CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Gw berteman dengan Kolong Wewe..
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59a7b620ded77042108b456b/gw-berteman-dengan-kolong-wewe

Gw berteman dengan Kolong Wewe (End of Chapter One)

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 22 dari 85
Quote:


Update terakhir banyak typo gan.
But thanks for your story update emoticon-2 Jempol
Lanjut gan, penasaran nihemoticon-2 Jempol
Bree..inget tasya bree..

Btw ane di simpangan Depok gan. Boleh nih kopdar kapan2 di salah satu mall daerah margonda emoticon-Malu

Jangan lupa bawa kecrekan yak kalo kopdar. Mayan sambil cari receh emoticon-Hammer
ini kayak horcrux ya....cuma media batu....keren....epic nih cerita
ceritanya menarik..ditunggu kelanjutanya.
Quote:


gantungan konci tuh gan.. emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
Quote:


iyA kali emoticon-Ngakak (S)
melipir ke trit horor lagi emoticon-Traveller
update terus gan emoticon-Big Grin
Sekar Ikutan Nge’Lounge..


Selepas Maghrib, Rio sudah sampai di rumah gw dengan berpakaian khas anak muda sekarang.. Kaus putih tertutup jaket jeans belel di padu celana jeans ketat membuat biji nya Rio yang besar sebelah nampak hendak berontak.. (kepala gw di getok lagi, Gan ama si kambing)

Berbeda dengan gw yang malas berpakaian rapi.. Cukup memakai kaus putih belel dan celana jeans pendek dengan bagian paha yang robek-robek.. Topi hitam dan sepasang sneakers gw jadikan pelengkap penampilan gw yang sedikit gembel namun tetap enak di lihat..

“Lu serius mau nge’Lounge make celana pendek doank?” Tanya Rio sambil menatap penampilan gw dari atas ke bawah

“Ga masalah, Men klo disana mah” Ucap gw dengan santai sambil melangkah keluar kamar..

Ibu gw sempat bertanya akan kemana gw pergi bersama Rio.. Karena gw hanya berpakaian santai, gw jawab saja mau nginep di rumah Rio..

Gw masih bisa sedikit bersantai sebelum Batu Mustika Biru yang akan di berikan ke gw 2 purnama dari sekarang.. Oleh karena itu gw ikut ajakan Rio untuk Nge’lounge malam ini dan besok baru gw akan menemui Tasya.. Kangen berat gw sama do’i..

Tepat jam 9 gw berangkat dari rumah Rio dengan mobil kakak perempuannya menuju daerah Mangga Besar, Jakarta Barat.. Sekar yang memang ingin ikut untuk melihat orang ‘menari’ sudah duduk di bangku tengah..

“Sekar ikut, Men?” Tanya Rio sambil memegangi lehernya..

Gw yang sedang mengemudikan mobil, hanya menunjuk sebentar ke arah belakang.. Si kambing item sempat menoleh sesaat ke arah yang gw tunjuk lalu kembali memandang ke jalan dengan gerakan cepat..

Jam sepuluh lewat sepuluh gw sudah sampai di tempat yang kami tuju.. Mobil langsung gw bawa ke basement untuk di parkirkan.. Kami pun keluar dari dalam mobil.. Sekar langsung melayang-layang sambil memperhatikan keadaan sekitar..

“Aura disini buruk sekali, Kang Mas.. Tempat apa ini?” Tanya Sekar dengan pandangan heran..

Gw tidak menjawab dan langsung berjalan bersama Rio menuju Lift yang ada di basement.. Angka 7 gw tekan di papan tombol Lift.. Disanalah tempat kami akan menuju.. Perlahan-lahan Lift yang kami naiki mulai berjalan ke atas..

“Men, lu coba liet donk di sini ada apaan.. Koq gw merinding amat ya?” Tanya Rio dengan wajah sedikit pucat..

Dari awal masuk lift, gw memang melihat ada seorang wanita yang sedang berdiri mematung dengan wajah tertunduk.. Kaus dan rok yang mahluk itu kenakan nampak berlumuran darah.. Terutama dari bagian rok pendeknya, terlihat darah merembes dan menetes di lantai.. Mahluk itu perlahan-lahan menaikkan wajahnya menatap ke arah Rio yang berdiri persis di hadapannya..

“Lu kenapa diem, men.. Ada setan ya di belakang gw?” Tanya Rio lagi dengan wajah tambah panik..

Mahluk itu menyeringai dan melayang mendekati leher Rio.. Gw segera mendekati mahluk itu dan menyentuh tubuh astralnya dengan telapak tangan yang sudah gw beri do’a do’a mustajab untuk memusnahkan jin jahil dengan tingkatan rendah..

NYESS!!! Mahluk tersebut langsung berubah menjadi asap yang mulai menghilang dengan perlahan.. Gw langsung merangkul bahu Rio dan membisikinya kata-kata yang membuatnya tenang..

TING!!! Pintu lift terbuka.. gw dan Rio melangkah keluar dan berbelok ke arah kiri.. Beberapa penampakan mahluk halus terlihat menunjukkan eksistensinya.. Namun sama sekali gw tidak hiraukan.. Di depan gw dan Rio nampak beberapa anak muda sedang sibuk membersihkan muntahan salah satu temannya..

“Lu jangan sampe nge’drugs, men” Kata gw mencoba memperingatkan Rio..

Gw memang ‘drugs free boy’ dan berniat hanya untuk mencari hiburan yang terbalut kenikmatan semu.. Mungkin terdengar naif tapi jiwa muda gw menuntut untuk mencoba segala sesuatu selama itu ga berbenturan dengan norma hukum.. Di depan pintu masuk ada 6 orang yang berdiri dengan alat pendeteksi logam.. Gw mulai merentangkan tangan untuk diperiksa.. Dari kaki sampai pinggang aman, tidak ada suara logam terdeteksi.. Namun saat alat tersebut mencapai bahu, langsung saja suara BIP beberapa kali terdengar..

6 laki-laki yang bertugas mengamankan tempat itu mulai mengerumuni gw.. Sekar nampak mulai memandang tajam satu persatu dari mereka.. Mungkin Jin Penjaga gw itu mengira posisi gw sedang terancam.. Rio pun sama, ia memandangi gw dengan tatapan heran..

Salah seorang dari laki-laki bertubuh tinggi besar meminta gw untuk melepas kaus.. Gw langsung menurutinya.. Sekali lagi, alat pendeteksi tersebut berbunyi kembali begitu berhenti di arah bahu gw..

“Sekar, tolong tutupi Pedang Jagat yang ada di bahuku” Kata gw ke Sekar lewat batin..

Sekar terlihat mengangguk dan memejamkan mata..

“Dibahu lu ada apa? Kenapa alat pendeteksi ini bunyi terus?” Tanya seorang laki-laki yang juga berbadan besar..

“Error kali Om, alatnya” Jawab gw dengan polos..

Mereka saling pandang mendengar jawaban konyol gw.. Sekar yang sudah memberitahu jika ia telah berhasil menutupi Pedang Jagat, mulai melayang menjauh mendekati Rio..

“Coba di ulang lagi, Om?” Pinta gw dengan sopan..

Untuk yang terakhir kali, alat pendeteksi logam itu mengelilingi tubuh gw yang sudah bertelanjang dada.. Saat sampai di bahu gw, alat tersebut tidak lagi berbunyi.. Gw tersenyum ke arah mereka..

“Tuh kan, alatnya error om.. Sekarang udah ga bunyi buktinya” Kata gw sambil memakai kaus kembali..

Gw dan Rio dipersilakan untuk memasuki area yang sebetulnya tidak sesuai dengan umur kami.. Sekar yang mengikuti sambil melayang, memandangi sekeliling ruangan yang nampak sudah ramai.. Rio segera ke meja kasir dan terlihat mengeluarkan sejumlah uang..

Cahaya laser yang menyilaukan mata sudah tersorot ke semua tempat dan dentuman music yang dimainkan seorang DJ terdengar keras mengalunkan irama-irama yang membuat kaki serta tubuh merespon sendiri, tanpa sadar kaki gw pun bergoyang mengikuti hentakan irama musik..

Rio mengajak gw ke sebuah meja untuk duduk, sambil membawa 1 pitcher bir dan 2 minuman bersoda.. Gw sengaja meminta Rio untuk tidak memesan harga paket, karena di dalam paket tersebut sudah termasuk 4 botol minuman beralkohol di atas 40 % kadarnya dan namanya pun aneh-aneh, ada yang belakangnya mirip nama biskuit meski ada kata Chiv*s di depannya dan 2 botol lagi memakai nama si Jack sama si amir nof..

Gw tidak suka minum alcohol.. Bandel nya gw saat itu hanya sebatas merokok saja.. Itupun terkadang masih suka ngumpet-ngumpet.. Berada nya gw di tempat ini hanya untuk menebus janji gw ke Rio yang belakangan ini jarang sekali berkumpul dengan nya..

Puluhan orang nampak bergoyang mengikuti hentakkan irama music di Lounge beberapa meter di hadapan kami duduk.. Gadis-gadis dengan bermacam bentuk wajah dari yang sangat cantik, yang biasa aja sampai yang matanya copot sebelah juga ada.. Oke, yang terakhir itu bukan manusia ternyata..

Pakaian mereka pun sangat bervariasi namun lebih banyak yang masuk ke kategori HOT untuk di pandang.. Kepala Rio mulai ikut bergoyang, gw ga tahu kepala bawahnya ikut goyang juga atau tidak.. Segelas bir yang ada di tangan Rio hampir tertumpah..

“Kang Mas, aku tidak suka berada disini.. Tarian orang-orang itu tidak lebih dari tarian kesurupan, berbeda sekali dengan jaman ku.. Terutama para gadis itu Kang Mas, hampir semua pakaian yang mereka kenakan tidak menutup aurat.. Aku lebih baik pergi dan berjaga di luar, Kang Mas” Ucap Sekar panjang lebar lalu melayang ke atas menembus atap ruangan..

“Rio, Silvinya mana?” Tanya seorang gadis cantik yang tiba-tiba langsung duduk di tengah-tengah kami..

Gw berpendapat gadis yang sepertinya setengah mabuk itu teman kakak perempuannya Rio..

“Kak Silvi di rumah, ngapain nanya dia kan ada aku adiknya” Jawab Rio seperti menawarkan diri..

Gadis cantik bepakaian tanktop hitam dan hot pants itu malah melirik gw sambil tersenyum, bukannya menjawab pertanyaan sepupu gw barusan..

“Hai, aku Anggie.. Kamu siapa?” Katanya sambil mengulurkan tangan..
Gw sempat mencium aroma alkohol dari mulutnya, dan berusaha menahan nafas sejenak..

“Imam” jawab gw singkat sambil tersenyum..

Gadis yang bernama Anggie itu sesaat memandangi gw dari kaki hingga kepala lalu mulai merapat hingga lengan gw merasakan benda bertekstur kenyal dan empuk menempel.. Gw mengatur nafas dengan perlahan, mencoba meredam usaha si imin gw, yang mulai bergerak bangun dari tidurnya yang melingkar..

“Hei, ganteng, ikut aku nge Lounge yuk” Kata Anggie yang mencoba bangkit sambil menarik tangan gw..

Tubuh gadis itu terlihat sempoyongan sesaat, lalu jatuh di pangkuan gw.. Gw dengan sigap menahan tubuhnya dan berusaha memindahkan ke posisi duduknya semula.. Bukannya segera bangkit kembali, malah tangan Anggie yang kanan melingkar di leher gw..

Mendadak wajah Anggie terangkat dan mencium bibir gw dengan cepat.. Gw yang masih terkejut segera mendorong tubuh gadis itu menjauh dan mendudukkannya dengan cara membopongnya.. Gadis yang dalam keadaan mabuk itu tertawa beberapa kali lalu dengan berjalan sempoyongan ia meninggalkan kami menuju sekumpulan orang yang duduk tidak jauh dari meja gw dan Rio..

“Njiir, enak banget lu, Men.. Gw yang ajak malah lu yang dapet bonus” Kata Rio dengan wajah sebal..

“Di cium cewe mabok mana enak sih, Men.. Yang ada mulut gw jadi ikutan bau alkohol nih” Ucap gw lalu mengambil minuman bersoda dan meminumnya..

“Gw ng’lounge dulu ya, Men.. Kali aja dapet cewe mabok yang mau gw cipok.. Hahaha” Kata Rio yang sepertinya sudah terpengaruh alkohol dari sepitcher bir yang kini hanya tersisa setengah..

Pandangan gw awalnya menatap Rio yang mulai bergoyang di antara gadis-gadis seksi namun begitu gw edarkan pandangan dan terhenti di tempat Anggie, gw melihat gadis itu di tampar seorang pemuda.. Gw sempat berdiri dan berniat menolongnya, tapi gw urungkan niat tersebut karena takut akan berujung ke perkelahian..

Gw duduk kembali dan berusaha menenangkan diri.. Gw bukan siapa-siapanya Anggie, kalau gw ikut campur bisa-bisa gw yang bakal berantem nanti.. Pemuda yang menampar Anggie menatap gw dengan sorot mata tajam.. Tapi gw balas dengan senyuman.. Asli gw lagi malas banget buat ribut sama orang, bang..

Rio terlihat menghampiri gw dengan menggandeng dua orang cewe berpenampilan seksi.. Nih kambing dapet aja..

“Men, kenalin nih.. Sisca sama Inggrid.. Anak depok juga katanya” Ucap Rio diiringi uluran tangan dua orang gadis yang masih berdiri..

Gw sambut salam perkenalan dari kedua gadis itu dengan ramah, kemudian mereka pun mulai duduk.. Rio nampak asik ngobrol dengan Inggrid, sedangkan Sisca yang sedari tadi berusaha mengajak gw berbicara nampak mulai BT, karena tiap pertanyaannya selalu gw jawab dengan dingin..

“Lu gay, yah?” Tanya Sisca yang membuat gw langsung tersedak saat minum..

Hidung gw terasa panas karena sedikit air bersoda sempat masuk saat gw tersedak barusan.. Gw melirik ke arah Sisca, lalu sebuah ide konyol muncul di benak gw.. Dengan perlahan gw merangkul Rio dari belakang dengan mesra..

“Beb, kita pulang yuk” Kata gw sambil meniup-niup bagian belakang telinga Rio.. Sisca dan Inggrid berpandangan sesaat lalu mulai berdiri..

“Ganteng-ganteng, koq Maho” Ucap Sisca ketus sambil menarik tangan Inggrid lalu pergi menjauh dari kami..

“Anjrit, lu kambing.. Ngerusak rencana gw aja lu, Nyet,, Dikit lagi si Inggrid kena gw modusin tuh” Kata Rio sambil menonjok lengan gw..

“Sorry, Men.. Gw lama-lama ga nyaman disini men.. Inget Tasya mulu gw” Ucap gw sambil mengelus-elus lengan yang terasa pegal..

“Pake segala pura-pura jadi maho lagi, rusak reputasi gw men gara-gara lu” Tambah Rio lalu menghabiskan bir yang memang tinggal segelas..

Gw melirik jam tangan yang sudah menandakan pukul 12 lewat.. Gw coba menikmati tiap hentakan musik dan Rio yang sudah mabuk terlihat menggoyang-goyangkan kepalanya jauh lebih cepat.. Dua pitcher bir yang sudah dihabiskannya berdiri rapih di atas meja.. Goyangan kepala sepupu gw itu semakin cepat..

“Balik, Men” Kata gw sambil menarik lengan Rio.. Sepupu gw itu sempat melepaskan lengannya yang gw pegang dengan kasar lalu kembali menggoyang-goyangkan kepala nya.. Tidak salah lagi tebakan gw, si kambing pasti abis neken.. Dengan cepat gw rangkul bahunya dan membisikan mantera sirep.. Rio yang awalnya terus bergoyang perlahan-lahan diam tertunduk.. Mantera yang gw berikan hanya dasarnya saja yang membuat orang sedikit bisa kita pengaruhi untuk sementara.. Bukan ilmu sirep tingkat tinggi yang biasa digunakan oleh orang-orang berilmu hitam..

Rio berjalan sambil gw tuntun, beberapa orang menatap kami dengan aneh.. Mungkin mereka berfikir Rio sedang mabuk berat tapi cara jalannya sama sekali tidak sempoyongan.. Setelah sampai di area parkir di basement, gw segera menyadarkan Rio dari pengaruh ilmu sirep.. Sepupu gw itu langsung berdiri sempoyongan dan muntah tepat di bawah ban mobil kakaknya..

Tiba-tiba, telinga gw menangkap suara teriakan wanita dari arah pojok area basement.. Mata gw mengelilingi ke setiap mobil sambil berjalan pelan.. Di sana, di sudut area parkir 3 orang pemuda nampak sedang memegangi seorang gadis yang terus berontak dan menjerit-jerit..

Astaga, itu kan Anggie teman kakaknya Rio yang tadi mencium bibir gw di dalam discotique..

Gw berjalan mengendap-endap melewati tiap mobil.. Gw melirik ke sudut atas atap basement.. Ada 3 buah CCTV yang terpasang.. Gw segera memanggil Sekar dan menyuruhnya menutupi ke 3 CCTV, sebelum gw menolong Anggie..

Sekar yang sudah muncul langsung melayang dan memutar arah CCTV ke sudut 90 derajat.. Lalu melayang kembali mendekati gw..

Teriakan meminta tolong dari Anggie beberapa kali terdengar seiring suara bentakan dari seorang pemuda yang menyuruhnya diam.. Dengan cepat gw berlari ke arah gadis yang hendak di nodai kehormatannya tesebut..

“Woyy, ga malu lu beraninya sama cewe mabok” Teriak gw sedikit kencang ke arah mereka..

Ketiga orang pemuda yang sedang memegangi Anggie langsung menoleh ke arah gw yang sudah berdiri bertolak pinggang.. Gw mengenali salah satu dari mereka adalah pemuda yang menampar Anggie beberapa saat yang lalu.. Anggie yang sepertinya masih setengah sadar menutupi tubuhnya yang setengah telanjang lalu berjalan terhuyung huyung menuju sebuah mobil dan langsung masuk ke dalamnya..

“baik, lu jangan coba ikut campur anak kecil!” Bentak pemuda yang sepertinya pemimpin mereka..

“Lu bertiga udah gede tapi nyali lu lebih kecil dari biji gw” Kata gw mengejek..

Gw lihat Rio yang masih setengah sadar dari pengaruh obat terlarang, berjalan sambil garuk-garuk kepala mendekati gw..

“Ada apaan si, berisik banget, Men.. Gw mo tidur, kepala gw muter nih” Katanya yang tidak melihat ketiga pemuda tadi mulai berjalan mendekati kami..

“Udah lu sono tidur di mobil, nyalain musik yang keras yaa” Jawab gw sambil mendorong badan Rio untuk menjauh..

“Lu bakalan nyesel udah songong ke gw” Ancam pemuda yang berada paling depan sambil memberi kode ke kedua temannya untuk mulai menyerang gw..

Kedua orang yang di suruh mengepung gw dari samping kiri dan kanan mulai melayang kan pukulannya.. Awalnya gw kira mereka sedang mabuk, namun setelah sebuah pukulan mengenai wajah gw, baru sadar kalau mereka tidak mabuk..

Gw langsung memasang kuda-kuda begitu mereka hendak menyerang kembali.. 1 pukulan berhasil gw tangkis dengan lengan, di susul sebuah tendangan yang gw jaga dengan lutut.. Suara tulang lutut beradu terdengar.. Pemuda yang berambut panjang sebahu nampak kesakitan sambil memegangi lututnya..

Temannya yang satu lagi kembali melayangkan pukulannya ke arah wajah, dengan cepat gw tangkap kepalan tangannya dan gw putar hingga tubuhnya ikut berbalik membelakangi gw.. Sebuah tendangan keras gw layangkan di punggungnya yang langsung membuatnya terjerembab menabrak pintu mobil dengan keras..

Suara alarm mobil terdengar nyaring.. Tiba-tiba pemuda yang menampar Anggie yang sebelumnya hanya menonton perkelahian gw melawan kedua anak buahnya, memeluk gw dari arah belakang dengan kuat.. Gw sengaja tidak langsung berontak, menunggu kedua temannya bangkit dan mendatangi gw lagi..

Dalam perkelahian ini, gw sama sekali tidak menggunakan ilmu apapun.. Bahkan tenaga dalam yang gw keluarkan pun mungkin hanya 10 persennya saja.. Sebenarnya mudah bagi gw untuk langsung melumpuhkan mereka dengan 1 atau 2 jurus, tapi mengingat perlakuan mereka pada gadis bernama Anggie tadi, membuat gw memutuskan untuk bermain-main sebentar dengan ketiga penjahat kelamin tersebut..

Gw masih berpura-pura berontak dengan meronta-ronta.. Kedua pemuda yang tadi sempat kesakitan pada lututnya, dan yang sudah gw buat terjatuh menabrak pintu mobil, mulai berdiri dan berjalan ke arah gw..

“Bang, ampunin gw bang.. Gw minta maaf bang” Kata gw dengan nada suara memelas, dalam hati gw berasa geli sendiri..

“Lu rasain akibatnya klo udh ikut campur urusan orang, bocah tolol” Bentak pemuda yang masih memeluk gw dari belakang dengan tenaga cukup kuat..

Kedua temannya yang awalnya hanya berjalan, mulai berlari ke arah gw dengan masing-masing tangan terkepal.. Beberapa detik sebelum pukulan-pukulan tersebut tiba.. Dengan cepat gw melepaskan diri dari dekapan yang kuat dan berkelit ke samping..

BUGG.. BUGG!!! Kedua pukulan tersebut berhasil mendarat mulus di wajah dan lambung pemuda yang tadi memegangi gw dari belakang.. Pemuda itu langsung jatuh tersungkur sambil memegangi perut dan wajahnya.. Kedua temannya nampak panik melihat pukulan mereka sudah salah sasaran..

“Hajar dia” Perintah pemuda yang masih memegangi perut dan wajahnya sambil menunjuk ke arah gw.. Ada darah yang gw lihat keluar dari hidung pemuda tersebut.. Dari arah lift, terlihat dua orang satpam yang datang menuju ke arah kami.. Sementara kedua pemuda yang tersisa nampak sudah bersiap untuk menyerang gw lagi..

Gw segera menyalurkan setengah tenaga dalam ke kaki kanan, lalu menghentakkannya sekali ke lantai.. Lantai basement seperti terguncang gempa sesaat.. Mobil-mobil yang terparkir rapi mendadak semua alarmnya berbunyi terkena getaran yang di hasilkan oleh pijakan kaki gw barusan.. Tepat dilantai tempat gw menghentakkan kaki terlihat ubin nya retak-retak.. Kedua pemuda yang awalnya nampak bernafsu untuk menghajar gua, perlahan-lahan mundur sambil menatap gw dengan tatapan takut..

Gw langsung menoleh ke arah mobil yang tadi di masuki Anggie namun mobil tersebut ternyata sudah lenyap.. Entah kapan perginya Anggie bersama mobil itu.. Dengan santai gw kembali berjalan ke arah mobil Rio yang suara musiknya masih terdengar keras..

“Ada orang ribut tuh, pak.. Di sebelah sana” Kata gw ke kedua satpam yang sedang berjalan sambil menunjuk ke arah ketiga pemuda yang menyerang gw tadi..

Diperjalanan pulang, gw sempat membeli sebuah minuman ringan karena rasa haus yang mengeringkan tenggorokan..

“Kau sudah bisa menguasai diri dan emosi mu, Kang Mas.. Suatu kemajuan yang cukup baik” Puji Sekar dengan tersenyum..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 8 lainnya memberi reputasi
Nice apdet gan
Mayan tuh dpt cipok wkwk
Ijin bangun tenda gan..
Cek kulkas juga, ada cendol dingin tuh
emoticon-Cendol Gan
mbak sekar lu bawa ke tempat ajeb" mam emoticon-Leh Uga
Makin seru Gan ceritanya....Lanjutkan Gan....



wooow... mas imam keyeeen... emoticon-Belo
besok imam pasti diuber2 sama anggi


lanjooot, maaasss... emoticon-Genit


jejakk mas bro
gila ngajakin sekar Nge-lounge wkwkwk emoticon-Ngakak (S)
Update dong gan
Ninggal jejak gan
wooww lantai 7 mam....
Halaman 22 dari 85
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di