CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a4fbd479a09517d528b456c/tamat-i-bet-my-life

I Bet My Life

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 38
mampir dulu di treadnya akang plastik ...

dewker kudu dikasi tempat istimewa
Naroh pijakan dulu :nyantai
Jahhh bikin trit lagi doi
Mantap jiwe mbing

Angkut oe ke pejwan dongemoticon-Betty (S)
ikut selonjoran um
di trit baru lu :nyantai
ada yang baru neh...
lanjutan apa cerita baru
eh cerita baru teryata
walah.. bikin cerita baru lagi, ketinggalan ane gak dapet pejwan.
Seret ke pejwan
Diubah oleh fenrirlens
lapak kejang baru:nyantai
Baaah ada trit baruu rupanyaaahhh....
Agaan rahmahidayaat gw juga dong pesen seat VVIP di page one.. angkutt akoooooohhhh aauuuuhhh
klo ga gara2 lu bikin trit lagi, males gw mo post gini ini... Nambah2in post gw aja....
nah saya cuma kebagian page 2 emoticon-Mewek
Si kambing bikin trit lagi nih,numpang mejeng yak emoticon-Big Grin
Btw ditrit ini si neng dari pulau sebelah bakalan muncul gk? emoticon-Malu (S)
ijin baca mbek emoticon-Malu (S)
Quote:


Kirain korban palak+bully.
Ternyata kalah taroan bola emoticon-Cape d... (S)

Sabar ya (pi)pis dipanggil pipis emoticon-Wakaka

fan, jan lupa angkut Vani yaaa emoticon-Peluk
beahahahahaha
Part 2

Nama gua Hafiz, Muhammad Hafiz. Setidaknya itu yang selalu gua ucapkan setiap kali berkenalan dengan orang baru atau setiap kali memperkenalkan diri. Gua selalu mengatakan nama gua sesuai huruf dan pelafalan yang benar. Meski setelah itu banyak orang yang lebih suka memanggil gua dengan sebutan 'apis' ketimbang mengikuti pelafalan yang gua ucapkan saat berkenalan tadi.

Gua adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adik gua, Safira Chairunnisa (yang biasa dipanggil Icha) berselisih dua tahun dari gua, saat ini masih berada dibangku kelas tiga sekolah menengah pertama. Sementara gua kini berada dibangku kelas dua sebuah SMA negeri yang ada dibagian selatan kota yang terkenal akan buah apelnya.

Gua lahir dari seorang bapak yang berprofesi sebagai seorang petani, dan ibu yang bekerja sebagai guru di salah satu SMP swasta yang letaknya tak jauh dari rumah. Gua mungkin termasuk anak yang beruntung karena kedua orang tua gua adalah sosok yang sama sama memiliki role model sebagai orang tua yang lengkap. Bapak dan ibu gua kadang bisa menjadi teman bercanda, kadang bisa menjadi tempat curhat. Kadang bisa bersikap begitu lembut pada anak anaknya, kadang bisa juga keras jika anaknya dirasa sudah terlalu jauh melakukan kesalahan. Termasuk saat gua kecil dulu, dimana gua pernah diguyur dikamar mandi gara gara ketahuan mengambil uang ibu, yang kemudian gua pakai untuk bermain play station. Atau saat semua barang dan pakaian gua dikeluarkan dari rumah gara gara selama dua hari gua pergi menonton konser punk tanpa seizin mereka. Semua itu terjadi saat gua masih berada di bangku sekolah dasar. Dan gua bersyukur karena setelah itu sudah tak ada lagi hal hal yang membuat kedua orang tua gua murka, meski gua juga masih belum bisa membuat mereka bangga.

Keluarga gua bisa dibilang cukup harmonis, setiap hari pasti selalu ada waktu untuk berkumpul bersama. Meski kadang saat pagi kedua orang tua gua sudah 'tidak terlihat', tapi setiap malam pasti ada waktu untuk kita berkumpul. Entah saat sholat berjamaah, saat makan, atau saat sedang menonton televisi. Walau gua dan bapak juga harus banyak banyak mengalah saat ibu dan Icha sudah memegang kendali remote tv.

Keluarga gua memang bukan termasuk keluarga yang secara materi bisa disebut kaya, tapi melihat semua yang ada dirumah, gua bisa menganggap kalau keluarga gua adalah keluarga terkaya didunia. Kedua orang tua gua mungkin juga bukan termasuk golongan orang tua yang bisa memenuhi semua keinginan anaknya. Tapi kedua orang tua gua adalah sosok yang paling mengerti akan semua kebutuhan anak anaknya.

Berbeda dengan kondisi keluarga yang bisa gua anggap 'sempurna', perjalanan kehidupan pribadi gua justru berbanding terbalik. Gua bukanlah termasuk golongan orang yang beruntung secara personal, meski kalimat 'menyedihkan' juga masih terdengar terlalu berlebihan.

Secara fisik, penampilan gua bisa dibilang biasa biasa saja. Tinggi dan berat badan gua normal seperti kebanyakan remaja 17 tahun, kulit sawo agak matang khas pemuda jawa, hidung yang porsinya sesuai dengan standar orang Indonesia, nggak terlalu mancung juga nggak terlalu 'mblesek'. Dan muka yang juga nggak terlalu istimewa, meski ibu dan adik gua selalu bilang kalau wajah gua cukup 'manis'. Tapi sampai saat ini nggak ada satupun wanita yang benar benar mengatakan kalau wajah gua cukup manis, selain mereka berdua.

Secara prestasi, gua juga belum bisa dikatakan masuk kedalam golongan orang orang yang (tadi gua sebut) beruntung. Selama lebih dari sepuluh tahun berada dibangku sekolah, nyaris tak ada prestasi yang bisa gua banggakan kecuali predikat one man one sitmate yang gua sandang bersama Wawan, meski jika dipikir pikir lagi, sebenarnya itu juga nggak bisa disebut prestasi.

Gua melewati bangku sekolah dengan catatan yang biasa biasa saja, gua bukan termasuk siswa yang otaknya kelewat encer, tapi gua juga bukan termasuk komplotan siswa yang IQ nya kelewat tiarap. Semuanya masih berjalan biasa saja. Kalau kalian pernah melihat ada siswa yang sepanjang tahun ajaran hanya duduk dibangkunya, tak pernah diberi tepuk tangan setelah maju ke depan kelas, dan tak pernah dihukum untuk mengangkat satu kakinya sambil tangan memegang telinga sendiri, orang itu pasti gua. Siswa yang tak pernah terlihat, meski sebenarnya ada.

Dari segi asmara, lagi lagi gua harus bilang kalau gua juga belum bisa dikategorikan sebagai golongan orang yang hidupnya beruntung. Seumur hidup, gua baru sekali mengalami apa yang kebanyakan orang sebut dengan pacaran. Pacaran versi gua itupun durasinya hanya tiga hari, sangat jauh dibanding orang orang diluar sana, yang tak jarang sampai ada yang sudah berpacaran selama bertahun tahun. Walau tak sedikit juga yang ending nya sama dengan yang gua alami. Hanya berbeda durasinya saja.

Tapi meski begitu, gua tetap menikmati semuanya. Gua menikmati ketidakberuntungan gua, gua menerima kondisi gua yang 'biasa biasa saja' ini. Sembari berharap bahwa hidup gua yang abu abu ini suatu saat bisa berubah menjadi penuh warna. Walau gua juga yakin kalau itu semua nggak akan bisa terjadi jika bukan gua sendiri yang merubahnya.

***


"anak baru itu cantik juga ya piss. Lu suka ya sama dia ?"

Gua sedang berteduh dibawah pohon yang cukup lebat di halaman sekolah sembari meluruskan kaki yang lumayan terasa pegal setelah menerima pelajaran olahraga, saat sebuah tepukan secara perlahan mendarat dibahu sebelah kanan gua.

Gua mendongakkan kepala, mencoba mencari tahu siapa itu. Sebelum kemudian melihat Ikram sedang mencoba duduk disebelah gua sembari menyodorkan sekaleng nescape dingin.

"ya tergantung anggapan lu juga sih kram, kalau dengan melihat kearahnya udah lu anggap gua suka sama dia, mungkin menurut lu gua emang suka sama dia.." jawab gua seraya membuka tutup kaleng lalu kemudian meneguknya sedikit.

"yee gua nanya elu pis, bukan mau tukeran pendapat. Tinggal jawab doang juga."

Sejenak pandangan gua beralih kearah Lydia, siswi pindahan sekaligus teman sebangku gua yang kini masih terlihat serius bermain basket. Postur tubuhnya yang lumayan tinggi untuk ukuran remaja seusianya memudahkan dia untuk memainkan olahraga ini. Memudahkan juga baginya untuk merebut perhatian banyak orang, termasuk gua dan Ikram yang sedang memandanginya dari pinggir lapangan.

"enggak kok kram.." ucap gua, masih melihat kearah Lydia yang kini sedang mencoba melempar bola basket kearah ring. "menurut gua dia emang cantik, sepertinya juga pinter. Tapi kalau lu ngira gua suka sama dia karena itu, maka gua bisa bilang kalau gua bukan termasuk orang yang kayak gitu.."

Secara fisik Lydia memang cantik. Bahkan bisa dibilang terlalu cantik untuk ukuran orang yang 'biasa biasa saja' seperti gua. Wajar bila belakangan ini namanya juga sering diperbincangkan di sekolah. Tapi meski begitu gua masih belum menaruh perasaan padanya. Semua masih sebatas rasa kekaguman gua saja. Sama seperti saat kita sedang berada di sebuah pameran mobil, dimana kita bisa begitu tekesan dan kagum dengan mobil mobil yang ditampilkan. Tapi semua masih sebatas kagum akan desain dan tampilannya, tanpa ada niat untuk membawanya pulang.

"beneran nih pis ? lu belum suka aja mungkin sama dia."

"haha ya beneran lah kram." jawab gua sambil tertawa. "ya gua juga nggak tau sih kedepannya bakalan gimana, tapi kalau lu nanya sekarang ya gitu jawaban gua."

"haha yaudah deh piss, bagus kalau gitu.."

"emang kenapa sih kram ?" tanya gua penasaran, apalagi setelah melihat senyum yang sempat muncul dari bibirnya. "lu suka ya sama dia ?"

Dia kembali menepuk pundak gua, kemudian berlari menuju ruang kelas. Sementara gua hanya diam melihat sosoknya, sambil meneguk sisa sisa nescape yang masih ada.

"itu lu tau piss.. hahaha.."

***


Jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri gua menunjukkan pukul dua siang. Setelah meneguk sisa sia kopi hitam yang tadi gua pesan, gua bergegas meninggalkan ruang sempit penuh asap rokok ini.

"gua balik duluan ya bray, mau tungguk manuk dulu di sawah." (tungguk manuk itu semacam jaga sawah, supaya padi yang sudah mau dipanen nggak jadi menu makan buat burung.)

"yoo, tiati pis.."

Gua melangkahkan kaki keluar dari warkop ini, kemudian segera mengambil motor untuk kembali bergulat dengan ramai dan panasnya aspal jalanan. Setelah memakai helm dan jaket, motor yang sudah biasa disebut motor rampok atau motor jambret ini pun mulai berjalan secara perlahan. Membiarkan suara mesinnya meraung raung. Seolah menantang matahari yang panasnya seakan tepat diatas kepala.

Saat melewati depan gapura sekolah, gua melihat Lydia sedang berdiri seorang diri disana. Sesekali dia terlihat celingukan, melihat kekanan dan kekiri lalu melirik jam tangan berwarna merah mudanya. Sepertinya dia sedang menunggu angkot yang lewat, sementara raut mukanya sudah mulai nampak gelisah. Melihat hal itu gua pun mengarahkan motor lalu berhenti tepat didepannya.

"lagi nungguin angkot ya mbak ?" ucap gua membuka obrolan.

"menurut lo ?"

"ya menurut gua sih jam segini angkot udah mulai jarang Lyd.." jawab gua santai, kemudian mulai membakar sebatang rokok.

"terus ?"

"yaa menurut gua lu harus nyari alternatif lain sih selain naik angkot, misalnya.."

"pulang bareng elo gitu ?" potongnya cepat.

Gua menghisap nikotin yang ada di tangan secara perlahan, kemudian membalas ucapannya dengan santai. Gua sebenarnya bingung kenapa gua bisa sesantai ini, apalagi didepan seorang cewek yang baru gua kenal selama beberapa hari.

"itu sih cuma salah satu cara aja Lyd, tapi ngeliat angkot yang nggak dateng dateng, terus pangkalan ojek yang letaknya juga jauh mungkin yang lu sebutin tadi sekarang jadi satu satunya pilihan."

"nggak, nggak usah. makasih, gue naik angkot aja.." jawabnya sok jual mahal. Sementara matanya masih memandang jauh menyapu jalanan.

"yaa itu sih terserah lu Lyd mau gimana. Mau pulang cepet atau masih mau nungguin angkot yang entah kapan datengnya. Kalau beruntung sih mungkin bentar lagi juga ada angkot yang lewat. Tapi kalau lagi apes, gua kuatir bukannya angkot, tapi yang dateng malah rampok, jambret atau orang jahat Lyd.."

"iya, dan elo orang jahatnya.."

"dih, dikasih tau malah ngata ngatain." ucap gua sewot. "Yaudah deh Lyd terserah lu aja, gua mau pulang duluan, selamat menunggu yaa.." gua melempar puntung rokok kearah tempat sampah, memakai kembali helm yang tadi sempat gua buka, kemudian men-starter motor gua untuk berjalan meninggalkan Lydia yang masih tak bergeming dari posisinya.

"eh tunggu dulu deh pis.." tiba tiba Lydia berjalan kearah gua, lalu secara tiba tiba juga naik diboncengan motor gua. "anterin gue ke perumahan blablabla nomer 69 yaa.."

"lah katanya gua orang jahat Lyd, kenapa sekarang malah mau ngikut orang jahat.."

"udah deh buruan jalan, cukup orang jahat aja yang gue temuin saat nunggu angkot pis. Jangan sampe rampok sama jambret juga ikutan nyamperin gue."

Dari balik helm gua cuma tersenyum tipis, kemudian mulai melajukan motor ini secara perlahan.

"yaudah, pegangan.."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh saleskambing
woi sam , metu maneh umak. kangen tulisan umak. Piye dhara .critane maringene akeh kaplokane po ra?. Ane kagak dimasukin pajwan sam. Dulu setia baca cerita yg di kalimantan tuh
Diubah oleh cmbh99speed
Mbing ini piksi ato nyata,..
Terus crita punya siapa ini
Mungkin seiring berjalannya waktu,bakal ada konflik nih sama si ikram,gara" lydia.
antara teman atau cinta yang harus diperjuangkan.
Apis modus ternyata genks emoticon-Leh Uga
Diubah oleh guesiapayah17
yaelah bikin cerita lagi lu mbingemoticon-Bata (S). Baguslah nambah-nambah tempat ngejangemoticon-Hammer (S)emoticon-Betty (S)
Halaman 2 dari 38


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di