CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Story Of Lifetime (Life, Laugh, Love, Horor) Based On My Own Story
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b54be981cbfaa5d7d8b4570/story-of-lifetime-life-laugh-love-horor-based-on-my-own-story

Story Of Lifetime (Life, Laugh, Love, Horor) Based On My Own Story

Permisi agan dan sista...Setelah membaca banyak sekali cerita di forum ini sebagai SR, ane jadi kepingin buat menceritakan kisah keluarga ane emoticon-Malu (S)emoticon-Malu (S)

Ane masih newbie di forum ini gan, jadi mohon bimbingannya yaa..kalo ane ada salah ketikan atau sekiganya menyinggung agan dan sista sekalian, ane rela kok di jewer gan emoticon-Blue Guy Smile (S)emoticon-Blue Guy Smile (S)

Rule nya sama kayak yang lain, yang terpenting sih No SARA ya gan emoticon-Betty (S)emoticon-Ngakak (S)

Soo..ane cuma maau bilang...Happy Reading, dan and gak nolak kok kalo dikasih cendol gan~ emoticon-kisssingemoticon-kisssingemoticon-kisssing


Story of Lifetime

Prolog

Malam itu adalah malam minggu saat ane, bapak, dan ibuk duduk depan pintu rumah mengulang cerita kenangan kami saat dulu tinggal di perkebunan kelapa sawit. Ada banyak kenangan yang kami ingat, sampai pada suatu titik, di dalam hati ane menertawakan betapa lucunya kehidupan berjalan.

Ane akan menceritakan kisah-kisah yang terjadi dalam keluarga ane. Ada yang lucu, ada sedih, ada yang bikin haru, dan ada yang horor. Apa yang ane ceritakan adalah kisah nyata keluarga ane, barangkali agan-agan pun mengalami seperti yang keluarga ane alami, mari kita bertukar pengalaman. Dan semoga, apa yang terjadi pada keluarga ane agan-agan sekalian bisa mengambil hikmahnya. Aamiin.

Ane punya banyak nama, tergantung dimana ane berada, dengan siapa ane bicara, dan situasi apa yang ane hadapi. Di rumah orangtua ane, ane dipanggil Neng. Orangtua angkat ane ngasih panggilan Dwi buat ane. Di zaman SD, temen dan guru ane manggil dengan sebutan Nana. Dari zaman SMP sampai SMK, ane dipanggil dengan nama Sona. Di masa sekarang dan di kampus, ane dipanggil Sonja. Ane masih punya panggilan lain, dari yang normal sampai nyleneh, dari Nduk, dedek, sampai mak lampir pernah tersemat pada diri ane. Tapi dari semua nama yang disematkan orang-orang, ane lebih suka panggilan Sonja. emoticon-Embarrassment

Ane adalah seorang putri dari pasangan bapak Sutar dan ibu Wati yang menikah dua puluh lima tahun yang lalu. Ane adalah anak kedua yang naik pangkat menjadi sulung setelah kangmas ane, Karso, dipanggil duluan oleh Sang Khaliq di menit ke lima setelah kelahirannya. Ane punya dua adik laki-laki yang tingginya bak tiang listrik, beda jauh sama ane yang semekot (emoticon-Sorry). Pada mereka berdua, ada banyak penyesalan, kasih sayang seorang kakak, dan kemarahan yang gak mampu ane ungkapkan.

Keluarga ane tinggal di sebuah rumah peninggalan dari mbah lanang dari pihak ibuk. Rumah ane kecil, hanya ada ruang tamu, satu kamar tidur, dapur kecil tempat ibuk masak, dapur luar tempat ibuk menyimpan perkakas lain yang sekiranya gak muat ditaruh di dapur dalam, dan kamar mandi yang alhamdulillah udah tertutup tembok.

Keluarga ane pindah ke rumah ini sejak ane kelas dua SMP. Sebelumnya, ane dan keluarga ane tinggal di sebuah rumah ditengah perkebunan kelapa sawit di wilayah Sumatera Barat. Rumah ane yang dulu besarnya dua kali lipat dari yang sekarang gan, makanya rumah ane yang sekarang terkesan sempit karena koleksi barang-barang ibuk yang katanya sayang buat dibuang. Ane tinggal di perkebunan kelapa sawit sampai tamat SD. Masuk SMP, ane memberanikan diri buat minta pindah ke rumah mbah, meski dalem hati tau bahwa tinggal bersama keluarga yang lain tidaklah seenak tinggal sama ibu-bapak sendiri.

Cerita ane akan dimulai sejak masa-masa tinggal di perkebunan kelapa sawit. Karena di masa itu lah, lingkungan membangun karakter keluarga ane menjadi yang sekarang.

Bersambung...
profile-picture
anasabila memberi reputasi
Diubah oleh sonja6006
Halaman 1 dari 2
Part 1 (Kisah Bapak dan Ibuk)

Bapak mulai bekerja di perusahaan ini sejak masih babat alas (buka lahan). Kala itu, bapakku adalah seorang bujangan, yang mahir mengendarai sepeda motor, dan memiliki sedikit ilmu kehutanan yang diajarkan oleh kakek. Bapak ditempatkan di sebuah lokasi yang masih berupa hutan di wilayah Jambi, yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah kakek. Bapak mulai bekerja sebelum beliau menyelesaikan pendidikan SMA, dan ikut kakek survey ke calon lokasi perkebunan. Sejak itu, bapak tidak melanjutkan pendidikannya.

Bapak bertemu ibuk saat bangunan kantor sudah didirikan, sawit-sawit muda sudah mulai berbunga sekitar enam tahun sejak lahan mulai dibuka. Ibuk menempati posisi sebagai krani, ane kagak tau persisnya krani itu apa, yang jelas ibuk adalah perekap hasil kerja harian.

Dari ceritanya bapak, ibuk dulu adalah orang yang judes, nyablak, dan pelit senyum (sekarang ane tau darimana sikap judes ane berasal gan, hehey). Sebelum bapak mulai mendekati ibuk, kakek ane sudah mengatakan bahwa bapak akan berjodoh dengan ibuk (lain kali ane akan cerita tentang kakek). Seperti remaja lelaki biasa, bapak yang tau sifat ibuk yang judes kayak cewek gak butuh cowok, merasa ogah banget punya istri yang judes begitu. Dilain sisi, ibuk ane mulai digodain sama temen-temennya kalo ibuk bakal jadian sama bapak. Dan you know what, ibuk ane memberi respon yang sama.

"Ih, amit-amit lah aku punya suami gondrong, item, jelek, kumisan, gak rapi kayak dia. Belum-belum udah iritasi duluan mataku liat dia." kata ibuk saat temen-temennya mulai menggoda saat bapak habis ngasih laporan kehadiran anggota pemupuk.

Pun begitu, makhluk mana yang mampu melawan kehendak Allah?

Karyawan Perkebunan Jambi saat itu rata-rata masih bujang dan masih gadis. Para bujangan mendominasi pekerjaan lapangan, termasuk bapak. Para gadis ditempatkan di kantor, termasuk ibuk. Sialnya, pada masa itu, temen-temen bapak dan ibuk menjalin hubungan sampai menyisakan ibuk dan bapak yang masih betah sendiri. Di masa inilah, proses pendekatan yang menurut ane aneh terjadi antara ibuk dan bapak.

Saat itu hari jumat sore. Ibuk sedang menunggu mobil proyek untuk numpang keluar dari kebun sampai jalan raya, lalu mencari angkutan yang akan membawa ibuk pulang ke rumah mbah. Entah skenario apa yang terjadi sampai hari itu gak ada satupun mobil proyek yang keluar dari kebun. Belum lagi hujan yang dari siang gak berhenti turun. Ibuk menunggu di pos satpam, masih berharap ada mobil proyek yang akan keluar menuju kota.

Lama ibuk nunggu, sampe tersiratlah keinginan kembali ke kamp. Ingin hati demikian, tapi apalah daya hujan yang deras akan membuat ibuk sulit berjalan dengan tas kain berisi baju dan buku kerjanya. Bisa mati digibeng atasan kalau buku kerjanya rusak karna hujan. Saat maghrib mulai menjelang, dengan menggunakan mantel betmen, bapak ane melintas dengan niatan pulang ke rumah kakek yang juga harus keluar kebun, hanya saja rumah kakek berbeda arah dari rumah mbah. Ibuk yang melihat bapak berhenti didepan pos, mendengus duluan saking malasnya berurusan sama bapak.

"Kamu ngapain disini sendirian?" Tanya bapak turun dari motor dan mendekat pada ibum agar suadanya bisa mengalahkan hujan.

"Nunggu mobil." Jawab ibuk ketus.

"Jam segini gak ada mobil yang keluar. Hujan dari tadi siang bikin jalan gak bisa di lewatin mobil. Jembatan sungai banjir, diluar ada banyak mobil mau masuk tapi gak bisa." Kata bapak menjelaskan.

Bukannya menanggapi penjelasan bapak, ibuk ane malah menatap jijik pada lumpur yang menempel pada sepatu bot sampaia lutut bapak. Belum lagi lumpur pada motorr bapak, membuat ibuk semakin malas buat liat bapak.

Karena gak ada tanggapan dari ibuk, bapak berbalik buat menyingkirkan lumpur yang menempel pada mesin motor, masih dengan mantel betmen yang bapak pakai. Setelah lumpur pada mesih disingkirkan, bapak masuk kedalam pos, membuka mantelnya, dan mengeluarkan air dari separu botnya.

"Jauh dikit, airnya kena aku." kata ibuk mengernyit.

"Iya, iya." bapak menjawab tanpa melihat ibuk. Setelah air di sepatu botnya dikeluarkan, bapak duduk di ujung bangku panjang yang diduduki ibuk.

Ibuk yang melihat bapak duduk sambil menyulut rokok setengah basahnya, bertanya dengan ketus, "Ngapain malah duduk disini?"

Bapak melirik sebentar, masih berkutat pada korek api yang gak mau menyala. Agaknya korek bapak masuk angin, mungkin. "Nemenin kamu lah. Kamu itu gadis, gak baik sendirian disini. Hujan pula." Kata bapak yang nyerah nyalain rokok.

Meski kesal, diam-diam ibuk merasa agak lega karna ada yang nemenin. Mending begini deh, daripada duduk bengong sendirian.

"Rumahmu dimana?" tanya bapak setelah ibuk diam seribu bahasa tanpa niatan buat bilang apa-apa.

"Batang." kata ibuk singkat.

"Acara di rumah penting nggak?" tanya bapak lagi.

Ibuk bingung. "Acara apaan?"

"Ini kamu sampai nunggu disini lama-lama padahal nggak ada mobil yang lewat, berarti di rumahmu ada acara penting kan?"

Ibuk ketawa. Ternyata bapak mengira di rumah sedang ada acara. Padahal ibuk duduk disini karna bingung gimana caranya pulang ke kamp dengan selamat, dan buku kerja nggak basah. Ibum cuma geleng-geleng.

Bapak yang ngerasa ibuk aneh, cuma masang tampang bingung. "Yaudah, nanti kalau reda aku antarin kamu pulang sampai rumah. Bangunin kalau reda ya." Kata bapak meluruskan kakinya dan menutup muka dengan topi yang ada di dalam tas, berniat molor sebentar.

Bersambung...
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Balasan post sonja6006
ceritanya kerennnn, semangat up date ...
Quote:


Yoi gan..thanks udah mampiir
Ninggalin jejak gan, kayaknya bakal rame
lanjut sis ....gelar tiker dulu ahhh...
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Balasan post xenavic
reply (part 2)

lanjuttt ... bahasanya simple, enak & gampang ngerti ....
Part 2 (Bapak dan Si Judes)

Sejatinya di sore itu bapak gak tidur. Bapak menutup mukanya dengan topi cuma untuk menghindari delikan tajam ibuk. Daripada canggung, bapak memilih diam dan pura-pura tidur, selain buat kenyamanan bapak yang nemenin ibuk, juga biar ibuk gak merasa makin risih sama bapak.

Hujan mereda setelah hari gelap. Saat ibuk melirik jam tangan, jarum jam menunjukkan saat itu sudah pukul setengah sembilan malam. Bapak tau ibuk ane gelisah, ragu antara mau bangunin bapak atau langsung berjalan ke kamp. Jadi saat satu mobil proyek berhasil menembus jalan penuh lumpur khas perkebunan kelapa sawit, bapak menyingkirkan topi dari wajahnya dan berakting seolah bapak tidur pulas. Padahal mah, merem juga nggak. Tentu saja ibuk bersyukur bapak bangun tanpa harus dibangkan, setidaknya ibuk akan bebas dati gosip "Wati pegang-pegang Sutar buat bangunin di pos satpam. Wah bakal ada undangan nih dari mereka.", pikir ibuk. Amit-amit, gumamnya dalam hati.

"Sudah reda, ayo pulang." kata bapak bersiap-siap memakai kembali sepatu bot nya meski masih basah.

"Err..ini udah malam. Aku pulang ke kamp aja."

"Yakin?" tanya bapak, yang dijawab anggukan ragu dari ibuk.

"Di kamp orang pada sepi loh. Tengah malam nanti lampu bakal mati. Temen satu kamp-mu ada nggak?"

"Eh..mereka sibuk kayaknya." Jawab ibuk mencicit. Dalam hatinya ibuk mengumpati temen-temennya yang sejak tadi siang sibuk sama pasangan masing-masing. Setelah dipikir, alasan ibuk ingin pulang salah satunya ya karna malas harus jadi kambing congek di kamp sendiri.

"Yakin gak jadi pulang ke Batang?" tanya bapak sekali lagi.

Ibuk menatap bapak sebentar, lalu mengangguk. Setelah mendapat jawaban tanpa suara dari ibuk, bapak cuma bisa angkat bahu kemudian mulai men-starter motornya untuk melaju pulang.

Sejatinya ibuk merasa agak gak rela ditinggal. Bukan kenapa-kenapa gan, dipikir ibuk bapak bakal nganterin ke kamp sebelum melaju pulang. Bayangin aja, untuk pulang ke kamp nya, ibuk harus melewati jalan yang becek dan berlumpur. Belum lagi ibuk harus melewati bangunan bengkel di sisi kiri dan gudang pupuk di sisi kanan. Meski ibuk ane bukan orang yang mampu melihat mereka yang tak kasat mata, ibuk tetap merinding lah kalau harus jalan kurang lebih lima ratus meter sendirian. Serius, ane pribadi benci sama ketakutan diri sendiri terhadap hal-hal yang gak bisa ane lihat.

Menghela napas setelah tidak lagi melihat lampu motor bapak, ibuk masih duduk terdiam di tempatnya. Pikiran-pikiran parno mulai menyambangi ibuk. Pulang ke kamp akan membuat sepatu ibuk penuh lumpur, dan tas yang dijinjingnya kemungkinan juga akan kecipratan. Penerangan sepanjang jalan juga gak begitu bagus. Duduk disini sampai pagi malah akan semakin menakutkan. FYI gan, perkebunan kelapa sawit saat itu masih sering disambangi babi liar. Ketemu babi liar bagi ibuk sama buruknya dengan ketemu setan.

Sementara ibuk terduduk menimbang keputusan yang tepat, bapak yang hampir mencapai tanjakan pertama kepikiran dengan keselamatan ibuk. Bagaimana mungkin bapak meninggalkan seorang gadis di pos satpam, dengan penerangan minim, kondisi jalan becek, dan sendirian? Menyadari harusnya bapak mengantarkan ibuk, akhirnya membuat bapak balik arah untuk menjemput ibuk meski nantinya akan kena damprat.

Saat bapak kembali memasuki perumahan, bapak melihat lampu di pos satpam sudah mati. Terbesitlah pikiran bahwa ibuk sudah nekat pulang ke kamp dengan segala risikonya. Pun demikian, untuk memastikan dugaan bapak benar, bapak tetap melajukan motornya kearah pos satpam. Yang bapak dapati malah membuatnya heran, geli, dan kasihan di saat bersamaan. Bagaimana tidak, ternyata ibuk masih duduk di bangku itu, dengan kedua kaki tertekuk keatas, dan wajah dibenamkan diantara lututnya.

"Wat," panggil bapak.

Ibuk yang terkejut mendengar suara bapak, mendongakkan kepalanya.

"Ayo, aku antar sampai rumahmu." Kata bapak. Belum ibuk menjawab, bapak sudang mengangkat tas ibuk yang berisi baju dan buku kerja.

Singkat cerita ibuk pada akhirnya mengalah dan menuruti bapak untuk naik motor pulang ke Batang. Itupun setelah perdebatan alot dan sedikit ancaman dari bapak bahwa besok senin bapak akan menyebar gosip bahwa mereka menghabiskan malam bersama. Memikirkan ancaman bapak sudah membuat ibuk jijik sendiri. Bagaimana mungkin ibuk menghabiskan malam bersama orang yang paling dia benci se-perkantoran?

Mereka tiba di depan rumah ibuk pada pukul 12 malam. Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama satu setengah jam kini jadi dua kali lebih lama karena medan yang di tempuh cukup sulit. Terbayang kan gimana tanah merah yang habis di guyur hujan?

Turun dari motor ibuk langsung disambut tatapan tajam dari kakaknya, pakde ane gan. Melihat ini pertama kalinya ibuk diantar oleh laki-laki membuat pakde mendelik tidak suka. Lebih-lebih lumpur yang menempel dimana-mana, membuat mata pakde makin mendelik. Tanpa tersenyum, pakde menyuruh ibuk masuk ke dalam yang langsung dituruti daripada omelan tak berujung akan menjejali kupingnya.

Setelah mengucapkan terimakasih dengan sama ketusnya seperti ibuk, pintu rumah langsung di tutup sebelum bapak balik badan. Melihat miripnya sikap kakak dan adik itu, bapak hanya bisa menghela napas dan mengelus dada.

Bersambung...
Quote:


Monggo gan, moga betah yess
Quote:


Udah apdet gan emoticon-Malu (S)emoticon-Malu (S)
Diubah oleh sonja6006
Quote:


Heheeyy thanks gan emoticon-Malu
ijin nenda dimari gan, keep update yoemoticon-Jempol
Blm di-update lg gan???udh ampir 2minggu nih
Part 3 (Ibuk dan Depresinya)

Beberapa bulan setelah kejadian bapak nganterin ibuk ane pulang ke rumahnya dan disambut pelototan tajam pakde, ibuk dan bapak ane menikah. Ane gak tau gimana persisnya proses yang mereka jalanin sampai akhirnya menikah karna setiap ane tanya bapak hanya tersenyum, dan ibuk lebih milih sibuk.

Ibuk dan bapak ane menikah tahun 1991, bulan desember tanggal 10. Kenapa ane tau? Karena ane dilahirkan lima tahun kemudian, di tanggal yang sama.

Jauh sebelum ane lahir, ibu pernah hamil. Setelah menikah sama bapak tentunya (ibuk ane ting ting bree emoticon-Ngakakemoticon-Malu). Kehamilan ibuk jelas mematri senyum sumringah di wajah bapak, dan keluarga besar ane. Secara, bapak yang anak tertua dan ibuk yang anak bungsu akhirnya akan mendapatkan anak pertama mereka.

Meski kehidupan tidak berjalan sebaik di sinetron-sinetron, bapak tetap berusaha menghidupi ibuk. Ibuk masih tetap bekerja dan masih tetap di kenal sebagai krani judes. Saat menjelang melahirkan, bapak meminta ibuk untuk berhenti bekerja.

Semua terasa sempurna. Kebahagiaan tumpah ruah di keluarga ane. Semua orang mendoakan yang terbaik untuk kelahiran anak pertama ibuk dan bapak. Sampai suatu siang, ibuk bermimpi meraih bulan. Ibuk cerita bahwa dalam mimpinya, bulan seakan hanya sejengkal dari jangkauan ibuk. Tapi semakin ibuk mengejar, semakin jauh pula bulan tersebut.

Ibuk menceritakan mimpinya pada bapak dan kakek. Bapak hanya menganggap itu adalah bunga tidur semata. Tapi kakek hanya diam. Tidak berkomentar, dan memilih pergi ke ladang. Melihat reaksi kakek, ibuk mulai merasa ada yang salah.

Dan firasat ibuk benar. Lima menit setelah ibuk melahirkan, kang mas ane meninggal. Ibuk bahkan gak sempat melihat jasadnya. Dan tangan bapaklah yang mengantarkan kang mas ke liang lahatnya.

––––––––––––––––––––––––––––

Yang terjadi selanjutnya, ibuk depresi. Berbulan-bulan lamanya ibuk menyendiri di kamar. Menjauhi semua keluarga dan trauma saat ingin punya anak lagi.

Bapak ane keluar dari kerjaan demi menemani ibuk yang tak kunjung mau bicara. Buat agan agan yang sudah berkeluarga, pernahkan terbayang dalam benak agan sekalian betapa sedihnya seorang ibu yang kehilangan putra pertamanya tepat setelah melahirkan, bahkan tidak sempat melihat jasad putranya?

Tiga tahun lamanya ibuk dan bapak ane tinggal di rumah keluarga bapak. Bersama kakek, nenek, dan dua adeknya bapak. Diasana pula, banyak hal terjadi yang sampai sekarang masih meninggalkan bekas di hati ibuk.

Hampir setahun lamanya ibuk memulihkan diri, selama itu pula bapak mendampingi ibuk. Sampai pada saat kondisi keuangan keluarga terpuruk, bapak memutuskan untuk merantau bersama suami adeknya. Masih dalam perusahaan yang sama, hanya saja lokasi yang cukup jauh dari rumah. Pada saat itu, jalanan masih berupa tanah merah. Kebayang kan gimana ribetnya jalanan kalau sudah hujan deras?

Sepeninggal bapak pergi merantau, ibuk lebih banyak diam. Ibuk tidak mengeluh saat hampir semua kerjaan rumah dibebankan padanya. Ibuk diam saja saat adik bapak paling kecil yang masih sekolah bertingkah kurang ajar. Ibuk diam saja saat tidak punya uang dan memasak seadanya. Tapi ibuk mulai panas saat keadaan sangat tidak punya uang, tidak ada bahan untuk memasak, dan saat pulang sekolah adek nya papa menendang bakul nasi tepat di depan ibuk.

Puncaknya, saat selama dua tahun ibuk tak kunjung hamil, adik bapak yang suaminya ikut bapak merantau mengatakan ibuk ane mandul.

Saat itu, ibuk seperti orang kesetanan. Bisa-bisanya sesama perempuan, bersaudara ipar, tega mengatakan ibuk mandul. Jika kakek nggak turun tangan menengahi ibuk dan bulek, mungkin nyawa bulek sudah melayang di tangan ibuk.

Dua masa itu lah, yang sampai saat ini masih tersimpan di benak ibuk, dan memunculkan kebencian lebih besar di kemudian hari.

Sejak kejadian pertengkaran hebat antara ibuk dan bulek, ibuk memutuskan kembali ke rumah orangtuanya. Bapak yang saat itu masih merantau di beritahu oleh kakek untuk segera pulang dan menyusul ibuk. Tentu saja bapak langsung pulang. Tidak lagi di pedulikannya entah kerjaan apa yang saat itu sedang dia kerjakan. Adek iparnya serta-merta bapak tinggalkan untuk segera pulang.

Setibanya bapak di rumah kakek, terkuaklah semua tingkah laku dan omongan adek adeknya pada ibuk. Jika saja bapak mengikuti emosinya, jelas rumah kakek akan porak poranda di tangan bapak. Menelan bulat-bulat emosinya, bapak pun menyusul ibuk ke Batang.

Tangis depresi kembali melingkupi ibuk, bapak yang melihat kondisi ibuk jadi tidak tega untuk meninggalkan ibuk lagi. Akhirnya, bapak memutuskan untuk berjualan mie ayam di pasar dekat rumah mbah.

Setahun kemudian, ibuk hamil. Meski masih tersirat ketakutan di mata ibuk, tapi ibuk sudah mulai tersenyum. Itu adalah hal terlega yang dirasakan bapak.

Tepat pada 10 desember 1996, ane lahir.

Bersambung...
–––––––

Sorry lama updatenya agan agan yang Budiman. Beberapa hari ini ada banyak masalah yang muncul di keluarga, dan nanti akan ane ceritakan di lain part.

Anyway, thanks udah bersedia baca cerita ane emoticon-Pelukemoticon-Malumaluemoticon-Malu
Diubah oleh sonja6006
Quote:


Monggo gan, sorry lama update nya emoticon-Malu
Quote:


Iya gan, sorry lama update nya..monggo di simak gan emoticon-Angkat Beer
Part 4 (Masa Kecil dan Sakit)

Sejujurnya, ane gak bisa ingat masa-masa kecil ane gimana. Banyak kenangan masa kecil ane yang terlupakan, dan baru ane ketahui setelah diceritakan oleh orang-orang terdekat ane. Jadi ane akan menceritakan semampunya.

Setelah ane lahir, ibuk dan bapak benar-benar menjaga ane. Ane gak pernah ditinggal sendirian. Ane selalu digendong kemana-mana. Ane dikenalkan pada orang sekampung. Sekampung dari keluarga ibuk dan bapak. Sampai hari ini, orang-orang tua yang ada di sekitar rumah kenal sama ane, tapi ane yang gak kenal mereka.

Dari cerita ibuk, ane adalah bocah kecil yang sok pinter dan cerewet. Bertanya ini itu sampai ibuk kelabakan jawabnya. Ane telat belajar jalan. Sampai umur satu setengah tahun ane masih ngesot. Tapi sekalinya ane bisa berdiri, ane langsung bisa lari.

Dari cerita bapak, ane selalu menuntut jalan jalan pagi dan sore saat bapak akan berangkat dan pulang kerja. Dan dari cerita nenek, ane adalah anak yang penyakitan.

Ini benar adanya. Dulu, ane gak bisa makan apapun selain bayam dan pisang rebus. Tiap ane makan makanan lain, badan ane akan bengkak-bengkak kayak abis disengat tawon. Bukan di satu bagian tubuh aja, tapi merata dari wajah, kuping, tangan, perut, sampai kaki.

Segala pengobatan sudah dijalani, dari medis sampai non medis. Penyakit ini lah cikal bakal ane terlibat dalam dunia yang gak bisa ane lihat. Dan itu semua diberikan dari kakek.

Lambat laun penyakit bengkak-bengkak ane menghilang, tapi sebagai gantinya kulit ane sensitif terhadap luka. Setiap luka, meski cuma digigit nyamuk akan meninggalkan bekas bernanah.

Menjelang ane dua tahun, bapak kembali di panggil perusahaan perkebunan kelapa sawit tempat bapak bekerja dulu. Kali ini, bapak ditawari untuk bekerja ke pedalaman Sumatera Barat. Setelah diskusi dengan ibuk, dan ibuk yang sudah muak tinggal dengan mertua, akhirnya kami sekeluarga pindah.

Tempat yang kami tuju ternyata sudah berbentuk sebuah PT. Namanya PT. Marama. Pemukiman nya sudah cukup memadai, kamp yang digunakan oleh karyawan tetap sudah semi permanen. Sumber penerangan masih menggunakan genset besar yang berisik, tapi setidaknya sumber air sudah menggunakan pipa.

Setelah beberapa lama dari kepindahan kami, barulah diketahui bahwa banyak tetangga kami yang berasal dari daerah yang sama. Bahkan dari kelurahan yang sama, cuma beda desa. Yang paling baik dan berjasa pada keluarga ane adalah Bude tentrem dan pakde ajir. Sekarang, mereka sudah dipanggil oleh Sang Khaliq.

Bude tentrem sangat ingin punya anak. Sudah bertahun-tahun mereka menikah tapi tak kunjung diberikan momongan. Karena itulah, and dianggap sebagai anak oleh beliau. Segala keperluan dan permintaan ane dengan sukarela beliau penuhi. Setiap beliau ke warung tak pernah lupa membelikan sesuatu untuk ane. Saat itu, ibuk masih parno dengan penyakit ane sebelumnya sehingga agak melarang ane makan makanan asing. Terlebih tiap and makan makanan yang amis (telor, atam, ikan, dll), kulit ane akan segera gatal dan bernanah.

Kehidupan disana seingat ane sangat menyenangkan. Ane punya banyak teman, kebanyakan adalah laki-laki, dan ane berusia paling kecil. Jadi secara tidak langsung, ane adalah adik kecil bagi para abang-abang disana.

Sebagian dari teman-teman ane sudah memasuki usia taman kanak-kanak. PT. Marama memfasilitasi sebuah bangunan untuk dijadikan taman kanak-kanak ala kadarnya dengan tenaga pengajar adalah ibuk-ibuk para istri pegawai yang hidupnya selow dan berpendidikan tinggi (masa itu lulusan SMA udah wah banget gan).

Memasuki masa sekolah, teman-teman and pada masuk TK. Tinggalah ane sendirian gan. Awalnya sih ane seneng-seneng aja di rumah terus, tapi lama kelamaan ane jenuh. Ibuk menyediakan buku bacaan buat ane, meski ane belum bisa baca, ane bisa mengerti dari gambar-gambar yang ditampilkan dari buku. Tapi buku-buku gak bikin ane betah lama-lama di rumah.

Malam itu bapak bertanya pada ane;

"Neng, mau masuk sekolah juga nggak?"

Mendengar pertanyaan bapak, jelas ane langsung mengangguk. Meski ane baru lepas dari usia tiga tahun, ane sangat ingin bergabung di sekolah teman-teman ane. Melihat reaksi ane, bapak tersenyum dan bilang; "Ya udah. Besok bangun pagi ya, nanti bapak antar ke sekolah."

Ane kelewat gembira sampe melompat-lompat gak karuan. Saking senangnya, ane sampai demam.

Besok paginya, ane menangis karna dilarang bapak keluar rumah gegafa masih demam. Kata bapak, itu adalah tangisan and paling keras. Melihat ane yang histeris, jadilah ibuk mengantar ane ke sekolahan. Meski badan masih lemes dan panas, ane tetap ngotot mau ikut belajar sampai sekolah selesai. Dari cerita ibuk, ane gak sampai satu jam di sekolah karna langsung tidur setelah duduk di bangku ane.

Ibuk bilang emosi ane gampang berubah. Kemarin ane ngotot banget mau sekolah, hari ini ane gak mau sekolah karna demam yang belum kunjung turun.

Saat ane sakit itu, terkuaklah ternyata ane terjangkit sakit astma.

Bersambung...
kelamaan update jadi rada sepi nih treat yang lancar sis ,lanjut gan....
ninggal jejak
Part 5 (Kelahiran Bayu)

Pada masa itu, ane gak tau apa itu punya adik. Yang ane tau ibuk tambah gendut, makan nya tambah banyak, dan bapak sering elus-elus perut ibuk. Bapak bertanya begini saat perut ibuk di mata ane sudah seperti balon yang siap meledak;

"Neng, kalo punya adek mau nggak?"

Saat semua temen-temen ane pada punya adek, dan ane melihat mereka berantem mulu (apalgi yang punya adek banyak), dengan mantap ane menjawab; "Nggak."

Bapak langsung diam, ibuk pun sama.

"Kenapa kok gak mau? Kan nanti jadi mbak kalo neng punya adek?" tanya ibuk.

"Nggak mau, nanti mainan aku diambil dia." itu adalah jawaban ane, kata ibuk. Sampe sekarang ibuk masih sering ketawa kalo cerita ini.

Beberapa bulan kemudian, seperti hari hari biasanya, ane dianter bapak ke TK. Biasanya bapak ngantet pakr motor, tapi hari itu kami jalan kaki. Kata bapak biar sehat, padahal jalanan penuh dengan lumpur akibat guyuran hujan deras beberapa hari belakangan, dan as you know, tanah merah paling gak bisa kalo keguyur hujan.

Selama di sekolah ane bawaannya pengen pulaaang mulu. Gak tau kenapa. Mungkin karna sepagian ane liat muka ibuk pucat dan badannya panas kayak orang sakit.

Sebelum jam makan siang, ane dijemput bapak sama beberapa orang temennya. Bapak sudah pakai baju tebal dan bawain jaket and. Temen nya bawain tas besar, temen yang lain nunggu di jonder sama ibuk.

Iya bener. Jonder. Alat berat yang dipake buat muat sawit. Muka ibuk udah pucat pasi sambil meringis-ringis dan megangi perutnya yang kayak balon. Mana cuaca mendung, angin kencang, jalanan lumpur semua. Melihat kondisi ibuk, ane auto nangis gan. Anak mana coba yang gak panik liat ibuknya kesakitan karna perutnya jadi kayak balon, diatas jonder pula. Ngeliat ane nangis, bapak langsung gendong ane. Hari itulah pertama kali ane liat bapak panik.

Ane gak ingat berapa lama perjalanan ditempuh, yang jelas setiap goncangan dari jonder itu bikin ibuk nangis histeris. Ibuk nangis, ane juga nangis, bapak makin panik. Akhirnya ane digendong sama temennya bapak sementara bapak nenangin ibuk. Gak cukup dengan terpaan angin dan jalanan becek, cobaan berikutnya datang dari jembatan satu-satunya tempat nyebrang.

Sungainya banjir gan. Arusnya deras. Inilah alasan kenapa bapak demikian panik dan terpaksa nurunin jonder.

Dengan kepasrahan pada yang kuasa, bapak minta supir jondernya untuk nyebrang pelan-pelan. Di ujung jembatan sudah ada ambulance yang nunggu karna bapak sempat ngabarin anggotanya yang dari kota terdekat buat nyiapin mobil.

Masa-masa nyebrang di jembatan itu gak bakal bisa and lupain meski kepala ane pernah rusak gan. Kami jalan pelaan banget, di ujung sana ada orang-orang yang nunggu sambil teriak-teriak. Mobil ambulance sudah dalam posisi siap, petugasnya juga sudah menyiapkan entah apa sambil berdiri di tempat tidur lipat itu. Masa itu adalah masa paling kacau yang bisa ane selama empat tahun ane hidup gan.

Alhamdulillah, meski jalan nya pelan-pelan, kami berhasil nyebrang. Petugas ambulance langsung sigap bantuin ibu masuk ke ambulance. Ane gak boleh ikut masuk, jadi cuma bapak yang ikut ambulance. Ane ikut anggotanya naik motor. Yang terakhir ane lihat sebelum pintu ambulance ditutup adalah wajah ibuk yang pucat sambil merem.

Saat sampai di rumah bersalin terdekat, ane langsung lompat turun dan menghambur ke bapak. Ane gak boleh masuk ke dalam sama bapak. Di dalam sana ane dengar ibuk teriak sambil ngeden. Karna capek nangis mulu sepanjang jalan, akhirnya ane tidur di gendongan bapak, dengan cuaca diluar hujan deras, angin kencang, badai.

Malamnya, ane dibangunkan bapak. Saat bangun, ane ada di samping ibuk yang lagi meluk ane. Ane pengen tidur lagi, tapi ibuk bilang;

"Neng, liat adekmu gih."

Saat ane menoleh ke ranjang kecil di samping tempat tidur ibuk, ane ngeliat wujud kayak boneka kecil, di bungkus kayak lemper, anehnya itu wujud lagi merem kayak orang tidur. Ane digendong bapak buat mendekat.

"Ini adekmu. Namanya Bayu. Puta Bayu Gading Pratama."

Ane cuma diam. Masih terpesona liat wujud kecil yang di bungkus kayak lemper dan lagi tidur.

Hari ini, bertahun-tahun kemudian, nama itu adalah nama paling pemberontak dalam keluarga. Nama yang paling sering merasakan tangan ibuk dan bapak. Nama yang kepadanya lah ane merasa bersalah.

Bersambung...

Ini Jonder gan

Story Of Lifetime (Life, Laugh, Love, Horor) Based On My Own Story


Kira-kira gini kondisi jalan waktu itu

Story Of Lifetime (Life, Laugh, Love, Horor) Based On My Own Story
Diubah oleh sonja6006
Quote:


Hehe iya maap gan...sok monggo dilanjut bacanya gan


Quote:


Monggo bossqu~
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di