CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Napalm Death peduli NKRI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53e8c73796bde64e1b8b457a/napalm-death-peduli-nkri

Napalm Death peduli NKRI

Para kaskuser sekalian,

Kita semua sudah hepi presiden terpilih melalui proses jujur dan adil. Hanya sebagian elit yang mempermasalahkan itu (tepatnya sih nggak bisa menerima kekalahan emoticon-Ngakak). Tapi sore tadi ada satu berita yang cukup bikin TS kaget, ini nih:
Suara Napalm Death

Apakah ini perkara terpilihnya AM Hendropriyono sebagai penasihat senior tim transisi spt banyak dilansir di media-media nasional Hendropriyono jd penasehat senior.

Jujur ane agak heran aja dengan kondisi terakhir ini. Dengan janji Jokowi yang salah satunya untuk menuntaskan pelanggaran, apakah tidak akan terganjal dengan kehadiran purnawirawan TNI yang sosoknya sering diidentikan dengan pelanggaran HAM juga terutama kasus Talangsari dan (alm) Munir. Apalagi kebetulan kemarin ane juga baru baca artikel menarik dari Indoprogress Humor pasca wowo. Statementnya di paragraf akhir menarik.

".........Alasannya ada dua: pertama, jokowi harus disadarkan adanya ancaman gagalnya penuntasan kasus-kasus HAM jika A.M. Hendropriyono jadi begawan yang dimintai pendapat oleh Tim Transisi Jokowi – JK. Kedua, kami butuh hiburan baru. Menertawai Prabowo sudah terlalu mainstream."

Ini jelas bikin tanda tanya ga sih?

Ane merasa aneh karena dengan banyaknya kader kepemimpinan baru kenapa juga masih merasa perlu mengundang "orang lama"? Banyak sumber untuk hanya sekedar mencari muka baru di dunia politik Indonesia. Toh kalau ga mau repot bisa melihat dari daftar nama yang banyak didengungkan relawan. Di daftar itu kan banyak sekali nama kalangan profesional, akademisi atau pemimpin lokal lain yang reputasi dan integritasnya tidak tersangkut dengan dosa lama.

Kalau ada anggapan bahwa akademisi kurang bisa bergerak taktis, kenapa tidak mempertimbangkan profesional dan kepala daerah berprestasi saja? Toh secara portofolio bisa dilihat rekam jejak perjalanannya. Yang pasti-pastinya aja banyak nama kepala daerah yang prestasinya layak diperhitungkan, contoh: Ahok, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Kholiq Arif dan masih banyak lagi. Sayang banget bukan bila visi dan tangan mereka hanya terbatas pada ruang gerak yang sekarang ini. Kalau bisa lebih luas "diberdayakan" kenapa tidak?

Hal ini sudah dibahas mantan aktifis 98 juga sebenernya, Fadjroel Rachman. Salah satu artikel yang menulis soal ini bisa dilihat di: Kepala daerah berprestasi. Jujur ane sempat merasa ini adalah perspektif menarik. Sebuah hal yang di Indonesia masih belum umum. Tapi bila Jokowi bisa kenapa yang lain tidak bisa? Sesimpel itu aja. Selain itu adalah faktor perlunya kita meregenerasi pemimpin kita. Bosan dipimpin oleh mereka yang itu lagi, itu lagi.

Bagaimana pendapat kaskuser sekalian?



Mau tau pendapat ane?

1. Btw Ane PERTAMAX
2. Ya mo gimana lagi gan... Orang lama juga sebenarnya dibutuhkan.. Emang mentang mentang orang lama harus dibuang gitu?
Diubah oleh iru7
Ya ga semua orang lama harus dibuang bro, tapi ini orang lama punya masalah nggak kalah berat dengan wowo. Perkara HAM. Apakah ini ga jadi ganjalan buat wiwi?emoticon-Matabelo

Kalo ga serius ga mungkin napalm detah mendadak concern emoticon-Ngakak

ane baca link yg indoprogress .. dan menurut ane sangat relevan gan... ijin copas di mari gan...

Merawat Selera Humor Setelah Kekalahan Prabowo

TANTOWI YAHYA sedikitnya punya dua cela seumur hidupnya: pertama, ketika ia menyanyikan lagu-lagu country dengan luar biasa buruknya; kedua, ketika ia banting setir jadi juru bicara Prabowo-Hatta dan mengeluh tuannya itu dihabisi di media sosial.

‘Baru lima menit Prabowo mengeluarkan statement, dia langsung jadi karikatur,’ demikian Tantowi menggerutu.

Pernyataan Tantowi membuktikan apa yang disebut-sebut sebagai trilema pendukung prabowo: 1) Jujur; 2) Intelek; 3) Mendukung Prabowo. Ingat, karena ini trilema, Anda hanya bisa pilih dua dari tigapilihan.

Tapi mungkin kata ‘meme’ tidak pernah mampir di kepala Tantowi, sampai-sampai ketika jumlahnya tidak bisa dibendung lagi, dia mulai berfantasi bahwa meme-meme ini dibikin secara TSM (Terstruktur, Sistematis, Masif—kami tidak tahu persis apakah dia sungguh-sungguh paham tiga istilah ini). Tapi bolehlah kita berbaik sangka pada Bung Tantowi. Mungkin, dia tak pernah punya kawan yang sengaja menonton debat presiden lewat TV-tuner, sehingga – misalnya – ketika kubu lawan mengucapkan ‘Kalpataru’, ia segera menekan tombol prntscr di laptopnya. Kurang dalam waktu lima menit, si pengucap Kalpataru sudah jadi bahan guyonan.

Dia lupa, jutaan orang memang menertawakan majikannya itu. Dan harus diakui, salah satu kerja kreatif paling vital yang dilakukan relawan, terdaftar atau tidak, adalah membikin meme.

Ada seorang kawan yang membuat analogi menarik antara relawan dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) beserta laskar-laskar revolusioner yang tumbuh selama periode Revolusi Fisik.

Pesindo beranggotakan 25 ribu orang, militan, buta huruf, tapi bersenjata berat—misalnya mitrailleur, senapan mesin yang moncongnya sebesar lensa kamera Ani Yudhoyono. Tingkah lakunya kadang keterlaluan, untuk tidak mengatakannya kebablasan, serba grasa-grusu, slengean, dan tidak karu-karuan kerjanya.

Jumlah relawan kurang lebih 750 ribu orang, militan, sebagian besar awalnya tidak paham/peduli politik, bersenjata laptop dan telepon pintar. Khususnya yang tinggal di kota dan sehari-hari bekerja dengan media sosial, tingkah lakunya kadang keterlaluan, untuk tidak mengatakannya kurang ajar di mata lawan. Menghabisi karir tukang plintir macam Nanik S. Deyang, menguak reputasi lawan di masa lalu lewat dokumen dan berita, dan yang mendasar dari semua itu: menyulap lawan jadi lelucon. Prinsipnya: ‘Jangan jadikan mereka ancaman; buatlah mereka tidak relevan.’

Coba Anda saksikan betapa kurang ajar sekaligus elegannya meme-meme itu; betapa mereka berperan besar, dengan segala kekurangajarannya, membikin surut nyali kubu sebelah. Tidak diketahui ada berapa ratus ribu—mungkin saja jutaan—meme anti-Prabowo yang dihasilkan. Hasilnya, Prabowo-Hatta, yang kukuh memegang prinsip Machiavelian ‘lebih baik ditakuti daripada dicintai’, citranya hancur tidak karuan. Walhasil, Bung Prabs yang sempat jumawa bakal jadi Macan Asia harus puas jadi kucing asia saja.

Baiklah, kali ini kami agak serius.

Kalau mau dirunut, keisengan membikin meme berdasar muka elit politik bukan barang yang baru. Jauh, sebelum pemilu dimulai, para digital combatant ini sudah punya objek meme favorit. Adalah SBY – baiklah, kita sering lupa bahwa dia masih presiden kita – yang kerap menyumbang materi kasar meme di Indoneia. Muka Beliau sampai saat ini sudah dipermak menjagi pelbagai ekspresi – dari duckface hingga facepalm. Walhasil, walau beliau gagal menghibur dengan lagu pop melayu kacrutnya itu, ia tetap bisa membuat kami menyunggingkan senyum jika hadir dalam bentuk meme.

Namun, SBY – yang kini tercatat sebagai musisi indie tulen dengan lima album solo – juga harus legowo. Tepat sebelum pemilu dimulai, beliau harus rela melewati 15 menit kepopulerannya sebagai bintang meme. Perkaranya, kali ini ada prabowo yang lebih all-round sebagai bahan meme.

Sejak awal, Prabowo sudah jadi bahan yang empuk untuk dibikin guyon. Banyak sekali entry point untuk mencandainya, mulai dari dipecat, rumor dikebiri, slogan macan asia, kuda 3 milyar, seragam paskib yang dipadukan dengan keris, dan sebagainya—kami terlalu mawas diri untuk tidak menyebut jomblo karena, bung dan nona, single-person culture itu sudah kami buktikan betul-betul menyakitkan adanya.

Namun, jomblo atau tidak, Prabowo nyatanya memang inspiratif. Tanpa dia – lengkap dengan pencitraan dan blunder yang dibikinnya – hidup kita tak penuh tawa dua atau beberapa bulan yang lalu. Maka, menurut kami, kalau Anda mencari siapa orang paling inspiratif tahun 2014, jawabannya adalah Prabowo, bukan Anies Bawesdan. Ingat, Anies cuma bisa bikin #IndonesiaMengajar, Prabowo bisa bikin #IndonesiaMengakak.

Malah, saking inspiratifnya, pendukung prabowo juga ikut jadi bullyable. Paska pilpres toh kita masih terhibur oleh berbagai lelucon Kubu Koalisi Merah Putih. Lihat saja, hari-hari ini, kita masih bisa terbahak di depan kasus ‘Roro Jongrang’ atau ‘Prabowo Titisan Allah’.

Sayangnya, di saat kita sibuk dengan lawakan sisa piplres ini, kita mulai lupa bahwa lama-lama mengejek Prabowo bukan lagi sesuatu yang keren. Lagipula, terlalu lama mencemooh Bung Prabs akan menumpulkan kecerdasan si pencemooh.

Kehilangan muse di saat ini adalah preseden buruk, terutama ketika Jokowi dikelilingi para bajingan yang sudah saatnya mulai di-bully. Maka wajib hukumnya untuk menjaga selera humor kita. Namun, kali ini kita harus mengganti sasaran tembak. Urgensi mengganti objek meme ini makin nyata ketika muncul berita A.M. Hendropriyono didapuk jadi penasehat tim transisi Jokowi – JK.

Sayangnya, tidak mudah mencari celah untuk mencari apa yang lucu dari A.M. Hendropriyono. Layaknya seorang intelijen tulen — Doktor Intelijen! — dia jeli untuk tidak membuat blunder-blunder yang keterlaluan. Namun, toh tak usah berkecil hati, sejatinya meme toh tak harus berangkat dari blunder di ranah real politik. Belajar dari kasus SBY, memenya justru kerap muncul dari kegagalan beliau mengontrol kegiatan kenegaraan sehari-harinya.

Syahdan, langkah yang bisa kita ambil sekarang adalah membiasakan diri mengganti visual Prabowo dengan Hendropriyono dalam meme-meme yang bahkan cuma bicara tentang narasi kecil hidup kita seperti kesepian di malam minggu atau kelaparan di akhir bulan. Lantas, meme-meme yang dibuat ditinggikan mutunya dengan menyitir narasi yang lebih luas seperti Kasus Talangsari atau pembunuhan Munir. Tujuanya tetap sama, membuat Hendropriyono dan kawanannya jadi tak relevan sama sekali!

Namun, meme yang model mana pun memang harus segera dibudidayakan. Alasannya ada dua: pertama, jokowi harus disadarkan adanya ancaman gagalnya penuntasan kasus-kasus HAM jika A.M. Hendropriyono jadi begawan yang dimintai pendapat oleh Tim Transisi Jokowi – JK. Kedua, kami butuh hiburan baru. Menertawai Prabowo sudah terlalu mainstream.

Lagipula, kami masih terlalu muda – plus jomblo pula – untuk diazab gara-gara menertawai seorang Titisan Allah!***
siapapun pelanggar ham musti d proses hukum, napalm death jelas concern, lagu2 nya isi nya ttg kemanusiaan broo
w


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di