BeritagarID
TS
MOD
BeritagarID
Ancaman kanker payudara di balik tren #NoBraDay

Ilustrasi kampanye #NoBraDay
Saban tahun, tagar #NoBraDay senantiasa meramaikan linimasa media sosial. Tujuan kampanye ini mendorong kesadaran pencegahan kanker payudara, kanker yang menjadi salah satu penyebab utama kematian perempuan di Indonesia dan dunia.

Kampanye #NoBraDay pertama kali diinisiasi pada 13 Oktober 2011, di Amerika Serikat. Kampanye ini juga terpaut dengan peringatan Bulan Kesadaran Kanker Payudara, yang jatuh setiap Oktober, atau biasa dikenal sebagai "Pinktober".

Pada 13 Oktober 2017 kali ini, tagar #NoBraDay kembali bertengger di jajaran topik tren sejak dini hari. Situs Trendinalia mencatat, hari ini tagar tersebut jadi salah satu topik terhangat pada pukul 05.05 WIB. Sekitar pukul tujuh malam, jumlah kicauan sudah mencapai 16.431.

Isu tentang bra, beha, atau kutang, yang menyebabkan kanker payudara, sudah beredar sejak beberapa dekade terakhir. Dalam catatan Scientific American (2007)--publikasi jurnal ilmiah dalam bentuk artikel populer--isu ini muncul pada 1995 lewat sebuah buku berjudul Dressed to Kill, atau Busana yang Membunuh.

Penulisnya, sepasang suami istri Sydney Ross Singer dan Soma Grismaijer, mengklaim bahwa perempuan yang menggunakan kutang ketat seharian, setiap hari, punya peluang lebih besar untuk mengidap kanker payudara, dibanding yang lepas kutang. Penyebabnya, kutang menjebak racun dalam lapisan payudara, sehingga menyebabkan kanker.

Namun klaim tersebut mengundang kritik lantaran buktinya diragukan. Ilmuwan mengatakan penelitian Singer dan Grismaijer tak memilah perempuan yang memiliki risiko tinggi terhadap kanker payudara. Kesimpulannya dinilai terlalu menggeneralisir.
Ancaman kanker payudara cenderung meningkat
Terlepas dari apa yang terjadi di dunia maya, kanker payudara merupakan salah satu pembunuh utama perempuan di Indonesia dan dunia. Deteksi dini kanker payudara harus jadi perhatian, sembari mencari informasi yang benar tentang indikasinya.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4 dari 1.000 penduduk, atau sekitar 347.000 orang. Pada 2030, diprediksi satu dari tiga orang perempuan Indonesia akan mengalami kanker payudara.

Berdasarkan data pasien di RS Kanker Dharmais saja, selama periode 2010-2015, kanker payudara, serviks, dan paru merupakan tiga penyakit kanker terbanyak. Jumlah kasus baru serta jumlah kematian akibat ketiga kanker tersebut pun terus meningkat.

Besaran masalah kanker payudara di Indonesia dapat dilihat dari pasien yang datang untuk berobat. Sekitar 60 -70 persen penderita yang mendatangi rumah sakit sudah dalam stadium lll-lV (stadium lanjut).

RS Kanker Dharmais (RSKD) merupakan rumah sakit yang ditunjuk sebagai Pusat Kanker Nasional (INCC : Indonesian National Cancer Center), di bawah Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.

Laporan Kementerian Kesehatan mencatat, dari 10 jenis kanker terbanyak di RS Kanker Dharmais, Jakarta, kanker payudara menduduki urutan pertama dalam satu dekade terakhir, hingga 2016. Bahkan terjadi peningkatan jumlah kasus setiap tahunnya.

Proporsi kanker payudara sekitar 40 persen dari seluruh kasus kanker di Rumah Sakit tersebut. Angka ini seharusnya bisa ditekan karena kanker payudara adalah kanker yang dapat dideteksi secara dini.
Beragam metode deteksi dini
Selain dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), deteksi dini yang akurat untuk kanker payudara adalah dengan mammografi. Mammografi dianggap sebagai alat paling efektif untuk deteksi dini kanker payudara, sebab dapat mendeteksi hampir 80-90 dari semua kasus kanker payudara.

Adapun SADARI adalah metode agar perempuan peduli kondisi payudaranya sendiri. Tindakan ini dilengkapi dengan langkah-langkah khusus untuk mendeteksi dini kanker payudara dengan rnengetahui perubahan-perubahan yang teriadi pada payudara.

SADARI dapat dilakukan antara 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi atau pasca-menstruasi. Menurut dokumen Kemenkes RI, perubahan yang dapat dilihat sebagai kelainan dan perlu mendapat perhatian antara lain:

(1) Perubahan bentuk dan ukuran payudara; (2) Teraba benjolan; (3) Terasa nyeri; (4) Penebalan kulit; (5) Terdapat cekungan kulit seperti Iesung pipit; (6) Pengerutan kulit payudara; (7) Keluar cairan dari puting susu; (8) Penarikan puting susu ke dalam; dan (9) Luka pada payudara yang tidak sembuh-sembuh.

Meski demikian SADARI tidak menggantikan peran dokter atau tenaga medis terlatih untuk melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) oleh tenaga medis sebaiknya dilakukan minimal setiap tiga tahun untuk perempuan berusia 20-40, dan setahun sekali pada perempuan berusia 40.

Sejak 2007 hingga 2016, menurut catatan Kemenkes RI (berkas .pdf), sudah dilakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara terhadap 1.925.943 perempuan Indonesia usia 30-50 tahun. Pemeriksaan dilakukan dengan metode Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) dan Inspeksi Vistual Asam Asetat (IVA) atau Pap Smear.

Dari data pemeriksaan tersebut, hingga 2016 perempuan yang berstatus Tumor Payudara sebanyak 4.030 orang, dan Curiga Kanker Payudara sebanyak 611 orang. Provinsi Kalimantan Barat dan Lampung, menjadi dua provinsi dengan kasus terbanyak.

Di Kalimantan Barat ditemukan Tumor Payudara sebanyak 271 kasus dan Curiga Kanker Payudara 265 kasus; sedangkan di Lampung terdapat 707 kasus Tumor Payudara dan 187 kasus Curiga Kanker Payudara. Sementara di delapan provinsi, data kedua kasus nihil.



Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...-tren-nobraday

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Kuda pun bisa dipelihara oleh negara

- Crafina pamerkan kerajinan khas Nusantara

- Izin angkutan daring masih berlaku hingga 1 November 2017

anasabila
anasabila memberi reputasi
1
982
0
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Komunitas Pilihan