CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
JURNAL SEORANG CALON DOKTER
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b28ea8b529a45035c8b4568/jurnal-seorang-calon-dokter

JURNAL SEORANG CALON DOKTER

Hai Agan2 dan Aganwati, Salam kenal untuk semua teman-teman SFTH, ijinkan saya untuk  mencoba berlatih menulis dan berbagi cerita ya.
Mohon kritik dan saran dari teman-teman semua karena mungkin masih terdapat banyak kesalahan dalam penulisan cerita ini yang menjadi thread pertama saya di Kaskus.
 
 
Nama saya Jessy. Saya jebolan dari FK sebuah universitas swasta di Jakarta. Nah sebagian besar cerita saya ini adalah pengalaman ketika saya kuliah dulu. Baik waktu masa pre-klinik maupun klinik atau Ko-As. Pengalaman yang akan saya ceritakan tidak melulu tentang satu topik ( horror melulu)  Tapi lebih ke pengalaman sehari-hari yang saya jalani pada masa perkuliahan dulu.
 
Saya mulai saja ya ceritanya.
 
Part 1. – Ruang kelas Biologi .
 
Saya bukan seorang Indigo, bukan juga seseorang yang punya kemampuan untuk melihat, mendengar atau berkomunikasi dengan mahluk-mahluk halus. Tapi pernah ga sih kalian walau ga punya kelebihan seperti itu tetap merasa diganggu?
Nah salah satu pengalaman saya pas pertama kali banget kuliah adalah dengan Ruang Kelas Biologi.
Ruang kelas ini letaknya di lantai dasar dari FK saya. Letaknya tuh dipojokkan deket tangga paling ujung dari gedung ini.
Pada masa pre-klinik sih semua kuliah itu diadakan siang hari. Cuma hari itu saya harus balik lagi ke ruangan itu karena diktat saya yang penuh catatan sepertinya tertinggal di ruangan tersebut.
Dan besok ada tentamen (ujian yang tingkatannya diatas quis dan dibawah uts). Ya sudah, mau ga mau saya harus balik lagi dan ambil diktat itu.

Waktu itu sih sudah jam 17.30 WIB dan karena cuaca agak mendung, jadi suasana juga agak gelap.
Saya berdua teman saya Vonny berjalan menuju ruangan itu sambal ngobrol.
V : Koe wis belajar? ( Vonny ini orang Solo, yang perawakannya kecil mungil dan orangnya sangat halus dan lembut, sedangkan saya dari Palembang yang ga semungil dia daaaaan tau sendiri lha ya kalo orang Sumatera bicara seperti  apa… hahaha tentu lebih keras kalau dibandingkani orang Solo. Saya kenal sama Vonny ini bener pada hari pertama masuk kuliah, masa OSPEK. Nah Vonny ini walau tau saya orang sumatera dan ga bisa bahasa Jawa, tetep aja keukeuh ajak ngomong pake bahasa Jawa, karena dia juga belum terbiasa dengan bahasa Jakarta, jadi ya kalo didenger kita kalo ngobrol tuh seperti bebek dan ayam, tapi saling ngerti kok hehehe)
J : Belum Von. Makanya pokoknya itu diktat harus ketemu. Soalnya aku nyatat semua disitu.
V: Yo wis, kita cari pelan2 ya.
 
Sesampainya di ruangan kelas Biologi, kami segera menyisir ruangan itu. Lampu sih menyala, Cuma entah kenapa tetap terasa remang-remang, mungkin karena diluar juga mendung.
Ruangan kelas itu cukup besar, bisa menampung kira2 150-200 mahasiswa. Bangkunya modelan bangku yang terbuat dari kayu yang mejanya bisa di angkat itu.
Kami pun segera menuju ke posisi tempat tadi siang kami duduk dan mencari di bangku-bangku dan lantai sekitar. Baru 30 detik kami mencari, tiba-tiba terdengar suara orang berlari di lorong depan kelas. Seperti anak anak lagi bermain kejar2an.
Langsung kami berdua saling berpandangan.
V : Jes, Koe krungu ora?
J : Hah? Apa?
V : Itu lho ada suara bocah lari larian?
J : Oh.. Iya, aku denger.
V: Anak siapa ya sore2 begini?
J : Anak yang jaga kantin kali Von, biarin ajalah, ayo bantu aku cari diktatku lagi.
V : Itu bukan? Katanya sambal menunjuk lembaran fotokopian penuh stabillo dan coret2an.
J : Yes, bener itu punyaku. Thank yo.
V : Yo wis, pulang yuk. Aku kok ya merinding.

Tetiba terdengar suara anak2 berlari mendekat sambil tertawa. Suaranya seperti anak2 yang sedang asyik bermain kejar-kejaran.
Kami berdua segera keluar kelas dan berdiri di lorong depan kelas untuk melihat anak2 tersebut.
Tetapi lorong itu kosong, tidak ada siapapun. Bulu kuduk ku langsung berdiri, tapi aku memberanikan diri dan berkata ke Vonny.
J : Mungkin mereka naik tangga kesana Von, yuk pulang.
Kulihat Vonny pun seperti merasakan sesuatu yang tidak wajar, terlihat dari raut wajahnya yang terlihat takut.
V : Yow is Jess, kita pulang saja yuk. Aku kok takut.
J : Yuk, kita lewat tangga sana saja, sepertinya tadi anak2 itu berlari kearah tangga.
Kami pun segera mengarah ke arah tangga.
Tapi pas sesampainya kami di tangga yang aku maksud tadi, tangga itu  sudah terkunci dengan rolling door. Padahal jelas sekali suara anak- anak  tadi mengarah ke tangga ini.
Kami pun segera mempercepat jalan kami keluar dari gedung ini.
Dan sampai hari ini, kami berdua tidak tahu itu suara siapa. Karena menurut tukang kantin, dia tidak punya anak kecil, dan petugas2 disana tidak pernah membawa anak kecil.
Hmm…..
profile-picture
anasabila memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
wih hantu anak2 kah emoticon-Takut
Hmm..... menarik.


Quote:


Iya gan... banyak di kampusku


Quote:


Thank you gan... bakal di lanjutin kok
Part 2. – Anatomy

Anak FK yang kuliahnya masih pake sistem SKS pasti pernah dapat kuliah Anatomy. Kuliah Anatomy ini adalah mata kuliah yang mempelajari detail seluruh tubuh manusia. Mulai dari tulang belulang, susunan otot, pembuluh darah, dan susunan saraf. Pokoknya semuanya dipelajari di ilmu Anatomy ini. Nah, pelajaran ini ada praktikumnya. Kebayang dong kalo mata pelajarannya belajar tentang tubuh manusia, maka untuk belajarnya kita menggunakan mayat manusia.
Iya mayat beneran. Tentu bukan mayat segar, tetapi mayat nya sudah diawetkan dengan menggunakan formalin.
Ruangan Praktikum Anatomy kami besar, dan di dekat pintu masuknya, ada kolam besar yang tertutup berisi cairan formalin untuk meyimpan dan merendam mayat2 agar tidak cepat rusak. Kalo ditanyakan serem atau tidak? Awalnya tetap saja agak mengerikan belajar sambil memegang badan orang yang sudah meninggal dan diawetkan entah berapa tahun. Mata terasa pedas karena formalin, dan tangan terasa baal karena bersentuhan lama dengan badan yang sudah terendam formalin. Kami tidak diperkenankan untuk memakai sarung tangan dan masker dengan tujuan agar bisa membedakan antara arteri dan vena, otot dan tendon, bagaimana permukaan otot dan lemak. Sebelum memulai praktikum,kami sudah diwanti2 oleh dosen kami untuk memperlakukan mayat2 tadi dengan hormat dan hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
Nah kami ada kebiasaan yang sudah diturunkan dari senior-senior yaitu praktikum malam. Biasanya praktikum malam ini digelar semalam sebelum ujian praktikum anatomi. Ruangan biasa dibuka mulai pukul 8.30 malam, ketika kampus sudah sepi. Kami biasanya saweran untuk membayar jasa pak Ujang penjaga lab untuk mengangkat mayat2 dari bak formalin dan menyimpannya kembali. Biasanya ketua kelas dan yang master di bidang anatomi akan memberikan tutorial ulangan dan melatih kami untuk menyebutkan bagian2 yang ditunjuk oleh mereka yang diperkirakan akan diujikan besok pada waktu ujian.
Ini kali kedua aku ikut kelas malam ilegal ini. Dan entah kenapa, untuk sekali ini aku merasa ada yang tidak beres.
Tengkukku terasa dingin.
Aku mencoba maju kedepan untuk mulai fokus belajar.
Melihat aku yang menjulurkan kepala, ketua kelas langsung memanggil namaku
Ketua kelas : Ayo Jessy, yang jarum pentul ungu apa? (Kulihat jarum pentul itu terletak di area kelingking)
J: musculus flexor digiti minimi brevis ya? Kataku ragu.
Ketua kelas : ya benar, jangan ragu. Kalau ragu kamu coba gerakkan saja jarinya, lihat gerakan ototnya. Katanya sedikit menjelaskan.
Tiba2 aku merasakan angin dingin disekitar tengkukku lagi.
Dan tiba2 terdengar suara lirih, “ tolong balikkin”
Aku langsung berbalik badan, tapi ga ada siapa2 di belakangku.
J : Von, kamu denger ga?
V : denger opo toh?
J : itu suara tadi.
V : ya cuma suara koe jawab pertanyaan ketua kelas.
Hmm sudahlah... mungkin aku salah dengar.
Setelah kurang lebih satu jam kami mengulang bahan yang akan di uji besok, kami pun bersiap-siap pulang.
Tiba2 angin dingin itu terasa lagi. Dan kali ini terasa di samping kiriku. Dan tak jauh dari situ pak Ujang terlihat sedang mengamati pojokkan sambil komat kamit.
Aku menghampiri pak Ujang dan menyentuh bahu nya.
J: pak Ujang, terima kasih ya sudah membantu kami belajar.
PU : Eh iya neng, gpp. Ayo pulang neng. Sudah malam.
J : pak Ujang lagi liat apa tadi, kok sepertinya komat kamit.
PU : Biasa neng, biar pada ga gangguin. Soalnya kalo malam2 gini rame. Apalagi sejak kasus 3 tahun lalu.
Aku langsung melihat sekeliling, rame sih iya, kelompok yang belajar malam ini ada kurang lebih 30 orang. Tapi kalo dibanding siang ya kalah. Wong kalo siang bisa 80-100 orang.
J : Rame? Kasus apa pak Ujang.
PU : Dulu ada mahasiswa yang bawa pulang tanpa ijin, bahan praktikum yang kotak berisi tulang2 itu lho neng. Nah tulang bagian tangan kan kecil2 tuh. Ada yang kececer sepertinya. Kabarnya anaknya sering didatangin sama yang punya, sampai ketakutan dan ga tau sekarang dimana. Dan tulangnya juga ga ketemu. Makanya ini yang punya suka datang, nyariin tulangnya. Minta dikembaliin.
Aku cuma menelan ludah. Berarti aku ga salah dengar tadi.
Part 3 -- Kampus seberang

Untuk perkuliahan MKU alias (Mata Kuliah Umum) seperti Pancasila, Bahasa Indonesia, agama dan lainnya, kami mahasiswa FK harus datang ke kampus Ekonomi di seberang jalan besar. Semua mahasiswa dari seluruh jurusan akan berkumpul disana untuk mengikuti MKU. Nah Gedung Fakultas Ekonomi ini sebenarnya lebih baru dari gedung Fakultas Kedokteran kami. Tapi gedung baru itu tidak menjamin kalau gedung itu bersih ya dari hal –hal yang tidak kelihatan.

Nah hal itu saya dan teman2 saya sendiri yang mengalami. Jadi hari itu perkuliahan Bahasa Indonesia yang tadinya dijadwalkan jam 16.00 diundur jadi jam 17.00. Otomatis kuliah jadi selesai jam 18.30.
Ruangan kuliah kami terletak di lantai 15. Lantai atas dari mulai lantai 15- lantai 20 memang dikhususkan untuk MKU. Lantai kami sendiri masih ramai dan terang benderang kala itu. Jadi ya suasananya biasa saja. Tidak menyeramkan.

Kala itu perkuliahan sudah mau selesai, mungkin tinggal 5-10 menit lagi, tapi Vonny berbisik kepadaku
V : Jess, temenin aku pipis dong. Aku wedi sendirian.
J : Lha nanti malah ga enak minta ijin sama dosennya, soalnya kan kuliahnya sudah mau selesai.
V : Haduh, sudah kebelet banget ini.
J : Ya kamu ijin aja, gpp kok. Lagian toiletnya kan terang.
V : Yow is lha. Aku ak ke WC dulu.

Tak berapa lama dari itu, dosen pun menyudahi kuliah hari itu. Tetapi Vonny belum juga kembali ke kelas. Setelah kutunggu 5 menit masih belum datang juga, aku langsung membereskan buku tulis dan bolpoint Vonny. Ruangan kelas mulai sepi. Kalo kuliah sore menjelang malam seperti ini, mahasiswa memang sangat tenggo. Teng selesai langsung Go. Gerak cepat semua mereka.
Melihat ruang kelas yang mulai sepi, aku segera menyusul Vonny, sambal membawakan tas nya. Jadi bisa langsung pulang, tanpa perlu ke kelas lagi.

Sesampainya di toilet yang terletak di pojokkan, aku agak sedikit terkejut karena toilet sangat gelap. Kucoba mencari saklar lampu dan menghidupkannya, namun lampu tetap padam. Aku mencoba memanggil nama Vonny beberapa kali, namun tidak ada jawaban.
Kucoba menelpon Vonny, namun ternyata HP nya ada di tas yang berada di tanganku. Kulihat sekelilingku, Sudah tidak ada lagi mahasiswa, dan suasana mulai agak mencekam. Aku agak bingung mencari kemana si Vonny. Kulihat lantai 14 masih terang dan ada suara-suara gaduh mahasiswa. Maka kuputuskan untuk mencari Vonny di lantai 14. Mungkin ia ke WC di lantai 14 pikirku sambal menuruni tangga.

Begitu memasuki kamar mandi lantai 14, aku segera mendengar suara gemericik air. Ada satu mahasiswi sedang berkaca di sudut pojok kanan. Aku langsung memanggil nama Vonny.
J : Von…
V : Jess, itu koe ya? Sik ya ini meh kelar.
J : Halah, beloman? Koe pup ya?
V : Hush, koe tuh. Mbok ya kalo ngomong ora usah dipertegas. Malu kan kalau didengar orang.
J : Hhehehe, Maaf. Kataku cepat sambal melirik ke kanan melihat mahasiswi yang tadi. Tapi alangkah kagetnya saya karena mahasiswa yang tadi sudah tidak ada. Aku langsung melirik ke kamar mandi yang lain, dan ternyata kosong. Padahal kalau mahasiswi tadi mau keluar WC, harus melewatiku dulu. Perasaanku jadi ga enak.
J : Woi Von… cepetan yuk. Dah sepi nih.
V : Iya ini wis kelar. Katanya seraya membuka pintu. Kenapa toh? Kok mukamu seperti itu?
J : Iya Von, serem aja sudah sepi.
V : Wah koe wis bawain tasku ya. Matur nuwun nggih.
J : Iya sama-sama, ayo kita langsung ke lift ke bawah.
V : Yo wis.

Diluar WC, lantai 14 yang tadinya masih terang, sekarang sudah lumayan gelap. Banyak lampu yang sudah dipadamkan. Lift di setiap lantai terletak di kedua ujung gedung. Ujung Utara dan ujung Selatan. Karena posisi kami lebih dekat ke ujung selatan, maka kami segera bergegas kea rah lift di ujung gedung Selatan. Dari jauh, kami melihat ada mahasiswi yang akan memasuki pintu lift yang menuhu ke lantai bawah. Segera saja kami bergegas sambal sedikit berteriak
J : Mba… tolong ditahan lift nya. Kami juga mau turun.
Mahasiswi itu tidak menjawab. Tetapi ia menahan pintu lift agar tidak tertutup. Samar kulihat bajunya yang kukenali sebagai mahasiswi yang tadi kulihat di WC. Begitu kami sampai di lift, mahasiswi itu segera mundur ke bagian ujung belakang lift. Aku mengucapkan terima kasih padanya, tapi dia tidak menjawab, dan karena ia menunduk dan rambutnya menutupi wajahnya, lagi-lagi aku tidak dapat melihat raut wajahnya.

Begitu pintu tertutup, lift segera menuju kebawah. Aku dan Vonny berdiri berdampingan di bagian depan. Lift itu lampunya tidak terlalu terang dan bergerak sangat lambat. Ketika kulihat angka di panel menunjukkan angka 9, tiba2 udara terasa dingin dan samar-samar tercium bau anyir seperti bau darah. Aku melirik Vonny disebelahku. Sepertinya dia juga mencium bau itu karena kulihat air mukanya berubah dan seperti mengernyit. Aku segera menunduk untuk mencari tissue dari dalam tasku yang akan kugunakan untuk menutup hidung. Namun belum sempat aku menemukan tissue tersebut. Vonny sudah memegang tanganku dengan kencang sambal komat kamit mengucap doa.

J : Kamu kenapa sih Von?
V : Tadi koe lihat kan kalo ada cewek satu lift sama kita? Sekarang dia dimana?

Segera kuangkat kepalaku dan kulihat ke posisi tempat dimana mahasiswi itu tadi berdiri. Namun mahasiswi itu sudah tidak ada. Padahal daritadi lift bergerak turun dan tidak berhenti di lantai manapun. Bulu kudukku langsung berdiri dan hawa dingin itu kian terasa, begitu pula dengan bau anyir seperti bau darah semakin kencang.

Aku segera merapat ke arah Vonny yang sudah merengsek ke ujung depan dekat pintu keluar. Tak lupa kudaraskan juga doa-doa sama seperti Vonny. Berharap lift segera sampai di lantai 1. Tapi kulihat baru di lantai 4.

Ting….

Akhirnya kami sampai di lantai 1. Segera kutekan tombol yang berfungsi untuk membuka pintu lift. Begitu pintu terbuka, kami segera berlari keluar lift menuju pintu keluar kampus. Sebelum sampai di pintu keluar, Vonny menarik tanganku sehingga kami berdua berhenti. Tanpa berkata, ia menunjuk ke sudut kanan kampus. Segera mataku mengikuti arah jarinya. Dan apa yang kulihat sangat mengejutkan. Mahasiswi tadi. Aku tidak dapat melihat mukanya karena tertutup bayangan gelap. Tapi dari bajunya, aku mengenalinya. Kulihat ia membawa sesuatu di tangannya. Aku berusaha memfokuskan pandangan jarak jauhku.
Dan….
Ia berdiri dengan membawa kepala….
Yap kepala….
Kepala seorang wanita dengan rambut panjang. Matanya terbuka dan terbelalak mengerikan. Di bagian lehernya darah masih menetes-netes sehingga mengotori lantai dibawahnya.

Aku langsung menarik tangan Vonny, untuk lari sekencang2nya untuk meninggalkan kampus itu secepatnya.
ceritanya menarik, lanjutkan terus sis


Quote:


Thank you gan.
Jadi lebih termotivasi.
ane sebetulnya silent reader. tapi liat tulisan sista jd pengen komen.
terusin sis ceritanya. malah ane pengen tau juga gimana suka dukanya menjadi mahasiswa kedokteran. gak cuma pengalaman horor aja.


Quote:


Thank you ya Gan.
Comment agan bener2 bikin makin semangat nulis.
Oke, nanti ga melulu horror. Saya bahas juga yang lain.
Thanks again gan.
Baca jam segini kok rasanya biasa aja ya hehe..
lanjutin ya sis / gan..
ane masih penasaran yg anatomi ntu, kayanya horor dah.. emoticon-Hammer (S)
Quote:


ayo sis tolong diupdate lagi kelanjutannya emoticon-Smilie
ceritanya lain dari yang lain nih. dari pengalaman mahasiswa kedokteran
lanjut kan terus gan,
Part 4 – Kuliah Bedah.


Bedah adalah salah satu mata kuliah favoritku waktu jaman pre-klinik. Entah kenapa sepertinya ini sepertinya ilmu spesialisasi yang paling OK. Andaikata nanti aku diberi kesempatan untuk mengambil speasialisasi, pasti aku akan memilih menjadi dokter spesialis bedah. Kenapa? Coba kalian perhatikan, kebanyakan pasien yang datang ke dokter bedah, akan sembuh dari penyakitnya dalam waktu yang tak terlalu lama. Contohnya, pasien yang datang dengan keluhan usus buntu akut, pasien datang, diagnosis, operasi, beberapa hari kemudian pasien bisa melenggang kangkung dengan penyebab penyakit yang sudah hilang di operasi. Nah, bandingkan dengan dokter spesialis penyakit dalam, pasien yang cukup sering ditemui adalah pasien diabetes atau kencing manis. Pasien model begini, pasti akan berobat seumur hidup. Karena Diabetes memerlukan pengobatan seumur hidup. Jadi pasien akan rajin datang setiap bulan untuk cek gula darah dan minta diresepkan metformin, DPP4-inhibitor atau bahkan insulin.
Untuk mata kuliah Bedah, kami tidak kuliah di kampus seperti mata kuliah yang lain. Melainkan di rumah sakit Su*b** W*r*s. Hal ini dikarenakan para dosennya juga sibuk praktek dan operasi. Jadi dengan kuliah di rumah sakit, mereka tidak perlu menghabiskan waktu di jalan. Kuliahnya sendiri dilaksanakan di ruang kuliah pavilion As*ka. Dimana ruang kuliah ini dikelilingi oleh bangsal-bangsal tempat pasien dirawat. Kabarnya pavilion ini memang angker, karena katanya pernah sampai nongol di serial pemburu hantu jaman dulu.
Hari itu mata kuliahnya adalah mengenai luka gigitan binatang dan penanganannya. Yang memberikan kuliah waktu itu dr. Hasan Sp.B. Pagi itu beliau sedang memberikan kuliah tentang luka dan penanganannya secara umum, untuk bekal kami membuat tugas kelompok yang akan membahas lebih detail per masing-masing binatang.
Ruang kuliahnya lumayan besar, bisa memuat kurang lebih 150 mahasiswa. Ruangannya berbentuk auditorium atau model bioskop gitu lho. Yang bangku paling belakang, letaknya paling tinggi. Jadi yang duduk paling belakang masih bisa melihat dengan jelas apa yang dipresentasikan didepan kelas. Bangkunya, bangku kuliah jaman dulu yang terbuat dari besi dan kayu, yang mejanya bisa diangkat kalo mau duduk.
“ Jes, lu sudah belajar?” Sherly yang duduk disebelahku bertanya.
“ Belajar apa? Tanyaku bingung, soalnya seingetku lagi bukan masa ujian.
“ Kabarnya si dokter Hasan ini hobby nanya-nanya sebelum ngasih materi kuliah. Yang bahaya, nanyanya ga berdasarkan mata kuliah yang lagi dibahas lho. Bisa kemana-mana. Dan parahnya, dia orangnya ingetan, jadi kalo kita ga bisa jawab, kabarnya pengaruh sampai ke nilai akhir. Dan kalo bisa jawab, nilai ujian yang jelek bisa terbantu.” Sherly menjelaskan setengah berbisik.
“ Waduh, gawat dong. Gua ga belajar apa-apa nih.”
“ Sama Jes, gua juga belum, habis deh kita kalo kena giliran”
“ Coba kamu yang pakai kacamata di baris ketiga kanan, jawab pertanyaan saya” ternyata kabar itu bukan rumor belaka, dokter Hasan sudah memulai memberikan pertanyaan mautnya. Dan korban pertama adalah temanku Stanley.
“ Iya, saya pak” Jawab Stanley sambal membenarkan kacamatanya.
“ Seorang Laki-Laki mengalami kecelakaan lalu lintas. 4 menit setelah kejadian tidak responsif. Pasien membentur kaca mobil, pupil anisokor, bereaksi terhadap cahaya, tidak dijumpai refleks muntah, RT tidak adanya tonus dan refleks anal. Apa diagnosis saudara?”
Aku menoleh melihat Stanley, mukanya terlihat cemas dan berpikir keras. Lumayan juga sih, pagi-pagi dapat shock therapy.
“ Hematoma dokter?” Jawab Stanley tampak ragu.
“ Dibagian mana? Subdural atau epidural?”
“ Engg… Epidural?”
“ Hahahaha correct! But, that was a lucky shot I guess? Kalau saya minta saudara terangkan mengapa anda memilih epidural, apakah anda bisa?” tantang dokter Hasan. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan bungkam dan kepala Stanley yang tertunduk.
“ Ok pertanyaan kedua,….”
Namun belum sempat dokter Hasan melemparkan pertanyaan yang kedua tadi, tiba-tiba mic yang dipakai dokter Hasan berdenging kencang. Lalu terdengar seperti suara wanita yang berkata dengan suara parau “pergi….”
Kami semua langsung terdiam. Aku dan Sherly langsung bertatap-tatapan. Bulu kudukku meremang. Kulihat teman-teman yang lain juga bertanya-tanya.
“ Kuliah belum selesai, jadi saya tidak mau pergi.” Dokter Hasan berkata dengan tenang sambal memukul-mukulkan mic tadi ke telapak tangannya.
Lalu belum selesai gema suaranya hilang, tiba-tiba air keluar dari keran wastafel yang terletak di sudut sebelah kiri bagian depan ruang kuliah. Padahal kami tahu, keran dan wastafel itu sudah lama tak berfungsi. Karena kami kerap kali mencobanya untuk mencuci tangan setelah makan di ruangan kelas. Tampaknya ada yang benar-benar tidak senang dengan keberadaan kami disini hari ini. Belum sempat heran kami habis, suara itu terdengar lagi. Dan kali ini lebih jelas.
“ Pergi …” suaranya terdengar parau dan marah.
Kami hanya bisa melihat dosen kami yang tampaknya juga kebingunagan atas insiden yang tidak biasa ini. Sebagian mahasiswa sudah mulai membereskan barang-barang mereka dan memasukkan ke tas.
“ OK, saya rasa kuliah hari ini kita sudahi dulu ya. Ketua kelas mana? Coba nanti temui saya di UGD untuk mengambil pembagian kelompok untuk mengerjakan tugas yang akan saya berikan. Tugas itu akan kalian presentasikan pada hari Selasa minggu depan.”
Blaaaak….
Terdengar suara meja dari bangku kuliah dihempaskan. Dan itu asalnya dari bangku yang terletak di sudut kanan depan kelas yang tidak ditempati oleh mahasiswa. Kami semua langsung buru-buru berdiri dan berjalan cepat menuju luar kelas.
Kejadian ini disaksikan oleh hampir 80 mahasiswa. Dan hanya terjadi sekali pada waktu aku kuliah Bedah diruangan itu.
Menarik, kok berani mbak pegang-pegang mayat


Quote:


Kalo ga berani pegang, ga lulus nanti gan. 😭
Quote:


Oh iya ya, dokter sih, lupa gwemoticon-Malu
Itu mayat direndam tahunan gitu apa bentuknya masih tetap sama??
Kayak bikin film mutan gitu ya di rendam cairanemoticon-Takut (S)


Quote:


Bentuknya masih sama, cuma ya ada yang utuh, ada yang dipotong-potong gitu per bagian. Semua tujuannya buat belajar.

Iya direndam di bak isi formalin yang ada tutupnya. Ga sekeren di film2 mutan sih pake kaca.
Quote:


Kok ngilu ya baca bagian yang dipotong-potongemoticon-Takut (S),
Pas dialog "coba gerakan jarinya, lihat bagian yang bergerak" itu maksudnya otot(bahasa awam, bahasa dokter gw gak tau) yang menggerakkan jari gitu? emoticon-Takut (S)
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Balasan post montormebur
JURNAL SEORANG CALON DOKTERJURNAL SEORANG CALON DOKTER

Kira2 seperti itu sih gan gambaran cadaver (mayat yang difungsikan untuk belajar)

Quote:


JURNAL SEORANG CALON DOKTER
Diubah oleh cowey
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di