CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Proses Penukaran Koin Kreator Ada Perubahan Cek Infonya di Sini Gan!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
2.5 Tahun Tinggal di Rumah Setan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59814d4dd675d439278b4567/25-tahun-tinggal-di-rumah-setan

2.5 Tahun Tinggal di Rumah Setan

Tampilkan isi Thread
Halaman 17 dari 55
profile-picture
safefem memberi reputasi
Atas ane baik banget, trims
Diubah oleh juliejumper2
Quote:




mantap gan g susah nyari jadinya.. sis ts kemana nih
lama banget sis updatenya....
lanjut update lagi sis..
lama emoticon-Frown
kentang ditimpuk..kentang ditimpuk..

yang gratis..yang gratisss..

siapa mau

emoticon-Hansip
kentang goreeeng
update euy
Mahluk itu muncul lagi…!
Hampir sebulan lebih lamanya keluarga kecil tersebut tinggal dirumah itu, bersama Anjas dan Lukman dan sesekali Pak Agus datang. Anjas berpikir dengan datangnya Pak Ustad yang menyembuhkan si kecil Rio bisa membuat anak kecil itu tidak lagi rewel, ternyata salah.
Suatu hari Anjas mendapatinya sedang bermain sendirian didalam rumah, Ibu nya sedang tidak ada dirumah. Anjas yang baru pulang dari kuliah menyapa nya,
“Rio, kok main sendiri…” Tanya Anjas,
Awalnya Rio yang menoleh ketika Anjas datang dan kembali sibuk bermain lempar bola ke dinding, mengacuhkan Anjas.
“Rio sedang main apa…?”Tanya Anjas lagi, Anjas sedang tidak sibuk sama sekali sehingga kali ini Ia ingin bermain dengan si Rio kecil.
Rio kembali menoleh dan menjawah dengan sangat pelan,
“Main bola, sama ituu..” tunjuknya disampingnya,
Deggg….jantung Anjas kembali berpacu, siang bolong begini ni Anak malah diajakin main sama mereka, batinnya.
“Main diluar aja yuk, main bolanya diluar…” ajak Anjas sambil menarik lengan Rio, tak disangka Rio memberontak dan menarik kembali lengannya sambil berkata marah, “Saya gak mau,,,saya mau main sama mereka…”. Ujarnya,
Mampus, mereka..? memang ada berapa banyak mahluk yang sedang bermain dengannya…?
“Jangan,, gak boleh,,, Rio gak boleh main sama mereka,,,,” kata Anjas, Ia masih mengingat pesan Pak Ustad waktu hendak pulang saat itu sehabis mengobati Rio, “Pak Adi, jangan dikasi sering-sering sendiri ya Rio nya, namanya anak kecil memang disenengin sama yang begitu”ucap Pak Ustad saat itu,
“Äyuk…gak boleh disini sendirian ya…” ajaknya, menarik lengan Rio. Anjas tidak mau anak kecil ini sakit lagi gara2 masih bisa melihat mahluk2 itu.
Kali ini Rio manut, Dia mengikuti Anjas keluar halaman dan bermain bola satu lawan satu dihalaman samping pohon mangga besar. Tidak sampai 10 menit Ibu nya membuka gerbang dan masuk,
“Ah Mas Anjas sudah balik,,,,maaf, tadi saya abis beli sayur diseberang jalan, malah keasyikan ngobrol,,,,” Ujar Mbk Sitti sambil tersenyum dan Anjas balik tersenyum dan mengangguk.
Malam itu Mas Adi tidak kembali kerumah dengan alas an kanvasing keluar kota, sehingga hanya Anjas, Lukman, Mbk Sitti dan Rio saja yang ada dirumah.
Sejak tadi sore ada yang aneh dengan gelagat Mbk Sitti, berkali-kali Ia masuk kamar sekitar 5 menit kemudian keluar lagi ke dapur. Lukman tidak menyadari keanehan ini, justru Anjas yang punya feeling kuat ada yang tidak beres namun toh Dia hanya mengabaikannya tanpa bertanya pada Mbk Sitti.
Sehabis isya Mbk Sitti memanggil mereka berdua untuk makan malam, adanya Mbk Sitti dirumah ini merupakan perbaikan gizi bagi dua lelaki penghuni awal rumah ini, sehingga mereka sangat berterima kasih sekali pada Mbk Sitti.
“Mari Mas Lukman, Mas Anjas,,,berimam makannya…”ujar Mbk Sitti, Rio menempel dibelakangnya.
Mereka makan berempat diruang tengah diatas segelar tikar.
“Mbk Sitti, tadi Rio saya lihat main sendiri lagi disitu,,waktu Mbk Sitti belanja tadi siang ”ucap Anjas,
Mbk Sitti otomatis melihat kearah Rio yang asyik menyuap sendiri,
“Aduh saya lupa kalo Dia gk boleh ditinggalin sendiri,,, soalnya tadi Dia masih tidur waktu saya tinggalin belanja mas…” jawab Mbk Sitti sambil mengelus kepala anaknya,
“Ia mbk, Dia ngomong-ngomong sendiri lagi kayak waktu itu….” Ujar Anjas, lebih kepada mengingatkan Mbk Sitti untuk kelalaiannya tadi siang.
“Nggak lagi deh saya tinggalin Dia mas,,,,mana Bapaknya lagi gak bisa pulang,,,,”jawab Mbk Sitti dengan nada cemas yang kentara sekali,
“Gak apa-apa mbk Sitti, kan ada kami juga….nanti kalo ada apa-apa langsung bangunin aja kami…” kata Lukman menimpali dan dibalas anggukan oleh Mbk Sitti.

Malam itu, sekitar pukul 22.15 Anjas dan Lukman masih terjaga dikamar masing-masing, bukan karena apa tapi memang keduanya belum bisa tidur ditambah lagi ada banyak sekali pekerjaan kampus yang harus mereka selesaikan minggu ini.
Anjas sedang melepas penatnya berbaring dikasur sehabis menghapal beberapa modul kuliah sebelum Dia mendengar sesuatu, awalnya suaranya tidak terlalu jelas namun semakin lama makin jelas, hampir seperti langkah kaki, melintas begitu saja disampingnya kemudian hilang. Dia melongo, memastikan sekali lagi suara itu namun tidak ada lagi, Dia kembali berbaring namun kali ini siaga, Dia sangat jelas mendengar langkah kaki,, Dia memasang kuping dan memastikan Lukman masih dikamarnya namun sia-sia karena Dia sama sekali tidak mendengar ada gerakan dari kamar sebelah. Belum sempat Dia memperbaiki posisi tidur, ketika saat itu juga jendela kamarnya ada yang mengetuk,
Tok…Tok….
Anjas membeku,
Tok…Tok..Tok…
Sangat kuat keinginannya untuk menoleh mengarah ke jendela, namun perasaan was-was yang dirasakannya malam ini mengingatkannya pada waktu malam itu,, Ia tidak mau menoleh ke jendela.
Tok…Tokk…Tokkk….
Lagi-lagi diketuk, namun Anjas masih dengan pendiriannya untuk tidak melihat kejendela. Perasaannya sangat tidak enak.
Kemudian kali ini jendela itu digaruk, persis seperti suara benda tajam yang digoreskan ke kaca dan entah karena sudah muak atau karena pasrah akhirnya dengan berani Anjas bangun dari kasurnya dan menoleh melihat ke jendela,,
Dan disana….mahluk itu,,,,mahluk yang pernah menghantuinya malam saat hujan badai bersama Lukman saat itu,
POCOOONGGG itu muncul lagi diambang jendela kamar Anjas, menatap Anjas, tempat yang seharusnya ada mata namun tidak ada mata disana, hanya bundaran hitam kosong, dengan tali pocong masih terikat, wajah kisut dan busuk, saat ini menatap Anjas dari luar jendelanya.
Kekagetan yang luar biasa yang membuat Anjas tidak bergerak sama sekali, masing saling bertatapan bukan karena Anjas saat itu sok berani sehingga tidak memalingkan wajahnya, tapi beda dengan malam itu , kali ini jarak antara Anjas dengan Pocooongg itu sangat dekat sehingga dararhnya membeku dan idak mampu untuk bergerak sama sekali. Namun selagi Anjas berusaha untuk kabur, Pocoonngg itu menghilang, namun tetap menyisakan ketegangan yang tidak akan pernah dilupakan Anjas saat itu.
Badannya otomatis dapat bergerak kembali dan saat itu juga Ia mampu berpikir jernih dan tanpa babibu langsung berlari hendak membangunkan Lukman,
Namun sebelum mencapai kamar Lukman, Anjas berhenti. Ia mengurungkan niatnya memberitahu Lukman, karena toh tidak akan menyelesaikan masalah ataupun mengurangi ketegangannya barusan. Lagipula Lukman sudah tidur sepertinya, tidak ada suara gerakan dalam kamarnya. Dengan wajah yang masih pucat Anjas perlahan kembali ke kamarnya, ini pertama kali Dia diganggu dikamar ini. Sebelumnya tidak pernah sama sekali.
Ketika Anjas sudah hendak masuk ke kamarnya, didengarnya suara langkah kaki lagi, namun kali ini asalnya dari kamar Mbak Sitti dan beberapa saat kemudian Rio, anak nya, keluar sambil membawa bola yang dimainkannya tadi siang.
Rio sama sekali tidak menyadari ada Anjas didekatnya, ketika Ia melemparkan bola ke dinding persis seperti yang Dia lakukan tadi siang. Anjas terpaku, meskipun Anjas sudah sangat sering diganggu oleh mahluk-mahluk dirumah ini, namun jujur ketika Dia melihat seorang anak kecil bermain bola sendiri tengah malam begini membuat bulu kuduknya kembali meremang.
“Rio…kamu jangan main malam-malam begini…” ujar ANjas, namun kali ini Dia hanya berdiri disana, tidak mendekati Rio.
Rio hanya diam. Masih asyik melemparkan bola ke tembok yang terpantul dan diambilnya kembali, seakan tidak terusik sama sekali dengan teguran Anjas. Ada kekawatiran pada diri Anjas, jangan sampai bocah kecil ini melihat penampakan yang berusan Ia lihat dikamarnya.
“Rio…Rio,,,” ulang Anjas, namun anak itu tetap tak bergeming. Akhirnya Anjas berinisiatif membangunkan ibunya, Dia mengetuk kamar Mbk Sitti walaupun dalam keadaan terbuka,
“Mbak Sitti, Mbak……”ujarnya dan setelah Mbk Sitti terbangun, Dia melanjutkan “Mbk, kebetulan saya masih bangun…Rio kebangun…itu Dia lagi main bola…” Katanya.
Mbak Sitti yang semula masih bingung karena dibangunkan, langsung mengerti dan beranjak keluar kamar,
“Astaga, Nak kamu lagi ngapain…” ujar Mbk Sitti, seraya mendekati Rio dan menariknya berdiri, “Jangan main bola jam segini, tidur ayuk tidur…besok lagi mainnya..” Tambahnya.
Rio yang semula sangat asyik main sendiri tiba-tiba melihat Ibunya dan seakan baru sadar, anak itu menurut saja ketika diajak masuk kamar, namun ketika akan masuk kamar Rio kembali menoleh kearah tembok tempatnya bermain barusan, hanya beberapa detik sampai akhirnya Ia mengikuti Ibunya masuk kamar.
Anjas yang menyaksikan 2 hal yang sangat mengejutkan malam itu hanya bisa diam, dan membatin, sudah cukup dah mala mini, kemudian berlalu menuju kamarnya. Ia sempat meihat sebentar kearah jendela kamarnya dan tidak ada apapun disana, hingga Ia memutuskan untuk langsung tidur saja.
Keesokan paginya, persisnya sekitar pukul 9an, Mas Adi pulang kerumah. Terlihat letih namun senang akhirnya bisa pulang. Anjas yang pagi itu akan ujian, langsung pamit pergi kekampusnya, namun Dia masih sempat mendengar Mbk Sitti menceritakan kejadian tadi malam yang dialaminya pada suaminya. Namun Anjas tidak bisa mendengar banyak mengingat jadwal ujian nya pagi itu akan segera dimulai.
Beberapa minggupun berlalu, sore itu Lukman dan Anjas sedang mengobrol sambil merokok dihalaman rumah. Ujian mereka sudah selesai, Anjas memberitahu Lukman niatnya untuk pulang kampung beberapa hari, karena memang sudsah sangat lama Ia tidak pulang, sambil berniat hendak membawa beras nanti waktu kembali, karena persediaan beras mereka mulai menipis, dan sangat tidak layaklah mereka selalu mengharapkan kebaikan Mbk Sitti dan Mas Adi untuk menyuplai makanan untuk mereka.
Lukman setuju, dan Lukman pun ada niat untuk menjenguk Bapaknya dirumahnya.
“Gak apa-apa ni kita tinggalin mereka,,,,?”. Tanya Anjas, Ia kasihan sebenarnya pada keluarga kecil itu.
“Menurut saya si gak papa Bang….soalnya Mas Adi kan gak nginep-nginep lagi diluar..” Jawab Lukman.
Akhirnya Anjas menyetujui, dan memastikan bahwa mungkin Ia pulang ke kampong halamannya hanya 3 atau 4 hari saja.
Mereka berdua memberitahu Mas Adi niatnya untuk pulang kampong, Mas Adi menyanggupi, namun Mbak Sitti tiba-tiba nyeletuk,
“Jangan lama-lama yam as mas pulangnya,,, gak enak sendirian disini…gak berani”. Katanya.
Mas Adi tertawa sambil berkata, “Ya ampun…seperti anak kecil saja gak berani segala…ka nada saya juga…siang juga mana ada yang berani gangguin…yakan mas Anjas…mas Lukman…”. Kelakarnya, Anjas dan Lukman hanya tersenyum dan mengangguk meyakinkan Mbak Sitti.
“Kapan pada mau pulangnya mas…?”Tanya mas Adi.
“Besok pagi Mas Adi, kami juga sudah tidak ada ujian…lagi libur semester…” Ujar Lukman yang dibalas anggukan oleh Mas Adi..Malam itu mereka berkumpul sambil mengobrol santai diruang tengah sehabis makan malam, Anjas tidak sengaja menoleh ke jendela ruang tengah dan sedikit berharap mahluk yang muncul dijendela kamarnya waktu itu tidak akan muncul lagi dan mengganggu mereka yang tersisa dirumah itu.
Keesokan paginya mereka berdua siap untuk pulang, Rio ikut mengantar sampai gerbang dan melambai-lambai dengan semangat.

Mulai Jahil Lagi…
Ternyata perkiraan Anjas yang niatnya pulang hanya beberapa hari tidak sesuai, ada begawe (kondangan atau acara nikahan) dirumahnya karena anak dari Uak (Kakak dari Ibunya) nya melangsungkan acara nikahan, sehingga Dia kembali ke mataram hamper seminggu Lebih.
Karena merasa tidak enak terlalu lama pulang kampungnya, Ia berencana sore itu kembali kemataram. Namun ketika Anjas masuk ke halaman rumah, keadaan rumah itu sepi…Tidak ada Rio yang seperti biasannya menyambut. Anjas menelepon Lukman,
“Man….kamu dimana… “ Ujar Anjas lewat telepon,
“Saya lagi dilombok utara, ada acara keluarga Bang…jadi belum bisa balik hari ini…besok pagi kayanya saya balik…” Jawabnya.
Anjas masuk kedalam rumah, sepi dan tidak ada orang sama sekali.
“Assalamualaikumm….” Ucapnya pelan walaupun tahu tidak ada orang didalam rumah, ini sudah menjadi kebiasaannya masuk kerumah ataupun kekamarnya,
“Waalaikum salam…” ada yang menjawabnya,
Anjas terkejut luar biasa, Dia berdiri diam. Melihat sekitar namun tidak menemukan siapa-siapa…
“Tumben dijawab….” Ucap Anjas pelan sambil menutup pintu,

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rotten7070 dan 3 lainnya memberi reputasi
Halo agan agan dan aganwati.....
muncul lagiiii ....saya tahu saya layak ditimpuk kentang karena lama banget baru bisa update emoticon-Sorry emoticon-Sorry emoticon-Sorry
tapi insyaallah minggu depan ane update cepat karena tinggal bentar lagi sih sebenrnya ceritanya...
ane harap semuanya gk bakal bosan ya nungguin ane update lagii..

daannnnnn terima kasih sebanyak2 nya untik agan yang bersedia buatin ane index...saya sangat berterima kasih sangaaaatt kepada kaliaann....terimakasih terima kasihhhhemoticon-Big Kiss emoticon-Big Kiss emoticon-Big Kiss emoticon-Big Kiss emoticon-Big Kiss
wah udah update, makin penasaran emoticon-Matabelo
mantaaaf...updatee.... jgn 2 lama2 sis pleaseeee ;(
lanjut kannnnnnnnn
Kirain udh tamat, ternyata ada update
Semangat updatenya ya
Yeay apdet juga akhirnya. Siap sist minggu depan ane ngopi lagi dimarih. emoticon-Shakehand2
whuih penunggunya bisa ngucapin salam balik emoticon-Takut
Halaman 17 dari 55


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di