CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50938a0c0975b4e146000001/serapium-catalogue--silahkan-review-saran-dan-diskusi-buku-favoritmu

Serapium Catalogue

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 55 dari 59
hallloo TS, mimin, momod, dan penghuni serapium,..
ane mau nanya sederhana aja, ap sih manfaat baca buku, skalipun itu bukn buku science, ky komedi novel fiksi komik dll ??
Diubah oleh yogizz
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya
Penulis : Sabda Armandio
Genre: Coming of Age
Penerbit : Moka Buku
ISBN : 9797959619
Ketebalan : 356 hlm
Terbit : Januari 2015


Oleh: Andreas Rossi D.

Ada tiga jalan yang seringkali diambil oleh para penulis novel remaja/dewasa-muda dalam ceritanya di masa sekarang ini. Pertama, seperti yang lazim di Amerika Serikat, mereka bisa mencoba membangkitkan kembali arwah triumvirat Orwell-Bradbury-Huxley. Dengan terengah-engah, tentu saja, karena pendalaman terhadap struktur ekonomi dan sosio-politikal pemerintah/masyarakat distopian bisa dipinggirkan dulu demi kisah cinta sang karakter utamanya. Yang kedua, langsung masuk saja kepada roman picisan, lengkap dengan cinta pada pandangan pertama dan tetek-bengek lainnya. Cinta lantas digambarkan menjadi sesuatu yang transenden, yang melampaui agama, status sosial, halangan dari orang tua, jarak, bahkan spesies, jika manusia serigala bisa dibilang seperti itu. Yang terakhir ini hidup dalam bentuknya yang lain, dalam film, sinetron, dan FTV dengan cerita yang bisa membuat Jane Austen maupun Shakespeare gila andai saja mereka hidup di Indonesia jaman sekarang.

Jalan yang terakhir adalah dengan memberinya bingkai agama. Selepas novel (juga film) Dealova dan Eiffel I’m in Love (dengan stereotip pemuda cuek-namun-kaya-dan-pintar-bermain-basket yang akhirnya menjungkalkan pemuda cuek-namun-nyeni-dan-fasih-mengutip-Chairil-Anwar sebagai pemegang tampuk Remaja Idola di Sekolah), novel remaja/dewasa-muda di Indonesia mengalami kekosongan karakter sampai munculnya tipe-tipe remaja yang taat beribadah, yang fasih dalam agama. Mereka adalah perwujudan anima/animus yang membawa si protagonis – atau bersama-sama dengannya – menuju level relijiusitas yang lebih tinggi lagi. Cinta tentu tetap ada di dalamnya, namun ia harus berkulminasi pada pernikahan, sebagai perlambang cinta mereka yang lebih besar kepada Tuhannya dahulu, baru kepada manusia. Maka bisa dibilang akhir-akhir ini yang ada hanyalah ekses romantisme, namun miskin kisah persahabatan dan avonturisme yang khas dengan serial Balada Si Roy atau Lupus. Bukan berarti novel romantis itu selalu buruk. Dewi Kharisma Michellia, contohnya, bisa memberikan sisi lain kepada romantisme dengan memberikan komentar-komentar mengenai alienasi dan budaya pariarki masyarakat Bali dalam novel epistolarisnya yang berjudul Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya.

Namun, Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya, novel perdana Sabda Armandio, menolak mengambil jalan-jalan tersebut.

Novel ini dibuka in medias res (dari tengah-tengah) dengan narasi tentang kamar kos barunya, juga pekerjaan dan kota Jakarta yang sama-sama membosankan, dan munculnya seorang satpam yang entah hantu, entah efek halusinasi. Si protagonis, mari kita sebut saja “Sang Narator”, sudah berumur 27 tahun pada waktu itu. Ia hanya mempunyai tujuh jari tangan. Ayah dan ibunya sama-sama meninggal karena kebakaran. Ia mempunyai seorang teman sekolah yang absurd, gemar menghisap ganja, dan selo seperti anak-anak Generasi Beat bernama “Kamu” (apakah ini juga sebuah alusi kepada Camus?). Satu-satunya yang biasa darinya mungkin hanyalah kerja kantorannya di Jakarta, juga kegemarannya menyantap mi instan.

Ia kemudian beralih mengenang masa lalunya, pada masa-masa SMA menjelang Ujian Nasional. Waktu itu, “Kamu” menelepon untuk mengajaknya bolos. Karena absurditas Si “Kamu” ini, maka ajakan bolosnya tentu bukan untuk melakukan kenakalan yang jamak dilakukan anak-anak SMA (meskipun merokok dan menenggak bir tetap mereka lakukan juga di perjalanan). Mereka berdua membolos untuk mencari sebuah sendok yang tertukar dan mengantarkan sebuah paket kepada seseorang yang belakangan kita tahu bernama Kek Su. Kemudian ada kisah mengenai teman perempuan satu kelas “Sang Narator” yang sakit leher yang minta diantar ke dokter. Lalu ada juga kisah mengenai kekasihnya (yang lantas menjadi mantan pacar) yang hamil bukan karena “Sang Narator”. Ada pula cerita bersama Permen, perempuan yang ditaksir oleh “Kamu”, dan Johan, seorang guru les yang juga suka kepada Permen.

Dalam setiap petualangan masa lalunya itu, “Sang Narator” selalu mendapati dirinya dalam situasi yang ganjil, jika tidak bisa dibilang surreal. Sewaktu ia mengantar paket, misalnya, ia bersama “Kamu” masuk ke sebuah gorong-gorong untuk menghindari macet. Macet bukan karena banjir atau kecelakaan, tentu saja, melainkan karena sekumpulan monyet yang tiba-tiba mengamuk. Gorong-gorong ini lantas membawanya ke dunia lain yang mirip dengan “Alice in Wonderland”, lengkap dengan padang bunga yang aneh dan orang utan yang bisa berbicara dan memakai kaos bernada ironis yang bertuliskan “Save Human”. Kemudian ada polisi yang menyamar sebagai tukang bakso. Di kesempatan lain, ia bertemu dengan pesulap yang mengeluarkan hewan-hewan dari dalam topinya, yang lantas memberikan kartu nama beralamatkan rumah Sang Narator itu sendiri. Dan, dalam beberapa halaman yang nyaris sebuah metafiksi, ia bercerita tentang sebuah novel yang berjudul Bagian Terbaiknya adalah Tak Ada Bagian Terbaik, sebuah cerita tentang seorang profesor yang dihukum menghitung bulu domba. Isinya, hitungan bulu domba. Secara literer.

kamu

Dengan selera humor yang ironis dan sama-sama ganjilnya, “Sang Narator” coba memaknai sekitarnya. Baliho yang muncul begitu saja menjelang pemilu dianggapnya bak Candi Prambanan. Parfum mobil yang berbau seperti soto babat. Pesulap yang menawarkan keajaiban dikatakannya seperti seorang motivator. Dan bahwa memakan mi goreng adalah cara mati yang lebih aduhai daripada menembak kepala dengan shotgun.

Surealisme yang menyertai “Sang Narator” semasa remajanya ini tak lantas membuat “Sang Narator” terhenyak. Ia heran, namun tetap tenang dengan ketenangan yang begitu psikopatik, bahkan dalam kemalangan sekalipun. Saat ayah dan ibunya tewas terbakar, komentarnya hanyalah “Keduanya, dilihat sekilas, sama matangnya” (hal. 22). Si mantan pacar yang hamil hasil dari perselingkuhan pun tak meregister apa-apa di pikiran sang Narator. Diajak putus, ia setujui. Diajak ke dokter kandungan, ia setujui. Tak diceritakan siapa bapaknya? Tidak masalah. Menulis surat hendak bunuh diri? “Semoga kematiannya benar-benar hangat” (hal. 228), ucapnya. Bahkan “Kamu”, yang bisa dianggap sebagai tokoh paling dekat dengannya di novel ini baginya “[…] bukan sahabat, bukan pula musuh. Sama saja. Aku senang menghabiskan waktu dengannya, akan tetapi bukan masalah besar jika ia tidak ada. Kurasa ia pun berpikir demikian.” (hal. 24).

Sampai akhir buku, level emosinya tetaplah datar, nyaris nol seperti petapa. Memang benar, ia telah kehilangan banyak hal. Tiga jarinya yang absen mungkin perlambang hilangnya orang tua, cinta, dan sahabat yang akan menyertai kehidupannya. Maka, menurutnya, ia tak lagi menginginkan apa-apa. “Mulutku bersekongkol dengan otak untuk melindungi diriku sendiri dari perasaan-perasaan yang mungkin muncul jika aku mengetahui lebih banyak” (hal. 185), begitu ungkapnya. Pada akhirnya, karakter “Sang Narator” tetaplah pipih: seorang “Yes-Man” yang berkubang dalam pasifisitas. Seseorang yang menerima hidup dengan pasrah dan tanpa perlu banyak tahu. Seseorang yang menganggap kehilangan seperti sesuatu yang sebanal berak. Jika saja Jean-Paul Sartre membaca buku ini, ia tentu mengenali mauvaise foi dalam pemikiran-pemikiran “Sang Narator”.

Di samping itu, hanya ada sedikit perbedaan suara antara dialog dari sang Narator dengan tokoh lain. Kecuali kokoh penjaga ding-dong, si mantan pacar, dan Johan, mereka semua bisa mengutarakan sesuatu yang profound. Bahkan polisi yang menyamar menjadi tukang bakso, entah mengapa, dapat mengucapkan kalimat seperti berikut: “Bukan hilang, mungkin lebih tepat disebut berpindah tempat. Di dunia ini tidak ada yang hilang. […] Orang-orang lahir dan mati, benda-benda diciptakan, lalu rusak, dan dibuang. Tak perlu disesali. Biar saja. Segalanya baik dan tak ada yang terluka” (hal. 152-153). Sebuah keseragaman yang mirip dengan cara “Sang Narator” memandang dunia: fatalistis, dan hampir-hampir nihilis, namun sayangnya tidak disertai dengan believable depth. Ini pun menyebabkan karakter yang sebenarnya mempunyai motif yang menarik, seperti teman perempuan sekelasnya yang mencintai ayahnya sendiri, menjadi timbul dan tenggelam.

Ketiadaan atau impotensi figur otoritas (orang tua, sekolah) dalam novel ini mungkin juga turut menyebabkan keseragaman yang lain: tingkah polah masa muda yang tidak ditandai dengan pemberontakan yang menggebu-gebu, tetapi dalam kegelisahan seorang flâneur yang merasa tidak perlu bergerak ke mana-mana, sebab dunia di sekitarnya sudah bergerak kesana-kemari (hal. 291). Ini pun juga tergambar lewat dunia kecil dalam novel ini yang anakronistis. “Sang Narator” lebih gemar bermain ding-dong daripada game online. Pemakaian telepon rumah dan telepon umum koin alih-alih ponsel. Kegaliban tokoh-tokohnya menyebutkan lagu-lagu lawas The Rolling Stones hingga Nick Drake dan Charlie Patton. Retromania yang menular dari satu tokoh ke tokoh lain ini membuat saya berpikir: apakah ini suara dari tokohnya, atau suara Sabda sendiri? Lalu bagaimana mereka, dengan pengetahuan yang ensiklopedik, dapat mengenali lukisan gaya mooi indie sampai membawa Gondwana dalam percakapan remeh-temeh? Mengapa juga snobbery ini mesti menular? Apakah Sabda, saat hendak menempatkan Holden Caulfield ke dalam Macondo versi Bogor, malah menghasilkan tokoh dari cerita-cerita Murakami Haruki?

Meskipun begitu, di dalam novel ini, juga terdapat beberapa dialog berisi kritik yang menggelitik dan relevan bagi anak muda sekarang. Misalnya kehamilan remaja dan sekolah yang justru tak memanusiakan muridnya (hal. 214), kelas menengah dan antagonismenya kepada kaum buruh (hal. 290), Ujian Nasional yang dengan keliru dijadikan tolok ukur kesuksesan (hal. 300-301). Tak hanya itu, ia juga tak malu-malu untuk bermain-main dengan konsep Tuhan, dosa, dan kehendak bebas (hal. 256-259).

“Kamu” tidak menawarkan apa-apa, namun justru, seperti yang dikatakannya sendiri, bagian terbaiknya adalah tak ada bagian terbaik. Karena hidup seringkali tak memberi kita bagian yang terbaik. Ia seringkali mengecewakan. Ia seringkali membawa kehilangan. Namun hidup harus berjalan, dan ia membutuhkan harapan untuk berjalan betapapun ilusifnya harapan-harapan itu. Novel ini tidak menjejali kita dengan bualan a la Cinderella, tidak juga menakut-nakuti kita dengan penghukuman-penghukuman yang tragis. “Kamu” mencoba realistis karena kita semua dikutuk untuk hidup, dan karenanya, mau tidak mau harus menghisap sari-sari ilusi ini sampai semuanya berhenti. Tidak ada yang benar-benar sempurna dalam hidup. Dan tidak ada pilihan-pilihan yang akan selalu menghindarkan kita dari bau busuk kehidupan.



(Resensi ini pernah dipublikasikan di http://www.birokreasi.com/2015/02/27...a-yang-absurd/)

[Book Review] In a Blue Moon by Ilana Tan

Started on: 20 March 2015
Finished on: 21 March 2015

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Judul Buku: In a Blue Moon
Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 320 Halaman
Terbit: April 2015
Harga: Rp 70.000


Buku ini merupakan buku keenam Ilana Tan yang saya tunggu2 selama dua tahunan, setelah sebelumnya melahap habis Tetralogi Empat Musim dan Sunshine Becomes You. Tidak berlebihan jika sang penerbit menyematkan tagline Mega Bestseller karena hampir semua bukunya membuat saya berdecak puas. Kabar gembiranya, saya berhasil mendapatkan buku ini pre order, lebih dahulu dari tanggal rilis resminya.

Lucas Ford, pria bertubuh jangkung, berkulit putih, berambut gelap merupakan seorang koki kepala di Ramses, salah satu restoran paling terkenal di kota New York. Lewat kakeknya, dia dipertemukan kembali dengan Sophie Wilson, gadis berwajah Asia bertubuh mungil yang dikenalnya sepuluh tahun lalu, yang ternyata masih sangat membencinya.

"Apakah kau masih membenciku?"
"Ya, Aku heran kau merasa perlu bertanya"
―hlm 55

Segala daya dan upaya dilakukan Lucas untuk membuktikan bahwa dia sudah berubah, bukan lagi remaja SMA yang seneng membuat Sophie menderita. Namun Sophie tidak semudah itu memaafkan kesalahan Lucas dimasa lalu, yang membuat masa-masa sekolahnya menjadi rumit.

"Kau tau permintaan maaf tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Kau melakukannya untuk membuat perasaanmu lebih baik. Mungkin mengurangi perasaan bersalahmu. Tapi aku sendiri tidak merasa lebih baik setelah mendengar permintaan maafmu"―hlm 58

Pertemuan demi pertemuan diantara keduanya mulai mencairkan suasana. Sikap Lucas yang manis mulai membuat jantung Sophie berdebar-debar, mata biru gelap Lucas mampu meluluhkan mata siapapun yang menatapnya, termasuk Sophie. Perlahan namun pasti Sophie bersedia belajar untuk tidak membencinya dan ingin mengenal Lucas lebih baik.

"Kurasa aku sudah memberimu cukup waktu untuk berfikir. Jadi apa jawabanmu, Sophie Wilson? Apakah ada kemungkinan kau akan menyukaiku dan ingin mengenalku lebih baik?"―hlm 227

Namun saat Sophie mulai membuka hati, muncul Miranda Young, model cantik yang digosipkan punya hubungan dengan Lucas. Disaat bersamaan muncul Adrian Graves, sosok dalam masa lalu Sophie yang membuat hubungan mereka semakin rumit.

Bagaimana cerita selanjutnya? Silahkan dibaca sendiri.

Well, seperti buka-buka Ilana Tan sebelumnya, buku ini berhasil memikatku. Ditulis dengan bahasa yang ringan dan sopan seperti ciri khasnya. Kisahnya sederhana? Iya. Dua orang yang pernah membenci dipertemukan kembali, dijodohkan secara tidak resmi dan akhirnya saling jatuh cinta. Ilana Tan berhasil membangun chemistry keduanya dengan apik, lewat dialog manis, sms maupun percapakan di telepom yang membuat saya ikut tersenyum.

"Aku bersedia melakukan apa pun agar kau tetap berada di sisiku, bersamaku, selama kau juga menginginkan hal yang sama."―hlm 289

Jika sebelumnya saya pernah jatuh cinta kepada Tatsuya Fujitatsu (Autumn In Paris), kali ini saya kembali jatuh cinta kepada Lucas Ford. Dan saya yakin wanita mana (termasuk Sophie) yang sanggup menolak pesona lelaki yang begitu romantis, bittersweet, pantang menyerah dan tau cara memperlakukan dan memuji gadisnya dengan baik.

"Kau hanya gadis biasa yang berpotongan tubuh kecil dan cukup manis kalau tidak sedang memberengut. Kau tidak tinggi semampai dan tidak memiliki tampang eksotis. Benar-benar biasa. Kau mungkin tidak sempurna, tapi kau sempurna untukku"―hlm 231

Terakhir yang saya kagumi dari seorang Ilana Tan adalah pengetahuannya yang luas dalam mengeksplorasi setting dan cerita. Dia tau betul nama-nama restoran di New York, paham istilah-istilah per-koki-an dan punya pengetahuan lebih tentang musik klasik. Sayangnya dibuku ini tidak disertai catatan kaki terjemahan istilah asing seperti buku-bukunya yang terdahulu.

Overall, saya puas dengan jalan ceritanya, karakternya sekaligus endingnya. Semoga Ilana Tan tidak membuat kita menunggu terlalu lama untuk menulis buku baru. Ilana Tan adalah penulis yang bukunya selalu saya nantikan dan saya yakin saya tidak sendiri dalam hal ini.


Rate: 5 of 5 stars
Diubah oleh vitawulandari

nice review

Quote:

Mice Cartoon: Indonesia 1998

Pada satu wawancara di televisi, Muhammad “Mice” Misrad menyebutkan bahwa ia sudah mulai berkarya membuat kartun saat Indonesia mengalami periode runtuhnya Orde Baru. Ia juga menyebutkan satu judul karyanya ini yang terbit pada tahun 1998. Saya mulai penasaran dan mencari judul yang dimaksud. Maklum, selama ini saya secara terbatas mengenal Mice melalui kartun-kartunnya yang popular, seperti serial Lagak Jakarta dan Tiga Manula. Kartun Komentator Sepakbola kemudian masuk ke rak buku saya sebagai karya Mice pertama yang saya miliki.

Spoiler for BWK:


Buku ini terbit kembali sebagai remake dari buku yang terbit tahun 1999 lalu dengan judul “Rony: Bagimu Mal-mu, Bagiku Pasar-ku”. Walaupun lahir kembali dengan kemasan yang baru namun muatan dan esensi yang dibawa pendahulunya tidak lantas luntur. Lihat saja bagaimana buku ini tampil dengan warna sampul merah dan teks putih serupa bendera kebangsaan Indonesia.

Pergolakan yang terjadi selama periode kelahiran Orde Reformasi adalah taman bermain yang memacu kreativitas para kartunis. Lembaran-lembaran harian ibukota mulai ramai kembali dengan kolom-kolom gambar kartun. Mereka berbicara mengenai situasi dan isu-isu terkini yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Dengan demikian, kartun telah menjadi media yang memuat pesan masyarakat.

Mice mengangkat berbagai fenomena yang dialami masyarakat Indonesia saat itu. Mulai dari awal terjadinya krisis ekonomi hingga euforia kebebasan dimaknai sedemikian rupa oleh mereka yang lepas dari kekangan. Kebebasan berekspresi dan bermedia pun turut berperan besar dalam “mendidik” masyarakat dalam rangka pelajaran demokrasi reformasi.

Masyarakat dihadapkan pada era keterbukaan, bahkan cenderung kebablasan. Mice menggambarkan situasi demonstrasi yang waktu itu menjadi trending topic. Pergerakan mahasiswa pun tak luput dari pandangan mata Mice. Apa saja yang tidak disetujui, maka masyarakat segera menggelar demonstrasi. Satu hal yang mustahil terjadi di masa Orde Baru.

Ada beberapa hal yang menggelitik saya dalam kumpulan kartun ini. Mice sangat jeli sekali menangkap hal-hal parsial yang tidak biasa. Mice mengingatkan kembali pada model bingkai kacamata yang tebal dan potongan rambut Ira Koesno yang juga jadi tren pada masa itu. Ingat, acara berita yang dibawakannya punya rating bagus saat itu.

Testimonial Seno Gumira Ajidarma dan Wimar Witoelar pada menambah nilai tersendiri dalam muatan dan kemasan pada edisi remake ini. SGA memberikan pandangan filosofis tentang bagaimana makna sejarah akan diterapkan dengan penerbitan kembali kartun ini. Sedangkan, Wimar Witoelar, yang memandu talkshow Perspektif Politik dan dibredel pada tahun 1995, berpesan bahwa kartun ini adalah cerita yang lucu dan efektif untuk menggambarkan kondisi Indonesia pada masa awal reformasi walaupun dibaca hari ini.

Picture fade away, but memory is forever. Satu gambar bisa bicara beribu makna. Agaknya, Mice telah membuat kesaksiannya tentang bagaimana roda sejarah bangsa berputar.

Judul : Mice Cartoon: Indonesia 1998
Penulis : Muhammad Misrad
Penerbit : Octopus Garden
Tebal : 125 hal.
Tahun : 2014
Genre : Kartun-Sejarah
Diubah oleh anggivicious

Review Dunia Kafka

Kafka on the Shore: Menyelami Dunia Surealis dan Absurd Murakami

Spoiler for Foto:


Judul: Dunia Kafka
Judul Asli: (海辺のカフカ, Umibe no Kafuka) (Jepang) / Kafka on the Shore (Inggris)
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Pustaka Alvabet, 2011
Tebal: 608 hlm.
ISBN: 9786029193039
My Rating: 3.5/5


Haruki Murakami memancing rasa penasaran dari saya dikarenakan banyak orang yang membicarakan dan merekomendasikan karya-karya dari penulis kontemporer asal Jepang tersebut. Dunia Kafka (Kafka on the Shore) merupakan karya Murakami pertama yang saya baca dan diluar dugaan saya ternyata dalam karya nya ini bersinggungan dengan dunia surealis serta banyak dibumbui dengan kejadian-kejadian absurd seperti hujan sarden, hujan lintah hingga limbo (padahal saya mengira ini merupakan novel misteri dan kisah cinta seorang remaja XD).

Dunia Kafka berpusat 2 tokoh/karakter yang masing-masing diceritakan pada satu bab secara bergantian yang pada akhir nya memiliki keterkaitan dalam masing-masing Kisah nya.

Kafka Tamura adalah seorang remaja yang baru saja menginjak usia lima belas tahun yang merasa tidak bahagia atau lebih tepatnya terancam dengan kehidupannya bersama sang Ayah, dimana setelah Ibu dan Kakak perempuannya pegi meninggalkannya pada usia nya yang baru 4 tahun lalu berimbas pada hubungan antara Kafka dan Ayah nya menjadi bermasalah hingga sampai pada puncak nya dimana sang Ayah mengutuk Kafka bahwa dia akan membunuh Ayah nya, menodai Ibu nya dan tidur dengan Kakak nya (Hal yang tidak pernah kafka lupakan). Merasa tidak ada lagi kehidupan yang tersisa untuk nya di rumah serta pengaruh dari bocah yang bernama Gagak, maka pada ulang tahunnya yang ke lima belas Kafka memutuskan untuk meninggalkan rumah dan memulai hidup sekaligus mencari Ibu dan Kakak nya. Dalam pelariannya tersebut lah kafka memasuki dunia yang sama sekali berbeda, tinggal di perpustakaan, memasuki limbo serta bertemu Sakura, Oshima dan Nona Saeki yang pada akhirnya merubah pandangan hidupnya.

Satoru Nakata merupakan seorang lansia yang telah kehilangan kepandaiannya bahkan tidak bisa membaca atau menulis saat berusia 9 tahun dikarenakan insiden yang tidak sengaja pada masa perang. Setelah kehilangan kepandaiannya, kemampuan aneh nya muncul yaitu dapat berbicara dengan kucing, setelah diberhentikan sebagai pekerja mebel Nakata menggunakan kemampuannya tersebut untuk mencari kucing yang hilang sebagai penghasilannya selain mendapatkan subsidi orang cacat dari pemerintah. Pada saat mencari kucing, Nakata dihadapkan pada masalah bahwa dia membunuh Johnny Walker demi menyelamatkan kucing yang terancam nyawanya. Setelah kejadian tersebut kehidupan Nakata sepenuhnya berubah, bertemu pemuda yang akan membantu nya menjalankan misi, Hujan sarden, mencari batu masuk dan hal-hal absurd lainnya.

Apa hubungan Kafka dengan Nakata? Apakah kutukan Ayah Kafka akan terwujud? Siapa sebenarnya Johnny Walker dan bocah yang bernama Gagak? Serta bagaimana kisah dua tokoh tersebut memiliki keterkaitan yang menuju satu tujuan?

Baca kisah selengkapnya dalam Dunia Kafka karya Haruki Murakami.

Membaca karya yang beraliran surealis memang sedikit meyulitkan dan butuh waktu untuk memahaminya, apalagi dalam dunia kafka minim sekali konflik serta alur ceritanya dibawakan secara datar dan cenderung lambat. Hal yang mengganggu saya dalam membaca novel ini adalah pergantian kisah tokoh pada tiap bab, disaat saya mulai terbawa oleh kisah kafka kemudian saya harus bersabar untuk mengetahui kelanjutannya karena saya harus melewati bab kisah dari Nakata, begitu juga sebaliknya. Kemudian penggambaran kisah karakter yang menurut saya tidak perlu, seperti penggambaran dari karakter Sada, padahal hanya muncul dalam satu bab tetapi dijelaskan secara detail tentang kisah masa lalu nya, menurut saya bertele-tele dan membuat saya merasa jenuh membacanya.

Namun secara keseluruhan saya menikmati karya Murakami ini, narasi deskriptif nya mengagumkan (yah, meskipun panjang penjabarannya). Serta hal-hal absurd yang membuat saya mengernyitkan dahi serta menggeleng-gelengkan kepala namun mampu membuat saya terhibur, juga termasuk elemen-elemen kejutan didalam nya. Satu hal lagi yang membuat saya menyukai novel ini, yaitu disaat murakami memasukan unsur-unsur pengetahuan didalam nya seperti musik, filsafat hingga perang, sehingga membaca novel juga tidak hanya membaca “labirin asmara ibu dan anak” (seperti yang dicantumkan pada cover terbitan alvabet) tetapi juga menambah pengetahuan.

3.5/5 is fair enough.
Diubah oleh tartuffe
buku favorit laskar pelangi, edensor, sang pemimpi, maryamah karpov, harry gotter,sang patriot
Judul Buku : The Girl Who Saved The King of Sweden
Penulis : Jonass Jonasson
Penerjemah : Marcalais Fransisca
Penerbit : Bentang
554 hlm. ; 20,5 cm


Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Latar belakang Nombeko Mayeki kira-kira seperti berikut ini : Kebetulan terlahir sebagai salah satu dari sekian banyak orang kurang beruntung yang semenjak lahir sudah terlanjur dekat dekat dengan tidak sedikit tinja. Dan mulai mengangkutin tong-tong tinja tersebut pada usia 5 tahun. Saat sang ibu, malah menghabiskan sisa hidupnya dengan tiner dan obat-obatan itu, Nombeko harus berjuang sendiri untuk sekedar bertahan hidup. Ayahnya entah siapa, entah kemana. Segala sesuatunya di Soweto (Afrika Selatan) sana pada saat itu memang tidak jelas. Nombeko buta huruf, tapi dia lebih dari sekedar istimewa, dia luar biasa. Meskipun buta huruf, namun lumayan pintar dengan angka-angka (itu menurut pendapatnya, kalau menurut saya, dia luar biasa pintar dengan angka-angka). Sinis, agak lancang, dan benar-benar berani. Nah, Nombeko Mayeki ini adalah tokoh utama dalam buku karangan Jonas Jonasson kali ini – The Girl Who Saved The King of Sweden.

Ketika membaca kisah hidup Nombeko di Soweto, secara tidak langsung kita akan disuguhi fenomena Afsel pada saat itu. Yah, begitu deh, singkatnya neraka dunia. Obat-obatan terlarang, minuman beralkohol, penyakit (tuberkolosis), pembunuhan, kemiskinan, kesenjangan sosial, ketidakadilan, perkosaan, semuanya merajalela dan mengelilingi Nombeko, menunggu saat yang tepat salah satu dari sekian banyak hal-hal mengerikan itu mendekatinya untuk kemudian merampas hidupnya, secara langsung dan cepat atau tidak langsung dan berjalan lambat. Politik Apartheid bisa dijadikan kambing hitam untuk semua hal tidak menyenangkan diatas, semua itu sedikit dari sekian banyak efek buruk lainnya dari Apartheid (mungkin, disini saya mulai agak sok tau). Dan Nombeko, kebetulan dia berkulit hitam. Mayoritas yang tersisihkan.

Cerita ini rumit, penuh keberuntungan dan kebetulan luar biasa yang melibatkan banyak pemimpin besar dunia, namun penuh dengan kesialan dan kebetulan yg luar biasa mengerikan juga. Saya tidak tau (dan agak malas untuk mencari tahu) di antara 2 buku yang di tulis Jonass Jonasson yaitu 100 yoman dst.nya, dan cerita Nombeko ini, mana yang lebih dulu ditulis. Namun, jika kita membaca kedua buku ini (yang manapun terlebih dahulu), maka kita akan menemukan banyak kesamaan. Pertama, tentu cara berceritanya yg sama. Kalau sudah mulai membaca buku ini, mau tidak mau, kita harus terus membaca. Serius. Kedua, kematian beberapa orang di buku ini sebenernya cukup mengerikan, namun diceritakan dengan santai dan tenang-tenang saja. Jadi ya, jadinya malah gak mengerikan sama sekali. Semua memang tergantung gaya si pencerita. Ketiga, keterlibatan bom atom. Entah ya, mungkin Jonass Jonasson memiliki ketertarikan tersendiri dengan bom atom. Keempat, keterlibatan dan pertemuan secara kebetulan yang sangat aneh namun menyenangkan (kadang kurang menyenangkan) antara tokoh utama kita dengan pemimpin-pemimpin negara besar. Kemudian, tokoh utamanya sendiri. Saya kok, merasa ada kemiripan antara Nombeko dengan Alan Karlsson. Cuman bedanya saya agak mengidolakan Alan, namun saya kurang mengidolakan Nombeko. Kadang-kadang saya ngerasa si Nombeko ini bukan hanya terlalu cerdas namun juga agak culas (mungkin perasaan saya aja, saya memang agak terlalu berperasaan kadang). Dan yah, terakhir, seperti 100 yoman dst.nya yang berakhir dengan sungguh sangat happy demikian halnya dengan kisah Nombeko (saya gak lagi spoiler kan).

Buku ini lumayan menyenangkan sekaligus lumayan agak memabukkan. Saya bukan pecandu apapun, jadi gak pernah tau rasanya kecanduan, tapi saya pikir (bukan saya rasa), sepertinya saya agak kecanduan juga sama buku ini. Dan dalam waktu lebih kurang 24 jam (saya gak bisa menghitung dan mengingat dengan sangat baik seperti Nombeko, jadi perkiraan waktu itu benar-benar cuman perkiraan saja, bisa lebih 10 jam, bisa juga kurang) buku ini sudah tuntas saya baca. Padahal hurufnya kecil-kecil dan kualitas cetak hurufnya (seperti halnya 100 yoman dst.nya) jelek. Burem gitu macem buku bajakan. Kertasnya pun sepertinya kertas dengan kualitas kurang baik. Mungkin penerbit sedang terlibat dengan kampanye Go Green, dan hanya menggunakan kertas2 daur ulang saja, mungkin, sekali lagi disini saya agak sok tau.

Ah ya,,, selain semua hal tersebut, membaca buku ini sedikit banyak akan membuat kita penasaran pada beberapa hal, karena Jonass Jonasson sepertinya sangat piawai mencampuradukkan realitas dan khayalan. Fakta-fakta sejarah, nama-nama pemimpin dunia dan masa kepemimpinan mereka serta tahun tahun terjadinya peristiwa-peristiwa bersejarah (seperti kapan tepatnya Nelson Mandela ditangkap dan dipenjara, serta kapan tepatnya dia dibebaskan) membikin kita merasa perlu mencari tau. Tapi saya gak benar-benar mencari tahu juga sih. emoticon-Hammer Saya yakin sang penulis melakukan riset yang tidak sebentar sebelum menyusun buku ini (mungkin salah satu risetnya juga soal komposisi dan cara pembuatan bom atom, mungkin). Dan walau beberapa hal dalam buku ini membuat saya gregetan dan ngerasa diperlakukan tidak adil karena terpaksa berpikir agak terlalu keras - misalnya ketika dengan cerdasnya Nombeko membocorkan lokasi akan dilakukan uji ledak bom atom pertama Afsel kepada Amerika melalui surat yang ditujukan kepada Presiden AS saja (dan dengan trik sederhana yang bisa memastikan surat itu pasti akan sampai ke tangan yg tepat-yaitu Presiden AS), belakangan kok sepertinya dia kesulitan sekali menghubungi Perdana Mentri atau Raja Swedia untuk memberikan informasi soal bom atom tersebut, sampai bertahun-tahun ! Tapi ya sudahlah, toh buku ini tetap mempesona.

Salah satu yang menurut saya membikin buku ini lumayan unik dan asyik adalah diselipkannya kutipan kata-kata mutiara di setiap awal bagian cerita, misalnya di awal bagian kesatu ada kalimat begini (Dan saya agak suka kata-kata ini).

Perbedaan antara kecerdasan dan kebodohan adalah, bahwa kecerdasan ada batasnya - Anonym


3 from 5 stars
Diubah oleh Zuko99
Quote:


mbak zuko cepet banget bacanya emoticon-Matabelo
aku aja belum sampe setengahnya padahal bacanya udah dari lama banget emoticon-Frown
Quote:


emoticon-Big Grin
Gegara ga ada kerjaan aja itu mot.. emoticon-Stick Out Tongue
Ayooo cepetan bacanya, seru loh. emoticon-thumbsup:
Mau tanya reviewnya samkok, di pekiwan tak ada ya?
[Review] Menatap Indonesia 2015 – Tinjauan Kompas

1. Tahun 2015 sdh genap satu kuartal kt lewati. Seperti pd tahun2 sblmnya, kuartal satu kerap mjd acuan apa yang akan terjadi pd 3 kuartal selanjutnya #reviewbuku

2. Sebetulnya agak terlambat untuk membahas buku ini. Mengingat buku ini memang dipersiapkan tim kompas jauh hari sebelum tahun 2015 datang #reviewbuku

3. Buku ini adalah kompilasi artikel dr tim riset kompas slm thn 2014. Isinya beragam mulai dari ekonomi sampai ke dinamika sosial #reviewbuku

4. Buku yang sangat membantu bagi anda yang sering terlewat kondisi Indonesia dalam perspektif makro #reviewbuku

5. Ditulis dengan gaya argumentative dan menggunakan pendekatan makro yang memotret setiap issue dalam ruang lingkup Negara yang luas #reviewbuku

6. Buku ini juga cukup credible karena disertai oleh data yang dikumpulkan oleh tim riset Kompas yang tidak diragukan lagi kapasitasnya #reviewbuku

7. Buku ini juga sangat menyoroti 3 kebijakan strategis Presiden Jokowi yang disampaikan pada forum Kompas 100 CEO #reviewbuku

8. Pertama adalah pengalihan subsidi bahan bakar minyak ke subsidi yang lebih produktif

9. Kedua adalah pembangunan infrastruktur pengairan untuk swasembada pangan #reviewbuku

10. Ketiga adalah pembenahi bidang maritim dan transportasi untuk mendirikan 27 pelabuhan laut dalam dan jalan tol lintas Sumatra #reviewbuku

11. Tantangan serta harapan silih berganti disajikan dalam buku bertebal kurang lebih 285 halaman. #reviewbuku

12. Tantangan mulai dari pengendalian tingkat inflasi akibat kenaikan harga BBM serta tekanan dari dihentikannya stimulus moneter dari Fed #reviewbuku

13. Topik lain yang sangat mendominasi buku ini adalah MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean. #reviewbuku

14. Nuansa pesimistis muncul ketika kata MEA disebutkan, mulai dari tenaga kerja Indonesia yang dianggap kurang kompetitif hingga kemungkinan Indonesia menjadi pasar empuk #reviewbuku

15. Sayangnya dalam beberapa bab buku ini terlalu detil menjelaskan suatu isu pada sector tertentu. Seperti misalnya arsitektur, kedokteran dan pelayaran #reviewbuku

16. Tentu saja buku ini akan menjadi tdk menarik bagi pembaca yg tidak bergelut dibidang tsb, termasuk saya #reviewbuku

17. Saran saya bacalah buku ini layaknya direktori informasi. Anda tidak perlu membaca semuanya. Pilih topic yg penting atau menarik #reviewbuku

18. Terlambatkah membaca buku ini sekarang? Sama seperti bertanya, apakah sekarang sudah saatnya merencanakan tahun 2016? #reviewbuku

19. Jika siklus bisnis anda memang harus berputar 2 tahun dimuka, maka telatlah jika anda membaca buku ini.

20. Tapi rasanya bagi sebagian besar orang, tahun 2015 masih punya cukup waktu untuk mengkoreksi atau meneruskan rencana yang anda susun #reviewbuku

4 Musim Cinta, Kisah Hidup Birokrat Muda

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Ketika Timor Timur di ambang disintegrasi, kerusahan pecah. Banyak kantor pemerintahan tutup. Semua pegawai negeri pusat pulang ke daerahnya masing-masing. Namun, satu kantor harus bertahan. Kantor itu dikenal dengan nama Kantor Kas Negara. Sampai seorang pegawainya yang memberanikan diri dan harus datang ke kantor dicegat oleh Fretilin, ditanyai, ditodong senjata, hendak kemana dan siapa. Ia menjawab ia pegawai Kantor Kas Negara. Seketika itu juga ia dilepaskan. Kantor Kas Negara adalah kantor terakhir yang bertahan dan menjadi identitas negara saat itu.

Begitu pun ketika terjadi tsunami di Aceh. Kantor yang pertama kali harus dipulihkan adalah KPPN Khusus Aceh. Kantor Kas Negara (sekarang bernama KPPN) adalah jantung sekaligus darahnya negara. Keberadaannya adalah keniscayaan. Ia hadir bukan karena ada potensi pendapatan yang besar di daerah itu, melainkan karena ia harus hadir untuk menghidupi perekonomian dengan salah satunya mencairkan dana APBN.

Sekelumit cerita itu menjadi pendahuluan atas betapa setiap kita adalah penting. Kenek yang menagih uang angkutan penting, sopir yang mengemudi angkutan juga penting, tak kalah pentingnya pihak yang membeli angkutan tersebut.

Empat orang pegawai Perbendaharaan yang memiliki pengalaman di Manado, Ruteng, Kendari dan Sumbawa pun ingin berkata, harapan sekecil apapun adalah penting. Bahkan para setan pun suka bersemayam dalam hal yang kecil dan detil. Jika dilupakan, hal kecil itu bisa merusak hidup.

Itulah yang kemudian mendasari sebuah novel ini. 4 Musim Cinta mengejewantahkan harapan dan keyakinan, serta realitas yang harus mereka hadapi. Mulai dari idealisme hingga hubungan persahabatan dan percintaan menjadi riskan dalam situasi-situasi yang rumit.

Di dalam novel ini pun sebenarnya, jika ditelaah lebih lanjut, banyak gugatan atas kebijakan pemerintah. Mulai dari penyerapan anggaran yang tidak proporsional, quality of spending, sampai ke pemberian tunjangan ke instansi perpajakan yang banyak dipertanyakan oleh bahkan sesama pegawai Kementerian Keuangan.

“Kita kurang alasan apa lagi? Pajak buat kebijakan. Sedangkan yang mengadministrasikan setiap rupiah pajak yang masuk ke kas negara, siapa? Kita. Yang membuat laporan penerimaan setiap harinya siapa? Kita. Yang dimintai laporan penerimaan pajak oleh Pak Menteri siapa? Kita. Pajak menyumbang sekian persen dari sisi pendapatan negara. Selebihnya kita.”
Mata Sera tampak berapi-api. Tidak ada senyum di wajahnya yang membuat ia terlihat ramah. Aku mengikik pelan mendengar betapa gigih Sera mengungkapkan pendapatnya. Dan ternyata Sera belum selesai dengan kalimatnya. “Yang mengurusi pencairan 1800 T APBN kita siapa? Kita. Yang buat LKPP siapa? Kita.”

Sera mengempaskan pensil yang sedari tadi ia mainkan di antara jemarinya, ke atas meja lalu ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya bersungut-sungut. Aku melirik Carlo yang masih bingung memilih dan memilah berkas yang akan diberikan padaku. Ia tampak tidak peduli dengan perdebatan yang terjadi dengan ketiga orang itu.

Setelah memperlihatkan sikap bertahan seperti itu, kedua laki-laki yang ada di samping Sera tidak berbicara dalam waktu yang cukup lama. Barangkali, baru kali ini mereka mengetahui kenyataan seperti ini. Agung, laki-laki kurus berkacamata itu, sempat melihat Sera dengan wajah yang terlihat berpikir. Bisa jadi ia sedang mencari-cari pembelaan atas pendapatnya yang bertentangan dengan kata-kata Sera. Sementara Somad, laki-laki bongsor berpotongan rambut ala tentara, duduk tegak menghadap ke depan. Ia melihatku lama.

“Apa mungkin kita hanya melihat dari luarnya saja. Maksudku, kita boleh saja merasa bahwa kita telah bekerja keras, tapi siapa yang tahu seberapa keras ‘saudara’ kita bekerja sehingga dihargai sedemikian tinggi?” Somad mengangkat bahu. Agung mengangguk setuju.

“Ya. Mereka memang bekerja keras. Keras sekali.” Sera menjawab sinis.

“Jangankan di tingkat kementerian. Bahkan antara kamu dan Agung, bisa jadi ada ketidakadilan jumlah penghasilan. Kalau saya tanya, siapa yang lebih berdedikasi terhadap instansi, apa kalian bisa jawab?”

Carlo nimbrung dalam percakapan mereka. Kali ini aku tersenyum terang-terangan. Kali ini Carlo menjawab dengan tepat. Setidaknya jawaban retoris macam itu diperlukan untuk meredakan gejolak pemberontakan yang bisa saja muncul di dada tiga orang itu.

“Kita ini pelayan masyarakat. Lebih tinggi lagi, kita ini bekerja untuk yang di atas. Nabung pahala istilahnya. Pada akhirnya, apa yang kita dapat pasti sesuai dengan apa yang kita berikan. Seberapa banyak yang kita berikan? Hati kita sendiri yang tahu jawabannya.”

Rasanya ingin tertawa mendengar lanjutan pernyataan Carlo. Apa dia lupa pada larangan cuti yang ditujukan kepadaku waktu itu. Lalu sekarang dia berbicara tentang pahala? Sangat bertentangan dengan sikapnya sehari-hari.

“Tapi, Pak…” Sera tampak tidak terima.

“Sssttt… Perdebatan macam ini tidak akan memberi dampak apa-apa. Semakin kalian menyesali kondisi tempat kalian berada, semakin kalian merasakan sakit hati. Benar, nggak, Gayatri?” Dari mejanya, Carlo melihatku tajam. Aku mengangguk wagu, tak tahu harus menjawab apa.

Sayang, karena pertimbangan editor, dialog tersebut di atas dihapus di dalam cerita ini. Katanya terlalu teknis.

Pada akhirnya, semoga saja jika ke toko buku, dan melihat bibir merah merekah di sampulnya, teman-teman segera mengambil dan membawanya ke kasir.

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Paperback, 332 pages
Published March 13th 2015 by Exchange
original title 4 Musim Cinta
ISBN13 9786027202429
edition language Indonesian
url http://kaurama.com/exchange/
harga Rp59.500,-

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan
Maaf kalo salah kamaremoticon-Frown

mau tanya forum yg bole pinjem buku novel dll ada gk yak?emoticon-Embarrassment
ane suka baca novel2 pinjeman dari orang emoticon-Belo

Konstantinopel - Sugha

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu


Konstantinopel, dari namanya saja sudah berbau sejarah, tetapi buku thriller lokal ini tak menggunakan sejarah yang rumit di dalam inti ceritanya. Nama Konstantinopel hanya digunakan sebagai nama sebuah kelompok eks-mahasiswa Indonesia yang pernah berstudi di Istanbul, Turki. Menjadi menarik ketika tujuh anggota geng Konstantinopel ini secara kebetulan sangat dekat dengan dunia perpolitikan di Indonesia, ada seorang putri presiden, seorang calon anggota dewan, sampai seorang wartawan yang tulisannya vokal mengkritik pemerintahan berjalan. Konflik dimulai ketika seorang anggota Konstantinopel tewas gara-gara tertabrak kereta dan kehilangan jari kelingkingnya, mulai dari sinilah maut mengincar Konstantinopel, pembunuhan berantai pun dimulai.

Tokoh utama buku ini ialah Bima. Seorang lulusan terbaik STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara) yang didapuk menjadi asisten Waka BIN (Wakil Kepala Badan Intelijen Nasional). Bima bersama si Waka BIN, yaitu Pak Catur, turun tangan untuk terjun langsung menangani kasus ini. Bima, seorang pemuda berusia hampir 23 tahun, masuk ke dalam dunia pembunuhan berantai dalam kasus perdananya sebagai Asisten Waka BIN. Predikatnya sebagai lulusan terbaik memang terbukti ketika ia berhasil memecahkan kasus ini melalui jalan yang berliku, dan agak lebay.

Buku thriller lokal ini menurut saya segar isinya. Konflik politik dijadikan latar belakang sebuah kasus yang bisa dibilang sadis, membuat buku ini sukar ditebak, apalagi dikaitkan dengan Konstantinopel, pasti menjadi makin sulit ditebak. Jujur saja, saya enjoy membaca buku ini, isinya membuat penasaran akan konflik yang akan terjadi berikutnya, walaupun memang ada bagian di buku ini yang agak konyol, terutama tentang si tokoh utama, yaitu Bima. Entah ya, kalau menggunakan logika, apa mungkin seorang anak ingusan berusia 23 tahun dapat dengan mudahnya bertemu presiden, sedangkan ia hanya asisten dari seorang Waka BIN. Belum lagi, Bima ini kok kadang-kadang polosnya gak ketulungan (sampai gak tau fasilitas T9 di hp), tapi di akhir buku dia berubah, menjelma menjadi seperti Vin Diesel di The Fast and the Furious, how could it be?

Ada baiknya, apabila si Bima ini mau dibuatkan sekuel, sebagai detektif partikelir mungkin, penulis bisa belajar dari pasangan Kosasih-Gozali-nya Ibu S. Mara Gd. Memang, agak banyak cerita cinta yang mengiringi kisah pasangan ini, tapi menurut saya, kalau tentang dunia perdetektifan dan perkasusan, cara pemecahan dan penanganan kasus oleh Kosasih-Gozali sangat brilian. Pembunuhan yang terjadi cukup masuk akal, dan tentunya tanpa melibatkan adegan-adegan stuntman yang agak lebay itu. Satu hal lagi, tentang dunia pendidikan, ada satu istilah yang cukup mengganggu saya dalam penulisannya, yaitu bagaimana penulisan “pH”, soalnya di buku ditulis “PH”, yang artinya “Rumah Produksi”, bukan “Derajat Keasaman”.


Lanjutkan, saya yakin dengan penulisan yang lebih matang, Putra Bimasakti bisa menjadi salah satu ikon detektif di Indonesia. Ya, kalau bisa bagian ending di buku ini juga agak diubah, yang adegan lebaynya itu lho, kayanya impossible hal itu terjadi di Indonesia. Mau ditaruh dimana muka Kabareskrim kalau semudah itu diayam-ayamin sama anak ingusan 23 tahun? emoticon-Smilie
Diubah oleh daninoviandi
misi agan sepuh
numpang tanya, kalo buku tentang meme comic, yang isinya banyak nyeritain sejarah perkembangan meme comic di indonesia sama dunia kira kira judulnya apa yah? makasih bantuannya agan sepuh emoticon-I Love Kaskus (S)
[ASK]

sebelumnya mohon maaf kalo ane salah kamar, dan tolong bimbing ane ke kamar yg tepat

ane mau tanya 6 novel lokal tentang kehidupan sekolah dengan bahasa yang santai, teen romance gitu yang agan rekomendasikan

Terima kasih

maaf kalo pertanyaan ane agak membingungkan gan
Quote:


1. Looking For Alaska by John Green
2. Remember When by Winna Efendi
3. Lovasket by Luna Torashyngu
4. Fairly by Yuni Tisna
5. dst
6. dst

btw, kenapa harus 6?
gampangnya, cari di toko buku, buku yang berlabel "teenlit" aja gan
saya rarely baca buku remaja

Proyek Maut

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu
Buku ini menceritakan, ah, kalimat pembuka seperti itu tentunya sangat mainstream. Jadi saya memutuskan untuk mencari kalimat pembuka lain. Misalnya begini...

Betul Indonesia gersang dengan bacaan-bacaan. bergenre thriller (oke, ini kayaknya kalimat yang cool). Namun nampaknya Proyek Maut (PM) belum cukup dapat menghapus kegersangan itu. Saya berpendapat demikian karena saya merasakan kelelahan dan kejengkelan yang mendalam saat membaca buku ini. Terlepas dari yang saya pahami, menulis sebuah buku memang tak mudah.

Hal utama yang disorot adalah adanya permainan kotor para konglomerat-konglomerat di negeri ini berkolaborasi dengan pejabat dan pihak kepolisian. Proyek Mega Subway yang merupakan proyek rahasia akhirnya mulai diketahui Hardi, seorang komisaris polisi, sejak terjadinya kasus pembunuhan seorang konglomerat. Selama menyelidiki kasus pembunuhan tersebut, kasus-kasus kotor lain mulai terbongkar. Sudah, itu saja sinopsisnya.

Saya lebih tertarik membahas cara penulis bercerita ketimbang bahas jalan ceritanya (bahkan saya tidak terlalu peduli dengan endingnya).

Pertama, sejak awal membaca buku ini, saya gatal dengan penggunaan bahasa yang begitu kaku. Bahkan seorang tukang bakso dan tukang warteg pun dibikin dialog dengan bahasa yang kaku. Okelah, mungkin penulis bermaksud menghasilkan suatu karya yang baku sesuai kaidah EYD dan sebagainya tapi saya sebagai pembaca jadi merasa seperti robot. Tak nyaman dan natural rasanya. Kayak naik ojek mendaki Gunung Pangrango. Gajruk-gajruk gitu. Ya, saya gak pernah naik ojek ke gunung juga sih.

Kedua, karakterisasi tokoh-tokoh di dalamnya. Saya tak mau bahas soal teknis menciptakan karakter atau apa, hanya saja pandangan saya sebagai pembaca awam, tokoh-tokoh dalam buku ini tidak membekas dengan baik di ingatan saya. Sejatinya (ya, ini mengadopsi kata-kata yang suka diucapkan Feni Rose) saya tak peduli apakah nama tokoh itu begitu populer seperti Bianca, Reinald, Alexandra, atau Voldemort. Jadi sah-sah saja kalau penulis ingin menamai tokoh-tokohnya dengan nama yang "endonesa biyanget" seperti Hardi, Santi, Eko, dsb tapi please buatlah karakter yang kuat bagi setiap tokoh sehingga pembaca bisa dengan mudah memvisualisasikannya dalam imaji mereka. Sampai akhir cerita, saya tak tahu apakah Hardi ini gendut kayak pak polisi yang suka di lampu merah itu atau gagah kayak robocop. Saya juga tak tahu apakah Santi ini bentuk badannya kutilang atau kayak Kim Kardashian.

Ketiga, membaca dialog dalam buku ini seperti melihat pertandingan bulutangkis. Hanya ada tektok dan tanya jawab ibarat saya lagi isi kuesioner psikologi.

"Apakah Anda merokok?" Tidak.
"Apakah Anda punya pacar?" Kepo ih.
"Apakah pacar Anda manusia?" Vampir!

Yah, sebagai pembaca saya tentu mengharapkan percakapan yang mengalir dan terkesan alami. Jadi agak gak bersemangat melanjutkan membacanya karena penulisan dialog yang begitu kaku.

Keempat, saya kayaknya tidak satu frekuensi dengan penulis soal logika. Menurut saya, seorang atasan polisi agak aneh kalau harus ber-aku kamu dengan bawahannya. Lalu juga saat adegan polisi menyamar dan mendatangi sebuah warteg, padahal kan sudah dibilang "saya polisi" lah kok masih saja dipanggil "Mas" sama tukang warteg. Entah ya, mungkin hasil observasi penulis demikian adanya tapi kalau saya sih otomatis akan memanggil polisi manapun dengan sebutan "Pak". Bukan Mas Polisi. Ya kecuali suami saya nanti seorang polisi. Etapi saya gak mau punya suami seorang polisi. Iya, ok, gak curhat lagi deh habis ini.

Kelima, cover bukunya relatif mirip dengan cover buku thriller punya penerbit sebelah.

Yah, 5 aja deh. Karena Allah kan suka yang ganjil-ganjil dan balonku ada 5 tapi hatiku cuma ada 1. Monggo dibaca sendiri supaya bisa menilai juga. Juga 2 bintang untuk ide dan usahanya menulis buku bergenre thriller. Semoga genre ini makin berkembang di Indonesia ya.

Kalau pembaca lain setelah membaca buku ini mungkin akan berhadapan dengan pertanyaan "Kira-kira betulan sekotor ini atau enggak ya?", saya justru sejak awal memilih untuk tak peduli. Konspirasi di dunia ini terlalu banyak dan rumit dan saya tak ingin sepanjang hidup saya habiskan buat bernegative thinking dan menerka-nerka sekalipun memang. ada beberapa bukti.

CHEERS!

Senja dan Cinta yang Berdarah

Apa salahnya punya harapan. Hidup begitu singkat, apa jadinya kalau harapan saja tidak punya.
(Ibu Yang Anaknya Diculik Itu, hal. 743)

Kumpulan ini memuat semua publikasi cerita pendek SGA secara historis. Kesemuanya merupakan cerpen yang terbit di media cetak (harian/koran). Bagi para pembaca SGA tentu sudah tidak asing menjumpai kembali cerpen-cerpen yang sudah lebih dulu dibukukan. Walau begitu, buku ini tidak sekedar menjadi buku "reborn" dari cerpen-cerpen SGA.

Ada beberapa cerpen yang sudah naik cetak dan beredar namun belum dibukukan. Menariknya lagi, cerpen-cerpen itu tidak hanya muncul dari karya SGA yang kekinian. Hal semacam inilah yang menjadikan buku ini semacam satu karya kumpulan cerpen lagi. Khusus, untuk cerpen-cerpen yang belum dibukukan. Untuk alasan itulah, publikasi terbaru dari SGA ini hadir ke ruang baca pemirsa.

Total ada 85 cerpen dengan tiga pembagian periodisasi. Periode 1978-1981, 1982-1990, dan 1991 hingga 2013. Sejarah kepenulisan SGA sebagai cerpenis terlihat jelas dalam periodisasi yang sedemikian rupa disusun oleh editor. Muatan nilai dan pesan yang ingin disampaikan SGA juga mencerminkan satu keadaan atau satu masa dalam sejarah bangsa yang panjang. Contoh saja, SGA menulis tentang cerita seorang penembak jitu yang pada saat itu erat sekali kaitannya dengan Petrus (Penembak Misterius) pada masa Orde Baru.

Kehadiran kembali cerpen-cerpen SGA ini mengingatkan saya pada tulisan SGA yang dimuat dalam buku “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Seno menulis (kalau saya tidak lupa) “Tak ada yang abadi, kecuali dokumentasi”. Rupanya, SGA serius dengan apa yang pernah dikatakannya. Maka, saya juga tidak ragu tatkala beliau menolak penghargaan Ahmad Bakrie pada tahun 2012 lalu.

Dengan demikian, Sang Nagabumi kian paripurna dalam mencapai keabadiannya. Buku ini membuktikan bahwa kelak dokumentasi akan punya ruangnya sendiri dalam jalan sejarah. Saya tentu masih punya harapan besar bahwa SGA akan mengeluarkan karya terbarunya, walau hanya remake. Saya berharap SGA juga tidak lupa dengan kalimat penutup pada pidato sambutannya kala menerima SEA Writing Award tahun 1997 di Thailand : “Saya akan terus menulis.”


Judul : Senja dan Cinta yang Berdarah
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : 822 hal.
Tahun : 2014
Genre : Sastra - Cerita Pendek

Dharmawangsa-Medan Merdeka Barat, 20 April 2015.
Diubah oleh anggivicious
Halaman 55 dari 59
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di