alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/542a7b3ad44f9f220a8b456b/thread-diskusi-buku-misteri-borobudur-by-seno-panyadewa-resmi
Thread Diskusi Buku Misteri Borobudur by Seno Panyadewa [RESMI]
Selamat Pagi, siang, sore, atau malam kapanpun anda membaca thread ini


Mungkin sudah banyak yang tahu isu klaim bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman oleh K.H. Fahmi Basya. Dia mengklaim mempunyai buktinya dan sudah menerbitkan buku untuk membahas klaim tersebut.

Untuk membalas klaim tersebut, kini telah terbit sebuah buku yang membantahnya.

Quote:Thread Diskusi Buku Misteri Borobudur by Seno Panyadewa [RESMI]

MISTERI BOROBUDUR (Terbit 10 September)!


Candi Borobudur semenjak lama diyakini sebagai peninggalan Dinasti Sailendra dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8. Lalu ada seseorang bernama KH. Fahmi Basya yang mencetuskan sebuah teori bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman dan Indonesia adalah Negeri Saba. Ia mengklaim memiliki bukti-bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung teorinya. Benarkah demikian?

Teori bahwa Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman dikupas tuntas di buku ini. Bukti-bukti yang diajukannya diperiksa kebenarannya satu demi satu. Seno Panyadewa juga membandingkan bukti-bukti dari berbagai penelitian ilmiah apakah Candi Borobudur peninggalan Dinasti Sailendra ataukah Nabi Sulaiman. Bahkan bukti-bukti mengenai lokasi sebenarnya Negeri Saba juga dibahas.

Tak hanya mengupas tentang kejanggalan-kejanggalan dalam teori Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman, buku ini juga membahas secara mengesankan perihal sejarah Borobudur, sejarah agama Buddha dan Hindu pada saat itu, serta analisis tentang ikonografi, arsitektur, dan simbol-simbol pada Borobudur. Tak pelak, buku ini akan memampukan Anda untuk memberikan penilaian yang lebih akurat dan objektif mengenai sejarah dan misteri yang menyelimuti monumen agung bernama Borobudur.

-----------------------------------------------
ISBN: 978-979-1701-17-4
Harga Rp 60.000,- (256 hlm.)
Penerbit: Dolphin
Email: penerbitdolphin@yahoo.com
FB: https://www.facebook.com/Penerbit-Do...3340926426529/

kontak HP/WhatsApp: 0812-8765-4445, PIN BB: 575853B2.
-----------------------------------------------


contoh isinya:
Thread Diskusi Buku Misteri Borobudur by Seno Panyadewa [RESMI]

Jika ada yang ingin menanyakan apa saja tentang isi buku ini, silahkan. Jika ada gambar di buku yang kurang jelas, saya bisa upload disini gambar resolusi bagusnya

Kalau ada yang mau mendebat argumen di dalam buku ini juga saya layani di sini

Sudah saya bilang belum ini buku saya yang tulis? Jadi ini Official Thread ya

Review dan komentar

Untuk melihat klaim K.H. Fahmi Basya bisa melihat ringkasnya
Thread Diskusi Buku Misteri Borobudur by Seno Panyadewa [RESMI]

Bukunya yang sudah terbit:
Thread Diskusi Buku Misteri Borobudur by Seno Panyadewa [RESMI]

lebih lengkap lagi dibahas di Negeri Saba' dan Istana Sulaiman ada di Jawa versi KH. Fahmi Basya


Trit Legendaris yang menjadi dasar pembuatan buku bantahan: (no SARA) Kelemahan teori 'Borobudur adalah peninggalan nabi Sulaiman


Beberapa komentar dan review:

Quote:1. Dari Penerbit

KENAPA KAMI MENERBITKAN BUKU INI?

Ada beberapa kawan Muslim yang mempertanyakan hal itu kepada saya: “Dalam Islam tidak dikenal perintah untuk membuat patung makhluk hidup, apalagi untuk bersembah di depannya. Jadi, kenapa harus susah-susah menerbitkan buku tandingan atas teori Borobudur peninggalan Sulaiman?” Demikian pula beberapa komentar dari kalangan akademik, utamanya sejarawan dan arkeolog. Mereka jelas-jelas paham bahwa patung-patung Buddha di Borobudur ciri-cirinya sangat gamblang; semuanya merujuk kepada Pertapa Siddharta dari India, tak beda dengan patung-patung Buddha di belahan dunia lainnya. Patung-patung itu bukanlah patung Nabi Sulaiman atau bidadara surga yang meniru model Nabi Sulaiman sebagaimana klaim KH. Fahmi Basya dalam bukunya.

Jawaban saya: Buku ini memang tidak semestinya terbit jika buku KH. Fahmi Basya tidak bertahan di pasar. Seharusnya buku KH. Fahmi Basya “Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman” ditarik dari peredaran karena itu sebentuk pembodohan. Sebuah produk yang berbahaya bagi konsumen, baik terkait fisik ataupun mental, sudah seharusnya ditarik dari peredaran. Karena otoritas-otoritas yang seharusnya bisa menarik peredaran buku itu tinggal diam, dengan tentu saja melakukan uji materi atas teori KH. Fahmi Basya sebelumnya, maka saya dari Penerbit Dolphins meminta Seno Panyadewa untuk menulis buku sanggahan atasnya. Jangan salah, korban-korban KH. Fahmi Basya tidak sedikit, mencapai ribuan, utamanya umat Islam. Tidak semua Muslim bisa berpikir logis seperti beberapa kawan Muslim yang mengajukan pertanyaan seperti di atas. Buku KH. Fahmi Basya yang ada di tangan saya adalah cetakan ke-5. Jika setiap cetakan 4 ribu eksemplar, maka kesesatan itu telah dibaca oleh hampir 20 ribu orang. Siapa yang harus bertanggung jawab? Inilah yang kami bisa lakukan. Semoga kehadiran buku ini bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan klarifikasi terkait teori Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman.

Review #2

Tahun 2011 lalu saya pernah berbicara dengan seorang petugas di Museum Borobudur, Candi Borobudur. Setelah berbicara panjang-lebar, bapak tersebut mengungkapkan kekesalannya kepada pemerintah yang tidak memberikan izin terhadap pembangunan 5 wihara yang mengelilingi Borobudur. Dia juga kesal terhadap KH. Fahmi Basya yang mengklaim bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Si bapak juga sangat menyayangkan kenapa tidak ada pihak yang membantah dan meluruskan sejarah bahwa Borobudur bukanlah ciptaan Nabi Sulaiman. Dia juga mengatakan bahwa pemerintah seperti tidak pernah serius merawat Borobudur, hingga suatu waktu UNESCO memberikan ancaman jika pemerintah tidak tegas dalam mengurus dan merawat Borobudur maka dana untuk perawatan Borobudur akan diberhentikan. Barulah kemudian pemerintah merasa takut dan mengambil sikap (yang lebih baik) terkait pemeliharaan Candi Borobudur. Konon, akan diberlakukan peraturan untuk pengunjung, yaitu mereka tidak diperbolehkan naik lagi ke Candi Borobudur. Bagi yang mau naik, mereka harus membayar mahal. Karena menurut mereka, yang berani membayar mahal jauh lebih menghargai candi tersebut daripada yang membayar murah. Demikianlah ujung dari pembicaraan saya selama 2 jam bersama petugas tersebut.

Bulan ini, apa yang diharapkan oleh petugas museum atau mungkin juga para pemerhati dan petugas di Candi Borobudur tersebut terjawab dengan terbitnya buku sanggahan terhadap teori KH. Fahmi Basya yang mengatakan Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Di buku ini dijelaskan dengan rinci sanggahan demi sanggahan bahwa Borobudur bukan peninggalan Nabi Sulaiman

Review #3 (goodreads.com)
Thread Diskusi Buku Misteri Borobudur by Seno Panyadewa [RESMI]


Quote:MISTERI BOROBUDUR [REVIEW]

Masih ingat soal klaim bahwa Borobudur adalah peninggalan nabi Sulaiman? Kemudian ada yang menghubungkannya lagi dengan Atlantis? Memang saya sudah sempat menanggapinya, jadi tulisan saya yang laris di blog inih. Tapi bila sekedar blog tentu tidak cukup. Fahmi Basya sudah menerbitkan buku, maka harus ada buku yang menjawab klaim Fahmi Basya.

Buku karangan Seno Panyadewa ini adalah tanggapan atas klaim Fahmi Basya tersebut. Ia mencatat bahwa teori ini muncul ke umum dimulai dari thread di kaskus pada tahun 2009, kemudian presentasi Fahmi Basya yang terserak diinternet pun dibahas dalam thread tandingan. Sayangnya migrasi kaskus ke sistem baru membuat diskusi ini sulit dilacak, namun justru pada 2012 Fahmi Basya menerbitkan bukunya.

Dari situlah Seno Panyadewa menyusun buku ini. Memang buku ini bukanlah penelitian primer dan hanya menggunakan sumber-sumber sekunder mengenai Borobudur. Namu7n sajian mengenai segi arkeologis, ikonografis, dan arsitektur yang dikumpulkan dan dirangkum penulis dalam buku ini amatlah apik sebagai pengetahuan umum mengenai Borobudur.

Tanggapan saya terhadap presentasi Fahmi Basya adalah bahwa argumen Fahmi Basya terasa dangkal dan tidak didukung pengetahuan luas mengenai studi-studi yang sudah ada tentang Borobudur, semua dianggap konspirasi untuk mengaburkan sejarah. Sebaliknya, dalam buku ini justru penulisnya tidak hanya membahas penelitian arkeologis dan Buddhisme namun juga membahas terjemahan Al-Quran yang digunakan Fahmi Basya janggal bila dibandingkan dengan terjemahan dari Departemen Agama. Ia juga memperlihatkan bagaimana Fahmi Basya justru bertentangan dengan tradisi Islam.

Pada akhirnya saya merasa bahwa merelakan uang untuk membeli buku ini tidaklah sia-sia. Mungkin jika anda punya kesempatan, pelajari sendiri berbagai hal tentang Borobudur dari sumber-sumber yang digunakan Seno Panyadewa. Namun jika waktu tidak ada, sempatkan saja membaca buku ini.
http://ayatayatadit.wordpress.com/20...obudur-review/


Thread Diskusi Buku Misteri Borobudur by Seno Panyadewa [RESMI]

Quote:Tinjauan Buku Misteri Borobudur: Candi Borobudur Bukan Peninggalan Nabi Sulaiman
OPINI | 01 November 2014 | 12:08 Dibaca: 33 Komentar: 0 0

Candi Borobudur Bukan Peninggalan Nabi Sulaiman


Judul Buku : Misteri Borobudur
Pengarang : Seno Panyadewa
Penerbit : Dolphin
Tahun terbit : 2014
Cetakan : I, September 2014
Jumlah halaman : 249
ISBN : 978-979-1701-17-4

Siapa pun pasti tidak asing dengan Candi Borobudur yang merupakan peninggalan agama Buddha terbesar yang diakui secara internasional. Namun klaim ini dipertanyakan ketika KH. Fahmi Basya menulis buku Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman yang menyatakan teori terbaru bahwa Candi Borobudur sesungguhnya adalah karya Nabi Sulaiman yang dibangun oleh para jin dengan bukti-bukti yang didukung dari ayat-ayat Al-Quran. Teori Fahmi Basya ini sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai teori ilmiah, melainkan hanyalah suatu pseudoscience (ilmu pengetahuan semu). Oleh sebab itu, tidak ada cendikiawan dan para ahli sejarah yang tertarik membuat buku bantahan terhadap teori ini. Berangkat dari hal inilah, Seno Panyadewa menyusun buku yang berjudul Misteri Borobudur dari berbagai sumber literatur baik yang berbentuk media cetak maupun yang tersedia online di Internet ini untuk membantah teori “Borodubur Adalah Peninggalan Nabi Sulaiman” (disingkat sebagai BAPNS dalam buku ini).

Diawali dengan kutipan isi prasasti Kayumwungan yang merupakan bukti arkeologis tak terbantahkan bahwa Borobudur didirikan oleh Dinasti Sailendra yang beragama Buddha dari kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah, buku ini disusun dalam 7 bab yang mengkaji teori BAPNS dari segi arkeologi, tinjauan ilmiah, ikonografi, arsitektur, dan bantahan umum lainnya. Dari segi arkeologi misalnya, selain bukti prasasti, penulis juga menyajikan analisis paleografis atas tulisan kuno yang terpahat pada Candi Borobudur, bukti dari kitab-kitab kuno yang menyatakan pembangunan Candi Borobudur, dan catatan perjalanan para bhiksu dari Cina seperti Fa-Hien dan I-Tsing, yang semuanya dengan sangat meyakinkan membuktikan bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan agama Buddha Mahayana aliran Tantrayana yang dibangun pada sekitar abad ke-8 atau ke-9 Masehi. Teori Fahmi sendiri mengandalkan prasasti emas yang ditemukan di situs Candi Ratu Boko (yang dianggap istana ratu negeri Saba) sebagai bukti arkeologis BAPNS dengan mengatakan bahwa prasasti tersebut mengandung kalimat dari ayat Al-Quran, namun sesungguhnya prasasti tersebut berisi tulisan mantra pujian untuk Rudra (nama lain Dewa Siwa yang dipuja dalam agama Hindu). Candi Ratu Boko sendiri adalah miniatur vihara Abhayagiri (pusat studi agama Buddha di Sri Lanka pada abad ke-2 SM s/d abad ke-12 M) yang didirikan pada abad ke-8 M, yang kemudian digunakan sebagai tempat pemujaan agama Hindu ketika jatuh ke tangan raja yang beragama Hindu Siwaistis dalam perebutan tahta pada abad ke-9 M.

Teori BAPNS menyatakan bahwa Bobodubur dipindahkan dengan kecepatan 60.000 kali kecepatan cahaya, hal yang tidak mungkin secara ilmiah menurut teori relativitas Einstein karena dibutuhkan sejumlah energi tak terbatas untuk mempercepat objek dengan massa tertentu sampai mencapai kecepatan cahaya (300.000 km/detik). Selain itu, dalam teori relativitas khusus dikatakan jika benda bergerak lebih cepat daripada cahaya, ia akan berpindah ke masa lampau yang akan menyalahi prinsip kausalitas di mana “akibat” terjadi sebelum “sebab”. Dalam fiksi ilmiah, objek yang bergerak melebihi kecepatan cahaya dapat digunakan untuk menciptakan teleportasi dan mesin waktu, namun sampai saat ini para ilmuwan belum berhasil menemukan objek yang demikian. Inilah salah satu bantahan dari segi ilmiah yang dikemukakan dalam buku ini.

Tentu saja, bantahan yang paling masuk akal menurut saya adalah dari segi ikonografi dan arsitektur Borobudur itu sendiri. Pada candi ini ditemukan sejumlah besar patung Buddha yang merupakan simbol khas agama Buddha dalam berbagai bentuk mudra (posisi tangan yang menyimbolkan makna spiritual tertentu dalam agama Hindu dan Buddha). Agama Islam justru melarang membuat patung dari makhluk-makhluk hidup karena dianggap sebagai berhala sehingga bagaimana mungkin Nabi Sulaiman mendirikan patung-patung tersebut? Bahkan relief-relief Candi Borobudur menceritakan kisah-kisah dari kitab Buddhis Mahayana seperti Karmavibhanga, Jatakamala, Lalitavistara, Avadana, dan Gandavyuha. Dari segi arsitektur, Borobudur dibangun berdasarkan bentuk stupa (monumen Buddhis yang berfungsi menyimpan relik atau objek peninggalan orang suci lainnya) yang merupakan suatu visualisasi dari mandala (diagram geometris yang menggambarkan kosmologi tempat kediaman makhluk suci Mahayana sebagai alat visualisasi praktisi meditasi). Mandala yang terkandung dalam Borobudur sendiri adalah gabungan dari Garbhadhatu Mandala dan Vajradhatu Mandala yang terdapat dalam kitab Maha Vairocana Sutra. Sebagai penutup bab tentang arsitektur, penulis juga menyajikan teori angka yang mendukung Borobudur sebagai bangunan peninggalan agama Buddha sebagai respon teori angka dari Fahmi Basya untuk menunjukkan bahwa teori angka mana pun dapat dicocokkan dengan makna simbolis Borobudur dan oleh karenanya bukan bukti yang menguatkan.

Bantahan umum lainnya disajikan dalam bab terakhir sebelum penutup buku ini, di antaranya tentang kapan Nabi Sulaiman hidup, kemungkinan beliau pernah menguasai Nusantara, dan letak negeri Saba sebenarnya. Diperkirakan Nabi Sulaiman hidup kira-kira antara tahun 1200-800 SM yang jika dikaitkan dengan pembangunan Candi Borobudur, terpaut minimal 16 abad. Jika dikatakan hal ini bisa saja terjadi dengan kekuasaan Allah seperti yang diklaim para pendukung teori BAPNS, maka ini tidak bisa dikatakan sebagai teori ilmiah sama sekali, melainkan pseudoscience karena hal-hal demikian bukan ranah sains lagi. Kerajaan Nabi Sulaiman yang diwarisi dari Nabi Daud terletak di daerah Timur Tengah dan sangat tidak mungkin menaklukkan Nusantara yang letaknya sangat jauh secara geografis, sedangkan negeri-negeri tetangga yang berdekatan tidak pernah dikuasainya. Secara arkeologis telah ditemukan bukti keberadaan kerajaan Saba di negara Yaman saat ini yang menjadi bantahan bahwa kerajaan Saba terletak di Indonesia. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa teori BAPNS hanyalah “cocokologi” ayat-ayat Al-Quran yang dikaitkan dengan sejarah pembangunan Borobudur. Hal ini justru berpotensi menghilangkan kesakralan Al-Quran itu sendiri sebagai panduan hidup umat Islam dengan hanya dijadikan semacam kitab primbon untuk meramal masa depan atau menebak-nebak masa lampau.

Buku ini disajikan secara sistematis dan terstruktur sesuai dengan kaidah penulisan buku ilmiah (kecuali ketiadaan daftar pustaka yang menjadi referensi sumber buku ini, tetapi referensi sumber diberikan dalam catatan-catatan kaki), namun ia tetap membumi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembacanya. Dengan demikian, walaupun pembaca mungkin tidak tertarik dengan segala macam teori tentang Borobudur, isi buku ini memberikan informasi yang patut kita ketahui tentang sejarah, arkeologi, ikonografi, dan arsitektur Candi Borobudur yang dirangkum secara ringkas, padat, dan jelas dari berbagai sumber penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan membaca buku ini para pembaca akan terbangkitkan minatnya untuk menggali lebih dalam sejarah leluhur bangsa Indonesia pada umumnya dan terinspirasi pada makna filosofis yang terkandung dalam Borobudur pada khususnya.

http://media.kompasiana.com/buku/201...an-684107.html

reserved untuk FAQ

reserved untuk jawaban2 pertanyaan

Sekilas isi buku

Thread Diskusi Buku Misteri Borobudur by Seno Panyadewa [RESMI]
Relief Avadana, panel 83 Borobudur, Penghormatan terhadap Stupa.

"Stupa memang aslinya adalah tempat penyimpanan relik Buddha, relik murid-murid Buddha atau relik para guru, sehingga umum ditemui ruang kosong di dalamnya. Ruang kosong ini selain diisi relik, juga dapat diisi benda peninggalan orang suci/guru, arca Buddha, kitab suci, atau benda lain yang dianggap suci. Stupa dengan arca Buddha di dalamnya seperti di Borobudur bukan hal yang aneh, banyak ditemukan stupa sejenis dalam berbagai ukuran di negara lain. Tetapi yang unik adalah lubang-lubang pada dinding stupa Borobudur. Lubang berbentuk ketupat (teras kedua dan ketiga) dan persegi (teras pertama) membuat arca Buddha dalam relung stupa terlihat dari luar. Bentuk stupa Borobudur berbeda dengan bentuk stupa dari negara lain, karena memang setiap daerah mempunyai ciri khas. Justru kita harus berbangga karena nenek moyang bangsa Indonesia mengembangkan desain asli bangsa sendiri dalam membangun stupa.

Apakah Borobudur menyimpan relik di dalam stupa induk? Hal ini sangat sulit dipastikan, karena ketika ditemukan kembali stupa induk sudah dalam keadaan rusak dan berlubang. Tidak ditemukan relik di dalamnya. Kabar burung mengatakan ada arca emas di dalamnya dan dicuri Belanda, tetapi hal ini tidak bisa dikonfirmasi. Ada yang mengatakan di dalamnya terdapat arca Buddha dalam keadaan yang belum selesai dan kasar (the unfinished Buddha), tetapi hal ini juga sulit dipastikan. Sekarang di dalam stupa induk kosong.

Satu lagi fakta yang harus dipertimbangkan adalah struktur Candi Borobudur dirancang agar peziarah melakukan pradaksina, yaitu ritual mengelilingi sebuah tempat suci searah jarum jam dengan menjaga agar objek penghormatan selalu berada di sisi kanan. Umat Buddha di seluruh dunia masih melakukan pradaksina mengelilingi stupa sampai sekarang. Relief di dinding Candi Borobudur dibaca dari kanan ke kiri, sementara yang ada di teras langkan dibaca dari kiri ke kanan, jelas dirancang agar dibaca saat pradaksina. "



Thread Diskusi Buku Misteri Borobudur by Seno Panyadewa [RESMI]

SLEMAN = SULAIMAN?

Apakah betul nama daerah Sleman berasal dari kata Sulaiman? Jawabannya adalah BENAR.

Secara administratif, keberadaan Kabupaten Sleman dapat dilacak pada Rijksblad No. 11 tahun 1916 yang membagi wilayah Kesultanan Yogyakarta (Mataram) dalam 3 kabupaten, yakni Kalasan, Bantul, dan Sulaiman (yang kemudian disebut Sleman).

Nama Sulaiman sendiri berasal dari nama seorang pendakwah Islam yang legendaris: Sayyid Sulaiman. Beliau adalah cucu Sunan Gunung Jati dan pernah menyiarkan agama Islam di Kerajaan Mataram sekitar abad ke-17. Salah satu bukti keberadaan Sayyid Sulaiman di masa lalu adalah keturunan beliau yang masih banyak dan memelihara tradisi cerita riwayat beliau, juga pondok pesantren Sidogiri yang beliau dirikan.

Ada juga yang mengatakan bahwa tokoh Sulaiman adalah kakek Dokter Wahidin Sudirohusodo, seorang Bugis. Tapi mengapa ada orang Bugis yang sampai namanya diabadikan sebagai satu wilayah di Yogya? Kalau dari segi hubungan sejarah sebenarnya tidaklah mengherankan karena orang Bugis-Makassar sudah “resmi” menjadi bagian Keraton Yogya sejak awal, ditandai dengan adanya pasukan keraton yang khusus orang Bugis bernama “Bregada Bugis” yang berkedudukan di sebelah barat daya kota (Kampung Bugisan) dengan ciri nama anggotanya memakai nama “Rangsang”; dan juga “Bregada Daeng” yang beranggota khusus orang Makassar, berkedudukan juga di bagian barat daya kota (Kampung Daengan) dengan ciri anggotanya memakai nama “Niti”. Menariknya, di Bugis nama Sulaiman biasanya akan berubah menjadi “Sul” atau “Sule”, mirip kasus nama “Borahima” atau “Bora” yang keduanya berasal dari nama “Ibrahim”. Jadi, perubahan nama “Sulaiman” menjadi “Sleman” berasal dari pengucapan lidah lokal ini.

Nama Nabi Sulaiman sangat termasyhur di berbagai negara, terutama di Timur Tengah. Setelah lahirnya agama Islam, nama ini juga sering dipakai oleh orang-orang Arab. Setelah masuknya Islam ke Nusantara, banyak yang memakai nama dari khazanah bahasa Arab, termasuk nama Sulaiman. Nama Sulaiman menjadi nama yang umum dalam kebudayaan Islam, termasuk di Nusantara setelah abad ke-15, karena itu tidak harus penamaan daerah tersebut merujuk pada Nabi Sulaiman. Anda dapat melihat sendiri, terdapat dua versi cerita tokoh bernama Sulaiman yang asli Nusantara, yang menjadi dasar penamaan daerah Sleman.

Ditambah lagi, nama “Sulaiman” adalah pelafalan bahasa Arab. Nama asli beliau dalam bahasa Ibrani adalah “Salomo”. Kalau benar Nabi Sulaiman pernah datang ke Jawa, seharusnya penamaan tempat mengikuti nama aslinya, yaitu Salomo, bukan Sulaiman.

Dalam bahasa Yunani adalah “Solomon”, dan inilah nama yang sekarang digunakan di negeri-negeri Barat. Fahmi Basya mengatakan di bukunya bahwa di sebelah timur Nusantara ada kepulauan yang bernama Solomon. Ini seakan menyiratkan bahwa Nusantara dan Nabi Sulaiman ada hubungannya. Padahal sebenarnya nama Solomon Islands itu diberikan oleh pelaut Spanyol, Alvaro de Mendana de Neira. Ketika dia singgah di kepulauan itu 6 Februari 1568, ia menemukan tanda-tanda tambang emas dan percaya bahwa tempat itu adalah sumber kekayaan Nabi Sulaiman. Lalu dinamakanlah tempat itu sebagai Solomon Islands. Jadi, nama itu kebetulan saja, bukan nama yang ada sejak dahulu kala.
satu pertanyaan saja, mengapa tidak "mengklaim" Angkor Wat saja? lebih besar dan lebih megah untuk di jadikan dasar pemikiran kan?
kena bikin tritnya ga di forbudaya aja om,, dulu kan trit berantemnya/bantahannya di forbud emoticon-Big Grin setau ane sih orang2 yg pro kontranya penghuni forbud/forsup.
Saya rasa ini sebenarnya lebih cocok masuk forum sejarah
Tapi terserah momod kalau mau dipindah

Sama saja sih buat saya.
ane ikut nyimak ajah gan emoticon-Embarrassment

Thumbs up 

Ane udah baca gan, bener2 buku yg bagus emoticon-Blue Guy Cendol (S)emoticon-Blue Guy Cendol (S)emoticon-Blue Guy Cendol (S)
lucu jg masa candi buddha diaku2 sbg peninggalan Sulaiman.
kl gitu berarti Sulaiman itu umat Buddhist emoticon-Ngakak (S)emoticon-Ngakak (S)emoticon-Ngakak (S)
di buku agan ane plg suka bagian ikonografinya, itu ga terbantahkan krn agama samawi yg menganut tauhid sama sekali ga mengenal simbol dlm bentuk apapun jadi ga mungkin ada perwujudan nabi, makhluk surgawi bahkan hewan dalam bentuk patung.
bisa dilihat di masjid2 kuno peninggalan kerajaan islam ga ada sama sekali relief & pahatan kayu yg menggambarkan suatu bentuk makhluk hidup, yg ada cm motif2 bunga krn

saran ane sih lebih baik bukunya lebih banyak disebar krn sekarang hampir semua org percaya kl borobudur itu peninggalan sulaiman
Quote:Original Posted By manusiarender
satu pertanyaan saja, mengapa tidak "mengklaim" Angkor Wat saja? lebih besar dan lebih megah untuk di jadikan dasar pemikiran kan?


Borobudur juga nggak kalah megah. Di mana lagi orang bisa menemukan candi Buddha yg lebih besar daripada Borobudur?
Quote:Original Posted By Shuma-Gorath


Borobudur juga nggak kalah megah. Di mana lagi orang bisa menemukan candi Buddha yg lebih besar daripada Borobudur?


gan ane pernah sepintas denger di tipi katanya di jabar ada candi budha terbesar di dunia, emang apa bener gan? emoticon-Amazed
>sementara itu, fahmi basya ketawa-ketiwi di kursi goyangnya: ada juga ikan yang ngembat umpan gw... emoticon-Ngacir

Quote:Original Posted By manusiarender
satu pertanyaan saja, mengapa tidak "mengklaim" Angkor Wat saja? lebih besar dan lebih megah untuk di jadikan dasar pemikiran kan?


kalo pake angkorwat, kita-kita ga kecipratan darah leluhur, gabisa ikut bangga...
Thread gini kudu disundul.

Cap dolo sebelum fans Fahmi Basya butthurt doi marih.
Quote:Original Posted By 2V7

gan ane pernah sepintas denger di tipi katanya di jabar ada candi budha terbesar di dunia, emang apa bener gan? emoticon-Amazed


Emang penemuannya kapan & di mana? Kalau maksudnya Gunung Padang yg di Cianjur, itu masuknya bukan candi, tapi bangunan berundak
Quote:Original Posted By Shuma-Gorath


Emang penemuannya kapan & di mana? Kalau maksudnya Gunung Padang yg di Cianjur, itu masuknya bukan candi, tapi bangunan berundak


ane juga ga ada clue laen gan,
ane lg ga nyimak tipi tau2 terdengar dibilang ada candi budha terbesar di dunia di jabar, ane tungguin sampe abis ga disebut clue lokasi maupun yg laen emoticon-Hammer
mungkin ane yg salah dengar yah gan emoticon-Cape d... (S)
saya coba menyimak dulu gan.. tritnya bagus untuk sarana diskusi..
pasti rame nantinya..
Ane mau tanya
pertama-tama ane jelaskan ane belum baca buku mengenai borobudur itu

pertanyaan ane mungkin di luar diskusi mengenai buku
Pertanyaannya : "Selain membyebabkan kekeliruan sejaran, efek negatif apa yang di dapat dari buku yang menyebutkan bahwa candi borobudur di buat oleh nabi Sulaiman AS ?
aneh juga sih buku kayak gitu dipercaya emoticon-Cape d...
ane udah pernah ke candi borobudur gak ada tuh relief yang menggambarkan kerajaan Suleiman

Quote:Original Posted By BlueMuda
Ane mau tanya
pertama-tama ane jelaskan ane belum baca buku mengenai borobudur itu

pertanyaan ane mungkin di luar diskusi mengenai buku
Pertanyaannya : "Selain membyebabkan kekeliruan sejaran, efek negatif apa yang di dapat dari buku yang menyebutkan bahwa candi borobudur di buat oleh nabi Sulaiman AS ?


gak ada tapi efek positifnya cukup banyak, setidaknya orang jadi penasaran emoticon-Bingung (S)
Quote:Original Posted By ssmocker
aneh juga sih buku kayak gitu dipercaya emoticon-Cape d...
ane udah pernah ke candi borobudur gak ada tuh relief yang menggambarkan kerajaan Suleiman



gak ada tapi efek positifnya cukup banyak, setidaknya orang jadi penasaran emoticon-Bingung (S)


kalo memang banyak yang penasaran malah bagus kan ? malah jadi pemicu untuk mencari tahu lebih banyak lagi
setidaknya penelitian terhadap candi borobudur (dan candi-candi lainnya) menjadi lebih banyak dan hipotesis yang ada menjadi lebih beragam.

Soalnya dari zaman sd dulu pengetahuan yang ada mengenai candi borobudur tidak pernah ada perkembangan (kalau ada mungkin ane yang tidak tahu -maaf- )

mungkin dengan ada yang bilang itu dari zaman nabi sulaiman dapat menambah pengetahuan -meskipun harus di teliti kebenarannya
Quote:Original Posted By BlueMuda


kalo memang banyak yang penasaran malah bagus kan ? malah jadi pemicu untuk mencari tahu lebih banyak lagi
setidaknya penelitian terhadap candi borobudur (dan candi-candi lainnya) menjadi lebih banyak dan hipotesis yang ada menjadi lebih beragam.

Soalnya dari zaman sd dulu pengetahuan yang ada mengenai candi borobudur tidak pernah ada perkembangan (kalau ada mungkin ane yang tidak tahu -maaf- )

mungkin dengan ada yang bilang itu dari zaman nabi sulaiman dapat menambah pengetahuan -meskipun harus di teliti kebenarannya


Hahaha emoticon-Ngakak

salah satu efek positifnya adalah aku nulis buku ini, jadi banyak materi yg tadinya berbahasa inggris dan tersembunyi hanya di kalangan arkeolog dibuka semua. Ada yang bilang bahwa buku saya ini adalah buku Borobudur bermutu yg ditulis orang Indonesia pertama sejak beberapa puluh tahun

Efek negatifnya ada. Pertama tentu pembodohan sejarah, orang jadi gak tahu sejarah yang asli bagaimana
Kedua ada kehilangan kebanggaan sebagai bangsa. Karena menurut Fahmi Basya yang membangun itu orang asing, jin pula. Bukan leluhur bangsa ini.

dengan kata lain dia bilang bahwa bangsa ini tidak cukup pintar dan mampu membangun candi borobudur