung di minum oleh Bebi tanpa rasa sungkan sedikit pun. "Yog, mau?" tawar Bebi ke gua. Safira menatap gua tajam. "Sorry, Beb. Lagi enggak minum gua" kata gua. "Ohhh, di depan cewek alim ini lu juga jadi alim, gitu?" tanya Bebi sambil duduk di depan kami berdua. Jelas Bebi ingin merusak suasana gua dan Safira. Bebi keliatan tidak suka dengan Safira.

"Jadi lu temenan sama orang model kaya gin?" tanya Safira. "Itu temen kelas gua, Kak" balas gua. "Temen kelas? Bukannya kita lebih dari temen kelas ya, Yog?" balas Bebi. Nada centil dan seperti mempermainkan keadaan begitu kental terdengar di telinga gua. Nih Bebi dateng niatnya emang ngerusuh. "Beb, jangan ngomong sembarang!" kata gua sedikit membentak. "Oh, sorry. Ada pacar lu ya, Yog. Gua gak nyadar. Ribet gak sih Yog pacaran sama cewek sok alim kaya dia, pasti lu suruh ngaji, solat lima waktu gitu ya?" kata Bebi. Nadanya nada meledek. "Maaf, mba. Maksud mba apa ya?" kata Safira dengan tegas. "Gua gak maksud apa - apa. Tipe cewek kaya lu itu tipe cewek munafik!" kata Bebi dengan keras.


Safira menarik nafas panjang. Keliatannya mencoba untuk bersabar. "Mba, saya minta tolong banget. Jangan ganggu saya sama Yoga. Yoga pacar saya. Jadi mba mulai sekarang gak boleh ganggu atau deketin Yoga lagi. Semoga mba masih punya harga diri" kata Safira tersenyum sinis. Yang gua denger gak salah? Pacar?


"Anj*ng lu cewek munafik" kata Bebi sambil memukul meja. "Oke - oke. Santay - santay" kata gua mencoba menenangkan suasana. "Beb lu gak usah mancing - mancing emosi, gua mohon banget. Lu juga gak usah ganggu gua berdua sama Safira, ok?" kata gua. Bebi acuh tak menjawab kata - kata gua.

Bebi berdiri. "Sekarang gini, lu pilih gua atau dia?" kata Bebi kata Bebi sambil meninggalkan kami berdua. Dan sekarang hanya ada gua dan Safira. Safira masih keliatan kesal perihal kedatangan Bebi yang gak disangka - sangka. "Maafin temen gua ya, maklum dia lagi mabok" kata gua. "Kagak akan gua maafin. Sekarang gini Yog. Please jauhin tuh cewek, dia bawa pengaruh buruk ke elu. Gua gak mau lu jatoh ke jalan yang salah" kata Safira. Matanya berbinar - binar penuh harap ke gua. ini pilihan yang berat. Yang dikatakan Safira memang benar adanya. Bebi itu bawa pengaruh buruk ke gua. Gua yang udah buruk, jika ditambah lagi dengan keburukan makin buruk dah hidup gua.

"Gua pikir - pikir lagi deh, Kak" kata gua pelan. Apa yang dikatakan Safira memang tidak salah, tapi kehidupan gua itu sejalan lurus dengan Bebi. Gua suka Bebi. Dia tipe cewek yang blakblakan dan gak ada kata jaim. Rasa suka gua sama Bebi sebatas rasa dimana gua kagum ada cewek yang orangnya to the point gak pernah jaim - jaim gimana. Dia selalu apa adanya, walau apadanya dia ke arah yang tidak benar. Tidak ada yang ditutupi dari dirinya.

Sementara Safira adalah cewek idaman bagi semua cowok. Gua tarik kesimpulan Safira itu cantik, sholehah dan dia itu perfect banget kalo jadi istri. Dia selalu menuntut dan mensupport ke arah yang lebih baik. Kalo ada di samping dia bersama nyaman dan tentram. 

"Gak usah di pikir - pikir. Gini aja, gua ngulang kata - kata cewek jalang barusan. Lu pilih gua atau dia. Gitu aja sekarang. Satu hal yang harus lu tau, perasaan gua saat ini bukan sekedar perasaan biasa. Dan gua yakin tuh cewek juga punya perasaan yang sama kaya gua ke elu" kata Safira blakblakan. Safira tidak terlihat seperti biasanya. Memang Safira biasanya paling rempong, tapi kerempongan dia itu menuju hal - hal yang berbau jokes dan bukan sesuatu yang serius.

"Lu serius?" kata gua. "Lu aja gak peka, bego dasar" kata Safira. "Jadi lu serius suka sama gua?" tanya gua penasaran. "Kalo iya?" tanya Safira. Gua baru tersadar ternyata Safira suka sama gua. Tapi. Apakah itu bener - bener rasa suka, atau alasan dia saja untuk bisa jauhin gua sama Bebi.

"Lu mau jadi pacar gua gak, Kak?" kata gua dengan pelan dan halus. Gua penuh harap dan ekpetasi yang luar biasa. Kalo gua bisa jadi pacarnya Safira, mungkin sesuatu yang luar biasa bisa merubah hidup gua. "Maaf, gua belum mau pacaran dulu. Tapi gua pengen lu sama gua buat satu komitmen yang ngiket kita berdua. Rasa cinta itu bukan soal pacaran doang kan?" kata Safira sambil tersenyum manis ke arah gua. Senyumnnya begitu indah dan meneduhkan hati. Ya Allah, terima kasih telah menurunkan bidadari seperti ini depan gua.

Rasanya memang absurd sih scene menyatakan perasaan antara gua dan Safira. Semua itu terjadi karena Bebi. Bebi ngacau, dan inilaha akibat yang terjadi. Mungkin gua harus berterima kasih sama dia. Satu pertanyaan terakhir pada diri gua sendiri, apakah gua punya perasaan yang sama dengan Safira? Yang gua rasakan adalah sebatas rasa kagum. Kagum karena ada cewek nyaris sempurna seperti Safira.

Hari sudah makin larut, tepatnya jam satu malam. Biasanya Safira jam 12 pas itu harus ada dirumah, karena nyokapnya lagi gak ada dirumah Safira bisa pulang larut malem kaya gini. Sebagai cowok yang bertanggung jawab, gua anterin lah Safira menuju rumahnya. Gua dari puncak sampe ciawi ngebut parah. Jalan agak kosong gitu, berasa pembalap moto gp dengan motor matic wkwk.

Setengah jam kemudian gua sudah berada di depan rumahnya Safira. Muka harap cemas dan penuh rasa kecewa karena harus berpisah jelas terlihat dari raut wajah Safira. Mungkin Safira bener - bener jatuh hati sama gua. Safira menatap gua dan gua menatap Safira. Kepala gua mendekat dan gua cium keningnya Safira. Gua gak berani untuk cium bibir. Karena Safira itu tipe cewek baik - baik bukan cewek bragajul model Bebi ataupun Rani.

"Makasih ya, Yog. Love you" kata Safira sambil lari - lari kecil dengan muka sedikit memerah masuk ke dalam rumah. Senyum gua mulai terbentuk senyum bahagia bisa membuat cewek bahagia. Masalah yang ini udah kelar, tinggal masalah satu lagi masalah gua dan Bebi.

Gua : Beb, lu dimana? Masih di puncak?
Bebi : Kagak, gua lagi ngedugem, sinilah

Gua : Bentar gua otw, ada yang mau gua omongin ke elu
Bebi : Oke, si cewek munafik bawa pulang dulu
Gua : Safira udah gua anter pulang
Bebi : oh ok

Begitulah isi percakapan gua dan Bebi di WhatsApp. Gua langsung otw menuju Bebi berada. Sampai sana, ramai. Itulah suasana yang ada banyak cewek - cewek model Bebi dan banyak juga fuck boy fuck boy sok hits gaya kampungan yang membuat gua sedikit jijik, ada juga orang tua gak tau umur yang ngerasa dirinya muda terus dia cuman mau cari bibit muda doang baut muasin nafsu birahi nya gara - gara isitrinya udah ogah maen gara - gara otong suaminya udah mulai layu, wkkw, ngomong apa sih gua wkwk.

Gua yang udah janjian sama Bebi langsung masuk, disana Bebi langsung menyambut gua. Keadaan Bebi agak mabuk - mabuk namun masih bisa dikontrol. Gua pun diajak bergabung dengan teman - temannya Bebi dan disitu ada NIna yang sedang peluk - pelukan sambil cium - ciuman gitu sama seorang cowok. Jelas gua sedikit iri sama tuh cowok wkwk. Gua duduk bersebalahan dengan Bebi, Bebi langsung menggaet tangan gua dan bermanja - manjaan. Gua mah keenakan yaudah gua biarin aja kwkw.

"Lu mau ngomong apa, Yog?" kata Bebi. "Bisa gak kita ngomongnya berdua aja?" kata gua. "Ok, yuk" kata Bebi. Tangan Bebi menarik gua ke luar. Diluar udaranya begitu segar karena gua baru keluar dari tempat yang begitu pengap. "Jadi lu mau ngomong apa?" kata Bebi. Nadanya serius. "Gini, Beb. Lu ada perasaan gak sama gua?" kata gua terus terang. "Iya, terus kita jadian gitu?" kata Bebi. "Engga gitu juga, hehe" kata gua. "Terus?" kata Bebi. "Bentar gua tebak, lu udah jadian sama si cewek munafik itu?" kata Bebi. Nada suaranya sekarang agak meninggi dan kesal. "Engga, Beb. Bisa gak lu akur sama Safira, dia baik kok orangnya" kata gua. "Kagak! Gua benci cewek sok alim, asal lu tau Safira itu cewek yang gak seperti lu pikirin" kata Bebi ngotot. "Gua gak percaya omongan lu" kata gua. "Terserah! Gua udah ngasih tau lu ya" kata Bebi. "Terus sekarang apa?" lanjut Bebi. "Gua pengen kita menjauh, gua menghargai kata - kata Safira. Bukan maksudnya apa, Beb. Tapi ya gimana? Gua pengen berubah juga soalnya" kata gua. "Oh ok, gak masalah" kata Bebi dengan entengnya. "Dah sekarang gua boleh masuk kan?" kata Bebi. "Iya, sorry ya, Beb" kata gua.

Masalah gua sama Bebi sudah selesai. Tapi masih ada perasaan yang janggal dan gua pun gak mengerti itu apa. Ada rasa gak enak yang gua rasakan sama Bebi. Bebi itu baik, baik banget malah. Walau kelakuannya bragajul tapi dia bener - bener cewek yang berhati baik.

Safira : Yog, temenin gua. Gua dirumah. Gua takut sendiri

Sebuah chat dari Safira.
Minta di temenin sambil ena ena nih kayaknya emoticon-Big Grin ..

Lanjutkan gan
Quote:


ena ena tuh apa emoticon-Bingung
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Empat Belas : Story Begin

Badan gua sudah berada di depan rumahnya Safira. Rumahnya nampak gelap karena beberapa lampu di matikan. Gua langsung WA Safira

Gua : Kak, gua udah ada di depan Rumah nih
Safira : Langsung masuk aja


Langkah kaki gua masuk melewati pagar yang tidak di kunci. Hingga akhirnya gua sampai di depan pintu lalu gua ketuk tiga kali.

Pintu terbuka dan yang gua dapati Safira sedang tersenyum bahagia melihat kedatangan gua. Disitu Safira sukses membuat hati gua semakin meleleh. Kali ini dia tidak memakai hijabnya, rambutnya nampak di ombre, dia memakai sebuah piyama bermotif bunga - bunga. Gua emang udah pernah liat sih Safira gak make hijabnya, itu gua liat dari postingan dan instastorynya Safira di Instagram. Itu gak jadi masalah sih, toh masih cantik - cantik aja. Rambutnya panjang, aroma rambutnya yang selama ini belum gua cium, kini masuk ke dalam hidung gua. Harum dan wangi. Safira langsung memeluk gua dengan erat sambil menyerukan kata "Kangen" beberapa kali. Padahal baru aja gua tinggal bentar, udah kangen lagi aja.

Pelukannya terasa begitu hangat, pelukan yang sangat gua rindukan dari seorang wanita. Sudah berbulan - bulan gua pisah sama Rani tapi perasaan itu masih sedikit berbekas. Gua bener - bener udah Lost contact sama Rani. Kabar nya yang sekarang pun gua gak tau.

Gua di giring masuk dan di bawa ke kamarnya. Pertama kalinya gua masuk kamar Safira. Kamar cewek pada umumnya, gua jadi gak terlalu kaget, karena gua udah pernah masuk kamar Rani. Gua duduk di atas kasur dan kami berdua saling berhadapan. Hanya lampu tidur yang nyala, jadi suasananya agak gelap namun hangat.

"Gak apa - apa nih kak, gua nginep disini?" tanya gua. "Gak apa - apa. Mama juga lagi gak ada, hehe. Jadi sekarang dirumah ini cuman ada Yoga sama Safira. Hehe" kata Safira dengan nada yang centil. Gua gak mengerti maksud Safira apa. Safira itu tipe cewek yang susah banget di tebak sifatnya. "Gua tidur di bawah ya? Gua minjem satu bantal aja kak" kata gua. "Ih. Kok malah tidur dibawah? Tidur di sebelah gua aja, gak apa - apa kok. Gua kasian atuh liat lu tidur di atas lantai" kata Safira. "Gak apa - apa" kata gua tersenyum. "Gak mau, pokoknya lu harus tidur di atas kasur sama gua. Yog. Titik dan gua gak mau denger penolakan lu" kata Safira. Yaa gimana ya? Gua mah enak - enak aja tidur di atas, tapi ini gak sesuai ekspetasi gua. Gua kira Safira itu tipe cewek yang gak begini gitu. Maksudnya bener - bener tipe cewek alim rajin sholat dan mengaji. "Lu gak takut gua bakal macem-macem gitu sama lu, Kak?" tanya gua. "Ngapain takut? Emang lu berani macem-macem sama gua? Gua percaya lu kok Yog" kata Safira tersenyum.

Safira langsung menenggelamkan badannya ke dalam kasur, gua pun sama. Gak ada jarak sama sekali antara gua dan Safira. Safira tidur menghadap ke gua. Matanya terbuka dan langsung di tutup lagi dengan senyuman malu - malunya. Tangannya menggenggam tangan gua.

Tidur gua begitu nyenyak, harum dari tubuh Safira masuk ke dalam hidung gua. Kasur ini jadi saksi dimana gua dan Safira bersatu, gejolak cinta yang di keluarkan Safira begitu terasa.

***

Pagi.
Gua terbangun dan gua dapati Safira sudah tidak ada di samping gua. Aroma makanan tercium begitu jelas. Gua terbangun dari kasur dan langsung berjalan menuju dapur. Safira sedang memasak. Dia juga keliatannya sudah mandi. Rambutnya di kuncir kuda serta dia memakai celemek. Serasa suami istri antara gua dan Safira. Gua mendekat dan langsung peluk Safira dari belakang. "Udah kaya istri gua aja lu, kak" kata gua. "Kan gua calon istri lu wkwk" kata Safira sambil nyengir. "Lu mandi dulu gih, bau tuh mulut" kata Safira. "Bau - bau gini tapi banyak yang suka lhoo" kata gua ketawa nyengir sambil menuju kamar mandi.

Gua mandi, gua pake shampoo nya Safira, sabun nya Safira juga. Serasa gua jadi Safira versi laki. Selesai mandi baju yang tadi gua pake, gua pake lagi. Ya mau gimana lagi, gua gak ada baju lagi.

Gua langsung samperin Safira lagi yang lagi ada di meja makan. Dan kami berdua makan bersama. Kami serasa kaya pasangan suami istri.

"Kak" kata gua. "Jangan manggil Kaka lagi Napa yog, panggil aja Safira. Kesannya aku kaya udah tua" kata Safira. "Oh ok, Fir" kata gua. "Maen ke Rumah aku yuk, kamu mau aku kenalin ke mama aku" lanjut gua. "Serius?" Kata Safira. "Ya iyalah serius, mau kan?" Tanya gua. "Ya jelas mau" kata Safira. Safira kegirangan dia penuh dengan rasa senang. Walau hubungan gua dengan Safira agak tidak jelas, tapi gua tau perasaan Safira itu jelas banget ke gua. Gua gak mau ngecewain Safira, gua pengen jalin hubungan yang tanpa status ini menjadi lebih serius. Dan gua berasa seorang jomblo yang paling bahagia di muka bumi ini.

Sekitar jam 10an gua sama Safira otw menuju Rumah gua. Dan sekitar 10 menit kemudian gua sampe Rumah gua. Gua masuk dan keadaan Rumah agak sepi. Gua suruh Safira nunggu dulu di ruang tamu. Mukanya sudah nampak kegirangan. Gua berjalan ke arah dapur. Dan nyokap gua ada disitu sedang masak. "Ma, assalamu'alaikum" kata gua sambil mencium tangan nyokap gua. "Kamu abis dari mana aja Yog, jam segini baru pulang" kata nyokap gua. "Hehe, biasa ma" kata gua. "Ma, ada yang pengen Yoga kenalin ke mama" kata gua. "Siapa?" Tanya nyokap gua. "ada deh, nanti Mama juga kenal" kata gua ketawa nyengir.

Nyokap gua berjalan gua tuntun menuju ruang tamu. Safira yang melihat nyokap gua langsung menghampiri nyokap gua dan mencium tangan nyokap gua. Wajah nyokap gua seneng - seneng senyum bahagia gitu. Yaa wajar sih soalnya cewek kaya Safira itu limited edition. Nyokap gua dan Safira langsung duduk berhadap - hadapan sementara gua duduk disebelah Safira.

"Yoga pinter banget kalo nyari cewek" kata nyokap gua. Safira nyengir tertawa kecil. "Kalo boleh tau nama si cantik ini siapa?" kata nyokap gua. "Oh iya saya lupa kenalin diri, maaf tante. Nama saya Safira tante" kata nyokap gua. "Namanya bagus, kaya orangnya cantik, cantik pisan ini mah" kata nyokap gua. "Tante juga cantik kok" kata Safira nyengir. Gua meninggalkan mereka berdua untuk mengobrol lebih dalem. Soalnya gua yakin dengan ada nya kehadiran gua disitu obrolan mereka gak akan bebas karena canggung ada gua. Gua diam di teras dan membakar sebatang rokok sambil menatap ke arah luar. Gua sengaja ambil posisi agak jauh supaya gua gak  bisa denger percakapan nyokap gua dan Safira. Walau gua pun penasaran wkwk.

Setengah jam gua ngaso di depan, akhirnya gua dipanggil sama nyokap gua. Gua samperin deh nyokap gua. "Yog, mama minta fotoin mama sama Fira ya" kata nyokap gua sambil nyengir gak jelas. "Oke deh" kata gua. Gua jadi juru foto mereka berdua. Mereka berdua nampaknya udah akrab. Syukur deh kalo udah akrab, kan semua jalan bakal jadi mulus.

Nyokap gua meninggalkan gua berdua sama Safira, karena nyokap gua kudu masak lagi. "Tadi ngobrol apa sama mama?" tanya gua. Rasa penasaran gua sudah memuncak. "Banyak deh, mama kamu seru banget kalo di ajak ngobrol" kata Safira. "Sekarang kita mau kemana lagi? Pokoknya hari ini raga aku cuman buat kamu, Fir, hehe" kata gua. Muka Safira memerah ya mungkin karena gua gombalin.

Kami berdua hanya jalan - jalan keliling kota bogor. Ke taman, nongkrong bentar  terus cabut, ke taman lagi nongrkong bentar terus cabut sampe bosen. Hingga magrib pun tiba. Gua sama Safira akhirnya memutuskan menuju bioskop untuk nonton. Ya karena saking udah bosen dan gabutnya lagi, tujuan gua sama Safira akhirnya yaa ke bioskop - bioskop juga. Hari ini minggu, yaa gua kena resiko harga tiket mahal sama rame. Untung Safira cewe yang pengertian, dia yang bayarin gua buat nonton bioskop. Nonton film, terus filmnya yang isinya drama cinta gak jelas kelar juga. Gua dibioskop cuman numpang tidur doang.

Safira sambil jalan antusias banget nyeritain adegan - adegan yang ada di film tersebut.

Ya gua mah bodo amat. Gua dengan "Iya-iya" aja. Karena gua sendiri gak terlalu peduli dengan apa yang di obrolin Safira. Setelah itu gua langsung menuju restoran cepat saji, ya karena kami berdua laper, dan Safira lagi yang bayarin. Gimana gak enak coba wkwk.

"Kamu yakin Fir dengan hubungan yang tanpa status ini" kata gua membuka ke heningan. "Aku yakin kok" jawab Safira. "Aku cuman kasian sama kamu" kata gua. "Kok kasian sama aku? Emang kenapa?" Tanya Safira. Ya jelas gua kasian yang dirugikan dengan adanya hubungan tanpa status ini adalah si pihak ceweknya. "Kamu gak takut apa aku maen sama cewek lain?" Tanya gua. "Engga, aku percaya kok sama kamu. Aku tau kamu itu cuman cinta sama aku, jadi kamu gak akan berani buat maen - maen sama cewek lain" kata Safira. Dia begitu percaya banget sama gua. Memang hubungan gua sama Safira seumur jagung, yaa tapi komitmen gua sama Safira bukan lah sebuah permainan


Hari sudah agak larut malam, gak terlalu larut juga sih baru juga sekitar jam 9an. Kata Safira nyokapnya juga udah pulang, jadi gua harus anter Safira pulang. Soalnya satu harian ini anak orang gua ajak maen tanpa izin dari emaknya wkwk. Sampe depan rumahnya Safira sebuah ritual gua lakukan yaitu cium kening Safira sambil mengatakan "Love you and always love you" sambil tersenyum kecil dengan penuh rasa gembira serta rasa malu. Mukanya memerah dan dia masuk ke dalam rumah. Gua memandangi Safira dari luar pagar. Apakah dia yang akan menjadi pendamping hidup gua? Kini gua sudah menemukan jawaban. Ternyata gua masih proses untuk mencintai Safira. Cinta itu butuh proses. Itulah yang gua yakini.

#musik enak



Dear John by Taylor Swift

===

Ini salah satu lagu fav gua dari taytay wkwk

Lima Belas : Gejolak

Senin di mulai lagi. 

Akhirnya setelah sekian lama gua masuk sekolah lagi. Entah udah berapa hari gua juga lupa gak masuk sekolah lagi. Kelas isinya lumayan ramai dan gua langsung dikerumunin sama temen - temen gua. Gua respect sama mereka karena mereka care sama gua. Dan gua hargain itu. Beberapa pertanyaan dari temen - temen gua yaa gua bales sekenanya. Karena gua gak bisa jujur kalo beberapa hari kemaren gua having fun sama Bebi.

Dan hari ini juga Bebi masuk kelas. Seperti biasanya dia selalu jadi tontonan karena tampilan dan bodinya yang aduhai. Gak bisa dipungkiri kalo Bebi itu luar biasa. Dia menatap gua sinis, ya mungkin gara - gara kemaren. Gua meninggalkan dia untuk bersama Safira.

***

Pulang sekolah gua ke tongkrongan tempat dimana gua biasa nongkrong sama temen sekolah gua. Disitu juga banyak cewekny dan abang kelas. Disini terasa bebas, tanpa larangan tanpa atura. Banyak temen gua yang lagi ngebakar, mau pun ijo ataupun sinte. Alunan gitar dnegan lagu Iwan Fals menemani gemuruh di tongkrongan ini.

Gua ditawari oleh temen gua untuk ngisep sinte. Tapi gua tolak. Gua pengen berubah, gua pengen tinggalin masa - masa kelam gua yang seperti ini. Seharusnya masa muda itu dihabiskan untuk sesuatu yang berguna. Entah itu apapun, kebanyakan foya - foya akan membuat menyesal dikemudian hari. Begitulah nasehat yang sering gua denger dari para manusia yang sudah berumur tua.

Satu per satu temen gua tumbang dengan jackpot. Sinte emang parah efeknya, lebih parah dari ijo maupun alkohol. Karena ini bicara soal campuran kimia. Gua lihat dari jauh Bebi sedang tertawa terbang karena efek dari ijo dan minum - minuman.

"Tumben lu gak ikut minum sama nge-ijo, biasanya lu paling semangat" kata Setyo sambil menepuk pundak gua. "Sorry, bukannya apa. Gua pengen berubah aja, kalo gini - gini terus gua gak pantes buat doi" kata gua. Entah kenapa gua tersenyum sambil membayangkan Safira sedang tersenyum mengarah ke arah gua. "Widih, gila udah dapet cewe lagi. Kemaren baru aja pegat dari Rani" kata Setyo tertawa meledek. "Alah, jangan bahas Rani, Yo. Please" kata gua memohon. "Oh, sorry. Jadi siapa nih cewek baru lu, ada kali fotonya" kata Setyo. Gua langsung buka HP dan menunjukan instagram Safira. "Wedeh, pantesan lu pengen berubah" kata Setyo sambil terkaget.

Gua gak lama ditongkorngan dan gua pun berjalan pergi meninggalkan tongrkongan. Ya karena gua cukup bosan, gua cuman ngerokok dan sedangkan yang lainnya sedang asik berpesta hingga lupa diri kalo mereka itu siapa. "Yog, tunggu!" suaranya begitu jelas dan kental di telinga gua. Bebi berjalan sedikit sempoyongan menuju ke arah gua. "Anter gua balik" kata Bebi meminta. "Dirumah lu ada siapa?" kata gua. "Nyokap gua gak ada jadi tenang aja" kata Bebi sambil tertawa. 

Dalam perjalanan Bebi memeluk gua dengan erat. Ya gua mah enak - enak aja. Lagian kalo dia gak pegangan sama gua bisa - bisa Bebi jatoh. Gua gak mau hal itu terjadi. Sampe depan rumahya gua bantu dia berjalan, karena kondisi Bebi sudah bener - bener mabuk semabuk - mabuknya. Ini bukan efek alkohol, tapi ini efek bahan kimia.

Sudah ada di depan kasurnya. Bebi yang sedari tadi memeluk gua dengan eratnya, kini gua buka pelukannya dengan perlahan dan gua baringkan Bebi di atas kasur. Sungguh seksi, reaksi gua seperti itu. Kalo ditanya otong konak atau engga jelas konak. Gua gak tau bisa nahan godaan atau engga. Yang jelas dan yang gua tau kalo gua melakukan hal tersebut, perawan di muka bumi ilang satu biji. Bebi emang cewek bragajul, tapi dia masih bisa jaga diri soal keperawanannya. Seinget gua, hal nakal yang berbau seksual yang pernah dia lakuin sebates BJ dan grepe - grepe. Orang bakal menyangka kalo sosok Bebi sudah pernah melakukan seks, tapi gua yakin semua anggapan itu salah. Dan gua harus mencoba dan memastikannya, apakah Bebi new player or old player.

Gejolak dalam hati gua terus berdebar dan berdebar. Pertentangan antara nafsu dan akal sehat. Jujur gua sangat tergoda dan luar biasanya tergoda. Aroma dari kamarnya memenuhi hidung gua, yang gua cium dan gua rasakan adalah aroma dari Bebi. Luar biasa dan menggairahkan. Bebi terlihat tak berdaya dan meggoda. Oh tuhan.

Munafik.
Itu satu kata yang pas buat gua. Gua menutup mata gua dan keluar dari kamarnya Bebi tanpa menyentuh Bebi sedikit pun. Inilah hal yang benar yang gua lakukan. Baru saja gua keluar dari rumah nya Bebi. HP gua bergetar, dan itu telepon dari Bebi. "Yog lu dimana? Anj*ng gua mau mati, pala gua pusing" kata Bebi. Jelas gua panik. Gua langsung berlari masuk ke dalam, dan langsung masuk ke dalam kamarnya Bebi. Bebi sedang terbaring dengan begitu menggodanya sambil ngigau - ngigau. "Beb, lemah lu, masa tepar!" kata gua meledek. "Anj*ng lu mah gak ngisep gobl*k" kata gua. "Terus lu ngapain nelpon gua, gua kira lu kenapa - kenapa" kata gua. "Jadi lu khawatir sama gua?" kata Bebi. Bebi terbangun dari tidurnya dan tertawa meledek ke arah gua.

"Yog, mau gak?" kata Bebi dengan nada nakal. "Mau apa?" tanya gua. "Gak usah pura - pura bego, ini first time buat gua lhoo" kata Bebi.

***

Gua pulang dan  samperumah hari udah mulai sore dan awan mendung mulai berdatangan. Meratap pada diri sendiri atas apa yang gua lakukan mungkin itu hal gobl*k namun nikmat yang pernah gua lakukan. Gua gak salah kan? Hubungan gua sama Safira hanya sebatas hubungan tanpa status. Tidak lebih. Jadi bebas kan gua mau main sama cewek lain?

Sebatang rokok gua bakar di dalam kamar gua untuk menenangkan pikiran gua. Otak gua terus mencoba menghapus memori 2 jam yang lalu. Berharap hal itu tidak terjadi. Senyum dan aroma dari Bebi masih lekat di pikiran dan hidung gua. Suaranya yang halus seakan menghantui telinga gua. Rasa bersalah terus menjalar dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Batin gua mencoba mengelak kalo yang gua lakukan 2 jam yang lalu adalah sesuatu yang biasa saja. Bebi yang menawari, mubazir kalo gak diterima.

Tapi kenangan itu tidak bisa dihapus begitu saja. Gua pengen lagi dan lagi. Bebi bisa memuaskan semua nafsu gua, tapi itu semua hanya nafsu belaka tidak lebih. Gua harus bertanggung jawab. Bebi yang tadinya belum pernah melakukan hal tersebut, jadi sudah pernah mencoba melakukan hal tersebut. Gua mencoba lari dari keadaan ini, tapi ingatan ketika Bebi memeluk gua dengan erat sambil mengucapkan kata - kata cinta membuat langkah gua membeku begitu saja.

Lamunan gua buyar ketika HP gua berbunyi. Safira lah yang muncul di layar HP gua. "Hallo, Yog. Kok kamu dari tadi aku chat gak dibales" kata Safira dengan nada khawatir. "Sorry, Fir. Aku gak liat kalo ada chat, mungkin WhatsAppnya lagi error" kata gua. Jelas gua berbohong untuk menyelamatkan diri gua sendiri. "Oh gitu, Yog, lagi ngapain?" tanya Safira. "Lagi dirumah aja nih tidur - tiduran" bales gua. "Ohhh, kamu lagi cape ya, yaudah kamu tidur aja. Aku gak mau ganggu kamu, istirahat ya, Yog" kata Safira. Kata - kata tersebut penuh dengan perhatian dan kasih sayang. Mendengar kata - kata tersebut membuat gua merasa bersalah. Safira telah memberikan segalanya buat gua, jiwa dan raganya sudah diberikan kepada gua. Tapi timbal baliknya apa dari gua? Gua mengkhianati dia begitu saja.

Betapa beruntungnya gua bisa memiliki hubungan seperti ini dengan Safira. Kalo dibilang gua bahagia atau engga, sangat bahagia malah. Tapi mungkin gua nya yang kurang bersyukur atas apa yang telah gua dapatkan. "Eh, Fir. Gak cape kok, kamu mau ketemu?" kata gua. "Hehe, iya. Aku kangen sama kamu" kata Safira dengan manja. "Yaudah, aku kerumah kamu ya, tunggu ya" kata gua.

Gua pacu sepeda motor gua dengan begitu cepat. Gua gak mau membuat cewek yang gua cinta menunggu dengan lama. Sekitar 10 menit gua sampe di rumahnya Safira. Safira menunggu di depan gerbang dan langsung berlari seraya gua turun dari sepeda motor gua. Dan langusng melompat dan memeluk gua dengan erat. Pelukan begitu hangat dan penuh cinta yang gua rasakan berbeda dari pelukannya Bebi.

"Mama kamu ada di dalem?" kata gua. "Kamu kesini mau ketemu aku apa ketemu mama aku?" kata Safira sambil cemberut manja. "Ketemu dua - duanya, hehe. Sebelum deketin kamu, aku deketin mama kamu dulu biar gampanag dapet restu" kata gua sambil tertawa. "Bisa aja ngeles nya, yaudah yuk masuk. Papa aku juga ada di dalem" kata Safira. "Serius? Wah aku belum siap, papa kamu galak gak?" tanya gua. "Engga kok, papa aku baik" kata Safira sambil nyengir.

Gua di bawa masuk pas sampe ruang tamu sosok bapak - bapak dan nyokapnya Safira sedang duduk sambil menatap ketika kehadiran gua. Tatapan papa nya Safira begitu tajam seakan mau mengintrogasi gua. Gua mencoba untuk sopan, menghampiri keduanya dan salim kepada mereka berdua sambil pasang muka tersenyum. Gua dipersilakan duduk sama mamanya Safira. Safira langsung tancap gas menuju dapur untuk menyiapkan air minum.

"Nama kamu Yoga ya?" kata bokapnya Safira. Nada suaranya agak sedikit berat dan tegas. "Hehe, iya om" kata gua dengan begitu gugup. "Wah, belum apa - apa udah panik, santai aja kali" kata bokapnya Safira sambil tertawa. "Si papa sih, Yoga jadi ketakutan. Nada suaranya gak usah di tegas - tegasin" kata mamanya Safira. "Hehe, sorry - sorry. Tadi om cuman bercanda. Anggap aja om kaya temen seumuran mu" kata bokapnya Safira. Dan introgasi dimulai. Segala macam ditanyakan ke gua. Dari A sampai Z. Dari orang tua gua, kehidupan gua dan segalanya dinyatakan dengan detail. Sebenernya gua gak terlalu suka dengan hal ini, mending gua ngobrol santai sama mamanya Safira. Daripada harus ditanya yang seperti di introgasi. Saat di introgasi gua mencoba menutupi semua kejelekan yang gua miki. Gua harus sempurna dihadapan bokapnya Safira. Gak boleh ada miss sedikitpun.

Dahaga gua sangat terasa, agak tegang tapi segelas teh anget yang dibuat Safira cukup menghalau dahaga gua. Safira berada disebelah gua sambil menggenggam tangan gua. "Oke, segitu aja pertanyaan dari om. Pokoknya om percaya sama kamu, Yog. Jangan sampe kecewain anak om ya" kata bokapnya Safira sambil tersenyum.

Sekitar 20 menit gua di introgasi namun 20 menit tersebut seakan gua ada di neraka yang penuh rasa sakit dan ketegangan. Tapi semua itu berhasil gua lewati. Bokapnya Safira beridiri dari duduknya dan pergi masuk ke dalam. "Kamu panas dingin, Yog" kata Safira sambil tertawa kecil. "Gimana gak panas dingin coba, aku langsung ketemu boss terakhir" kata gua. Safira tertawa melihat tingkah laku gua. Yang penting, ujian nasional sudah gua hadapi dan gua taklukan. Jadi hubungan gua sama Safira bukan sekedar hubungan tanpa status biasa, tapi lebih dari itu. 
Selamat tahun baru
yoi gan moga tambah lancar updatenya
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Gimana lawan boss terahir emoticon-Leh Uga
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

#musik enak



Generasi Frustasi by Iwan Fals

Enam Belas : Demi Sebuah Nama Besar

Lupakan semua tentang masalah percintaan. Cinta itu omong kosong wkwkk.

Stick golf sudah tersedia, beberapa senja tajam juga sudah siap. Suasana malam begitu dingin dan sedikit mencekam. Gua mencoba mengambil stick golf tersebut untuk gua mainkan sebentar. Bukan untuk bermain golf, tapi untuk hal yang lain. Semua sudah siap. Motor berjejer siap untuk beriring - iringan. Rasa takut mulai mendekat. Tapi adrenalin semakin tinggi dan memuncak. Rasa haus akan darah sudah tidak terbendung lagi. Bar - bar, tapi semua itu demi nama besar sekolah gua.

Kami semua berangkat dengan begitu gagah dan beraninya. Sekitar pukul 2 pagi kami semua menuju spot yang menjadi medan pertempuran. Sekolah kami sudah janjian dengan sekolah musuh. Disitulah bentrokan akan terjadi. Semoga gua bisa pulang hidup - hidup.

***

Pertandingan basket antara SMA Z dengan SMA X menjadi sebuah derbi besar di kota bogor. Pasti akan terjadi bentrokan. Itu semua gengsi demi sebuah nama besar SMA kami. Saling ngotot dan egois. Teriak - teriak yell - yell yang isinya sarkas bermaksud mengejek SMA X. SMA X pun membalas semua itu dengan sarkas juga.

Hingga pada akhirnya keributan semakin pecah. Lu jual gua beli, salah satu temen gua di hajar sama salah satu murid SMA X. Semua turun kelapangan dan baku hantam terjadi. Tangan gua mengepal keras dan langsung menonjok muka salah satu orang dari murid SMA X hingga terpental. Gua langsung melompat ke arahnya dan langsung gua tendang kepalanya. Satu orang sudah terkapar, gua cari mangsa baru lagi. Gua cari yang badannya lebih kecil dari gua, agar gua mudah menghadapinya.

Semua itu buyar begitu saja ketika satu hantaman begitu keras mengenai kepala gua bagian belakang. Buyar dan hitam yang gua rasakan. Gua langsung tergeletak. Semua badan gua serasa di tendang dan di pukul. Jadi ini rasanya di keroyok. Sakit tidak gua rasakan, tapi harga diri dan malu yang gua rasakan.

Temen gua berlari ke arah gua dan langsung mencoba menyelamatkan gua. Muka gua babak belur, kepala gua masih aman, tapi badan gua benyut - benyut dan biru - biru. Sakit rasanya bener - bener sakit. Badan gua begitu lemes. Gua di bawa ke tempat yang lebih aman. Pengaman seperti polisi mencoba memisahkan keributan yang terjadi. Beberapa menit kemudian ketika polisi menembakan tembakan peringatan keributan pun terhenti. Beberapa orang di tangkap.

Keributan begitu besar hingga SMA Z dan SMA X di diskualifikasi dari turnamen tersebut. Penyesalan pun terjadi. Pihak SMA Z pastilah menyalahkan dari SMA X. Semua itu gak akan terjadi kalo temen gua gak dipukul.

Haha lucu rasanya.
Kami semua balik ke tongkrongan. Disitu kami semua mendiskusikan apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Kami memegang teguh pancasila sila ke empat, bermusyawarah untuk mufakat wkwk. Dan Kesepakatan kami adalah untuk melanjutkan pertempuran tersebut di malam hari supaya tidak ada gangguan dari pihak kepolisian atau warga setempat. Party and Fight.

Temen gua kontekin salah satu orang dari SMA X dan mereka setuju untuk melanjutkan pertempuran tersebut. 

***

Musuh sudah siap dan berada di sebrang lapangan. Semua akan terjadi pertempuran yang sesungguh nya mempertaruhkan hidup dan mati. Demi gengsi dan demi harga diri. Semua itu dilakukan, sok berani padahal takut mati. Untuk meningkatkan rasa keberanian temen gua minum - minum dulu.

Setyo maju duluan di paling depan dengan sebilah kelewang. "Ayo atuh anj*ng, maju lu bangs*t" kata Setyo. Setyo nyalinya cukup besar, dia gak kenal rasa takut apalagi kalo udah dicampur sama alkohol, keberaniannya makin meningkat seperti setan yang haus darah.

Dan SMA X langsung maju berbondong - bondong. SMA Z pun, SMA gua langsung maju. Gua dengan stick golf maju berlari membantu Setyo. Saling jual dan saling adu bacot untuk membuat lawan gentar. Gua berhadapan dengan salah satu orang memakai cerulit. Keuntungan bagi gua, gua make stick golf yang agak panjang. Langsung gua arahkan dengan keras ke kepala musuh yang ada di hadapan gua. Gua udah kaya mukul bola golf aja. Sayangnya dia menghindar. Dia langsung meloncat cepat ke arah gua dan langsung mengarahkan cerulitnya untuk menebas badan gua. Gua langsung melompat jauh ke belakang dan posisi dia sedang tidak enaknya. Disini posisi gua pas dan pasti kena tuh pala. "Anj*ng mati lu bang*at" kata gua sambil menghantam kepala musuh gua dengan stick golf. Hantaman gua begitu keras dan pas mengenai kepalanya. Dia langsung tergeletak jatuh dan berusaha untuk berdiri lagi dan mencoba untuk kabur.

Gua ngerasa udah kaya setan, gua bantai terus. Gua pukul - pukulin terus badan dia. Gak peduli dia manusia atau apa, yang penting orang yang ada di depan gua harus mati. Aroma darah tercium begitu jelas. Bukan dari musuh di hadapan gua tapi temen yang ada di sebelah gua. Sebuah pedang tertancap begitu dalam di kepala. Temen gua berusaha berlari kabur dengan kondisi seperti itu. Gua meninggalkan musuh gua yang sudah terkapar dan sepertinya sudah tidak sadarkan diri untuk membantu temen gua berlari kabur. Bener - bener sebilah pedang tertancap begi tu dalam kelihatannya.

Rasa takut dan merinding menjalar ke tubuh gua. Gua menggontong temen gua. Seketika temen gua sudah tidak sadarkan diri. Darah terus mengalir entah dari mana. Semua temen - temene gua mundur. Dan kami terpaksa harus mengakui kekalahan kami. Gua langsung berlari ke mobil salah satu temen gua. Gua bawa masuk. Dan mobil tersebut langsung tancap gas menuju rumah sakit. Keadaan di dalam mobil panik. Nafas dari temen gua yang terkapar tersebut masih gua rasakan. Gua berharap sempet.

Sampe rumah sakit dalam keadaan panik gua langsung bawa, dan langsung disambut sama suster - suster gitu. Temen gua langsung dibawa ke ruang IGD. Gua menunggu diluar dengan keadaan panik dan khawatir. Gua gak menyangka semuanya akan seperti ini.

Bullshit.
Semua baru gua rasakan ketika ini terjadi. Harga diri omong kosong. Pertempuran bodoh. Sebelumnya - sebelumnya, ketika tawuran gua belum pernah liat adanya korban sampai seperti ini.

***

Sebuah makam dan isak tangis. Hitam - hitam berserta mendung. Bunga bertaburan di atas tanah. Cuaca pun seakan mengerti dan bersedih. Gua menangis ketika melihat temen gua masuk liang lahat. Gak nyangka sama sekali bakal jadi seperti ini. Gua kira semuanya bakal baik - baik saja. Dokter pun angkat tangan. Luka parah di sekujur tubuh, temen gua kehabisan darah.

Jadi buat apa tawuran?
Rasa dendam gua rasakan. Pengen rasanya gua membantai habis orang yang telah membunuh temen gua. Tapi sayangnya keluarga dari temen gua menyerahkan semua itu kepada pihak polisi.

***

Seminggu kemudian.
Bentrokan kembali terjadi antara SMA X dan SMA Z. Semua itu balas dendam. SMA Z langsung mendatangi SMA X dengan begitu anarkis. Batu di lempar begitu saja ke arah SMA X yang sedang kondusifnya. Masa bodo ada orang atau tidak di dalam. Sekolah tersebut harus hancur. Gua juga ikut - ikutan. Emosi gua memuncak. Satpam yang ada di depan tidak berani berbuat apapun. Dinding luar sekolah dicoret - coret dengan berbagai macam hinain dan makian. Gambar kon*ol lah atau apalah semua digambar. Sekolah tersebut serasa bukan sekolah lagi. Gua ratapi dari luar, kacanya pada pecah dan pecahan kaca berserakan begitu saja. Gua seneng. Gak tau kenapa gua seneng dan bahagia bisa melihat tempat belajar pembunuh yang bunuh temen gua hancur begitu saja.

SMA X tidak bisa berbuat banyak, mereka tidak siap apapun dan hanya ngedokem di dalem sambil nete ke guru - guru.

Kami sudah puas dan langsung tancap gas pergi dari sekolah yang sudah tidak seperti sekolah lagi. Rasa senang dan tertawa. Entahlah tindakan bodoh seperti ini membuat gua seneng. "Kita pesta!!!" kata salah satu temen gua.

Who care? Young, Wild and Free. Prinsip tersebut sepertinya di pegang teguh oleh temen - temen gua dan gua sendiri. Aturan itu omong kosong.

Yaa sampe tongkrongan semua pada mabok - mabokan. Entah minuman apa, tapi satu galon isinya minuman doang. Gua juga ikut minum untuk memeriahkan pesta ini. Pesta gak asik kalo gak ada cewek, tapi sayangnya saat ini gak ada cewek sama sekali. Ya bodo amat yang penting pesta sampe tepar dan gak sadar.

===

Disini gua cuman mau mengenang masa sekolah gua dulu wkwk
waduh sudah mulai baku hantamnya emoticon-Big Grin
hari ini update 2 part

Tujuh Belas : Come on Bebi

Ada kesempatan, disitu ada jalan. Gua bukannya selingkuh atau apa. Gua sama Bebi hanya sebatas teman. Anggapan gua adalah ini hanya hubungan spesial yang gak lebih dari teman. Atau kami berdua sama - sama beranggapan seperti itu. Walau gua udah milik Safira, tapi gua masih lengket sama Bebi. Gua FUN sama dia dan sama dia gua bisa jadi diri gua yang sebenernya, bebas sebebas bebasnya. Walau gak bisa dipungkiri kalo gua juga pengen menjauh dari jalan seperti ini, namun sulit.

"Beb, duit lu gak abis - abis, darimana sih?" tanya gua. Pertanyaan itu sebenernya muncul udah lama. Yang gua liat rumah Bebi gak gede - gede amat gak kecil - kecil amat, keliatannya juga gak terlalu kaya. "Kepo amat sih lu, lu tinggal nikmatin doang, gak usah ribet" kata Bebi. Kalo soal barang Bebi selalu punya, apalagi yang gua demen ijo.

Gua lagi minum berdua bersama Bebi di sebuah tempat hiburan malem. Minum - minum yang bayarin Bebi, kuran enak apa coba. Sambil manjain mata liat - liat cewek - cewek berpantat gemes. "Yaah, gua kan penasaran, lu gak ngegadun kan?" tanya gua. "Anj*ng! Jangan asal ngomong, lu tau sendiri kan gua first time kaya gitu sama siapa?" kata Bebi rada kesel. Sepertinya Bebi gak mau di ungkit masalah tentang duitnya dapet darimana. Bener kata Bebi, gua tinggal nerima enak aja ribet amat.

"Lu ijo ada kan, Beb?" tanya gua. "Ada, ngapa? Mau?" jawab Bebi rada ketus. "Bagi dong" kata gua sambil nyengir memohon. "Alah tai, minta mulu. Beli napa" kata Bebi. "Selagi ada yang gratis ngapain ngeluarin duit" kata gua nyengir lagi. "Lu apa - apa pengennya gratis, minum udah enak gua bayarin, mem*k juga dapet gratis dari gua, terus ijo lu mau gratis lagi?" kata Bebi. "Lhaa, pelit banget anj*ng" kata gua. "Mau?" ledek Bebi. "Iya, bagi yaaa" kata gua memohon. "Ada syaratnya" kata Bebi sambil tertawa jahat. "Apa?" jawab gua. Muka Bebi keliatan licik. Pasti ada sesuatu hal yang direncanakan oleh Bebi. Rencananya pasti jahat.

"Tuh ada tante, lu ajak kenalan" kata Bebi. "Serius lu bang*at?" kata gua. "Iya serius, tante duitnya pasti banyak, gua yakin. Nanti kalo lu dapet duitnya, lu beli nih ijo punya gua" kata Bebi nyengir tertawa. "Anj*ng sama aja bang*at" kata gua. Bebi pun tertawa terbahak - bahak ngeliat reaksi gua. Tuh orang pasti seneng banget gua kaya gini. "Yaudah gini, lu mau apa deh, entar gua turutin" kata gua. Bebi mikir - mikir. Matanya terlihat jahat dan sepertinya dia punya rencana lainnya. "Gua pengen lu tinggalin Safira. Terus lu pacaran sama gua, gimana?" kata Bebi tersenyum jahat. "Gila, kali. Gak mungkin gua tinggalin Safira" kata gua. "Yaudah, kalo gak mau mah gak apa - apa" kata Bebi sok jual mahal. "Yaudah kagak jadi gua" kata gua dengan tampang cemberut. Gua langsung berdiri dari duduk gua dan berjalan pergi meninggalkan Bebi. Ceritanya sih gua ngambek. Gua udah kaya bayi yang gak di kasih susu.

Sepertinya Bebi gak ngejar gua sama sekali. Masa bodo lah. Gua langsung cabut ambil motor dan melaju menuju rumah. Sampe rumah gua kaya kesel sendiri. Untuk pertama kalinya Bebi gak ngasih gua ijo. Yaa gua terlalu bergantung sama dia soal masalah gituan, tapi ya mau gimana lagi. Untuk menghemat duit, cuman itu satu - satunya cara. Yaa kali gua buang Safira buat dapet ijo + Bebi. Gak kan? Safira itu limited edition. Gak ada cewek seperti dia di muka bumi ini.

HP gua berbunyi. Telpon dari bebi.
"Eh, ngen*ot! Gua balik gimana ini" kata Bebi. "Bodo amat anj*ng" kata gua. "Iye, entar gua kasih di kosan Nina. Lu bakar disana aja entar. "Serius nih, gak tipu - tipu" kata gua. "Iya kagak, lu pundungan najis, cowok kok pundungan, potong tuh kon*ol kalo pundungan" kata Bebi. "Bacot bang*at" kata gua. Telpon langsung gua matikan, tancap gas menuju tempat yang tadi.

Sampe sana muka Bebi keliatan udah agak BT gimana gitu. Dia keliatannya juga lagi di godain sama cowok - cowok bang*at. Gua langsung nyamperin Bebi yang sedang digodain. Bebi yang melihat gua langsung berlari ke arah gua dan memeluk gua tangan gua. "Sorry ya, gua udah punya pacar" kata Bebi sambil tersenyum jahat. "Momen lu pas banget" kata Bebi. "Ijo nya di tambah gak?" kata gua. "Tenang aja, yang di ada di tok*t gua entar gua kasih" kata Bebi. "Gimana rasanya digodain" goda gua. "Biasa aja" balas Bebi. "Abis gaya lu kaya jablay sih, makanya digodain" kata gua sambil ketawa. "Apasih sih anj*ng" kata Bebi sambil mukul lengan gua. Becandain Bebi emang seru. Dia gak akan pernah baper kalo gua becandain kaya gini.

Sampe lah gua di kosannya Nina. Nina gak ada di kosan, kosan isinya cuman gua dan Bebi doang. Bebi langsung ngodok tok*tnya dan dikeluarkan lah sepaket ijo. Ijo cap tok*t ini mah. "Ngapa sih cewek kalo naro apa - apa disitu?" tanya gua penasaran. "Lu bego ya?" kata Bebi. "Ngapa dah?" tanya gua. "Ini kan barang tol*l, kalo ada razia terus ketawan abis gua bego" kata Bebi memarahi gua. "Sorry gua gak tau" kata gua.

Disitu gua bener - bener have fun dan terbang melayang gara - gara efek ijo. Gua suka hidup seperti ini. Sepertinya gua udah kecanduan yang namanya ijo, dan entah kenapa gua berharap ijo di legalkan di Indonesia. Gua ngebakar gak sendirian, Bebi juga sama ikut ngebakar.

Pikiran kami berdua benar - benar terbang melayang namun masih bisa gua kontrol. Omongan yang keluar dari mulut Bebi udah agak sedikit kacau. Dia mulai memeluk gua dan mencium - cium gua dengan nafsu nya. Jelas gua mencoba menghindar, gua pengen santai dan gak mau di ganggu. Bagi gua itu sebuah gangguan. Gua lagi enjoy - enjoynya di alam dimensi lain. "Alah apaan sih lu, jangan ganggu napa, lagi enak nih" kata gua sambil menghisap kembali. "Lu bukannya makasih sama gua, mana balesan lu gob*ok" kata Bebi. "Bacot anj*ng" kata gua. Gua bakar lagi tanpa peduliin Bebi mau ngapain, dia mau jungkir balik pun gua bodo amat yang penting gua tenang dan santay. Ijo efeknya memang luar biasa. Lembut namun pasti, gak kaya sinte keras banget.

Jam sudah menunjukan pukul 04.00. Ijo nya udah abis. Bebi tertidur di atas kasur. Dan Nina pulang dalam keadaan mabuk sama cowok. Muka cowok itu langsung kaget, gua yakin tuh cowok mau gituan sama Nina, tapi gara - gara ada gua disitu hal tersebut tidak akan terjadi. "Gua kira gak ada siapa - siapa" kata cowok tersebut. "Hehe, sorry yaa, jadi gak enak nih gua" kata gua. "Santay aja bro, next time pasti dapet gua, haha" kata cowok tersebut. Nina langsung dibaringkan diatas kasur. Dan cowok tersebut duduk dan ngopi bareng sama gua.

Dari obrolan gua sama cowok tersebut, gua ketahui namanya Reza. Dia anak kuliahan di PTN yang ada di kota gua. Orangnya kalem - kalem gimana gitu. Gak banyak omong. Dan gua suka tipe orang kaya gini. Gua ngerokok dan ngopi bareng, saling sharing - sharing entah itu masalah apapun.

"Lu jurusan apa emang di situ?" tanya gua. "ilmu komputer" kata Reza. "Emang kenapa bro?" lanjut Reza. "Disitu ada cewek gua soalnya, kalo gak salah dia juga jurusan Ilmu Komputer deh" kata gua. "Wah, jadi si Bebi bukan cewek lu, gua kira Bebi cewek lu, lu player juga ternyata, haha" kata Reza. "Gua sama Bebi sebatas teman aja" kata gua nyengir. "Emang cewek lu namanya siapa?" tanya Reza. "Safira" kata gua singkat. "Safira apa, soalnya yang namanya Safira banyak gak cuman satu orang" kata Reza. "Safira Bella Putri" kata gua singkat. "Hah, serius lu?" tanya Reza agak kaget. "Anj*ng gak nyangka gua" kata Reza. "Asal lu tau, tuh cewek rada - rada soalnya" kata Reza. "Maksudnya rada - rada?" tanya gua. "Gua gak maksud buat jelek - jelekin dia di depan lu, gua akuin dia cantik lah, tapi dia suka maen - maenin perasaan cowok" kata Reza. "Jadi gini, intinya dia deket sama cowok, terus Safira cuman manfaatin si cowok doang" lanjut Reza. "Manfaatin apapun, kalo dia udah puas, cowok tersebut pasti bakal di tinggal gitu aja" lanjut Reza. "Dia emang rada sinting, dia cuman pengen liat cowok ngerasa sakit ketika di tinggalin dia" lanjut Reza lagi. Gua gak bisa percaya gitu aja. Walau rasa ragu dalam diri gua mulai muncul, yaa tapi perasaan gua gak bohong kepada Safira. Dan gua berharap apa yang gua denger barusan hanya sebatas omong kosong. Jadi ini yang dimaksud Bebi. Gua paham sekarang.

"Sorry, bukan gua gak percaya sama lu, gua gak bisa langsung percaya kata - kata lu soalnya" kata gua dengan tegas. "Ya gak masalah sih, tapi gua udah peringatin lu ya, misalkan bener - bener sampe kejadian lu jangan kaget" kata Reza.

Kami melanjutkan ngopi bareng lagi. Di otak gua masih bertentangan dan sulit untuk percaya dengan cerita Reza. Ternyata memang ada orang seperti ini di dunia ini. Dan gua berharap anggapan yang ada di dalam otak gua itu salah besar.

***

Matahari pun sudah terbit. Reza tertidur begitu pulas, mungkin dia kecapean. Perkataan Reza beberapa jam yang lalu terus terngiang - ngiang dalam otak gua. Gua pengen cari kebenarannya. Apakah yang dituduhkan Reza itu benar adanya atau hanya kebohongan belaka?

Yang tau bagaimana Safira yaa cuman kak Tasya doang. Gua kenal Safira itu dari kak Tasya. Kak Tasya sudah pasti mengenal baik bagaimana sifat Safira. Gua langsung buka HP dan chat kak Tasya.

Gua : Kak nanti sore bisa ketemuan gak?
Tasya : Bisa, emang kenapa?
Gua : Ada yang pengen gua omongin kak, makasih ya kak
Tasya : Ok, entar jemput ya

Mungkin nanti gua bakal ketemu mantan lagi wkwk. Apakah gua juga udah siap untuk ketemu mantan yang pernah gua cintai banget? Entahlah. Tapi perasaan gua ke Rani gak mungkin hilang. Perasaan itu pasti membekas, karena bagaimana pun dialah sosok yang pernah mengisi hati gua, membuat hari - hari gua berwarna dan bahagia. Walau pada akhirnya menyakitkan bagi gua, mungkin semua itu memang dan takdir dan mungkin Rani juga bukan jodoh gua.

Delapan Belas : Kebenaran dan Kenyataan

Suasana dari rumah ini sungguh mengingatkan gua akan sebuah masa lalu yang begitu manis namun berakhir pahit. Kenangan yang tersimpan dirumah ini begitu banyak. Masa lalu gak bisa gua lupakan begitu saja. Gua saat ini sedang berada di rumah Rani. Lagi nunggu kak Tasya yang sedang siap - siap. Rani menemani gua di ruang tamu. Setelah kejadian yang menyebabkan kandasnya hubungan gua dan Rani di keluarkan dari sekolah, Rani menjadi putus sekolah. Dia tidak bisa bersekolah lagi, entah karena malu atau karena memang tidak ada sekolah yang mau menerima Rani.

Rani tersenyum ke arah gua. Perlahan gua terenyuh dalam senyumnya, masuk ke dunia dimana gua bener - bener pengen bersama Rani untuk selamanya. "Kabar lu gimana, Ran?" tanya gua sekedar basa - basi. Semua pasti canggung ketika status berubah. Yang awalnya pacar menjadi mantan. "Kabar gua baik - baik aja kok, denger - denger lu jadian ya sama temennya kaka gua?" tanya Rani. "Gak jadian kok, gua cuman buat komitmen aja sama temen kaka lu"  kata gua. "Pasti orang nya baik ya, semoga dia bisa jaga lu dan gak ngecewain lu" kata Rani perlahan. Wajahnya nampak murung. Keliatannya dia sedang mengenang masa lalu nya. "Tapi gua ikhlas kok, Yog. Semoga lu langgeng ya sama temen kaka gua" lanjut Rani. Wajahnay begitu lemas dan putus asa. Harapan dimatanya buyar begitu saja ketika mebahas soal itu. "Lu gak apa - apa kan, Ran?" tanya gua. "Gak apa - apa, santay aja" kata Rani mencoba tersenyum. Gua hapal banget Rani. Senyuman yang di keluarkan Rani adalah senyuman penuh kepalsuan. Dia mencoba menutupi semua penderitaan yang sedang dia hadapi.

Kak Tasya pun keluar. Dia begitu cantik terlihat dewasa dan terkesan femini. Rok selutut dan baju tampa lengan berwarna cerah, serta bandu yang dikenakan nya membuat dia makin cantik. "Cantik bener" kata gua meledek. Kak Tasya nampak malu - malu kucing. "Yuk ah, Ran. Kaka tinggal dulu ya, kamu jaga rumah. Kalo ada apa - apa telpon kaka" kata kak Tasya ke Rani. Rani angguk - angguk.

Kami berdua langsung melaju ke sebuah cafe yang ada di dalam mall. Gua cuman pesen kopi dan kak Tasya juga sama cuman pesen kopi. Yang penting ada Wi-Fi. Gua nyambi download bokep wkkw, eh download film maksudnya wkwk.

"Jadi apa yang mau lu omongin?" tanya kak Tasya to the point. "Safira" kata gua singkat. "Kenapa emang Safira" tanya kak Tasya. Raut wajahnya langsung berubah ketika gua menyebut nama Safira. "Kaka udah tau kan hubungan gua sama Safira" tanya gua memastikan. "Ya jelas udah tau, Safira cerita lu terus ke gua" kata kak Tasya. 'Kaka tau Reza?" tanya gua. "Reza siapa? Kenalan gua banyak yang namanya Reza soalnya" jawab kak Tasya. "Reza itu lhoo yang agak tinggi terus rambutnya panjang, ada tompel deket lehernya" kata gua. "Oh, iya, terus apa hubungannya Safira sama Reza?" tanya kak Tasya. "Jadi gini kak, Reza cerita ke gua soal Safira" kata gua. Gua pun menceritakan tentang apa yang Reza ceritakan ke gua tentang Safira. Kak Tasya menyimak baik setiap cerita yang keluarkan dari mulut gua. "Oh jadi itu alesan lu mau ketemu gua?" tanya ka Tasya. "Hehe, iya" kata gua. "Apa yang dikatakan Reza emang bener, Safira itu suka maenin perasaan cowok. Jujur gua sebagai temennya dia juga kesel ngeliat tingkah laku dia kaya gitu" kata kak Tasya. "Terus - terus" kata gua. "Tapi untuk yang kali ini beda. Gua gak bohong sumpah, baru pertama kali ini gua liat Safira bener - bener naruh perasaan ke seorang cowok, yaitu elu" kata kak Tasya. "Serius?" kata gua. "Iya serius, untuk pertama kalinya dia ngerasa seneng banget menjalin hubungan" kata kak Tasya.

Itulah sebuah kebenaran yang gua dengar dari mulut kak Tasya. Entahlah itu hal yang benar atau hanya sebuah kebohongan yang di buat kak Tasya untuk melindungi Safira. Tapi yang diharapkan hati kecil gua adalah bahwa yang dikatakan kak Tasya adalah sebuah kebenaran yang amat benar dan bukan sebuah kobohongan.

***

Gua berada dirumah setelah mendengar tersebut pergejolakan dalam batin gua kian memuncak. Ambigu dan kebingungan itulah yang ada di dalam batin gua. Gua bingung harus bagaimana, apakah gua harus seperti biasa - biasa saja layaknya tidak terjadi apa - apa? Ataukah gua harus memberitahu ini semua kepada Safira?

Satu hal yang pasti dan yang gua tau adalah perasaan gua kepada Safira bukan sekedar kebohongan. Kalau gua boleh berharap dan harapan gua nantinya bakal jadi kenyataan, gua berharap bahwa Safira lah yang bisa menemani gua hingga tua nanti.

HP gua berbunyi. Safira menelpon gua. "Hallo, Fir. Ada apa?" tanya gua. "Minggu nanti, kamu bebas gak?" tanya Safira. "Iya aku bebas, kenapa emang?" kata Safira. "Kamu dateng aja ke rumah ya" kata Safira. "Yaudah oke, kamu sekarang lagi dimana?" tanya gua. "Aku lagi dirumah, kenapa emangnya, Yog?" tanya Safira. "Gak apa - apa, aku kangen kamu aja, hehe" kata gua. "Tahan dulu ya rasa kangennya, aku lagi nugas soalnya, hehe" kata Safira tertawa kecil. "Yaudah ok, nanti minggu aku kerumah kamu" kata gua.

***

Gua berada dirumah nya Safira. Cuman ada Safira doang. Nyokapnya entah kemana. Safira sedang berada disamping gua sedang bersender ke arah gua. Gua peluk Safira dari samping dan gua cium rambutnya yang begitu wangi. "Fir, sorry ya" kata gua. Suara gua masuk perlahan ke kuping Safira. "Maaf untuk?" tanya Safira. Wajahnya menatap ke atas. Pas tepat menatap gua. "Maaf, kemaren aku sempet gak percaya sam kamu" kata gua. "Maksudnya?" tanya Safira. "Kamu tau Reza?" tanya gua. "Reza? Temen kelas ku?" kata Safira. "Iya" kata gua. "Dia cerita banyak tentang kamu, lebih tepatnya cerita tentang keburukan kamu" lanjut gua. Safira langsung nunduk. Dia nampak terkaget dan bersalah. Dia lepas dari gua. Dia berdiri tegak dan air matanya perlahan keluar membasahi pipinya. "Justru, aku yang harus minta maaf" kata Safira. "Aku yakin kamu sekarang juga masih gak percaya sama aku" lanjut Safira. "Sekarang pilihan ada di kamu" kata Safira.

Gua kaget. Tangisnya bukan tangis kebohongan. Tangis penuh dari hati yang tulus merasa sakit. Gua yakin Safira merasa sakit gara - gara kata - kata gua barusan. Gua langsung peluk Safira dengan erat, dan gua elus - elus punggungnya. "Maaf" kata gua. "Kamu gak salah kok" lanjut Safira. "Aku emang cewek seperti yang dikatakan Reza, Reza gak bohong" kata Safira. "Engga, aku yakin kamu udah berubah aku percaya sama kamu Fir" kata gua. "Karna aku cinta sama kamu" lanjut gua.

Mulut gua bergerak liar. Mendekat dan menyentuh bibir Safira. Bibir kami berdua saling bertemu. Pipi yang basah oleh air mata sangat terasa. Gua merasa bersalah udah buat Safira menangis.

***

Gua terbangun, hari juga udah mulai gelap. Gua gak tau ini jam berapa. Safira gak gua temukan sama sekali. Gua berjalan menuju ruang tengah disitu begitu gelap dan kosong. Padangan gua sedikit kaburm gua gak mengerti kenapa pandangan gua kabur padahal gua gak minum atau nge ijo sama sekali. Bau harum bunga - bunga tiba - tiba tercium oleh gua. Wanginya begitu harum dan tiba - tiba ada yang memluk gau dari belakang, begitu halus dan lembut kulit yang gua rasakan.

Hitam gelap dan sunyi. Gua berada disini, kegelapan yang entah dari mana tiba - tiba muncul. Gua hanya mendengar suara - suara aneh yang gua sendiri gak tau itu suara apa. Menakutkan dan membuat gua mau pecah dan mati. Gua teriak - teriak tapi sayangnya suara gua gak keluar sama sekali. Sosok putih mendekat ke arah gau dan menarik gua masuk ke dalam lubang putih.

Setelah gua masuk ke dalam lubang putih tersebut gua seperti berada di bawah pohon sedang tertidur di atas pangkuan Safira. Safira tersenyum ke arah gua sambil menatap mata gua, dan tangannya mengelus - elus kepala gua. Safira berbicara tapi entah kenapa suaranya tidak keluar. Gua pejamkan mata gua dan gua kembali ke tempat gelap dan sunyi tersebut.

Gua gak mengerti apa yang sedang gua alami sekarang. Gua berharap kalo ini hanya sebuah mimpi buruk yang menganggu tidur gua. Tapi sayangnya otak gua dan naluri gua berkata kalo ini adalah sebuah kenyataan. Sebuah gambaran dan cuplikan yang gua sendiri tidak tahu itu siapa. Sosok cewek cantik muncul dalam gambaran yang gua lihat. Dia sedang tertawa dengan seorang cowok yang mukanya seperti disensor oleh cahaya.

Dan seketika semuanya buyar. Di sini terasa gempa yang begitu dahsyat dan gua merasa gua melayang dan hitam kembali menghampiri gua.

Padangan gua kembali normal. Gua berada di ruang tengah. Kini ruang ini terang dan ada Safira di depan gua. Ketika gua tersadar pandangan yang kabur perlahan kian jelas. Gua terkaget dan bingung apa yang gua hadapi tadi. Gua gak ngerti itu fenomena apa. Dan gua bingung siapa cewek yang ada di dalam fenomena tersebut.

"Yog kamu kenapa?" tanya Safira. Safira keliatannya begitu panik dan gelisah melihat gua seperti ini. "Aku gak apa - apa" kata gua singkat. "Tapi kamu aku liatin melamun, aku coba sadarin kamu, kamu gak naggepin aku sama sekali, tadi aku kaya ngomong sama tubuh tanpa arwah" kata Safira. "Aku bener gak apa - apa kamu gak usah panik" kata gua. "Hmm, iya - iya. Tapi kalo kamu kenapa - kenapa kamu cerita ya, aku gak mau kamu kenapa - kenapa" kata Safira sambil memeluk gua. 

Rasa penasaran gua makin memuncak tentang fenomena yang gua hadapi barusan. Logika gua terus berputar dan mencari jawaban, apakah itu?
mantull Gan..langsung double up date...
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Jangan jangan itu tuh emoticon-Leh Uga
Asik nii
Quote:


apa itu emoticon-Bingung

Quote:


asik asik joss
Halaman 2 dari 4


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di