CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Madilog [Materialisme Dialetika & Logika] Tan Malaka (1943)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/516cf97e1ed7191449000006/madilog-materialisme-dialetika-amp-logika-tan-malaka-1943

Madilog [Materialisme Dialetika & Logika] Tan Malaka (1943)

Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 5
Post ini telah dihapus oleh Pepohonan
memilih bertentangan Soekarno-Hatta dengan diplomasi-diplomasi untuk merdeka.
"Lebih baik di bom atom dr pada merdeka kurang sari 100 persen"
kapan Indonesia punya tokoh yang "nyata" spt ini ?
ane baca buku ini sekitar th 2002 gan, minjem temen ane.
Ane gk selese jg bacanya, kl gk salah baru masuk bab dialektika.
yang kocak gw pernah baca buku itu di ankot, eh di tegor bapak2. emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
gw lupa dia ngomong apa, pokokny dia blg ati2 baca buku kyk gt, trus ide2 komunis itu gk bener bla bla hehe..

Quote:


Sebenernya tujuannya sama ya.. tapi caranya berbeda.
Tan Malaka ini sebenernya pemilik ide NKRI
Quote:

yoi gw juga baca disitu
baca tulisan aidit sama tokoh2 luar juga bagus, lenin dsb hhe

dah lama gk lanjut baca madilog, baca lg deh selingan zarathrusta
Quote:

yoi gw juga baca disitu
baca tulisan aidit sama tokoh2 luar juga bagus, lenin dsb hhe

dah lama gk lanjut baca madilog, baca lg deh selingan zarathrusta
Quote:


bener atau gak bener suatu paham, mau komunis, mau fasis, kapitalis, atau apapun pahamnya, itu kembali ke pribadi masing-masing gan..

kalau misalnya ada orang bilang suatu paham atau suatu golongan yang sedang kita anut atau sedang kita pelajari, itu tidak baik dan apalagi sampe memaksa kita untuk berhenti mempelajari hal-hal kaya gini, mau jadi apa indonesia? kok belajar lebih luas malah dilarang?

padahal banyak hal bermanfaat yang bisa kita terapkan di zaman sekarang..
stlh liat trit ini saya coba lagi nyari2 buku Madilog saya diantara tumpukan buku2 lain dan hasilnya nihil (mesti ada yang pinjem dan ga kembaliin)..

Menarik juga bicara tan Malaka,.. seorang yang mengabdikan diri untuk pemikiran soal Indonesia. Dia mendapat stigma negatif karena haluan yang berbeda dengan Soekarno-Hatta (banyak versi soal ini) dan diperparah dalam jaman Orde baru karena diberangus dimasukkan dalam kelompok komunis. Titik pokok pikirnya adalah rasionalitas namun tidak sama dengan Marxisme.. Dia bukan marxis namun IMHO lebih tepatnya tokoh sosialis Indonesia (eh para founding fathers Indonesia ada ga sih yang ga sosialis?).
Kenapa? karena ia membangun gagasannya pada alam histori Indonesia, termasuk semangat mistikus masyarakat Indonesia (harap dibaca pengertian mistik adalah sebuah ide tentang pengalaman spiritualisme seseorang dalam ranah pencarian akan keseimbangan logika dan jiwanya di hidupnya, dan agama adalah salah satu 'rumah'nya, meski kemudian terjadi salah kaprah yang umum tentang pemahaman pengalaman mistik dibangun melulu melalui ritual aneh dan kuno, perdukunan. Padahal pengalaman mistik dapat terjadi dalam kehidupan sosial, mau contoh? majornya adalah gerakan Saminisme melawan Belanda di Blora, minornya adalah wilayah populis kaya gini, saya berdialog dengan lingkungan dan mendapat penerangan, juga event saat anda melihat sesuatu yang menyentuh hati anda di jalan entah itu pengemis atau penjual bakso yang berpeluh keringat atau lihat korban bencana di televisi. Atau kesejukan saat berdoa hingga bisa menangis. seperti itulah.. dalam hal Tan Malaka ini, yang dia soroti adalah bukan sejauh mana agama bisa menjawab pertanyaan abstrak, namun sejauh mana agama dengan perangkat akal budinya mampu memperlihatkan wajah kemanusiaannya dan melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan tiap orang. Semangat inilah yang IMHO harus ada dalam perjalanan mistik tiap orang).

Marxisme sebenarnya hanya hasil pemikiran si Marx Muda yang menggebu-gebu atas industrialisasi di Jerman saja. Pemikiran Marx Tua justru lebih sepakat dengan proses kapitalisme lanjut, yang sekarang terjadi di Negara2 Eropa di wilayah Skandinavia (sistem pendidikan terbaik di dunia sekarang ada di Finlandia dan negara kesejahteraan tercipta dengan baik disana ).
Yang ngaco adalah Lenin dan terlebih Stalin karena apa yang menghambat kemajuan negara dalam konsep sosialisme mereka, harus diberangus, dan ini termasuk Agama. Nah kemudian Perang Dingin, konsep anti-agama itu jadi isu lewat komunisme gaya Soviet ini....
Jujur bicara tentang sosialisme harus hati2 karena sangat mudah jatuh ke komunisme Leninisme (ya karena kita telah dibentuk dalam ranah pikiran itu) padahal di ranah Islam ada Hasan Hanafi, ada Teologi pembebasan ala Katolik di Amerika latin etc..

Perjalanan Tan Malaka sesungguhnya mirip Che yang sempat keliling amerika latin untuk mencari semangat masyarakat Latino, hatinya masyarakat. Dia menyelam diantara masyarakat kebanyakan tidak teridentifikasi, menghilang ga jelas karena dia sedang menyusun peta pikir. dan jujur aja, hanya sedikit orang yang mau berproses seperti itu, bahkan di era sekarang. itulah kenapa BK-Hatta sangat marah saat tahu TM ditembak tentara karena sangat tidak mudah menemukan 'peneliti' pikiran seperti dia, yang tulus mencintai bangsanya.

Kenapa saya bilang itu :
1. saya lupa baca dimana (semoga sah dan benar referensinya) tapi BK pernah berpesan di medio 1945-1948 kalau dia tertangkap dan dibunuh belanda, dia akan memberikan kekuasaan secara darurat untuk memimpin Indonesia kepada TM. Could u imagine why BK will give to TM? kecuali secara logis adalah VISI TM akan Indonesia.....
2. Pada jaman pergerakan, aslinya segala tokoh dari berbagai pondasi pemikiran itu berteman, mereka sharing bermacam hal, terutama gagasan negara Indonesia (cek siapa aja di saat Sumpah Pemuda, medio 45). Beda pendapat ya maklumlah, namun pemahaman dasar soal Indonesia yang masih bayi saat itu relatif sama dan tetap dalam penghormatan satu sama lain. Jadi jangan dibayangkan dengan sekarang, tokoh politik saling cuek dan musuhan..


maaf kalau saya salah dalam berpikir...
Sapere aude!
profile-picture
kaiserwalzer memberi reputasi
Quote:


hmmm tapi lihat sejarah, RRC pernah melakukan revolusi Kebudayaan, menutup diri pada pihak luar, menghajar yang tidak sesuai dengan kejam malah. Kemudian mereka dikatakan berorientasi pada liberalisme? eits tunggu dulu, kalau lihat faktanya ga semua pemodal asing bisa masuk kesana dengan mudah loh.
Amerika mati2an menghadang laju produk Cina pun bobol. Why? positifnya disini adalah kesadaran penuh mereka akan jumlah SDM dan pemanfaatan kekayaan SDM itu (negatifnya ya adanya bunuh2an kalau ga suka khas negara komunis)... Jadi menurut hemat saya, RRC punya dualisme, untuk ideologi masih Komunis namun untuk ekonomi (terutama kepada pasar dunia) mereka memang berorientasi kapital (dan ini memang dibutuhkan untuk survive, dengan kelompok masyarakat China yang ada di pelosok dunia, very impressive).

Dan apakah dengan demikian mereka sudah dikatakan kanan?
Dan tolok ukur sukses itu apa? Kesejahteraan ala baratkah? Dan klaim kanan/kiri itu siapa yang menciptakan (kalau lihat sejarah soal istilah kanan atau kiri))? Sekarang dunia tidak lagi bisa dilihat dari kiri dan kanan semudah perang dingin, Blok barat dan Timur...
Malah saya lihatnya mereka sedang mengkombinasi sistem atas gejala kapitalisme lanjut...

Dan Jepang, lihat sejarah soal Restorasi Meiji, saat Jepang menutup diri karena sedang bertransformasi dari Feodalisme ke negara modern...
Mereka, RRC dan Jepang, saat penutupan diri itu, sama2 tengah mencari karakter bangsa untuk di masa datang... (sayangnya konsekuensi darah juga banyak tertumpah) ..

Perbincangan Marxis atau tidak, kiri atau kanan harusnya dibaca dalam konteks TM tentang adanya Logika dalam triadik Madi nya, tentunya dalam alam sejarah indonesia dan hatinya rakyat (bukan Jerman, Perancis, Amerika, jepang, RRC etc) . Dan ini jelas dinamik, tidak stagnan...

emoticon-I Love Indonesia (S)
Quote:


cek post pertama di page 1 gan.. ane udah share linknya..
gans dapet dmn gan bukunya ??
ane mau beli nh gak tapi lumyan susah nyarinya gan ??
info dong ?
Quote:

Sama kayak agan ini ane tertarik beli soalnya rada males kalau versi ebook kurang enak aje bacanya gan,waktu itu ada yang pernah nawarin di thread ini kalau nggak salah mungkin bisa kasih kontak gan hehe
Saya sedang mencari buku ini nih. Domisili Jakarta adakah yang tahu toko buku mana yang menjual buku ini? Takutnya gramed tak ada, soalnya saya juga mencari bukunya Nasikun: Sistem Sosial Indonesia juga tak ada dimana-mana. Saya kurang begitu nyaman menggunakan ebook.
Quote:


Kmrn di Jakarta Book Fair ada stoknya di Stand Komunitas Bambu. Coba aja cek di websitenya gan. Kayaknya masih ada.
Nubie izin menyimak Gan..

Maklum baru belajar tentang Elias Fuentes...
emoticon-Smilie
Dulu saya pengagum Tan Malaka, tapi sekarang sudah tidak. Kalau diambil saripatinya, Madilog mengajak kita untuk menanggalkan intuisi dan perasaan kita yang semata-mata digunakan untuk pengembangan sains (indrawi dan logika) yang nanti produknya adalah barang-barang terpakai (material),

Kaum tertindas (proletar) perlu mengadakan pergulatan pikir tentang bagaimana menjadikan dua kesatuan yang berlainan dapat menjadi garis lurus yang berada di tengah-tengah antara keduanya. Proses ini disebut dialektika, namun sayang sekali bahwa dialektika ini selalu bersumber pada dunia luar (lingkungan) yang sifatnya sangat rentan pada perubahan dan pergolakan. Maka, dialektika itu sebenarnya sebuah kesia-siaan cara pandang.

Di masa dialektika yang cepat atau lambat akan mengalami dekadensi itu, sains (logika) perlu dimerdekakan juga, tapi terjadi kontradiksi juga. Darimana bangsa Indonesia yang kala itu tengah berada di masa kegelapan (diperbudak) dapat merdeka mengenai sains kalau tidak belajar juga dari bangsa asing (pihak yang dibenci setengah mati oleh Tan), maka seperti perkataannya sendiri. Sains (logika) ini sendiri dalam proses kemerdekaannya juga harus (lagi-lagi) dijajah secara logika dan cara nalarnya.

Maka, Madilog adalah sebuah kesia-siaan belaka. Pemecahan masalah bangsa tidak melulu lewat kontak perlawanan secara fisik, itu yang selalu diajarkan Tan Malaka. Bahwa kemerdekaan akan tercapai lewat kontak fisik, kontak senjata, kontak persaingan. Maka, kebencian dan chauvinisme lah yang nanti tumbuh merajalela.
Quote:


sekarang udah ada di gramed*a gan.. sampul bukunya warna merah.. terakhir ane liat di gramed*a bptani square bogor, samping IPB
Ditunggu Gan ebooknya Karl Mark "DAS KAPITAL" versi Indonesia emoticon-Shakehand2
skrg udh ada tuh bukunya d gramed terbitan narasi hard cover warna merah

emoticon-Shakehand2
Ane ijin tinggal jejak dulu ye gan.. Biar besok ikutan baca bukunya dg mantap.. emoticon-Cool
Makasih sbelumnya.. emoticon-Shakehand2
Halaman 4 dari 5


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di