CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Ketika Mall & Bioskop Dijadikan Indikator Majunya Sebuah Daerah
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aa12b8dd675d4d3148b4577/ketika-mall-amp-bioskop-dijadikan-indikator-majunya-sebuah-daerah

Ketika Mall & Bioskop Dijadikan Indikator Majunya Sebuah Daerah

Tampilkan isi Thread
Halaman 10 dari 14
Kalau secara Ekonomi mungkin benar bahwa banyaknya pembangunan Mall & Bioskop menandakan bahwa daerah tersebut maju, menandakan bahwa daya beli masyarakat meningkat. Namun bukan berarti maju dalam faktor yang lain seperti sosial, hukum dan lain lainnya.
Kalo menurut ane mah ga bisa disamain dong kotanya yg maju atau warganya yg maju, kota maju belum tentu warganya tertib karena semua tergantung pendidikan dr awal. Kalo ada mall sama bioskop sih bisa dong dibilang kota maju kan uda pasti ekonominya jg maju.
sependapat sama ts

di lokasi tempat kerja ane dulu itu ada mall, bioskop, apartemen, taksi dan tempat anak2 muda pada nongkrong/kongkow.
namun di balik kemegahan bangunan2 itu, ternyata bnyk lingkungan kumuh yg diapit oleh bangunan2 tersebut dan mayoritas warganya bekerja sebagai pengepul barang rongsok.
gile fotonya, gan.. kenang-kenangan banget itu, tahun lampau. hahaha..
Megaria jaman gw masih bocah itu. masih berantakan banget. Jalan cihampelas juga masih ramai ama orang.

anyway, ya memang gitu persepsi kebanyakan orang akan kota yang maju. Persepsi mayoritas orang akan sebuah kota atau negara maju itu biasanya ada bangunan megah dan gedung bertingkat juga keberadaan beragam mobil berseliweran di jalan raya. Bangunan megahnya harus bertingkat, minimal 2 yang tipenya pasar modern atau mall dan juga bioskop atau fasilitas hiburan lain. Sedangkan kendaraan di jalan harus kendaraan pribadi bukan kendaraan publik (angkot, bus) dan roda empat, bukan roda dua. Ini kan simbol kekuatan ekonomi dari masyarakat di kawasan tersebut. Kalau kekuatan ekonomi masyarakat tersebut itu rendah, umumnya benda-benda yang hadir di lingkungannya sebatas untuk pemenuhan kebutuhan primer-sekunder (makan, minum, tempat tinggal, transport, dan sejenisnya). Keberadaan cafe itu menunjukkan kalau ekonomi masyarakatnya udah lebih dari tingkati pemenuhan kebutuhan dasar. gak lagi cukup makan nasi n lauk pauk standar ala masakan ibu di rumah, maunya masakan yang gaya dan lokasinya pewe. Begitu pun dengan bioskop. itu kan jatuhnya kebutuhan tersier, fasilitas hiburan. udah kelar primer-sekunder ya berikutnya sisa duit ke tersier. maka itu jadi barometer bagi pengusaha untuk ikut nimbrung ngembangin kawasan itu, investasi bikin ini itu dan lainnya yang ujung-ujungnya membentuk persepsi orang kalau wilayah yang maju itu ada bioskop, kafe, dkk.

Sayangnya memang kemajuan fasilitas gak dibarengi kemajuan pola pikir. Kita ini kan sebenarnya negara yang masyarakatnya lebih banyak ikut-ikutan aja. Hampir semua yang akhirnya kita dapat sekarang itu dapatnya dari luar, begitu deras dan gencar dengan kesadaran filter atau penyesuaian yang minim. Jadi lah kita punya banyak fasilitas fisik yang asal-asalan tanpa disertai kesadaran tata cara penggunaannya yang benar. contoh aja dalam berlalu lintas, kita punya banyak infrastruktur lalu lintas tapi asal-asalan dibuatnya sehingga asal-asalan pula kita memakainya. Perhatikan saja peletakan rambu jalan di jalan raya atau fasilitas seperti halte bus. Dari posisinya saja kalau kamu belajar tata kota apalagi terkait dengan jaringan transportasi, kamu pasti sadar kalau peletakannya sering asal taruh saja. jarak antar halte gak dipikirkan terkdang kedekatan terkadang kejauhan antar mereka, posisi halte kadang terlalu dekat dengan tikungan atau perempatan, bentuk dan kelengkapan fasilitas halte kurang, rambu lalu lintas tertutup rambu lain atau malah bangunan dan benda lain, rambu diletakkan terlalu dekat atau terlalu jauh (padahal seharusnya ada standarnya). efeknya orang kita yang makai kendaraan pribadi juga asal-asalan di jalan. rambu itu cuma jadi semacam hiasan jalan saja. lampu merah juga diterabas kok. naik turunkan penumpang seenaknya, penumpang juga manggil pakai kendaraan umum maunya seenaknya (maunya bisa lambai dimana saja gak harus di halte. sempat ribut kan saat dipaksa naik-turun harus di halte. gw rasain itu saat Ahok di JKT maksa penumpang beralih ke TJ dengan mengeluarkan bus feedernya. awal-awal sempat berkali-kali penumpang itu maksa mau turun dimana saja, padahal hanya boleh di halte. sekarang sudag mendingan).
Hal sama juga ditemui dalam banyak hal. kita punya fasilitas, tapi gak dibarengi pengetahuan cara pakai dan etika memakainya. Punya bioskop dan mall keren, tapi masih buang sampah atau merokok sembarangan.. padahal ada tempanya disediakan. di bioskop saja tiap nonton film masih ada saja yang seenaknya naikin kaki, makan awur-awuran, berisik atau nonton gak sesuai usia (bawa anak kecil atau bayi utk nonton film yang sadis, horor atau vulgar misalnya.. gokil).

Begitu lah jadinya. kita masih banyak yang tidak sadar akan hal itu. maju secara fisik tapi mental gak ikut maju.
btw ane orang sukabumi, memang betul, gak ada bioskop ini kadang jadi candaan, cuma kalo untuk jadi indikator sih kayaknya gak bisa cuma karena bioskop. Memang walikotanya aje yang ngaco. Lagian selama indoxxi masih bisa diakses, who's care about cinema? emoticon-Ngakak
setuju ma TS, majunya sebuah kota, jika layanan ambulans, pemadam kebakaran, sigap dan cepat dlm memenuhi panggilan bantuan masyarakat

yang sayangnya ,daerah ane masih tertinggal kalau tolak ukur majunya daerah adalah layanan publik yg memuaskan
ane mah dari dulu ga demen nongkrong di mall, apalagi nonton bioskop emoticon-Cape d... mending donlot, apalagi sekarang ada taksol ama ojol, kalo ada waktu luang mending narik ojol, mayan boat nambahin tabungan saham emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
yg penting pemikirannya yang maju
ya emang kalo daerah banyak mall nya dapat dibilang tingkat ekonomi nya tinggi sih gan.. hmm
perijinan nya mahal loooh, lumayan lah sebagian fee nya untuk bupati atau walikota emoticon-Big Grin


Ane rasa malah merusak ekonomi di kota itu, banyak toko2 lama yg tutup gara2 ada pesaing baru yg lebih mewah, gaya hidup orang dikota itupun juga jd konsumtif


Sangat disayangkan sih
Ane berharap banyakin tong sampah, banyak PKL ditempat ane buang sampah ditanah kosong punya orang.
Quote:


indikatornya itu gan fasilitas
transportasi, kesehatan, pendidikan
lengkap lancar, mudah, terjangkau, nyaman,aman
Kalau indikatornya sarana hiburan dan kuliner, bukan berarti daerah tsb adlh kota maju..tapi lebih ke pergerakan signifikan masy nya yg konsumtif dan jadi target pasar.

Indikator maju biasanya ditandai dengan perbaikan keteraturan/disiplin, keamanan, dan upaya peningkatan kesehatan, pendidikan, dan pendapatan warganya.

Di Asia mungkin baru Jepang yang mulai meretas..hampir semua provinsinya udh merata sektor pembangunannya
Banyak wisata lendir merajarela salah satu indikator mungkin..
makanya jgn tanyanya ke anak muda gan jadi jwbannya begitu dah
gw stuju ama TS .
Hmm klo menurut ane indikatornya kalo banyak truk/dump truk dan jalananya macet. Brarti kota itu maju
Thread keren nih
Quote:


Ciri khas negara dunia ketiga emang begitu. Gak cuma di endonesiyah tp juga berlaku di negara lainnyaemoticon-thumbdown

Dijajah dulu otaknya biar konsumtif sekaligus dihancurin moralnyaemoticon-Busa
Yg daerahnya gak punya bioskop dan mol ayo kita demo! emoticon-Wakaka
Halaman 10 dari 14


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di