CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[TAMAT] Kembalilah (Tak Terungkap) | Kisah Nyata Cinta Tiga Hati | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54e61bbf5a5163581b8b4567/tamat-kembalilah-tak-terungkap--kisah-nyata-cinta-tiga-hati--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Kisah Nyata Cinta Tiga Hati | R-17

Tampilkan isi Thread
Halaman 362 dari 478
Sorry OOT, gak sangaja nemu ini, jadi ingat thread ini
[TAMAT] Kembalilah (Tak Terungkap) | Kisah Nyata Cinta Tiga Hati | R-17
Quote:


Quote:



Huuuuuuuuuuuuuuum,, iyh sih pas di mimpi aq izinin,, tpi kan itu bukan mimpi. .
emoticon-Malu (S)

Ditunggu updatenya ajh yaaah. .
emoticon-Belo

Pengen sih,, tpi pas diliat2 ftonya pake Bikini smua. .
emoticon-Maluemoticon-Shutupemoticon-Thinking

Btw,, bener tuh cinta ga mandang fisik,, karena kebahagiaan gak bersifat materi n fisik,, itu yg aq tahu. .
emoticon-Malu
Quote:


Kapan renca update Mba?

Wow.. bajunya kecebur dipantai semua Mba, samapi pakai bikini aja
Quote:



Kan aq sma Papemoticon-Kiss (S) sma Ka Tata fto2nya pas di pantai doang. .
emoticon-Malu

Lgi aq cari sih yg ga di pantai,, tpi btuh waktu. .
emoticon-Malu

Update klo gak malem ini ya besok dini hari sih. .
emoticon-shakehand
Quote:


btw gw dah gak maen lempar bata2an lg emoticon-Malu (S)
klo sharing tjendol gpp dah emoticon-Big Grin

Quote:


ditunggu cerita berikutnya y elya emoticon-Malu
Diubah oleh rda2184
Quote:



Iyh ka,, msih blom aq upload. .
emoticon-Malu

Nnti yaaah agak siangan. .
emoticon-Malu (S)

Senandung Bidadari di Bulan Desember | Bagian 44

SENANDUNG BIDADARI DI BULAN DESEMBER (BAGIAN 44)


Aku memejamkan mataku, bersiap untuk menerima tamparan dari tangan halus Cauthelia , dan betapa terkejutnya aku saat tangan lembutnya menyentuh pipiku dan mengusapnya, aku menghela nafas panjang lalu membuka mataku, ia tersenyum. Air mata sudah membasahi pipinya yang chubby itu, ia nampak berusaha untuk tetap tersenyum dengan keadaannya saat ini.

Quote:


Gadis itu hanya menatapku dengan wajah yang sangat merah, aku tersenyum kepadanya lalu menuntun tangannya untuk duduk kembali di tempatnya, setelah kumundurkan kursi tempatnya duduk, ia lalu duduk di sana. Matanya tak lepas memandangku, ia masih memperhatikan tiap langkahku hingga aku duduk di seberangnya.

Akhirnya kami memakan makanan yang mulai dingin ini, tidak ada kata dari bibir merah muda Cauthelia, hanya senyuman yang tersungging begitu manisnya untukku. Wajahnya masih selalu merah saat memandangku, walaupun aku tahu hanya cahaya lilin temaram yang menghiasi setiap senti ekspresinya. Sesekali ia menggenggam ringan tanganku dan aku pun membalas dengan senyuman untuknya.

Obrolan pun tercipta, banyak hal yang kami bicarakan hingga kami menyelesaikan makan malam ini sekitar pukul 2100, cukup lama memang, tetapi aku benar-benar menikmatinya. Sesaat setelah menyelesaikan makan malam, aku meraih tangannya untuk sekedar berjalan-jalan menyusuri pantai umum yang saat ini sudah ramai dengan banyak orang di sana.

Riuh deburan ombak menemani tiap langkah kami di atas pasir pantai ini, usia kami yang tergolong sangat muda lantas saja membuat kami menjadi pusat perhatian di antara para wisatawan di sana. Cahaya rembulan bahkan tercermin indah di atas laut yang terlihat cukup tenang di sana. Cahaya bintangpun terlihat begitu indah bertebaran di atas langit menghiasi indahnya malam ini.

Quote:


Angin pantai masih saja membelai manja dengan sentuhan mereka yang sesekali menegakkan bulu romaku, suara ombak juga masih saja membisikkan nada mesra dengan percikan air yang sesekali genit menyentuh kulitku. Cahaya hanya bersinar temaram, berkelip dari kejauhan tempat kami menginap, namun wajah Cauthelia masih dapat kulihat jelas, sang Luna masih setia menerangi kami malam ini.

Dia, ya dia, anugerah terindah yang pernah kumiliki, tidak ada hal yang dapat membuatku begitu berharga selain sosok gadis berparas cantik di depanku ini, ya gadis yang saat ini mendekapku dengan hangatnya. Adakah hal lain yang dapat membuatku beralasan agar dapat meninggalkan gadis ini? Tentu saja tidak ada hal yang membuatku bisa meninggalkannya.

Kami berjalan pulang menuju ke arah kamar kami, suasan sudah cukup sepi malam itu, ya waktu sudah menunjukkan pukul 2230 memang, cukup lama kami berada di pantai memang. Cauthelia memutuskan untuk merebahkan dirinya di ranjang setelah ia mandi terlebih dahulu, dan itu adalah memang salah satu kebiasaannya, setelah keluar rumah dan hendak tidur, ia selalu mandi terlebih dahulu.

Ia tidur di ranjang berukuran 200 cm x 200 cm itu, dengan cepat ia terlelap pada malam ini, dengkurannya yang halus dan teratur terdengar begitu merdu dan menenangkan. Sesekali selimutnya tersingkap dan menunjukkan kulit tubuhnya yang begitu putih dan bersih, ia tidur dengan polos di balik selimut itu, sesekali aku juga memperbaiki posisi selimutnya sambil tersenyum memandang wajahnya yang sedang terlelap itu.

Aku keluar menuju beranda yang mengarah ke laut, posisi kamarnya cukup tinggi untuk melihat laut dan sekelilingnya. Aku menghela nafas panjang, satu hari akan dilewati, aku bahkan sudah mengajaknya makan malam tadi, dan perasaanku benar-benar bahagia, karena memang ia pun benar-benar berusaha agar aku juga bahagia, satu tujuan yang sama.

Quote:


Aku menggeleng, kuhela nafasku cukup panjang, perasaan ini hanya milik Cauthelia, hatiku terus mengatakan hal itu, seakan tidak ada gadis lain yang harus dan pantas kucintai selain Cauthelia saat ini. Gadis itu lalu mendekapku, hangat, ya hangat seperti dekapan Cauthelia atau Nadine, tetapi aku berusaha terus menolak apa yang gadis itu lakukan, entah apapun yang kurasakan, tetapi perasaanku masih berteriak bahwa aku tidak ingin didekapnya.

Quote:


Setelah mendekapku, ia lalu beranjak dari kursi tempat ia duduk sekarang dan kembali masuk ke dalam kamar, aku hanya memandangnya hingga ia benar-benar berada di dalam kamarnya. Sejurus kemudian aku kembali memandang langit, aku menghela nafas panjang lagi saat menyadari semuanya akan menjadi rumit apabila aku tidak segera bertindak.

Sudah jam dua-belas malam, pikirku dalam hati, setelah menelepon seseorang, aku segera menuju ke ranjang Cauthelia dan mencium keningnya. Seketika ia terbangun dengan wajah yang masih terlihat mengantuk. Aku mengambilkan pakaian kepadanya untuk ia kenakan, sembari kututup matanya. Aku mengajaknya untuk turun ke pantai pribadi yang semuanya sudah dipersiapkan oleh pihak resort.

Sepanjang perjalanan, ia hanya mendekap erat tanganku hingga akhirnya kami tiba di pantai pribadi, suasana di sana benar-benar seperti yang kuminta, saat kubuka mata Cauthelia ia hanya memandang apa yang ada di depannya dengan tidak percaya, ia lalu memandangku aku hanya tersenyum melihat ekspresi gadis yang sepertinya masih dibalut kantuk itu.
profile-picture
fatqurr memberi reputasi
Spoiler for for update terbaru:

Diubah oleh _Mr_Coolz_
Quote:


Huuuuuuuuuuuuum,, ad aph dngan kentang??
emoticon-Belo

Kak Dee bener" superr emoticon-thumbsup
Quote:



Huuuuuuuuuuuuum,, super knpah yah ka??
emoticon-Maluemoticon-Shutup
Quote:



hatinya yg supeer, emoticon-Ngakak

Senandung Bidadari di Bulan Desember | Bagian 45

SENANDUNG BIDADARI DI BULAN DESEMBER (BAGIAN 45)


Quote:


Wajahnya berubah, air mata kembali mengalir di pipinya, aku hanya tersenyum saat ia memandangku dengan wajah yang tidak percaya. Sebuah Black Forest Cake berukuran 30 cm x 30 cm tersaji di sana lengkap dengan lilin angka 16 serta ada wording dari cokelat putih dengan tulisan HAPPY BIRTHDAY MY LOVELY ONE.

Quote:


Masih dengan lilin yang menyala, aku segera mengambil gitar yang berada di dekat lilin tersebut, kuminta ia untuk duduk di kursi di dekat meja yang tersaji cake tersebut, aku pun duduk dekat di seberangnya. Kumainkan gitar akustik itu dengan kemampuan bermain gitarku yang a la kadarnya di depan Cauthelia.

Quote:


Sesaat setelah ia mendengarkan lagu itu, ia menutup sendiri mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya kembali mengalir pelan di pipinya, aku hanya bisa tersenyum kepadanya yang saat itu mulai terharu. Mungkin ini agak berlebihan bagi remaja seusiaku, tetapi hatiku sudah benar-benar terpatri kepada gadis itu.

Kukeluarkan sesuatu dari saku celana pendekku, aku berlutut di depan gadis itu air matanya masih saja mengalir deras di pipinya, kuraih kedua lulut gadis itu dan sedikit kuremas untuk menenangkannya. Ia melihat benda yang kukeluarkan itu, sebuah kotak perhiasan kecil dari bahan beludru berwarna merah, kubuka kotak itu di depan gadis itu, ia lalu memandangku.

Quote:


Tanpa menghiraukan apapun, ia menindih tubuhku, dengan sangat liar Labia orisnya bermain di Corpora cavernosaku, ia sengaja melakukan itu dengan cepat sehingga membuatku terlarut dalam birahi yang begitu membara, hingga beberapa kali ia sengaja tidak membiarkan protein itu keluar. Hingga saat mataku sudah gelap dengan birahi, ia arahkan Corpora cavernosaku di bawah Mons nya, ia berada di atas, dan Corpora cavernosaku siap memasukinya, luar biasa Cauthelia.

Esok hari tiba dengan cepat, aku menghela nafas saat kami berdua tertidur di atas matras ini, harum tubug Cauthelia sangat kental tercium menusuk hidungku, seakan menyadarkan seluruh tubuh ini akan apa yang terjadi semalam. Ia masih tertidur di atas tubuhku, ia jadikan dadaku sebagai bantal ternyaman, bahkan ia masih mendengkur halus, ya ia masih terlelap pada pagi hari ini.

Cake itu masih utuh di sana, kami sama sekali tidak menyentuhnya, bahkan lilinnya dibiarkan menyala hingga akhirnya mati sendiri karena sumbunya sudah habis. Apa yang kami sudah lakukan semalam? Hanya Event Horizon yang dilanjutkan dengan kegiatan yang ia inginkan di dalam mimpi itu. Rasanya benar-benar luar biasa, dan tanpa sadar aku mendekapnya sangat erat, hampir-hampir ia terbangun.

Delapan belas kali di event horizon ternyata tidak menurunkan hasrat Cauthelia sama sekali di alam itu, dua hari dua malam, kami lakukan kegiatan itu hingga kami tak tahan dengan rasa kantuk dan lapar yang mendera hingga kami tertidur dan terbangun di sini. Di sana entah berapa puluh kali impuls dia dapatkan, tetapi aku senang setidaknya tidak ada tragedi apapun yang terjadi.

Wangi laut di pagi ini, berpadu serasi dengan wangi pasir pantai yang menggoda raga ini untuk sekedar menyentuh airnya. Suara-suara alam di pagi ini berbaur dengan deburan ombak yang mengalun manja bak alunan musik klasik yang amat sangat indah. Aku benar-benar tersihir dengan apa yang kurasakan saat ini, ingin rasanya tubuh ini beranjak tetapi tidak mungkin.

Cincin itu masih tersemat indah di jari manisnya, aku menggenggam jemari kiri gadis itu, seketika ia juga membuka matanya coklatnya yang masih sayu, bibirnya yang merah muda tanpa pemoles itu tersenyum manja kepadaku, saat itu kubelai pelan rambutnya yang masih saja halus meskipun semalaman kami berkeringat, ia lalu mendekapku dengan sangat hangat.

Quote:


Dua jam kemudian, setelah kegiatan yang menyita peluh itu berlangsung, kami memutuskan untuk segera naik ke kamar kami tentu saja dengan membawa Cake Black Forest yang sudah semalaman dibiarkan di sana. Lapar, ya aku sangat lapar begitu juga dengan Cauthelia, berulang kali kudengar perutnya keroncongan menahan lapar.

Shinta menyambut kami dengan sedikit terkejut, sama terkejutnya mungkin seperti beberapa orang yang melihat kami sepanjang perjalanan menuju kamar ini, rambut Cauthelia sedikit acak-acakan, sisa protein masih menempel jelas beberapa di rambutnya, tetapi Shinta malah tertawa kecil dan makin menjadi meledeki kami.

Setelah mandi, kami pun memutuskan untuk memakan Black Forest yang kubeli di resort tersebut, cukup enak memang, tentu saja cake cokelatnya dilengkapi dengan Rum yang memiliki rasa yang khas. Setelah kami memakan beberapa potong dengan lahap dan meletakkanya di kulkas, kami langsung menuju ke restoran tempat kami mendapatkan sarapan prasmanan.

Cukup ramai, mengingat ini akhir tahun, maka tempat wisata seperti ini pasti dibanjiri oleh pengunjung, baik asing ataupun dalam negeri. Aku meminta kedua gadis itu menunggu di sana, aku tahu makanan favorit mereka masing-masing, tentu saja aku bolak balik untuk mengisi piring dengan makanan kesuakaan mereka.

Cauthelia menyukai Nasi Goreng dengan Sosis Sapi dan dua butir telur mata sapi matang, sementara Shinta menyukai Nasi Putih dengan Fillet Ayam Goreng dan juga beberapa jenis tumisan yang disajikan. Sebagai tambahan aku juga mengambilkan Waffle dengan Hersey’s, Almond, Cokelat parut, dan sedikit Maple Syrup.

Quote:


Apa-apaan mereka membicarakan hal seperti itu di depan umum, sudahlah, ujarku dalam hati. Akhirnya dengan ditemani dengan Jus Strawberry untuk Cauthelia dan juga Jus Sirsak untuk Shinta kami memakan sarapan ini. Suasana mendadak berubah saat seseorang menepuk pundakku, deg, detak jantungku berdetak sangat cepat, dan saat kumenoleh ke belakang, jantungku tiba-tiba copot seketika, tidak mungkin.
profile-picture
fatqurr memberi reputasi
Quote:



Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuum,, hati aq sma ajh kyak yg laen qo. .
emoticon-Malu
kak itu foto epic nya sma skrg gmna kak. . . emoticon-Hammer2
Quote:



Huuuuuuuuuuuuuum,, foto epic apaan yah??
emoticon-Belo
Heeehm rasa protein kaya apa kak?? emoticon-Malu emoticon-Thinking
emoticon-Matabelo yang di lamar pas ultah... emoticon-Matabelo

Quote:


Huuuuuuuuuuuuum,, rsanya kyak telor setengah mateng dkasih garem,, persis. .
emoticon-Shutupemoticon-Thinking

Quote:


Huuuuuuuuuuuuum,, iyh sih,, aq ga prnah pacaran sma Papemoticon-Kiss (S),, lngsung dilamar dri umur 16 tahun. .
emoticon-Maluemoticon-Kiss (S)
sampe lupa ama kue ultah emoticon-Matabelo
ganas bener emoticon-Matabelo
Halaman 362 dari 478


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di